Written by Widya Sawitar

User Rating: 0 / 5

Star InactiveStar InactiveStar InactiveStar InactiveStar Inactive
 
Taurus Sang Banteng
(bagian pertama)


Gambar 1 Taurus

Ilustrasi imajinatif rasi bintang Taurus. Di depan Taurus adalah si kembar Gemini dan di belakang adalah rasi bintang Aries. Secara resmi, gambaran banteng ternyata hanya setengah badan, tidak gambar banteng utuh dari ekor hingga kepala.
Credit: Ide: Pasachoff, p.78 (Handelman/The New Yorker Mag.) / direka dan digambar ulang oleh WS.

*Latar belakang:

Gugus galaksi Abell 1689 – NASA, ESA, E. Jullo (JPL), P. Natarajan (Yale Univ.), J.P. Kneib (Laboratoire d'Astrophysique de Marseille, CNRS, France);

*Bintang-bintang:
Gugus bintang NGC 346 di Awan Magellan Kecil – NASA, ESA and A. Nota (STScI/ESA);

*Badan banteng:
Gugus galaksi Cl 0024+17 – NASA, ESA, and M.J. Jee (Johns Hopkins Univ.)

 

Catatan awal:
Sebagian materi artikel ini merupakan pengembangan dari artikel yang pernah dimuat pada situs Himpunan Astronomi Amatir Jakarta dan menjadi sebagian bahasan pada Seminar Astronomi dalam Budaya Nusantara (SINDARA) di Universitas Ahmad Dahlan Yogyakarta, serta disinggung dalam artikel Sekilas Sejarah Perkembangan Astronomi Di Indonesia.

Pada artikel Rasi Bintang dalam Denyut Budaya bagian pertama dan kedua serba sedikit juga telah disinggung masalah budaya pemetaan langit, khususnya rasi bintang sampai era adanya kesepakatan peta langit secara internasional tahun 1922 oleh International Astronomical Union (IAU).

Kali ini, dicoba menelusuri salah satu rasi bintang saja, yaitu Taurus yang populer dikenal sebagai salah satu tanda Zodiak; juga secara paralel membahas kelompok bintang yang kini posisinya di dalam rasi bintang tersebut, yaitu Pleiades si Bintang Tujuh Putri Bersaudara. Kisahnya dicoba dikumpulkan dari beragam budaya manca negara, termasuk dari ranah Nusantara.

 

Memang cukup sulit untuk menelusuri tentang kapankah rasi bintang Taurus (Yunani: Tauros) dibakukan sebagai rasi bintang; termasuk gambarannya, apakah berujud banteng (Bull) atau sapi (Cow atau Heifer). Salah satu gambaran masa lalu dapat dilihat pada gambar 2 artikel bagian pertama. Sejak era Claudius Ptolemeaus (Ptolemy, abad kedua), Taurus telah dijadikan simbol zodiak yang kedua khususnya dalam ranah astrologi bahkan hingga kini (dapat dilihat urutan Zodiak pada tabel 2 artikel bagian kedua). Sekitar 6000 tahun lalu (era Mesopotamia: Sumeria, Assyria, Babylonia), Sang Banteng telah dijadikan sebagai penanda vernal equinox, posisi Matahari sebagai tanda hari pertama musim panas. Tepatnya pada wilayah Taurus yang mana masih belum jelas. Sekitar tahun 2000 SM kemungkinan yang dijadikan acuan adalah Pleiades yang kala itu dianggap rasi bintang tersendiri. Tentang pergeseran vernal equinox dapat dilihat pada gambar 1 artikel bagian kedua. Pada akhir abad SM, vernal/March equinox di batas wilayah rasi bintang Aries – Pisces. Ini artinya bahwa kita yang sekarang hidup pada abad 21 berada pada penutup era Pisces menuju era Aquarius dalam patokan equinox di atas. Sebagian kasus ini telah dibahas pada artikel bagian pertama dan kedua (topik Aratus, koreksi Hipparchus, dan masalah Zodiak menjadi 13 rasi bintang).

Gambar 2 Peta Langit Taurus

Dapat kita imajinasikan bahwa sang banteng Taurus (kotak putih) sedang melihat ke arah sang pemburu Orion (kiri bawah).

