Written by Widya Sawitar
Kegiatan Penelitian dan Pengamatan Bulan
dalam Penentuan Awal Kalender Bulan
(Penelitian Hisab Rukyat untuk Penentuan Awal Bulan Syaban 1439 H)

Oleh:
Tim Observasi Planetarium dan Observatorium
Unit Pengelola Pusat Kesenian Jakarta Taman Ismail Marzuki
Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Provinsi DKI Jakarta

Kompilasi oleh: Widya Sawitar

 

Seperti yang telah dipaparkan pada situs ini tentang hal yang sama untuk tahun 1438H (2017 M), maka di sini disajikan kembali tinjauan yang sama untuk perhitungan tahun 1439H (2018 M). Kendati demikian, tetap disaji-ulangkan kembali tentang latar belakang dan yang terkait kegiatan ini untuk sekadar mengingatkan lagi atas segala yang terkait perhitungan dan alasannya.

Salah satu aplikasi Astronomi adalah penentuan waktu pelaksanaan ibadah keagamaan, khususnya bagi umat Muslim dengan kalender Hijriah-nya. Sebut semisal penentuan jadwal waktu sholat, awal bulan Syaban (yang didalamnya ada malam Nisfu Syaban tanggal 15), awal ibadah puasa (1 Ramadhan), Idul Fitri (1 Syawal), awal bulan Dzulhijjah (untuk pedoman Idul Adha tanggal 10). Contoh lain seperti pelaksanaan sholat gerhana (dengan menghitung kapan terjadinya Gerhana Matahari/Bulan), penentuan arah kiblat, dll. Pada paparan ini akan ditinjau khususnya dalam kegiatan Penelitian dan Pengamatan Bulan dalam Penentuan Awal Kalender Bulan, atau lebih spesifik adalah perhitungan (hisab) dan rencana pengamatan (rukyat) posisi Bulan Sabit Awal (hilal atau Anak Bulan) untuk menentukan awal kalender Bulan, lebih khusus lagi adalah penentuan awal bulan Syaban 1439H berbasis bidang ilmu Astronomi (secara fakta bahwa kegiatan perhitungan dan pengamatan sudah menjadi pekerjaan dalam bidang Astronomi).

Sebagai lembaga satu-satunya di Jakarta yang secara konsisten berupaya mempopulerkan Astronomi serta menjembatani antara dunia sains Astronomi dengan masyarakat umum, Planetarium dan Observatorium yang sejak tahun 2017 secara formal menjadi bagian dari Unit Pengelola Pusat Kesenian Jakarta Taman Ismail Marzuki (UP PKJ TIM) Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Provinsi DKI Jakarta telah memberikan kontribusi nyata dalam kegiatan Hisab Rukyat sejak tahun 1974 dan berkesinambungan hingga sekarang, juga berkolaborasi dengan ragam instansi seperti Kementerian Agama, Observatorium Bosscha ITB, LAPAN, BMKG, dll.

Hisab dalam bahasa Indonesia dapat diartikan sebagai hitungan/perhitungan/perkiraan berbasis teori Astronomi (berbasis Fisika dan Matematika); sementara rukyat adalah perihal melihat/penglihatan/pengamatan yang dalam Astronomi lebih umum disebut observasi, baik kasat mata maupun menggunakan bantuan beragam peranti observasi.

Pada ranah ibadah umat Muslim di Indonesia juga terdapat fatwa, yaitu Fatwa MUI No. 2 tahun 2004, di mana awal bulan Syaban seperti halnya Ramadhan, Syawal, dan Dzulhijjah di Indonesia ditentukan berdasar metode Rukyat dan Hisab (bukan: Rukyat atau Hisab). Secara hisab sudah jelas tertera dalam Taqwim Standar Indonesia. Selain itu, sebenarnya dalam bidang Astronomi permasalahan posisi Bulan dan Matahari, bahkan objek langit seperti planet, komet, dan banyak lagi juga telah dilakukan perhitungannya; termasuk kapan terjadinya gerhana hingga perhitungan untuk berpuluh tahun ke depan dengan presisi yang tinggi yang dapat dibuktikan dengan kegiatan observasi sedemikian sebuah teori dapat dikatakan sahih.

