Written by Widya Sawitar

User Rating: 5 / 5

Star ActiveStar ActiveStar ActiveStar ActiveStar Active
 

These stars you can see returning in orderly succession as the years pass,
for all these images are very firmly fixed in the heaven through the moving night.

Aratus (315-245 SM) dalam karyanya “Phaenomena” (275 SM) (Ref.: Hunter)

 

Jika kita melihat bintang gemintang di kubah langit malam nan cerah, kesan yang mungkin terjadi dalam rentang usia hidup kita bahwa konfigurasi mereka tampak abadi dan tidak berubah. Perubahan pun hanya “sekedar” bahwa mereka terbit dan terbenam hari demi hari. Bila kita ikuti waktu demi waktu, mereka semua benar-benar meyakinkan kita bahwa mereka “hampir” tidak pernah berubah. Ketika melihat ke samudra perbintangan, yang jelas bahwa Anda akan melihat bintang-bintang yang sama – yang telah disaksikan oleh leluhur kita atau secara global dinikmati oleh manusia sejak ribuan tahun yang lalu, sejak keberadaannya.

 

Kesan Awal

Pada pandangan pertama, akan terlihat bintang-bintang seolah tidak punya pola tertentu. Tersebar begitu saja, menghampar dari ufuk ke ufuk memenuhi atap langit berbentuk kubah setengah bola yang sedemikian besar. Lambat laun, nenek moyang kita justru menyadari adanya pola sebaran tersebut yang dapat dijadikan acuan. Dimulailah untuk membayangkan bentuk-bentuk imajinatif sesuai produk budaya lokalnya. Mulailah mereka “menggambar” di langit berbekal titik-titik bintang. Hal ini mirip ketika saat sekolah tingkat SD ditugaskan menggambar dengan panduan angka-angka berturutan, sedemikian ketika guratan pinsil mencapai nomor terakhir, maka akhirnya akan diketahui gambar apa gerangan yang terlukis. Dalam hal alam perbintangan, biasa disebut sebagai sky-dot picture.

Pada tahap selanjutnya, leluhur kita mengaitkan gambaran imajinatifnya di langit dengan “kapankah?” gambar imajinasinya dapat disaksikan yang berselimutkan dimensi waktu, selanjutnya “di arah manakah?” arahnya yang berkelindan dengan dimensi ruang, yang pada proses selanjutnya sekiranya “apakah yang terjadi di lingkungannya?” tatkala gambarannya tersebut di langit muncul dihadapannya serta keterkaitannya dengan tarikan nafas kehidupannya yang menapak lebih tinggi ke ranah spiritnya. Masing-masing budaya mencoba men-saripati-kan tebaran bintang di kubah langit dalam dinamika kesehariannya. Tidak terasa bahwa pemahaman terhadap konsep ruang-waktu dan imajinasi teofanik berbasis penalaran kosmik mengejawantah dalam pola kehidupannya.

 

Konstelasi

Dalam tahap di atas, pada dasarnya manusia dengan sadar atau tidak telah berusaha untuk membentuk pola atau gambaran tertentu berbasis bintang gemintang terkait pada kebutuhan apapun yang mereka pikirkan. Terjadilah pengelompokan bintang di kubah langit yang tidak lain adalah suatu usaha untuk membuat peta langit walau berlandas acu kebutuhan sehari-hari, termasuk ritual ibadahnya. Pengelompokan bintang inilah yang akhirnya memunculkan apa yang dikenal sebagai rasi bintang atau konstelasi (bintang bersama). Tentu yang sudah dikenal luas adalah yang terkait hari lahir kita, yaitu Zodiak (Circle of Animals, yang akar katanya “zoo”) yang terdiri dari 12 rasi bintang (penentuan tradisional; karena kini ada 13 rasi bintang di jalur Zodiak). Sadar ataupun tidak, bahwa banyak nama benda langit termasuk nama rasi bintang yang berasal dari pengaruh budaya Yunani. Namun, sejatinya setiap budaya di dunia memiliki alur kisahnya sendiri walau pada akhirnya masalah akulturasi budaya tentu tidak dapat dikesampingkan.

Pada titik tertentu, manusia menyadari bahwa mereka ternyata melihat arena perbintangan yang berbeda tatkala bergulirnya proses akulturasi budaya. Orang-orang di berbagai lokasi pada bola Bumi nyatanya melihat gambar yang berbeda di kubah langit perbintangan dengan waktu yang berbeda. Namun, uniknya, kadang dijumpai “pemikiran” yang sama antar budaya tersebut sedemikian pada suatu wilayah di langit memiliki gambaran yang sama walau landas acu mitosnya berbeda dan padahal belum tentu terjadi proses akulturasi antar mereka.

Umumnya rasi bintang yang ada bercerita tentang kisah tokoh atau pahlawan, makhluk fantastis, atau simbol lainnya. Dari tahapan ini artinya bahwa manusia sudah membuat peta langit di mana seluruh langit yang dilihatnya dibagi ke dalam beberapa wilayah langit atau rasi bintang. Ibarat kota Jakarta yang dibagi menjadi 5 wilayah, ada Jakarta Pusat, Jakarta Selatan, dsb., maka kubah langit dibuatkan petanya yang dibagi menjadi beragam rasi bintang yang awalnya tergantung pada budaya lokal. Kini, secara kesepakatan internasional bahwa kubah langit dibagi menjadi 88 wilayah langit atau 88 rasi bintang yang diresmikan oleh the International Astronomical Union (IAU) pada tahun 1922.

 

Gambar 1 Peta Rasi Bintang Pisces

Garis hijau merupakan garis awal imajinasi bentuk dua ikan yang seolah terikat dengan simpul ikatan pada bagian ekornya di bintang paling terang (paling kiri, Alpha Piscium atau Alrischa). Di Indonesia, Pisces dikenal sebagai Lintang Mina/Minam/Likasan. Sedangkan wilayah berwarna putih adalah batas wilayah rasi ini pada era sekarang. Dalam sejarahnya, berawal dari hadirnya dewi Derke (kisah masyarakat Syria), yang ujudnya setengah wanita dan setengah ikan. Dalam perjalanan waktu berabad sampai ke era kejayaan Romawi, merupakan gambaran Venus bersama anaknya – Cupid – yang terpaksa melarikan diri dengan terjun ke lautan akibat kejaran monster Typhon. Ref.; Cornelius, 2005, p.98; IAU website dan Sky and Telescope - Constellation Names.

