Written by Widya Sawitar

User Rating: 1 / 5

Star ActiveStar InactiveStar InactiveStar InactiveStar Inactive
 

 

From Zeus let us begin. We men never leave him unspoken:

full of Zeus are all the streets, all the meeting-places of men, full is the sea and the harbours; everywhere it is Zeus whom we all need.

(Hesiod: Works and Days; Ref.: Hunter)

 

Bintang-bintang di kubah langit malam tampak dari Bumi selalu berada pada kelompoknya masing-masing. Kelompok bintang itu disebut sebagai rasi bintang atau konstelasi. Terdapat 88 rasi bintang dan 13 diantaranya adalah tempat pengembaraan Matahari dalam setahun yang biasa juga dikaitkan dengan hari kelahiran kita, yaitu Zodiak. Zodiak juga merupakan tempat bergesernya Bulan dan planet (lihat artikel serial Rasi Bintang Dalam Denyut Budaya).

Lambang rasi bintang termasuk Zodiak menggambarkan susunan bintang sesuai gambaran atau daya khayal dari penamaannya. Juga terkait semisal tokoh mitologi yang lahir sejak ribuan tahun yang lalu. Contohnya Scorpius (kalajengking) yang susunan bintangnya di kubah langit memang menyerupai bentuk kalajengking. Atau Sagittarius Sang Pemanah, yang kalau diikuti daya khayal budaya masa lalu memang diakui dapat kita bayangkan pola susunan bintangnya seperti itu. Kini dalam hal nama rasi bintang memang umumnya banyak terinspirasi oleh budaya Yunani dengan beragam dewa dewinya. Hal ini karena mereka sejak dahulu kala memiliki catatan yang dikenal lengkap dibandingkan budaya manca negara. Selain itu juga pengaruh budayanya yang tersebar sangat luas terlebih pada era setelahnya, yaitu era kejayaan Romawi yang pengaruh daerah taklukannya meliputi sebagian besar Eropa bahkan hingga ke Asia dan Afrika. Mereka banyak mengadaptasi kisah-kisah Yunani dan inilah yang dibawa ke manca negara.

 

Penamaan Hari dan Urutannya

Bila melihat bangsa Yunani memetakan langit (tentu dengan kepeloporan Mesopotamia ataupun budaya yang sebelumnya telah berkembang), maka budaya menera langit yang ada berasal sejak bermilenia yang lalu. Hal ini karena dalam kenyataan di langit menunjukkan bahwa Matahari kini mengembara tidak lagi melewati 12 rasi bintang, melainkan 13 rasi bintang. Jadi Zodiak ada 13 buah. Budaya ini secara bukti arkeologi, dsb. menunjukkan usia peneraan langit tidak kurang dari 19.000 tahun lalu, termasuk hadirnya piramida di Mesir, bahkan jauh sebelumnya untuk beberapa kasus temuan.

Selain itu, menurut anggapan bangsa Yunani kala itu bahwa dewa/i yang mengatur alam semesta dan mereka menjelma menjadi benda-benda langit yang mereka lihat. Sebagai contoh: Apollo/Helius/Helios adalah nama dewa Matahari, ketabiban, dan kesenian; Artemis (Romawi: Diana/Selena), dewi Bulan dan perburuan; Hermes (Romawi: Mercury), pembawa berita atau kurir para dewa; Aphrodite (Romawi: Venus), dewi kecantikan, cinta, dan perjodohan; Gaia (Geo), dewi Bumi; Ares (Romawi: Mars), dewa perang sebagai penjelmaan udara berawan yang sedang marah; Zeus (Romawi: Jupiter), mahadewa penguasa tertinggi alam semesta; sang dewa waktu Cronos/Cronus (Romawi: Saturn). Saat itu planet Uranus (dewa langit), Neptune (dewa laut), Hades (Romawi: Pluto sang penguasa dunia bawah/neraka) belum diketahui. Hal seperti inilah yang melahirkan hadirnya astrologi yang dalam pengembangannya sangat berbeda dengan Astronomi (sejak Ptolemy abad 2).

