Written by Widya Sawitar

User Rating: 0 / 5

Star InactiveStar InactiveStar InactiveStar InactiveStar Inactive
 
Taurus Sang Banteng
(bagian kedua)


“ … bab Lampahing lintang,
Wuluh lawan Waluku-ne,
kang parêng mangsanipun,

anauri lampahing lintang kêkalih,
Wuluh Waluku-nira ... “
(Paku Buwana V: Serat Centhini VIII; 427 Dhandhanggula 52)

 

Taurus dalam Budaya Nusantara

Seperti yang telah dikemukakan bahwa pemetaan langit sudah dikenal sejak dahulu kala termasuk di Indonesia. Penulis masih mencoba mengambil kasus telaah khususnya wilayah seputaran Surakarta/Solo dan Yogyakarta/Jogja, serta beberapa nama terkait dari daerah lain sebagai pembanding. Dalam ranah tertentu, memang banyak kemiripan antara satu dengan lainnya.

Kemiripan (dan mungkin juga kekaburan, sebut demikian) dengan aneka budaya manca negara pun dijumpai. Misalnya penamaan rasi bintang Aquarius yang disebut Kumbam dalam manuscript Sanskrit/Sansekerta (India). Di wilayah Bali disebut mirip, yaitu Kumba. Di Jawa Tengah sebutannya adalah Pusuh. Mungkin ini sekedar gambaran perbedaan penamaan di mana identifikasi benda langit masih dalam koridor yang jelas. Namun, terkadang bahkan acap kali dalam hal identifikasi ini dijumpai kesulitan. Dalam ranah India (juga Bali) bahwa Cancer disebut Karkadam atau Karkatha (artinya kepiting). Adapun di Jawa Tengah disebut Lintang Wuluh / Puyuh atau Lintang Yuyu (kepiting). Namun, apabila merujuk pada kamus standard Bausastra JawaIndonesia, p.329 bahwa Lintang Wuluh adalah Lintang Kartika Pleiades (sama dengan yang dijumpai pada Tijdschrift p.165). Sebutan inipun ditemui pada masyarakat Tengger – Jawa Timur.

 

Gambar 1 Taurus

Di antara beberapa pemetaan langit, ada 1 contoh di istana Mangkunegaran – Surakarta – Jawa Tengah. Terdapat gambar zodiak di langit-langit atap Pendapa Ageng, disebut Kumudawati (Kemudowati – Lotus Putih) yang dibuat Atmasupama tahun 1937 berdasar pancawara (siklus 5 hari pada kalender Jawa dan saptawara siklus 7 hari seperti yang kini kita pakai). Salah satu dari nama dari Saptawara adalah Mahisa (Taurus, musim basah/hujan berdasar pada Buda Merkurius). Credit: (koleksi pribadi) Difoto dan diolah oleh Mahesa, Doni, Rizal, WS.

 

Sementara itu, Puyuh adalah Gemak dan ada identifikasi yang sama semisal Puyuh Tarung (Gemak Tarung), atau di Aceh adalah Puyuh Mölôt (Tijdschrift, p.166) yang ternyata identifikasinya adalah rasi bintang Scorpius. Sekali lagi, apabila dirujuk semisal dalam karya besar Serat Centhini (VIII / p.39), Lintang Wuluh adalah Pleiades. Yang menjadi masalah adalah pengidentifikasian. Memang sayangnya, hampir tidak ada peta langit yang rinci yang berhasil penulis dapatkan. Selain itu juga sudah banyak narasumber, senior sekalipun, yang tidak dapat “melihat” langit seperti yang banyak ditulis dalam primbon. Tinggalan yang cukup berharga semisal Lintang Waluku, walau diidentifikasi sebagai Orion – ternyata tetap saja mencakup daerah kubah langit yang tidak tepat sama (lihat bahasan Asterism pada artikel Rasi Bintang dalam Denyut Budaya bagian kedua)

Dalam kasus nama Taurus, ada beberapa versi yang muncul di Indonesia. Semisal dari pengaruh India (Sanskrit): Evadam, Vrisaba, atau Resabha. Untuk budaya Cirebon M’risa atau M’resaba, dari Batak-Toba Marsoba, dari Madura Tor (kemungkinan setelah budaya Arab masuk), dari Minahasa Lambaken, dari Jawa Tengah (Yogyakarta): Wakul (tempat nasi dari anyaman bambu) atau Minda (Mahenda, kambing jantan, walau kemungkinan ini adalah Aries) atau Srawana. Sementara dari Jawa Tengah lainnya (Solo): Mahisa (Banteng; karakter musimnya basah terkait dengan Buda – Merkurius). Untuk Bali: Wresabha (kadang digambarkan sebagai Banteng, terkadang Sapi). Namun, ada juga yang menggambarkan sebagai Gajah (Yogyakarta) termasuk daerah Bali (Klungkung). Saat budaya Arab masuk, juga dikenal sebagai Lintang Tur / Ath-Thur / At Taur / Sur (mungkin pembahasaan inilah yang menjadi sebutan Tor di daerah Madura) dengan sifat Bumi Gedhe. Kadang disebut bulan (atau Lintang) Pusa. Dalam kasus ini memang harus diakui bahwa harus lebih banyak lagi studi lapangan. Banyak teks masih bahasa asli atau dari luar seperti Jerman dan Belanda, serta perbedaan antara buku rujukan.

