Written by Widya Sawitar

User Rating: 0 / 5

Star InactiveStar InactiveStar InactiveStar InactiveStar Inactive
 

Zeus himself set signs in heaven, marking out the constellations,
and for the whole year
he thought out which stars should most of all give men signs of the seasons,
so that all things should grow without fail.
(Ref.: Hunter)

Gambar 1 Sagittarius memanah Scorpius
Peta bintang ini ada dalam karya Johann Elert Bode, 1747-1826,
dalam bukunya “Uranographia Sive Astrorum ...”
yang terbit tahun 1801. Sebenarnya terdapat 100 rasi bintang dalam karya ini.
(Ref.: The Linda Hall Library Digital Collections dan Ridpath)

Nama Genitif : Sagittarii 
Singkatan : Sgr 
Urutan Luas : 15 
Sumber Awal : Ptolemy dalam karyanya the Almagest
Nama Yunani : Toxote

 

Mitologi

Sagittarius digambarkan di langit sebagai makhluk centaur, dengan tubuh dan empat kaki kuda, namun setengah tubuh bagian atas adalah seorang pria. Penampilannya dengan memakai jubah dan memegang busur panah yang diarahkan ke kalajengking Scorpius (bersebelahan sebagai rasi bintang, lihat gambar 1). Ada kisah bahwa panah ini ditargetkan untuk membidik jantung kalajengking (Wikipedia).

Dalam karyanya, Eratosthenes (yang pertama mengukur keliling Bumi secara akurat mendekati harga yang kini diketahui) menyebutnya sebagai Toxotes dengan busurnya Toxon. Barangkali saat itu yang terbayang bahwa kelompok ini terbagi menjadi dua rasi bintang. Bila melihat formasi bintang, memang rasanya menempati 2 lokasi yang terpisah. Wilayah inipun dalam era selanjutnya (di ranah Amerika) juga populer dengan nama Teko Teh (teapot), yang sebutan ini biasa disebut asterism yang mirip di Indonesia dengan adanya Lintang Waluku yang merupakan sebagian dari rasi bintang Orion (lihat artikel Rasi Bintang dalam Denyut Budaya)(Ridpath, 1988).

Selain itu, bahwa penggambarannya sebagai centaur, tidak lain adalah tokoh Chiron (lihat artikel Chiron, Komandan Para Centaur), putra Philyra dan Saturnus serta pembimbing Jason (Jason the Argonaut) yang dalam mitologinya di mana Chiron menyamar menjadi kuda untuk menghindari kecemburuan Rhea. Sementara itu, Chiron nyatanya biasa diejawantahkan sebagai rasi bintang Centaurus (2 bintang paling terangnya di Indonesia dikenal sebagai Lintang Wulanjar Ngirim yang bersebelahan dengan Lintang Gubug Penceng – lihat artikel BimaSakti: Mitologi dalam Budaya Jawa bahasan Serat Mijil). Alternatif lain bahwa Chiron yang terkait Sagittarius adalah ketika membimbing Jason dalam pencariannya akan domba emas (the Golden Fleece)(Allen, 1963).

 

Gambar 2
Sagittarius dan Centaurus
Credit: Islamic Crescents' Observation Project (ICOP)

 

Sagittarius diduga awalnya berasal dari budaya masyarakat di Sumeria yang lalu diadopsi oleh bangsa Yunani. Akulturasi ini juga yang membuat terjadinya kesalahan penafsiran dalam ujudnya. Eratosthenes tidak menganggapnya sebagai centaur karena dalam mitologinya makhluk ini tidak pernah menggunakan busur dan panah. Sebaliknya, Eratosthenes menggambarkan Sagittarius sebagai satyr, yaitu seorang pria bertelinga dan berekor kuda dengan setengah badan ke bawah pun berujud kuda (berdiri dengan dua kakinya). Dikatakan bahwa Sagittarius terkait Crotus, anak dari Eupheme, yang merawat Muses yang tidak lain adalah 9 putri Zeus.

