Dalam gedung pertunjukan utama (planetarium) berkapasitas sekitar 330 kursi, penonton dapat melihat peragaan/simulasi langit baik langit siang maupun malam hari. Wajah langit tiruan ini diproyeksikan ke kubah setengah bola bergaris tengah 22 meter di atas penonton melalui proyektor Universarium Model VIII.
Sebagai penunjang pertunjukan planetarium, ruang pameran dimana disajikan materi dalam ujud lukisan, photo, miniatur benda langit, wahana antariksa, dsb.
Bagi pengunjung juga disediakan perpustakaan dengaterdapatn materi yang tentunya berkaitan erat dengan masalah astronomi.
Mulai tahun 1998 telah ditambahkan fasilitas pertunjukan alternatif yaitu slide-show yang menggunakan fasilitas multimedia di dalam gedung pertunjukan baru. Animasi dinamika alam semesta ditampilkan dengan suasana mirip bioskop. Namun untuk masa mendatang bukan hanya slide-show saja, melainkan digabung dengan video film, laser disk, dan CD-ROM.
Planetarium Jakarta juga memiliki fasilitas kelas untuk menjalin interaksi lebih aktif antara pengunjung dan staf dalam penyebarluasan astronomi secara populer. Fasilitas kelas ini pula yang memungkinkan planetarium menyelenggarakan kegiatan lain seperti seminar dan penataran astronomi.
Adanya 3 teleskop memungkinkan mengadakan kegiatan pengamatan benda langit sebagai fungsi ke-observatorium-annya. Baik dalam bentuk penelitian (observasi ilmiah skala kecil), kegiatan khusus untuk masyarakat umum/awam (peneropongan umum), maupun gabungan keduanya sebagai partisipasi aktif untuk memupuk minat masyarakat. Dalam hal ini, fungsi Planetarium & Observatorium adalah sebagai tempat wisata pendidikan (edutainment : pendidikan dan hiburan). Lainnya adalah bimbingan karya tulis, membina kerja sama dengan instansi lain seperti Departemen Astronomi Institut Teknologi Bandung, Observatorium Bosscha Lembang, LAPAN, Departemen Agama, serta tidak lupa untuk membina organisasi amatir astronomi dimana siapapun dapat bergabung didalamnya (Himpunan Astronomi Amatir Jakarta/HAAJ).
Pengamatan Gerhana Matahari sebagian, tanggal 11 September 1988 Planetarium dan Himpunan Astronomi Amatir Jakarta (HAAJ)
Benda-benda di alam semesta yang dapat dilihat dengan mata telanjang jumlahnya sangat sedikit. Beruntunglah ada Galileo Galilei berkebangsaan Itali yang mempelopori pengamatan benda-benda langit tersebut dengan penemuannya berupa teleskop tahun 1609. Sejak saat itu pengetahuan manusia tetang jagad raya semakin bertambah.
Diawali pengetahuan tentang planet Bumi dan planet-planet lain beserta satelit-satelitnya, meteor, komet, asteroid. Ditambah Matahari, maka jadilah satu keluarga yang dikenal sebagai Tata Surya. Kemudian adanya keluarga besar bintang-bintang termasuk Matahari didalamnya yang melahirkan pengetahuan tentang galaksi tempat tinggal kita, yaitu Bimasakti. Pada akhirnya dengan fasilitas teleskop yang semakin canggih, manusia dapat mengetahui adanya galaksi-galaksi lain yang mengisi alam semesta. Masalah yang sangat penting dalam hal ini adalah terjadinya dampak positif terhadap pengetahuan atau perkembangan nalar manusia setelah menemukan sesuatu yang sebelumnya tidak terlihat mata. Bagaimana memandang dirinya di alam semesta yang konon tidak terbatas ini.
Pengamatan Gerhana Matahari Total di Tahuna Sulawesi Utara tanggal 24 Oktober 1995
Dalam kasus di atas, Planetarium pun tidak ketinggalan. Dengan adanya 3 teleskop dapat dilakukan pengamatan, baik untuk penelitian maupun untuk sekedar mengintip langit bagi para pengunjung. Jadwal peneropongan untuk pengunjung (peneropong umum) disusun dengan jadwal mempertimbangkan kondisi cuaca. Dalam 1 tahun Planetarium mengadakan kegiatan ini sebanyak 36 kali pada bulan-bulan tertentu apabila cuaca memungkinkan dan tidak memungut biaya. Juga tidak menutup kemungkinan mengadakan kegiatan ini di luar jadwal yang biasa karena ada peristiwa astronomis, khususnya dalam bidang pengamatan benda-benda langit.
Di samping menyangkut aspek pengetahuan khususnya astronomi, adanya kegiatan peneropong umum menimbulkan kemungkinan pada pengunjung untuk memiliki rasa cinta alam dan menjadikannya sebagai satu kegemaran unik yang baik dan berguna.
Planetarium Jakarta dilengkapi oleh Observatorium, tempat peneropongan benda langit, dimaksudkan agar dapat melaksanakan kegiatan observasi sebagai bagian dari pekerjaan astronomi profesional dan juga memberikan kesempatan kepada pengunjung untuk mengamati benda-benda langit melalui teropong bintang. Hasil observasi dapat memberikan informasi yang masih hangat tentang benda atau fenomena langit yang masih bisa diamati di Jakarta. Observatorium memiliki peralatan 3 teropong bintang dan sebuah heliostat yang digunakan untuk observasi visual dan fotografi Matahari, Bulan, planet, komet, gugus bintang dll. Sebuah teropong bintang yang dapat dibawa berpindah-pindah digunakan untuk mengamati gerhana matahari, gerhana bulan dan komet.
Pada waktu-waktu tertentu planetarium bekerja sama dengan Himpunan Astronomi Amatir Jakarta, mengadakan peneropongan umum di lapangan terbuka untuk lebih memasyarakatkan astronomi sebagai hoby yang bermanfaat.
Teleskop reflektor Cassegrainian 310 mm
Foto-foto yang dihasilkan selain dijadikan bahan dokumentasi juga digunakan untuk penelitian astronomis. Dalam hal itu, tenaga-tenaga astronom di planetarium senantiasa bekerjasama dengan lembaga-lembaga astronomi yang lain. Letak Indonesia memiliki keistimewaan, yakni dapat mengamati langit belahan utara maupun belahan selatan dalam waktu bersamaan, karena letaknya di daerah ekuator Bumi.
Gedung observatorium yang atapnya berbentuk kubah merupakan cirinya yang khas, lebih didasari oleh persyaratan teknis, yakni agar dapat diputar ke berbagai arah dan menimbulkan hambatan yang kecil terhadap tiupan angin serta sirkulasi udara di atas teropong bintang tidak terlalu acak.
Sebagian koleksi buku perpustakaan Planetarium Jakarta
Keberadaan perpustakaan yang menghimpun bahan-bahan tertulis mengenai astronomi yang telah dirilis sejak planetarium mulai dibuka. Perpustakaan ini sebuah fasilitas yang mutlak diperlukan karena sebagian besar bahan acuan untuk menyusun programa berasal dari isi perpustakaan yang terdapat lebih dari 3.600 buah buku, majalah dan bentuk penerbitan lainnya sebagai koleksi perpustakaan. Jumlah itu akan terus bertambah melalui langganan majalah dan pembelian buku-buku terbitan baru.
Tambahan koleksi perpustakaan juga diperoleh melalui bantuan atau sumbangan dari pihak lain, seperti Yayasan Asia dan beberapa kedutaan asing. Di perpustakaan terdapat hasil-hasil seminar astronomi dan karya ilmiah profesional lainnya, diantaranya berupa sumbangan dari observatorium Bosscha.
Perpustakaan terbuka untuk umum pada jam kerja kantor, untuk memberi kesempatan kepada yang ingin memperluas pengetahuan astronomi. Kesempatan ini dimanfaatkan dengan baik terutama oleh pelajar, mahasiswa, dan para guru. Berbagai literatur yang ada sangat membantu mereka dalam penyusunan karya tulis, bahkan karya tulis akhir atau laporan yang merupakan sebagian dari pelaksanaan kurikulum pendidikannya.
Gambar dan model miniatur adalah alat yang dapat digunakan untuk memperluas wawasan pengetahuan mengenai benda-benda langit. Jarak pemisah yang amat jauh dan pengaruh angkasa dan keterbatasan mata membuat kita tak tahu banyak tentang sifat-sifat benda langit yang sebenarnya. Oleh karena itu gambar-gambar yang dipotret atau dideteksi oleh peralatan astronomi, baik yang dilakukan di Bumi maupun yang berada diangkasa dan ruang angkasa, besar manfaatnya untuk kita ketahui ciri-ciri yang tampak didalamnya. Model miniatur dapat membantu menjelaskan rupa, bentuk dan dimensi benda-benda yang ditirukan.