01.

Informasi Penutupan Pelayanan Publik

Informasi Penutupan Pelayanan Publik terkait pandemik virus Corona di Jakarta.

Selengkapnya

02.

Jadwal Pertunjukan Teater Bintang

Informasi mengenai Jadwal Pertunjukan Teater Bintang (Planetarium) untuk rombongan dan perorangan.

Selengkapnya

03.

Kegiatan Peneropongan Langit Malam

Melihat lebih dekat benda-benda langit malam seperti Bulan dan beberapa Planet menggunakan teleskop.

Selengkapnya

04.

Kegiatan Peneropongan Matahari

Sudah pernah lihat bintik Matahari? Kalau belum, yuk kita neropong Matahari bersama-sama. Silahkan cek jadwal dan waktunya ya.

Selengkapnya
Written by widya sawitar
Category:

OPHIUCHUS
SANG PENAKLUK ULAR
(Bagian Pertama)

Widya Sawitar

“. . . the length of Ophiuchus huge
In th' arctic sky”
(Kutipan karya Milton, Paradise Lost / penelope.uchicago.edu/astronomy)
perseus.tufts.edu/hopper/book=10:commline=275 )

Gambar 1
Ophiuchus tampak memegang ular besar, Serpens, yang tergambar pada Atlas Coelestis
karya John Flamsteed (1729), yang terbagi antara Serpens Caput dan Serpens Cauda.
Ophiuchus terlihat berdiri di atas Scorpius Sang Kalajengking.
Tampak pula formasi huruf V di atas ekor ular (Serpens Cauda), sebelah kanan bahu Ophiuchus,
membentuk rasi bintang Taurus Poniatovii yang kini ditiadakan,
yang keberadaannya dibuat oleh Abbe Poczobut dari Wilna Polandia (1777).
Garis putus-putus di kaki Ophiuchus adalah lingkaran ekliptika.
( ianridpath.com/startales)
( lhldigital/compoundobject/collection/astro_atlas ) ( lhldigital/singleitem/collection/astro_images )

Gambar 2
Simbol Ophiuchus (Unicode: U+26CE; https://en.wikipedia.org/wiki/Miscellaneous_Symbols)
Simbol dari manusia yang memegang ular.
Ular itu sendiri merupakan rasi bintang yang terpisah, yaitu Serpens.
(catatan: ada beberapa versi tentang simbol ini, misal https://spaceplace.nasa.gov/starfinder2/en/ )

Genitif: Ophiuchi
Singkatan: Oph
Urutan Luas: 11
Sejarah: Salah satu dari 48 rasi bintang dalam daftar karya Ptolemy (Almagest)
Nama Yunani: Ofioucoz (Ophiouchos)

Ophiuchus merupakan salah satu rasi bintang Zodiak dan terbagi dua oleh ekuator langit nyaris sebanding, walau yang berada di belahan selatan sedikit lebih luas. Namanya berbasis Yunani adalah pemegang atau sebut pawang ular. Wilayahnya di antara Aquila, Serpens, Scorpius, Sagittarius, dan Hercules. Membentang dari sebelah timur kepala Sang Perkasa Hercules hingga ke Scorpius; sebagian wilayahnya berada di dalam jalur putih Bima Sakti. Walaupun senantiasa digambarkan bersama ular, tetapi identifikasi bintang anggotanya antara sang tokoh dengan ularnya berbeda. Ophiuchus kini merupakan rasi bintang Zodiak yang ke 9, diapit oleh Scorpius dan Sagittarius. Matahari melewati daerah ini antara tanggal 29 November hingga 18 Desember.