Bintang Maha Raksasa Merah Aldebaran menempati salah satu mata Taurus (titik besar hitam di tengah gambar). Terdapat pula kelompok bintang (open cluster) Hyades yang tersebar pada sebagian wajah sang banteng (dekat Aldebaran). Identifikasi M1 (kotak hijau) yang berada pada ujung tanduk banteng merupakan nebula (awan materi, namanya Crab Nebula atau Nebula Kepiting). Nebula ini adalah sisa ledakan supernova tahun 1054 yang dapat disaksikan oleh banyak budaya di dunia dan kini diyakini di pusat nebula terdapat bintang neutron yang berotasi sangat cepat (pulsar). Adapun Pleiades berada di punggung Taurus (dilingkari warna kuning, dekat batas rasi bintang Aries di kanan atas). Tampak pula rasi bintang Perseus di tepi kotak sisi atas; tokoh yang identik dengan kisah ksatria Mithra yang mengakhiri hidup Taurus. Sementara itu, rasi bintang Orion (Lintang Waluku) terlihat pada sisi kiri bawah di mana penduduk belahan selatan dan utara dapat melihatnya karena dibelah oleh ekuator langit (garis dengan identifikasi 00); setengah di selatan (–) dan setengah di utara (+).

Pada tahun 2017, bila diamati dari Jakarta, Taurus pada bagian paling belakang dari banteng yang berbatasan dengan Perseus dan Aries akan terbit sekitar tanggal 12 November pada saat Matahari terbenam (kisaran pukul 18:00 WIB). Keseluruhan Taurus baru tampak kisaran tanggal 20 Desember pada jam yang sama (seluruh area putih pada gambar di atas sudah di atas ufuk timur).
Credit: Ref.; Cornelius, 2005, p.106-7; IAU website dan Sky and Telescope - Constellation Names.
Ref: Software Program Stellarium – 0.12.4

 

Antara Taurus dan Pleiades

Unik juga bahwa dahulu kala yang sering digunakan sebagai penanda (salah satunya musim) justru Pleiades (sebagai rasi bintang), bukan Taurus. Dalam sejarah awal, di Afrika pun kelompok bintang ini sebagai rasi bintang tersendiri yang juga dijadikan patokan musim. Hingga Aratus / Eratosthenes sebelum Ptolemy, sebagian menganggap rasi bintang tersendiri. Hal ini pun berlaku bagi masyarakat Benua Amerika di wilayah tengah.

Pada abad 8 SM, dalam karya Homer yang terkenal (Iliad XVIII) ada tokoh Hiphaistos yang membuat tameng untuk Achilles (kisah terkenal tentang Kuda Troya) bertatahkan tulisan:

the Pleiades and the Hyades and the strength of Orion, …

Atau dalam karya puisi Hesiod (Work and Days, 650 SM), yang terkait kalender pertanian:

When Pleiades, daughter of Atlas are rising
begin the harvest, the plowing when they set,

yang terkait terbitnya kelompok bintang ini pada pagi hari di bulan Mei. Terbit sesaat sebelum Matahari terbit atau disebut “morning rising” (posisi konjungsi mirip Venus sebagai bintang pagi), “harvest the wheat – saatnya panen gandum”. Atau pada saat lain – terbenam di ufuk barat sesaat sebelum Matahari terbit sebagai akhir musim gugur “plow the land and sow the grain – saatnya membajak dan menabur benih”. Diistilahkan sebagai “morning setting” atau “winter wheat” (posisi Matahari dan Pleiades berlawanan, oposisi).

Dalam sistem kalender di atas, penanda awal kalender Hesiod adalah “in the fall, morning setting of Pleiades”. Lebih lengkapnya:

When Pleiades and Hyades and strong Orion set,
Remember it is seasonable for sowing,
And so the completed year passes beneath the earth.

Jelas Pleiades menjadi penanda atau rujukannya, bukan Taurus.

 

Gambar 3 Pleiades

Courtesy: Bill & Sally Fletcher, Malibu, USA

 

Bersamaan di Babylonia (abad 7 SM), pada text MUL.APIN (Plow Star) untuk kalender bintangnya (parapegma):

On the 1st of Ajjaru, the stars become visible

(Hal ini terkait morning rising, dan the stars di sini adalah Pleiades atau MUL.MUL. Untuk Ajjaru, dalam teks lain juga disebut Addaru)

On the 20th of Ajjarru, the Jaw of the Bull becomes visible

The Bull of Heaven = GU.AN.NA = Taurus, penandanya adalah “the Jaw” – kemungkinannya adalah bintang Gamma Tauri. Untuk daerah utara, yang terbit lebih dahulu adalah Pleiades, baru kemudian diikuti oleh Gamma Tauri. Dari penampakan di langit, maka akan dimaklumi kalau Pleiades sering menjadi penanda. Juga dari teks di atas bahwa ada selang waktu 20 hari antara terbitnya Pleiades dengan Gamma Tauri. Juga dalam text tersebut dipertegas:

The Stars rise and the Scorpion sets,
The Scorpion rises and the Stars set,
The Bull of Heaven rises and SU.PA sets,

Jadi masih jelas dibedakannya antara Pleiades dan Taurus. Sementara itu, SU.PA adalah zodiak klasik ke 9 atau ke 10 pada epoch 2000, yaitu Sagittarius. Secara garis besar juga tampak jelas bahwa posisi Taurus dengan Sagittarius berlawanan, atau selang 6 bulan bila dihitung pergeseran Matahari di ekliptika (sama dengan posisi pada kasus morning setting).