 

Lintang Kartika dan Bedhaya Ketawang

Tentang Lintang Kartika atau Lintang Guru Desa, akrab di Jawa Tengah sebagai simbol tarian sakral di Istana Mataram. Tarian ini diciptakan oleh Raja Mataram pertama, yaitu Panembahan Senopati (Danang/Raden Sutawijaya; gelar Panembahan Senopati ing Alaga Sayidin Panatagama Khalifatullah Tanah Jawa, 1587 – 1601) yang dikenal sebagai Bedhaya Ketawang (Tarian Langit). Kini dilakukan di Kasunanan Surakarta (Kraton Solo).

Mengenai perjuangan awal Panembahan dengan awal berdirinya Kesultanan Mataram dalam cerita fiksi pernah dibuat oleh penulis cerita silat yang terkenal, yaitu S.H. Mintardja dalam karyanya “Api di Bukit Menoreh” yang terdiri dari 396 jilid (fiksi, berlatar belakang sejarah transisi Pajang – Mataram dengan tokohnya antara lain: Kyai Gringsing, Agung Sedayu, Glagah Putih, dan Panembahan Senopati).

Tarian ini dipentaskan oleh 9 gadis/perawan saat penobatan raja, pada acara Tingalandalem Jumenengan Sunan Surakarta (upacara peringatan kenaikan tahta raja), atau acara khusus kerajaan lainnya. Formasi tarian mengikuti 9 bintang di Lintang Kartika atau Pleiades. Istilah bedhaya pun dapat berarti penari wanita di istana. Memang masih menjadi pertanyaan, karena umumnya yang dapat terlihat jelas secara kasat mata hanya 6 atau 7 bintang. Namun, apabila menilik magnitudo semu bintangnya, maka memang memungkinkan kita dapat melihat 9 bintang dan tentunya dengan kondisi langit yang sangat ideal (malam cerah dan bebas polusi udara dan polusi cahaya). Bila terjadi ratusan tahun lalu, tentu hal ini menjadi sangat lumrah, karena tingkat polusi tersebut masih sangat minim.

Tarian Bedhaya Ketawang Gede dipentaskan setiap 1 windu sekali. Namun, awal sejarahnya ternyata memang ditarikan oleh 7 penari, yaitu 6 gadis dan yang satu lagi tidak lain adalah Kanjeng Ratu Kencanasari, yang lebih populer dengan sebutan Kanjeng Ratu Kidul yang banyak diyakini sebagai Penguasa Laut Selatan yang konon secara gaib hadir (atau mungkin 7 penari dan salah satunya menjadi sosok tempat Kanjeng Ratu Kidul menitis). Hal ini menurut para sesepuh bermula dari kisah (legenda) tarian suci Lenggotbawa yang telah ada pada kisaran tahun 160 (apakah ini terkait dengan kerajaan di Pandeglang, yaitu Salakanagara yang terkenal dengan rajanya dengan sebutan Aki Tirem; penulis masih belum memiliki datanya).

Adanya kemudian menjadi 9 penari, adalah sebagai simbolisasi 9 arah mata angin yang dikuasai 9 dewa (Nawasanga). Namun, ada juga yang berkeyakinan bahwa Kanjeng Ratu menitis ke dalam 9 sosok penari menjadi simbolisasi Nawawatrika (9 dewi ibu alam semesta). Penari ke 9 ada yang meyakini sebagai simbolisasi tawang atau langit (awalnya penari terakhir, yaitu yang ke 7 di mana merupakan Kanjeng Ratu sendiri atau minimal adalah titisannya). Biasanya dilaksanakan pada malam Anggara Kasih (Selasa Kliwon) di mana para penari memasuki sitihinggil dengan arah Pradaksina di seputar raja, dengan arah gerak ke kanan (searah jarum jam) dan akhirnya ke kiri (berlawanan arah jarum jam; identik dengan arah gerak rotasi dan revolusi Bumi). Sebagai simbolisasi cakrawala yang terbentang tiada batas (terkait 9 alam) dengan konfigurasi Nawagraha, (Lintang Kartika: dengan formasi 2 + 5 + 2).

