Written by Administrator
PRESS RELEASE

Kegiatan Penelitian Hisab Rukyat
untuk Penentuan Awal Bulan Zulhijjah 1438 H

Oleh Tim Observasi Bulan
Planetarium dan Observatorium
Unit Pengelola Pusat Kesenian Jakarta Taman Ismail Marzuki
Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Provinsi DKI Jakarta

Seperti yang telah dipaparkan pada situs ini sebelumnya (Kegiatan Penelitian Bulan Sabit Usia Muda), bahwa salah satu dari sekian banyaknya aplikasi langsung dari bidang ilmu Astronomi di kalangan masyarakat terwujud dalam bentuk penentuan waktu-waktu yang terkait erat dengan pelaksanaan ibadah keagamaan. Bagaimana pun, ibadah seperti ini banyak yang berpedoman pada kalender berbasis khususnya Bulan (bahkan kombinasi antara posisi Matahari dan Bulan, yaitu sistem luni-solar). Memang secara faktual yang tampak adalah pada umat Muslim yang terkenal dengan kalender Hijriahnya.

Di bawah ini, dapat dilihat perhitungan (hisab) yang dilakukan oleh Cecep Nurwendaya, yang merupakan salah satu anggota tim Planetarium dan Observatorium UP PKJ TIM, juga perbandingan dengan beberapa perhitungan lainnya (dikompilasi oleh Mila Izzatul I dan M. Rayhan) dalam kegiatan Penelitian Hisab Rukyat di mana hal ini dilakukan dalam rangka penentuan awal bulan (tanggal 1) Zulhijjah 1438H di mana penentuan ini sangat penting dalam menentukan kapan Idul Adha 1438H berbasis kalender Matahari (kalender masehi) yang terjadi pada tanggal 10 Zulhijjah 1438H. Hasil perhitungan ini nantinya akan digunakan sebagai pedoman kegiatan observasi (rukyat) yang rencananya akan dilaksanakan di kompleks mercusuar Cikoneng, Pantai Anyer, Serang, Banten. Kegiatan observasi ini merupakan ranah pencarian bukti astronomis dari perhitungan yang dilakukan.

Pada tanggal 22 Agustus 2017 dalam kalender Hijriah adalah tanggal 29 Zulqa’dah 1438H, di mana pada hari itu biasa disebut sebagai hari hisab dan hari rukyat dan hari ijtimak. Hal ini karena fenomena ijtimak antara Matahari dan Bulan terjadi pada hari dan tanggal tersebut, yakni terjadi pada pukul 01:32:45,14 WIB. Perhitungan astronomis pun menunjukkan bahwa Matahari terbenam apabila dilihat dari kompleks mercusuar adalah pada pukul 17:55:7,41 WIB. Artinya kondisi fase Bulan yang rencananya akan diobservasi saat Matahari terbenam telah berumur kisaran 16 jam 22 menit, atau fase Bulan adalah Sabit Awal/Muda (hilal atau Anak Bulan). Jadi, dari perkiraan perhitungan astronomis bahwa Anak Bulan “kemungkinan besar” dapat diobservasi (dirukyat).

Adapun perhitungan dan pembanding perhitungan, dapat dilihat di bawah ini (semisal ada perbedaan, dimungkinkan sebagai akibat perbedaan lintang dan bujur pengamat ataupun koreksi dimensi ukuran piringan Bulan dan Matahari, kedalaman ufuk, atau lainnya):

 

 

 

 

 

Adapun pembanding perhitungan, dapat dilihat di bawah ini (dikompilasi oleh Mila Izzatul, M. Rayhan, dan tim Planetarium dan Observatorium Jakarta) untuk lokasi di kompleks mercusuar Anyer, Serang, Banten dengan:

Koordinat Lokasi    : 06o 04’ 13” LS – 105o 53’ 05” BT
Ketinggian    : 1 Mdpl
Area Waktu    : GMT +7 / WIB
Ijtima/Konjungsi    : Selasa, 22 Agustus 2017. Pukul 01:31 WIB

 

 

 

Adapun sehari setelah hari hisab/rukyat/ijtimak, Rabu, 23 Agustus 2017, tetap dilakukan pengamatan posisi Bulan Sabit Muda untuk konfirmasi perhitungan. Seperti hasil perhitungan dan pengamatan bulan Syaban dan Ramadhan 1438H yang lalu, bahwa ketika Anak Bulan pada saat hari hisab/rukyat/ijtimak belum terlihat, maka bulan Rajab digenapkan 30 hari dan tidak ada perubahan untuk Ramadhan 1438H. Untuk Zulhijjah kali ini, kemungkinan besar Anak Bulan dapat diobservasi dan dilihat. Namun, untuk konfirmasi terhadap hasil perhitungan astronomis, maka tetap dilakukan observasi pada hari Rabu, 23 Agustus 2017.

Pedoman untuk hari Rabu, 23 Agustus 2017 adalah sebagai berikut:

 

 

 

Adapun pembanding perhitungan yang didapat adalah sebagai berikut:

 

 

 

 

 

Sekelumit catatan pada penentuan kalender Hijriah:

  1. Berdasarkan hasil murni perhitungan (hisab) bahwa Anak Bulan sudah di atas ufuk ketika Matahari terbenam tanggal 22 Agustus 2017 (hari hisab/rukyat/ijtimak). Jadi tanggal 1 Zulhijjah 1438H jatuh pada tanggal 23 Agustus 2017;
  2. Berdasar hasil observasi (rukyat), maka penentuannya berbasis hasil rukyat pada hari hisab/rukyat/ijtimak – Selasa, 22 Agustus 2017. Apabila ada kesaksian dari pengamat hilal, maka tanggal 1 Zulhijjah 1438H juga jatuh pada tanggal 23 Agustus 2017;
  3. Seperti dinyatakan pada artikel sebelumnya bahwa saat penentuan semisal Malam Nisfu Syaban, awal Ramadhan, Idul Fitri, termasuk kali ini, yaitu penentuan awal bulan Zulhijjah dalam rangka penentuan kapan Idul Adha, kadang terjadi suatu kasus di mana hasil perhitungan berbeda dengan hasil rukyat. Sebagai contoh: berdasar perhitungan bahwa Anak Bulan sudah di atas ufuk saat Matahari terbenam di hari hisab / rukyat / ijtimak. Namun, tidak ada kesaksian pada pelaksanaan rukyat. Walhasil, yang memakai hasil murni perhitungan biasanya lebih awal melaksanakan Idul Adha dibandingkan dengan yang menggunakan hasil hisab dan rukyat. Sebenarnya masalah ini juga sudah ditentukan garis kebijakannya oleh Kementerian Agama RI (lihat artikel sebelumnya). Mungkin hal inilah yang sering dipertanyakan oleh masyarakat luas. Bidang Astronomi sebagai ilmu (pure science atau MIPA) memang kini dapat menentukan “New Moon” dengan ketepatan yang semakin dapat diandalkan. Namun, tidak untuk menentukan “New Month” yang lebih ke ranah religi. Kalau pada jaman dahulu kala memang menjadi lumrah apabila seorang astronom juga sekaligus ulama besar sebagai penentu kebijakan ibadah umat, bahkan banyak juga yang kepakarannya berkombinasi semisal dengan ahli Kimia, Fisika, dan Matematika; dan
  4. Apapun bentuk perbedaan khususnya yang terkait dengan penentuan pelaksanaan ibadah berbasis hisab dan rukyat, semoga kita dapat semakin arif menyikapinya termasuk pada berbagai isu sains yang terkait aspek Astronomi. Berharap apabila makin memahami fenomena ini secara ilmiah, di ujung akhirnya, dapat menimbulkan rasa syukur dengan segala kerendahan hati karena mendapat kesempatan justru untuk menikmati perbedaan tersebut sebagai salah satu karunia-Nya.

 

Salam Astronomi. –WS– .

 

Daftar Referensi

Abell, G.O.,    1975, Exploration of the Universe, Holt, Rinehart and Winston, New York
Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika, 2016, Peta Ketinggian Hilal pada Setiap Awal Bulan Qomariah Tahun 1438/1439 H (2017 M)
Departeman Agama RI, 1996, Winhisab Version 2.0, Badan Hisab Rukyat Departemen Agama RI
Departeman Agama RI, 2008, Panduan Hisab Rukyat, Direktorat Jenderal Bimbingan Masyarakat Islam
Kementerian Agama RI, 2014, Temu Kerja Hisab Rukyat Tahun 2014 (3 – 5 April 2014), Hotel Sempur Park Bogor, Jawa Barat, Ditjen Bimas Islam, Direktorat Urusan Agama Islam dan Pembinaan Syariah
Kementerian Agama RI, 2015, Temu Kerja Hisab Rukyat Tahun 2015 (25 – 28 Oktober 2015), Wisma Aceh Provinsi DKI Jakarta,  Ditjen Bimas Islam, Direktorat Urusan Agama Islam dan Pembinaan Syariah
Kementerian Agama RI, 2017, Taqwim Standar Indonesia 2017 Masehi / 1438 – 1439 Hijriyah, Direktorat Jenderal Bimas Islam Kementerian Agama RI
Kementerian Agama RI, 2017, Ephemeris Hisab Rukyat 2017, Direktorat Urusan Agama Islam dan Pembinaan Syariah, Direktorat Jenderal Bimas Islam Kementerian Agama RI
Khafid, 1996, Mawaaqit 2001
Mahkamah Agung RI, 2016, Data Ephemeris Matahari dan Bulan tahun 2017, Direktorat Jenderal Badan Peradilan Agama.
MUI,  2004,     Keputusan Fatwa MUI Nomor 2 Tahun 2004 tentang Penetapan Awal Ramadhan, Syawal, dan Dzulhijjah, Komisi Fatwa MUI
Smart, W. M., 1961, Sperical Astronomy, Cambridge Univ. Press, London.
-----------------., 1989, Sofware Astronomi Astro Info, Tumasoftware, Zephyr Services 1900 Murray Ave. Pittsburgh, PA. 15217
-----------------.,  Red Shift 3 Multi Media Astronomy, Maris Multimedia Production
-----------------., 2004, Software Astronomi Starry Night Pro Plus 6.0, Imaginova Canada Lmt.