Adapun menurut budaya Romawi (Hyginus), bahwa ayah dari Crotus adalah Pan (lihat artikel Nama Hari dan Zodiak Capricornus), yang menegaskan penggambaran Eratosthenes bahwa Sagittarius terkait makhluk satyr, dan bukan centaur. Crotus-lah yang dianggap sebagai penemu busur dan panah, konon tinggal di gunung Helicon. Ke 9 putri inilah yang memohon ayahnya untuk menempatkan Crotus di kubah langit di mana di bawah kakinya diletakkan lingkaran tersusun atas bintang-bintang layaknya kalung mutiara yang kini adalah rasi bintang Corona Australis.

Kilas balik ke era Babylonia bahwa Sagittarius diidentikkan dengan dewa Nergal Dewa Pemanah; Dewa Kematian), yang bersekutu (atau bahkan identik) dengan Dewa Perang dan Api, yaitu Irra. Perwujudan fisik Dewa Nergal/Irra adalah keberadaan Mars yang penampakannya di kubah langit kadang menjadi sangat cemerlang (karena kondisi oposisi setiap kisaran 26 bulan sekali). Jadi, dapat disebut bahwa Nergal/Irra terejawantah sebagai Dewa Perang Ares (Yunani) atau Dewa Perang Mars (Romawi). Digambarkan layaknya makhluk seperti centaur yang sedang memanah. Kadang digambarkan bersayap dengan dua bentuk kepala, yaitu kepala panther dan kepala manusia; juga berekor dua, yaitu ekor kalajengking dan ekor kuda. Dalam mitologi Sumeria disebut Pabilsag (Pabil = kerabat tua dan Sag = pemimpin, atau secara utuh diartikan sebagai leluhur (forefather) atau pemimpin nenek moyangnya. Sementara itu, untuk rasi bintang Centaurus memiliki nama En.te.na.bar.hum (Ningirsu). Hal ini sebagai penanda pula bahwa ada perbedaan penggambaran antara Sagittarius dan Centaurus dalam mitologi mereka (Rogers, 1998, pembanding Wikipedia).

Dari era Mesopotamia (termasuk Sumeria di atas) memang dikenal sebagai nama dewa, Pabilsag (pada manuscript MUL.APIN). Pada era lanjut, lebih dikaitkan dengan dewa Ninurta dan pada Babylonia disebut Nedu yang berarti prajurit atau dikaitkan dewa penjaga pintu neraka (mirip kemudian hadirnya Hydra pada budaya berikutnya di Yunani). Hal yang sama tatkala dibandingkan dengan penafsiran satyr, makhluk dengan dua kaki kambing dengan centaur, makhluk dengan 4 kaki kuda. Hal ini muncul kemungkinan besar karena pada kisah kembangannya Pan adalah dewa kambing di budaya Yunani (Rogers, 1998).

Pada mitologi terkait hal di atas dapat dijumpai bahwa sifatnya keduanya dalam banyak kisah adalah berlawanan. Chiron lebih bersifat kalem dan sabar bijaksana, sementara Sagittarius sebagai pemburu bersifat ganas, bengis, dan buas.

Di Indonesia – rasi Sagittarius tidak spesifik gambarannya seperti cerita di atas. Ada sebutan Lintang Dhana atau Dhanus (busur). Namun, apakah daerah rasi ini juga dikaitkan dengan awan putih (galaksi) Bima Sakti, belum jelas bagi penulis. Bisa jadi bentuk seperti rumah yang dikonfigurasikan oleh bintang-bintang terangnya itulah yang dianggap sebagai bentuk busurnya.

Ragam Nama

(Sebagian besar bahasan disarikan dari Allen, 1963, berharap pe”latin”an bahasa Yunani-nya oleh penulis tidak salah) Bagi masyarakat Perancis, Sagittarius dikenal sebagai Sagittaire, di Itali adalah Sagittario, di Jerman Schütze (Johann Bayer yang terkenal dengan identifikasi bintang berhuruf Yunani menyebutnya sebagai Schütz), di Yunani oleh Aratus disebut Τοξευτής (Toksentes) untuk sang pemanah dan Ῥύτωρ τόξου (Rutor-tokson), busurnya; untuk sebagian masyarakat Yunani adalah Τοξευτήρ (Toksenter); Eratosthenes menyebutnya Τοχοτής (Toxotes, seperti tertulis di awal artikel, termasuk Hipparchos, Plutarch, dan Ptolemy).

