01.

Pertunjukan Planetarium Ditutup

Hari Kamis tanggal 2 Maret 2017 pertunjukan Planetarium DITUTUP untuk perbaikan komponen proyektor utama M-VIII sampai batas waktu yang belum ditentukan.

Selengkapnya

02.

Peneropongan Matahari

Sudah pernah lihat bintik Matahari? Kalau belum, yuk kita neropong Matahari bersama-sama. Silahkan cek jadwal dan waktunya ya.

Selengkapnya

03.

Perubahan Harga Tiket Pertunjukan

Berdasarkan Peraturan Gubernur Nomor 202 tanggal 20 Oktober 2016. Mulai hari Selasa, 22 November 2016 harga tiket pertunjukan Planetarium Jakarta untuk perorangan adalah sebagai berikut:

Selengkapnya

04.

Artikel Astronomi

Simak ulasan artikel astronomi dari kami yang membahas berbagai aspek terkait fenomena benda langit hingga ranah budaya.

Selengkapnya
Category:

Diberitahukan kepada pengunjung Planetarium Jakarta bahwa mulai hari ini, Kamis tanggal 02 Maret 2017, pertunjukan teater bintang (Planetarium) sementara waktu DITUTUP sampai batas waktu yang belum ditentukan. Dikarenakan untuk perbaikan komponen proyektor utama M-VIII. Untuk ruang pameran astronomi tetap dibuka seperti biasa dan sesuai jadwal (kecuali hari Sabtu dan Minggu, ruang pameran ditutup).

 

Selama kegiatan pertunjukan ditutup, kami mengadakan kegiatan peneropongan matahari yang terbuka untuk umum dengan jadwal peneropongan pukul 09.30-10.30 WIB | 11.00-12.00 WIB dan 13.30-14.30 WIB. Kecuali untuk hari Sabtu dan Minggu, kegiatan peneropongan tidak ada. Kegiatan peneropongan ini gratis dan terbuka untuk umum. Jika kondisi langit mendung/hujan maka kegiatan penoropongan dibatalkan.

 

Terima kasih.
Written by Widya Sawitar
Category:
Avenue of Sphinx. Credit: Gelia/Fotolia

Seperti tema yang pernah dipaparkan pada artikel mitologi Matahari sebelumnya, yaitu yang berasal dari ranah Nusantara (Tèkang Adityamandala – budaya Jawa) dan hadirnya tokoh HELIOS, Sang Dewa Matahari pada budaya Yunani/Romawi, maka kali ini dicoba didongengkan serba sedikit mengenai kisah terkait yang berasal dari ragam budaya manca negara. Sebagian besar kisah kali ini dicoba dengan meringkas data berbasis beberapa situs yang ditulis pada akhir artikel, juga dari rujukan tambahan termasuk latar belakang Astronomi.

Written by Widya Sawitar
Category:
Galaksi spiral berbatang (NGC1300). Credit: NASA, ESA

Sejak dulu bangsa kita sudah melihat adanya penampakan kabut putih membentang dari langit utara ke selatan seperti selendang awan. Pada bagian tertentu terdapat daerah gelap, seperti gambaran orang sedang bertarung dengan ular besar. Diyakini bahwa itu adalah gambaran salah satu tokoh Pandawa Lima dalam kisah Mahabarata, yaitu Bima yang sedang bertarung dengan naga. Bima memenangkan pertarungan sedemikian lahirlah nama Bima Sakti untuk kabut putih itu. Lain halnya dengan bangsa di Eropa, gambarannya adalah air susu dewi Juno yang tumpah di langit sedemikian mereka menyebutnya Milky Way (Jalur Susu atau Kabut Susu). Masalah ini telah dibahas pada artikel Bima Sakti: Mitologi dalam Budaya Jawa dan Bima Sakti: Mitologi Manca Negara. Yang dipaparkan di sini, akan dibahas berbasis setelah pembuatan teleskop atau teropong bintang oleh Galileo. Sebagai catatan dalam artikel, apabila disebut “Bima Sakti” artinya lajur kabut putih membentang yang dilihat pada malam hari seperti yang disaksikan sejak dulu oleh nenek moyang kita; dan apabila merujuk pada keluarga besar bintang termasuk Matahari didalamnya, disebut galaksi Bima Sakti atau galaksi saja.

Written by Widya Sawitar
Category:

ABSTRAK

Bersama dengan langkah maju keastronomian global, ternyata makin disadari bahwa pada ranah Nusantara pun banyak ditemukan pengetahuan tentang ilmu ini. Di sini akan disinggung sedikit beberapa temuan itu dengan mencoba menyelisik utamanya di budaya Jawa. Tampak bahwa budaya Astronomi yang ada tidak lepas dari tata laksana kehidupan sehari-hari, baik bagi masyarakat agraris hingga para petualang samudera. Adapun masa transisi dapat disebut pada rentang saat dibangunnya Observatorium Mohr di Batavia, Observatorium Bosscha di Lembang hingga RI berdiri. Sementara itu, secara formal pendidikan tinggi Astronomi di Indonesia disepakati dimulai pada tanggal 18 Oktober 1951, yaitu 6 tahun setelah kemerdekaan dan 8 tahun sebelum induknya (ITB) lahir yang kini Prodi Astronomi ITB merupakan satu-satunya prodi Astronomi di Indonesia. Giliran tahun 1964 dibangunlah Planetarium Jakarta yang digagas oleh presiden pertama RI. Tentu pada tahap selanjutnya, dunia Astronomi pun diperkenalkan pada jenjang yang lebih dasar. Ini tidak lepas dari keunikan karakter Astronomi yang berkelindan dengan ragam keilmuan dari ilmu murni hingga sosial–budaya, yang dalam aplikasinya menyangkut banyak lagi keilmuan yang tidak dapat terpisah bahkan hingga dataran religi.

Kata Kunci: Budaya Astronomi – Pendidikan Astronomi – Jejaring keastronomian

Category:
Berdasarkan Peraturan Gubernur Nomor 202 tanggal 20 Oktober 2016. Mulai hari Selasa, 22 November 2016 harga tiket pertunjukan Planetarium Jakarta untuk perorangan adalah sebagai berikut:

 

Umum/Perorangan

  • Dewasa                                     Rp. 12.000,-/orang (tingkat SMP s.d. Dewasa)
  • Anak-anak/Pelajar                    Rp.  7.000,-/orang (2 tahun s.d. usia tingkat SD)

 

Harga tiket untuk rombongan tidak mengalami perubahan. Informasi detil tentang Peraturan Gubernur Nomor 202 Tahun 2016 dapat diunduh di sini

 

Demikian, terima kasih.