01.

Informasi Penutupan Pelayanan Publik

Informasi Penutupan Pelayanan Publik terkait pandemik virus Corona di Jakarta.

Selengkapnya

02.

Jadwal Pertunjukan Teater Bintang

Informasi mengenai Jadwal Pertunjukan Teater Bintang (Planetarium) untuk rombongan dan perorangan.

Selengkapnya

03.

Kegiatan Peneropongan Langit Malam

Melihat lebih dekat benda-benda langit malam seperti Bulan dan beberapa Planet menggunakan teleskop.

Selengkapnya

04.

Kegiatan Peneropongan Matahari

Sudah pernah lihat bintik Matahari? Kalau belum, yuk kita neropong Matahari bersama-sama. Silahkan cek jadwal dan waktunya ya.

Selengkapnya
Written by widya sawitar
Category:

FENOMENA KONJUNGSI

25 September 2020

 

Widya Sawitar

Gambar 1
Pada konfigurasi seperti tampak pada foto ini,
praktis akan terjadi konjungsi planet Mars hingga Neptunus;
Arah sebaliknya adalah antara Venus, Merkurius dan Matahari.
(Credit: Solar System - Photojournal-NASA-JPL-PIA12114)

Kondisi kubah langit malam Jakarta sudah tercemar dengan polusi udara dan cahaya
yang sangat memprihatinkan. Sangat mudah indikasinya.
Lihatlah taburan bintang-bintang yang semakin sedikit terlihat walau malam cerah tiada berawan.
Tiada lagi dendang lagu “Kupandang langit penuh bintang bertaburan”.
Kini hanyalah mimpi semata, khususnya bagi para muda di Jakarta.
Tentu suasana ini menjadi salah satu karunia yang sudah semakin diredupkan
(silakan simak artikel Polusi Cahaya di situs ini)

Namun, kita masih dapat bersyukur
karena masih dapat terlihat bintang yang terang, juga planet dan Bulan.
Termasuk rasi bintang yang sejak ribuan tahun lalu dipakai leluhur untuk bercocok tanam
dan mengarungi samudra. Sebut Orion (Lintang Waluku) dan Crux (Lintang Gubug Penceng).

Tentu saja selain kondisi minim polusi,
maka untuk observasi fenomena langit menjadi lebih ideal apabila cuaca cerah.
Hal ini karena kita terorientasi untuk melihat dengan panjang gelombang kasat mata.
Agak berbeda dengan semisal teleskop radio, yang walaupun kondisi penuh polusi dan berawan tebal,
kita tetap dapat bebas lepas melihat ke kedalaman jagad semesta.

Menatap Kubah langit

Artikel ini telah dipaparkan pada fenomena konjungsi tanggal 7 September 2019. Di sini sekedar mengulang dengan pergantian data dan perbaikan naskah. Kembali menyoal objek langit, apabila melihat dengan cermat, nyatanya di kubah langit malam selain hadirnya bintang, kita dapat melihat benda langit yang mengembara di lautan bintang, yaitu Bulan dan planet. Inipun sangat banyak yang kurang menyadari kehadirannya, walau bendanya sangat jelas terlihat tanpa alat bantu apapun (layaknya banyak yang menyebut adanya Bintang Kejora dan sangat banyak yang sama sekali tidak tahu bahwa itu adalah planet Venus). Pergeseran Bulan dan planet yang cukup jelas inilah yang menyebabkan mereka tidak setiap saat dapat dilihat. Mereka terus bergeser.

Written by widya sawitar
Category:

GEMINI SI KEMBAR

Oleh

Widya Sawitar

 


Gambar 1
Gambaran Gemini pada atlas John Flamsteed
(ianridpath)

Genitif: Geminorum
Singkatan: Gem
Urutan luasan: ke 30
Sejarah: Salah satu dari 48 rasi bintang pada karya Ptolemeus (Almagest)
Nama Yunani: Δίδυμοι (Didymoi)

Gemini adalah salah satu rasi bintang Zodiak dan terletak di belahan Bumi utara. Dalam urutan Zodiak adalah yang ke 3 dan merupakan salah satu rasi bintang dari 48 rasi bintang yang terdapat pada karya Ptolemeus pada abad 2, Almagest, dan bertahan hingga kini di antara 88 rasi bintang modern. Nama ini adalah nama latin untuk "si kembar," dan dikaitkan dengan si kembar Castor dan Pollux dalam mitologi Yunani. Simbolnya seperti pada gambar di atas (♊). Luasannya ke 30 (513,761 derajat persegi).

Written by widya sawitar
Category:

Kegiatan Penelitian dan Pengamatan Bulan
dalam Penentuan Awal Bulan Muharram 1442 H (2020 M)

 

Tim Observasi Planetarium dan Observatorium
Unit Pengelola Pusat Kesenian Jakarta Taman Ismail Marzuki
Dinas Kebudayaan Provinsi DKI Jakarta

 

Disarikan oleh Widya Sawitar


Topik penentuan awal bulan Hijriah terasa menarik karena penuh dinamika khususnya pada 3 bulan istimewa, yaitu Ramadan, Syawal, dan Zulhijah. Walau selalu ada ulasannya, topik ini tidak lekang oleh waktu. Kadang terasa gaduh walau dalam konteks harapan yang positif. Di sini disajikan kembali tinjauan yang sama untuk perhitungan kapan tahun baru pada kalender Hijriah tahun 1442H (2020M), yaitu penentuan tanggal 1 Muharram 1442H. Akan disaji-ulangkan kembali dalam hal latar belakang dan yang terkait. Landasan teori juga diulang berbasis paparan pada penentuan awal bulan Hijriah yang telah lewat. Di sini, anggap saja sekedar mengingatkan kita kembali.
Seperti yang terjadi sebelumnya bahwa salah satu dari sekian banyak aplikasi langsung dari bidang ilmu Astronomi di kalangan masyarakat terwujud dalam bentuk penentuan waktu yang terkait erat dengan waktu ibadah keagamaan. Bagaimanapun, ibadah seperti ini banyak yang berpedoman pada kalender berbasis Bulan (atau kombinasi antara Matahari dan Bulan, yaitu sistem luni-solar). Memang secara faktual yang tampak adalah pada umat Muslim yang berpedoman pada kalender Hijriah.
Di bawah ini, dapat dilihat hasil perhitungan astronomis (hisab) yang dilakukan bersama Bapak H. Cecep Nurwendaya, MSi yang merupakan salah satu anggota tim Planetarium dan Observatorium UP PKJ TIM sekaligus tenaga ahli dari Kementerian Agama RI, juga perbandingan dengan beberapa hasil hisab penentuan awal bulan Muharram 1442H di mana hasilnya akan dijadikan pedoman kegiatan observasi (rukyat) yang rencananya akan dilaksanakan di Kawasan Taman Impian Jaya Ancol, Jakarta, pada tanggal 19 dan 20 Agustus 2020.

Written by Widya dan Nadya
Category:

HUJAN METEOR PERSEIDS 

oleh:

Nadya Hidayatie dan Widya Sawitar

 

Walau kubah langit pada malam hari di Jakarta saat ini sudah tidak indah lagi dengan bentang perbintangan karena atmosfernya tercemar oleh polusi udara dan polusi cahaya, namun tetap untuk objek langit tertentu masih dapat ditera dengan baik. Pemetaan langit masih dapat dilakukan, termasuk hadirnya objek dekat seperti planet dan Bulan yang memang relatif terang.

Kondisi di atas tentu berbeda apabila kita pergi agak jauh dari kota Jakarta, ke tempat yang tingkat polusinya rendah. Ribuan bintang di langit dapat disaksikan, yang sudah sejak jaman dahulu dijadikan pedoman waktu dan arah bagi para nelayan di laut dan pengembara, serta dijadikan pedoman musim bagi para petani. Tidak kalah pentingnya adalah jembatan spirit untuk memahami karya ciptaNya.

Apabila melihat dengan cermat, selain bintang gemintang, planet, dan Bulan, kadang masih dapat terlihat meteor dan komet, bahkan sekarang dapat pula terlihat satelit buatan manusia yang berjalan perlahan di samudra perbintangan. Ada yang unik saat kita melakukan pengamatan benda langit, sadar ataupun tidak, menjadikan kita dapat mengenal dimensi waktu, yang selanjutnya menjadi penting dalam pengamatan dan memahami fenomena alam secara umum dalam dimensi ruang alam semesta. Termasuk fenomena yang pada bulan Agustus mendatang dapat kita cermati.

Written by widya sawitar
Category:

CANCER
SANG KEPITING

Oleh :

Widya Sawitar

Gambar 1
Atas: Simbol Cancer
Bawah: Cancer, ilustrasi pada karya Johann Bode, Uranographia (1801).
Gugus terbuka Praesepe tampak di tengah cangkang kepiting,
sedikit di utara garis ekliptika,
di antara bintang Asellus Borealis and Asellus Australis (Gamma and Delta Cancri).
(ianridpath - Cancer)

Genitif: Cancri
Singkatan: Cnc
Ranking Luasan: 31
Sejarah: Salah satu dari 48 rasi bintang dalam daftar karya Ptolemy (Almagest)
Nama Yunani: Karkinos

 

Cancer adalah salah satu dari tiga belas rasi bintang Zodiak dan terletak di belahan Bumi utara. Simbolnya seperti yang tertera pada gambar 1 di atas (a). Luasannya di kubah langit kisaran 506 derajat persegi dan bintang-bintangnya relatif redup di mana bintang paling terangnya, Beta Cancri hanya memiliki magnitudo visual 3,7 (limit bawah kasat mata adalah 6). Pada rasi bintang ini diketahui terdapat 2 bintang yang memiliki planet, termasuk 55 Cancri yang memiliki lima planet terdiri dari 1 Super-Bumi (seperti Bumi) dan 4 planet gas raksasa (struktur tubuh seperti Jupiter). Diketahui pula terdapat 1 planet yang berada pada zona layak huni dan karenanya memiliki komposisi kimiawi yang mirip dengan Bumi. Di pusat area terdapat gugus terbuka (open cluster) yang disebut Praesepe, yang dalam katalog Messier bernomor 44 dan populer bagi para astronom amatir.

 

Mitologi

Penokohan hewan kepiting ini merupakan karakter minor pada kisah Heracles (Romawi: Hercules). Kisah populernya saat Heracles harus melawan monster berkepala banyak (Hydra) di rawa dekat Lerna (Lernaeus, Lernean Hydra). Saat itulah diceritakan sang kepiting muncul dari rawa untuk menggigit kaki Heracles. Hal ini membuat Heracles marah dan diinjaklah sang kepiting. Walau singkat ceritanya, konon dewi Hera (Juno), yang sangat membenci Heracles, tetap mengapresiasi usaha sang kepiting yang kemudian sebagai penghormatan ditempatkanlah sang kepiting di lautan bintang di kawasan Zodiak. Di Yunani disebut Karkinos (Latin: Carcinus). Menurut filsafat Kaldea dan Platonis, sosoknya adalah “Gate of Men”, yang melaluinya jiwa turun dari surga ke tubuh manusia.