Sebagian lainnya, sempat (Lucian and the Romans) oleh Manilius disebut Sagittifer; oleh Avienus Sagittiger; dan oleh Cicero sebagai Sagittipotens atau kadang diidentikkan dengan Arquitenens yang berasal dari masa sebelumnya, Arcitenens, kadang Ausonius (termasuk oleh Al Bīrūnī). Uniknya bahwa julukan terakhir biasanya diberikan kepada dewa Apollo (sejak Vergil).

Columella (Lucius Junius Moderatus Columella, 4 – 70 M) dari era Romawi menyebutnya Crotos; Hyginus (Gaius Julius Hyginus, era Kaisar Augustus) menyebut Croton (gembala) yang pada era kini tidak digunakan lagi. Lainnya dalam karya mereka adalah munculnya istilah terkait, Ἱππότης (Ippotis, di atas punggung kuda); Semivir, makhluk setengah manusia; (Taurus dan) Minotauros pada kisah dongeng awal karyanya yang kemudian lebih ditujukan pada makhluk centaur; inipun tampak pada karya Cicero, yaitu Antepes dan Antepedes yang juga lebih ke bentuk centaur; ataupun Cornipedes, makhluk bertanduk dengan 2 kaki (lebih ke bentuk satyr).

Pada peta langit yang relatif modern, karya Flamsteed (John Flamsteed, 1646 – 1719, Royal Greenwich Observatory), yaitu Atlas, rasi bintang ini disebut Sagittary yang nama ini sebenarnya sudah populer seabad sebelumnya. Juga sastrawan Shakespeare dalam karyanya menyebutnya sebagai Sagittary. Pada era relatif modern inilah yang populer disebut adalah Sagitary; atau Sagittarie, juga Saagittare (oleh Chaucer dalam karyanya Astrolabe yang diwariskan pendahulunya yang berasal dari budaya Anglo-Norman, yaitu De Thaun). Adapun pada budaya Anglo-Saxons adalah Scytta.

Bagaimana di Indonesia? Penulis juga menemukan ragam nama. Antara lain dari akulturasi dengan bahasa Sanskrit, yaitu Dhanus. Dari pada sebagian masyarakat Yogyakarta dijumpai penamaan Wusu (busur) atau Wanok atau Naya, dari daerah Solo dijumpai sebutan Jemparing yang berarti busur dan anak panah dan konon terkait dengan perlindungan dari Batara Brama). Sementara itu, di Bali istilahnya mirip dengan bahasa Sanskrit, yaitu Dhanu (busur).

Meluasnya wilayah budaya yang memberi sebutan untuk satu wilayah langit menandakan bahwa wilayah langit tersebut pastilah sangat istimewa, apapun aspeknya. Di sisi lain, bahwa imajinasi sekian banyak budaya harus diakui kadang sangat berbeda. Namun, banyak pula kesamaan. Uniknya, kesamaan ini bukan semata karena akulturasi, namun lebih pada imajinasi yang bersifat universal dari manusia itu sendiri. Inilah yang menyebabkan mengapa masalah penelusuran pada ranah seperti ini menjadi penting.

Zodiak

Sagittarius adalah salah satu dari 12 simbol Zodiak Klasik, yaitu yang ke 9 (pertama adalah Aries; lihat tabel 2 artikel Rasi Bintang dalam Denyut Budaya bagian 2). Batasan tanggal tradisional atau klasik adalah 22 November hingga 21 Desember. Yang lahir antara tanggal itu disebut berbintang Sagittarius. Tapi berdasar kenyataan, kini Matahari melintas Sagittarius antara tanggal 18 Desember s.d 21 Januari. Harusnya yang lahir pada kurun waktu inilah yang berbintang Sagittarius, karena inilah yang nyata disuguhkan oleh bintang gemintang di kubah langit masa sekarang.

