Written by Super User
PRESS RELEASE

Kegiatan Penelitian Bulan Sabit Usia Muda
Sebagai Media Informasi dan Konfirmasi Awal Bulan Hijriah Tahun 2017

Oleh Tim Observasi Bulan
Planetarium dan Observatorium
Unit Pengelola Pusat Kesenian Jakarta Taman Ismail Marzuki
Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Provinsi DKI Jakarta

Salah satu dari sekian banyaknya aplikasi langsung dari bidang ilmu Astronomi di kalangan masyarakat terwujud dalam bentuk penentuan waktu-waktu yang terkait erat dengan pelaksanaan ibadah keagamaan. Bagaimana pun, ibadah seperti ini banyak yang berpedoman pada kalender berbasis khususnya Bulan (bahkan kombinasi antara posisi Matahari dan Bulan, yaitu sistem luni-solar). Memang secara faktual yang tampak adalah pada umat Muslim yang terkenal dengan kalender Hijriahnya.

Aplikasi tersebut pada umat Muslim yang merupakan mayoritas di Indonesia tentu menjadi nyata terlihat, dan kegiatannya mencakup semisal penentuan jadwal waktu sholat, awal bulan Sya’ban (yang didalamnya terdapat malam istimewa, Nisfu Sya’ban tanggal 15), awal ibadah puasa (1 Ramadhan), Idul Fitri (1 Syawal), awal bulan Dzulhijjah (untuk pedoman Idul Adha tanggal 10), kalender standard Masehi (berdasar gerak semu Matahari di kubah langit), kalender Hijriyah (berdasar lintas edar ataupun perubahan fase Bulan), dan pelaksanaan sholat gerhana (dengan menghitung kapan saat terjadinya Gerhana Matahari atau Gerhana Bulan), dll. Dalam hal ini termasuk penentuan arah kiblat. Secara Astronomi dapat dikatakan bahwa kegiatan ini adalah meneliti dan mengamati posisi Bulan Sabit Awal (anak Bulan) untuk menentukan awal kalender Bulan berbasis bidang ilmu Astronomi. Secara fakta bahwa kegiatan perhitungan dan pengamatan sudah menjadi pekerjaan dalam bidang Astronomi.

Sebagai lembaga yang secara konsisten berupaya mempopulerkan Astronomi serta menjembatani antara dunia sains Astronomi dengan masyarakat umum, Planetarium dan Observatorium yang sejak tahun 2017 menjadi bagian dari Unit Pengelola Pusat Kesenian Jakarta Taman Ismail Marzuki (UP PKJ TIM) Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Provinsi DKI Jakarta secara formal telah memberikan kontribusi nyata dalam kegiatan perhitungan dan pengamatan Bulan sabit  usia muda sebagai media informasi dan konfirmasi telah masuknya bulan hijriyah yang dalam istilah syariah disebut sebagai Hisab Rukyat sejak tahun 1974 dan berkesinambungan sampai sekarang, juga berkolaborasi dengan ragam instansi seperti Kementerian Agama, Observatorium Bosscha ITB, LAPAN, dll.

Hisab dalam bahasa Indonesia dapat diartikan sebagai hitungan/perhitungan/perkiraan berbasis teori Astronomi, Fisika, dan Matematika; sementara rukyat adalah perihal melihat/penglihatan/pengamatan yang dalam Astronomi lebih umum disebut observasi, baik kasat mata maupun menggunakan bantuan beragam peranti observasi.

Pada ranah ibadah umat Muslim di Indonesia juga terdapatfatwa, yaitu Fatwa MUI No. 2 tahun 2004, di mana awal bulan Dzulhijjah seperti halnya Ramadhan dan Syawal di Indonesia ditentukan berdasar metode Rukyat dan Hisab (bukan: Rukyat atau Hisab). Secara hisab sudah jelas tertera dalam Taqwim Standar Indonesia (selain itu, sebenarnya dalam bidang Astronomi permasalahan posisi Bulan dan Matahari, bahkan objek langit seperti planet, komet, dan banyak lagi juga telah dilakukan perhitungannya termasuk kapan terjadinya gerhana hingga perhitungan untuk berpuluh tahun ke depan dengan presisi yang tinggi yang dapat dibuktikan dengan kegiatan observasi sedemikian sebuah teori dapat dikatakan sahih).