Hari penentu atau hari untuk menentukan kapan jatuhnya awal bulan Hijriah biasanya dilakukan pada tanggal 29 bulan Hijriah (hari hisab dan hari rukyat) yang bertepatan dengan hari ijtimak, yang dalam Astronomi biasa disebut konjungsi (dalam kasus di sini konjungsi antara Bulan dan Matahari). Terkait tanggal 29 ini pula bahwa karena sejatinya 1 (satu) periode sinodis Bulan (misal Purnama ke Purnama berikutnya, fase yang sama) tidaklah ber-angka bulat, yaitu sekitar 29,5 hari. Jadi, penentuan tanggal dimaklumi kalau dilakukan pada tanggal 29. Berbasis ini pula, maka disinilah ditentukan, apakah ada kemungkinan untuk meng-istikmal-kan (menggenapkan) bulan Hijriah menjadi 30 hari. Kalau tidak digenapkan, artinya apabila sekarang tanggal 29, maka esok adalah tanggal 1. Apabila digenapkan, artinya apabila sekarang tanggal 29, maka esok tanggal 30 dan baru lusa tanggal 1 (paling panjang rentangnya adalah 30 hari).

Selain itu, keputusan dalam ibadah umat Muslim di Indonesia juga berdasar kesepakatan tertentu. Salah satunya adalah, apakah posisi hilal (sebut anak Bulan) pada hari penentu hisab tersebut di atas sudah memenuhi kriteria masuknya awal bulan Hijriah di Indonesia berbasis Hisab Kriteria MABIMS, yaitu perhitungan hisab yang berpedoman kepada ketinggian Bulan minimal 2 derajat untuk seluruh wilayah negara anggota, jarak sudut Matahari dan Bulan minimal 3 derajat dan umur Bulan minimal 8 jam setelah saat ijtima'. Apabila ternyata belum memenuhi kriteria awal bulan tersebut, maka di seluruh anggota MABIMS, yakni Brunei Darussalam, Indonesia, Malaysia, dan Singapura secara hisab menggenapkan atau meng-istikmal-kan bulan Hijriah menjadi 30 hari.

Hisab Kriteria MABIMS ini telah disepakati bersama oleh seluruh anggota MABIMS pada Muzakarah Rukyat dan Takwim Islam Negara Anggota MABIMS di Jakarta pada tanggal 21–23 Mei 2014. Juga biasanya dalam penentuan tersebut dilaksanakan terlebih dahulu Temu Kerja Hisab Rukyat. Inipun dimaklumi karena metode perhitungan ada beragam macamnya, sedemikian secara keilmuan dapat saling memeriksakan hasilnya. Pada paparan inipun disajikan beberapa hasil metode perhitungan (silakan lihat tabel perhitungan yang disertakan).

Apabila berdasarkan hasil hisab, maka hasilnya memang sudah tampak jelas, sudah terang benderang. Yang menjadi pertanyaannya adalah apabila hasil perhitungannya (hisab) ternyata menjumpai kondisi hilal berada di bawah ufuk (negatif) tatkala Matahari terbenam untuk seluruh wilayah Indonesia, apakah hilal masih perlu dirukyat atau diobservasi? Dari hisab memang jelas tidak dapat dilihat. Ada beberapa pemikiran dan pertimbangan dalam hal menjawab pertanyaan ini, antara lain:

  1. Menurut Keputusan Fatwa Majelis Ulama Indonesia No. 2 tahun 2004, pada Fatwa Pertama dan poin pertama berbunyi: Penetapan awal Ramadan, Syawal, dan Dzulhijjah dilakukan berdasarkan metoda ruk'yah dan hisab oleh Pemerintah RI cq Menteri Agama dan berlaku secara nasional. Oleh karena fatwanya masih digunakan sebagai panduan penentuan awal bulan Hijriah di Indonesia, maka rukyat harus/wajib dilaksanakan sebagai konfirmasi dari hisab. Konsekuensi penggunaan fatwa ini adalah tanpa menyebutkan posisi hilalnya, apakah berada di atas atau di bawah ufuk. Dalam kasus ini, lebih jelasnya bahwa apakah posisi hilal berdasar hisab pada hari penentuan berharga negatif (artinya: hilal di bawah ufuk) atau berharga positif (hilal di atas ufuk), kegiatan rukyat tetap harus/wajib dilaksanakan sebagai konfirmasi dari hasil hisab.
  2. Pemerintah harus mengayomi seluruh pengamal metode penentuan awal bulan Hijriyah di Indonesia. Diakui atau tidak, pada kenyataannya di kalangan masyarakat Muslim di Indonesia terdapat berbagai metode dalam penentuan awal bulan, antara lain:
    1. Metode hisab murni tanpa memerlukan konfirmasi hasil rukyat,
    2. Metode rukyat yang dipandu oleh sistem hisab yang akurat,
    3. Metode rukyat murni, yang tidak ada kaitannya atau tidak mau tahu dengan metode hisab. Tidak ada panduan hisab untuk melakukan rukyat. Pada metode ini akan dilakukan rukyat tanpa terpengaruh oleh posisi hilal pada saat Matahari terbenam – apakah posisi hilal di bawah dan di atas ufuk menurut hasil hisab.
  3. Sekalipun menurut hasil hisab kontemporer atau modern, posisi hilal masih berada di bawah ufuk, sering kali menurut beberapa sistem hisab takhribi sudah positif atau berada di atas ufuk jika ijtimak sudah berlangsung sebelum Matahari terbenam pada tanggal 29 Hijriah. Beberapa kota di Indonesia kadang mengalami ijtimak qoblal ghurub atau ijtimak berlangsung sebelum Matahari terbenam.
  4. Indonesia saat ini tidak menganut penggunaan rukyat global. Sekalipun di seluruh wilayah Indonesia pada saat Matahari terbenam ketinggian hilal berada di bawah ufuk (memiliki ketinggian hilal negatif), namun ada wilayah-wilayah tertentu di dunia yang memungkinkan hilal dapat dirukyat.

Mengacu kepada Keputusan Fatwa Majelis Ulama Indonesia No.2 tahun 2004 pada Fatwa Pertama dan poin keempat yang berbunyi: Hasil rukyat dari daerah yang memungkinkan hilal dirukyat walaupun di luar wilayah Indonesia yang matla'nya sama dengan Indonesia dapat dijadikan pedoman oleh Menteri Agama RI. Matla' yang sama dengan Indonesia yang dimaksud adalah wilayah MABIMS (Brunei Darussalam, Indonesia, Malaysia dan Singapura). Mungkin di Indonesia dan sekitarnya tidak dapat terlihat dan negara-negara yang memungkinkan hilal dapat dirukyat semisal negara-negara di Amerika atau Afrika. Andaipun ada pelaporan bahwa hilal dapat terlihat di negara-negara ini, maka hasil rukyat tersebut tidak dapat dipakai untuk penentu awal bulan Hijriyah di Indonesia (matla’ yang sangat berbeda dan berjauhan).