Pada gambar imajinasinya bahwa motif bantengnya ternyata tidak utuh, melainkan hanya berbentuk setengah badan (badan hingga kepala, tanpa bagian belakang) telah ditemukan di Babylonia sekitar tahun 2000 SM. Namun, apakah hal ini terkait pasti dengan Taurus sampai kini belum dapat dibuktikan. Asumsi saja bahwa gambaran ini adalah memang gambaran dari rasi bintang Taurus sang banteng yang diterima oleh beraneka ragam budaya di dunia walau dalam mitologinya tetap tergambar dan terkisahkan sang banteng atau sapi yang utuh dan terkesan indah sekaligus perkasa. Yang jelas, hingga kini ujud Taurus tetap setengah badan termasuk gambarannya sebagai rasi bintang ataupun yang tertera dalam peta langit modern.

 

Gambar 4

Mitologi “Cretan Bull”, Heracles dan Banteng dari Crete (Athena, tahun 6 SM)
Credit: Aaron J. Atsma – 2016; sumber gambar terdapat pada Tampa Museum of Art).

 

Adapun bola langit (celestial globe) yang tertua dijumpai pada era Babylonia beberapa abad SM. Terbuat dari batu, tampak disangga oleh dewa Atlas, yang salah satu rasi bintangnya adalah sang banteng.

Sebenarnya relatif mudah melihat daerah rasi bintang ini karena salah satunya adalah dengan adanya kelompok bintang Pleiades (bahkan dari kota Jakarta, lihat peta pada gambar 2 di atas), serta segitiga wajahnya dengan tebaran gugus terbuka Hyades. Salah satu matanya tidak lain adalah bintang Aldebaran, yang merupakan salah satu dari 20 bintang paling terang di kubah langit malam dan cukup mencolok dengan warna merahnya.

Apabila menelusur hadirnya Pleiades di Taurus, dalam sejarah budaya sejak dahulu kala, baik di Yunani (dan sekitarnya), Mesir, Jepang, Aztec (dan sekitarnya), India, Afrika, China, bahkan di ranah Nusantara, Pleiades dijumpai menduduki tempat cukup istimewa.

Secara umum untuk mitologi Pleiades yang banyak digemari antara lain berasal dari India (Hindu) yang terkait Dewa Api Agni dengan simbol burung. Sementara di Eropa Tengah dengan simbol ayam betina. Terkait Romawi, karena Taurus berasosiasi dengan Bacchus (Yunani = Dionysus = Ganymede = Dewa Anggur), maka simbolisasi Pleiades adalah serangkai buah anggur (hal ini masih berlangsung dengan adanya festival anggur hingga sekarang). Dalam budaya manca negara, pada umumnya sepakat bahwa simbolisasinya adalah Seven Sisters, juga termasuk di budaya Nusantara dengan julukan Tujuh Putri Bersaudara (lihat bahasan Bedhaya Ketawang di bawah). Sekedar pembeda dengan Seven Stars = Bintang Tujuh atau Lintang Pitu di Jawa yang maksudnya adalah rasi bintang Ursa Major.

Adanya 7 putri ini adalah terkait dengan anak-anaknya Dewa Atlas dan Dewi Pleione yang bernama Electra, Maia, Taygete, Alcyone, Merope, Celaeno, Sterope – semua dijadikan nama bintang di Pleiades termasuk Atlas (27 Tau) dan Pleione (28 Tau). Pleiades adalah teman bermain Dewi Artemis (Dewi Bulan Yunani, pengejawantahan dari Bulan Sabit awal, bila Bulan Purnama dikenal sebagai Dewi Selene. Masyarakat Romawi menyebutnya Diana). Ketika Pleiades dikejar Sang Pemburu Orion, maka para dewa menolongnya dengan mengubahnya menjadi burung merpati lalu diletakkan di langit. Versi awal, Zeus merasa iba lalu mengubahnya menjadi bintang-bintang dan diletakkan di kubah langit. Saat mereka di Bumi, Maia adalah ibu dari Hermes (Merkurius) dan Electra adalah ibu dari Dardanus (dinasti Troya).