Aslinya tarian sakral ini dilaksanakan selama 5,5 jam dengan irama sangat pelan dan hanya dapat disaksikan oleh orang yang terpilih saja (undangan khusus, terkait kesakralannya dengan segala prasyarat yang harus dilakukan). Yang umum kisaran 2,5 jam dan sejak Pakubuwana X, untuk yang bersifat biasa bahkan hanya berlangsung 90 menit.

Versi lain adalah saat hadirnya Wali Sanga, maka simbolisasi jumlah 9 penari ini bergeser menjadi gambaran jumlah para wali tersebut. Pada perkembangannya, terkait penggambaran ini, bahwa konon tarian ini (Kitab Wredhapradhangga) diciptakan oleh Sultan Agung (Raden Mas Djatmika / Raden Mas Rangsang / Adi Prabu Hanyakrakusuma, 1593 – 1645, yang tidak lain merupakan cucu dari Panembahan Senopati yang bertahta tahun 1613 – 1645) yang juga mengembangkan kalender berbasis Bulan (Hijriah). Beliau mendapat bisikan langit (tawang), konon begitu kisahnya.

Sebenarnya kisah ini berawal ketika Sang Panembahan menolak ajakan Kanjeng Ratu Kencanasari untuk tinggal dan menduduki singgasana di Sakadhomas Bale Kencana (Singgasana yang dititipkan oleh Prabu Rama Wijaya di dasar lautan). Tarian yang merujuk pada Pleiades ini sebagai simbol penyatuan dan perjanjian agung antara Raja dengan Ratu penguasa laut selatan, dikenal sebagai Ni Mas Ratu Angin Angin (Hadikusuma, p.69: Seperti disebut di atas bahwa nama yang populer lebih lengkapnya adalah Kanjeng Ratu Kidul Kencanasari). Namun, masyarakat jaman sekarang sering mencampuradukkan dengan Nyai Rara Kidul (juga Nyi Blorong) yang merupakan salah satu panglima kerajaan Kanjeng Ratu Kidul).

 

Gambar 2 Bedhaya Ketawang (Formasi Sembilan Bintang)
Credit: Koleksi Pribadi; Courtesy: Heru S. Hardjolukito (Pura Mangkunegaran – Solo);
Repro by: D. Triadi; Re-repro and CGI by: M. Rayhan (HAAJ); sketched by WS.

 

Adapun tentang konfigurasi para penarinya hingga kini masih sedikit kurang jelas karena beberapa menyatakan bahwa formasinya berdasar Lintang Ketonggeng (atau Lintang Klopo Doyong; Scorpius). Hal ini dapat jadi atas dasar kesalah-tafsiran terhadap bentuk hewan kalalipan (poisonous centipede) atau centipoda. Bagi penulis, rujukan simbol yang dapat mendekati adalah Lintang Kartika – Pleiades.

 

Gambar 3 Ketonggeng (Scorpius)
Juga terlukis pada langit-langit Pendapa Ageng Pura Mangkunegaran – Surakarta – Jawa Tengah.
Credit: (koleksi pribadi) Difoto dan diolah oleh Mahesa, Doni, Rizal, WS.

Gambar 4 Ketonggeng (Scorpius)
Peta langit Scorpius yang diabadikan di daerah Anyer, Banten pada tanggal 23 Mei 2012 pukul 00:04 WIB dengan kamera Nikon D90 - Lensa Tokina AT-X Pro 11-16mm, 8 seconds, ISO 3200, f/2.8, Fl. 16mm. Pembaca pasti dapat menebak formasi bintang Scorpius di atas. Credit: M. Rayhan (Planetarium dan Observatorium Jakarta / HAAJ)

 

Hal ini terkait 7 bintang terang dengan konfigurasi berdekatan. Apabila dipakai rasi bintang Scorpius, maka di sana terdapat sekitar 15 bintang cemerlang yang relatif mudah dilihat kasat mata bahkan dari kota Jakarta dengan kondisi langit masa sekarang. Namun, konfigurasinya terbentang atau tersebar luas, tidak bergerombol berdekatan layaknya Pleiades. Selain itu, terkait pranatamangsa bahwa fokus atau harapan terhadap munculnya Lintang Waluku sebagai penanda musim tandur dapat jadi membuat wilayah langit yang sebelumnya tampak juga cermat diperhatikan. Artinya, terbitnya Pleiades sedikit mendahului (kisaran sebulan) Lintang Waluku. Jadi ketika Lintang Kartika terbit, masih ada waktu sebulan untuk bersiap-siap datangnya musim tanam.

