Written by widya sawitar

Kegiatan Penelitian dan Pengamatan Bulan
dalam Penentuan Awal Bulan Muharram 1442 H (2020 M)

 

Tim Observasi Planetarium dan Observatorium
Unit Pengelola Pusat Kesenian Jakarta Taman Ismail Marzuki
Dinas Kebudayaan Provinsi DKI Jakarta

 

Disarikan oleh Widya Sawitar


Topik penentuan awal bulan Hijriah terasa menarik karena penuh dinamika khususnya pada 3 bulan istimewa, yaitu Ramadan, Syawal, dan Zulhijah. Walau selalu ada ulasannya, topik ini tidak lekang oleh waktu. Kadang terasa gaduh walau dalam konteks harapan yang positif. Di sini disajikan kembali tinjauan yang sama untuk perhitungan kapan tahun baru pada kalender Hijriah tahun 1442H (2020M), yaitu penentuan tanggal 1 Muharram 1442H. Akan disaji-ulangkan kembali dalam hal latar belakang dan yang terkait. Landasan teori juga diulang berbasis paparan pada penentuan awal bulan Hijriah yang telah lewat. Di sini, anggap saja sekedar mengingatkan kita kembali.
Seperti yang terjadi sebelumnya bahwa salah satu dari sekian banyak aplikasi langsung dari bidang ilmu Astronomi di kalangan masyarakat terwujud dalam bentuk penentuan waktu yang terkait erat dengan waktu ibadah keagamaan. Bagaimanapun, ibadah seperti ini banyak yang berpedoman pada kalender berbasis Bulan (atau kombinasi antara Matahari dan Bulan, yaitu sistem luni-solar). Memang secara faktual yang tampak adalah pada umat Muslim yang berpedoman pada kalender Hijriah.
Di bawah ini, dapat dilihat hasil perhitungan astronomis (hisab) yang dilakukan bersama Bapak H. Cecep Nurwendaya, MSi yang merupakan salah satu anggota tim Planetarium dan Observatorium UP PKJ TIM sekaligus tenaga ahli dari Kementerian Agama RI, juga perbandingan dengan beberapa hasil hisab penentuan awal bulan Muharram 1442H di mana hasilnya akan dijadikan pedoman kegiatan observasi (rukyat) yang rencananya akan dilaksanakan di Kawasan Taman Impian Jaya Ancol, Jakarta, pada tanggal 19 dan 20 Agustus 2020.

Kegiatan rukyatul hilal ini merupakan ranah pencarian bukti astronomis dari hasil hisab. Hasilnya utamanya adalah mendapatkan data empiris ketampakan atau visibilitas hilal. Juga sangat penting untuk pendidikan, pembelajaran, dan latihan. Selanjutnya, hasil ini dapat dipakai untuk referensi ilmiah dalam penentuan kriteria secara teoritis. Juga dapat dipakai untuk memeriksa hasil perhitungan, apakah sistem yang dipakai punya akurasi tinggi atau tidak dibandingkan dengan hasil rukyat, termasuk uji peranti lunak apakah presisi atau tidak.

 

OBSERVASI RABU, 19 AGUSTUS 2020

DI KAWASAN TAMAN IMPIAN JAYA ANCOL, JAKARTA

Hari Hisab/Rukyat/Ijtimak

Secara nasional, hari Rabu Pahing, 19 Agustus 2020 (29 Zulhijah 1441H) dianggap hari hisab dan hari rukyat. Dalam kasus ini, mempertimbangkan aspek astronomisnya, maka Tim Planetarium dan Observatorium Jakarta akan melaksanakan rukyat pada hari tersebut di mana posisi Bulan sudah melewati tahap ijtimak atau konjungsi. Jadi, disebut pula hari ijtimak.

Kali ini, terjadinya ijtimak berlangsung sebelum Matahari terbenam. Hasil hisab menunjukkan bahwa Matahari terbenam bila dilihat dari Taman Impian Jaya Ancol adalah pukul 17:54:18,52 WIB. Artinya kondisi fase Bulan yang rencananya akan diobservasi saat Matahari terbenam sudah melewati saat ijtimak (09:42:14 WIB). Sebut bahwa usia hilal adalah 8 jam 12 menit 04 detik (sebut positif dan sebagai New Moon). Jadi, dari analisis perhitungan astronomis bahwa hilal “kemungkinan” dapat diobservasi (analisis MABIMS, minimal usia 8 jam). Selain itu, hilal terbenam pukul 18:14:21,24 WIB. Jadi, ada kesempatan selama 20 menit 02,71 detik untuk mengamatinya sebelum akhirnya terbenam di ufuk. Hal ini dihitung sejak terbenamnya Matahari di mana bagian piringan Matahari paling atas atau upperlimb terbenam.