Dalam budaya masyarakat Aborigin – Australia (sekitar wilayah Ooldea), Pleiades dikenal dalam mitologinya sebagai Ming-arri (mountain devil, dalam identifikasi terkait simbolisasi para wanita – Yugarilya atau Kunggara: Seven Young Ming-arri Sisters). Ini terkait kisah tentang Nyiruna (rasi bintang Orion) yang memburu Jurr-jurr (Joor-Joor; bintang terang Canopus di rasi bintang Argo). Dalam perburuan inilah Nyiruna melihat Ming-arri dan menginginkan para wanita itu semua untuk dijadikan istrinya. Namun, perbuatan ini selalu dapat dicegah dengan hadirnya anjing penjaga dari Ming-arri (Ming-arri’s Dogs), yaitu formasi bintang yang utamanya dihubungkan dengan bintang Babba (Ayah para Dingo/anjing pemburu; dalam pemetaan langit adalah bintang Beta Tauri atau Elnath di rasi bintang Taurus) dengan bintang Ngurunya (Ibu para Dingo/anjing; dalam pemetaan langit adalah bintang Alpha Eridani atau Achernar di rasi bintang Eridanus)(Leaman, 2014). Mengenai mitologi seputar Pleiades, dapat dibandingkan dan dianalisis salah satunya pada Pleiades in folklore and literature.

 

Mitologi

Pada akhir abad SM, masyarakat Mesir kala itu menganggap Taurus sebagai lambang keabadian, sebagai dewa Osiris yang berujud banteng. Sementara itu, saudarinya, Isis adalah Dewi Sapi. Namun, uniknya, justru pada awalnya Taurus sempat diidentikkan dengan dewi kecantikan, cinta kasih, dan kebahagiaan, yaitu dewi (sapi) Hathor, yang mewakili segala kelimpahan dan kekayaan yang ada, sebagai penyedia pangan apapun bagi penduduk Bumi. Bulan sabit adalah tanduknya. Hal ini pula yang dapat dipertimbangkan untuk analisis lahirnya simbol Taurus (Cornelius, p. 14, 107; lihat simbol di atas).

Pada masyarakat Romawi, sempat muncul anggapan bahwa Taurus berada dalam kuasa dewi Venus dan Bumi, artinya tidak dianggap dewa yang diperhitungkan. Mungkin hal ini terkait perannya di era sebelumnya di Persia. Dalam kisahnya sering dikaitkan dengan dewa anggur, Bacchus (dikenal kini adanya Bacchic Festival yang terkait pula dengan simbolisasi Hyades dan Pleiades) yang dalam mitologi Yunani identik dengan Dionysus, putra Zeus.

Di Persia, tokoh Mithra (Romawi: menjadi Mithras yang identik dengan Perseus) muncul sebagai Dewa Matahari dan Kosmokrator “Ruler of the Cosmos” atau bagi Romawi Sol Invictus “Unconquered Sun” yang dalam alur sejarahnya berawal dari dewa Matahari Syria Elagabal (Ilaha Gabal, Cornelius, p.332). Dewa ini berhasil membunuh dan mengorbankan seekor banteng (Taurus) dan dari aliran darahnya terlahir aneka flora dan fauna (pada mitos penciptaan, lihat juga artikel Ragam Mitologi Matahari dalam perunutan akulturasi budayanya).

Dalam penggambaran Mithra di langit tampak sedang mengacungkan pedangnya di atas punggung banteng dan sekaligus kala itu memerankan sebagai penanda saat-saat Taurus terbenam di ufuk barat (ingat bahwa mereka adalah masyarakat di belahan utara). Juga kondisi saat terakhir kalinya sebelum spring equinox bergeser dari Taurus ke Aries “start new age, so powerful – he can swift the cosmos on its axis”. Tentu saja hal ini dapat dimaklumi apabila kisah ini diungkapkan ataupun terjadi pada kisaran 2 milennium sebelum masehi (sekali lagi bahwa pada awal masehi berpindah ke Pisces dan kini menuju era Aquarius). Tentang ini pun sebenarnya agak kabur, karena kalau ditilik budaya Persia era Zoroaster, yang terkenal dengan tokoh dewa Ahura Mazda – mereka muncul bersamaan dengan era akhir kejayaan Babylonia sekitar abad 7 SM. Mungkin pendataannya mengambil karya leluhurnya dan ini mirip kejadian Aratus dan Eratosthenes yang diketahui Hipparchus bahwa keduanya tidak melakukan koreksi sesuai kenyataan yang ada di kubah langit.

Dalam budaya Babylonia, Taurus termasuk yang sangat diagungkan, bahkan hingga sampai akhirnya ke ranah budaya Yunani. Sementara itu, pada era mitologi Yunani, tokoh sang banteng ini dikenal sebagai Tauros Kretaios (Banteng dari Crete) yang merupakan banteng yang bentuknya sangat indah sebagai utusan dewa Poseidon (Romawi: Neptune). Konon Ratu Pasiphae dari Crete mencoba bersanding dengan sang banteng dengan bersembunyi di dalam sapi kayu yang dibuat oleh Daidalos (Daedalus). Akibatnya, lahirlah makhluk Minotauros (Minotaur), dewa berkepala banteng. Ada pula pendapat bahwa Minotaur adalah makhluk ciptaan Poseidon.