Untuk tahun 2018 (1439 H) kali ini, Planetarium dan Observatorium UP PKJ TIM mengadakan kegiatan Penelitian dan Pengamatan Bulan dalam Penentuan Awal Kalender Bulan, spesifiknya adalah Penelitian Hisab Rukyat untuk penentuan awal bulan Syaban, Ramadhan, dan Dzulhijjah di wilayah Anyer – Serang – Banten. Selain itu, mungkin secara umum di masyarakat luas untuk kegiatan penentuan patokan bulan Ramadhan dan Dzulhijjah sudah sangat populer (dengan adanya berita ataupun siaran langsung di televisi tentang sidang penentuannya, Sidang Itsbat oleh pihak berwenang, yaitu Kemenag RI). Pada kegiatan kali ini diulas serba sedikit mengapa mengambil penentuan bulan Syaban, termasuk di Anyer. Pertimbangan teknis dan astronomis dari kegiatan Pengamatan Bulan dalam Penentuan Awal Kalender Bulan, spesifiknya adalah Penelitian Hisab Rukyat ini antara lain:

  1. Planetarium dan Observatorium UP PKJ TIM memiliki fasilitas untuk observasi benda langit yang bersifat mobile (portable telescope) terkait kegiatan ini;
  2. Kondisi geografis titik lokasi yang dipilih memenuhi syarat observasi:
    • bentang ufuk barat terbuka luas sehingga tidak ada penghalang hingga batas ufuk;
    • tingkat polusi udara dan polusi cahaya masih sangat minim;
    • horizon pengamat terkait kedalaman ufuk memadai karena lokasinya memiliki ketinggian beberapa meter dari permukaan laut;
    • instrumen pengamatan relatif aman karena tingkat kelembaban relatif rendah;
  3. Akses menuju wilayah lokasi pengamatan di Anyer – Serang – Banten relatif mudah dijangkau, termasuk fasilitas yang ada yang terkait kegiatan;
  4. Pertimbangan pemilihan awal bulan Hijriah yang dipilih bahwa selama ini penentuan awal Ramadan (awal ibadah puasa), awal Syawal, dan awal Dzulhijjah (terkait penentuan Idul Adha) mungkin sudah sangat populer di masyarakat. Yang mungkin belum dipahami adalah penentuan awal bulan Syaban. Umat Islam juga perlu dalam menentukan awal tepatnya bulan Syaban. Hal ini terkait dengan malam antara hari ke-14 dan ke-15 bulan Syaban yang merupakan malam paling istimewa dalam beribadah; malam Nisfu Syaban (Nisfu: pertengahan). Berdasarkan berbagai redaksi Hadist bahwa malam Nisfu Syaban adalah malam diampuninya dosa dan dikabulkannya doa sehingga sangat dianjurkan untuk beribadah sepanjang malam. Terkait dengan pentingnya Rukyat Hilal awal bulan Syaban, terdapat sebuah miskonsepsi yang banyak tidak disadari masyarakat yang menganggap bahwa bulan Purnama adalah pertengahan sebuah bulan dalam kalender Qomariah. Hal ini menjadi tidak akurat jika kita menggunakan perspektif Astronomi. Dalam Astronomi terdapat dua macam periode revolusi Bulan terhadap Bumi, Sideris (27,32 hari) dan Sinodis (29,53 hari). Dalam perhitungan Rukyat Hilal, periode Sinodis yang digunakan sebagai acuan sedemikian menjadi sangat jelas bahwa fase purnama tidak selalu jatuh pada hari ke-15 sebuah bulan. Pertengahan sebuah bulan Qomariah lebih sering jatuh pada hari ke-14, dengan sedikit pergeseran (tergantung lintas orbit) antara hari ke-13 hingga ke-15, tergantung dari kapan konjungsi dan posisi ketinggian Bulan pada saat Rukyat Hilal berlangsung. Selain kekeliruan dalam menghitung pertengahan Bulan, masyarakat juga sering keliru dalam menentukan fase Bulan Purnama secara visual. Dengan mata biasa tanpa alat bantu, akan sulit membedakan antara fase bulan Purnama atau fase sehari sebelum dan sesudah bulan Purnama karena ketiganya secara sekilas memiliki bentuk yang sangat mirip. Hal ini menjadikan Rukyat Hilal untuk menentukan awal bulan Syaban menjadi sangat penting untuk membantu masyarakat dalam menentukan malam Nisfu Syaban dengan presisi ketepatan yang tinggi; dan
  5. Kegiatan ini meliputi ranah sains maupun keagamaan dan dilakukan oleh banyak pihak terkait; lokal, nasional, dan internasional. Jadi, Planetarium dan Observatorium UP PKJ TIM Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Provinsi DKI Jakarta dapat menjadi wakil di lokasi bersangkutan (di antara puluhan titik observasi secara nasional); sekaligus dapat menjalin kerjasama dalam sosialisasinya termasuk dengan pemerintah daerah setempat, atau dengan instansi terkait yang juga mengadakan kegiatan serupa, serta dengan komunitas terkait yang senyatanya kerap mempertanyakan masalah penentuan hari besar umat Muslim ini.