Hadirnya Lintang Kartika kadang dikaitkan dengan keseimbangan dalam mengarungi kehidupan dunia seperti pada karya KGPAA Mangkunegara IV (Dojosantosa, p.59) tatkala memberi wejangan / petuah kepada khususnya para punggawa di Pura Mangkunegaran dengan menjabarkan beragam benda langit:

Pamurlasih (nama tembang gedhe)
Nihan siswa amatur, marang ri sang mahayogi:
“Sang Wipra kadi paran, karsaning Hyang Hutipati,
yogya saliring warna, kang gumelar anèng Bumi,
mugi ulun tedahna.”
Tandya sang wiku anjarwi,

Rajaswala (nama tembang gendhing ketawang)
Surya Candra Ndaru Kartika
Samya amdhangi jagad raya
Wimbuh wèh martana
Sakèhing dumadi

Intinya:
Pertanyaan murid ke guru (mahayogi) tentang maksud Yang Maha Esa (Hyang Hutipati) dengan segala yang dihamparkan-Nya (kang gumelar) di dunia; dan jawab sang guru bahwa Matahari, Bulan, Meteor, dan “Lintang Kartika” semuanya diberikan sebagai penerang (amdhangi) jagad raya dan menopang hidup makhluk apapun yang ada.

 

Lintang Kartika dalam Pranatamangsa

Ada yang unik dijumpai bahwa di daerah pesisir utara Jawa Tengah, ketinggian Pleiades (dapat dibandingkan dengan budaya di Amerika bagian tengah – khususnya pada masyarakat Inca; lihat artikel Rasi Bintang dalam Denyut Budaya bagian pertama) sebagai penanda kalender. Saat awal malam (saat Matahari terbenam, pukul 18:00), bila di timur ketinggiannya ±500 (istilahnya pecat sawat, sawat = tunas, semi), maka akan masuk mangsa ke 7 (mangsa Kapitu, 22 Desember – 2 Februari). Saatnya memindahkan bibit padi ke persawahan. Namun, data yang penulis peroleh bahwa terjadinya posisi tersebut terjadi kisaran tahun saat dibangunnya kerajaan Galuh (bawahan kerajaan Tarumanegara, tahun 612, yang akhirnya merdeka). Bila patokan ketinggian dan waktu terbenam Matahari yang sama, maka untuk masa sekarang baru akan terjadi pada tanggal 15 Januari 2017 pada pukul 18:13. Dari pranatamangsa berarti sudah pertengahan mangsa Kapitu.

Gambar 5
Taurus (Pleiades bergerombol dan tampak biru di tengah atas), Orion di tengah (seperti tanda tambah), bintang Sirius di Canis Major (berwarna biru terang di atas wajah sang pengamat). Yang paling terang adalah planet Jupiter. Diabadikan di dermaga Wisma Hubla – Anyer, Banten tanggal 16 November 2012 pukul 02:38 WIB dengan kamera Nikon D90 - Lensa Tokina AT-X Pro 11-16mm, 15 seconds, ISO 3200, f/2.8, Fl. 11mm. Credit: M. Rayhan (Planetarium dan Observatorium Jakarta / HAAJ)

 

Dalam kasus terakhir, tentu ada yang memakai, bahkan umumnya, Lintang Waluku (diambil bintang Alnilam; kalau ibarat bentuknya seperti tanda tambah di gambar 5, maka posisinya di tengah, di titik potong garis silang tegak dan datar). Cukup menarik. Apabila digunakan batas ketinggian yang sama dan digunakan patokan saat Matahari terbenam, maka berlaku untuk 22 Desember 4000 SM, pukul 18:00. Pada era sekarang ini, batas ketinggian bintang tersebut hanya kisaran 90 saja di mana apabila bulir beras digunakan sebagai penanda, rasanya bulir itu tidak akan jatuh dari telapak tangan dan belum saatnya musim memindahkan bibit ke sawah. Untuk patokan yang sama, maka hal ini baru akan terjadi kisaran tanggal 29 Januari (tahun 2017, jam 18:16 saat Matahari terbenam). Artinya terjadi pada rentang penutup waktu mangsa Kapitu.

Apabila pedoman pranatamangsa masih ingin digunakan bahwa mangsa Kapitu (ke 7) tetap jatuh pada tanggal 22 Desember, maka penggunaan Lintang Waluku harusnya diganti dengan rasi bintang Cetus (tetap saat Matahari terbenam, pukul 18:04 dan diambil penandanya bintang paling terangnya, yaitu Menkar yang kecerlangannya sama dengan kecerlangan Mintaka di sebelah Alnilam). Atau, patokan paling mudah adalah dengan mengganti pedoman ketinggian (walau tradisi menjatuhkan bulir beras dari telapak tangan menjadi hilang). Uniknya, apabila generasi berikut tetap memakai rasi bintang yang sama di mana Lintang Waluku kala itu sudah menghilang (misal pada tahun 2700), selain koreksi tidak dilakukan, maka juga kehilangan patokan bintangnya.