Gambar 1 Posisi Terjadinya Ijtimak/Konjungsi

Bagi kalangan tertentu yang berbasis hanya pada hisab, maka New Moon ini sekaligus menjadi New Month (awal kalender berbasis Bulan) dalam arti secara otomatis esoknya adalah tanggal 1 pada bulan berikutnya. Namun, di Indonesia, tidak hanya berbasis hisab, melainkan hisab dan rukyat (bukan hisab atau rukyat). Jadi, New Moon belum niscaya New Month, karena dalam satu aspek bahwa fase ini belum tentu dapat dirukyat di mana dalam penentuan tanggal 1 kalender Hijriah berlaku ketentuan khusus.

Pada kasus lainnya, kendati berbasis hisab sudah New Moon, tetapi memperhitungan hadirnya hilal apakah sudah wujud atau tidak di mana wujud apabila hilal di atas ufuk tatkala Matahari terbenam, maka New Moon juga tidak otomatis New Month (walau positif tetapi tidak wujud, maka bulan Zulhijah 1441H akan digenapkan 30 hari). Sederhananya bahwa saat Matahari terbenam, hilal sudah terlebih dahulu terbenam atau tidak wujud saat ghurub. Pada kasus lain, dapat terjadi ijtimak memang sudah berlangsung (New Moon), namun, saat Matahari terbenam ternyata posisi hilal terlalu dekat dengan Matahari (sudah wujud tetapi tidak dapat terlihat, sederhananya bahwa cahaya hilal kalah perkasa dibandingkan dengan pendaran cahaya Matahari).

Kasus di atas terkait kombinasi posisi Bulan, Bumi, dan Matahari, serta posisi sang pengamat. Misal kita di Jakarta dan di Medan, tentu akan melihat bedanya terlebih antara pengamat di Indonesia dan di Timur Tengah. Sekaligus menjelaskan mengapa apabila terjadi gerhana, maka tidak semua wilayah dapat menyaksikan. Contohnya Gerhana Matahari Total tanggal 9 Maret 2016 di mana kota Palu mengalami totalitas, siang laksana malam dengan langit berbintang; sementara di Jakarta, Matahari tampak di langit seperti biasa walau agak redup karena gerhana sebagian saja.

 

 

Gambar 2 Peta Ketinggian Hilal di Dunia Saat Matahari Terbenam

Dalam kasus hilal pun sama, belum tentu satu tempat dapat melihatnya walau dapat saja tempat lain dapat mengamatinya (semakin ke barat, kemungkinan melihat hilal semakin besar). Misal di Indonesia belum terlihat (maka kita menggenapkan 30 hari, lusa baru tanggal 1), maka kawasan Timur Tengah atau lebih ke arah barat kemungkinan besar atau bahkan sudah dapat melihat (mereka 29 hari dan esoknya tanggal 1). Sesuatu yang sangat wajar karena makin ke barat seiring bertambahnya usia Bulan, juga fase, iluminasi, dan ketinggiannya.

Kembali pada data hisab, maka akan ditelusuri posisi hilal sebagai acuan tatkala akan melakukan rukyat terkait penentuan awal bulan Muharram 1442H. Dalam kasus ini memang tidak terjadi perbedaan kondisi hilal di Indonesia, semua berharga positif (lihat gambar 3 dan 4). Apakah hilal dapat dirukyat adalah pertimbangan yang lain.


