Written by Widya Sawitar
Category:
Ilustrasi Pembentukan Tata Surya. Credit: NASA dan ESA

User Rating: 3 / 5

Star ActiveStar ActiveStar ActiveStar InactiveStar Inactive

Tata Surya terdiri dari planet, satelit, planet kerdil, meteoroid, planetoid/asteroid, komet, dan Matahari sebagai bintang sekaligus sebagai pusatnya. Delapan planet berturut dari yang paling dekat Matahari adalah Merkurius, Venus, Bumi, Mars, Jupiter, Saturnus, Uranus, dan Neptunus. Mereka mengedari Matahari pada lintasan masing-masing. Kecuali Merkurius (inklinasi/kemiringan bidang orbit 7o),

Written by Azis & Widya
Category:
Lintasan edar 2016 HO3 terhadap Matahari.

User Rating: 2 / 5

Star ActiveStar ActiveStar InactiveStar InactiveStar Inactive

Pada artikel Selintas Tata Surya sedikit disinggung tentang anggota Tata Surya yang pertama kali ditemukan oleh Piazzi tahun 1801, yaitu asteroid yang lalu dinamai Ceres (Tahun 2006, benda ini berubah statusnya menjadi planet kerdil bersama Pluto).

Dengan semakin majunya peranti observasi, diketahui bahwa ternyata jumlah asteroid ada jutaan buah. Hampir semua berada di Sabuk Asteroid, di antara Mars dan Jupiter. Namun, banyak pula yang menyimpang. Hal ini karena dinamikanya serta gangguan gravitasi planet Jupiter sedemikian eksentrisitasnya menjadi besar (lintasan ellips yang sangat lonjong). Mereka ada yang menjadi pengembara sampai ke dekat Merkurius. Yang lintas dekat Bumi sering dijuluki EGA (Earth Grazer Asteroid).

Category:

User Rating: 2 / 5

Star ActiveStar ActiveStar InactiveStar InactiveStar Inactive

 

Puisi Astronomi

oleh: Joseph Edwin

 

“Ada efek anestesi dari kelaziman. Sebuah obat bius yang menumpulkan indera dan menyembunyikan ketakjuban hidup.”

 

Profesor Richard Dawkins mengungkap demikian dalam bukunya Unweaving the Rainbow yang diterjemahkan menjadi Mengurai Pelangi.

 

Ratapan tadi menggambarkan rasa penasaran terhadap ‘keajaiban’ dunia yang kian menyusut. Segala yang hadir di keseharian kita sering menjadi latar indah di panggung kehidupan tanpa mendapat perhatian lebih.

 

Written by Widya Sawitar
Category:
Gerhana Bulan Total. Credit: Ronny Syamara

User Rating: 3 / 5

Star ActiveStar ActiveStar ActiveStar InactiveStar Inactive

Saat ini harus diakui bahwa kubah langit malam di kota metropolitan Jakarta sudah tidak begitu indah. Hal ini disebabkan karena atmosfer di atas kota Jakarta sudah tercemar oleh gemerlapnya lampu-lampu kota yang sangat terang, sehingga suasana malam hari pun terlihat seperti siang hari (sebut sebagai polusi cahaya). Selain itu, juga kualitas udaranya pun semakin mengkhawatirkan (sebut sebagai polusi udara minimal akibat jutaan kendaraan bersliweran tiap hari).