Salah satu program tahunan Planetarium dan Observatorium Jakarta yaitu penyuluhan astronomi ke sekolah-sekolah di DKI Jakarta. Kredit: Planetarium dan Observatorium Jakarta

Sebagai ilmu, Astronomi dapat dikatakan sebagai ilmu pengetahuan dasar dan eksakta tertua. Setelah melewati era mitos di masyarakat, perlahan keilmuan ini semakin mapan dalam hal usahanya untuk mengurai gejala alam disekitarnya berlandas beragam keilmuan lainnya, bahkan hingga ranah sosial-budaya dan tentang kehadiran dirinya di luasnya Jagad Raya.

Kurikulum Sekolah

Perkembangan pengetahuan mengenai materi Ilmu Pengetahuan tentang Bumi dan Antariksa (IPBA) atau Astronomi di Indonesia ternyata sampai sekarang relatif masih belum mapan bila dilihat dari pemahaman siswa atau masyarakat pada umumnya. Hal ini terasa karena kurangnya informasi, walau sebenarnya dalam pendidikan umum tingkat dasar dan menengah telah diajarkan topik tersebut yang tidak lain adalah cakupan Astronomi.

 

Keilmuan Astronomi terkait benda-benda langit sudah semestinya diberikan kepada anak sejak usia dini. Kredit: Ronny SyamarKeilmuan Astronomi terkait benda-benda langit sudah semestinya diberikan kepada anak sejak usia dini. Kredit: Ronny Syamara

 

Bagaimana pendidikan formal ini sangat berperan, sebenarnya tidak diragukan lagi minimal dalam memperkenalkan istilah teknis keilmuannya. Namun, sempat ada kendala yang cukup menggelitik. Berkali–kali terjadi penyesuaian kurikulum yang berujung pada pertanyaan, guru bidang apa yang seharusnya memberi materinya? Terjadi kesenjangan informasi akibat pengajar terpaksa menyesuaikan diri yang tentu butuh waktu. Minimal dilakukan secara mandiri semisal dengan mengikuti kegiatan seminar, penataran, dll. Sekarang pun kajian Astronomi hanya sebagian kecil dari muatan Fisika. Sama artinya bahwa pengajar bidang Fisika-lah yang harus menyampaikan materi ajar Astronomi.

Masalahnya, bagaimana menghadapi siswa yang tertarik ilmu ini? Dari mana siswa dapat meluaskan wawasannya? Bila siswa mendapat berita baru, biasanya tempat bertanya pertama adalah gurunya. Apakah fasilitas bagi guru untuk kasus ini sudah tersedia? Tentu masalah pembelajaran sangat naif kalau hanya ditujukan ke anak didik saja. Siapa pun yang terlibat (aktif), selayaknya sama-sama terjun dalam proses. Apakah dapat ditemukan alat peraga atau media informasi yang memadai untuk semua jenjang pendidikan?

 

Pendidikan Astronomi

Untuk pendidikan astronomi di Indonesia saat ini terpusat di perguruan tinggi di  Program Studi  (Prodi) Astronomi ITB; dan menjadi mata kuliah wajib dan pilihan di Universitas Perguruan Indonesia (UPI) – Program Studi Pendidikan Fisika Jurusan Pendidikan Fisika FPMIPA padamana dicantumkan perkuliahan IPBA yang dikelompokkan sebagai Mata Kuliah Keahlian Program Studi wajib dengan beban 3 SKS di semester II (2006/2009). Yang terkait adalah Pengantar Fisika Bumi & Antariksa (2 SKS/V) dan Astrofisika (3 SKS/VII). Kalau merujuk Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) tahun 2006, pendidikan astronomi di sekolah tingkat menengah dilakukan pada pelajaran fisika untuk SMP dan geografi untuk SMA.

 

Kegiatan astronomi di Universitas Tadulako

Kegiatan observasi Matahari dalam acara "Seminar dan Workshop Menyambut Gerhana Matahari Total 9 Maret 2016" yang diselenggarakan oleh Himpunan Mahasiswa Fisika (HIMAFI) Universitas Tadulako, Palu. Kredit: Planetarium dan Observatorium Jakarta

 

Atas dasar studi kasus tentang proses pembelajaran IPBA terdapat kesimpulan bahwa sumber materi ajar Astronomi yang dapat diterapkan di dalam kelas sulit diperoleh. Selain itu, khususnya untuk tingkat SMA sempat ada kendala. Pengajarnya berlatarbelakang pendidikan geografi, juga termasuk muatan materinya. Hal ini sebenarnya kurang tepat. Pendidikan calon guru geografi biasanya lebih berbasis ilmu sosial bukan pengetahuan alam, sehingga belum tentu memperoleh dasar Astronomi saat pendidikannya. Walhasil, mengajarkan Astronomi akan sulit dilakukan. Uniknya bila dikaji materi ajar bidang Fisika, maka dapat dikatakan hampir semua bahasannya adalah landasan utama dalam memahami fenomena Astronomi (Tentu ditambah landasan Matematika yang mapan).

 

Simulasi Teater Bintang

Dalam kasus di atas, sejak dulu Planetarium dan Observatorium Dinas Pendidikan Provinsi DKI Jakarta pun telah menyadari kekurangan di atas. Oleh sebab itu, dicoba untuk mencari masukan melalui penyelenggaraan Seminar Astronomi Sehari (1992) dan Seminar Ilmu Falak (1994). Pertimbangan lain, bahwa kalau hanya mengandalkan pendidikan formal tidak akan cukup dalam mengejar ketertinggalan informasi Astronomi. Apalagi tidak dapat dipungkiri bahwa ketersediaan alat penunjang belajar dalam ujud alat peraga di sekolah masih sangat kurang. Sejak tahun 1995 diselenggarakan penataran bagi guru-guru IPBA yang diadakan setahun sekali, dan sekali penataran berlangsung 4 hari. Namun, jumlah pesertanya minim sesuai daya tampung. Itupun terbatas lingkup sekolah negeri di Jakarta dengan jumlah peserta masing-masing 60 guru untuk tiap tingkat mencakup SD, SLTP, dan SMA (Untuk SMA telah dicoba diperluas ke sekolah swasta). Sementara jumlah pengajar apalagi di sekolah dasar jumlahnya sangat banyak. Sejak 2001, ditargetkan hanya untuk tingkat SD. Namun, sejak 2007 kegiatan ini diganti dengan format seminar dan workshop.

 

Universarium model VIIProyektor bintang Universarium Model IX Carl Zeiss, Jerman. Kredit: Carl Zeiss

 

Seperti halnya pelajaran Biologi, Kimia, dan Fisika, bahkan ilmu sosial, mereka mempunyai wadah untuk bereksperimen (sebut laboratorium). Bagaimana dengan astronomi? Apakah harus membuat observatorium? Bagaimana menunjukkan ke peserta didik tentang dimensi ruang-waktu alam semesta? Informasi astronomi senantiasa mengalir dengan semakin majunya teknologi. Apa buku panduan dalam kurikulum formal sanggup mengikutinya?

Mengingat cakupan Astronomi yang sangat luas, maka tentu terkait dengan waktu penyampaian. Sebagai contoh, untuk melihat pola rasi bintang secara langsung dengan segala dinamikanya seperti terbit dan terbenam benda langit, dan dengan cara pengamatan langsung di lapangan berarti butuh waktu satu tahun (Tentu tidak tiap hari dan tiap malam). Tujuan dari kegiatan ini salah satunya agar siswa mengalami pengalaman berdasar observasi, bukan sekedar pengetahuan berlandas acu cerita guru atau teori di buku, dsb. Bagaimana siswa dapat mendeskripsikan fenomena alam dan menganalisisnya secara langsung. Namun, kendala kota besar adalah polusi cahaya dan udara. Ini jadi penghalang bahkan untuk sekedar menyimak alam perbintangan. Walau demikian, pada satu sisi bahwa siswa dapat diajak mencermati gejala astronomis. Hal ini dapat sangat tertolong dengan adanya simulasi langit seperti yang ada di Planetarium dan Observatorium Jakarta sejak tahun 1969, serta ragam kegiatannya.

 

Wadah Kegiatan Astronomi

Kendala sosialisasi di atas sebenarnya dapat dikurangi dengan cara membentuk wadah kegiatan siswa untuk memperluas wawasan Astronomi, minimal menumbuh-kembangkan rasa penasaran dan sangat bagus kalau kemudian termotivasi untuk mengikuti perkembangan keastronomiannya secara mandiri; termasuk melihat keterkaitannya dengan disiplin ilmu lainnya. Masalah teknis lapangan memang butuh kajian mendalam. Wadah ini dapat mengambil format Ekstrakurikuler, Kelompok Ilmiah Remaja (KIR), Kelompok Diskusi Astronomi di bawah bimbingan guru Fisika atau lainnya, melalui wadah Pramuka, dll.

 

Belajar untuk olimpiade

Beberapa siswa dari SMA di DKI Jakarta belajar bersama dengan pakar di bidang astronomi dan keilmuan yang terkait guna persiapan di ajang Olimpiade Sains Nasional (OSN) bidang Astronomi. Kredit: Planetarium dan Observatorium Jakarta

 

Hadirnya Himpunan Astronomi Amatir Jakarta (HAAJ) sebagai wadah astronomi amatir dibentuk pada tahun 1984 oleh Kepala Planetarium dan Observatorium Jakarta. Ini merupakan salah satu tugas Planetarium sebagai instansi yang disepakati secara internasional. Kini harus diakui bahwa aktifitas komunitas ini ternyata sangat membantu dalam sosialisasi ke-astronomi-an. Dengan latar belakang pendidikan dan usia yang beragam dari anggotanya, jaringan yang terbentuk dapat diharapkan lebih memperluas sebaran informasi. Sejak 1998 HAAJ semakin intens terlibat dalam ragam kegiatan, baik di Planetarium dan Observatorium Jakarta, secara mandiri, ataupun bersama instansi terkait, hingga keterlibatannya pada event internasional.

 

Penyuluhan ke Sekolah

Beberapa tahun belakangan ini, Planetarium dan Observatorium Jakarta telah melaksanakan satu kegiatan yang bersifat menjemput bola, yaitu mengadakan penyuluhan ke sekolah. Saat berkunjung ke sekolah, diadakan ceramah populer Astronomi dan observasi Matahari dengan alat peraga mobile observatory/telescope dan alat bantu lainnya.

 

antri neropong

Kegiatan peneropongan Matahari dan sosialisasi tentang keilmuan Astronomi yang diselenggarakan setiap tahunnya oleh Planetarium dan Observatorium Jakarta yang dilaksanakan di beberapa sekolah di lingkungan provinsi DKI Jakarta. Kredit: Planetarium dan Observatorium Jakarta.

 

Keaktifan dalam penyuluhan ke sekolah membuahkan hasil dengan terbentuknya jaringan ke-astronomi-an dalam KIR SMA yang diberi nama FOSCA (Forum of Scientist Teenagers) tahun 2008 untuk wilayah Jakarta dan sekitarnya. Sementara itu, keterlibatan HAAJ pada pembinaan Olimpiade Astronomi di Jakarta semakin terasa sejak 2005. Sinerginya program Planetarium dan Observatorium Jakarta, HAAJ, dan FOSCA dalam kancah OSN pada akhirnya melahirkan wadah Forum Pelajar Astronomi (FPA) pada tanggal 11 Juli 2009 yang beranggotakan alumni peserta Olimpiade Sains bidang Astronomi tingkat provinsi DKI maupun nasional (OSN) dan internasional (IAO/IOAA/APAO). Masalahnya kini, sejauh mana kiprah mereka – HAAJ, FOSCA, FPA dengan visi dan misi yang dimiliki dalam usaha memaksimalkan kinerja peranti keastronomiannya? Di mana posisinya dalam usaha mengantisipasi perkembangan ke-astronomi-an pada masa yang akan datang.

Planetarium dan Observatorium Jakarta hingga kini masih terus melakukan penyuluhan ini, walau dengan kapasitas terbatas. Pada tahun 2015, mengunjungi 50 SD di wilayah Jakarta Pusat dan tahun 2016 direncanakan akan mendatangi 20 SD wilayah Jakarta Utara.

 

Ceramah astronomiPenyampaian ceramah astronomi kepada siswa-siswa Sekolah Dasar tentang Tata Surya dan Jagad Raya. Kredit: Planetarium dan Observatorium Jakarta.

 

Kegiatan di atas tidak lepas dari, salah satunya, adanya semacam tuntutan akan kebutuhan informasi Astronomi terkait kurikulum di sekolah, baik oleh guru maupun siswa. Selain itu memberikan alternatif kegiatan ke pihak sekolah secara langsung/praktek lapangan dengan sifat yang lebih interaktif berkesinambungan bagi siswa dan guru dalam mendukung proses belajar mengajar. Juga agar mereka pun semakin meningkat minat dan pemahamannya terhadap Astronomi. Pada sisi lain, rasa penasaran dapat membuat mereka lebih ingin belajar dengan cara berkunjung ke Planetarium dan Observatorium Jakarta sebagai satu-satunya tempat wisata pendidikan di Jakarta untuk mempelajari dinamika alam semesta.