Gambar 3 Peta Ketampakan Hilal di Seluruh Dunia Berbasis Kriteria Odeh

 

Gambar 4 Peta Ketinggian Hilal Awal Muharram 1442H di Indonesia

 

Tabel 1
Berbasis Hisab, 1 Muharram 1442H jatuh pada hari Kamis Pon, 20 Agustus 2020

 

Tabel 2
Data Ephemeris berbasis titik Pelabuhan Ratu sebagai standard pos observasi secara nasional

 

Referensi Pelaporan Hilal 

Apabila menilik harga ketinggian hilal dan pra-syarat lain, memang ada kemungkinan hilal dapat dirukyat pada hari Rabu, 19 Agustus 2020. Sebagai pertimbangan bahwa memang ada referensi pelaporan hilal tatkala terjadi kondisi hilal seperti pada penentuan awal bulan Muharram 1442H ini (khususnya di seluruh wilayah Indonesia). Berbasis pada titik rukyat utama Pos Observasi Bulan (POB) Pelabuhan Ratu, Sukabumi pada hari Rabu, 19 Agustus 2020, yaitu: 

  1. Tinggi hilal                         =  3,91 derajat;
  2. Jarak busur Bulan-Matahari = 5,19 derajat; dan
  3. Umur hilal                          =  8 Jam 13 menit 07 detik;

Di Indonesia dikenal adanya kriteria imkanurukyat sebesar 2 derajat berdasarkan kesaksian yang terjadi pada rukyatul hilal penentuan 1 Syawal 1404H (29 Juni 1984) di mana ijtimak terjadi pada pukul 10:18 WIB.

Selain itu, ada pertimbangan lain:

     1. Kriteria MABIMS di mana:
           a) ketinggian hilal minimal 2 derajat;
           b) jarak busur 3 derajat; atau
           c) umur hilal minimum 8 jam.

     2. Landas acu empiris pada Limit Danjon (statistik dan batas kemampuan mata manusia secara wajar), bahwa hilal akan tampak apabila jarak sudut antara Bulan dan Matahari minimal 6,4 derajat (Odeh dari Islamic Crescent Observation Project (ICOP)).

Bagaimana dengan hilal awal Muharram 1442H di Indonesia?

Apabila murni hanya pada metode hisab dengan segala pertimbangan yang ada di atas, maka akan tampak untuk di Indonesia (ambil posisi sentral perhitungan, yaitu di POB Pelabuhan Ratu) dengan hasil sebagai berikut:

     1. Hilal posisi positif berarti awal Muharram 1442H akan jatuh pada hari Kamis, 20 Agustus 2020 (tidak digenapkan 30 hari); dan

     2. Hilal positif dan sudah ujud (di atas ufuk saat Matahari terbenam) berarti awal Muharram 1442H jatuh pada hari Kamis, 20 Agustus 2020.

Apabila dikombinasi dengan syarat rukyat, maka

     3. Berbasis pertimbangan pada referensi pelaporan hilal di atas, kondisi hilal Muharram 1442H pada hari Rabu, 19 Agustus 2020 telah masuk kriteria, kecuali kriteria Limit Danjon (3,91 vs 6,40). Jadi, statusnya “tetap besar harapan” untuk dapat melihat hilal walau bagi sebagiannya tentu akan merasa sangat kesulitan. Dari sini, “kemungkinan besar” bahwa awal Muharram 1442H adalah Kamis, 20 Agustus 2020.

Apabila ada kesaksian pelaporan rukyat, maka hilal Muharram 1442H, pada hari hisab, hari rukyat, hari ijtimak hari Rabu Pahing, 19 Agustus 2020 (29 Zulhijah 1441H) saat Matahari terbenam (Maghrib) akan dapat diamati dari seluruh wilayah Indonesia. Artinya, “kita memulai tahun yang baru, tahun 1442H” tahun ini pada hari Kamis, 20 Agustus 2020 (Catatan: pergantian tahun sejatinya selepas Maghrib pada hari Rabu, 19 Agustus 2020. Hal ini karena sebenarnya pergantian hari pada kalender Hijriah adalah saat Maghrib, bukan pukul 24:00 seperti pergantian waktu dalam kalender masehi).

 

Tabel 3 Data Ephemeris berbasis titik observasi Taman Impian Jaya Ancol.

