Written by widya sawitar
Category:

User Rating: 0 / 5

Star InactiveStar InactiveStar InactiveStar InactiveStar Inactive

GEMINI SI KEMBAR

Oleh

Widya Sawitar

 


Gambar 1
Gambaran Gemini pada atlas John Flamsteed
(ianridpath)

Genitif: Geminorum
Singkatan: Gem
Urutan luasan: ke 30
Sejarah: Salah satu dari 48 rasi bintang pada karya Ptolemeus (Almagest)
Nama Yunani: Δίδυμοι (Didymoi)

Gemini adalah salah satu rasi bintang Zodiak dan terletak di belahan Bumi utara. Dalam urutan Zodiak adalah yang ke 3 dan merupakan salah satu rasi bintang dari 48 rasi bintang yang terdapat pada karya Ptolemeus pada abad 2, Almagest, dan bertahan hingga kini di antara 88 rasi bintang modern. Nama ini adalah nama latin untuk "si kembar," dan dikaitkan dengan si kembar Castor dan Pollux dalam mitologi Yunani. Simbolnya seperti pada gambar di atas (♊). Luasannya ke 30 (513,761 derajat persegi).

Written by Widya dan Nadya
Category:

User Rating: 0 / 5

Star InactiveStar InactiveStar InactiveStar InactiveStar Inactive

HUJAN METEOR PERSEIDS 

oleh:

Nadya Hidayatie dan Widya Sawitar

 

Walau kubah langit pada malam hari di Jakarta saat ini sudah tidak indah lagi dengan bentang perbintangan karena atmosfernya tercemar oleh polusi udara dan polusi cahaya, namun tetap untuk objek langit tertentu masih dapat ditera dengan baik. Pemetaan langit masih dapat dilakukan, termasuk hadirnya objek dekat seperti planet dan Bulan yang memang relatif terang.

Kondisi di atas tentu berbeda apabila kita pergi agak jauh dari kota Jakarta, ke tempat yang tingkat polusinya rendah. Ribuan bintang di langit dapat disaksikan, yang sudah sejak jaman dahulu dijadikan pedoman waktu dan arah bagi para nelayan di laut dan pengembara, serta dijadikan pedoman musim bagi para petani. Tidak kalah pentingnya adalah jembatan spirit untuk memahami karya ciptaNya.

Apabila melihat dengan cermat, selain bintang gemintang, planet, dan Bulan, kadang masih dapat terlihat meteor dan komet, bahkan sekarang dapat pula terlihat satelit buatan manusia yang berjalan perlahan di samudra perbintangan. Ada yang unik saat kita melakukan pengamatan benda langit, sadar ataupun tidak, menjadikan kita dapat mengenal dimensi waktu, yang selanjutnya menjadi penting dalam pengamatan dan memahami fenomena alam secara umum dalam dimensi ruang alam semesta. Termasuk fenomena yang pada bulan Agustus mendatang dapat kita cermati.

Written by widya sawitar
Category:

User Rating: 0 / 5

Star InactiveStar InactiveStar InactiveStar InactiveStar Inactive

Kegiatan Penelitian dan Pengamatan Bulan
dalam Penentuan Awal Bulan Dzulhijjah 1441H (2020 M)

Tim Observasi Planetarium dan Observatorium
Unit Pengelola Pusat Kesenian Jakarta Taman Ismail Marzuki
Dinas Kebudayaan Provinsi DKI Jakarta

Disarikan oleh Widya Sawitar


 

Sebagai lembaga satu-satunya di Jakarta yang secara konsisten berupaya mempopulerkan Astronomi sejak didirikan tahun 1964, serta menjembatani antara dunia sains Astronomi dengan masyarakat umum, Planetarium dan Observatorium Jakarta, khususnya dengan adanya observatorium sebagai sarana laboratorium dalam aspek Observational Science, telah memberikan kontribusi nyata dalam kegiatan Hisab Rukyat sejak tahun 1974 dan berkesinambungan hingga kini. Juga kolaborasi yang dibangun bersama dengan ragam instansi seperti Kementerian Agama, Program Studi Astronomi ITB, Observatorium Bosscha ITB, LAPAN, BMKG, dll. Dalam kasus ini termasuk dalam masalah penentuan kalender berbasis Bulan.