Pada saat mengamati benda langit bahwa dapat dikatakan kala itu bercampur aduk dengan mitologi tersebut. Jadi bagaimanapun sejak dulu pun telah muncul pula konsep tentang alam semesta dengan segala isi dan fenomenanya. Penjabarkan proses fenomena alam bercampur dengan dongeng atau mitos. Hal ini dapat ditelusuri dari alur sejarah di seluruh dunia bahkan dapat ditelusuri di ranah Nusantara. Simak pula budaya Mesopotamia, Babylonia, Mesir, Yunani/Romawi, Tiongkok, dan juga di India. Pada saatnya, mitos ini tidak lagi memuaskan dahaga para peneliti berbasis penalaran ilmiah. Namun demikian, hal ini masih terus dipertahankan sebagai tonggak awal telaah manusia ketika mencoba mengurai benang merah dalam penelitian Astronomi, apapun proses yang melibatkan dirinya dengan kehadirannya di alam semesta. Bagaimanapun tahap mitos dapat dikatakan sebagai landas awal iptek pada era ke-kini-an.

Kembali pada era dewa dewi, sebagai contoh semisal konsep penamaan hari. Nama hari yang kini kita kenal ada 7 hari dalam seminggu, yang berasal dari kepercayaan bahwa ada 7 tokoh utama dari dunia dewa/i. Merekalah yang mengembara di daerah Zodiak dari waktu ke waktu (kecuali Matahari dan Bulan, selebihnya planet di mana planet berarti pengembara). Kecepatan pengembaraan mereka di kubah langit berbeda-beda. Saturnus yang paling lambat, disusul semakin cepat secara berturutan adalah: Jupiter, Mars, Matahari, Venus, Merkurius, dan Bulan.

Berdasarkan kepercayaan bahwa setiap dewa/i tersebut menguasai waktu secara bergiliran dan sifat geraknya berbeda. Oleh sebab itu, disusunlah suatu tabel hubungan antara dewa/i dan waktu untuk menentukan hari yang dimiliki oleh tiap dewa/i. Penentuan hari berdasarkan atas perhitungan bahwa seluruh hari adalah milik para dewa yang menguasai periode pertama. Setelah perhitungan 24 periode, hari berikutnya adalah milik dewa lainnya. Sebenarnya kepercayaan hubungan antara dewa/i dan hari mencakup banyak aspek khususnya dalam konteks kehidupan sehari-hari. Penggunaan 24 periode inilah yang lalu menjadi 1 hari terdiri dari 24 jam. Bagaimana menyusun urutan hari dapat dilihat pada tabel di bawah, sbb.:

 

TABEL 1

PENENTUAN URUTAN HARI DALAM SEMINGGU
Kolom pertama adalah urutan berdasar kecepatan gerak di kubah langit. Langkah pertama adalah memberi angka 1 pada Saturnus, lalu dihitung sampai 24 dan akhirnya kembali ke 1, maka dewa pemiliknya adalah Matahari. Jadi hari pertama milik Matahari (Sun-day). Kalau kita hitung 24 periode berikut akan jatuh pada Bulan, artinya pemilik hari kedua adalah Bulan (Moon-day), dst. hingga pemilik hari ketujuh adalah Saturnus (Saturn-day).

 

Kita pun dapat merujuk pada budaya di Nusantara (di sini diambil pada kasus budaya di Jawa Tengah dan Yogyakarta) seperti tampak pada tabel di bawah, sbb.:

 

TABEL 2

NAMA HARI BERDASARKAN PLANET DAN DEWA DEWI(*)

 

Kepercayaan akan mitos benda langit yang dihubungkan dengan keseharian atau bahkan nasib manusia itulah yang melahirkan astrologi, sebuah ilmu semu (pseudoscience). Sementara Astronomi adalah ilmu pengetahuan murni (pure science) tentang alam semesta yang sifatnya obyektif di mana antar satu ilmuwan dengan lainnya, bahkan antar masyarakat dapat saling membuktikan kebenaran teorinya. Seperti halnya hukum fisika, yang obyektifnya akan berlaku dimanapun di segenap pelosok alam semesta yang berlaku untuk semua yang mempelajarinya. Namun demikian, hadirnya astrologi pada masa lalu tetap banyak yang terwariskan hingga kini dalam batas-batas tertentu. Sebut semisal nama hari, hingga kini pun masih terus dipakai. Nama rasi bintang, planet, dan benda langit lainnya banyak bersumber dari catatan astrologi. Apapun budaya masa lalu tetap menjadi sebuah warisan pada masa kini.

Dalam hal kesahihan data bahwa kini diketahui adanya ketidakcocokan letak Matahari di Zodiak berbasis catatan lama (yang juga dipakai untuk astrologi terlebih tentang nasib manusia). Letak Matahari yang sebenarnya telah bergeser sekitar satu rasi bintang, mundur ke arah barat di lingkaran Zodiak. Jadi pedoman rasi bintang Zodiak (horoskop) yang dipakai dalam astrologi hampir semua berbeda dengan alam kenyataan yang terpampang di kubah langit atau dengan kata lain sudah berbeda pula dengan patokan Astronomi. Bagaimana kita meramal nasib manusia berdasarkan posisi yang serba salah, tentu menjadi pertimbangan tersendiri. Dari sisi lain, bahwa patokan tanggal (bukan kebenaran ramalan!) dalam Zodiak konvensional yang banyak dipakai pada horoskop astrologi sebenarnya berlaku, namun dengan syarat bahwa kita hidup 2000 tahun yang lalu. Bahkan berdasarkan pengamatan di kubah langit pada saat sekarang, jumlah rasi bintang Zodiak tidaklah 12 melainkan 13 buah (siapapun dan dari belahan Bumi manapun dapat membuktikan hal ini!).

Dari kisah di atas, bahwa saat menyimak benda langit termasuk segala dinamikanya sebenarnya kita sedang disuguhkan dengan sebuah keteraturan dan keharmonisan. Adapun perubahan yang disajikan oleh langit itulah yang menjadi tantangan bagi manusia untuk mempelajarinya dan apapun yang didapatkannya sejatinya harus berlaku dan bermanfaat untuk semua makhluk-Nya.

Berikutnya akan dibahas serba sedikit tentang salah satu Zodiak, yaitu Capricornus setelah artikel tentang Taurus pada tulisan sebelumnya (artikel Rasi Bintang dalam Denyut Budaya bagian 3a dan 3b)


Capricornus

Nama genitif : Capricorni

Singkatan : Cap

Ukuran : ke 40

Awal : Salah satu dari 48 rasi bintang dalam karya Ptolemy, yaitu Almagest

Nama Yunani : Aigokeros

Nama Latin : Aigoceros

 

Gambar 1

Capricornus pada Plate XVI dalam buku the Uranographia karya Johann Bode (1801).
Di sebelah selatannya adalah rasi bintang Globus Aerostaticus, Balon Udara. (Ref.: Capricornus)

 

Tentang Capricornus, sebagian materinya telah disampaikan pada situs HAAJ (Zodiak Edisi 2 Capricornus). Di Mesopotamia, rasi ini sebagai tanda saat Matahari berada paling jauh ke arah selatan dari ekuator (December solstice atau titik balik selatan. Kalau kita di ekuator, maka saat Matahari terbit – posisi terbitnya 23,5 derajat ke arah selatan dihitung dari titik timur. Kini bergeser ke Sagittarius karena adanya presesi). Capricornus sebagai kambing laut (sea-goat; badan ke atas kambing, ke bawah ikan) diduga berawal dari adanya dewa kebebasan pada budaya Assyro-Babylonian, Oannes. Namun, dalam kurun waktu lama berubah menjadi “putri duyung” pada budaya di daerah teluk Persia.Muncul pula kisah pada masa tersebut kalau Capricornus disebut keturunan Neptunus (Romawi: Neptuni Proles = Neptune’s offspring. Neptune = Poseidon, dewa laut bangsa Yunani). Digambaran awal adalah kambing bertanduk panjang di mana rasi bintang ini dikaitkan dengan dewa Pan, dewa pelindung petani di pedesaaan yang memiliki tanduk dan berkaki kambing.

 

Mitologi

Pan, sebagai dewa tampak “lucu dan ceria” dan tidak jelas asal muasalnya. Ada kisah menyebutkan dia putra Hermes. Hari-hari hanya mengganggu atau menemani gadis-gadis atau kalau tidak ada kerjaan lain ya tidur sepanjang siang. Atau sesekali menakut-nakuti orang dengan teriakan yang memekakkan (asal muasal kata panic, panik). Salah satu keturunannya adalah Crotus, yang diidentifikasi dengan rasi bintang Sagittarius. Suatu ketika Pan menggoda peri Syrinx, namun gagal karena sang peri menyamar menjadi alang-alang yang membuat bingung Pan. Masih penasaran, digenggamlah alang-alang tersebut di tengah semilir angin yang justru menciptakan alunan suara laksana suara seruling yang begitu lembut. Hal ini membuat Pan mengambil lagi alang-alang tersebut dengan ragam ukuran panjangnya. Kemudian disusunlah alang-alang tersebut menjadi semacam alat tiup. Inilah yang kini dikenal sebagai alat musik panpipe atau Syrinx (alat musik tiup berbentuk pipa seperti suling yang disusun berbaris dengan panjang yang berbeda-beda).