Adapun pembanding perhitungan, dapat dilihat di bawah ini (dikompilasi oleh Mila Izzatul Ikhsanti, SSi) untuk lokasi di Kawasan Taman Impian Jaya Ancol dengan:

                                                   Tabel 4
                                                  Lokasi : RM Beach Food – Pantai Taman Impian Jaya Ancol, Jakarta
                                                  Koordinat Lokasi : 06° 07' 07,4" LS – 106° 50,79' 47,4" BT
                                                  Ketinggian : 2 Mdpl
                                                  Area Waktu : GMT +7 / WIB
                                                  Ijtimak/Konjungsi : Rabu, 19 Agustus 2020. Pukul 09:41 WIB

Catatan:
Adanya perbedaan karena adanya pembulatan angka, data ijtimak, presisi koordinat.
Yang hijau adalah yang hasilnya sama/mendekati harga tim Planetarium dan Observatorium Jakarta.

Gambar 5 Ilustrasi Posisi Hilal di Kawasan Taman Impian Jaya Ancol

 

Gambar 6 Ilustrasi Fase Hilal di Kawasan Taman Impian Jaya Ancol

 

Gambar 7 Ilustrasi Orientasi Bentuk Hilal Dilihat dari Kawasan Taman Impian Jaya Ancol

 

Gambar 8 Ilustrasi Arah Pengamat untuk Rukyatul Hilal Dilihat dari Kawasan Taman Impian Jaya Ancol

 

Gambar 9 Pedoman Rukyatul Hilal Dilihat dari Kawasan Taman Impian Jaya Ancol

 

Contoh singkat pelaporan lapangan:

 

OBSERVASI KAMIS, 20 AGUSTUS 2020

Sehari setelahnya, yakni Kamis, 20 Agustus 2020 tetap dilakukan observasi Bulan Sabit Muda untuk konfirmasi hisab. Seperti hisab dan rukyat penentuan awal Syaban 1441H, bahwa ketika hilal pada hari hisab/rukyat/ijtimak belum terlihat, maka bulan Rajab digenapkan 30 hari (positif, namun tidak dapat dirukyat). Untuk Muharram kali ini, dari hisab tanggal 29 Zulhijah 1441H (hari hisab/rukyat/ijtimak) bahwa terdapat alasan atau argumentasi bila hilal dapat diamati. Jadi, berbasis hisab bahwa penggenapan tidak terjadi. Namun, untuk konfirmasi terhadap hasil hisab guna mendapatkan data empiris di lapangan, maka tetap dilakukan observasi 2 kali pada 2 hari berturut.

Tujuan hari kedua adalah untuk mendapat data empiris ketampakan atau visibilitas hilal. Juga sangat penting untuk pendidikan, pembelajaran, dan latihan. Selanjutnya visibilitas Bulan Sabit Muda ini dapat dipakai sebagai referensi ilmiah untuk penentuan secara teoritis. Observasi Bulan Sabit Muda ini dapat pula dipakai untuk memeriksa hasil perhitungan astronomis, apakah sistem hisab yang dipakai memiliki akurasi tinggi atau tidak, bahkan termasuk pengujian peranti lunak apakah presisi atau tidak. Pada hari kedua ini, maka pedomannya sebagai berikut:

 

Gambar 10 Peta Ketinggian Bulan Sabit Muda di Dunia.

 

 

Gambar 11 Peta Ketampakan Bulan Sabit Muda Kriteria Odeh

 

Gambar 12 Peta Ketinggian Bulan Sabit Muda di Indonesia.

 

Tabel 5 Data Ephemeris berbasis titik observasi Kawasan Taman Impian Jaya Ancol.

 

Adapun pembanding perhitungan (kompilasi: Mila Izzatul Ikhsanti, SSi):

                                                     Tabel 6
                                                    Lokasi : RM Beach Food – Pantai Taman Impian Jaya Ancol, Jakarta
                                                    Koordinat Lokasi : 06° 07' 07,4" LS – 106° 50,79' 47,4" BT
                                                    Ketinggian : 2 Mdpl
                                                    Area Waktu : GMT +7 / WIB
                                                    Ijtimak / Konjungsi : Rabu, 19 Agustus 2020. Pukul 09:41 WIB

 

Gambar 13 Ilustrasi Posisi Bulan Sabit Muda dari Kawasan Taman Impian Jaya Ancol

 

Gambar 14 Ilustrasi Fase Bulan Sabit Muda dari Kawasan Taman Impian Jaya Ancol

 

Gambar 15 Ilustrasi Orientasi Bentuk Bulan Sabit Muda Dilihat dari Kawasan Taman Impian Jaya Ancol

