01.

Informasi Penutupan Pelayanan Publik

Informasi Penutupan Pelayanan Publik terkait pandemik virus Corona di Jakarta.

Selengkapnya

02.

Jadwal Pertunjukan Teater Bintang

Informasi mengenai Jadwal Pertunjukan Teater Bintang (Planetarium) untuk rombongan dan perorangan.

Selengkapnya

03.

Kegiatan Peneropongan Langit Malam

Melihat lebih dekat benda-benda langit malam seperti Bulan dan beberapa Planet menggunakan teleskop.

Selengkapnya

04.

Kegiatan Peneropongan Matahari

Sudah pernah lihat bintik Matahari? Kalau belum, yuk kita neropong Matahari bersama-sama. Silahkan cek jadwal dan waktunya ya.

Selengkapnya
Written by widya sawitar
Category:

LIBRA
SKETSA KESETIMBANGAN

Widya Sawitar

 


Gambar 1
Atas: Simbol Libra.
Bawah: Wadah timbangan Libra,
digambarkan dalam Atlas Coelestis karya John Flamsteed (1646 – 1719)
yang diterbitkan di London pada tahun 1729.
Tampak Scorpius di bagian kiri bawah dan kaki Virgo terlihat di kanan atas.
(https://www.ianridpath.com/startales/Libra.htm)
(https://lhldigital.lindahall.org/cdm/compoundobject/collection/astro_atlas/id/1200/show/1172/rec/12)

Genitif: Librae
Singkatan: Lib
Ranking Luasan: 29
Sejarah: Salah satu dari 48 rasi bintang dalam daftar karya Ptolemy (Almagest)
Nama Yunani: Chele/Chelae

Pada era Yunani kuno, wilayah langit yang dikenal sebagai Libra adalah bagian dari capit/cakar Sang Kalajengking Scorpius. Wilayah ini disebut Chelae, yang artinya cakar. Kini luasan Libra (ke 29) bahkan lebih besar dari Scorpius (ke 33).

Identifikasi daerah ini dengan gambaran neraca (simbolisasi keseimbangan) menjadi mapan sejak abad pertama SM di Romawi, meskipun secara tepat kapan dan oleh siapa dibuat hingga kini masih diliputi kabut misteri. Ptolemy dalam Almagest  menyebutnya “Claws”, sesuai tradisi kala itu walaupun gambaran neraca sudah mulai muncul yang tertera pada Farnese Atlas, sebuah patung Romawi yang dibuat secara bersamaan dengan kala waktu penulisan Almagest. Bahkan gambaran ini diduga telah ada sejak 3.200 SM.

Libra adalah satu-satunya rasi bintang Zodiak yang merupakan benda mati; 12 rasi bintang lainnya merupakan gambaran hewan atau manusia. Begitu identifikasi Libra digambarkan sebagai neraca (balok kesetimbangan), maka kala itu sepenuhnya yang awalnya Scorpius dibagi menjadi 2, yaitu Scorpius dan Libra. Bersamaan simbolisasi keseimbangan, muncullah kisah terkait masalah keadilan dengan lahirnya

Written by Widya dan Nadya
Category:

ARIES SANG DOMBA

Nadya Hidayatie dan Widya Sawitar

 

Aries merupakan salah satu rasi bintang zodiak yang terletak di belahan langit bagian utara.
Konstelasi ini berada di urutan ke-39 berdasarkan luasannya di kubah langit.
Dalam bahasa latin berarti domba,
dengan simbolnya yang melambangkan tanduk domba.
Konstelasi ini dilukiskan untuk menghormati seekor domba jantan terbang
yang dalam mitologi memiliki bulu emas yang menyelamatkan kedua putri Raja Thebes.

Nama Genetif: Arietis (disingkat Ari)
Sumber Awal: Salah satu dari 48 konstelasi Yunani yang disusun Ptolemy dalam Almagest
Nama Yunani: Κριός (Krios)

Ilustrasi Aries pada the Atlas Coelestis karya John Flamsteed (1729).
Di langit, tampak sang domba tidak memakai bulu, yang dilepaskan di Bumi.
(https://www.ianridpath.com/startales/Aries.htm)

Matahari melakukan gerak semu tahunan akibat revolusi Bumi terhadapnya, sehingga jejak lintasannya membentuk lingkaran khayal yang disebut ekliptika di mana lingkaran ini berada di kubah langit perbintangan dilatarbelakangi oleh rasi-rasi bintang yang populer disebut rasi bintang Zodiak di mana ada 13 rasi bintang yang dilalui oleh Matahari, yaitu Aries, Taurus, Gemini, Cancer, Leo, Virgo, Libra, Ophiuchus, Scorpius, Sagittarius, Capricorn, Aquarius, dan Pisces di mana luasan masing-masingnya di kubah langit tidaklah sama sejak awal pemetaan langit dan kini diformalkan oleh IAU.

Rasi-rasi bintang memiliki penggambaran yang berbeda-beda di langit, yang salah satunya adalah domba, yaitu Aries, dan termasuk dalam jajaran Zodiak. Sang domba jantan ini digambarkan menoleh ke arah rasi bintang Taurus Sang Banteng. Luasan di urutan ke-39 di antara 88 rasi bintang dengan luas 441,395 derajat persegi (1,1% dari luas bidang bola langit). Matahari perlu waktu kisaran 25,5 hari untuk melintasi wilayah Aries, yaitu sekitar tanggal 19 April hingga 13 Mei.

Di langit malam, Aries berada di belahan langit utara dan terletak di antara

Written by Nadya Hidayatie dan Widya Sawitar
Category:
GERHANA BULAN PENUMBRA
6 JUNI 2020

Nadya Hidayatie dan Widya Sawitar

 

Atas dasar perhitungan astronomi, pada hari Sabtu dinihari, tanggal 6 Juni 2020 akan terjadi Gerhana Bulan Penumbra (GBP). Proses GBP dimulai pada pukul 00:45:50 WIB dan berakhir pada pukul 04:04:03 WIB. Peristiwa GBP ini praktis dapat disaksikan oleh semua pengamat di wilayah Indonesia. Namun demikian, untuk mengamati fenomena ini bagi awam mungkin tidak terlalu menyita perhatian. Hal ini karena tidak terjadi perubahan yang signifikan pada wajah Bulan. Bahkan mungkin bagi sementara masyarakat tidak menyadari bahwa saat itu terjadi gerhana. Berbeda sekali dengan Gerhana Bulan Sebagian (GBS) atau Gerhana Bulan Total (GBT) di mana wajah Bulan tampak gelap sebagian demi sebagian, bahkan yang seharusnya purnama tampak menjadi separuh, sabit, bahkan berubah merah tembaga dan jauh dari kisah cemerlangnya Bulan Purnama. Sebagai catatan bahwa penampakan fenomena langit pada artikel ini berpedoman dengan sekiranya yang dapat disaksikan dari kota Jakarta, termasuk perhitungan waktu kejadiannya (WIB).

Written by widya sawitar
Category:

Penelitian dan Pengamatan Bulan
dalam Penentuan Awal Bulan Syawal 1441H

 

Planetarium dan Observatorium
Unit Pengelola Pusat Kesenian Jakarta Taman Ismail Marzuki
Dinas Kebudayaan Provinsi DKI Jakarta

 

Kompilasi oleh : Widya Sawitar

 

PERENUNGAN AWAL

       Kembali kita berjumpa dalam topik seputar penentuan awal bulan Hijriah. Kali ini adalah penentuan awal Syawal 1441H (2020M). Dalam kurun lebih dari 3 dekade mungkin terasa bagi semua bahwa sering muncul pertanyaan akan adanya perbedaan dalam sebuah ketetapan awal bulan Hijriah yang dibangun utamanya pada ranah religi. Walau tahun demi tahun sudah banyak penjabaran dan penjelasannya, seolah-olah topik ini senantiasa hadir.
Apabila hendak menyimak dengan seksama perkembangannya di masyarakat luas, nyatanya penuh dinamika dalam ragam penafsiran dan perbedaan. Dapat dikatakan bahwa pada ranah kenyataan, kadang terasa gaduh walau dalam konteks harapan yang positif. Di sini disajikan kembali tinjauan yang sama untuk perhitungan penentuan awal Syawal 1441H. Beberapa aspek disaji-ulangkan kembali dalam hal latar belakang dan yang terkait. Sekedar mengingatkan kembali karena penentuan kapan Idul Fitri terakhir telah setahun berlalu.


       Kali ini, kita coba kaitkan bahasan dengan istilah yang begitu populer di kalangan masyarakat Indonesia, yaitu “Lebaran”. Mungkin kata inilah yang paling populer di masyarakat apabila disangkutkan dengan hadirnya 3 bulan Hijriah yang istimewa (Ramadan, Syawal, dan Dzulhijjah). Hal ini karena kebutuhan apapun yang bersifat kasat mata dan terkait penyambutan hari lebaran (Idul Fitri), pada jaman sekarang seolah menjadi hak mutlak pada ranah tuntutan para insaninya, tatkala terhubung dengan pikiran di ranah sayap-duniawi.


       Siapa yang tidak kenal istilah cuti bersama, mudik, THR, baju baru, dll. yang terkait berlebaran? Namun,

Written by widya sawitar
Category:

Bumi dan Jagad Semesta
Sekilas Tinjauan Sejarah Yunani Kuno

 

Bagian Kedua
oleh
Widya Sawitar

 

the subject of metaphysics deals with the first principles of scientific knowledge
and the ultimate conditions of all existence.
More specifically, it deals with existence in its most fundamental state
(i.e. being as being), and the essential attributes of existence.
(https://www.iep.utm.edu/aristotl/)

Seperti yang telah dinyatakan pada artikel Bagian Pertama
bahwa tahap mitos di Yunani mulai pudar menjelang era Masehi,
gagasan fisika-matematis mulai mengemuka menggantikan peran dewa dewi.
Tidak lagi bertumpu pada legenda leluhurnya.
Dasar geometri sebagai peranti penjelas gerak benda langit makin mapan.
Namun, paham geosentris masih dominan di mana Bumi sebagai pusat segala-galanya.
Gagasan pada ranah ilmiah ini dipelopori utamanya oleh Thales
dan banyak lagi pendukungnya pada era selanjutnya.
Salah satu yang mendukung hal ini adalah Aristotle (Aristoteles).

Aristotle (384 – 322 SM)

(Ref.: Joshua J. M.; 22 Mei 2019; https://www.ancient.eu/aristotle/) Berikut ini serba sedikit akan dikisahkan tentang Aristotle yang dianggap merombak konsep “atom”. Baginya, alam semesta adalah satu unsur yang merupakan materi sebagai kesatuan utuh. Bumi tetap diletakkan sebagai pusat segala-galanya (geosentris). Adapun elemen dasarnya adalah