Sebagai salah satu dari dua belas tugas kedewaannya, Heracles (“Glory of Hera” di mana Hera adalah istri dari Zeus; Romawi: Hercules) diperintahkan untuk menangkap sang banteng. Dalam menyelesaikan tugasnya, dia berhasil membebaskan sang banteng lalu dibawanya ke Marathon/Athena dan sang banteng selanjutnya dihancurkan oleh ksatria Theseus (putra Aegeus, sang raja Athena). Para dewa akhirnya menempatkan sang banteng di antara bintang-bintang sebagai rasi bintang Taurus, bersama dengan Hydra sang ular air betina yang berawal dari mitos dewi Tiamat – Mesopotamia (Cornelius, p.94), singa Nemea yang kebal senjata yang menjadi rasi bintang Leo (Cornelius, p.86 dan Wilkinson, p.60)  dan makhluk lain yang merupakan buruan dari Heracles.

Pada mitologi Yunani, ada dua kisah menyangkut Taurus, yaitu nasib yang menimpa Europa dan Io.

Satelit Galileo

Pada tahun 1610, Galileo Galilei (15 Februari 1564 – 8 Januari 1642) berhasil menemukan 4 satelit dari planet Jupiter, yaitu 2 tahun setelah berhasil merancang ulang teleskop. Kini 4 satelit ini diketahui sebagai satelit terbesar di antara 67 satelit Jupiter yang ada. Tiga ditemukan tanggal 7 Januari, dan satu lagi tanggal 13 Januari. Galileo sendiri menyebutnya sebagai the Medicean Stars, the Cosmica Sidera, atau Cosimo's Stars (Galilean satellites). Hasil observasinya termasuk tentang fase Venus, bentang Bima Sakti, pegunungan di Bulan tertuang dalam bukunya Siderius Nuncius (Starry Messenger)(Darling, 2004). Oleh astronom berikutnya, sebagai penghargaan terhadap temuan ini – satelit Jupiter dikenal sebagai Galilean Satellites atau Galilean Moons. Satelit ini kemudian diberi nama oleh Simon Marius atas gagasan Johannes Kepler, yaitu Io, Europa, Ganymede, dan Callisto; tertuang dalam karyanya Mundus Jovialis yang diterbitkan tahun 1614.

Callisto dan Ganymede

Dalam mitologi Yunani, peri Callisto sang pengasuh Artemis (Romawi: Diana) – sang dewi Bulan karena lekat dengan Zeus akhirnya dikutuk Hera menjadi beruang (menjadi rasi bintang Ursa Major); sementara anaknya – Arcas – menjadi anak beruang (rasi bintang Ursa Minor). Ada yang menyatakan bahwa kedua rasi bintang ini adalah penjelmaan Helice dan Cynosura, dua peri yang menyembunyikan bayi Zeus dari keganasan ayahnya, dewa Cronus/Saturn (Cornelius, p. 111, 152; lihat juga artikel Berkenalan dengan Planet Jovian bahasan Jupiter). Adapun Ganymede adalah Pangeran tampan dari kerajaan Troya, putra raja Tros, yang diculik Zeus dengan menyamar menjadi burung elang (rasi bintang Aquila). Pangeran ini dibawanya ke Olympus dan selanjutnya menjadi teman hidup Zeus sekaligus untuk menyediakan minuman keabadian bagi sang dewa. Proses penculikannya mirip kisah penculikan Europa (lihat bahasan di bawah). Ganymede dalam alur mitologi kerap dikaitkan dengan simbolisasi Aquarius.

Kisah Europa terdapat pada karya puisi Moschus dari Alexandria, abad 3. Sementara kisah Io yang dijadikan standard adalah berasal dari karya puisi Yunani Aeschylus (Acusilaus) dan Ovid dari Romawi, dengan banyak kemiripan walau karya ini berbeda generasi (450 tahun, mirip karena alur cerita tidak banyak berubah). Hal ini juga terkait Prometheus yang kisahnya juga sangat populer, yaitu tentang pemberian api ke manusia yang membuat Prometheus ditawan di puncak Caucasus oleh Zeus yang pada akhirnya juga bertemu dengan seekor heifer yang tidak lain adalah Io.