 

Gambar 16 Ilustrasi Arah Pengamat untuk Observasi Bulan Sabit Muda

 

 

Gambar 17 Pedoman Observasi Bulan Sabit Muda Dilihat dari Kawasan Taman Impian Jaya Ancol

 

Sekilas Landas Acu Penetapan

Sekedar pengingat tentang proses penetapan oleh Pemerintah RI melalui Sidang Itsbat-nya pada penentuan Ramadan, Syawal, dan Zulhijah. Sidang Itsbat adalah sidang penetapan awal bulan Hijriah yang diadakan pertama kali tahun 1950; dan secara sederhana berbasis fatwa ulama, bahwa pemerintah punya hak menentukan awal bulan Ramadan (terkait awal puasa), Syawal (Idul Fitri), dan Zulhijah (Idul Adha). Lalu tahun 1972 dibentuk Badan Hisab dan Rukyat (BHR) yang terdiri dari alim ulama dan ahli Astronomi. Tugas inti adalah memberi informasi kepada Menteri Agama tentang data awal bulan tersebut.

Sidang Itsbat bersifat musyawarah di mana hasilnya merupakan kesepakatan antar ormas Islam yang diwakili oleh utusannya. Jadi, dapat dikatakan bahwa Pemerintah hanya memfasilitasi, mengumpulkan para tokoh dan ulama untuk membahas kapan awal bulan itu ditetapkan. Hanya saja, nanti setelah diambil satu kesepakatan, barulah Menteri Agama memutuskan dan memberi pengumuman secara resmi. Mengenai penentuan ini berdasarkan fatwa MUI No. 2 tahun 2004. Jadi, Sidang Itsbat selalu dilaksanakan pada hari hisab dan hari rukyat, yaitu tanggal 29 Syaban (Itsbat Awal Ramadan), 29 Ramadan (Itsbat Awal Syawal); dan 29 Zulkaidah (Itsbat Awal Zulhijah).

Adapun metode hisab seperti yang dibahas di atas berarti prediksi/informasi hilal penentu awal bulan. Rukyat bermakna konfirmasi hilal penentu awal bulan.

Sidang Itsbat dilaksanakan di Gedung Kementerian Agama RI dan rukyat dilaksanakan di berbagai wilayah di seluruh Indonesia. Perukyat terorganisir (resmi) didampingi oleh Hakim Agama untuk memberikan itsbat kesaksian rukyatul hilal. Hal ini mengacu pada UU RI No.3 Tahun 2006 Pasal 52A.

Selain itu bahwa Sidang Itsbat dipimpin oleh Menteri Agama, didampingi oleh Ketua MUI, Ketua Komisi VIII DPR RI, Dirjen Bimas Islam, dan Sekjen Kementerian Agama. Peserta sidang terdiri dari wakil ormas–ormas Islam, ulama, tokoh masyarakat, Anggota Badan Hisab Rukyat (sekarang Tim Hisab Rukyat), Duta Besar Perwakilan Negara Sahabat, Pejabat Kementerian Agama, dan instansi terkait.

 

Catatan Akhir

Pada penentuan awal bulan Muharram 1442H kali ini dapat dikatakan sebagai berikut:

  • Ilustrasi tambahan:

  • Berbasis murni perhitungan (hisab) bahwa hilal sudah positif dan wujud pada hari hisab/rukyat/ijtimak (29 Zulhijah 1441H / 19 Agustus 2020). Jadi, kecenderungannya bahwa bulan Zulhijah 1441H tidak digenapkan menjadi 30 hari dan 1 Muharram 1442H jatuh pada hari Kamis Pon, 20 Agustus 2020; 
  • Berbasis observasi (rukyat), maka penentuannya berbasis hasil rukyat secara nasional yang akan dilakukan pada hari hisab/rukyat/ijtimak, yaitu saat Matahari terbenam pada hari Rabu, 29 Zulhijah 1441H (19 Agustus 2020), saat ghurub. Apabila ada kesaksian, maka niscaya akan diterima karena berbasis kriteria yang ada praktis dapat dikatakan memenuhi syarat;
  • Dari aspek astronomis, bahwa pelaksanaan rukyatul hilal dilakukan hari Rabu, 19 Agustus 2020 karena berbasis hisab bahwa tahap ijtimak sudah terjadi. Adapun konfirmasi hasil hisab pun dilakukan pada tanggal 20 Agustus 2020 atau dari hisab sudah masuk tanggal 1 Muharram 1442H (observasi hari kedua);
  • Seperti yang pernah dipaparkan bahwa kadang hasil hisab berbeda dengan hasil rukyat. Jadi, kadang ada perbedaan penentuan awal bulan Hijriah (tidak dari segi perhitungan astronomisnya). Dalam adanya kasus perbedaan, maka semua tergantung pada musyawarah dan kesepakatan nasional. Masalah ini juga sudah ditentukan garis kebijakannya oleh Kementerian Agama RI. Mungkin inilah yang sering ditanyakan oleh masyarakat, dan bahwa Astronomi sebagai ilmu (pure science atau MIPA) memang kini dapat menentukan New Moon dengan ketepatan yang semakin dapat diandalkan. Namun, tidak untuk menentukan New Month yang lebih ke ranah religi. Kalau pada jaman dahulu kala memang menjadi lumrah apabila seorang astronom juga sekaligus ulama besar sebagai penentu kebijakan ibadah umat, bahkan banyak juga yang kepakarannya berkombinasi semisal dengan ahli Kimia, Fisika, Matematika. dll.;
  • Selain itu, dan sehubungan dengan kondisi darurat kesehatan saat ini terkait kondisi pandemik Covid-19 dan situasi PSBB Transisi, maka ada perubahan tata cara kegiatan rukyatul hilal Muharram 1442 Dalam kasus ini, Kementerian Agama RI sudah mengeluarkan Surat Edaran (Nomor B.1014/Dt.III.1/HK.03.2 /04/2020) yang sekiranya dapat diikuti dengan serius dan seksama oleh semua pihak. Edaran yang sama juga telah dilakukan oleh ormas terkait; dan Planetarium dan Observatorium Jakarta pun melaksanakan rukyatul hilal secara tertutup, hanya melibatkan para staf terkait penugasan; dan

Terlepas dari itu semua, berharap apabila masyarakat semakin memahami fenomena ini secara ilmiah, di ujung akhirnya, dapat menimbulkan rasa syukur dengan segala kerendahan hati karena mendapat kesempatan justru untuk menikmati perbedaan tersebut sebagai salah satu karunia-Nya yang tidak terukur besarnya. “Selamat Tahun Baru 1442 Hijriah dan semoga tahun mendatang semakin membawa kita pada keberkahan-Nya”. Salam Astronomi –

 

DAFTAR PUSTAKA 

Abell, G.O.,    1975, Exploration of the Universe, Holt, Rinehart and Winston, New York

Departemen Agama RI, 1996, Winhisab Version 2.0, Badan Hisab Rukyat Departemen Agama RI

Departemen Agama RI, 2008, Panduan Hisab Rukyat, Direktorat Jenderal Bimbingan Masyarakat Islam

Kementerian Agama RI, 2017, Temu Kerja Hisab Rukyat Tahun 2018 (23 – 25 April 2018 di Hotel Sylvia Labuan Bajo Nusa Tenggara Timur), Ditjen Bimas Islam, Direktorat Urusan Agama Islam dan Pembinaan Syariah

Kementerian Agama RI., 2020, Taqwim Standar Indonesia 2020 Masehi / 1441-2 Hijriyah, Direktorat Jenderal Bimas Islam Kementerian Agama RI

Khafid, 1996, Mawaaqit 2001

Mahkamah Agung RI., 2019, Data Ephemeris Matahari dan Bulan tahun 2019, Direktorat Jenderal Badan Peradilan Agama.

MUI  2004, Keputusan Fatwa MUI Nomor 2 Tahun 2004 tentang Penetapan Awal Ramadan, Syawal, dan Dzulhijjah, Komisi Fatwa MUI

Smart, W.M., 1961, Spherical Astronomy, Cambridge Univ. Press, London

---------------., 1989, Sofware Astronomi Astro Info, Tumasoftware, Zephyr Services 1900 Murray Ave. Pittsburgh, PA. 15217

---------------., Red Shift 3 Multi Media Astronomy, Maris Multimedia Production

---------------., 2004, Software Astronomi Starry Night Pro Plus 6.0, Imaginova Canada Lmt