Written by Super User

User Rating: 5 / 5

Star ActiveStar ActiveStar ActiveStar ActiveStar Active
 
PRESS RELEASE

Kegiatan Penelitian Hisab Rukyat
untuk Penentuan Awal Bulan Syawal 1438 H

Oleh Tim Observasi Bulan
Planetarium dan Observatorium
Unit Pengelola Pusat Kesenian Jakarta Taman Ismail Marzuki
Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Provinsi DKI Jakarta

 

Seperti yang telah dipaparkan pada situs ini sebelumnya (Kegiatan Penelitian Bulan Sabit Usia Muda), bahwa salah satu dari sekian banyaknya aplikasi langsung dari bidang ilmu Astronomi di kalangan masyarakat terwujud dalam bentuk penentuan waktu-waktu yang terkait erat dengan pelaksanaan ibadah keagamaan. Bagaimana pun, ibadah seperti ini banyak yang berpedoman pada kalender berbasis khususnya Bulan (bahkan kombinasi antara posisi Matahari dan Bulan, yaitu sistem luni-solar). Memang secara faktual yang tampak adalah pada umat Muslim yang terkenal dengan kalender Hijriahnya.

Di bawah ini, dapat dilihat perhitungan (hisab) yang dilakukan oleh Cecep Nurwendaya, yang merupakan salah satu anggota tim Planetarium dan Observatorium UP PKJ TIM, juga perbandingan dengan beberapa perhitungan lainnya dalam kegiatan Penelitian Hisab Rukyat di mana hal ini dilakukan dalam rangka penentuan awal bulan Syawal 1438H. Hasil perhitungan ini biasanya akan digunakan sebagai pedoman kegiatan observasi (rukyat) yang pada kesempatan kali ini Planetarium dan Observatorium UP PKJ TIM tidak melaksanakan kegiatan observasinya atau rukyat hilal. Kegiatan observasi ini sebenarnya merupakan ranah pencarian bukti astronomis dari perhitungan yang dilakukan.

Adapun pembanding perhitungan, dapat dilihat di bawah ini (dikompilasi oleh Mila, M. Rayhan, dan tim Planetarium Jakarta):

Lokasi                      : Planetarium dan Observatorium Jakarta
Koordinat Lokasi    : 06o 11’ 25” LS – 106o 50’ 21” BT
Ketinggian              : 1 Mdpl
Area Waktu              : GMT +7 / WIB
Ijtima/Konjungsi     : Sabtu, 24 Juni 2017 pada pukul 09:31 WIB

 

 

Apabila dibandingkan dengan lokasi lain, semisal seperti yang dilakukan sebelumnya di Pantai Anyer, Serang, Banten adalah sebagai berikut:

Lokasi                         : Kompleks Mercusuar, Pantai Anyer, Serang, Banten
KoordinatLokasi        : 06o 04’ 13” LS – 105o 53’ 05” BT
Ketinggian                 : 1 Mdpl
Area Waktu                : GMT +7 / WIB
Ijtima/Konjungsi1      : Sabtu, 24 Juni 2017 pada pukul 09:31 WIB

1 http://cycletourist.com/moon/

 

Berdasarkan perhitungan sederhana, bahwa apabila tanggal 1 Ramadhan 1438H jatuh pada tanggal 27 Mei 2017, maka pada hari Sabtu tanggal 24 Juni 2017 dalam kalender Hijriah akan jatuh sebagai tanggal 29 Ramadhan 1438H, di mana tanggal 29 untuk setiap bulan hijriah disebut sebagai hari hisab dan hari rukyat dan hari ijtimak. Hal ini karena fenomena ijtimak antara Matahari dan Bulan terjadi pada hari dan tanggal tersebut, dan bulan ini terjadi pada pukul 09:31 WIB. Perhitungan astronomis pun menunjukkan bahwa Matahari terbenam apabila dilihat dari Jakarta (Planetarium dan Observatorium Jakarta) adalah pada pukul 17:48 WIB. Artinya kondisi fase Bulan – yang apabila ada yang berniat untuk melakukan observasi saat Matahari terbenam – telah berumur kisaran 8 jam 15 menit (fase Bulan Sabit Awal atau hilal atau Anak Bulan). Jadi, dari perkiraan perhitungan astronomis bahwa Anak Bulan “kemungkinan” dapat diobservasi (terkait salah satu kriteria MABIMS, yaitu usia hilal minimal 8 jam).