Di bawah ini dapat dilihat hasil hisab yang dilakukan Cecep Nurwendaya, salah satu anggota tim Planetarium dan Observatorium UP PKJ TIM dalam kegiatan ini, dan ilustrasi posisi Bulan untuk pedoman rukyat. Untuk hisab, diberikan contoh pula untuk titik observasi lain, yaitu di Pelabuhan Ratu sebagai pembanding; juga metode hisab lainnya. Hasil hisab sebagai berikut:

 

 

 

Untuk panduan visual untuk melakukan rukyat atau observasi berbasis hisab adalah sebagai berikut:

 

 

Pada tanggal 16 April 2018 dalam kalender Hijriah adalah tanggal 29 Rajab 1439H, di mana hari tersebut merupakan hari hisab dan hari rukyat dan hari ijtimak. Berbasis perhitungan Astronomi menunjukkan bahwa kondisi fase Bulan yang “akan” terlihat adalah fase Sabit Awal pada saat Matahari terbenam (ghurub). Jadi, sudah terjadi ijtimak dan jelas dalam satu aspek, yaitu pada aspek perhitungan bahwa kondisi positif sudah terpenuhi. Positif di sini dalam pengertian bahwa saat rukyat dilakukan, maka Bulan telah melewati fenomena ijtima; ditambah kondisi berbasis analisis lokasi rukyat bahwa ketika saatnya atau ketika dilakukan rukyat, maka Bulan juga sudah berada di atas ufuk tatkala Matahari terbenam). Yang menjadi ajang pembuktian berikutnya, apakah dapat diobservasi (di-rukyat). Jadi, pembuktian satu-satunya akan perhitungan (hisab) tersebut adalah dengan cara observasi (rukyat). Diputuskan untuk melakukan pengamatan pada hari tersebut, yaitu pada tanggal 16 April 2018 saat Matahari terbenam di mana masih dimungkinkan untuk dapat mengamati fase Sabit Awal tersebut. Artinya, apabila teramati, maka esok harinya, tanggal 17 April adalah tanggal 1 Syaban 1439H. Namun, apabila karena kondisi tidak memungkinkan untuk syarat observasi, maka dilakukan observasi kembali tanggal berikutnya, 17 April 2018, dan seharusnya Sabit Awal ini akan tampak lebih terang dan relatif mudah diamati karena usia Bulan sudah bertambah 1 hari (iluminasi pun lebih besar) dan ketinggian tatkala Matahari terbenam tentu sudah relatif tinggi (kisaran 16-17 derajat) di mana ini juga bermakna bahwa rentang waktu pengamatan akan juga lebih panjang. Justru di sini menjadi ajang pembuktian secara kasat mata.

