Written by widya sawitar

User Rating: 0 / 5

Star InactiveStar InactiveStar InactiveStar InactiveStar Inactive
 

FENOMENA KONJUNGSI

25 September 2020

 

Widya Sawitar

Gambar 1
Pada konfigurasi seperti tampak pada foto ini,
praktis akan terjadi konjungsi planet Mars hingga Neptunus;
Arah sebaliknya adalah antara Venus, Merkurius dan Matahari.
(Credit: Solar System - Photojournal-NASA-JPL-PIA12114)

Kondisi kubah langit malam Jakarta sudah tercemar dengan polusi udara dan cahaya
yang sangat memprihatinkan. Sangat mudah indikasinya.
Lihatlah taburan bintang-bintang yang semakin sedikit terlihat walau malam cerah tiada berawan.
Tiada lagi dendang lagu “Kupandang langit penuh bintang bertaburan”.
Kini hanyalah mimpi semata, khususnya bagi para muda di Jakarta.
Tentu suasana ini menjadi salah satu karunia yang sudah semakin diredupkan
(silakan simak artikel Polusi Cahaya di situs ini)

Namun, kita masih dapat bersyukur
karena masih dapat terlihat bintang yang terang, juga planet dan Bulan.
Termasuk rasi bintang yang sejak ribuan tahun lalu dipakai leluhur untuk bercocok tanam
dan mengarungi samudra. Sebut Orion (Lintang Waluku) dan Crux (Lintang Gubug Penceng).

Tentu saja selain kondisi minim polusi,
maka untuk observasi fenomena langit menjadi lebih ideal apabila cuaca cerah.
Hal ini karena kita terorientasi untuk melihat dengan panjang gelombang kasat mata.
Agak berbeda dengan semisal teleskop radio, yang walaupun kondisi penuh polusi dan berawan tebal,
kita tetap dapat bebas lepas melihat ke kedalaman jagad semesta.

Menatap Kubah langit

Artikel ini telah dipaparkan pada fenomena konjungsi tanggal 7 September 2019. Di sini sekedar mengulang dengan pergantian data dan perbaikan naskah. Kembali menyoal objek langit, apabila melihat dengan cermat, nyatanya di kubah langit malam selain hadirnya bintang, kita dapat melihat benda langit yang mengembara di lautan bintang, yaitu Bulan dan planet. Inipun sangat banyak yang kurang menyadari kehadirannya, walau bendanya sangat jelas terlihat tanpa alat bantu apapun (layaknya banyak yang menyebut adanya Bintang Kejora dan sangat banyak yang sama sekali tidak tahu bahwa itu adalah planet Venus). Pergeseran Bulan dan planet yang cukup jelas inilah yang menyebabkan mereka tidak setiap saat dapat dilihat. Mereka terus bergeser.

 

Yang paling mudah diikuti geraknya adalah Bulan. Cobalah sesekali melihat Bulan (pastikan Bulan ada di kubah langit malam) selama 3 hari berturutan dan dilakukan pada waktu yang sama semisal setiap pukul 19:00 WIB. Cermati lokasinya (misal ketinggian dari ufuk, atau dengan penanda bintang terang yang didekatnya). Pemunculan yang periodik menjadikan kita mengenal dimensi waktu. Apa yang dapat disaksikan tentu tergantung di mana kita mengamati, sedemikian dimensi ruang menjadi penting. Contoh lain seperti Bintang Layang Layang di mana masyarakat Jepang atau yang lebih ke lintang utara sukar bahkan tidak dapat melihatnya. Kendati kita relatif mudah melihatnya, ternyata tidak setiap malam dapat disaksikan. Andai terlihat, kadang awal malam sudah terbit, kadang sudah nyaris terbenam. Inipun berlaku pada planet dan Bulan.

 

Dinamika Bulan dan Planet

Secara garis besar bahwa planet dan Bulan bergeser di kubah langit di wilayah Zodiak, yaitu 13 rasi atau kelompok bintang di antara 88 rasi bintang yang ada di bola langit. Hal ini karena Bulan dan semua planet bergerak mengedari Matahari nyaris pada satu bidang orbit (lihat ilustrasi gambar1 di atas). Ibarat keping uang logam, maka tepi keping adalah lintasan orbitnya dan seluruh keping itulah layaknya bidang orbitnya. Dalam hal ini, lintasan atau bidangnya tidak lingkaran melainkan ellips (lonjong) dan Matahari berada di salah satu titik fokusnya (apabila lingkaran, titik fokus hanya satu, yaitu di pusat lingkaran).

Kecepatan gerak mereka berbeda-beda. Makin dekat ke Matahari, gerak planet makin cepat. Namun, dalam kasus ini, Bulan yang paling cepat. Akibatnya, kalau diamati dalam rentang waktu tertentu, membuat Bulan tampak bergeser menyusul planet-planet; dan antar planet pun demikian, yang cepat akan menyusul yang lambat.

 

Okultasi, Konjungsi, dan Gerhana

Melihat dinamika di atas, maka suatu saat, posisi mereka berdekatan. Lebih unik apabila Bulan dalam gerak gesernya menutup planet. Nama fenomenanya kadang disebut konjungsi Bulan dan planet, ada yang membayangkan sebagai gerhana planet (karena planetnya menghilang di balik Bulan), dan sebenarnya ada nama khusus untuk fenomena ini, yaitu okultasi. Atau, kadang planet dan Bulan sekedar berkumpul di suatu lokasi yang berdekatan. Ini masih disebut konjungsi. Yang istimewa tatkala Matahari dan Bulan bersatu di kubah langit, yang peristiwanya disebut Gerhana Matahari.

Gambar 2
Konjungsi antara Venus dan Bulan pada hari Senin, 18 September 2017 pukul 05:35 WIB
yang menimbulkan fenomena okultasi. Kala itu Venus sepenuhnya tertutup oleh piringan Bulan.
Diabadikan di Observatorium Jakarta (Credit: Mila I. Ikhsanti -- Planetarium dan Observatorium Jakarta)

 

Beberapa fenomena konjungsi antara Bulan dan planet pernah terjadi, antara lain:

  • 7 April 1994 antara Merkurius, Mars, Saturnus, Jupiter, dan Bulan;
  • 5 Mei 2000, kelima planet yang kasat mata dan Bulan berkumpul dekat Matahari;
  • 6 – 7 November 2015 antara Mars, Jupiter, Venus, dan Bulan
  • 5 – 6 November 2016 antara Venus, Mars, Saturnus, dan Bulan;
  • 14 September 2018, antara Bulan dan Jupiter (5 derajat busur). Venus, Mars, dan Saturnus relatif agak terpisah (Mars di belahan timur, Saturnus di puncak langit, Venus di barat) . Namun, dalam satu waktu kita dapat saksikan kelimanya secara bersamaan;
  • 17 September 2018, antara Bulan dan Saturnus;
  • 20 September 2018 antara Bulan dan Mars (lebih dekat tanggal 18 Oktober dan 16 November); dan
  • 7 September 2019 antara Saturnus, Jupiter, dan Bulan.

Seperti yang telah dibahas di atas, suatu saat tidak lagi sekedar dekat. Kadang Bulan menutupi planet seperti Venus (okultasi Venus, 18 September 2017, 05:41 WIB), atau Saturnus tanggal 8 September 2019 (21:34 WIB).

Gambar 3
Korona Matahari yang dapat disaksikan saat terjadi Gerhana Matahari Total (GMT).
Foto di atas diabadikan saat GMT tanggal 9 Maret 2016 dari kota Palu.
(Credit: Ronny Syamara – Planetarium dan Observatorium Jakarta)

Konjungsi dan Transit

Sekali lagi menyoal konjungsi bahwa dalam fenomena Astronomi, konjungsi merupakan kesearahan lokasi benda langit apabila diamati dari Bumi. Melihat kondisi pergerakan planet dan Bulan, tentu peristiwa konjungsi adalah hal yang wajar, termasuk konjungsi istimewa layaknya Gerhana Matahari yang terjadi tanggal 9 Maret 2016 dan 26 Desember 2019 yang melewati wilayah Indonesia. Fenomena gerhana ini termasuk yang konjungsi istimewa di mana konjungsinya relatif sempurna (benar-benar searah). Namun, apabila kita bayangkan bahwa planet-planet, Bulan, dan Matahari berada pada 1 lokasi di kubah langit, maka besar kemungkinan terjadinya adalah sekali dalam selang waktu 8,6 x 1046 tahun.