Menurut kisah, Zeus saat memandang Bumi mendapati Europa, putri dari raja Sidon, yang cantik dan ingin membawanya dan selanjutnya berharap Europa menjadi pendampingnya. Zeus menyamar menjadi banteng putih yang bersinar dan dengan alis berwarna keperakan serta tanduk layaknya Bulan Sabit Muda sedemikian Europa tidak ketakutan. Bahkan Europa berani untuk naik ke punggung banteng tersebut (lihat gambar 5 di bawah). Yang terjadi kemudian, Zeus membawanya ke pantai dan terbang melayang menyeberangi lautan luas dan disambut para Nereid, anak-anak dari NereusManusia Bijak dari Lautan dan DorisSang Putri Lautan) sambil menunggangi lumba-lumba yang menjadi karakternya. Bahkan Poseidon pun konon ikut serta diiringi tiupan trompet dari Triton, putranya. Akhirnya, Europa dibawa ke Crete mendampingi Zeus.

 

Gambar 5

Salah satu interpretasi tentang kisah Zeus yang menculik Europa. Credit: Kagaya

 

Tentang Io sedikit berbeda kisahnya. Apabila Europa dapat dikatakan berlangsung baik, katakanlah baik di akhir layaknya penculikan Ganymede, maka tidak demikian dengan nasib Io. Agar tidak diketahui kedekatannya dengan Io, Zeus mengubahnya menjadi sapi betina (heifer). Namun, Hera sang istri dengan naluri yang tajam mengetahui siapa sejatinya sang heifer ini. Hera sengaja mengesankan ketidaktahuannya dan meminta Zeus agar heifer nan cantik ini dihadiahkan kepadanya.

Dengan segala keterpaksaan akhirnya titisan Io tersebut diserahkan. Oleh Hera kemudian ditawan dan diberikan kepada penjaga Argus – Panoptes, monster yang memiliki 100 buah mata. Zeus khawatir dan meminta pertolongan Hermes (Romawi: Mercury) untuk membebaskan Io dari sang penjaga. Berbekal musik nan indah dan bincang-bincang, akhirnya satu per satu mata sang penjaga tersebut tertidur. Akhirnya berhasil dan saat itu pula tamatlah Panoptes. Hera marah atas kematiannya, kemudian mengambil salah satu matanya dan diletakkan di ekor burung merak untuk memata-matai ke mana gerangan sang heifer (kisah mitos tentang adanya ornament mirip mata di ekor burung merak).

Hera tetap tidak putus asa dan malang memang tidak dapat diduga. Akhirnya, dalam pelariannya, Io ditemukan dan mendapat siksaan akibat sengatan (binatang) kiriman Hera. Tidak lama, Io bertemu dengan Prometheus, lalu mencoba lari lewat lautan (nama laut ini kemudian diberi nama Ionian dan Bhosporus – Ford of the Cow). Setiba di sungai Nil, bertemulah dengan Zeus yang mengembalikan ujud aslinya. Zeus dan Io membuahkan Epaphus, leluhur Perseus, Andromeda, dan Heracles.

Menurut Aeschylus (Acusilaus), banteng yang dalam kisahnya dimusnahkan oleh ksatria Theseus adalah sama dengan yang telah menculik Europa ke seberang laut. Pendapat lainnya bahwa sang banteng diusir keluar dari laut oleh Poseidon, di mana kemungkinannya adalah bahwa Minos (Raja Knossos – Crete) akan mengejar dan mengorbankan dirinya untuk sang dewa laut tersebut. Tapi Minos begitu terpesona dengan keindahan sang banteng yang akhirnya justru disimpannya dan mengorbankan yang lain sebagai gantinya. Poseidon akhirnya mengetahui perbuatan tersebut dan menghukum Minos sedemikian membuat sang banteng marah dan membuat kekacauan besar di pulau milik Poseidon. Heracles diutus oleh Eurystheus untuk menangkap sang pengacau termasuk Minos sang pengkhianat yang membiarkan kekacauan tersebut.

Heracles berhasil dengan tugasnya dan membawa pulang sang banteng di pundaknya, namun membebaskannya kembali. Sang banteng malah berkeliaran bebas di Yunani, dan akhirnya sampai di Marathon. Selanjutnya sama, bahwa sang banteng pada akhirnya berhasil dihancurkan oleh ksatria Theseus.

 

Zodiak

Pada era raja Ammisaduga (1702 – 1682 SM), muncul kisah penciptaan yang terkenal, yaitu Enuma Elish. Pencatatan ini tentu sangat berguna dan nyatanya tersebar ke aneka budaya termasuk India (1000 – 500 SM). Tampak dari kesamaan rasi bintang dan penggunaannya. Awalnya diketahui ada 60 rasi bintang dan 31 buah di Zodiak (istilahnya Normal Stars, termasuk Taurus). Sekitar abad 7 (MUL.APIN), berdasar lintasan Bulan, Zodiak menjadi 17 rasi bintang (ada pendapat 18) dan Taurus tetap ada dan terpisah dengan Pleiades. Sementara itu, nama Pleiades dikenal sebagai MUL.MUL (The stars, star of stars, the seven gods, the great gods) dan Taurus adalah GUAN.NA (GUD.AN.NA, The Bull of Heaven, the Jaw of the Bull – Is-li-e / GU-AN.NA is le-e; the crown of Anu). Dalam katalog Aratus nama Pleiades adalah The Clusterers (Rogers, 1998, p.17, 19).

Baru selepas era tahun 500 SM, Zodiak menjadi 12. Taurus dan Pleiades dijadikan satu sebagai bulan atau Zodiak ke 2. Akhirnya ±450 SM, jadilah pembagian setiap tanda Zodiak sebesar 30 derajat (di lingkaran ekliptika, sekaligus perkiraan awal untuk patokan kalender Matahari yang sebenarnya hal ini telah dipelopori oleh budaya di Mesir jauh sebelumnya) dan berdasarkan lokasi gabungan antara lintasan Bulan, planet, dan Matahari. Zodiak inilah yang dipakai hingga era Ptolemeaus abad 2 M, juga hingga kini yang justru tidak pernah dikoreksi lagi tentang rentang tanggalnya (lihat tabel 2 pada artikel bagian kedua). Jadi wilayah Zodiak, tidak lagi mengikuti kaidah pendefinisian lingkaran ekliptika. Selain itu, tidak hanya Matahari sebagai pertimbangannya. Jadi wilayah Zodiak berbentuk pita dengan kisaran lebar 16 derajat berpusat pada lingkaran ekliptika (lihat bahasan Zodiak pada artikel Rasi Bintang dalam Denyut Budaya bagian kedua).

Dalam pranatamangsa Jawa, untuk yang tradisional dalam kasus Taurus termasuk mangsa atau musim ke 11 Dhestha (Wisaka, Jyesta, Hapit Lemah; 18/19 April – 10/11 Mei, 23 hari; Tijdschrift, p.116); sementara kini (epoch 2000) masuk mangsa ke 12 Saddha (13 Mei – 22 Juni). Namun, pada sumber lain agak unik karena tetap dianggap mangsa Dhestha dan rentangnya adalah mulai tanggal 12 Mei hingga 12 Juni (Prawiroatmodjo, p.196). Harusnya yang lahir pada kurun waktu inilah yang berbintang Taurus atau penganut pranatamangsa adalah yang ke 12. Memang untuk kalangan astrologi dalam kasus Taurus mungkin dapat dikatakan beruntung karena ternyata yang lahir antara tanggal 13 hingga 21 Mei praktis baik penentuan Zodiak tradisional maupun berbasis epoch 2000, tetap berzodiak Taurus (pranatamangsa 11 Dhesta).

 

Pranatamangsa

Kalau mitologi Yunani/Romawi mengaitkan hal ini dengan kalender musim seperti yang telah dibahas di atas, maka demikian pula dengan budaya pranatamangsa (pratimasa) di Indonesia.

Dalam bulan Jawa kuno, untuk rasi bintang Taurus tradisional (22 April – 21 Mei, 30 hari) identik dengan mangsa 11 (18/19 April – 10/11 Mei, 23 hari), yaitu mangsa Dhesta / Wisaka / Jyesta / Djyestha / Hapit Lemah. Jadi untuk Taurus epoch 2000 (13/15 Mei – 19/22 Juni, 37/40 hari) akhirnya bergeser menjadi mangsa 12 atau mangsa Apit / Hapit Kayu / Saddha / Asadha / Jita / Rayagung (11/12 Mei – 20/21 Juni; 41 hari)(Ref.: Patokan mangsa: Tijdschrift, p.116 dan Prawiroatmojo). Pada penggolongan musim adalah yang tergolong musim Mareng bagian penghabisan. Musim Mareng meliputi 3 mangsa kisaran akhir Maret hingga Juni, yaitu mangsa 10 (Kasapuluh / Palguna / Wechaka / Sadasa), mangsa 11, dan mangsa 12 (Ref.: Prawiroatmojo dan Harianto). Dalam patokan lain adalah termasuk awal musim atau mangsa Terang (mangsa 12 dan 1) termasuk dengan ciri pancaroba bagian penghabisan.

Uniknya, dalam hal pranatamangsa pun dikaitkan dengan Zodiak Yunani/Romawi. Misal mangsa ke 12 yang biasa dikaitkan dengan Lintang Mina (Pisces). Namun, ada pula pendapat terkait Lintang Mimi-Mintuna atau Gemini. Kalau tokh hendak dikaitkan, maka penulis lebih menyimpulkan Gemini dan bukan Pisces.

Secara tradisional untuk Pisces adalah antara tanggal 22 Februari hingga 21 Maret (rentang waktu ini termasuk mangsa 9: Kasanga / Naya / Cetra / Ramelan). Kalau merujuk pada epoch 2000 yang berlangsung antara 11/13 Maret hingga 18/19 April, maka termasuk mangsa ke 10. Jadi jelas tidak sesuai, atau terlalu jauh. Sedangkan untuk yang mengaitkannya dengan Gemini, untuk yang tradisional adalah antara tanggal 22 Mei hingga 21 Juni (termasuk mangsa 12), dan untuk epoch 2000 adalah antara tanggal 20/22 Juni hingga 20/21 Juli (termasuk mangsa 1: Kasa / Srawana). Jadi dalam mengaitkan Gemini masih dapat diterima secara tradisional, dalam arti bahwa memang pada jaman dahulu kala patokan mangsa Saddha memang terkait dengan Lintang Mimi-mintuna. Namun, akibat pergeseran lokasi Matahari di kubah langit sekitar 1 bulan dalam kalender ke arah Juni atau pergeseran patokan lokasi Matahari dari Gemini ke Taurus, maka dampaknya bahwa pada rentang mangsa Saddha (ke 12), Matahari berada di wilayah rasi bintang Taurus (epoch 2000). Koreksi seperti inilah yang sama sekali tidak dilakukan pada patokan astrologi atau dengan kata lain terdapat kekaburan penentuan acuan Zodiak tradisional dengan posisi sebenarnya dari benda langit yang justru mereka pakai.

Dalam kasus di sini, apabila sesuai posisi Matahari epoch 2000 pada masa sekarang, maka dipilih rasi bintang Taurus yang identik dengan mangsa 12. Adapun mangsa 12 adalah mangsa Saddha yang dalam sifatnya adalah Tirta San Saka Sasana (Air lenyap dari tempatnya). Mulai kemarau, mulai jarang hujan. Saat panen Jeruk Keprok, Nanas, Alpukat, dan buah asam; yang pada era Mesopotamia terkait masa panen gandum dan nyatanya budaya peneraan musim terkait perbintangan adalah sama, yaitu untuk pedoman keperluan sehari-hari. Pada mangsa ini, panen padi hampir usai, jerami mulai dibakar guna menyiapkan lahan untuk tanaman palawija. Bagi masyarakat pesisir atau nelayan, mulai membuat bagan atau menjala walau anginnya masih barat-an, namun sudah mulai mereda (sepoi-sepoi). Cumi-cumi mulai banyak, saat terang Bulan biasanya mulai diburu (penulis pun beberapa kali melakukannya).

Pada sisi lain, apabila pada budaya di Yunani/Romawi dikenal adanya dewa dewi pelindung musim atau tanaman/pangan, maka saat mangsa Saddha di Indonesia akan dilindungi oleh Batari Sri dan Batara Sadana (kakak beradik, anak dari Prabu Srimahapunggung dari kerajaan Medangkamulan. Batari Sri sejatinya adalah titisan dari Batari Hyang Wimaka – istri dari Batara Wisnu). Populer dengan istilah Dewi Padi, bahkan padi pun sangat dihormati dan kadang diberi sebutan “mbok padi”.

Bagaimanapun, masalah ini bagi penulis masih butuh penelusuran lebih dalam lagi. Inipun sekedar mencoba untuk melakukan langkah pertama, yaitu penyelarasan dalam hal penentuan batasannya sedemikian patokan musim masih dapat digunakan bagi khususnya masyarakat agraris. Namun, tentu dapat pula menjadi patokan untuk masyarakat bahari bila watak musimnya yang sesuai karakterisasi dari peta langitnya sudah ditentukan. Mudah-mudahan masih banyak narasumber yang masih berkecimpung dalam persoalan seputar ini, termasuk penyelarasan dengan keadaan langit yang sebenarnya sedemikian tidak terjadi seperti pada kasus astrologi. Utamanya adalah adanya keinginan agar budaya pranatamangsa tidak lekang oleh waktu di Bumi Nusantara.


Pada tulisan Taurus Sang Banteng berikutnya, bagian kedua, akan disinggung khususnya tentang Taurus dalam budaya di Nusantara termasuk pranatamangsa dan eksistensi Lintang Kartika, serta pemetaan langit modern dari Taurus dengan beragam objek astronomis yang ada di rasi bintang tersebut yang serba sedikit mungkin dapat membantu bagi yang berminat melakukan observasi langit secara langsung.

(.. akan disambung pada artikel Taurus Sang Banteng bagian kedua ..)

Daftar Pustaka, Situs, dan Kamus: lihat pada artikel Rasi Bintang dalam Denyut Budaya bagian pertama.