Bila melihat kasus di atas, maka kasus patokan musim pun pada akhirnya akan sama dengan pergeseran Zodiak kisaran 1 rasi bintang. Berharap pada waktu lain penulis mencoba berusaha untuk mengulasnya.

Di Bali, nama Pleiades juga mirip, Kretika atau Krettika. Lainnya terkait kerancuan dengan Cancer Kepiting (lihat bahasan di atas). Atau penyamaan Lintang Wuluh dengan Lintang Puyuh. Wuluh artinya (bentuk seperti) tabung atau silindris. Puyuh = burung puyuh. Lainnya Yuyu = karkatha = kalakata = kepiting. Hal ini mungkin dikaburkan dengan penamaan bulan Jawa khususnya di Yogyakarta bahwa bulan/Zodiak ke 4 disebut Kartika (secara internasional adalah Cancer/Krebs, sementara di Bali Karakata. Berlanjut dengan datangnya pengaruh budaya Arab dikenal sebagai Saratan. Sementara dari pengaruh India adalah Karkataka (kemungkinan ada kesalahtafsiran dengan kirtika atau karkata, akhirnya menjadi kartika). Anggapan lain bahwa Lintang Wuluh = Lintang Kartika (Pleiades). Penulis sendiri lebih memilih yang terakhir berbasis panduan pranatamangsa dari teks buku Serat Centhini VIII, 427 Dhandhanggula, 52 – 54: Lampahing lintang kekalih, Wuluh Waluku-nira .. lampahe ring-iringan .. surupipun .. lintang Wuluh dennya tanggal .. mangsa karo .. lintang Waluku tanggale, nuju katiganipun. Bila melihat iringan kedua rasi bintang ini saat terbenamnya Matahari pada bulan Mei, Pleiades/Wuluh terbenam lebih dulu baru diikuti oleh Orion/Waluku. Untuk masa kini, terjadi kisaran tanggal 10 Mei, yaitu pada saat Matahari terbenam hampir bersamaan dengan Lintang Kartika, dan Lintang Waluku menyusul kisaran 2 jam setelahnya (pada hari itu). Kalau Cancer, maka terlalu jauh untuk penentuan mangsa secara berturutan. Atau, bila diamati bahwa Lintang Kartika akan terbit mendahului Lintang Waluku.

Dalam kasus lain bahwa apabila terjadi 2 jam pergeseran per hari namun dengan patokan jam yang sama (misal diamati pada saat Matahari terbenam), maka dapat disamakan secara pendekatan dengan pergeseran mangsa selama satu bulan. Sebagai contoh tanggal 22 November, Lintang Kartika sudah di atas ufuk timur saat Matahari terbenam dan baru sebulan kemudian, yaitu tanggal 22 Desember Lintang Waluku dapat terlihat di atas ufuk pada saat Matahari terbenam.

Pada ranah lain, untuk masyarakat Lamalera, Pulau Lembata, Nusa Tenggara Timur – Pleiades disebut Funo Pito (tampak saat akhir Desember, jadi rasanya terlambat bila dikaitkan dengan musim tanam). Sementara bagi beberapa suku di Kalimantan bagian barat (Dayak Borneo) menyebutnya Bintang Banyak, Bintang Balunus, Bintang Tujuh. Namun demikian, umumnya Bintang Tujuh biasa merujuk pada Ursa Major (Beruang Besar) termasuk untuk nama internasional yang banyak disebut (Seven Rishis/Brothers)

Tentu banyak kisah budaya menera langit dari aneka bangsa termasuk pertanyaan seputar itu. Pencarian terhadap jawaban akan hal itu tentu menjadi khazanah budaya pada generasi berikut. Bagaimana awalnya manusia mencoba menyibak cadar langit dan menyelami ke kedalaman jagad semesta. Berikut ini sedikit dijabarkan benda langit apa saja yang terkait rasi bintang Taurus, yang dapat diobservasi pada era kekinian.

 

Bintang Cemerlang di Taurus

Relatif mudah untuk melihat rasi bintang ini. Sekedar catatan bahwa untuk melihat rasi bintang ini secara utuh tidak dibutuhkan alat bantu optik seperti binokuler (kèkeran) maupun teleskop. Bintang-bintangnya cukup cemerlang dan dengan kondisi langit Jakarta masih dapat ditera. Adapun beberapa bintang terangnya adalah:

  • Alpha Tauri (Aldebaran)

Nama awalnya adalah Na’ir al Dabaran (Arab), Aldebara (Itali sekitar abad 15), Aldebaram (Perancis, 1776, peta langit Flamsteed). Lainnya Aldeboran, Aldeberan, Addebiris, Debiron, dan Aldebaron. Arti katanya adalah Yang Paling Belakang atau Pengikut (dalam konteks, mengikuti Pleiades – terkait mitologi). Nama lainnya Palilicium, Parilicium, Sucula, dan masih banyak lagi bila meninjau aneka budaya.