Saat terbaik untuk melihat rasi bintang ini dimulai minggu ketiga bulan Juni (berpedoman kota Jakarta). Pada pukul 18:00 WIB, rasi bintang ini sudah berada di ufuk timur. Pada 7 Juli, jam 24:00 WIB ada di meridian (lingkaran yang menghubungkan titik utara dan selatan yang melewati puncak langit, midnight culmination date). Ketinggian dari titik selatan sekitar 70 derajat. Pada awal Januari jam 18:00 WIB sudah terbenam bersamaan dengan terbenamnya Matahari (sebut Matahari berada di rasi bintang Sagittarius. Dalam ranah lain, orang yang lahir kala itu ber-Zodiak Sagittarius). Jadi sepanjang malam tidak dapat dilihat sampai bulan Juni berikutnya.

Bintang-bintang di rasi ini relatif cemerlang, bahkan dari kota Jakarta pun masih jelas terlihat. Adapun bentuk formasinya juga mudah dilihat secara kasat mata. Tentu saja dalam kondisi cerah.

Gambar 3

Formasi dengan panduan tanda panah membentuk asterism yang populer dengan nama Teapot (Teko Teh). Credit: WS, berbasis Program Stellarium - 0.12.4

 

Gambar 4
Ref.: George A. Davis, 1944,
The Pronunciations, Derivations, and Meanings of a Selected List of Star Names, p.25-26
(NASA Astrophysics Data System. Courtesy Maria Mitchell Observatory)

 

 

Gambar 5
Peta Langit Sagittarius Berbasis IAU. Garis berwarna hijau yang menghubungkan antara titik-titik bintang membentuk asterism yang populer dengan nama Teapot (Teko Teh).
Credit: IAU website dan Sky and Telescope - Constellation Names.

 

Identifikasi Beberapa Bintang Terang
(lihat pula gambar 5)

  1. Alpha Sagitarii (Rukbat). Warna biru-putih bermagnitudo m = 3,96 dengan jarak 170 tc. Kelas spektrum B8 V (deret utama, mirip Matahari). Posisi di lutut kaki depan kanan Sagittarius. Biasanya indeks alpha adalah bintang paling terang, tetapi di rasi ini yang paling terang adalah Epsilon-Sgr (Kaus Australis, biru-putih);
  2. Epsilon-Sgr (Kaus Australis) adalah bintang raksasa. Posisinya di bagian bawah dari alas teko teh sebelah barat). Jaraknya 145 tc, m = 1,9, warna biru-putih (kelas spektrum B9.5 III yang berarti termasuk bintang raksasa);
  3. Gamma-Sgr (Alnasl). Warna kuning dengan m = 2.98 berjarak 96 tc dengan kelas spektrum K0 III (raksasa) yang merupakan ujung anak panah yang arahnya ke tubuh Scorpius (Kalajengking);
  4. Delta-Sgr (Kaus Meridionalis, pada Davis pada gambar 4 disebut Kaus Media). Lokasinya di bagian tengah busur atau di alas tutup teko bagian barat (bagian atas tutup teko adalah bintang Lambda-Sgr); Kelas spektrum K3 IIIa. Jadi termasuk bintang raksasa (III) yang relatif dingin (K3) berjarak 306 tc dengan m = 2,72;
  5. Beta1-Sgr (Arkab Prior) dan Beta2–Sgr (Arkab Posterior) yang keduanya tampak seolah merupakan bintang ganda (sistem 2 bintang yang saling mengedari titik pusat massa persekutuannya). Namun, sebenarnya bukan. Arkab adalah achilles/tendon dari kaki depan kanan Sagittarius. Hanya penampakannya saja yang berdekatan. Yang merupakan bintang ganda justru bintang Beta1-Sgr itu sendiri, selain itu juga bintang yang berindeks pi, omicron, dan eta. Namun, semua tetap sulit dilihat sekalipun dengan teleskop. Arkab Prior sendiri adalah bintang deret utama dengan kelas spektrum B9 V berjarak 378 tc.; dan
  6. Sigma-Sgr (Nunki). Warna biru-putih dengan m = 2.05 berjarak 224 tc dan kelas spektrum B2.4 V (deret utama yang panas). Posisi di telapak tangan Sagittarius yang sedang menarik anak panah. Pada era Assyro-Babylonian disebut bintang penguasa (makhluk) lautan dan makhluknya adalah (rasi bintang) Capricornus, Aquarius, Delphinus (Lumba-lumba), Cetus (Ikan Paus), Pisces, dan Piscis Austrinus (Ikan Selatan). Semua terkait dengan air.

Obyek yang Menarik

  1. M18 (atau NGC6613), M21 (NGC6531), M23 (NGC6494), M25 (IC4725), dan NGC6530. Semua merupakan gugus atau kelompok bintang terbuka (open cluster) yang karakternya mirip Pleiades atau Lintang Kartika di rasi bintang Taurus);
  2. M22 (NGC6656), M28 (NGC6626), M54 (NGC6715), M55 (NGC6809), M69 (NGC6637), M70 (NGC6681), dan M75 (NGC6864) yang merupakan gugus bola (globular cluster; lihat gambar 6). Mereka umumnya dapat dilihat dengan binokuler (kekeran) yang cukup besar;
  3. M8 (NGC6523). Nebula Laguna yang merupakan nebula emisi (mirip Orion Nebula di Lintang Waluku);
  4. M17 (NGC6618). Nebula Omega atau Nebula Tapal Kuda (nebula emisi);
  5. M20 (NGC6514). Nebula Triffid (nebula emisi, diketahui sebagai tempat kelahiran bintang-bintang baru seperti yang terjadi pada Nebula Orion di rasi bintang Orion);
  6. M24. Merupakan bintang yang mengelompok dengan sangat padat. Dengan kasat mata hanya tampak seperti kabut putih. Biasa disebut the Sagittarius Star Cloud yang merupakan bagian dari bentang Bima Sakti;
  7. Barnard-87 dan Barnard-92, merupakan nebula gelap;
  8. Bintang W-Sgr. Merupakan bintang variabel Cepheid yang terangnya berubah-ubah secara teratur dengan periode 7 hari 14 jam. Bintang seperti ini biasa dipakai untuk lilin penentu jarak. Hasilnya juga berguna untuk menghitung seberapa luas bentangan serta usia Jagad Raya; dan
  9. Selain itu ke arah wilayah rasi bintang ini dapat dijumpai galaksi kerdil, yaitu Sagittarius Dwarf Elliptical Galaxy. Merupakan satelit galaksi kita berjarak 80.000 tc. Populasinya umumnya bintang tua berwarna kuning. Lokasi M54 sebenarnya berada di galaksi kerdil ini. Jadi merupakan gugus bola pertama di luar galaksi kita yang dapat dilihat (tahun 1778, belum ada temuan lagi hingga kini). SagDEG sendiri ditemukan tahun 1994, dan prakiraan sekali mengorbit galaksi kita dengan rentang 1 milyard tahun. Selain SagDEG di wilayah Sagittarius terdapat Sagittarius Dwarf Irregular Galaxy (SagDIG) yang juga merupakan satelit dari Bima Sakti yang ditemukan lebih dahulu, tahun 1977 dengan diameter sekitar 3000 tc dan berjarak 3,5 juta tc.

 Gambar 6 Gugus Bola M22 (NGC 6656)
Jaraknya 8.500 tc dan dianalisis bahwa usianya kisaran 12 – 14 milyard tahun. Bentangan foto utama hanya 3,3 tc. Diameternya mencapai 60 tahun cahaya. Posisinya di langit adalah (R. A. 18h 36m 24.21s; Dec. -23° 54' 12.2"). Pada daerah padat dipusatnya mengandung sekitar 83.000 bintang, namun jumlah total diperkirakan mencapai 10 juta buah bintang. Foto inset diambil pada bulan Juni 1995 dengan teleskop Burrell Schmidt yang ada di Case Western Reserve University's Warner dan Swasey Observatory on Kitt Peak in Arizona. Credits for the Hubble image: NASA, Kailash Sahu, Stefano Casertano, Mario Livio, Ron Gilliland (Space Telescope Science Institute), Nino Panagia (European Space Agency/Space Telescope Science Institute), Michael Albrow and Mike Potter (Space Telescope Science Institute); Credits for ground-based image: Nigel A.Sharp, REU program/AURA/NOAO/NSF

 

Fakta Terkait

  1. Di rasi bintang ini ditemukan obyek Messier terbanyak (15 buah);
  2. Arah pusat Bima Sakti masuk di dalam daerahnya (Lintang – Bujur Galaksi = 0 derajat, ada di koordinat RA: 17h 42m dan dec: – 29 derajat; di barat daya bintang x-Sgr). Bila kita mengamati ke arah rasi bintang Sagittarius dan ke lokasi koordinat tersebut, ibaratnya kita sedang memandang ke arah pusat galaksi kita;
  3. Bintang yang kasat mata terdapat sekitar 65 buah dan kebanyakan bintang variabel; dan
  4. Ukuran wilayahnya di urutan ke 15 (sekitar 2% luas bola langit).

 

Hujan Meteor

  1. Southern Mu Sagittariids (11 Juni);
  2. Daytime Xi Sagittariids;
  3. Scorpiid-Sagittariid Complex (southern-southern-northern Mu Sagitariids); dan
  4. Sigma Sagittariid Complex (northern-northern-northern Sigma Sagitariids).

Untuk group, bahwa yang berbeda adalah titik radian-nya. Walaupun namanya sama, sebenarnya ada tambahan identifikasi koordinatnya (tentang keterjadian meteor ataupun hujan meteor, lihat artikel Hujan Batu Api dari Langit dan Badai Garis Cahaya dari Langit).

 

Pengantar

Seperti yang penulis kutip dari artikel sebelumnya (Nama Hari dan Zodiak Capricornus) bahwa berharap pada masa mendatang, penulis berusaha untuk serba sedikit bercerita tentang rasi bintang lainnya. Terlepas dari sisi astrologi maupun Astronomi, bagaimanapun ini adalah tinggalan budaya yang terkait pola pikir makhluk yang namanya manusia dan sebagiannya tidak lain adalah para leluhur kita sendiri. Kendati masalah ini di masyarakat pada umumnya masih berkelindan dengan takhayul di sana sini, maka di sini ada baiknya kita simak sisi Astronomi-nya saja di mana benda yang terlibat dapat kita telusuri di kubah langit, baik kasat mata maupun dengan bantuan peranti observasi seperti binokuler dan teleskop.

 

Daftar Pustaka

Allen, R.H., 1963, Star Name, Dover Pub., New York

Bakich, M., 1995, The Cambridge Guide to the Constellations, Cambridge Univ. Press, Cambridge, p.278-279.

Cornelius, G., 1997, The Starlore Handbook : An Essential Guide to the Night Sky, Chronicle Books, p.9-19.

Cornelius, G., 2005, The Complete Guide to the Constellations, Duncan, London, P.102-103.

Darling, D., 2004, The Universal Book of Astronomy, John Wiley & Son, New Jersey, p.432-5

Davis Jr., G. A., 1944, The Pronunciations, Derivations, and Meaning of a Selected List of Star Names, Popular Astronomy 52: p.8-30

Hartmann, W.K., 1985, Astronomy : The Cosmic Journey, Wadsworth Pub. Co., Belmont, p.6-21, 494-497.

Pedersen, O. 1993, Early Physics and Astronomy : A Historical Introduction, Cambridge University Press, Cambridge, p.11, 40.

Rogers, J. H., 1998, Origins of the Ancient Constellations: I. The Mesopotamian Traditions, Journal of the British Astronomical Association (JBAA) 108:1, 9-28

Sawitar, W., 2008, Constellations: The Ancient Cultures of Indonesia, in Shuang-Nan Zhang, Yan Li, Qingjuan Yu, and Guo-Qing Liu (eds), Proceedings of the 10th Asian–Pacific Regional IAU Meeting 2008, China Science & Technology Press, Beijing, p.409-410

Sawitar, W., 2015, Astronomi dalam Cerita Rakyat Nusantara, Makalah pada Seminar Astronomi dalam Budaya Nusantara (SINDARA) di Universitas Ahmad Dahlan Yogyakarta (30/05/2015)

Walker, C. (ed.), 1996, Astronomy : Before the Telescope, British Museum Press, London, p. 43-5, 68, 73, 87, 110, 123, 146, 154-5, 252-6, 269-70, 283-4, 288, 290, 296, 299, 301, 308, 310-11, 319-21, 324, 328, 338.

 

Situs