Category:
Gerhana Bulan Total 16 Juni 2011 yang diambil dengan menggunakan kamera DSLR dan teleskop reflektor Takahashi (panjang fokus 1000 mm) di Planetarium dan Observatorium Jakarta pukul 02.25 WIB. Kredit: Ronny Syamara

Sebagai salah satu instansi Astronomi, maka salah satu tujuan Planetarium dan Observatorium Jakarta adalah melayani masyarakat umum dalam arti seluas-luasnya dalam memberikan informasi seputar fenomena astronomis yang ada, sekaligus secara internal juga melakukan penelitian ilmiah secara terbatas terhadap fenomena terkait. Tentunya hal ini agar masyarakat semakin memahami fenomena astronomis dengan baik dan hasilnya adalah semakin terbukanya cakrawala pengetahuan berlandas informasi ataupun metode yang tepat dan memahami aspek yang terkait.

 

Adapun kegiatan peliputan ini dapat dilakukan dengan 2 cara, yaitu di Planetarium dan Observatorium Jakarta dan di luar, baik di wilayah Jakarta maupun dimanapun fenomena terjadi. Namun yang jelas bahwa jangkauan kegiatan dan informasi yang diembannya akan berdampak lebih langsung kepada masyarakat. Tentu inipun terkait dengan tersedianya media observasi Astronomi yang cukup memadai yang dimiliki oleh Planetarium dan Observatorium Jakarta baik yang bersifat permanen terpasang di Planetarium dan Observatorium Jakarta maupun yang bersifat mobile yang dapat dibawa kemanapun. Dengan sifat kegiatan yang semakin dapat menjangkau ke wilayah yang luas, tentu diharapkan dapat mengangkat citra planetarium sebagai lembaga layanan publik.

Dari sisi lain, tahun demi tahun minat ataupun rasa penasaran dari masyarakat luas untuk mengikuti fenomena alam maupun astronomis semakin besar terlebih semakin gencarnya media informasi baik berlandas media cetak dan elektronik termasuk via jaringan informasi Astronomi di internet. Jadi dalam hal ini, tuntutan kepada Planetarium pun semakin meningkat. Kebutuhan panduan kepada masyarakat tentang nama, letak, dan waktu pengamatan benda langit terkait fenomena yang terjadi juga semakin besar. Dengan kondisi di atas, Planetarium dan Observatorium Jakarta mengadakan kegiatan berupa Peliputan Fenomena Astronomis. Hal ini telah dilakukan sejak awal berdirinya. Yang cukup besar kegiatannya antara lain:

  1. Peliputan Gerhana Matahari Total 11 Juni 1983 yang bahkan kala itu pemerintah membentuk panitia nasional. Planetarium dan Observatorium Jakarta selain menyelenggarakan kegiatan di area kantor, juga mengirim team peliputan ke daerah Jawa Tengah, yaitu di daerah yang dilewati jalur gerhana,
  2. Tahun 1985 – 1986 secara berkesinambungan selama beberapa bulan meliput penampakan komet Halley dan bekerjasama dengan Himpunan Astronomi Amatir Jakarta (HAAJ) termasuk mengadakan pengamatan terbuka di area bumi perkemahan Pramuka di Cibubur yang diikuti oleh ribuan pengunjung bahkan sempat dihadiri oleh Presiden RI – Soeharto dan jajarannya,
  3. Gerhana Matahari Total 18 Maret 1988 yang jalurnya melewati daerah Sumatera bagian selatan dan Kalimantan pun demikian, sebagian staf memburunya hingga ke Palembang bersama team dari Observatorium Bosscha Lembang dengan mengambil lokasi sekitar jembatan Ampera,
  4. Fenomena tabrakan antara komet Shoemaker-Levy 9 dengan Planet Jupiter antara 17 hingga 24 Juli 1994 yang untuk pertama kalinya manusia dapat menyaksikan fenomena tabrakan antara benda langit secara langsung. Planetarium dan Observatorium Jakarta pun tidak ketinggalan melakukan observasi termasuk untuk umum selama fenomena itu berlangsung,
  5. Gerhana Matahari Total 24 Oktober 1995, selain di area Planetarium dan Observatorium Jakarta juga kembali dikirim team peliputan ke Sangir Talaud di Sulawesi Utara. Masyarakat pun tumpah ruah ke Planetarium dan Observatorium Jakarta maupun ke lokasi peliputan di Sangir Talaud,
  6. Pada saat terjadi Gerhana Matahari Cincin 22 Agustus 1998 bahkan Planetarium dan Observatorium Jakarta membentuk 3 team peliput ke lokasi jalur gerhana (Siborong-borong – batas utara jalur, Sipirok – jalur tengah, Ujungbatu – batas selatan jalur) dan tentunya peneropong untuk masyarakat umum di Planetarium dan Observatorium Jakarta,
  7. Kembali ribuan orang ikut observasi umum ketika terjadi oposisi Planet Mars tanggal 26 Agustus 2003 yang membuat Planetarium dan Observatorium Jakarta (termasuk HAAJ) sangat kewalahan sejak sore hingga menjelang subuh. Memang kala itu terjadi kesalah-pahaman pengetahuan dari masyarakat termasuk media yang mengatakan akan terjadi penampakan Bulan Kembar. Yang sebenarnya adalah baik Bulan maupun Mars dalam fase atau wajah purnama, namun penampakan Bulan maupun Mars tidaklah berubah secara signifikan bagi awam (Mars tidak akan menjadi sebesar Bulan seperti yang banyak diberitakan di media baik cetak maupun elektronik). Jumlah pengunjung peliputan di Planetarium dan Observatorium Jakarta yang sedemikian banyak merupakan rekor dalam sejarahnya bahkan belum terpecahkan hingga kini (yang hampir menyamainya hanya ketika komet Halley, namun kegiatan ini tidak di Planetarium dan Observatorium Jakarta),
  8. Pada saat Gerhana Matahari Cincin 26 Januari 2009, bertepatan dengan berlangsungnya International Year of Astronomy (IYA2009). Program pengamatan, penyuluhan, dan workshop dilaksanakan dan berkolaborasi dengan beragam instansi terkait termasuk Club Astronomi yang ada di SMA dimanapun mereka. Salah satu program melibatkan sekitar 30 orang yang terdiri dari team UNAWE (Universe Awareness) Indonesia, HAAJ (Himpunan Astronomi Amatir Jakarta), dan Planetarium dan Observatorium Jakarta berangkat ke lokasi yang menjadi pilihan, yaitu MTs Negeri Anyer. Berbagi ilmu kepada tidak kurang dari 160-an perwakilan siswa tingkat SMP/SMA se-kecamatan Serang, ditambah puluhan guru pendamping. Nyatanya banyak sekali guru/siswa TK/SD, juga orang tua siswa dan masyarakat sekitar sekolah yang mengikuti acara selama 2 hari tersebut. Sementara itu, pada saat bersamaan juga berlangsung kegiatan yang sama di SMAN 89 Jakarta Timur dikomandani oleh ketua HAAJ yang kebetulan staf penceramah Planetarium dan Observatorium Jakarta. Ratusan siswa SMA berkumpul di sana dengan tuan rumahnya adalah castro Sirius dari SMAN 89 tempat berlangsungnya acara. Sekali lagi, Planetarium dan Observatorium Jakarta pun membuka pengamatan untuk umum yang juga ramai oleh pengunjung,
  9. Peliputan Gerhana Bulan tanggal 26 Juni 2010 pun dilakukan. Melihat kesempatan yang ada, maka Planetarium dan Observatorium Jakarta melaksanakan pengamatan di daerah Prambanan Jawa Tengah dengan terlebih dahulu memberikan penyuluhan sekaligus workshop kepada siswa siswi berkolaborasi dengan Jogja Astro Club (JAC) dengan puncak acara pengamatan untuk umum di pelataran candi Prambanan berbarengan dengan sendratari Ramayana. Pemilihan lokasi dianggap tepat karena fenomena ini kebetulan sukar teramati oleh team di Planetarium dan Observatorium Jakarta yang sepanjang malam mendung bahkan hujan,
  10. Adapun tahun 2011, peliputan Gerhana Bulan Total 16 Juni dilaksanakan dengan mengambil lokasi sekaligus bekerjasama dengan yayasan As-salaam – Solo Jawa Tengah. Penyuluhan dan workshop dilakukan khususnya untuk siswa SMA. Namun, peneropongan umum ditujukan untuk masyarakat luas. Kebetulan juga bahwa sekolah tersebut memiliki castro yaitu CASA dan sedang membangun observatorium. Tenaga pendidiknya aktif, khususnya dalam kegiatan Hisab Rukyat bahkan hingga tingkat nasional,
  11. Kembali fenomena Gerhana Bulan Total terjadi tanggal 4 April 2015. Kali ini sepenuhnya dilaksanakan peliputannya di Planetarium dan Observatorium Jakarta. Kisaran 1000 pengunjung datang sejak sore hingga malam hari. Memang agak sayang karena hingga fase gerhana total cuaca tidak mendukung, hujan dan mendung. Hanya selang beberapa menit setelah fase total barulah langit cerah dan pengunjung pun tertib antri menuju lokasi observasi dipandu oleh staf yang menyediakan 6 teleskop untuk mengamati Bulan diseling mengamati Planet Jupiter yang kebetulan terlihat di puncak langit.
  12. Peliputan Konjungsi antara Bulan dengan planet Venus, Mars, dan Jupiter. Kegiatan ini dilaksanakan di Planetarium dan Observatorium Jakarta. Tidak kurang 1500 pengunjung mendaftar secara online. Walau demikian, yang hadir mengikuti acara dari awal malam hingga jelang terbitnya Matahari kurang dari 1000 pengunjung. Dalam kegiatan ini disajikan pembuka acara berupa ceramah popular, pemutaran film, workshop teleskop, dan puncaknya mengamati bersama dengan 7 teleskop yang dimiliki.

 

Khusus untuk peliputan gerhana, hal ini sangat terkait pula dengan kegiatan lain yang dilaksanakan oleh Planetarium dan Observatorium Jakarta seperti Penelitian dan Pengembangan ataupun Lokakarya Hisab Rukyat. Peristiwa ini dapat digunakan sebagai pengecekan terhadap sistem kalender berbasis Bulan (kalender Qomariyah), meninjau ulang seluruh proses matematis yang terkait masalah posisi benda langit (tinjauan mekanika benda langit dan juga yang terkait rasi bintang yang sangat populer, yaitu zodiak termasuk Tata Koordinat Langit).

Konjungsi antara Bulan dan planet Venus di pagi hari. Kredit: Ronny Syamara

 

Dalam kasus lain, terjadinya Gerhana Bulan Total sebenarnya juga dapat digunakan untuk penelitian tingkat polusi udara di wilayah pengamatan. Dari sisi lain, tentunya masih banyak lagi semisal bila kita berminat menelusuri bagaimana budaya manca negara pada jaman dahulu bahkan hingga saat ini menyikapi peristiwa seperti ini. Bagi sementara kalangan, kehadiran Bulan Purnama menjadi inspirasi dan keterkaguman tersendiri, dan bagaimana sekiranya wajah Bulan yang indah ini berubah ketika gerhana. Ada 2 simpul dapat muncul, kagum dan takut. Memang harus diakui banyak inspirasi yang muncul dengan peristiwa seperti ini, dari satu generasi ke generasi berikutnya sepanjang keberadaan manusia di muka Bumi. Dari budaya lisan turun menurun, maupun sampai era penjelajahan angkasa luar saat ini. Masalah inipun sebenarnya menarik untuk ditelaah, karena bagaimana pun ini adalah alur sejarah peradaban ataupun pola pikir manusia ketika melihat langit sebagai landas laku sehari-hari. Termasuk dalam hal ini adalah tentang bagaimana kita belajar menangkap „pesan langit“ dengan segala dinamikanya. Atau pada kasus Gerhana Matahari Total, bagaimana wajah siang berubah menjadi malam. Banyak cerita masa lalu yang dapat kita ambil sebagai rangkaian catatan budaya bahkan dari seluruh dunia dalam format cerita rakyat, mitos, ataupun legenda yang tentunya memperkaya khazanah budaya kita yang hidup pada jaman yang dikatakan serba modern.

Dengan kegiatan seperti ini dan didukung peralatan teleskop maupun SDM yang memadai serta metode observasi yang benar, tentu akan membuat masyarakat umum merasakan sebuah pengalaman unik. Hal ini diharapkan dapat meningkatkan apresiasi masyarakat terhadap kerja Astronomi dan fungsi Planetarium dan Observatorium Jakarta sebagai instansi yang terkait erat dengan keilmuan tersebut, juga akan semakin banyaknya masyarakat umum mengenal ragam benda langit yang berujung pada meningkatnya kesadaran masyarakat tentang besarnya alam semesta dan Sang Pencipta. Secara internal pun Planetarium dan Observatorium Jakarta semacam tertuntut untuk senantiasa memberi media dan panduan yang mapan untuk mengamati benda langit serta pembekalan pengetahuan dasar tentang observasi benda langit.

Peliputan mendatang adalah fenomena Gerhana Matahari Total pada hari Rabu, tanggal 9 Maret 2016 yang terjadi pagi hari bersamaan dengan Hari Raya Nyepi. Selain di Planetarium dan Observatorium Jakarta, direncanakan akan dikirim juga team peliput ke SMA Negeri 27 Jakarta Pusat dan ke kota Palu – Sulawesi Tengah.