Warna merah pucat dengan temperatur permukaan kisaran 4.000 K, magnitudo semu = m = 0,87 (yang kasat mata), magnitudo mutlak = M = -0,64 (terang sejatinya), kecerlangan = L = 350 kali luminositas Matahari (luminositas Matahari ibarat lampu dengan daya 4 x 1026 watt; angka empat diikuti angka nol sebanyak 26), kelas spektrum K5III dengan radius R = 40 kali radius Matahari (diameter sudut sekitar 0,021 detik busur; Matahari 0,5 derajat busur di mana 1 derajat busur = 3.600 detik busur), jaraknya 65 tahun cahaya.

Aldebaran dari data penelitian mengalami pergeseran merah yang artinya sedang bergerak menjauhi kita dengan kecepatan sekitar 48 km/s. Bintang ini tergolong bintang variabel (low level irregular, berubah-ubah kecerlangannya), dengan variasi magnitudo sekitar 0,2. Dalam tingkat kecerlangan secara kasat mata, merupakan bintang paling terang ke 14 di kubah langit malam (pertama adalah Sirius, Alpha Canis Majoris).

  • Beta Tauri (Alnath)

Berasal dari Budaya Arab: Elnath, El Nath, Nath, Al Natih yang berarti ujung (kadang dijuluki the butting one, yang menyeruduk) sesuai dengan lokasinya di ujung tanduk banteng yang bagian utara. Tergolong bintang raksasa dengan R antara 5 hingga 6 kali radius Matahari. Berwarna biru dengan temperatur permukaan 13.600 K, m = 1,65, M = -1,37, kelas spektrum B7III, dan L = 700x L-Matahari. Jaraknya 131 tc.

Bintang ini dulu sempat digolongkan dalam 2 rasi bintang, dengan nama Beta Tauri dan Gamma Aurigae (Kasus yang mirip antara Alpha Andromedae dan Delta Pegasi, yaitu bintang Alpheratz). Bintang ini sering disebut Mercury-manganese Star karena kandungan unsur manganese-nya 25 kali yang ada di Matahari. Namun, kandungan calcium dan magnesium-nya hanya 1/8 kali Matahari. Lagi-lagi, kebetulan contoh bintang seperti ini adalah Alpheratz (yang tergolong bintang ganda spektroskopik ber-periode 96,7 hari). Alnath pun termasuk bintang ganda. Diprediksi dalam waktu yang tidak terlalu lama (skala evolusi bintang tentunya), bintang ini akan berubah menjadi bintang raksasa jingga.

  • Eta Tauri (Alcyone)

Ragam nama dikenal seperti Alcione, Alcinoe, Altione (Giovanni Battista Riccioli, 1598 – 1671, Itali, yang terkenal dengan karyanya Almagestum Novum atau New Almagest). Bangsa Arab menyebutnya Al Jauz (kenari), Al Jauzah atau Al Wasat (Pusat), Al Nair (Yang Terang), lainnya Thaur al Thurayya – the Leading One (Al Thurayya adalah keseluruhan Taurus). Dalam mitologi India disebut Arundhati/Amba.

Merupakan bintang paling terang di Pleiades, dan hanya bintang ini yang dikatalogkan oleh Bayer. Tergolong bintang Be (evolusinya: bintang raksasa, tipe B dengan indeks e maksudnya bintang B emisi). Rotasinya yang cepat (200 km/s, 100 x Matahari) menyebabkan terbentuknya semacam piringan gas di atas ekuatornya, membentuk cakram. Bintang ini termasuk bintang ganda. Kelas spectrum B7III, m = 2,85, M = -2,41, L = 1.400 x L-Matahari, dan jaraknya 368 tc.

 

Obyek Populer

  • M1 Crab Nebula.

Diketahui merupakan sisa supernova. Ledakannya sangat terang sehingga dapat dilihat dengan kasat mata oleh beragam budaya di dunia.

Sekitar 7300 tahun yang lalu sebuah bintang masif (bermassa besar) di galaksi kita mengakhiri hidupnya dengan ledakan besar. Tidak kurang membutuhkan rentang waktu 6300 tahun, cahaya ledakannya akhirnya sampai ke Bumi. Tepatnya tanggal 4 Juli 1054, cahaya ini tiba di mata pengamat di berbagai belahan dunia, lebih terang dari cemerlangnya planet Jupiter, bahkan Venus sekalipun. Obyek ini bahkan dapat dilihat kasat mata pada siang hari selama 23 hari, dan lenyap dari pandangan sekitar 2 tahun kemudian – 17 April 1056. Supernova ini disebut SN1054 Tau. Puncak kecerlangannya ditaksir bermagnitudo minus 6 (Qibin, 1988).

