Written by Widya Sawitar
Category:

User Rating: 0 / 5

Star InactiveStar InactiveStar InactiveStar InactiveStar Inactive

Ref.: George A. Davis Jr. (p.23)

 

Kembali membahas sejarah pemetaaan langit, maka setelah perkembangan budaya Mesopotamia, Sumeria, dan Babylonia, maka yang patut dicatat adalah pada era astronom dan ahli Matematika (juga kedokteran) Yunani yang bernama Eudoxus (390/408 – 337/340/355 SM, dari Cnidus – Laut Hitam), murid dari Archytas dan Plato (428/427 atau 424/423 – 348/347 SM) sang pendiri akademi ilmu pengetahuan di Athena (Gurunya adalah Socrates dan murid terkenalnya Aristotle). Pada era-nya bahwa Astronomi adalah cabang dari Matematika. Jadi dimaklumi apabila kala itu dalam sejarah budaya Yunani ditemui bahwa seorang astronom adalah juga seorang matematikawan (dan umumnya juga sebagai filsuf).

Written by Widya Sawitar
Category:
Lukisan zodiak di dinding gua. Credit: Constellations – IAU

User Rating: 5 / 5

Star ActiveStar ActiveStar ActiveStar ActiveStar Active

These stars you can see returning in orderly succession as the years pass,
for all these images are very firmly fixed in the heaven through the moving night.

Aratus (315-245 SM) dalam karyanya “Phaenomena” (275 SM) (Ref.: Hunter)

 

Jika kita melihat bintang gemintang di kubah langit malam nan cerah, kesan yang mungkin terjadi dalam rentang usia hidup kita bahwa konfigurasi mereka tampak abadi dan tidak berubah. Perubahan pun hanya “sekedar” bahwa mereka terbit dan terbenam hari demi hari. Bila kita ikuti waktu demi waktu, mereka semua benar-benar meyakinkan kita bahwa mereka “hampir” tidak pernah berubah. Ketika melihat ke samudra perbintangan, yang jelas bahwa Anda akan melihat bintang-bintang yang sama – yang telah disaksikan oleh leluhur kita atau secara global dinikmati oleh manusia sejak ribuan tahun yang lalu, sejak keberadaannya.

Written by Widya Sawitar
Category:
Meteor. Credit: ESO/C. Malin

User Rating: 3 / 5

Star ActiveStar ActiveStar ActiveStar InactiveStar Inactive

Pada saat langit malam nan cerah tiada berawan, cadar kubah langit perbintangan pun menampakkan kesejatiannya. Taburan bintang gemintang diselingi kehadiran sang pengelana dan sang dewi malam pun menjadi suguhan yang menimbulkan decak tiada berkesudahan. Namun, kadang tampak melesat seberkas cahaya yang cukup membuat decak tadi mengalami jeda sekejap. Terlihat seolah ada bintang berkelebat. Arah maupun kapan waktu munculnya sulit ditebak. Kadang tampak banyak secara bersamaan. Umumnya terlihat sangat singkat dan sebelum kita sadari, bendanya sudah raib entah ke mana. Apa gerangan benda langit ini?

Written by Widya Sawitar
Category:
Meteor Shower 1966. Credit: A. Scott Murrell

User Rating: 1 / 5

Star ActiveStar InactiveStar InactiveStar InactiveStar Inactive

 

“… cumlorot lir lintang ngalih wiraga mawarna warna ...”

Serat Centhini IV, p.183

(Ref.: Sawitar, 2015)

Pada artikel sebelumnya telah dibahas mengenai meteor dan juga salah satu fenomena yang menyertainya, yaitu hujan meteor. Kali ini kita coba menilik 2 peristiwa hujan meteor yang cukup spektakuler baik penampilan di kubah langit, maupun keterkaitannya dengan benda langit lain, yaitu komet yang juga cukup dikenal (lihat artikel Meteor dan Komet).

Written by Widya Sawitar
Category:
Avenue of Sphinx. Credit: Gelia/Fotolia

User Rating: 2 / 5

Star ActiveStar ActiveStar InactiveStar InactiveStar Inactive

Seperti tema yang pernah dipaparkan pada artikel mitologi Matahari sebelumnya, yaitu yang berasal dari ranah Nusantara (Tèkang Adityamandala – budaya Jawa) dan hadirnya tokoh HELIOS, Sang Dewa Matahari pada budaya Yunani/Romawi, maka kali ini dicoba didongengkan serba sedikit mengenai kisah terkait yang berasal dari ragam budaya manca negara. Sebagian besar kisah kali ini dicoba dengan meringkas data berbasis beberapa situs yang ditulis pada akhir artikel, juga dari rujukan tambahan termasuk latar belakang Astronomi.