Hari penentu atau hari untuk menentukan kapan jatuhnya awal bulan Hijriah biasanya dilakukan pada tanggal 29 bulan Hijriah (hari hisab dan hari rukyat) yang bertepatan dengan hari ijtimak, yang dalam Astronomi biasa disebut konjungsi (dalam kasus di sini konjungsi antara Bulan dan Matahari). Disinilah ditentukan, apakah ada kemungkinan untuk meng-istikmal-kan (menggenapkan) bulan Hijriah menjadi 30 hari.Kalau tidak digenapkan, artinya bila sekarang tanggal 29, maka esok adalah tanggal 1.Bila digenapkan, artinya bila sekarang tanggal 29, maka esok tanggal 30 dan baru lusa tanggal 1 (paling panjang rentangnya 30 hari. Hal ini dimaklumi karena periode edar sinodis Bulan sekitar 29,5 hari.Jadi, kalau tidak 29, maka 30 hari).

Selain itu, keputusan dalam ibadah umat Muslim di Indonesia juga berdasar kesepakatan tertentu. Salah satunya adalah, apakah posisi hilal (sebut anak Bulan) pada hari penentu hisab tersebut di atas sudah memenuhi kriteria masuknya awal bulan Hijriah di Indonesia berbasis Hisab Kriteria MABIMS, yaitu perhitungan hisab yang berpedoman kepada ketinggian Bulan minimal 2 derajat untuk seluruh wilayah negara anggota, jarak sudut Matahari dan Bulan minimal 3 derajat dan umur Bulan minimal 8 jam setelah saat ijtima'. Apabila ternyata belum memenuhi kriteria awal bulan tersebut, maka di seluruh anggota MABIMS, yakni Brunei Darussalam, Indonesia, Malaysia, dan Singapura secara hisab menggenapkan atau meng-istikmal-kan bulan Hijriah menjadi 30 hari.

Hisab Kriteria MABIMS ini telah disepakati bersama oleh seluruh anggota MABIMS pada Muzakarah Rukyat dan Takwim Islam Negara Anggota MABIMS di Jakarta pada tanggal 21–23 Mei 2014. Juga biasanya dalam penentuan tersebut dilaksanakan terlebih dahulu Temu Kerja Hisab Rukyat. Inipun dimaklumi karena metode perhitungan ada beberapa macam, sedemikian secara keilmuan dapat saling memeriksakan hasilnya.

Apabila berdasarkan hasil hisab sudah tampak jelas, sudah terang benderang. Yang menjadi pertanyaannya adalah apakah secara rukyat pada posisi hilal di bawah ufuk di seluruh wilayah Indonesia ini masih perlu dirukyat? Atau secara lebih sederhana misalnya secara perhitungan sangat jelas bahwa posisi hilal berada di bawah ufuk tatkala Matahari terbenam. Jelaslah tidak dapat dilihat.Apakah masih tetap perlu dirukyat atau diobservasi? Ada beberapa pemikiran dan pertimbangan dalam hal menjawab pertanyaan ini, antara lain:

  1. Pemerintah harus mengayomi seluruh pengamal metode penentuan awal bulan Hijriyah di Indonesia. Diakui atau tidak, pada kenyataannya di kalangan masyarakat Muslim di Indonesia terdapat berbagai metode dalam penentuan awal bulan, antara lain:
  2. Menurut Keputusan Fatwa Majelis Ulama Indonesia No. 2 tahun 2004, pada Fatwa Pertama dan poin pertama berbunyi: Penetapan awal Ramadan, Syawal, dan Dzulhijjah dilakukan berdasarkan metoda ruk'yah dan hisab oleh Pemerintah RI cq Menteri Agama dan berlaku secara nasional. Oleh karena fatwanya masih digunakan sebagai panduan penentuan awal bulan Hijriah di Indonesia, maka rukyat harus/wajib dilaksanakan sebagai konfirmasi dari hisab. Konsekuensi penggunaan fatwa ini adalah tanpa menyebutkan posisi hilalnya, apakah berada di atas atau di bawah ufuk. Dalam kasus ini, lebih jelasnya bahwa apakah posisi hilal berdasar hisab pada hari penentuan berharga negatif (artinya: hilal di bawah ufuk) atau berharga positif (hilal di atas ufuk), kegiatan rukyat tetap harus/wajib dilaksanakan sebagai konfirmasi dari hasil hisab.
    1. Metode hisab murni tanpa memerlukan konfirmasi hasil rukyat,
    2. Metode rukyat yang dipandu oleh sistem hisab yang akurat,
    3. Metode rukyat murni,yang tidak ada kaitannya atau tidak mau tahu dengan metode hisab. Tidak ada panduan hisab untuk melakukan rukyat. Pada metode ini akan dilakukan rukyat tanpa terpengaruh oleh posisi hilal pada saat Matahari terbenam – apakah posisi hilal di bawah dan di atas ufuk menurut hasil hisab.
  3. Sekalipun menurut hasil hisab kontemporer atau modern, posisi hilal masih berada di bawah ufuk, sering kali menurut beberapa sistem hisab takhribi sudah positif atau berada di atas ufuk jika ijtimak sudah berlangsung sebelum Matahari terbenam pada tanggal 29 Hijriah. Beberapa kota di Indonesia kadang mengalami ijtimak qoblal ghurub atau ijtimak berlangsung sebelum Matahari terbenam.
  4. Indonesia saat ini tidak menganut penggunaan rukyat global. Sekalipun di seluruh wilayah Indonesia pada saat Matahari terbenam ketinggian hilal berada di bawah ufuk (memiliki ketinggian hilal negatif), namun ada wilayah-wilayah tertentu di dunia yang memungkinkan hilal dapat dirukyat.