Pada catatan kuno Cina, SN 1054 Tau atau NGC1952 diberi catatan sebagai “bintang tamu” (guest star) yang lokasinya di sebelah tenggara bintang Tien Kuan/Tianguan. Sekarang Tien Kuan diketahui sebagai bintang Eta Tauri. Tertulis juga lokasinya di sekitar bintang Mau/Mao (Pleiades) (Murdin dan Murdin, 1985, Qibin, 1988). Namun, ada pula disebut barat laut bintang Zeta Tauri, ujung tanduk Taurus. Supernova dikatakan juga dekat Bulan Sabit. Kejadian inipun direkam di Kyoto Jepang, juga oleh masyarakat Korea. Masyarakat lain adalah suku bangsa (di kawasan) Anasazi, 5 Juli 1054 (Navaho Canyon dan White Mesa di Arizona serta Chaco Canyon National Park New Mexico). Mereka mengatakan hal yang sama dengan masyarakat Cina dalam hal lokasi dekat Bulan-nya, walaupun dalam bahasa gambar (lokasinya kini di wilayah New Mexico – Amerika Serikat, mereka cikal bakal bangsa Indian Hopi). Demikian pula yang dijumpai pada catatan kaum muslim Timur Tengah. Yang mengherankan ialah tiada rekaman peristiwa itu di Eropa ataupun Rusia. Diduga dokumen di Rusia musnah akibat serbuan Mongol. Di Eropa mungkin saat itu terjadi masa yang disebut Masa Kegelapan.

Sisa SN1054 kini dapat dilihat sebagai Nebula Kepiting (Crab Nebula). Julukan ini berdasar sketsa dari Lord Rosse (William Parsons, 1844). Yang menemukan pertama kali adalah fisikawan sekaligus astronom amatir Inggris John Bevis tahun 1731. Messier baru tanggal 28 Agustus 1758 mengkatalogkannya dengan indeks M1. Diameter nebula sekitar 10 tahun cahaya. Diketahui bahwa sebaran materinya masih mengembang dengan kecepatan 1.800 km/s (sekitar 2”/tahun). Di pusat nebula ditemukan pulsar (1968, bintang yang berotasi sangat cepat) dengan identifikasi NP0532 atau PSR 0531+21. Termasuk pulsar milidetik (33 rotasi per detik atau periodenya 30,3 milidetik). Diketahui pula sebagai pemancar gelombang radio yang kuat (identifikasinya Taurus A atau 3C 144), juga sinar X (Taurus X-1). Tentu hal ini tidak lepas dari proses terbentuknya pulsar sebagai sisa supernova tipe II (SNII).

 

Gambar 6 Crab Nebula
Gabungan foto antara teleskop angkasa Chandra (X-ray; warna biru), Hubble (Visual; merah, kuning), dan Spitzer (Inframerah; ungu). Keterangan objek dapat dilihat pada bahasan fakta terkait di bawah.
Credit: X-Ray:NASA/CXC/SAO/ F.Seward; Optical: NASA/ESA/ASU/ J.Hester & A.Loll; Infrared: NASA/JPL-Caltech/Univ. Minn./ R.Gehrz

 

Yang sangat dapat dipertimbangkan bahwa ledakan bintang (supernova) tahun 1054 ini (yang objeknya dikenal masyarakat Jawa sebagai Lintang Maliha/Malihan) rasanya dapat dengan mudah diamati di Indonesia. Namun, manuscript tentang kejadian ini belum penulis dapat.

 

  • M45 Pleiades atau the Seven Sisters.

Merupakan Open atau galactic cluster yang paling terang penampakannya di langit. Uniknya tidak dimasukkan pada data katalog NGC.

 

Hujan Meteor

Dapat dilihat pada artikel Meteor

Northern Taurids 20 Oktober – 10 November
(5 – 6 / 12 – 13 November)
5
(cemerlang)
2P/Encke
Beta Taurids 24 Juni – 6 Juli
(28/29 Juni)
10 - 30 2P/Encke
Southern Taurids 10 September – 20 November
(10 Oktober / 3 November)
5
(cemerlang)
2P/Encke

 

Fakta Terkait

  1. Dari luasnya di bola langit menempati urutan ke 17 (1,933% luas kubah langit).
  2. Dahulu kala bintang Aldebaran merupakan salah satu di antara empat bintang dari kerajaan Persia (berawal dari budaya Mesopotamia; tiga lainnya adalah Regulus di Leo, Antares di Scorpius, dan Fomalhaut di Piscis Austrinus).
  3. Bintang Alnath diresmikan menjadi Beta Tauri dan bukan lagi Gamma Aurigae sejak pemetaan oleh astronom Belgia, Eugene Delporte dalam karyanya Delimitation Scientifique des Constellations.
  4. Pada rasi bintang Taurus inilah, Piazzi menemukan asteroid (planet kecil) pertama yang diberi nama Ceres yang kini statusnya (sejak Agustus 2006) menjadi planet kerdil (dwarf planet) bersama dengan Pluto.
  5. Terdapat 98 bintang yang lebih terang dari m = 5,5.
  6. Midnight Culmination Date: 30 November.
  7. Solar Conjunction Date: 2 Juni.
  8. Pada bulan Oktober 1852 ditemukan sebuah objek oleh John Hind yang merupakan objek variabel yang masih diselubungi oleh materi pembentuknya (diketahui pertama oleh Shelburn Burnham, yang kemudian nebula seperti ini disebut Burnham’s Nebula). Objek variabel yang disebut T-Tauri ini diketahui merupakan protostar atau janin bintang dengan usia masih belia kisaran 10 juta tahun dan besar massa sekitar 3 kali massa Matahari. Temperaturnya juga relatif rendah (kelas spektrum G hingga M). Keunikan lainnya adalah merupakan bintang ganda dan pasangannya disebut T-Tauri S. Selanjutnya T-Tauri sendiri diberi indeks T-Tauri N. Yang sejenis ini dijumpai di rasi bintang Orion, yaitu FU Orionis.

 

Sebuah Keinginan

Artikel Rasi Bintang dalam Denyut Budaya ini dengan topik yang sedemikian sempit dan rasanya masih miskin dalam pengetahuan, sebenarnya cukup menggugah keinginan untuk memberi lebih banyak lagi kisah langit. Memang cukup melelahkan. Namun, semoga masih dapat berdaya guna bagi para muda khususnya untuk membantu mencermati tinggalan seperti ini. Pemikiran yang bersifat universal tanpa batas wilayah geografi dan aneka perbedaan insan di Bumi dalam jejak sejarah dan budaya menera langit nyatanya telah mengajak kita semua “belajar” memahami gejolak seputar pertanyaan posisi dirinya diluasnya jagad semesta. Masih terlalu banyak celah yang masih dapat ditelusuri. Bagaimana pun produk budaya seperti ini membentuk generasi setelahnya termasuk kita semua didalamnya. Sekali lagi, semoga bermanfaat. Wartya Wiyata Wicitra Withing Wintang Widik Widik. Salam Astronomi.–WS–

 

Ucapan Terima Kasih

Terima kasih tidak berhingga khususnya kepada Premana W. Premadi, Prof. Norio Kaifu, Prof. Bambang Hidayat, Hakim L. Malasan yang senantiasa memberi ide pada tema di atas;

Juga kepada:

  • semua staf Planetarium dan Observatorium Jakarta, Prodi dan KK Astronomi serta Observatorium Bosscha ITB;
  • Himpunan Astronomi Indonesia (HAI), Universe Awareness (UNAWE), the National Astronomical Observatory of Japan (NAOJ) khususnya the organizing committee of “Stars of Asia (SoA) Workshop”, STScI/HST Team, IYA2009 Indonesia National Node;
  • keluarga (alm) KRMT Tjo Soenarto, Heru S. Hardjolukito, keluarga (alm) Wa Sonto, Doni, Mahesa, Rizal dari Pura Mangkunegaran dan semua staf Radyapustaka Pura Mangkunagaran – Solo;
  • anggota HAAJ-FOSCA-FPA dan komunitas langitselatan;
  • the scientific/local organizing committee of Seminar  Astronomi dalam Budaya Nusantara khususnya Yudhiakto Pramudya (Universitas Ahmad Dahlan Yogyakarta) and Pusat Studi Astronomi Universitas Ahmad Dahlan Yogyakarta;
  • Jogja Astro Club (JAC) dan Club Astronomi Santri Assalaam (CASA – Solo); dan
  • khususnya (alm) Bapak Karkono Partokusumo (Kamajaya) yang telah memberi buku Serat Centhini edisi pertama dalam bahasa latin (12 jilid) dan buku terkait lainnya pada tahun 1989 dan mohon maaf kalau baru kisaran tahun 2003 penulis mulai membukanya sedikit demi sedikit dan masih “mumet” untuk mengartikannya hingga kini.

Berbekal “Tiada seorang pun datang kecuali dengan pengetahuan tentang ketidakmampuannya”, penulis memberanikan diri untuk menulis artikel serial dengan judul Rasi Bintang dalam Denyut Budaya ini. Terima kasih.

 

Daftar Pustaka, Situs, dan Kamus: lihat pada artikel Rasi Bintang dalam Denyut Budaya bagian pertama.