Adapun perhitungan dan pembanding perhitungan, dapat dilihat pula (catatan: semisal ada perbedaan perhitungan, dimungkinkan sebagai akibat perbedaan lintang dan bujur pengamat ataupun koreksi dimensi ukuran piringan Bulan dan Matahari, pengambilan asumsi, dampak kedalaman ufuk, efek refraksi, atau lainnya):

 

 

 

 

Adapun sehari setelah hari hisab/rukyat/ijtimak, Minggu, 25 Juni 2017, sebenarnya sebaiknya tetap dilakukan pengamatan posisi Bulan Sabit Muda untuk konfirmasi perhitungan. Seperti hasil perhitungan dan pengamatan bulan Ramadhan 1438H yang baru lalu, bahwa ketika Anak Bulan pada saat hari hisab/rukyat/ijtimak belum terlihat, maka bulan Ramadhan digenapkan menjadi 30 hari. Untuk Syawal kali ini, terdapat kemungkinan bahwa Anak Bulan dapat diobservasi dan dilihat. Namun, untuk konfirmasi terhadap hasil perhitungan astronomis, maka sebaiknya tetap dilakukan observasi baik pada hari Sabtu (24 Juni 2017) maupun Minggu (25 Juni 2017).

Pedoman untuk hari Minggu, 25 Juni 2017 adalah sebagai berikut:

 

Adapun pembanding perhitungan yang didapat adalah sebagai berikut:

Lokasi                       : Planetarium dan Observatorium Jakarta
Koordinat Lokasi     : 06o 11’ 25” LS – 106o 50’ 21” BT
Ketinggian               : 1 Mdpl
Area Waktu              : GMT +7 / WIB
Ijtima/Konjungsi2    : Sabtu, 24 Juni 2017 pada pukul 09:31 WIB

2 http://cycletourist.com/moon/

 

Sementara itu, untuk lokasi di kompleks Mercusuar, Pantai Anyer, Serang, Banten:

 

 

 

 

Berdasarkan hasil perhitungan di atas, secara garis besar dapat didiskusikan bahwa:

  1. Hisab Kriteria MABIMS ini telah disepakati bersama oleh seluruh anggota MABIMS pada Muzakarah Rukyat dan Takwim Islam Negara Anggota MABIMS di Jakarta pada tanggal 21–23 Mei 2014. Demikian pula Keputusan Temu Kerja Hisab Rukyat Tahun 2014 dan telah diverifikasi kembali pada Temu Kerja Hisab Rukyat tanggal 24–26 Mei 2016 di Grand Diara Hotel Cisarua Bogor.
  2. Hari rukyat penentu masuknya awal bulan Syawal 1438H adalah hari Sabtu tanggal 24 Juni 2017 yang bertepatan dengan tanggal 29 Ramadhan 1438H. Dalam perhitungan astronomis bahwa untuk pemanduan penentuan awal bulan hijriah, Pemerintah RI menggunakan kesepakatan berbasis kriteria MABIMS (Menteri Agama Brunei Darussalam, Indonesia, Malaysia, dan Singapura).
  3. Kriteria MABIMS tersebut dalam penentuan awal bulan hijriah adalah bahwa penentuannya dimulai apabila memenuhi kriteria sebagai berikut:
    • Tinggi hilal minimal 2 derajat;
    • Elongasi atau jarak busur Bulan – Matahari minimal 3 derajat;
    • Umur hilal dari ijtimak pada saat Matahari terbenam minimal 8 jam.
  4. Dihitung pada wilayah Planetarium dan Observatorium Jakarta bahwa ketinggian hilal pada saat Matahari terbenam hari Sabtu, 24 Juni 2017 yang bertepatan dengan tanggal 29 Ramadhan 1438H pukul 17:45:30 WIB sebesar 3 derajat 55 menit 7 detik busur (3 derajat 34 menit 32 detik busur) di atas ufuk pengamat. Berarti, apabila dikaitkan dengan kriteria MABIMS, ketinggian hilal sudah memenuhi syarat pertama.
  5. Beda azimuth antara Bulan – Matahari adalah sebesar 1 derajat, 1 menit busur. Hal ini berarti bahwa proyeksi Bulan ke lingkaran ufuk terletak lebih ke arah selatan dibanding lokasi Matahari terbenam. Adapun jarak (busur) Bulan ke Matahari (jarak antara titik pusat piringan) adalah 5,33 derajat (dikurangi 1 derajat bila dihitung dari tepi piringan). Perhitungan menunjukkan bahwa besaran ini melebihi syarat minimal yang ditentukan pada syarat kedua.
  6. Bila diperhitungkan rentang waktu terjadinya ijtima dengan terbenamnya Matahari, maka usia Bulan sudah mencapai 8 jam 16 menit. Dari kriteria MABIMS, jelas bahwa usia Bulan sudah memenuhi syarat ketiga untuk penentuan awal bulan hijriah, yang dalam hal ini awal bulan Syawal 1438H.
  7. Berpatokan pada referensi astronomis empiris limit Danjon (jarak sudut Bulan-Matahari minimal 7 derajat, atau Limit Danjon yang terkoreksi Odeh minimal 6,4 derajat), juga apabila kondisi langit cerah, maka Bulan Sabit pada ketinggian seperti ini secara astronomis memungkinkan dapat terlihat oleh teleskop, binokuler, bahkan secara kasat mata. Sekali lagi bahwa kenyataan di lapangan saat observasi adalah tergantung pada kondisi langit atau cuaca lokal. Hilal sangat sulit untuk diamati walau dengan bantuan alat observasi apabila lokasi hilalnya terhalang awan atau hujan.
  8. Apabila semua kriteria sudah dipenuhi prasyaratnya, maka pada Keputusan Fatwa Majelis Ulama Indonesia No. 2 tahun 2004, pada bagian Fatwa Pertama dan poin pertama berbunyi: Penetapan awal Ramadan, Syawal, dan Dzulhijjah dilakukan berdasarkan metoda ruk'yah dan hisab oleh Pemerintah RI cq Menteri Agama dan berlaku secara nasional. Oleh karena fatwanya masih digunakan sebagai panduan penentuan awal bulan Hijriah di Indonesia, maka rukyat harus/wajib dilaksanakan sebagai konfirmasi dari hisab. Konsekuensi penggunaan fatwa ini adalah tanpa menyebutkan posisi hilalnya, apakah berada di atas atau di bawah ufuk.
  9. Berdasarkan hasil murni perhitungan (hisab) bahwa Anak Bulan sudah di atas ufuk ketika Matahari terbenam tanggal 24 Juni 2017 (hari hisab/rukyat/ijtimak). Jadi tanggal 1 Syawal 1438H jatuh pada tanggal 25 Juni 2017.
  10. Berdasarkan hasil observasi (rukyat), maka penentuannya berdasarkan hasil rukyat pada hari hisab/rukyat/ijtimak – Sabtu, 24 Juni 2017. Apabila ada kesaksian dari 2 tempat rukyat yang berbeda dari pengamat hilal, maka tanggal 1 Syawal 1438H juga jatuh pada tanggal 25 Juni 2017. Artinya yang berbasis hisab, penentuan 1 Syawal 1438H sama dengan yang berbasis rukyat.
  11. Kadang terjadi, hasil perhitungan berbeda dengan hasil rukyat. Jadi, dalam kasus ini kadang terjadi perbedaan dalam penentuan awal bulan Hijriahnya. Sebagai contoh: berdasar perhitungan bahwa Anak Bulan sudah di atas ufuk ketika Matahari terbenam di hari hisab/rukyat/ijtimak. Namun, tidak ada kesaksian pada pelaksanaan rukyat. Walhasil, yang menggunakan hasil murni perhitungan biasanya lebih awal melaksanakan ibadah puasa/Idul Fitri sesuai dengan Taqwim Standard Indonesia (Kalender Standard) dibandingkan dengan yang menggunakan hasil hisab dan rukyat. Sebenarnya masalah ini juga sudah ditentukan garis kebijakannya oleh Kementerian Agama RI (lihat artikel sebelumnya). Mungkin hal inilah yang sering dipertanyakan oleh masyarakat luas. Bidang Astronomi sebagai ilmu (pure science atau MIPA) memang kini dapat menentukan “New Moon” dengan ketepatan yang semakin dapat diandalkan, namun tidak untuk menentukan “New Month” yang lebih ke ranah religi. Kalau pada jaman dahulu kala memang menjadi lumrah apabila seorang astronom juga sekaligus ulama besar sebagai penentu kebijakan ibadah umat, bahkan banyak juga yang kepakarannya berkombinasi semisal dengan ahli Kimia, Fisika, dan Matematika.
  12. Sekali lagi harus diakui bahwa pada kenyataannya di kalangan masyarakat Muslim di Indonesia terdapat berbagai metode dalam penentuan awal bulan hijriah, yang menyebabkan terjadinya perbedaan dalam penentuan baik awal Ramadhan, Syawal, dan Dzulhijjah, yang berbeda dengan apa yang diputuskan oleh Pemerintah RI. Ragam metode yang membuat tidak bersatunya umat (kecuali bila posisi Bulan yang “sangat menguntungkan”). Terdapat 3 tipe penetapan yang antara lain berdasarkan:
    • Metode hisab murni tanpa memerlukan konfirmasi hasil rukyat (hasil teori perhitungan tidak perlu dibuktikan di lapangan).
    • Metode rukyat yang dipandu oleh sistem hisab yang akurat,
    • Metode rukyat murni, yang tidak ada kaitannya atau tidak mau tahu dengan metode hisab. Tidak ada panduan hisab untuk melakukan rukyat. Pada metode ini akan dilakukan rukyat tanpa terpengaruh oleh posisi hilal pada saat Matahari terbenam – apakah posisi hilal di bawah dan di atas ufuk menurut hasil hisab. Ibarat mengamati langit tanpa bekal tentang apa dan di mana bendanya akan dilihat.

Perbedaan seperti ini sebenarnya sama sekali tidak menjadi masalah sepanjang masyarakat mengetahui alasan penetapannya secara ilmiah. Namun, dan yang jelas dalam hal ini, Pemerintah RI melalui Kementerian Agama sudah memiliki standard penentuan yang lengkap, baik yang berbasis hisab hingga merangkum ragam metode perhitungan modern maupun rukyat dari yang bersifat tradisional hingga pengamatan berteknologi canggih; juga disertai data yang dihimpun dari beragam atau banyak sumber dan narasumber; termasuk yang tidak kalah pentingnya demi kesatuan umat di wilayah RI, yaitu menghimpun semua hasil di atas dengan satu langkah upaya nan apik sebagai ajang kesepakatan secara nasional melalui sidang itsbat-nya. Sekali lagi, bahwa keputusan akhir diserahkan kepada kesepakatan para ulama yang memang memiliki kompetensi dalam hal seperti ini untuk menjadi pedoman tauladan umatnya. Salam Astronomi.

 

 

 

 

 

 

Category: