01.

Pertunjukan Planetarium Ditutup

Hari Sabtu tanggal 8 April 2017 pertunjukan Planetarium DITUTUP untuk perbaikan komponen proyektor utama M-VIII sampai batas waktu yang belum ditentukan.

Selengkapnya

02.

Peneropongan Matahari

Sudah pernah lihat bintik Matahari? Kalau belum, yuk kita neropong Matahari bersama-sama. Silahkan cek jadwal dan waktunya ya.

Selengkapnya

03.

Perubahan Harga Tiket Pertunjukan

Berdasarkan Peraturan Gubernur Nomor 202 tanggal 20 Oktober 2016. Mulai hari Selasa, 22 November 2016 harga tiket pertunjukan Planetarium Jakarta untuk perorangan adalah sebagai berikut:

Selengkapnya

04.

Artikel Astronomi

Simak ulasan artikel astronomi dari kami yang membahas berbagai aspek terkait fenomena benda langit hingga ranah budaya.

Selengkapnya
Category:
Hilal Dzulhijjah 1435H. Kredit: Ronny Syamara

Salah satu aplikasi langsung Astronomi di kalangan masyarakat terwujud dalam bentuk penentuan waktu-waktu yang terkait erat dengan pelaksanaan ibadah keagamaan. Kegiatan tersebut mencakup penentuan jadwal waktu sholat, awal bulan puasa (1 Ramadhan), Idul Fitri (1 Syawal), Idul Adha (10 Dzulhijjah), kalender standard Masehi (berdasar gerak semu Matahari di kubah langit), kalender Hijriyah (berdasar lintas edar ataupun perubahan fase Bulan), dan pelaksanaan sholat gerhana pada saat terjadi Gerhana Matahari atau Gerhana Bulan, dll. Dalam hal ini termasuk penentuan arah kiblat.

Written by Widya Sawitar
Category:
GMT tahun 2006. Kredit: Fred Espenak

Beragam mitos tentang gerhana di berbagai tempat di seluruh dunia sangat menarik untuk disimak sebagai pelestarian kekayaan khasanah budaya manusia pada masa lalu. Salah satunya adalah yang terkait Gerhana Matahari. Baik di India dan Indonesia terdapat kisah Raksasa Batara Kala atau Rahu yang menelan Matahari yang disebabkan rasa dendamnya kepada Sang Surya. Ketika masyarakat belahan Bumi lain berbicara tentang fenomena gerhana, muncul pula cerita tentang Naga Langit yang menelan Matahari atau Bulan. Yang tidak kalah menariknya adalah adanya adat kebiasaan masyarakat tertentu yang begitu beraneka ketika gerhana terjadi.

Category:

Dalam kondisi langit malam yang sangat cerah tiada berawan, tetap saja benda langit yang dapat dilihat dengan mata biasa jumlahnya terbatas. Beruntung tahun 1609 ada Galileo Galilei dari Italia yang mempelopori pengamatan benda langit dengan teleskop (teropong bintang). Sejak itu pengetahuan tentang Jagad Raya makin bertambah.Diawali pengetahuan tentang Bumi dan

Category:
Gerhana Bulan Total 16 Juni 2011 yang diambil dengan menggunakan kamera DSLR dan teleskop reflektor Takahashi (panjang fokus 1000 mm) di Planetarium dan Observatorium Jakarta pukul 02.25 WIB. Kredit: Ronny Syamara
Gerhana Bulan Total 16 Juni 2011. Kredit: Ronny Syamara

Sebagai salah satu instansi Astronomi, maka salah satu tujuan Planetarium dan Observatorium Jakarta adalah melayani masyarakat umum dalam arti seluas-luasnya dalam memberikan informasi seputar fenomena astronomis yang ada, sekaligus secara internal juga melakukan penelitian ilmiah secara terbatas terhadap fenomena terkait. Tentunya hal ini agar masyarakat semakin memahami fenomena astronomis dengan baik dan hasilnya adalah semakin terbukanya cakrawala pengetahuan berlandas informasi ataupun metode yang tepat dan memahami aspek yang terkait.