 

Sesungguhnya kalau dikatakan sebagai rasi bintang atau konstelasi dalam konteks atau pengelompokan bintang bersama atau berdekatan hanyalah kesan visual dari kita sebagai pengamat yang ada di permukaan Bumi. Mereka memang tampak berdekatan di kubah langit karena terkesan bintang gemintang menempel begitu saja di atap langit. Namun, sejatinya antara satu bintang dengan bintang yang lain umumnya tidak berdekatan, artinya juga jarak bintang-bintang tersebut ke kita sebagai pengamat belum tentu berdekatan. Ibarat kita memotret orang berbaris dari depan dan sedikit menyamping. Pada hasil foto tampak semua berada di satu lembar kertas (anggap tebaran bintang di atap langit), yang kenyataannya, antara satu orang dengan orang lainnya tentu memiliki jarak tertentu (anggap sebagai posisi bintang sebenarnya). Misalnya pada rasi bintang:

 

  1. Crux (di Indonesia namanya Lintang Gubug Penceng):
    • Alpha Crucis atau Acrux berjarak 120 parsec (1 parsec = 3,086 x 1013 km),
    • Beta Crucis atau Mimosa 150 pc.
  2. Centaurus (di Indonesia dikaitkan dengan Lintang Wulanjar Ngirim):
    • Alpha Centauri atau Rigil Kentaurus 1,3 pc;
    • Beta Centauri atau Hadar 120 pc.
  3. Rasi bintang Orion (di Indonesia sebagiannya disebut Lintang Waluku):
    • Alpha Orionis atau Betelgeuse 130 pc;
    • Beta Orionis atau Rigel 306 pc.

 

Identifikasi Bintang

Sebagai catatan bahwa bintang diberikan indeks dengan abjad Yunani oleh Johann Bayer (1572 – 1625, Jerman) sejak tahun 1603. Hal ini ditampilkan pada buku atlas perbintangannya yang berjudul Uranometria di mana indeks alpha adalah bintang paling terang, kedua indeks beta, dst. Hal ini berbasis kecerlangan semu atau magnitudo visual/tampak (kecerlangan yang dilihat kasat mata) di rasi bintang bersangkutan (kadang dengan indeks angka yang dikembangkan oleh John Flamsteed, 1646 – 1719, dari Royal Greenwich Observatory – Inggris). Namun, memang ada kekecualian. Misal di rasi bintang Sagittarius, yang paling terang justru berindeks epsilon (urutan abjad ke 5). Atau pada kasus Betelgeuse dan Rigel di Orion, kadang Betelgeuse dengan indeks alpha menjadi bintang paling terang, kadang kecerlangannya tampak berkurang menjadi lebih redup dibandingkan dengan Rigel yang berindeks beta. Hal ini karena memang sifat kecerlangan Betelgeuse yang bervariasi (kini digolongkan sebagai variable star, kadang redup kadang terang secara periodik – bintangnya seolah berdenyut membesar mengecil).

 

Kecerlangan Bintang

Urutan kecerlangan bintang secara kuantitatif dikembangkan oleh astronom Yunani, yaitu Hipparchus (Hipparchos, 190 – 125/120 SM) dari Nicaea – Yunani antara tahun 146 – 127 SM (bintang yang paling terang diberi angka satu, yang paling redup angka 6). Dalam hal ini, dapat jadi bintang “yang dianggap” paling terang belum tentu sejatinya bintang cemerlang. Dapat saja karena posisinya yang relatif dekat. Ibarat nyala lilin dengan lampu mobil. Bila lilin hanya berjarak setengah meter dari mata kita, sementara nyala lampu mobil pada jarak 500 meter tentu akan tampak nyala lilin lebih terang. Inilah yang kemudian disebut magnitudo semu (biasa diberi parameter m). Bila jarak keduanya sama, semisal 10 meter, maka nyata benar bahwa lampu mobil jauh lebih cemerlang. Ini adalah magnitudo mutlak (diberi parameter M).

 

Budaya Menera Langit

Di seluruh dunia, banyak budaya kuno yang mewariskan bukti peta langit. Ditemukan di Indonesia (Jawa Tengah) dan sangat populer di kalangan petani adalah kelompok bintang yang dikenal sebagai Lintang Waluku (Lintang = Bintang, Waluku atau Luku / Wluku / Ténggala = alat bajak sawah). Sementara di Yunani, lokasi kelompok ini dikenal sebagai Orion – the Hunter atau Sang Pemburu. Di Indonesia, rasi ini dikaitkan dengan musim untuk keperluan pertanian. Ketika Matahari terbenam dan rasi bintang ini muncul di timur, itu berarti awal musim hujan. Dan ketika muncul di cakrawala barat ketika Matahari terbenam, maka musim kemarau dimulai.

Sementara itu, masyarakat Mesir kuno menggunakan bintang paling terang di langit malam, yaitu Sirius (dekat Orion) yang berada di rasi bintang Canis Major (Anjing Besar) sebagai penanda dimulainya banjir tahunan sungai Nil. Masyarakat Mesir kala itu telah menyimak cermat bahwa durasi atau periode terjadinya banjir sungai Nil terkait dengan posisi bintang Sirius (posisi terdekat dengan Matahari di kubah langit sebagai tanda banjir tahunan) yaitu 365 hari dan setiap 4 tahun sekali terdapat penambahan 1 hari (kini kita kenal istilah kabisat). Bagi masyarakat Afrika, mereka menggunakan patokan terbit terbenamnya kelompok bintang (open cluster) Pleiades di rasi bintang Taurus (Banteng) sebagai penanda awal masuknya masa panen. Di Indonesia, kelompok bintang ini disebut Lintang Kartika (Tujuh Putri Bersaudara).

Rasi bintang lainnya adalah Lintang Pari (karena bentuknya mirip ikan pari, khususnya oleh para nelayan) yang digunakan sebagai pedoman arah atau kompas. Kelompok ini juga dikenal dengan nama Lintang Gubug Penceng (Gubuk Miring) di mana pada budaya Yunani disebut Crux yang kini juga dikenal sebagai Southern Cross (Bintang Salib Selatan) atau di Indonesia umum disebut sebagai Bintang Layang Layang.

Seperti halnya Crux sebagai kompas, maka apabila kita dapat melihat ke arah utara, maka kita dapat melihat kelompok bintang Biduk atau Gayung Besar (the Plough atau Big Dipper), sebagai bagian dari rasi bintang Beruang Besar (Ursa Major) yang berguna untuk penanda arah utara (sebagai kompas), khususnya bagi masyarakat di belahan Bumi utara. Rasi bintang ini masih cukup jelas di lihat dari Jakarta. Sebutan gayung karena tampak seperti bentuk gayung dilihat dari samping. Kelompok ini membentuk bagian belakang dan ekor dari beruang. Di Indonesia, kelompok ini kadang dikenal sebagai Bintang Biduk (sampan atau kapal untuk memancing para nelayan) atau Bintang Tujuh (Seven Stars), tetapi tidak digunakan sebagai kompas. Tradisi luas di kalangan penduduk asli Indian di benua Amerika sejatinya melihat gambaran beruang di kelompok tersebut (di Amerika Utara, masyarakat tertentu menyebutnya Seven Brothers). Rasi ini sebagai beruang dikenal luas di Eropa, Asia, Amerika Utara, dan Mesir. Ada hipotesis bahwa nama yang terkait dengan beruang telah digunakan sejak ribuan tahun yang lalu di Euro-Asia. Pengecualian di India, tujuh bintang terang di rasi ini adalah sebagai simbol dari Tujuh Manusia Bijak (Seven Rishis/Sages/Wisemen), tetapi uniknya bahwa istilah Rishi pada kata Sansekerta juga terkait dengan akar kata yang berarti beruang.

Mengenai rasi bintang Scorpius, yang dikenal sebagai tanda Zodiak yang ke 8, sekitar 5.000 tahun lalu digunakan sebagai patokan September equinox, sebagai awal musim gugur di belahan utara (23 September). Di Indonesia dikenal sebagai Lintang Klopo Doyong (pohon kelapa yang miring), Lintang Banyak Angrem (angsa yang sedang mengerami telur), Lintang Kala Sungsang (kalajengking dengan posisi kepala di bawah – ekor ke atas). Namun, sebenarnya yang dijadikan patokan secara umum adalah bintang paling terang di rasi bintang tersebut, yaitu Antares, lokasi Matahari saat September equinox. Rasi yang fungsinya mirip adalah Taurus yang dipakai sebagai penanda vernal (atau spring) equinox (awal musim panas, kisaran tanggal 21 Maret). Layaknya Scorpius, maka yang jadi patokan di Taurus adalah bintang paling terangnya, yaitu bintang Aldebaran. Baik Antares dan Aldebaran sekarang diketahui sebagai bintang maha raksasa merah (tergolong bintang dingin). Penggunaan ini diketemukan pada era awal berkembangnya budaya Mesopotamia. Selain itu, rasi bintang yang cukup populer pada catatannya adalah Leo (Singa) sebagai penanda midsummer solstice, kisaran tanggal 22 Juni (titik balik utara) dengan patokan posisi bintang paling terangnya, yaitu Regulus.

Kini, bila di Indonesia dan kita coba nikmati kubah langit malam pada kisaran awal bulan Mei dan Juni, ketika Matahari (juga Aldebaran di Taurus) terbenam di ufuk barat, maka sejenak kemudian Scorpius dengan Antares-nya akan terbit di ufuk timur. Dalam hal ini, secara sederhana dapat kita katakan bahwa posisi Matahari kala itu berada di wilayah Taurus. Pergeseran posisi Matahari dari Taurus ke Scorpius nanti akan terlihat dalam rentang waktu 6 bulan kemudian.

 

Gambar 2

Dari studi Archaeology, terdapat lukisan di dinding gua (Lascaux di Perancis selatan). Dugaan kuat ini adalah gambaran Taurus, karena adanya titik-titik hitam di atas punggung (Pleiades) dan di wajah (Hyades). Yang cukup mengejutkan bahwa ini adalah tinggalan budaya 17.300 tahun lalu (Rappenglück 1996). Credit: Constellations – IAU

 

Permasalahan seputar catatan kuno (manuscript) yang menyangkut Zodiak dijumpai sejak sebelum diketemukannya sistem penulisan pertama yang berbentuk baji (cuneiform, kisaran 4.400 – 3200 SM, di Mesopotamia). Kisah tentang perbintangan berbasis tradisi lisan di-sari-kan pada kisah kepahlawan Gilgamesh (dua belas lagu yang terkait dengan 12 tanda Zodiak). Pada era Mesopotamia ini, rasi bintang (yang dianalisis sebagai) Leo, Taurus, Scorpius sudah populer. Adapun Aquarius dikaitkan dengan cardinal points of the ecliptic. Lainnya yang diduga telah ditandai di langit adalah Piscis Austrinus, Aquila, dan Hydra + Corvus (Roger, 1998). Adapun pada era 2500 – 2000 SM, dijumpai rasi bintang Virgo sebagai dewi pertanian terkait utamanya panen yang berlimpah dari tanaman jagung, di Yunani identik dengan dewi Demeter, di Babylonia dewi Ishtar, dan di Mesir dewi Isis. Lainnya adalah Sagittarius dengan sebutan Pabilsag sang dewa perburuan (Ninurta di Sumeria, Nedu di Babylonia yang dapat diartikan sebagai tentara atau prajurit); dan Capricorn (simbol dewa Ea, ikan berkepala domba). Menyusul kemudian Gemini (Si Kembar Lugalgirra dan Meslamta-ea yang oleh Eratosthenes (275 – 194 SM, dari Cyrene) disebut Castor dan Polydeuces), Pisces (Anunitum, dewi kelahiran), Cancer (Al-lul, kepiting), dan Libra (awalnya adalah kedua capit Scorpiusthe horn of Scorpion; yang disahkan penggunaannya oleh Julius Caesar sebagai simbol keadilan). Pada kisaran 650 – 400 SM, horoskop terkait Zodiak mulai berkembang (astrologi), termasuk penentuan Spring Equinox yang dipetakan di rasi Lu-Hunga (Aries). Pada era kemudian diketahui bahwa ada ketidak-sesuaian musim dan jejak lintasan Matahari di Zodiak dan selanjutnya kini diketahui bahwa apa yang dikenal sebagai Titik Aries tersebut sebenarnya senantiasa bergeser karena gerak presesi Bumi dan sekarang ada di wilayah Pisces serta membuat Matahari era sekarang melewati 13 rasi bintang Zodiak pada epoch2000, tidak lagi 12 (Rogers, 1998).

 

Gambar 3 SCORPIUS, SANG KALAJENGKING

Objek dengan indeks M adalah benda langit yang dibuat oleh oleh astronom Perancis Charles Messier (1730 – 1817). Tidak disusun atas dasar urutan koordinat langit seperti katalog NGC, namun berdasarkan urutan waktu ditemukan. Yang pertama ditemukan diberi nomor 1, yang kedua berindeks nomor 2, dst. Temuan pertamanya adalah Nebula Kepiting (Crab Nebula, 12 September 1758, 14 hari setelah dia menemukan sebuah komet), maka diberilah indeks M1 (Messier 1).
Rasi bintang Scorpius diapit oleh Corona Australis, Norma, Centaurus, Libra, Ophiuchus, dan Sagittarius. Bintang digambar dengan lingkaran hitam dengan indeks alphabet Yunani, gugus bintang terbuka (open cluster) dengan lingkaran (contohnya: M6, M7), gugus bintang bola (globular cluster) dengan lingkaran yang ada titik ditengahnya (M4, M80).
Credit: WS/POJ

 

Selain itu, ternyata kini diketahui bahwa kisah terkait langit diketemukan pada ribuan artefak berusia hingga 17.300 tahun yang dijumpai di wilayah Eropa, Afrika, dan Rusia dan sekitarnya.

Ribuan tahun yang lalu, nama-nama bintang dalam arti luas tentu berbasis pada pengamatan kasat mata. Banyak kesamaan pemikiran di mana salah satu faktornya adalah terjadinya akulturasi budaya. Salah satu rasi bintang yang dikenal hampir merata adalah Orion. Hal ini karena posisi wilayah rasi bintang ini cukup luas dan terbagi dua oleh ekuator langit (perpanjangan ekuator Bumi ke bola langit. Lihat artikel Dari Ekuator Sampai Ke Kutub). Jadi, bukan kita yang di ekuator saja yang dapat menyaksikannya, melainkan baik penduduk belahan utara dan selatan pun dapat melihatnya. Karena bintang-bintangnya cukup terang bahkan sangat cemerlang, maka dimaklumi apabila rasi bintang ini banyak disebut pada budaya di seluruh dunia.

Perunutan asal kata Orion, bermula dari masyarakat Akkad(ian) yang tinggal di bagian utara wilayah Shinar, yaitu dataran di antara sungai Euphrates dan Tigris. Sementara itu, Sumeria yang berada di daerah selatannya adalah penemu sistem tulis baji (cuneiform). Keduanya termasuk dalam budaya Mesopotamia. Kehadiran bentang langit bagi mereka merupakan sesuatu yang dianggap penting, bila dibanding dengan konsepsi di wilayah lainnya dan dari merekalah konsep kalender dimulai. Masyarakat Akkad(ian) inilah yang awalnya menyebut Orion sebagai Uru-anna (Cahaya Langit). Awalnya ditujukan pada benda cemerlang seperti Matahari, yaitu Uru-ki  (bila untuk Bulan dikatakan Cahaya Bumi). Tokoh sastra puisi Yunani, Pindar pada era awal abad 5 SM menyebut dalam karyanya sebagai Oarion yang lalu diadaptasi oleh Catullus (Gaius Valerius Catullus dari Romawi, 84 – 54 SM) dengan nama Arion, atau kadang Aorion. Namun, pada tahun 354, astrolog Maternus Julius Firmicus mempublikasikan nama ini sebagai Argion dan agak bergeser penunjukannya menjadi nama yang diidentikkan dengan nama bintang Procyon di rasi bintang Canis Minor (Anjing Kecil). Sekedar catatan, bahwa bintang Sirius – Betelgeuse – Procyon, membuat formasi segitiga di kubah langit yang digunakan secara luas sejak dahulu kala sebagai Segitiga Musim Dingin (Winter Triangle).

Pada ranah Syria, rasi bintang Orion disebut Gabbara; di wilayah Arab julukannya Al Jabbar (keduanya berarti raksasa, atau Gigas pada era Ptolemy yang terkenal dengan pendapat geosentrisnya). Sementara itu, di wilayah Arab kata ini perlahan teradaptasi menjadi Algebra, Algebaro, lalu Algebar yang oleh penulis Inggris, John Chilmead (1639) dieja dan ditulis sebagai Algibbar. Uniknya, saat era awal di wilayah Arab terdapat istilah Al Jauzah (yang nama ini juga ditujukan pada salah satu nama bintang di rasi bintang Gemini) dan tatkala sampai ke daratan Eropa oleh Hugo Grotius (Huig van Groot, Belanda, 1583 – 1645), sering disebut sebagai Elgueze, Geuze, Jeuze, Geuzazguar. Makin unik, karena oleh masyarakat Arab sendiri bahwa nama yang disebut terakhir malah ditujukan untuk bintang yang kini dikenal sebagai Canopus di rasi bintang Argo Navis (bagian rasi bintang Carina, di Indonesia disebut Lintang Prau Pegat atau Kapal Patah. Lihat artikel BIMA SAKTI, Mitologi dalam Budaya Jawa). Namun, tidak lama berselang nama ini dikembalikan untuk Orion.

Adapun bintang paling terang di Orion adalah Betelgeuze. Akar katanya diduga berawal dari wilayah Arab, Ibt al Jauzah (Ketiak Sang Raksasa), lalu teradaptasi menjadi Bed Elgueze, Beit Algueze, Bet El-geuze, Beteigeuze. Ditulis pada Tabel Alfonsine (1252) sebagai Beldengenze. Selanjutnya, Giovanni Battista Riccioli (Italia, 1598 – 1671) menyebutnya Bectelgueze atau Bedalgueze. Bahkan hingga kini penyebutannya juga masih bervariasi, yaitu Betelgeuse, Betelgeuze, Betelgeux.

Kembali ke rasi bintang Orion, dalam paham Hindu (India), konstelasi ini dipersonifikasikan sebagai Prajapati (Sansekerta, Lord of Creatures yang dalam Weda sebagai dewa agung, the Lord and Father of all being). Namun, ini juga ditujukan pada simbolisasi 10 manusia bijak, putra dewa Brahma, yang menurunkan manusia (Pike, p.304). Adapun di Tiongkok, Orion dikenal sebagai Hen atau Shi Ch’en yang pada era tertentu dipuja sebagai gambaran Macan berwarna putih.

Rupanya ada kesamaan antara budaya Persia dan India. Sama-sama melihat gambaran bentuk lengan manusia (yang identik juga dengan lengan Orion pada budaya lainnya). Wilayah perbintangan ini disebut Besn di Persia dan Bahu di India yang artinya sama, yaitu lengan. Sementara di Tiongkok pun ada yang mirip, yaitu untuk wilayah bagian pundak Orion yang disebut Shen (sama dengan nama rasi bintangnya, atau kadang Tsan. Namun, belum jelas apakah Tsan adalah Betelgeuse dalam patokannya). Kemiripan juga terjadi pada ranah Arab yang disebut Al Mankib (pundak).

Nyatanya bukan berlaku di Indonesia saja bahwa terbitnya Orion dikaitkan dengan datangnya musim hujan. Hal ini sama dengan di India. Terbitnya Betelgeuse berlandas acu pada Nakshatra ke 4 yang disebut kala atau musim Ardra (artinya uap air) dan terkait dengan dewa Rudra, dewa petir/badai. Musim ini di Tiongkok disebut Siue (atau Hsiu) ke 4. Ada yang mirip, walau agak berbeda patokannya, yaitu yang di wilayah Arab disebut Manzil ke 4. Namun, ke baik Siue, Manzil, dan Nakshatra pedoman penentuannya sama, yaitu berbasis gerak (atau fase) Bulan (awal lahirnya kalender qomariah/Hijriah, dan sama juga dengan masyarakat Hebrew, yaitu mazzaloth).

 

Nakshatra

Pada dasarnya adalah periode gerak harian Bulan dalam lintas orbitnya. Terdapat 27 nakshatras (kadang disebut 28). Sebagai catatan bahwa kebanyakan kalender kuno berbasis Bulan, bukan Matahari (kalender masehi). Tabulasi posisi Bulan berlandas gerak harian tersebut merupakan  perkembangan yang sangat awal dari catatan mereka. Adapun bintang-bintang umumnya dikelompokkan menjadi konstelasi di ekliptika (tempat Matahari, Bulan, dan planet bergeser), tetapi hal ini tidak sepenuhnya dilakukan pada budaya di Tiongkok yang mereka juga membuat rasi bintang di daerah ekuator langit. Dengan membagi jalur Bulan melewati bintang-bintang menjadi 27 bagian, Bulan akan terlihat menyeberang dari satu bagian (disebut rumah) ke bagian (rumah) berikutnya malam demi malam. Di wilayah Arab dikenal sebagai Al Manazil al Kamr (tempat istirahat Bulan). Di Tiongkok dikenal sebagai Sieu (Rumah).

 

Penelusuran di atas adalah sekedar gambaran sejarah singkat bahwa ternyata perunutan sekedar nama benda langit begitu kompleks. Budaya mana yang mengawalinya, budaya mana yang terpengaruh dalam jejak akulturasinya, kapan proses pengadaptasiaannya, termasuk bagaimana penggunaannya hingga ranah spirit yang menyertainya? Tentu hal seperti ini masih menjadi medan penelitian yang terbuka sangat luas. Barangkali para muda Indonesia ada yang berminat menelusuri aspek atau topik seperti ini.

 

The North Star

Salah satu bintang yang sangat populer khususnya di belahan Bumi utara adalah yang dijuluki Bintang Utara (the North Star). Dalam peta langit modern, bila kita buat garis panah di rasi bintang Ursa Major yang diawali dari bintang Merak (β-UMa) ke arah bintang Dubhe (α-UMa), maka panah tersebut akan menunjukkan Kutub Langit Utara (zenith dari bidang ekuator langit, atau merupakan titik potong antara perpanjangan sumbu rotasi Bumi dengan kubah langit utara).

Kini titik potong tersebut sangat dekat dengan bintang Polaris. Namun, bertahun-tahun yang lalu memang dapat dikatakan titik perpotongan tersebut berlokasi di bintang itu. Karena ada gerak presesi Bumi, di mana sumbu rotasi ini bergeser perlahan dengan periode kisaran 26.000 tahun – seolah sumbu rotasi ini bergeser menelusuri dinding kerucut terbalik dan lingkaran alas kerucut ditempuh selama periode presesi tersebut). Misal nanti tahun 14.980, Bintang Utara ini bukan lagi Polaris, melainkan Vega di rasi bintang Lyra. Pada saatnya nanti, Polaris akan kembali menjadi Bintang Utara.

Sementara itu, pada masa lalu berada di rasi bintang Draco (α-Dra), the Dragon. Rekaman catatan ini dilakukan oleh masyarakat Minoan of Crete di Yunani (1867 SM). Pada saat itu, Matahari melintas tepat memotong ekuator langit pada tanggal 21 Maret (vernal equinox), dan latar belakang rasi bintangnya adalah Aries. Sedangkan pada saat Cleostratos (Tenedos, 550 SM, astronom dan filsuf Ionian yang kemungkinan besar murid Thales dari Miletos), dicatat bahwa Bintang Utara adalah Polaris.

Dalam sejarah bahwa Cleostratos yang membagi Zodiak menjadi 12 rasi bintang. Argumen lainnya, bahwa 12 rasi bintang Zodiak diciptakan oleh Pythagoras atau Oinopides (dari Chios, 450 SM, yang dikenal pertama kali menentukan parameter eksentrisitas atau penentuan kelonjongan bentuk elips). Selanjutnya, keseluruhan langit (tentu untuk belahan utara) dibagi oleh Aratus (315 – 245 SM, astronom Yunani) menjadi 44 rasi bintang termasuk Zodiak.

Shen Kuo (1020–1101, dinasti Song di Tiongkok) telah menera posisi Bintang Utara ini dengan lebih presisi dan mendapati bahwa sudah terjadi pergeseran dari catatan para pendahulunya. Pengamatannya dilakukan dengan mengembangkan instrumentasi “camera obscura” yang dibuat oleh Ibn al-Haytham satu dekade sebelumnya dengan tabung yang lebih panjang dan besar.

 

Sejarah Pemetaan Bintang

Bila kilas balik tentang rekaman sejarah budaya menera langit, ada beberapa catatan bahwa masyarakat Mesopotamia (4200 – 3300 SM) telah membuat 60 rasi bintang, termasuk 17 (atau 18) rasi bintang Zodiak.

 

Rasi bintang Zodiak terletak di sepanjang lintasan Bulan di kubah langit yang telah dipetakan oleh masyarakat Assyria. Bila menilik nama bulan yang terkait Zodiaknya, maka dijumpai periode bulan yang terkait dengan rasi bintang Orion dan Gemini (sebagai 1 wilayah), serta rasi bintang Pegasus dan Pisces yang juga menjadi 1 wilayah.

 

Dalam masyarakat Babylonia dan Assyria (2,900 – 600 SM), Zodiak terdiri dari 31 rasi bintang. Bahkan saat akulturasi Assyro-Babylonian (1400 – 1,000 SM), di mana lahir kisah (terkait astrologi) Enuma Anu Enlil yang menjelaskan bahwa kubah langit dibagi 3 divisi yang dibentuk oleh 3 lingkaran besar. Pita lingkaran di selatan ekuator langit konon di bawah kekuasaan dewa Ea (sebagai lingkaran luar, kisaran -170). Pita lingkaran dalam (utara, sebagai pusat) dikuasai dewa Enlil (putra Ea, +170) di mana bintang sirkumpolar (bintang yang tidak pernah terbenam) adalah miliknya. Rasi bintang lainnya (daerah ekuator, antara +170 s.d -170) dimiliki oleh dewa Anu. Tiap lingkaran ini dibagi ke dalam 12 bagian yang sama, yang masing-masing dikuasai oleh dewa. Pada masa selanjutnya, 12 pembagian ini menjadi patokan kalender bahwa setahun terdiri dari 12 bulan yang kemudian diadopsi untuk penentuan Zodiak yang kita ketahui pada era masa kini (the ecliptic-based Zodiac).

 

Ptolemy

Perkembangan Astronomi Yunani dapat dikatakan mencapai puncaknya pada era Ptolemy atau Claudius Ptolemaeus (Claudios Ptolemaios, berasal dari budaya Mesir Ptolemaȉs, 100 – 178, ada yang menyatakan 87 – 150 atau 100 – 165) yang bekerja di Alexandria, wilayah Mesir. Sekitar tahun 150, Ptolemy menghasilkan ringkasan pengetahuan Astronomi Yunani yang berjudul Mathematical Syntaxis (Megale Syntaxis, yang lebih dikenal kemudian dengan nama Arab, yaitu Almagest (the Greatest). Sumber data yang dibuatnya berdasarkan hasil Hipparchos dan Apollonios (dari Perga/Pamphylia, 262 – 190 SM, yang memperkenalkan pertama kali tentang bangun kerucut yang terkait geometri bentuk ellips, hiperbola, parabola, selain itu besaran pi yang popular kni untuk menghitung keliling lingkaran atau volume bola. Karyanya yang monumental tersebut adalah Conica dan diterjemahkan pada abad 9 oleh Thabit ben Qurra serta Halley yang terkenal dengan kometnya). Pada intinya yang terkait rasi bintang bahwa dalam katalognya terdapat 1.022 bintang yang dibagi dalam 48 rasi bintang (lihat Tabel 1). Karakter kecerlangan bintang, menggunakan apa yang telah dimulai oleh pendahulunya, Hipparchus, 3 abad sebelumnya. Walau sebenarnya, sistem pembuatan katalog seperti ini sudah dimulai sejak Timocharis juga dari Alexandria kisaran tahun 300 SM. Bahkan, sejak era sastrawan Homer (terkenal dengan karyanya Iliad dan Odyssey, juga ahli Astronomi, Botani, Farmasi, Metalurgi, dan pembuatan Kapal laut) dan Hesiod (dari Ascra – Boeothia, 700 – 687 SM, yang terkenal dengan karya puisinya Works and Days dan Theogony yang berkisah tentang evolusi alam semesta yang berbasis pada tinjauan mitologi) telah disebut beberapa kelompok bintang atas dasar imajinasinya, seperti the Great Bear, Orion, dan Pleiades (dulu dianggap rasi bintang, terpisah dari Taurus). Berkembang pada masyarakat Babylonia di sekitar sungai Tigris dan Euphrates (kini Irak). Kalangan para astronom kala itu, sistem mereka dikenal sebagai “MUL.APIN series” seperti judul pada manuscript yang dijumpai. Berdasarkan penyelidikan bahwa hal ini telah dilakukan sejak 2.000 SM yang diawali oleh masyarakat Sumeria.

Pada masa Hesiod, penanda musim ataupun cuaca sebenarnya bukan dari rasi bintang saja, seperti yang tertuang dalam karyanya “Work and Days” :
“If the moon is thin and her light pure on the third day, there will be fine weather; if thin and her light very red, there will be wind; if, however, she is on the large side and her horns are dull and her light weak on the third and fourth nights, she is being dulled by the approach of the South Wind or of rain”. (Ref.: Hunter; Pembanding data sejarah: Pedersen, 1993)
 

 

 

Era berikutnya, masyarakat Yunani hingga era Aratus diketahui hadirnya 12 tanda Zodiak seperti yang sekarang dipakai. Namun, dalam sejarah penentuan Zodiak, mungkin ada pertanyaan yang cukup menggelitik. Apabila ada 12 tanda Zodiak, sekiranya tanda yang mana dihilangkan pada era Julius Caesar (100 – 44 SM)? Hal ini karena berdasarkan catatan bahwa dia membagi dua rasi bintang Scorpius menjadi Scorpius dan Libra (Libra bukan gambaran hewan, demikian pula Virgo), sementara jumlah rasi di Zodiak tetap 12. Pada masa bersamaan, di India, juga telah hadir peta langit di mana diketahui ada 60 rasi bintang termasuk 17 rasi bintang Zodiak (atau kadang diubah menjadi 27 atau 28 nakshatra yang berbasis lintas edar Bulan).

Untuk wilayah Tiongkok, kisaran abad 5 SM, dikenal ada 40 rasi bintang termasuk 28 tanda Zodiak. Antara 370 – 270 SM pada katalog bintangnya, tercatat ada 1.464 bintang yang dikelompokkan menjadi 284 rasi bintang. Namun, pada abad 7, hanya dicatat 1.350 bintang yang menjadi 25 rasi bintang. Terdapat 13 rasi dekat kutub utara langit (dekat Polaris) dan 12 di sekitar ekuator langit; yang dalam versi modernnya berkembang pada era dinasti Song (abad 11).

Masalah seperti ini sangat berbeda dengan budaya di benua Amerika, khususnya pada budaya Maya, Inca, dan Aztec. Bagi masyarakat Maya, luar angkasa (baca kubah langit dan peta langit) tidaklah terlalu penting dalam kehidupannya. Uniknya, pada kenyataannya bahwa catatan tentang fenomena langit seperti gerhana dan pergerakan planet Venus di lautan perbintangan sangatlah cermat. Bahkan, kalendernya pun terasa berbeda dengan budaya di dunia. Mereka memakai pergeseran Venus untuk patokan kalendernya (tentu bagi kita kini terasa sangat rumit, termasuk perhitungan matematisnya, cukup pelik karena berbasis siklus 18 hari dengan bilangan perkalian 20). Terkait Zodiak, dijumpai rasi bintang Scorpius seperti yang kita kenal sekarang. Sementara itu, untuk budaya Inca, sebaliknya, bahwa fenomena astronomis memainkan peranan vital dalam roda pemerintahan dan juga berbasis ketelitian observasi.

 

Salah satu wilayah hunian masyarakat Inca yang cukup terlindung dari budaya luar berlokasi di punggung pegunungan Andes di mana tempat ini tidak pernah diketahui oleh bangsa Spanyol ketika mendarat dan mencoba menguasai wilayah Amerika Tengah. Kini lokasi tersebut berada di Peru (Manchu (Old) Picchu). Salah satu kuilnya (Torreon) cukup unik di mana terdapat jendela yang rupanya mengarah ke Pleiades. Jendela lainnya mengarah ke lokasi terbitnya bintang di ekor kalajengking Scorpius (Lambda Scorpii?). (Cornelius-Devereux, The Secret Language of the Stars and Planet, p.162 – 163).

 

Bentang langit dianggap sangat membantu mereka dalam membangun area perkotaan. Dalam catatannya bahwa mereka pun memiliki Zodiak, namun uniknya membentang di sepanjang daerah awan putih Bima Sakti (Milky Way–based Zodiac) dan digunakan sebagai kalender atau mungkin lebih disebut patokan musim dalam arti luas.

 

Terdapat mitos tentang penciptaan alam semesta, bahwa bentang awan putih Bima Sakti berasal dari aliran darah 1.600 pahlawannya (heroes of the heaven), dan menjadi substansi seluruh kehidupan. Kisah lain di Aztec, ada 400 ksatria yang mendiami Bima Sakti, serta kisah terdapatnya periode waktu dalam kehidupannya yang berbasis kelipatan 13 hari yang disebut Pendamping Hari (ada pendapat bahwa siklus ini bukan berbasis hari, melainkan jam). Salah satu dari ksatria tersebut dianggap sebagai dewi penguasa Bima Sakti. (Nicholson, Mexican and Central American Mythology, p.43 – 48). Pada era selanjutnya, juga dijumpai Barasana Zodiac yang dibuat oleh para tetua masyarakat Barasana – Columbia dan semuanya berada di awan putih Bima Sakti. (Walker, Astronomy before the Telescope, p. 300).

Bagi budaya Aztec, bentang langit adalah bagian dari alur kehidupannya. Seperti di Inca, khususnya dalam membangun struktur kota-nya. Bahkan pembangunan piramidanya berbasis posisi kelompok bintang Pleiades (Lintang Kartika) di rasi bintang Taurus (Bandingkan dengan bangsa Mesir yang posisi pembangunan piramidanya berbasis bentuk rasi bintang Orion). Jejak sejarah ini dijumpai pada budaya Mexico dan Amerika Tengah sejak kisaran 6.000 SM hingga hadirnya bangsa Spanyol pada abad 16.

 

Gambar 4 Sagittarius

Tampak lokasi pusat galaksi kita Bima Sakti.
Artinya apabila kita melihat ke titik tersebut, maka kita melihat ke arah pusat galaksi Bima Sakti.
Garis merah putus-putus adalah lingkaran ekliptika, lintasan semu tahunan Matahari. Credit: WS/POJ

 

Adapun tentang gambaran lengkap peta langit dalam bentuk celestial globe dibuat oleh pakar Matematika dan Kartografi, Caspar Vopel (1511 – 1561) tahun 1536 dan bentuk planisphere oleh Pieter Bienewitz pada tahun yang sama di mana keduanya dari Jerman. Ditampilkan adanya 50 rasi bintang termasuk 48 buah yang diadaptasi dari gambar yang dibuat Ptolemy pada abad 2, dua tambahan adalah rasi bintang Antinous dan Coma Berenices. Sementara itu, pada atlas Ptolemy, keduanya masuk ke rasi Aquila dan Leo (Ref.: Ian Ridpath). Selanjutnya disempurnakan oleh Gerardus Mercator (geographer, Finlandia) dalam bentuk bola langit yang lebih lengkap (mirip bola Bumi atau Earth-globe) termasuk gambaran dan identifikasi bintang di Coma Berenices. Bayer (Jerman) menambah 2 lagi yang salah satunya Centaurus (the Centaur). Awalnya Centaurus melingkupi Crux, yang lalu dibagi 2, yaitu Centaurus dan Crux sebagai rasi bintang yang terpisah. Namun, pada tahun 1602, Antinous oleh Tycho Brahe digabung menjadi satu dengan Aquila.