Written by widya sawitar
Category:

PISCES

SANG IKAN

oleh : 

Widya Sawitar

 

“And here fantastic fishes duskly float,
Using the calm for waters, while their fires
Throb out quick rhythms along the shallow air”
(Kutipan: Mrs. Browning's A Drama of Exile - penelope.uchicago.edu/Thayer/Pisces)

Gambar 1
Lukisan Pisces dalam the Atlas Coelestis karya John Flamsteed (1729).
Seutas tali tampak mengikat masing-masing ke ekor ikan.
Garis putus-putus horisontal yang melewati ikan yang bawah (selatan) adalah ekuator langit,
dan garis putus-putus diagonal adalah ekliptika (lintasan semu tahunan Matahari).
Perpotongan garis tersebut pada lokasi tersebut dikenal sebagai Vernal Equinox.
(https://www.ianridpath.com/startales/Pisces.htm)
(https://lhldigital.lindahall.org/astro_atlas)

Gambar 2
Simbol Pisces.
Rasi bintang Pisces dianggap bersesuaian dengan kondisinya,
yaitu bersamaan dengan posisi Matahari saat musim hujan;
dan simbol di atas merupakan pengejawantahan dua ikan yang bergabung.
Pandangan lainnya bahwa simbol tersebut adalah cerminan pluralitas masyarakat Hittite.

Genitif: Piscium
Singkatan: Psc
Urutan Luas: 14
Sejarah: Salah satu dari 48 rasi bintang dalam daftar karya Ptolemy (Almagest)
Nama Yunani: Ἰχθύες (Ichthyes)

Pisces merupakan salah satu rasi bintang Zodiak dan terletak di belahan langit utara. Namanya berbasis latin adalah (dua) ikan. Wilayahnya terletak di antara Aquarius (barat) dan Aries (timur). Ekliptika dan ekuator langit berpotongan di dalam rasi bintang ini (dan di Virgo, di arah berlawanan). Selain itu, (earthsky.org/astronomy-essentials) Pisces Sang Ikan kadang disebut rasi bintang pertama di Zodiak karena Matahari melewatinya ini saat Titik Balik Maret (March Equinox). Satu tahun tropis didefinisikan sebagai periode waktu antara 2 titik ini. Jadi, di sini, Titik Balik Maret menandai awal tahun baru dan inilah mengapa Pisces dianggap sebagai titik awal Zodiak.

Dari sejarah mitologi bahwa Pisces berasal dari gabungan antara rasi bintang Babylonia Šinunutu (burung layang-layang yang besar yang kini menjadi Pisces) dan Anunitum (ratu langit, ikan bagian utara). Dalam sejarah juga dikenal sebagian dari Pisces termasuk dalam kelompok DU.NU.NU (Rikis-nu.mi, tali/pita ikan).

Written by widya sawitar
Category:

FENOMENA KONJUNGSI

25 September 2020

 

Widya Sawitar

Gambar 1
Pada konfigurasi seperti tampak pada foto ini,
praktis akan terjadi konjungsi planet Mars hingga Neptunus;
Arah sebaliknya adalah antara Venus, Merkurius dan Matahari.
(Credit: Solar System - Photojournal-NASA-JPL-PIA12114)

Kondisi kubah langit malam Jakarta sudah tercemar dengan polusi udara dan cahaya
yang sangat memprihatinkan. Sangat mudah indikasinya.
Lihatlah taburan bintang-bintang yang semakin sedikit terlihat walau malam cerah tiada berawan.
Tiada lagi dendang lagu “Kupandang langit penuh bintang bertaburan”.
Kini hanyalah mimpi semata, khususnya bagi para muda di Jakarta.
Tentu suasana ini menjadi salah satu karunia yang sudah semakin diredupkan
(silakan simak artikel Polusi Cahaya di situs ini)

Namun, kita masih dapat bersyukur
karena masih dapat terlihat bintang yang terang, juga planet dan Bulan.
Termasuk rasi bintang yang sejak ribuan tahun lalu dipakai leluhur untuk bercocok tanam
dan mengarungi samudra. Sebut Orion (Lintang Waluku) dan Crux (Lintang Gubug Penceng).

Tentu saja selain kondisi minim polusi,
maka untuk observasi fenomena langit menjadi lebih ideal apabila cuaca cerah.
Hal ini karena kita terorientasi untuk melihat dengan panjang gelombang kasat mata.
Agak berbeda dengan semisal teleskop radio, yang walaupun kondisi penuh polusi dan berawan tebal,
kita tetap dapat bebas lepas melihat ke kedalaman jagad semesta.

Menatap Kubah langit

Artikel ini telah dipaparkan pada fenomena konjungsi tanggal 7 September 2019. Di sini sekedar mengulang dengan pergantian data dan perbaikan naskah. Kembali menyoal objek langit, apabila melihat dengan cermat, nyatanya di kubah langit malam selain hadirnya bintang, kita dapat melihat benda langit yang mengembara di lautan bintang, yaitu Bulan dan planet. Inipun sangat banyak yang kurang menyadari kehadirannya, walau bendanya sangat jelas terlihat tanpa alat bantu apapun (layaknya banyak yang menyebut adanya Bintang Kejora dan sangat banyak yang sama sekali tidak tahu bahwa itu adalah planet Venus). Pergeseran Bulan dan planet yang cukup jelas inilah yang menyebabkan mereka tidak setiap saat dapat dilihat. Mereka terus bergeser.

Written by widya sawitar
Category:

GEMINI SI KEMBAR

Oleh

Widya Sawitar

 


Gambar 1
Gambaran Gemini pada atlas John Flamsteed
(ianridpath)

Genitif: Geminorum
Singkatan: Gem
Urutan luasan: ke 30
Sejarah: Salah satu dari 48 rasi bintang pada karya Ptolemeus (Almagest)
Nama Yunani: Δίδυμοι (Didymoi)

Gemini adalah salah satu rasi bintang Zodiak dan terletak di belahan Bumi utara. Dalam urutan Zodiak adalah yang ke 3 dan merupakan salah satu rasi bintang dari 48 rasi bintang yang terdapat pada karya Ptolemeus pada abad 2, Almagest, dan bertahan hingga kini di antara 88 rasi bintang modern. Nama ini adalah nama latin untuk "si kembar," dan dikaitkan dengan si kembar Castor dan Pollux dalam mitologi Yunani. Simbolnya seperti pada gambar di atas (♊). Luasannya ke 30 (513,761 derajat persegi).

Written by widya sawitar
Category:

Kegiatan Penelitian dan Pengamatan Bulan
dalam Penentuan Awal Bulan Muharram 1442 H (2020 M)

 

Tim Observasi Planetarium dan Observatorium
Unit Pengelola Pusat Kesenian Jakarta Taman Ismail Marzuki
Dinas Kebudayaan Provinsi DKI Jakarta

 

Disarikan oleh Widya Sawitar


Topik penentuan awal bulan Hijriah terasa menarik karena penuh dinamika khususnya pada 3 bulan istimewa, yaitu Ramadan, Syawal, dan Zulhijah. Walau selalu ada ulasannya, topik ini tidak lekang oleh waktu. Kadang terasa gaduh walau dalam konteks harapan yang positif. Di sini disajikan kembali tinjauan yang sama untuk perhitungan kapan tahun baru pada kalender Hijriah tahun 1442H (2020M), yaitu penentuan tanggal 1 Muharram 1442H. Akan disaji-ulangkan kembali dalam hal latar belakang dan yang terkait. Landasan teori juga diulang berbasis paparan pada penentuan awal bulan Hijriah yang telah lewat. Di sini, anggap saja sekedar mengingatkan kita kembali.
Seperti yang terjadi sebelumnya bahwa salah satu dari sekian banyak aplikasi langsung dari bidang ilmu Astronomi di kalangan masyarakat terwujud dalam bentuk penentuan waktu yang terkait erat dengan waktu ibadah keagamaan. Bagaimanapun, ibadah seperti ini banyak yang berpedoman pada kalender berbasis Bulan (atau kombinasi antara Matahari dan Bulan, yaitu sistem luni-solar). Memang secara faktual yang tampak adalah pada umat Muslim yang berpedoman pada kalender Hijriah.
Di bawah ini, dapat dilihat hasil perhitungan astronomis (hisab) yang dilakukan bersama Bapak H. Cecep Nurwendaya, MSi yang merupakan salah satu anggota tim Planetarium dan Observatorium UP PKJ TIM sekaligus tenaga ahli dari Kementerian Agama RI, juga perbandingan dengan beberapa hasil hisab penentuan awal bulan Muharram 1442H di mana hasilnya akan dijadikan pedoman kegiatan observasi (rukyat) yang rencananya akan dilaksanakan di Kawasan Taman Impian Jaya Ancol, Jakarta, pada tanggal 19 dan 20 Agustus 2020.