Dalam beberapa kasus dan berbasis hisab, maka sebagian masyarakat yang menganut hisab murni tentu menentukan tanggal 17 April 2018 sebagai tanggal 1 Syaban 1439H (hanya melihat bahwa tatkala Matahari terbenam hari itu, dihitung dan mendapat hasil positif. Tanpa harus dibuktikan dilapangan). Sebagian lagi membutuhkan pembuktian melalui rukyat (berarti sebelumnya harus melakukan hisab. Jadi keduanya dilakukan.). Sebagian lagi, akan menunggu hasil observasi. Dalam kasus kali ini memang “terasa” kecenderungannya bahwa tanggal 1 Syaban 1439 akan jatuh pada tanggal 17 April 2018 mengingat batas kesepakatannya adalah “ketinggian Bulan minimal 2 derajat, jarak sudut Matahari dan Bulan minimal 3 derajat, dan umur Bulan minimal 8 jam setelah saat ijtima'”. Perbandingan hisab terhadap prasyaratnya: (5,12 > 2)(2,22< 3)(8,67>8).

Adapun pembanding perhitungan kontemporer dapat dilihat di bawah ini (semisal ada perbedaan, dimungkinkan sebagai akibat perbedaan lintang dan bujur pengamat ataupun koreksi dimensi ukuran piringan Bulan dan Matahari, kedalaman ufuk, atau lainnya):

Lokasi: Pantai Mercusuar Anyer – Serang – Banten, Indonesia
Koordinat Lokasi: 06o 04’ 13” LS - 105o 53’ 05” BT
Ketinggian: 1 Mdpl
Area Waktu: GMT +7 / WIB
Ijtima/Konjungsi: Senin, 16 April 2018.Pukul 08:57 WIB

 

 

Untuk hari Selasa, 17 April 2017, perhitungan dan pedoman sebagai berikut:

 

 

Adapun pembanding perhitungan, dapat dilihat di bawah ini:

 

 

Kegiatan Penelitian dan Pengamatan Bulan dalam Penentuan Awal Kalender Bulan

Kegiatan yang dilaksanakan oleh Planetarium dan Observatorium Unit Pengelola Pusat Kesenian Jakarta Taman Ismail Marzuki (UP PKJ TIM) Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Provinsi DKI Jakarta ini pada dasarnya lazim atau lebih spesifik dikatakan sebagai kegiatan untuk melakukan perhitungan (hisab) berbasis teori Astronomi dan metode pembanding program perangkat lunak simulasi langit kontemporer serta rencana kegiatan observasi lapangan sebagai ajang pembuktian yang tidak lain adalah pengamatan (rukyat) posisi Bulan Sabit Awal (hilal atau Anak Bulan) pada lokasi yang ideal berbasis syarat dan kaidah observasi yang baik untuk menentukan awal kalender Bulan, lebih khusus lagi adalah penentuan awal bulan Syaban 1439H, yaitu pada tanggal 16 dan 17 April 2018. Direncanakan untuk mengambil lokasi kegiatan rukyat di pelataran Mercusuar – Anyer – Serang – Banten.

Sistem penanggalan ini berkait erat dengan penentuan waktu pelaksanaan ibadah umat Islam yang berpatokan pada siklus peredaran Bulan. Di Indonesia, hasil pengamatan Bulan Sabit Muda secara resmi dipakai sebagai penentu masuknya awal bulan: Ramadan, Syawal dan Dzulhijah. Sekalipun demikian, kegiatan observasi Bulan Sabit Muda dilakukan secara rutin dan sebanyak mungkin, tidak hanya menjelang awal ketiga bulan istimewa seperti tersebut di atas. Namun, juga pada bulan-bulan hijriah lainnya yang bertujuan untuk memperoleh data empiris ketampakan atau visibilitas Bulan Sabit Muda yang teramati. Selanjutnya visibilitas Bulan Sabit ini dapat dipakai sebagai referensi atau acuan ilmiah untuk menentukan kriteria masuknya awal bulan hijriah. Kegiatan observasi ini juga digunakan sebaliknya, yaitu untuk memeriksa hasil perhitungan astronomis posisi Bulan (aspek hisab), apakah sistem hisab yang dipergunakan memiliki akurasi yang tinggi atau berbeda jauh dibandingkan dengan hasil observasi di lapangan. Semoga bermanfaat. Salam Astronomi. –WS–