 

Astrolog Arab Al-Biruni (973 – 1050, dari Khiva/Khwārizm yang lama tinggal dan belajar di India, bahkan karya terkenalnya berjudul India) mencatat bahwa Sula (the Crucifixion Beam) atau Crux terlihat dari 300 lintang utara (di India). Sebagai catatan, bahwa dulu hampir semua budaya tidak menganggap Crux sebagai palang atau salib (cross). Jadi berdasarkan sejarah penamaan bahwa yang pertama kali menggambarkan Crux sebagai palang/salib adalah Al-Biruni. Semisal di wilayah Australia digambarkan sebagai kaki (telapak kaki) burung elang, di Indonesia Lintang Gubug Penceng (rumah miring) atau Lintang Pari (ikan pari) atau layang-layang. Crux disebut As-Saleeb Al-Janobi yang berarti Salib Selatan (dengan pengertian petunjuk arah selatan), rasi bintang Orion dikenal sebagai Al-Jabbar (Raksasa), dan rasi bintang Scorpius disebut Al-'Aqrab yang sama artinya, kalajengking.

 

Walau demikian, sebenarnya pada era dinasti Song (960 -1279), telah ada peta langit Suzhou dalam bentuk planisphere berupa lempeng batuan yang dipahat dengan teliti berdasarkan hasil pengamatan, bahkan rekam jejak observasi ledakan bintang di rasi bintang Taurus yang terjadi tahun 1054 ada di lempeng tersebut (Ref.: Wikipedia the free encyclopedia).

Gambar 5

Centaurus (Alpha dan Beta Centauri, 2 bintang terang di sebelah kiri; Lintang Wulanjar Ngirim) dan Crux (Lintang Gubug Penceng, 4 bintang di tengah yang formasinya mirip layang-layang; bila kita tarik garis dari kepala layang-layang – bintang paling atas warna merah ke ekornya – menunjuk arah selatan, sebaliknya ke utara, ke arah Alpha Centauri ke timur, sebaliknya ke barat). Daerah padat bintang adalah sebagian dari bentang Bima Sakti. Credit: Luke Dodd (Astronomy Magazine 1998)

 

Ide pembagian Centaurus-Crux sebenarnya telah digagas oleh Amerigo Vespucci (1503, rekan Columbus saat berlayar) ketika dalam pelayarannya. Dia juga memetakan rasi bintang Triangulum Australe (nama Amerigo inilah yang kemudian menjadi ide dasar untuk menamakan benua Amerika). Antara tahun 1595 dan 1597, Keyser dan de Houtman (Belanda) memberi 9 gambar rasi bintang yang baru. Pada era selanjutnya, adalah tahun:

 

  • 1592 : Petrus Plancius dari Belanda menambah Columba;
  • 1596 : Pieter Dirksz Keyser dan Frederick de Houtman dari Belanda menambah 11 (Apus, Chamaleon, Dorado, Grus, Hydrus, Indus, Musca, Pavo, Phoenix, Tucana, Volans);
  • 1661 : Jakop Bartsch dari Jerman menambah Camelopardalis. Namun, usulan awal terkait rasi ini sebenarnya bersumber dari Petrus Plancius (Belanda, 1613);
  • 1679 : Augustine Royer dari Perancis menambah Monoceros (2 rasi ini berdasar catatan dibakukan oleh Petrus Plancius tahun 1613); dan bersama Bayer menambah lagi, yaitu rasi bintang Columba;
  • 1687 - 1690 : Johannes Hevelius menambah 7 (Canes Venatici, Lacerta, Leo Minor, Lynx, Scutum, Sextans, Vulpecula);
  • 1756 : Nicolas Louis de Lacaille setelah mengembara ke Tanjung Harapan (1751 – 1752), menambah 12; dan 5 lagi tahun 1763 (Antlia, Caelum, Carina, Circinus, Fornax, Horologium, Mensa, Microscopium, Norma, Octans, Pictor, Puppis, Pyxis, Reticulum, Sculptor, Telescopium, Vela);

 

Pengantar

Sejak era mitologi bermillenia lalu yang terkait rasi bintang termasuk masalah Zodiak tentu di antara identifikasi yang muncul mungkin sudah tidak asing lagi, minimal nama-namanya bagi kita semua. Sementara itu, khazanah keastronomian pada ranah Timur Tengah layak juga menjadi fokus. Tentu banyak lagi kisah budaya menera langit dari aneka bangsa, termasuk di berbagai daerah di Nusantara. Pencarian jawaban terhadap itu semua tentu menjadi khazanah budaya manusia dalam mencoba menyibak cadar langit perbintangan. Memang pada akhirnya pada era kini bahwa kita dapat mengenal adanya 88 rasi bintang yang dibakukan oleh IAU pada tahun 1922-1930. Inipun juga melewati proses yang tidak sebentar. Pada tulisan mendatang (bagian kedua artikel ini), penulis mencoba berkisah antara lain tentang tokoh Aratus dari Yunani, Al-Sufi dari Persia, serta peta langit modern. Selain itu dari rencana 3 bagian penulisan, dapat dikatakan semua daftar pustaka, situs, dan kamus yang digunakan – semua dituliskan dalam bagian pertama ini, kecuali apabila dalam perjalanannya membutuhkan data banding, maka akan disertakan pada bagian berikutnya. Semoga bermanfaat. Salam Astronomi.–WS–

 

Daftar Pustaka (Bagian 1, 2, 3a, dan 3b)

Albiladiyah, S.I, 1999, Ragam Hias Pendapa Istana Mangkunagaran, Balai Kajian Sejarah dan Nilai Tradisional Yogyakarta, Yogyakarta

Allen, R.H., 1963, Star Name, Dover Pub., New York, p.378-390, 403-404

Ammarell, G., 1985, Sky Calendar of the Indo-Malay Archipelago: Regional Diversity/Local Knowledge, article at the IAU Colloqium 91 (History of Oriental Astronomy – New Delhi), p.84-104

Bakich, M., 1995, The Cambridge Guide to the Constellations, Cambridge Univ. Press, Cambridge, p.83, 132, 290-291Cornelius, G., 1997, The Starlore Handbook: An Essential Guide to the Night Sky, Chronicle Books, p.9-19

van den Bosch, F., 1980, Der Javanische Mangsakalender, in Bijdragen tot de Taal-, Land- en Volkenkunde 136 – no: 2/3, Leiden, p.248-282

Cornelius, G. dan P. Devereux, 2003, The Secret Language of the Stars and Planet, Duncan Baird, London, p.162 – 163

Cornelius, G., 2005, The Complete Guide to the Constellations, Duncan Baird, London

Darling, D., 2004, The Universal Book of Astronomy, John Wiley & Son, New Jersey, p.13-4, 17, 19, 35, 48, 57, 58, 72, 87, 128, 169, 189, 191, 235, 403, 407, 424, 450, 458, 480

Davis Jr., G. A., 1944, The Pronunciations, Derivations, and Meaning of a Selected List of Star Names, Popular Astronomy 52: p.8-30

Dojosantosa, 1986, Unsur Religius dalam Sastra Jawa, Aneka Ilmu, Semarang, p.59-60

Doyodipuro, K. H., 1995, Horoskop Jawa, Dahara Prize, Semarang, p.528-531, 539

Duke, D., 2008, Statistical Dating of the Phenomena of Eudoxus, The International Journal of Scientific History, Vol. 15, p.7-17

Evans, J., 1998, Ancient Astronomy, Oxford Univ. Press, New York, p.3-11, 39, 42, 57, 104-105, 78-79, 321-325, 340, 458n15

Hadikoesoemo, R.M.S., 1988, Filsafat Ke-Jawan, Yudhagama Corporation, Jakarta, p.41-55, 74/23-74/41.

Hadiwidjojo, K.G.P.H., 1978, Bedhaya Ketawang, Dep. P dan K, Jakarta

Hamilton, E., 1959, Mythology, A Mentor Book, New York, p.36, 38, 73-81, 297, 318

Harianto, W., 2007, Almanak Mahadewa 2008, Cakrawala, Yogyakarta, p.1-14

Karttunen, H., et al (eds.), 1984, Fundamental Astronomy, Springer-Verlag, Berlin. p.456-458

Leaman, T. M dan D. W. Hamacher, 2014, Aboriginal Astronomical Traditions from Ooldea, South Australia; part 1: Nyeeruna and ‘The Orion Story’, Journal of Astronomical History and Heritage, 17(2), p.180-194

Maass, A., 1924, Tijdschrift voor Indische Taal, Land en Volkenkunde, Albrecht & Co., Batavia, Deel LXIV, p.166, 432-434, Appendix C (Identifizierte Sterne)

Malasan, H. L. et al.,2009, The Indonesian Myths, Legends, and Tales of Stars and Universe, “Asia Stars Workshop” at National Astronomical Observatory of Japan (NAOJ) – Mitaka – Tokyo, 11-14 Mei 2009

Michell, J., 1989, A Little History of Astro-Archaeology, Thames and Hudson, Yugoslavia

Mulyono, D., Melihat Saat Tahu Waktu, Studio 80, Jakarta

Murdin, P. dan Murdin, L., 1985, Supernovae, Cambridge Univ. Press, Cambridge, p.14-16, 18, 48

Nicholson, I., 1968, Mexican and Central American Mythology, Paul Hamlyn, London

Olcott, W. T., 1954, Field Book of the Sky, G. P. Putnam’s Sons, New York, p.419

Paku Buwana V, 1989, Serat Centhini (Suluk Tambangraras) 8, Yayasan Centhini, Yogyakarta, p.33-53 (translated from old Javanese script by Kamajaya)

Pannekoek, A., 1989, A History of Astronomy, Dover Pub. Inc., New York, p. 1-62

Pedersen, O. 1993, Early Physics and Astronomy: A Historical Introduction, Cambridge University Press, Cambridge, p.11, 40, 307, 317-8, 323-4, 336-7, 346-7, 373, 382-3, 398-9

Pike, E. R., 1958, Encyclopaedia of Religion and Religions, Meridian Book Inc., New York

Purbatjaraka, R. Ng., 1985, Suluk Wujil: Ajaran Rahasia Sunan Bonang, Dep. P dan K, Jakarta, p.81

Qibin, L., 1988, A Recent Study on the Historical Novae and Supernovae, in G. Borner (ed.), Proceedings of High Energy Astrophysics: Supernovae, Remnants, Active Galaxies, Cosmology, Springer-Verlag, Berlin, p.2-25

Rogers, J. H., 1998, Origins of the Ancient Constellations: I. The Mesopotamian Traditions, Journal of the British Astronomical Association (JBAA) 108:1, 9-28

Santoso, S., 1970, Babad Tanah Jawi (Galuh Mataram), Citra Jaya Murti, Surabaya, p.102-117

Sawitar, W., 1995, Supernova, dalam Majalah Angkasa, No.1 – Oktober 1995, Dinas Penerangan TNI-AU, Jakarta, p.76-80

Sawitar, W., 2003, Rasi Bintang : Sekilas Telaah Budaya, Paper Poster dalam Seminar Penelitian Astronomi dan Sains Antariksa dalam rangka 80 Tahun Observatorium Bosscha pada tanggal 22-23 Oktober 2003 di Aula Barat ITB - Bandung

Sawitar, W., 2005, Constellations: In the Time Scale of the Cultures, in W. Sutantyo, P. W. Premadi, P. Mahasena, T. Hidayat and S. Mineshige (eds), Proceedings of the 9th Asian-Pacific Regional Meeting 2005, p.328-329

Sawitar, W., 2008, Constellations: The Ancient Cultures of Indonesia, in Shuang-Nan Zhang, Yan Li, Qingjuan Yu, and Guo-Qing Liu (eds), Proceedings of the 10th Asian–Pacific Regional IAU Meeting 2008, China Science & Technology Press, Beijing, p.409-410

Sawitar, W., 2009, Star and the Universe: The Ancient Cultures of Indonesia, “Stars of Asia Workshop” at National Astronomical Observatory of Japan – Mitaka – Tokyo, 11-14 Mei 2009.

Sawitar, W., 2015, Astronomi dalam Cerita Rakyat Nusantara, Makalah pada Seminar Astronomi dalam Budaya Nusantara (SINDARA) di Universitas Ahmad Dahlan Yogyakarta (30/05/2015)

Sumaryoto, W.A., 2002, Wayang dan Lingkungan, Penerbit Univ. Indonesia, p.3-5, 49-51, 67, 70-71Sutantyo, W., 1984, Astrofisika: Mengenal Bintang, Penerbit ITB, Bandung, p.1-8.

Walker, C. (ed.), 1996, Astronomy: Before the Telescope, British Museum Press, London. p.42-51, 68, 73, 87, 110, 123, 146, 154-5, 252-6, 269-70, 283-4, 288, 290, 296, 299, 301, 308, 310-11, 319-21, 324, 328, 338

Wilkinson, P. & Philip, N., 2007, Mythology, Dorling Kindersley Limited, London, p.43, 95, 154-155

 

Situs:

 

Kamus yang digunakan:

  • Alwi, H. et al, 2005, Kamus Besar Bahasa Indonesia, Edisi Ketiga, Balai Pustaka, Jakarta
  • Echols, J.M. dan H. Shadily, 1996, Kamus Inggris – Indonesia (cetakan xxiii), Gramedia, Jakarta
  • Maharsi, 2012, Kamus Jawa Kawi Indonesia, Pura Pustaka, Yogyakarta
  • Padmosoekotjo, S., 1967, Sariné Basa Djawa (cetakan ii), P.N. Balai Pustaka, Jakarta
  • Prawiroatmodjo, S., 1991, Bausastra Jawa – Indonesia, Gunung Agung, Jakarta
  • Suparlan, Y. B., 1988, Kamus Kawi – Indonesia, Penerbit Kanisius, Yogyakarta
  • Winter Sr, C. F. dan R. Ng. Ranggawarsita, 1990, Kamus Kawi – Jawa, Gadjah Mada Univ. Press, Yogyakarta
  • Wehmeier, S., 2000, Oxford Advance Learner’s Dictionary, 6th Edition, Oxford Univ. Press, Oxford