01.

Informasi Penutupan Pelayanan Publik

Informasi Penutupan Pelayanan Publik terkait pandemik virus Corona di Jakarta.

Selengkapnya

02.

Jadwal Pertunjukan Teater Bintang

Informasi mengenai Jadwal Pertunjukan Teater Bintang (Planetarium) untuk rombongan dan perorangan.

Selengkapnya

03.

Kegiatan Peneropongan Langit Malam

Melihat lebih dekat benda-benda langit malam seperti Bulan dan beberapa Planet menggunakan teleskop.

Selengkapnya

04.

Kegiatan Peneropongan Matahari

Sudah pernah lihat bintik Matahari? Kalau belum, yuk kita neropong Matahari bersama-sama. Silahkan cek jadwal dan waktunya ya.

Selengkapnya
Written by widya sawitar
Category:

SUPERNOVA

BAGIAN 3

SUPERNOVA TIPE II

oleh

Widya Sawitar

Supernovae are nature’s grandest explosions and an astrophysical laboratory
in which unique conditions exist that are not achievable on Earth.
They are also the furnaces in which most of the elements heavier than carbon have been forged.
Scientists have argued for decades about the physical mechanism
responsible for these explosions. It is clear that the ultimate energi source is gravity,
but the relative roles of neutrinos, fluid instabilities, rotation and magnetic fields
continue to be debated.
(Stan Woosley dan Thomas Janka, 2005, Nature Physics, Volume 1, Issue 3, p.147-154)
https://ui.adsabs.harvard.edu/abs/2005NatPh...1..147W/abstract )
https://arxiv.org/abs/astro-ph/0601261 )

Gambar 1 Nebula Kepiting (Visual)
Sebaran materi hasil SN1054 dengan bentangan 6 tc berhasil dipotret dengan teleskop Hubble.
Warna jingga menunjukkan unsur hidrogen. Bagian pusat berwarna biru-putih cemerlang adalah lokasi ditemukannya pulsar. Sementara biru di bagian luar adalah petunjuk unsur oksigen netral, warna hijau adalah sulfur terionisasi sekali, dan warna merah adalah oksigen terionisasi 2 kali.
Gambar ini adalah gabungan 24 foto dalam kurun waktu Oktober 1999, Januari dan Desember 2000.
Credit: NASA, ESA, J. Hester and A. Loll (Arizona State University)

Seperti yang telah dipaparkan pada artikel Supernova Bagian Pertama dan Supernova Bagian Kedua bahwa ide penulisan ini berawal dari jurnal berjudul Who Really Coined the Word Supernova? Who First Predicted Neutron Stars? karya Osterbrock, D. E. (2001AAS...199.1501O) di mana jawaban untuk kedua pertanyaan tersebut adalah Wilhhelm Heinrich Walter Baade dan Fritz Zwicky. Juga dibahas adanya klasifikasi supernova yang masih terus berkembang dengan adanya penemuan demi penemuan. Juga kesulitan yang nyata dijumpai seperti pada keunikan supernova yang ditemukan astronom amatir, F. Garcia (28 Maret 1993 di M81 / NGC 3031) di mana karakter pada 2 minggu pertama setelah ledakan sesuai SNII. Namun, setelahnya mirip SNIb.

Bahasan kali ini lebih pada ilustrasi ragam klasifikasi terkait supernova tipe dua (SNII). Beberapa diuraikan sedikit teknis matematis, mungkin ada yang berminat untuk menganalisisnya. Sebut sebagai gambaran untuk menganalisis parameter terkait.

Written by widya sawitar
Category:

OPHIUCHUS

SANG PENAKLUK ULAR

(Bagian Kedua)

 

Widya Sawitar

 

“ … Recent studies using the latest X-ray and infrared observations reveal
more than 300 young stellar objects within the large central cloud.
Their median age is only 300,000 years, very young compared to some of the universe's oldest stars, which are more than 12 billion years old … ”
nasa.gov/spitzer/multimedia )

 

Gambar 1 Rho Ophiuchi Cloud Complex
Hasil bidikan dari NASA’s Wide-field Infrared Explorer atau WISE.
Lokasinya sedikit di atas jalur putih Bima Sakti, di perbatasan dengan Scorpius
yang merupakan lokasi pembentukan bintang yang terletak relatif dekat dengan kita
sehingga, layaknya Nebula Orion, maka daerah ini menjadi objek yang banyak dipelajari secara detail.

Nebula yang berwarna putih adalah akibat proses pemanasan dari bintang didekatnya,
menghasilkan apa yang disebut sebagai nebula emisi.
Yang berwarna merah terang di kanan bawah adalah cahaya dari bintang ditengahnya, Sigma Scorpii,
sebagai dampak kehadiran debu yang menyelimutinya
dan menghasilkan objek yang biasa disebut sebagai nebula refleksi.
Lokasi yang gelap yang tersebar di seluruh area gambar adalah wilayah yang penuh dengan gas dingin yang kerapatannya besar sehingga menghalangi cahaya latar belakang
dan hal ini menghasilkan apa yang disebut sebagai nebula absorpsi atau dark nebulae.
Dengan panjang gelombang merah yang panjang, daerah ini relatif terkuak walau karena padatnya debu menjadi relatif sulit untuk melihat ke kedalamannya.
Sementara itu, bintik-bintik berwarna merah muda merupakan bintang-bintang yang baru lahir
di mana sebagiannya masih berselimutkan nebula pembentukannya.
Apabila diamati dengan detektor berbasis cahaya kasat mata,
maka bayi bintang ini tersembunyi dalam nebulanya.

Juga tampak adanya bintang-bintang yang tergolong sangat tua yang terdapat di Bima Sakti
yang berlokasi dalam gugus bola,
yaitu M80 (bintik biru tua di kanan atas) dan NGC 6144 (bawah agak di tengah).
Selain itu terdapat galaksi PGC 090239 ( titik merah redup sebelah kanan nebula emisi, arah pukul 3). Adapun bintang Antares (tidak tampak) berada di kiri bawah
yang ditandai dengan adanya efek difraksi optik teleskop angkasa berupa 2 garis biru.
Credit: NASA/JPL-Caltech/WISE Team - WISE
en.wikipedia.org/Rho Ophiuchi Cloud Complex )

 

Seperti yang telah dipaparkan pada Ophiuchus Bagian Pertama bahwa

Written by widya sawitar
Category:

OPHIUCHUS
SANG PENAKLUK ULAR
(Bagian Pertama)

Widya Sawitar

“. . . the length of Ophiuchus huge
In th' arctic sky”
(Kutipan karya Milton, Paradise Lost / penelope.uchicago.edu/astronomy)
perseus.tufts.edu/hopper/book=10:commline=275 )

Gambar 1
Ophiuchus tampak memegang ular besar, Serpens, yang tergambar pada Atlas Coelestis
karya John Flamsteed (1729), yang terbagi antara Serpens Caput dan Serpens Cauda.
Ophiuchus terlihat berdiri di atas Scorpius Sang Kalajengking.
Tampak pula formasi huruf V di atas ekor ular (Serpens Cauda), sebelah kanan bahu Ophiuchus,
membentuk rasi bintang Taurus Poniatovii yang kini ditiadakan,
yang keberadaannya dibuat oleh Abbe Poczobut dari Wilna Polandia (1777).
Garis putus-putus di kaki Ophiuchus adalah lingkaran ekliptika.
( ianridpath.com/startales)
( lhldigital/compoundobject/collection/astro_atlas ) ( lhldigital/singleitem/collection/astro_images )

Gambar 2
Simbol Ophiuchus (Unicode: U+26CE; https://en.wikipedia.org/wiki/Miscellaneous_Symbols)
Simbol dari manusia yang memegang ular.
Ular itu sendiri merupakan rasi bintang yang terpisah, yaitu Serpens.
(catatan: ada beberapa versi tentang simbol ini, misal https://spaceplace.nasa.gov/starfinder2/en/ )

Genitif: Ophiuchi
Singkatan: Oph
Urutan Luas: 11
Sejarah: Salah satu dari 48 rasi bintang dalam daftar karya Ptolemy (Almagest)
Nama Yunani: Ofioucoz (Ophiouchos)

Ophiuchus merupakan salah satu rasi bintang Zodiak dan terbagi dua oleh ekuator langit nyaris sebanding, walau yang berada di belahan selatan sedikit lebih luas. Namanya berbasis Yunani adalah pemegang atau sebut pawang ular. Wilayahnya di antara Aquila, Serpens, Scorpius, Sagittarius, dan Hercules. Membentang dari sebelah timur kepala Sang Perkasa Hercules hingga ke Scorpius; sebagian wilayahnya berada di dalam jalur putih Bima Sakti. Walaupun senantiasa digambarkan bersama ular, tetapi identifikasi bintang anggotanya antara sang tokoh dengan ularnya berbeda. Ophiuchus kini merupakan rasi bintang Zodiak yang ke 9, diapit oleh Scorpius dan Sagittarius. Matahari melewati daerah ini antara tanggal 29 November hingga 18 Desember.

Written by widya sawitar
Category:

PISCES

SANG IKAN

oleh : 

Widya Sawitar

 

“And here fantastic fishes duskly float,
Using the calm for waters, while their fires
Throb out quick rhythms along the shallow air”
(Kutipan: Mrs. Browning's A Drama of Exile - penelope.uchicago.edu/Thayer/Pisces)

Gambar 1
Lukisan Pisces dalam the Atlas Coelestis karya John Flamsteed (1729).
Seutas tali tampak mengikat masing-masing ke ekor ikan.
Garis putus-putus horisontal yang melewati ikan yang bawah (selatan) adalah ekuator langit,
dan garis putus-putus diagonal adalah ekliptika (lintasan semu tahunan Matahari).
Perpotongan garis tersebut pada lokasi tersebut dikenal sebagai Vernal Equinox.
(https://www.ianridpath.com/startales/Pisces.htm)
(https://lhldigital.lindahall.org/astro_atlas)

Gambar 2
Simbol Pisces.
Rasi bintang Pisces dianggap bersesuaian dengan kondisinya,
yaitu bersamaan dengan posisi Matahari saat musim hujan;
dan simbol di atas merupakan pengejawantahan dua ikan yang bergabung.
Pandangan lainnya bahwa simbol tersebut adalah cerminan pluralitas masyarakat Hittite.

Genitif: Piscium
Singkatan: Psc
Urutan Luas: 14
Sejarah: Salah satu dari 48 rasi bintang dalam daftar karya Ptolemy (Almagest)
Nama Yunani: Ἰχθύες (Ichthyes)

Pisces merupakan salah satu rasi bintang Zodiak dan terletak di belahan langit utara. Namanya berbasis latin adalah (dua) ikan. Wilayahnya terletak di antara Aquarius (barat) dan Aries (timur). Ekliptika dan ekuator langit berpotongan di dalam rasi bintang ini (dan di Virgo, di arah berlawanan). Selain itu, (earthsky.org/astronomy-essentials) Pisces Sang Ikan kadang disebut rasi bintang pertama di Zodiak karena Matahari melewatinya ini saat Titik Balik Maret (March Equinox). Satu tahun tropis didefinisikan sebagai periode waktu antara 2 titik ini. Jadi, di sini, Titik Balik Maret menandai awal tahun baru dan inilah mengapa Pisces dianggap sebagai titik awal Zodiak.

Dari sejarah mitologi bahwa Pisces berasal dari gabungan antara rasi bintang Babylonia Šinunutu (burung layang-layang yang besar yang kini menjadi Pisces) dan Anunitum (ratu langit, ikan bagian utara). Dalam sejarah juga dikenal sebagian dari Pisces termasuk dalam kelompok DU.NU.NU (Rikis-nu.mi, tali/pita ikan).

Written by widya sawitar
Category:

FENOMENA KONJUNGSI

25 September 2020

 

Widya Sawitar

Gambar 1
Pada konfigurasi seperti tampak pada foto ini,
praktis akan terjadi konjungsi planet Mars hingga Neptunus;
Arah sebaliknya adalah antara Venus, Merkurius dan Matahari.
(Credit: Solar System - Photojournal-NASA-JPL-PIA12114)

Kondisi kubah langit malam Jakarta sudah tercemar dengan polusi udara dan cahaya
yang sangat memprihatinkan. Sangat mudah indikasinya.
Lihatlah taburan bintang-bintang yang semakin sedikit terlihat walau malam cerah tiada berawan.
Tiada lagi dendang lagu “Kupandang langit penuh bintang bertaburan”.
Kini hanyalah mimpi semata, khususnya bagi para muda di Jakarta.
Tentu suasana ini menjadi salah satu karunia yang sudah semakin diredupkan
(silakan simak artikel Polusi Cahaya di situs ini)

Namun, kita masih dapat bersyukur
karena masih dapat terlihat bintang yang terang, juga planet dan Bulan.
Termasuk rasi bintang yang sejak ribuan tahun lalu dipakai leluhur untuk bercocok tanam
dan mengarungi samudra. Sebut Orion (Lintang Waluku) dan Crux (Lintang Gubug Penceng).

Tentu saja selain kondisi minim polusi,
maka untuk observasi fenomena langit menjadi lebih ideal apabila cuaca cerah.
Hal ini karena kita terorientasi untuk melihat dengan panjang gelombang kasat mata.
Agak berbeda dengan semisal teleskop radio, yang walaupun kondisi penuh polusi dan berawan tebal,
kita tetap dapat bebas lepas melihat ke kedalaman jagad semesta.

Menatap Kubah langit

Artikel ini telah dipaparkan pada fenomena konjungsi tanggal 7 September 2019. Di sini sekedar mengulang dengan pergantian data dan perbaikan naskah. Kembali menyoal objek langit, apabila melihat dengan cermat, nyatanya di kubah langit malam selain hadirnya bintang, kita dapat melihat benda langit yang mengembara di lautan bintang, yaitu Bulan dan planet. Inipun sangat banyak yang kurang menyadari kehadirannya, walau bendanya sangat jelas terlihat tanpa alat bantu apapun (layaknya banyak yang menyebut adanya Bintang Kejora dan sangat banyak yang sama sekali tidak tahu bahwa itu adalah planet Venus). Pergeseran Bulan dan planet yang cukup jelas inilah yang menyebabkan mereka tidak setiap saat dapat dilihat. Mereka terus bergeser.