Gambar 4
Konjungsi Bulan dan Venus
(Credit: M. Rayhan – Planetarium dan Observatorium Jakarta)

Tentu sesuatu yang sukar kita bayangkan karena usia Jagad Raya saja berdasarkan penelitian terakhir baru berusia orde 13 milyard (13 x 109) tahun. Sebut semisal terjadi konjungsi itu di awal lahirnya Tata Surya yang kisaran 5 milyard tahun (5 x 109 tahun), maka baru akan terjadi lagi konjungsi seperti itu sekitar 1036 tahun yang akan datang. Adapun untuk konjungsi seperti 5 Mei 2000, baru akan terulang kisaran 1000 tahun yang akan datang.

Lebih teknisnya, ini terkait kesamaan dalam parameter asensiorekta atau lintang ekliptika. Sifatnya pun kadang istimewa, kadang suatu yang rutin terjadi. Objek langit pun beraneka yang dapat dilibatkan, tidak sebatas Matahari, Bulan, dan planet. Kasus unik lainnya semisal pada planet Merkurius dan Venus di mana sebagai planet-dalam (inferior) memiliki keunikan karena memiliki 2 posisi konjungsi, yaitu konjungsi-dalam (inferior conjunction) dan konjungsi-luar (superior conjunction). Adapun planet-luar, yaitu Mars, Jupiter, Saturnus mengalami konjungsi (searah Matahari) dan oposisi (berlawanan arah dengan Matahari).

Kembali pada Venus dan Merkurius. Konjungsi-dalam terjadi tatkala posisi planet tersebut berada di antara Matahari dan Bumi. Ada satu fenomena menarik di sini. Apabila terjadi konjungsi-dalam yang sempurna, maka kedua planet ini akan melintas di depan piringan Matahari. Andai saja kita bayangkan kedua planet ini besarnya di kubah langit terlihat sama besar dengan ukuran piringan Matahari, maka tentu Matahari akan tertutup dan menimbulkan fenomena Gerhana Matahari. Namun, sekarang kita tahu bahwa ukuran kedua planet tersebut jauh lebih kecil. Kendati demikian, tetap saja kalau diamati dengan teknik khusus akan tampak piringan Matahari tertutup sebesar ukuran planet tersebut. Jadi, apakah lalu disebut Gerhana Matahari Sebagian? Nyatanya, ada nama khusus dalam peristiwa ini, yaitu fenomena transit. Adapun konjungsi-luar apabila posisi Matahari berada di antara mereka dan Bumi. Andai dengan alat khusus, saat konjungsi-luar ini tentu baik Merkurius dan Venus akan bersembunyi di balik piringan Matahari. Hal ini mirip dengan proses okultasi.

Gambar 5
Transit Venus 2012
(Credit: M. Rayhan – Planetarium dan Observatorium Jakarta)

Berkaitan dengan peristiwa yang dialami planet-dalam, maka mereka akan tampak semakin purnama sesaat (relatif) menjelang dan sesaat setelah konjungsi luar dengan karakter ukuran semakin kecil karena terhadap Bumi semakin jauh. Sebaliknya, wajah mereka tampak semakin sabit menjelang dan setelah konjungsi-dalam dengan ukuran semakin besar karena semakin mendekati Bumi. Apabila kita lihat Venus sedemikian cemerlang sebagai Bintang Timur, Bintang Barat, atau Bintang Kejora, justru kala itu fasenya sabit tipis. Terbalik kondisinya dengan penampakan Bulan yang akan semakin cemerlang tatkala purnama, dan meredup ketika sabit tipis.

Dalam kasus di sini, dapat diingatkan kembali bahwa fenomena konjungsi di atas dengan pedoman bahwa fenomenanya apabila dilihat dari Bumi. Apabila dibayangkan di kubah langit terjadi konjungsi, seolah mereka saling berdekatan satu dengan lainnya bahkan seolah menyatu (semisal yang istimewa pada fenomena gerhana, okultasi, transit) di kubah langit, maka sejatinya mereka tidak benar-benar menyatu. Jarak yang berkonjungsi dapat jadi sangat berjauhan. Misal piringan Bulan menutup gugus bintang tertentu, maka kini diketahui bahwa jarak Bulan ke Bumi dan jarak gugus ke Bumi tentu sangat berbeda jauh. Demikian pula konjungsi Bulan dengan planet. Jadi, hanya penampakan dari Bumi yang seolah mereka bersatu atau saling mendekat satu sama lainnya. Namun, tidak berlaku penyatuan itu terhadap jarak antar mereka.

 

Observasi Konjungsi Tanggal 25 September 2020

Untuk tanggal 25 September 2020, fenomena konjungsi yang secara jelas adalah antara Saturnus, Jupiter, dan Bulan. Pada awal malam, sebut pukul 18:15 WIB, posisi Bulan cukup tinggi, sekitar 70 derajat dari ufuk tenggara. Dalam satu waktu kita dapat saksikan ketiganya secara bersamaan.

Gambar 6
Konjungsi Saturnus, Bulan, dan Jupiter hari Jumat, 25 September 2020 pukul 18:15 WIB.
Posisi Pengamatan Jakarta (sisi kiri: timur, kanan: barat, bawah: selatan).
Garis jingga adalah lingkaran ekliptika. Ketiga objek di Sagittarius, dan sisi kanan adalah Scorpius.
(Stellarium 0.12.4)

Gambar 7
Tengah bawah gambar adalah titik timur (dekat ekor ikan Pisces).
Ketinggian Bulan kisaran 70 derajat dari ufuk timur.
Saturnus di sisi timur Bulan, Jupiter di sisi barat Bulan.
(Stellarium 0.12.4).

Gambar 8
Peta Langit Sagittarius Berbasis IAU.
Credit: IAU website dan Sky and Telescope - Constellation Names.

Serba Serbi Bintang, Planet, dan Bulan.

Pada saat mengamati fenomena konjungsi tentu saja akan semakin semarak apabila langit cerah sedemikian beraneka objek langit dapat disaksikan. Selain Bulan yang terang benderang dan planet-planet, maka tebaran bintang gemintang di kubah langit dapat dicermati. Kini kita coba review ulang serba sedikit tentang beberapa objek langit saat menyaksikan konjungsi hari Jumat, tanggal 25 September 2020 nanti, antara lain:

1.   Bintang

Bila melihat langit malam bertabur bintang, seolah bintang-bintangnya menempel pada kubah berbentuk setengah bola. Tanpa alat bantu seperti binokuler/teleskop, maka jumlah bintang yang terlihat berkisar 5.000 buah (kondisi asri yang bebas polusi udara dan cahaya, lagi-lagi tidak di Jakarta). Kalau disimak, susunan bintang ini relatif tetap, apalagi dalam skala rentang usia hidup kita. Oleh sebab itu, bintang-bintang yang berdekatan dikelompokkan dalam gambaran ujud tertentu. Pada dasarnya, pengelompokan bintang tidak lain adalah suatu usaha untuk membuat peta langit untuk memudahkan pengenalan susunan bintang, baik untuk keperluan praktis maupun keilmuan. Sekedar catatan bahwa peletakan satelit GPS ditentukan atas dasar tata koordinat langit dan keilmuan ini sangat mendasar dalam mempelajari Astronomi. Kini keseluruhan bola langit dibagi 88 daerah langit atau kelompok bintang yang disebut rasi bintang atau konstelasi. Penggunaan ini diresmikan oleh International Astronomical Union (IAU) tahun 1922.

Berikut ini adalah identifikasi beberapa bintang terang di rasi bintang Sagittarius, lokasi terjadinya konjungsi Bulan, Jupiter, dan Saturnus yang antara lain:

  1. Alpha Sagitarii (Rukbat). Warna biru-putih bermagnitudo m = 3,96 dengan jarak 170 tc. Kelas spektrum B8 V (deret utama, mirip Matahari). Posisi di lutut kaki depan kanan Sagittarius. Biasanya indeks alpha adalah bintang paling terang, tetapi di rasi ini yang paling terang adalah Epsilon-Sgr (Kaus Australis, biru-putih);
  2. Epsilon-Sgr (Kaus Australis) adalah bintang raksasa. Posisinya di bagian bawah dari alas teko teh sebelah barat). Jaraknya 145 tc, m = 1,9, warna biru-putih (kelas spektrum B9.5 III yang berarti termasuk bintang raksasa);
  3. Gamma-Sgr (Alnasl). Warna kuning dengan m = 98 berjarak 96 tc dengan kelas spektrum K0 III (raksasa) yang merupakan ujung anak panah yang arahnya ke tubuh Scorpius (Kalajengking);
  4. Delta-Sgr (Kaus Meridionalis, pada Davis pada gambar 4 disebut Kaus Media). Lokasinya di bagian tengah busur atau di alas tutup teko bagian barat (bagian atas tutup teko adalah bintang Lambda-Sgr); Kelas spektrum K3 IIIa. Jadi termasuk bintang raksasa (III) yang relatif dingin (K3) berjarak 306 tc dengan m = 2,72;
  5. Beta1-Sgr (Arkab Prior) dan Beta2–Sgr (Arkab Posterior) yang keduanya tampak seolah merupakan bintang ganda (sistem 2 bintang yang saling mengedari titik pusat massa persekutuannya). Namun, sebenarnya bukan. Arkab adalah achilles/tendon dari kaki depan kanan Sagittarius. Hanya penampakannya saja yang berdekatan. Yang merupakan bintang ganda justru bintang Beta1-Sgr itu sendiri, selain itu juga bintang yang berindeks pi, omicron, dan eta. Namun, semua tetap sulit dilihat sekalipun dengan teleskop. Arkab Prior sendiri adalah bintang deret utama dengan kelas spektrum B9 V berjarak 378 tc.; dan
  6. Sigma-Sgr (Nunki). Warna biru-putih dengan m = 2.05 berjarak 224 tc dan kelas spektrum B2.4 V (deret utama yang panas). Posisi di telapak tangan Sagittarius yang sedang menarik anak panah. Pada era Assyro-Babylonian disebut bintang penguasa (makhluk) lautan dan makhluknya adalah (rasi bintang) Capricornus, Aquarius, Delphinus (Lumba-lumba), Cetus (Ikan Paus), Pisces, dan Piscis Austrinus (Ikan Selatan). Semua terkait dengan air.

2.   Jupiter           

Planet terbesar di mana kita dapat masukkan 1.300 benda seukuran Bumi kedalamnya. Terbentuk dari awan gas yang mampat sehingga disebut Planet Gas Raksasa. Tidak ada daratan dan lautan di permukaannya. Massanya 318 kali massa Bumi (sama dengan 2/3 massa Tata Surya di luar Matahari) dengan diameter 143.000 km (11 kali diameter Bumi).

Gambar 9 Jupiter
Sempat terekam adanya kilatan cahaya di atmosfer atas Jupiter tanggal 3 Juni 2010
yang diduga karena jatuhnya meteor (lingkaran merah).
Namun, biasanya tertinggal daerah gelap yang ternyata tidak dijumpai.
Dugaannya bahwa meteor tersebut tidak sampai menghujam dalam sudah meledak (fireball).
(Credit: NASA, ESA, M.H. Wong (University of California, Berkeley),
H.B. Hammel (Space Science Institute, Boulder, Colo.),
A.A. Simon-Miller (Goddard Space Flight Center), and the Jupiter Impact Science Team)

 

Wajahnya terbentuk dari pola pita-pita gelap dan terang dan merupakan daerah badai yang berlangsung terus menerus. Selain jalur badai, ada juga pusaran-pusaran badai. Yang terkenal the Great Red Spot, mirip tornado berusia lebih dari 300 tahun. Jupiter diiringi 83 satelit (79 sudah dikonfirmasi) dan mempunyai cincin (walaupun sangat tipis) dengan lebar kisaran 6000 km dan tebal beberapa puluh km yang terdiri dari partikel-partikel kecil yang berukuran kurang dari 10 km. Cincin Jupiter terletak ±53.000 km di atas lapisan atmosfer terluarnya. Tentang Jupiter silakan simak artikel Berkenalan dengan Planet Jovian pada situs ini.

3.   Saturnus

Yang paling dikenal dari planet ini adalah cincinnya yang besar. Namun, Saturnus bukanlah satu-satunya planet bercincin. Jupiter, Saturnus, Uranus, dan Neptunus semuanya memiliki cincin. Hanya saja cincin Saturnus yang paling besar yang terbentuk dari bermilyard partikel mulai seukuran kerikil hingga sebesar gunung. Diameter keseluruhan ±350 kali panjang Pulau Jawa dengan tebalnya hanya kisaran 10 km. Planet ke-6 ini adalah planet terjauh yang dapat dilihat kasat mata. Jadi, telah dikenal bermillennia lalu. Dimaklumi juga karena Saturnus adalah planet terbesar kedua. Diameternya 9 kali Bumi, massa 95 kali, dan volume 755 kali lebih besar dari Bumi. Uniknya, massa jenis Saturnus lebih kecil dari air, maka apabila kita masukkan ke wadah air yang dapat menampungnya, dia akan mengapung. Jumlah satelitnya terbanyak kedua, yaitu 82 buah (53 konfirmasi). Saturnus pertama kali dikunjungi oleh wahana antariksa tahun 1979 (Pioneer 11) dan yang terakhir Cassini-Huygens (2004). Tentang Saturnus silakan simak artikel Berkenalan dengan Planet Jovian pada situs ini.

Gambar 10 Saturnus
Kemiringan atau inklinasi bidang ekuator dengan bidang orbitnya
membuat kita dapat melihat dari Bumi ragam posisinya.
Yang paling bawah menunjukkan Saturnus pada kondisi musim gugur di belahan utara,
sedangkan gambar paling atas menunjukkan musim dingin.
Gambar diambil antara Oktober 1996 hingga November 2000.
Credit: NASA and The Hubble Heritage Team (STScI/AURA); R.G. French (Wellesley College), J. Cuzzi (NASA/Ames), L. Dones (SwRI), and J. Lissauer (NASA/Ames)

 

4.   Bulan

Kehadirannya membuat interaksi yang menarik untuk ditelusur. Geraknya di antara bintang-bintang kisaran 13 derajat ke arah timur di sepanjang Zodiak. Sang Dewi Malam akan kembali ke Zodiak yang sama tiap 27,3 hari.  Kala jelajah ini disebut 1 bulan sideris (menempuh 1 lingkaran, 3600).

Matahari juga bergeser ke timur, tampak seperti dikejar-kejar Bulan. Perubahan fase Bulan senantiasa berulang dan tergantung kepada jarak sudutnya terhadap Matahari. Bulan Mati (Bulan Baru) terjadi saat Bulan berada di arah Matahari, Bulan separuh terjadi ketika jarak sudut Matahari-Bumi-Bulan 90o atau 270o, dan fase Bulan Purnama terjadi ketika jarak sudutnya 180o (Bumi diapit Matahari dan Bulan). Tahapan ini berulang rata-rata 29½ hari yang disebut 1 bulan sinodis.

Fase Bulan adalah akibat Bulan mengedari Bumi. Oleh karena Bulan benda gelap, tidak bercahaya sendiri, maka wajah Bulan yang terang akibat cahaya Matahari pun berubah seiring posisi edarnya. Wajahnya akan jauh lebih menarik jika dilihat dengan teleskop. Bagian wajahnya yang menghadap ke Bumi bagi masyarakat awam seolah selalu sama (ada yang membayangkan terdapat gambar kelinci di wajah Bulan).

Bidang orbit Bulan membentuk kemiringan dengan bidang ekliptika (bidang orbit Bumi) sebesar 5° 08’ 43”. Sementara itu, sumbu rotasi Bumi membentuk kemiringan dengan bidang ekliptika sebesar 23,5°. Jadi, bidang orbit Bulan memiliki kemiringan signifikan terhadap bidang ekuator Bumi. Uniknya periode rotasi Bulan sama dengan periode orbitnya sehingga wajahnya yang menghadap Bumi selalu sama. Namun, karena kemiringan sumbu rotasi Bulan terhadap bidang orbitnya sebesar 1,5° serta faktor kelonjongan lintasannya (eksentrisitas), maka hampir 59% wajah Bulan dapat kita lihat. Dengan kata lain, 41% wajahnya sama sekali tidak pernah terlihat dari Bumi.

Gambar 11
Ilustrasi gerak revolusi Bumi dan Bulan.

Tampak pergerakan Bulan yang begitu kompleks dan unik, seolah selama mengedari Bumi, Bulan kalau diamati akan tampak seolah bergerak kombinasi antara mengangguk-tengadah dan menggeleng kiri-kanan (sejatinya juga karena paralaks). Selain itu lintasan geserannya pun membentuk lintasan bergelombang dengan periode kisaran 19 tahun. Jadi, ada gerak revolusi, rotasi, menggeleng-geleng, mengangguk-angguk, juga nutasi. Fakta lain bahwa bidang orbitnya pun bergerak laksana keping uang logam yang berputar dan hampir jatuh di mana gerak ini membuat tidak setiap Bulan Mati terjadi Gerhana Matahari, dan tidak setiap Purnama terjadi Gerhana Bulan.  

Pada fakta lain bahwa rona terang dipermukaannya ternyata merupakan dataran tinggi yang disebut terra (jamak: terrae = dataran) dan rona gelap cenderung rendah disebut mare (jamak: maria = laut). Kini diketahui bahwa dataran gelapnya ternyata bentukan lava yang mengeras yang utamanya ada di cekungan besar akibat tumbukan.

Andai Bulan Purnama pada posisi terdekat Bumi (perigee) disebut Super Moon, maka bila bersamaan terjadi Gerhana Bulan Total, gabungan fenomena disebut Super Red/Blood Moon. Ditambah lagi kalau saja ini merupakan purnama kedua dalam bulan kalender Masehi, maka disebut Super Blue Blood Moon seperti yang terjadi tanggal 31 Januari 2018, tahun lalu. Fenomena ini baru akan terulang nanti pada tanggal 31 Januari 2037, menanti 18 tahun lagi. Tentang Bulan dapat disimak artikel Bulan: Satelit Bumi pada situs ini.

 

Kegiatan Peliputan di Planetarium dan Observatorium Jakarta

Terkait fenomena konjungsi, Planetarium dan Observatorium Jakarta bermaksud mengadakan Peneropongan untuk Umum melalui Observasi Virtual pada hari Jumat tanggal 25 September 2020 yang rencananya diisi dengan diskusi secara daring selepas Maghrib dengan observasi di Observatorium Jakarta mulai pukul 18:30 WIB hingga pukul 21:00 WIB di kanal Youtube Planetarium & Observatorium Jakarta (https://bit.ly/poj_teropong). Selain itu, bahwa pada tanggal 25 September 2020 ini juga digabungkan dengan kegiatan International Observe the Moon Night (InOMN) dalam kegiatan mengamati Bulan di seluruh dunia di mana Planetarium dan Observatorium Jakarta juga menjadi salah satu peserta (menjadi titik observasi dari sekian banyaknya titik observasi yang terlibat dalam kegiatan ini).

 Poster InOMN2020

Gambar 12
Infografis Kegiatan Observasi Virtual dari Planetarium dan Observatorium Jakarta

Fenomena Berikutnya Pada Bulan Oktober 2020 Yang Terkait:

Kembali ke Langit

Hadirnya Observatorium Jakarta dengan visi misi yang lebih sebagai “corong suara Astronomi”, lebih pada ranah pendidikan untuk memperkenalkan Observational Science, mencoba mengajak masyarakat beragam kalangan, baik tingkat usia, latar belakang pendidikan dan profesi, atau siapapun yang ingin belajar bersama-sama “membaca” langit, bersama-sama dengan masyarakat luas yang mencoba memahami walau sekedar sezarah pengetahuan tentang Astronomi. Pada kegiatan rutin seperti inilah, Planetarium dan Observatorium Jakarta mencoba memfasilitasi keingintahuan masyarakat maupun melakukan sosialisasi keilmuan dalam ranah sains Astronomi, walau dengan kapasitas khususnya observatorium yang terbatas. Mencoba senantiasa mengajak semua kalangan untuk membuka cadar langit seluas-luasnya demi sezarah karunia-Nya tentang pengetahuan beragam nama benda yang dihamparkan oleh-Nya di segenap pelosok alam semesta.

Atau dari sisi lainnya, seperti yang telah berulang kali dinyatakan, bahwa itu semua adalah dalam rangka usaha Observatorium Jakarta dan kita semua untuk mendorong terungkapnya dimensi ataupun fenomena yang masih sangat banyak tersembunyi, untuk mencoba belajar menalar realita sebatas domain kerjanya sebagai makhluk yang secara mutlak punya keterbatasan. Selebihnya, tentu terserah kepada kita dalam ranah spiritnya masing-masing, bagaimana kita manfaatkan Astronomi atau sains secara umum sebagai basis, baik berlandas ranah ujud ataupun dataran spirit dan kita aktifkan fungsi transendental kita untuk menggapai Yang Maha Mulia yang ilmuNya dalam ranah Jagad Rana Ganesha Widya Jasa Adiutama tidak tertampung bahkan dalam jagad semesta yang maha luas ini. Pada tahap ini, semoga kita dapat semakin arif menyikapi berbagai isu sains khususnya Astronomi dan justru mungkin saja segala ujaran menjadi tidak bermakna. Karena justru ujungnya, pada satu ranah tertentu adalah feel amazement – rasa syukur dengan segala kerendahan hati karena mendapat kesempatan untuk merasakan penjabaran dan indahnya Science melalui Astronomy sebagai tahapan pencarian sebanyak mungkin bekal di Jagad Buwana (Bumi) dan ber”cermin” pada Widiyuta ing waudadi, wintang ing widik – bintang di laut, bintang di langit – untuk menuju Jagatkamuksan, yang ”keindahan tamannya” tidak akan dapat tertandingi oleh taman manapun di ranah ujud jagad semesta.

Kembali pada rencana peliputan yang akan diagendakan, tentu berharap cuaca cerah sedemikian fenomena ini dapat disaksikan dan tentu tidak menyita waktu kita yang khususnya warga Jakarta, termasuk dalam mencermati wajah kubah langit malam dengan segala pernak perniknya. Fenomena ini semata sezarah hadiah sekaligus tantangan dari Yang Maha Cendekia untuk ditelaah secara ilmiah. Juga merupakan saat yang paling unik dan khas dari rentang hidup manusia untuk sejenak menggugah kembali nuraninya. Merenungkan ke-Maha Besar-an Sang Pencipta Langit dan Bumi dalam segala ragam ciptaan di jagad semesta berikut segala peristiwa yang menyertainya. Semoga denyar gemerlap dan semaraknya lampu lampu kota yang konon membuat indah kota Jakarta, tidak menafikan hadirnya semburat bintang gemintang yang mengajak kita mengembara ke kedalaman keindahan kesejatian insani. Wartya Wiyata Wicitra Withing Wintang Widik Widik (Berita baik nan indah bermula dari kerlap kerlip semburat cahaya bintang gemintang). Selamat menikmati bentang langit malam. Salam Planetarium. –WS

 

Referensi

(kutipan dan review dari ragam artikel-terkait pada situs ini)

 

JakartaTanggapCorona