Peran Pan terdapat pada dua peristiwa. Pertama, selama pertempuran para dewa dan para Titan, Pan meniup kulit kerang untuk membantu mengusir musuh dengan tiupannya yang sangat keras. Musuh pun berhamburan ke angkasa. Dari Eratosthenes bahwa keterkaitan Pan dengan gambaran kulit kerang adalah karena sifat atau karakternya di langit yang justru terkait makhluk laut. Namun, Hyginus mengatakan karena Pan sejatinya melemparkan kulit kerang ke musush-musuhnya. Pada kesempatan kemudian, Pan berteriak untuk memperingatkan para dewa bahwa para raksasa Typhon mulai menyerbu menyerang. Mereka dikirim oleh ibunya, Sang Ibu Bumi (Gaia) yang dendam terhadap para dewa. Atas saran Pan, para dewa menyamar menjadi beragam hewan untuk menghindari Typhon. Pan sendiri berlindung ke dalam sungai dengan mengubah setengah badannya ke bawah sedemikian bentuknya menyerupai ikan.

Kedua, saat Zeus nyaris tak berdaya karena lumpuh akibat keperkasaan Typhon, Hermes dan Pan menyatukan dirinya ke tubuh Zeus. Pada akhirnya dengan senjata andalannya, petir, Zeus berhasil mengalahkan Typhon dan menguburnya di di bawah Gunung Etna di Sisilia. Para Typhon sebenarnya belum sepenuhnya mengalami kematian, masih terus bernafas dan senantiasa menyemburkan nafasnya berupa api yang terejawantah dengan semburan api di gunung tersebut hingga kini. Sebagai penghargaan, Pan ditempatkan di langit sebagai rasi bintang Capricornus.

Adapun Capricornus di Romawi adalah adaptasi dari Yunani yang telah tumbuh mapan sebelumnya. Berawal dari kisah dewa hutan, Pan (atau Priapus di daerah Asia Minor) yang merupakan musisi handal (as sweet as the nightingale’s song) serta pencipta panpipe. Dia juga dianggap sebagai dewa para penggembala. Nasibnya sebatas teman menari bagi para peri/bidadari hutan. Kisah kasihnya dengan para peri selalu kandas, karena ujudnya yang aneh. Kisah lain, dia adalah satyr, makhluk setengah ke atas manusia bertanduk kecil dan setengah ke bawah – kakinya adalah kambing berkuku dua (kadang sang kambing ini lebih dikaitkan dengan kisah Auriga dengan anak kambingnya, Amaltheia).

Ada cerita, dewi Titan yaitu Rhea (ibu-nya Zeus) mengutus monster laut Typhon untuk menuju istana dewa di Olympus. Tugasnya membunuh Zeus yang telah mengambil alih kekuasaan bapak-nya sendiri – Cronus/Saturn, yang tidak lain suami Rhea. Saat Typhon datang, Pan begitu takut lalu terjun ke sungai sambil berniat mengganti ujud menjadi ikan. Namun apa mau dikata, transformasi ini baru berhasil setengah jalan sedemikian ujudnya menjadi bentuknya yang kini dikenal. Saat Zeus nyaris dihancurkan oleh Typhon, Pan dan ayahnya, Hermes/Mercury, berhasil menolongnya. Sebagai penghargaan, akhirnya Pan diletakkan oleh Zeus di langit. Begitu beragam kisah seputar Pan, namun keseluruhan tema atau ide cerita nyatanya masih terasa sama.

Bangsa India, ilustrasinya buaya atau kuda nil yang berkepala kambing, Awalnya juga dianggap makhluk amphibi yang dalam budaya Sumeria disebut Suhur-mash-ha atau di India menjadi Shishumara walau aslinya dinisbahkan ke (rasi bintang) Draco. Di India sering juga disebut Makhar (namun, nama ini seringnya ditujukan untuk rasi bintang Delphinus). Sementara di Mesir dianggap sebagai dewa air Chnum/Chnemu.

 

Zodiak

Capricornus adalah salah satu dari 12 simbol Zodiak klasik (ke 10). Batas tanggal yang biasanya adalah antara 22 Desember hingga 21 Januari (epoch awal masehi). Jadi kita yang lahir antara tanggal tersebut dikatakan berbintang Capricornus. Sementara berdasar epoch 2000, Matahari melewati rasi ini antara 21 Januari hingga 16 Februari (26 hari). Harusnya yang lahir pada kurun waktu inilah yang berbintang Capricornus dan merupakan Zodiak yang ke 11. Pada Zodiak tradisional sebagai kasus dalam horoskop, misalnya yang lahir tanggal 19 Januari, kini Zodiak-nya adalah Sagittarius.

Di beberapa daerah di Indonesia, rasi ini disebut Lintang Mriga atau yang mirip adalah Makara/Makra/Makaram (Sankrit: pengaruh India). Lainnya, Lintang Makara/Al-Judayu (Bali), Bintang Mahara/Mohara/Makara (Batak-Toba), Lintang Palguna (Jawa Tengah), Lintang Jadi (Jawa Tengah setelah budaya Arab masuk, Lintang Judi, Jady, Al Qudaiy, Judai, atau Jadiyan), Bentéung Jadi (Sunda), Bintang Judi (Madura), Makára (Cirebon), Tahum Baharu (Minahasa). Relatif sulit menera rasi ini di Jakarta, sebab bintang terterang hanya ber-magnitudo 2,85. Rasi ini ada di atas ufuk timur saat Matahari terbenam sekitar awal Februari. Titik kulminasi 1 – 18 Agustus (midnight culmination 8 Agustus; jam 24:00 di meridian).

 

 

 

 

 

Gambar 2

Peta Langit Capricornus (Ref.: IAU website)

 

 

 

 

 

Pada rasi ini hanya ada 2 bintang yang cukup terang:

  • Delta Capricorni atau Deneb Algedi (berawal dari Ulug Beg: Al Dhanab al Jady, Ekor Kambing yang kadang disebut Scheddi). Di Arab, Al Muhibbain (Dua Sahabat). Warna kuning, m = 2,85 dan berjarak 39 tc.
  • Beta Capricorni atau Dabih (Al Sa’d al Dhabihthe Lucky One of the Slaughterers, yang berawal Al Jabbah the Forehead). Warna kuning jingga, m = 3,1 berjarak 314 tc. Merupakan bintang ganda Dabih Major dan Dabih Minor (Alvan G. Clark – 1862) dan masing-masing adalah bintang ganda; walhasil bintang berempat – multiple star.
  • Catatan: Bintang berindeks alpha kadang bukan yang paling terang (Alpha Capricorni atau Algedi/Giedi m = 3,58, jarak 109 tc; Gamma Capricorni atau Nashira m = 3,69 berjarak 139 tc; jadi keduanya lebih redup dibanding yang berindeks delta).

 

Obyek yang menarik:

  • M30 (NGC7099, globular cluster, m = 7,7, berjarak 41.000 tc).
  • Capricornus Dwarf (Palomar 12). Globular Cluster, berjarak 62.000 tc. Ada dugaan gugus ini berasal dari satelit galaksi kita (Sagittarius Dwarf Elliptical Galaxy). Ditemukan oleh Fritz Zwicky (1924).

 

Hujan Meteor yang terkait:

  • Capricornids (22 Juli) dan Alpha Capricornids (30 Juli).

 

Fakta Terkait:

  • Dari luasannya, paling kecil di antara 12 rasi di Zodiak (ke 40 di antara 88 rasi).
  • Bila diurut bintang paling terang (dari m), maka bintang paling terang di rasi ini hanya menempati urutan ke 142 (Delta Capricorni)
  • Julukan rasi ini adalah Smile in the Sky.
  • Bagi masyarakat Tiongkok, julukannya adalah The Dark Warrior dan atas dasar catatannya pernah terjadi konjungsi 5 planet di rasi bintang ini pada tahun 2449 SM. Fenomena ini uniknya telah diramal oleh “astronom” kerajaan Sargon (Sargon of Agade – Bangsa Semit – era Mesopotamia pertengahan setelah era lahirnya epic Gilgamesh sebagai cikal bakal lahirnya mitologi Yunani) pada tahun 3850 SM.
  • Uniknya di Tiongkok, beberapa bintang di rasi ini (Alpha, Beta, Pi, Omicron, Rho, dan Nu atau Xi Capricorni) malah digambarkan sebagai Niu (lembu) sekaligus sebagai bulan ke-9 (dalam konteks lunar mansion). Di hadapan Niu, terdapat 3 bintang (Tau, Upsilon, (?)) membentuk Luoyan (semacam tanggul untuk mengatur air dalam irigasi). Gambaran aliran airnya adalah menuju Tiantian (the Emperor’s fields; ada yang menyebut terbentuk dari 9 bintang, ada yang 4 bintang saja) yang lokasinya di sebelah selatan dari Capricornus. Aliran air lainnya dari Jiukan (yang kini rasi bintang Microscopium). Gambaran aliran air ini mirip air tertuang pada rasi bintang Aquarius menuju Piscis Austrinus yang kebetulan juga di sebelah selatan Aquarius.
  • Astronom Tiongkok memberi beberapa nama bintang di Capricornus yang terkait 12 provinsinya (kelompok Shierguo), yaitu (sebagian masih dalam dugaan) Yue (19 Cap), Zhao (two faint stars), Zhou (Eta and one other), Qi (Chi Cap), Zheng (20 Cap), Chu (Phi Cap), Qin (Theta and 30 Cap), Wei (33 Cap), Yan (Zeta Cap), Dai (Iota and 37 Cap), Han (35 Cap), and Jin (36 Cap).
  • Lima derajat ke arah timur dari bintang Deneb Algedi (ke arah batas Aquarius) adalah letak “planet hilang” pada rumusan Titius-Bode pada tahun 1772. Inilah perunutan Leverrier (1845), yang kemudian tanggal 23 September 1846, planet Neptunus ditemukan untuk pertama kali. Sebenarnya sudah “ter”deteksi sejak tahun 1821 oleh Bouvard.

 

Pengantar

Berharap pada masa datang, penulis berusaha untuk serba sedikit bercerita tentang rasi bintang lainnya. Terlepas dari sisi astrologi maupun Astronomi, bagaimanapun ini adalah tinggalan budaya yang terkait pola pikir makhluk yang namanya manusia dan sebagiannya tidak lain adalah para leluhur kita sendiri. Kendati masih berkelindan dengan takhayul di sana sini, ada baiknya kita mengingat amanat dari the founding father Indonesia tatkala pidato pemancangan tiang pertama pembangunan Planetarium Jakarta tanggal 9 September 1964:

… Nah, dus hei rakjat Djakarta chususnja, rakjat Indonesia chususnja, tidak lama lagi Insja’Allah Subhanahu Wata’ala kita akan memiliki Planetarium jang terbesar di dunia. Planetarium jang dengan Planetarium itu kita bisa mendapat pengertian lebih luas dan lebih mendalam daripada segala rahasia-rahasia di angkasa raja. Pengetahuan jang lebih luas jang bisa diambil kita kepada lapangan kemajuan.

… Kita sebagai bangsa jang baru lahir kembali, kita harus dengan tjepat sekali, tjepat, check up mengejar kebelakangan kita ini, mengedjar di segala lapangan, lapangan politik kita kedjar, lapangan ekonomi kita kedjar, lapangan ilmu pengetahuan kita kedjar, agar supaja kita benar-benar di dalam waktu jang singkat bisa bernama bangsa Indonesia bangsa besar,
jang pantas mendjadi mertju suar daripada umat manusia di dunia;

di mana salah satu amanatnya pula bahwa pendirian Planetarium yang tidak lain merupakan corong suara keilmuan eksakta tertua Astronomi bertujuan mengikis takhayul yang ada di masyarakat.

 

Daftar Pustaka

Allen, R.H., 1963, Star Name, Dover Pub., New York, p.135-142

Bakich, M., 1995, The Cambridge Guide to the Constellations, Cambridge Univ. Press, Cambridge, p.26, 31-35, 101-105, 126, 166

Cornelius, G., 2005, The Complete Guide to the Constellations, Duncan, London, p.56-57

Darling, D., 2004, The Universal Book of Astronomy, John Wiley & Son, New Jersey, p.87-88

Easton, S.C., 1963, The Heritage of the Past, Holt-Rinehart and Winston, New York, p.92-93

Hamilton, E., 1959, Mythology, A Mentor Book, New York, p.25-26, 40, 316

Maass, A., 1924, Tijdschrift voor Indische Taal, Land en Volkenkunde, Albrecht & Co., Batavia, Deel LXIV, p.432-434, Appendix C (Identifizierte Sterne)

Sawitar, W., 2008, Constellations: The Ancient Cultures of Indonesia, in Shuang-Nan Zhang, Yan Li, Qingjuan Yu, and Guo-Qing Liu (eds), Proceedings of the 10th Asian–Pacific Regional IAU Meeting 2008, China Science & Technology Press, Beijing, p.409-410

Sawitar, W., 2015, Astronomi dalam Cerita Rakyat Nusantara, Makalah pada Seminar Astronomi dalam Budaya Nusantara (SINDARA) di Universitas Ahmad Dahlan Yogyakarta (30/05/2015)

 

Situs