Citra Hilal bulan Dzulhijjah 1435 Hijriah yang diambil dengan menggunakan kamera DSLR dan teleskop refraktor. Lokasi pengamatan di halaman mercusuar Cikoneng, Anyer - Banten. Kredit foto: Ronny Syamara.

Salah satu aplikasi langsung Astronomi di kalangan masyarakat terwujud dalam bentuk penentuan waktu-waktu yang terkait erat dengan pelaksanaan ibadah keagamaan. Kegiatan tersebut mencakup penentuan jadwal waktu sholat, awal bulan puasa (1 Ramadhan), Idul Fitri (1 Syawal), Idul Adha (10 Dzulhijjah), kalender standard Masehi (berdasar gerak semu Matahari di kubah langit), kalender Hijriyah (berdasar lintas edar ataupun perubahan fase Bulan), dan pelaksanaan sholat gerhana pada saat terjadi Gerhana Matahari atau Gerhana Bulan, dll. Dalam hal ini termasuk penentuan arah kiblat.

Sebagai lembaga yang secara konsisten berupaya mempopulerkan Astronomi serta menjembatani antara dunia sains Astronomi dengan masyarakat umum, Planetarium dan Observatorium Jakarta secara formal telah memberikan kontribusi nyata dalam kegiatan Hisab Rukyat sejak tahun 1974 dan terus berkesinambungan sampai sekarang. Hisab dapat diartikan sebagai hitungan/perhitungan/perkiraan berbasis teori, sementara rukyat adalah perihal melihat/penglihatan/pengamatan yang dalam Astronomi biasa disebut observasi. Salah satu kegiatan non rutin yang dilakukan terkait Hisab Rukyat ini adalah penyelenggaraan Seminar Ilmu Falak pada tanggal 17 Januari 1994 dengan peserta tidak hanya terbatas dari wilayah Provinsi DKI Jakarta saja. Kegiatan ini juga melibatkan instansi terkait yang meliputi wakil dari daerah Yogyakarta (IAIN Sunan Kalijaga, UII), Jawa Barat (termasuk Tangerang dan Bandung), juga beragam instansi seperti LAPAN, BMKG, ITB, LIPI, Departemen Agama, PBNU, Muhammadiyah, hingga Kwarnas Pramuka.

Sejak tahun 1974 pun Planetarium dan Observatorium Jakarta bersama dengan instansi ilmiah lain yang terkait dengan kegiatan Hisab Rukyat, seperti Obsevatorium Bosscha ITB, LAPAN, BMKG, Bakosurtanal, dan Dinas Hidro-Oceanografi TNI AL diikutsertakan dalam keanggotaan Badan Hisab Rukyat (BHR) Kementerian Agama RI. Sebuah badan yang bertugas memberikan masukan berupa data dan pertimbangan ilmiah kepada Menteri Agama RI yang memiliki kewenangan resmi dalam itsbat (penetapan) pelaksanaan hari besar keagamaan serta pembuatan Taqwim (kalender) Standard Indonesia.

Kegiatan perhitungan dalam menentukan data Astronomi posisi hilal yang dilakukan untuk keperluan penentuan awal Bulan Hijriyah disebut hisab. Hilal adalah bulan sabit tipis usia muda menjelang awal bulan Hijriyah (kapan sekiranya jatuhnya tanggal 1 bulan Hijriah). Observasi hilal menjelang awal bulan Hijriyah disebut rukyat. Rukyat dapat juga dianggap sebagai pembuktian hasil hisab. Penggunaan data hisab awal bulan Hijriyah dipakai sepanjang tahun dalam wujud Taqwim Standar Indonesia.

Hilal usia 2 hariBulan sabit muda dan planet Merkurius. Kredit: Ronny Syamara

 

Adapun kegiatan rukyat untuk penentuan hari besar hanya dilakukan dalam 3 (tiga) bulan istimewa dalam penanggalan bulan Hijriyah, yaitu awal bulan Ramadhan, Syawal, dan  Dzulhijjah. Kebijakan ini diambil Pemerintah cq Kementerian Agama RI, karena Indonesia dalam penentuan awal bulan Hijriyah menganut sistem gabungan antara hisab dan rukyat. Sementara itu, pelaksanaan rukyat tidak dapat dilakukan di dalam kompleks Planetarium dan Observatorium Jakarta. Hal ini disebabkan sudut pandang ke arah terbenamnya Matahari dan posisi hilal terhalang oleh gedung-gedung tinggi yang terletak di arah barat Planetarium dan Observatorium Jakarta. Selain itu adalah kondisi atmosfer Jakarta yang tingkat polusi udaranya cukup tinggi, sementara hilal memiliki kecerlangan yang sangat rendah. Tempat kegiatan rukyat dilaksanakan di tempat-tempat yang ideal, dan jaraknya relatif jauh dari Jakarta seperti Pos Observasi Bulan Kementerian Agama RI di Pelabuhan Ratu Sukabumi dan Pantai Anyer Banten. Secara rutin Planetarium dan Observatorium Jakarta melakukan kegiatan rukyat di Pantai Anyer Banten dalam 8 tahun terakhir padamana tiap tahun melakukan 6 kali kegiatan. Pada awalnya kegiatan ini disandingkan juga dengan penyuluhan di sekolah dekat lokasi pengamatan serta mengajak khususnya guru untuk bergabung dalam pengamatan hilal. Namun, beberapa tahun belakangan hanya fokus pada kegiatan rukyat.

Untuk mengamati hilal dapat dilakukan dengan cara pengamatan langsung dengan mata telanjang, lewat teleskop, dan alat bantu lain semisal melakukan pemotretan perubahan panorama langit senja di tempat kegiatan rukyat dilaksanakan. Hasil pemotretan panorama ini berguna untuk bahan simulasi dalam pelatihan hisab dan rukyat terhadap pemerhati Astronomi dan dapat disimulasikan di Planetarium dan Observatorium Jakarta, baik dengan alat peraga sederhana maupun dengan menggunakan simulasi langit di ruang pertunjukan.

Kegiatan Observasi Hilal tim Planetarium dan Observatorium Jakarta
Kegiatan Observasi Hilal tim Planetarium dan Observatorium Jakarta di halaman mercusuar Cikoneng, Anyer - Banten.

Kredit: Planetarium dan Observatorium Jakarta

 

Sekalipun hasil rukyat yang digunakan hanya dalam penentuan awal bulan Ramadhan, Syawal dan Dzulhijjah, namun kegiatan rukyat pada bulan lainnya secara berkesinambungan masih sangat dibutuhkan untuk tujuan pembelajaran dan pelatihan, bahkan dalam skala waktu yang panjang dapat membuat kriteria awal Bulan Hijriyah secara empiris. Kenyataan menunjukkan bahwa orang yang dapat melihat hilal biasanya telah terlatih secara pengamatan yang berkesinambungan bahkan menjadi rutinitasnya.

Selain kegiatan penelitian, pelatihan, dan pembelajaran Hisab Rukyat di lingkungan internal Planetarium (termasuk pembinaan Himpunan Astronomi Amatir Jakarta), maka kegiatan ini bersinergi dalam hal kerjasama kegiatan Hisab Rukyat yang diselenggarakan oleh instansi lain dan kelompok masyarakat – khususnya dalam hal pendidikan dan pelatihan Hisab Rukyat yang diselenggarakan oleh Kementerian Agama RI, sekolah atau Perguruan Tinggi yang berbasis Islam seperti Madrasah, IAIN/STAIN/UIN, ormas Islam, Majelis Taklim, ataupun kelompok masyarakat umum. Seringkali dalam kegiatan pembelajaran dan pelatihan Hisab Rukyat yang diselenggarakan oleh instansi terkait seperti Kementerian Agama, mereka pun menjadwalkan kunjungan ke Planetarium dan Observatorium Jakarta padamana salah satu acara kegiatannya adalah memperagakan konsep hilal berlandas simulasi langit di ruang pertunjukan.

Adapun tujuan kegiatan ini antara lain agar adanya keseragaman dalam penentuan hari besar Islam, yang tentu saja ini terkait dengan adanya kebutuhan akan ketepatan sistem penanggalan Komariah atau Hijriah. Harapannya tentu akan semakin menyatunya persepsi masyarakat tentang pentingnya perhitungan ilmu Astronomi. Dalam hal ini dibutuhkan ketepatan perhitungan posisi hilal dan standardisasi pengamatan untuk penentuan awal bulan. Planetarium dan Observatorium Jakarta dalam kasus ini dapat berkontribusi secara aktif dalam standard perhitungan dan pengamatan hilal, baik secara observasi langsung maupun berlandas simulasi langit.