 

Mengacu kepada Keputusan Fatwa Majelis Ulama Indonesia No.2 tahun 2004 pada Fatwa Pertama dan poin keempat yang berbunyi: Hasil rukyat dari daerah yang memungkinkan hilal dirukyat walaupun di luar wilayah Indonesia yang matla'nya sama dengan Indonesia dapat dijadikan pedoman oleh Menteri Agama RI. Matla' yang sama dengan Indonesia yang dimaksud adalah wilayah MABIMS (Brunei Darussalam, Indonesia, Malaysia dan Singapura). Mungkin di Indonesia dan sekitarnya tidak dapat terlihat dan negara-negara yang memungkinkan hilal dapat dirukyat semisal negara-negara di Amerika atau Afrika. Andaipun ada pelaporan bahwa hilal dapat terlihat di negara-negara ini, maka hasil rukyat tersebut tidak dapat dipakai untuk penentu awal bulan Hijriyah di Indonesia (matla’ yang sangat berbeda dan berjauhan).

Untuk tahun 2017 (1438 H) kali ini, Planetarium dan Observatorium UP PKJ TIMmengadakan kegiatan Penelitian Perhitungan dan Pengamatan Bulan Sabit usia muda atau Hisab Rukyat untuk penentuan awal bulan Syaban, Ramadhan, dan Dzulhijjah di wilayah Anyer - Banten. Selain itu, mungkin secara umum, penentuan bulan Ramadhan dan Dzulhijjah sudah sangat populer.Mengapa mengambil penentuan bulan Syaban, termasuk di Anyer? Pertimbangan teknis dan astronomis dari kegiatan ini antara lain:

  1. Planetarium dan Observatorium UP PKJ TIM memiliki fasilitas untuk observasi benda langit yang bersifat mobile (portable telescope) terkait kegiatan ini;
  2. Kondisi geografis titik lokasi yang dipilih memenuhi syarat observasi:
    • bentang ufuk barat terbuka luas sehingga tidak ada penghalang hingga batas ufuk;
    • tingkat polusi udara dan polusi cahaya masih sangat minim;
    • horizon pengamat terkait kedalaman ufuk memadai karena lokasinya memiliki ketinggian beberapa meter dari permukaan laut;
    • instrument pengamatan relatif aman karena tingkat kelembaban relatif rendah;
  3. Akses menuju wilayah lokasi pengamatan di Anyer – Banten relatif mudah dijangkau, termasuk fasilitas yang ada yang terkait kegiatan;
  4. Pertimbangan pemilihan awal bulan Hijriah yang dipilih bahwa selama ini penentuan awal Ramadan (awal ibadah puasa) dan awal Dzulhijjah (terkait penentuan Idul Adha) mungkin sudah sangat populer di masyarakat. Yang mungkin belum dipahami adalah penentuan awal Syaban. Umat Islam juga perlu dalam menentukan awal tepatnya bulan Syaban. Hal ini terkait dengan malam antara hari ke-14 dan ke-15 bulan Syaban yang merupakan malam paling istimewa dalam beribadah; malam Nisfu Syaban (Nisfu: pertengahan). Berdasarkan berbagai redaksi Hadist bahwa malam Nisfu Syaban adalah malam diampuninya dosa dan dikabulkannya doa sehingga sangat dianjurkan untuk beribadah sepanjang malam. Terkait dengan pentingnya Rukyat Hilal awal bulan Syaban, terdapat sebuah miskonsepsi yang banyak tidak disadari masyarakat yang menganggap bahwa bulan Purnama adalah pertengahan sebuah bulan dalam kalender Qomariah. Hal ini menjadi tidak akurat jika kita menggunakan perspektif Astronomi. Dalam Astronomi terdapat dua macam periode revolusi Bulan terhadap Bumi, Sideris (27.32 hari) dan Sinodis (29.53 hari). Dalam perhitungan Rukyat Hilal, periode Sinodis yang digunakan sebagai acuan sedemikian menjadi sangat jelas bahwa fase purnama tidak selalu jatuh pada hari ke-15 sebuah bulan. Pertengahan sebuah bulan Qomariah lebih sering jatuh pada hari ke-14, dengan sedikit pergeseran (tergantung lintas orbit) antara hari ke-13 hingga ke-15, tergantung dari kapan konjungsi dan posisi ketinggian Bulan pada saat Rukyat Hilal berlangsung. Selain kekeliruan dalam menghitung pertengahan Bulan, masyarakat juga sering keliru dalam menentukan fase Bulan Purnama secara visual. Dengan mata biasa tanpa alat bantu, akan sulit membedakan antara fase bulan Purnama atau fase sehari sebelum dan sesudah bulan Purnama karena ketiganya secara sekilas memiliki bentuk yang sangat mirip. Hal ini menjadikan Rukyat Hilal untuk menentukan awal bulan Syaban menjadi sangat penting untuk membantu masyarakat dalam menentukan malam Nisfu Syaban dengan presisi ketepatan yang tinggi; dan
  5. Kegiatan ini meliputi ranah sains maupun keagamaan dan dilakukan oleh banyak pihak terkait; lokal, nasional, dan internasional. Jadi, Planetarium dan Observatorium – UP PKJ TIM – Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Provinsi DKI Jakarta dapat menjadi wakil di lokasi bersangkutan (di antara puluhan titik lokasi pengamatan secara nasional); sekaligus dapat menjalin kerjasama dalam sosialisasinya termasuk dengan pemerintah daerah setempat, atau dengan instansi terkait yang juga mengadakan kegiatan serupa, serta dengan komunitas terkait yang senyatanya kerap mempertanyakan masalah penentuan hari besar umat Muslim ini.

 

Di bawah ini, dapat dilihat perhitungan yang dilakukan oleh Cecep Nurwendaya, yang merupakan salah satu anggota tim Planetarium dan Observatorium UP PKJ TIM dalam kegiatan penelitian hisab rukyat ini, dan ilustrasi posisi Bulan untuk pedoman pengamatan.

 

 

Pada tanggal 26 April 2017 dalam kalender Hijriah adalah tanggal 29 Rajab 1438H, di mana hari ini adalah hari hisab dan hari rukyat dan hari ijtimak. Namun, perhitungan Astronomi menunjukkan bahwa kondisi fase Bulan yang “akan” terlihat adalah fase Sabit Tua pada saat Matahari terbenam (ghurub). Jadi, belum terjadi ijtimak dan jelas dalam sisi Astronomi tidak dapat diobservasi atau di-rukyat. Diputuskan untuk melakukan pengamatan esok harinya di mana tanggal 27 April saat Matahari terbenam sangat dimungkinkan untuk dapat mengamati fase Bulan untuk tanggal 1 Syaban 1438H. Adapun pembanding perhitungan, dapat dilihat di bawah ini (semisal ada perbedaan, dimungkinkan sebagai akibat perbedaan lintang dan bujur pengamat ataupun koreksi dimensi ukran piringan Bulan dan Matahari, kedalaman ufuk, atau lainnya):

 

Untuk hari Kamis, 27 April 2017, perhitungan dan pedoman sebagai berikut:

 

 

Adapun pembanding perhitungan, dapat dilihat di bawah ini:


 

Pembanding untuk pengamatan tanggal 28 April 2017 adalah sebagai berikut: