01.

Peneropongan Matahari

Yuk...Kita neropong Matahari bersama-sama. Cek jadwal dan waktunya ya.

Selengkapnya

02.

Perubahan Harga Tiket Pertunjukan

Berdasarkan Peraturan Gubernur Nomor 202 tanggal 20 Oktober 2016. Mulai hari Selasa, 22 November 2016 harga tiket pertunjukan Planetarium Jakarta untuk perorangan adalah sebagai berikut:

Selengkapnya

03.

Pertunjukan Planetarium Telah Dibuka Kembali

Mulai hari Rabu, 11 Mei 2016 pertunjukan teater bintang (Planetarium) telah DIBUKA kembali untuk umum.

Selengkapnya

04.

Vote - We Love Cities

Dukung kota Jakarta sebagai "The Most Loveable Sustainable City".

Selengkapnya
Written by Widya Sawitar
Category:
Galaksi spiral berbatang (NGC1300). Credit: NASA, ESA

Sejak dulu bangsa kita sudah melihat adanya penampakan kabut putih membentang dari langit utara ke selatan seperti selendang awan. Pada bagian tertentu terdapat daerah gelap, seperti gambaran orang sedang bertarung dengan ular besar. Diyakini bahwa itu adalah gambaran salah satu tokoh Pandawa Lima dalam kisah Mahabarata, yaitu Bima yang sedang bertarung dengan naga. Bima memenangkan pertarungan sedemikian lahirlah nama Bima Sakti untuk kabut putih itu. Lain halnya dengan bangsa di Eropa, gambarannya adalah air susu dewi Juno yang tumpah di langit sedemikian mereka menyebutnya Milky Way (Jalur Susu atau Kabut Susu). Masalah ini telah dibahas pada artikel Bima Sakti: Mitologi dalam Budaya Jawa dan Bima Sakti: Mitologi Manca Negara. Yang dipaparkan di sini, akan dibahas berbasis setelah pembuatan teleskop atau teropong bintang oleh Galileo. Sebagai catatan dalam artikel, apabila disebut “Bima Sakti” artinya lajur kabut putih membentang yang dilihat pada malam hari seperti yang disaksikan sejak dulu oleh nenek moyang kita; dan apabila merujuk pada keluarga besar bintang termasuk Matahari didalamnya, disebut galaksi Bima Sakti atau galaksi saja.

Written by Widya Sawitar
Category:

ABSTRAK

Bersama dengan langkah maju keastronomian global, ternyata makin disadari bahwa pada ranah Nusantara pun banyak ditemukan pengetahuan tentang ilmu ini. Di sini akan disinggung sedikit beberapa temuan itu dengan mencoba menyelisik utamanya di budaya Jawa. Tampak bahwa budaya Astronomi yang ada tidak lepas dari tata laksana kehidupan sehari-hari, baik bagi masyarakat agraris hingga para petualang samudera. Adapun masa transisi dapat disebut pada rentang saat dibangunnya Observatorium Mohr di Batavia, Observatorium Bosscha di Lembang hingga RI berdiri. Sementara itu, secara formal pendidikan tinggi Astronomi di Indonesia disepakati dimulai pada tanggal 18 Oktober 1951, yaitu 6 tahun setelah kemerdekaan dan 8 tahun sebelum induknya (ITB) lahir yang kini Prodi Astronomi ITB merupakan satu-satunya prodi Astronomi di Indonesia. Giliran tahun 1964 dibangunlah Planetarium Jakarta yang digagas oleh presiden pertama RI. Tentu pada tahap selanjutnya, dunia Astronomi pun diperkenalkan pada jenjang yang lebih dasar. Ini tidak lepas dari keunikan karakter Astronomi yang berkelindan dengan ragam keilmuan dari ilmu murni hingga sosial–budaya, yang dalam aplikasinya menyangkut banyak lagi keilmuan yang tidak dapat terpisah bahkan hingga dataran religi.

Kata Kunci: Budaya Astronomi – Pendidikan Astronomi – Jejaring keastronomian

Written by Administrator
Category:
Berdasarkan Peraturan Gubernur Nomor 202 tanggal 20 Oktober 2016. Mulai hari Selasa, 22 November 2016 harga tiket pertunjukan Planetarium Jakarta untuk perorangan adalah sebagai berikut:

 

Umum/Perorangan

  • Dewasa                                     Rp. 12.000,-/orang (tingkat SMP s.d. Dewasa)
  • Anak-anak/Pelajar                    Rp.  7.000,-/orang (2 tahun s.d. usia tingkat SD)

 

Harga tiket untuk rombongan tidak mengalami perubahan. Informasi detil tentang Peraturan Gubernur Nomor 202 Tahun 2016 dapat diunduh di sini

 

Demikian, terima kasih.

Written by Widya Sawitar
Category:

There is a way on high,

conspicuous in the clear heavens,

called the Milky Way,

brilliant with its own brightness.

(Ovid - Metamorphoses, pada abad pertama di Roma. Ref.: Cosmos, p.268)

 

Sejak dulu bangsa kita sudah mengenal adanya penampakan kabut laksana selendang putih tipis membentang dari langit utara ke selatan seperti awan. Pada bagian tertentu terdapat daerah gelap, seperti gambaran orang sedang bertarung dengan naga. Diyakini bahwa gambaran orang itu adalah salah satu tokoh Pandawa Lima dalam kisah Mahabarata, yaitu Bima yang sedang bertarung dengan ular besar (naga). Dalam cerita, Bima memenangkan pertarungan sedemikian lahirlah nama Bima Sakti untuk kabut putih itu (lihat artikel Bima Sakti: Mitologi dalam Budaya Jawa). Bila dilihat cermat, seakan kabut tadi terbelah menjadi 2 pita. Jadi, bila disaksikan dari ufuk ke ufuk akan dimaklumi bila pada budaya tertentu melihatnya seolah penjelmaan dari makhluk berkaki 4 seperti masyarakat di Mesir Kuno.

Written by Widya Sawitar
Category:
Helios dengan Kereta Kudanya. Credit: theoi.com

Seperti yang pernah dinyatakan pada artikel BIMA SAKTI, Mitologi dalam Budaya Jawa yang membahas mitologi dalam budaya Jawa mengenai nama galaksi kita, bahwa “Penelusuran dalam topik ini yang terkait juga dengan sejarah Astronomi tentu masih menjadi medan penelitian yang terbuka luas yang seolah menjadi cakrawala yang tiada terbatas yang juga dapat terjadi karena perbedaan penafsiran terhadap naskah kuno sebagai tinggalan jejak budaya.”