Tim observasi hilal sedang mempersiapkan teleskop yang akan digunakan untuk pengamatan hilal dan gerhana matahari sebagian. Credit: Planetarium dan Observatorium Jakarta

 

Beberapa hari yang lalu tepatnya pada tanggal 1-3 September 2016, tim Planetarium dan Observatorium Jakarta melaksanakan tugas rutin tahunan yaitu Observasi Hilal untuk penentuan awal bulan Zulhijah 1437 H. Tim yang baranggotakan 4 orang memilih lokasi pengamatan di Pantai Anyer - Banten karena memiliki sudut medan pandang ufuk barat yang cukup luas. Namun terkadang kumpulan awan tipis bahkan awan tebal bertipe Cumulus menggantung di atas pulau Sumatera, sehingga Matahari saat terbenam pun kadang sulit teramati dengan baik.

Pada pengamatan hilal kali ini, tanggal 29 Zulkaidah jatuh pada hari Kamis 1 September 2016 pada kalender Masehi. Pada tanggal tersebut ketinggian hilal bernilai negatif pada saat Matahari terbenam, tepatnya ketinggian hilal -0,10o dari permukaan laut. Adapun data lengkap hilal dan Matahari terangkum pada tabel di bawah ini

 

Tabel Ephemeris Hisab

Lokasi: Pantai Anyer - Banten, Kamis 1 September 2016 / 29 Zulkaidah 1437 H

Matahari Terbenam 17:56:17 WIB
Azimuth Matahari Terbenam 277,99o atau 277o 59' 7,49"

Hilal Terbenam

17:55:46 WIB

Tinggi Hilal saat Matahari Terbenam

(Dari permukaan laut)

-0,10o atau 0o -6' -17,33"
Azimuth Bulan saat Matahari Terbenam 277,53o atau 277o 31' 39,29"
Beda Azimuth Bulan dan Matahari 0,46o atau 0o 28' 17,17"
Illuminasi Hilal 0,00006692 Bagian atau 0,01 %
Umur Hilal 0 hari 1 jam 50 menit 38 detik

Sumber data: Cecep Nurwendaya (Planetarium dan Observatorium Jakarta)

 

Dari data di atas dapat diketahui bahwa dengan ketinggian hilal negatif, hilal mustahil untuk diamati dengan alat bantu teleskop maupun mata telanjang. Sehingga karena tidak terlihatnya hilal di seluruh wilayah titik pos pengamatan pada tanggal 1 September 2016, maka Kementrian Agama Republik Indonesia menetapkan bulan Zulkaidah di-isti'malkan (digenapkan) menjadi 30 hari. Terlepas hal itu ada yang cukup menarik dari data tersebut, terlihat beda azimuth antara Bulan dan Matahari kurang dari besar lebar sudut piringan Matahari yaitu sebesar 30 menit busur atau 0,5o. Hal ini menunjukkan bahwa ada sebagian kecil dari piringan Bulan yang menutupi piringan Matahari. Ini terbukti dari hasil pengamatan oleh tim Planetarium dan Observatorium Jakarta bahwa saat observasi berlangsung dan di sebagian kecil wilayah Indonesia bagian barat dilewati jalur Gerhana Matahari Sebagian - masyarakat ada juga yang menyebutnya "Gerhana Matahari Secuil" karena hanya sekitar 7,7% piringan Matahari yang tertutup oleh piringan Bulan. Tim Planetarium dan Observatorium Jakarta berhasil mengabadikan moment gerhana tersebut.

 

Kontak Pertama Gerhana Matahari Sebagian. Credit: Ronny Syamara (Planetarium dan Observatorium Jakarta)

 

Credit: Ronny Syamara (Planetarium dan Observatorium Jakarta)

 

Pada observasi dihari kedua, nilai ketinggian hilal sudah positif dan umur hilal sudah cukup tua. Data lengkap hilal dan Matahari pada tanggal 30 Zulkaidah 1437 H (2 September 2016) terangkum pada tabel di bawah ini.

 

Tabel Ephemeris Hisab

Lokasi: Pantai Anyer - Banten, Jum'at 2 September 2016 / 30 Zulkaidah 1437 H

Matahari Terbenam 17:56:08 WIB
Azimuth Matahari Terbenam 277,62o atau 277o 37' 5,31"

Hilal Terbenam

18:41:55 WIB

Tinggi Hilal saat Matahari Terbenam

(Dari permukaan laut)

10,77o atau 10o 46' 5,94"
Azimuth Bulan saat Matahari Terbenam 275,02o atau 275o 1' 9,96"
Beda Azimuth Bulan dan Matahari 2,60o atau 2o 35' 55,36"
Illuminasi Hilal 0,01179272 Bagian atau 1,18 %
Umur Hilal 1 hari 1 jam 50 menit 28 detik

Sumber data: Cecep Nurwendaya (Planetarium dan Observatorium Jakarta)

 

Pada saat pengamatan di hari kedua, tim sudah menyiapkan peralatan sejak pukul 16.15 WIB. Teleskop sudah diposisikan untuk tracking ke Matahari dan mengambil citra permukaan Matahari. Sekitar pukul 17.36 WIB perlahan-lahan Matahari mulai tertutup oleh awan tipis, dan selang 3 menit kemudian tertutup oleh awan tebal dan tidak terlihat kembali hingga Matahari terbenam pukul 17.56 WIB. Hasil dari tracking teleskop ke objek Matahari yang cukup bagus, membuat tim observasi yakin dapat mengarahkan teleskop ke objek hilal dari koordinat yang telah diketahui. Hanya saja tim "dihantui" dengan berkumpulnya awan-awan tipis hingga tebal disekitar posisi hilal yang telah diketahui koordinatnya.

 

Lingkupan awan yang cukup tebal di sepanjang ufuk barat. Credit: Planetarium dan Observatorium Jakarta

 

Rasa optimisme yang dimiliki tim observasi tidak surut melihat situasi ufuk barat yang demikian parahnya. Kami hanya berdoa dan yakin pasti ada celah di antara kumpulan awan-awan dan berharap hilal tampak di celah tersebut. 20 menit sebelum hilal terbenam akhirnya harapan kami pun terkabul, pukul 18.21 WIB hilal terlihat melalui teleskop dan tim segera mengabadikannya. Selang beberapa menit kemudian hilal pun tertutup awan dan tidak teramati hingga pukul 18.41 WIB waktu hilal terbenam.

 

Credit: Ronny Syamara (Planetarium dan Observatorium Jakarta)

 

Crew tim observasi hilal awal bulan Zulhijah 1437 H

  • Drs. Widya Sawitar (Pakar Astronomi)
  • Drs. Nasikhi (Administrasi)
  • M. Januardi (Teknisi)
  • Ronny Syamara (Astrofotografer)