01.

Pertunjukan Planetarium Ditutup

Hari Sabtu tanggal 8 April 2017 pertunjukan Planetarium DITUTUP untuk perbaikan komponen proyektor utama M-VIII sampai batas waktu yang belum ditentukan.

Selengkapnya

02.

Peneropongan Matahari

Sudah pernah lihat bintik Matahari? Kalau belum, yuk kita neropong Matahari bersama-sama. Silahkan cek jadwal dan waktunya ya.

Selengkapnya

03.

Perubahan Harga Tiket Pertunjukan

Berdasarkan Peraturan Gubernur Nomor 202 tanggal 20 Oktober 2016. Mulai hari Selasa, 22 November 2016 harga tiket pertunjukan Planetarium Jakarta untuk perorangan adalah sebagai berikut:

Selengkapnya

04.

Artikel Astronomi

Simak ulasan artikel astronomi dari kami yang membahas berbagai aspek terkait fenomena benda langit hingga ranah budaya.

Selengkapnya
Written by Widya Sawitar
Category:
Taurus Sang Banteng
(bagian pertama)


Gambar 1 Taurus

Ilustrasi imajinatif rasi bintang Taurus. Di depan Taurus adalah si kembar Gemini dan di belakang adalah rasi bintang Aries. Secara resmi, gambaran banteng ternyata hanya setengah badan, tidak gambar banteng utuh dari ekor hingga kepala.
Credit: Ide: Pasachoff, p.78 (Handelman/The New Yorker Mag.) / direka dan digambar ulang oleh WS.

*Latar belakang:

Gugus galaksi Abell 1689 – NASA, ESA, E. Jullo (JPL), P. Natarajan (Yale Univ.), J.P. Kneib (Laboratoire d'Astrophysique de Marseille, CNRS, France);

*Bintang-bintang:
Gugus bintang NGC 346 di Awan Magellan Kecil – NASA, ESA and A. Nota (STScI/ESA);

*Badan banteng:
Gugus galaksi Cl 0024+17 – NASA, ESA, and M.J. Jee (Johns Hopkins Univ.)

Written by Widya Sawitar
Category:

Ref.: George A. Davis Jr. (p.23)

 

Kembali membahas sejarah pemetaaan langit, maka setelah perkembangan budaya Mesopotamia, Sumeria, dan Babylonia, maka yang patut dicatat adalah pada era astronom dan ahli Matematika (juga kedokteran) Yunani yang bernama Eudoxus (390/408 – 337/340/355 SM, dari Cnidus – Laut Hitam), murid dari Archytas dan Plato (428/427 atau 424/423 – 348/347 SM) sang pendiri akademi ilmu pengetahuan di Athena (Gurunya adalah Socrates dan murid terkenalnya Aristotle). Pada era-nya bahwa Astronomi adalah cabang dari Matematika. Jadi dimaklumi apabila kala itu dalam sejarah budaya Yunani ditemui bahwa seorang astronom adalah juga seorang matematikawan (dan umumnya juga sebagai filsuf).

Written by Widya Sawitar
Category:
Lukisan zodiak di dinding gua. Credit: Constellations – IAU

These stars you can see returning in orderly succession as the years pass,
for all these images are very firmly fixed in the heaven through the moving night.

Aratus (315-245 SM) dalam karyanya “Phaenomena” (275 SM) (Ref.: Hunter)

 

Jika kita melihat bintang gemintang di kubah langit malam nan cerah, kesan yang mungkin terjadi dalam rentang usia hidup kita bahwa konfigurasi mereka tampak abadi dan tidak berubah. Perubahan pun hanya “sekedar” bahwa mereka terbit dan terbenam hari demi hari. Bila kita ikuti waktu demi waktu, mereka semua benar-benar meyakinkan kita bahwa mereka “hampir” tidak pernah berubah. Ketika melihat ke samudra perbintangan, yang jelas bahwa Anda akan melihat bintang-bintang yang sama – yang telah disaksikan oleh leluhur kita atau secara global dinikmati oleh manusia sejak ribuan tahun yang lalu, sejak keberadaannya.