Seperti yang telah diketahui oleh sebagian masyarakat bahwa waktu pelaksanaan ibadah keagamaan, khususnya bagi umat Muslim utamanya berlandas acu pada dinamika orbit Bumi terhadap Matahari, dan Bulan terhadap Bumi (sebut sebagai kombinasi ketiganya secara simultan). Banyak hal terkait dengan hasil observasi terhadap dinamika ketiga objek langit tersebut yang dapat dipelajari termasuk ragam fenomenanya. Terlebih alat bantu lihat secara visual atau optik semakin berdaya guna dan membantu kerja masyarakat yang berkecimpung di observatorium atau observasi secara umum; baik para astronom profesional, astronom amatir (berbasis hobbi), hingga yang masih memegang metode pengamatan berbasis tradisi sejak ratusan tahun yang lalu. Secara sederhana sebut semisal penentuan jadwal waktu sholat yang dapat dilihat pada posisi Matahari dikombinasi dengan satu perbandingan antara teori matematis dengan satu cara sederhana, yaitu dengan mengukur rentang panjang bayang-bayang. Hal ini juga berlaku saat mengamati fase Bulan (usia Bulan), maka muncullah ragam teori yang kini semakin mengerucut dalam cara menentukan awal bulan dalam kalender Hijriah, seperti penentuan awal bulan Syaban (yang didalamnya terdapat malam Nisfu Syaban, tanggal 15), awal ibadah puasa (1 Ramadan), Idul Fitri (1 Syawal), awal bulan Dzulhijjah (untuk pedoman Idul Adha, tanggal 10), hingga penentuan Tahun Baru Hijriah (1 Muharram).

Written by widya sawitar
Category:

User Rating: 5 / 5

Star ActiveStar ActiveStar ActiveStar ActiveStar Active

CANCER
SANG KEPITING

Oleh :

Widya Sawitar

Gambar 1
Atas: Simbol Cancer
Bawah: Cancer, ilustrasi pada karya Johann Bode, Uranographia (1801).
Gugus terbuka Praesepe tampak di tengah cangkang kepiting,
sedikit di utara garis ekliptika,
di antara bintang Asellus Borealis and Asellus Australis (Gamma and Delta Cancri).
(ianridpath - Cancer)

Genitif: Cancri
Singkatan: Cnc
Ranking Luasan: 31
Sejarah: Salah satu dari 48 rasi bintang dalam daftar karya Ptolemy (Almagest)
Nama Yunani: Karkinos

 

Cancer adalah salah satu dari tiga belas rasi bintang Zodiak dan terletak di belahan Bumi utara. Simbolnya seperti yang tertera pada gambar 1 di atas (a). Luasannya di kubah langit kisaran 506 derajat persegi dan bintang-bintangnya relatif redup di mana bintang paling terangnya, Beta Cancri hanya memiliki magnitudo visual 3,7 (limit bawah kasat mata adalah 6). Pada rasi bintang ini diketahui terdapat 2 bintang yang memiliki planet, termasuk 55 Cancri yang memiliki lima planet terdiri dari 1 Super-Bumi (seperti Bumi) dan 4 planet gas raksasa (struktur tubuh seperti Jupiter). Diketahui pula terdapat 1 planet yang berada pada zona layak huni dan karenanya memiliki komposisi kimiawi yang mirip dengan Bumi. Di pusat area terdapat gugus terbuka (open cluster) yang disebut Praesepe, yang dalam katalog Messier bernomor 44 dan populer bagi para astronom amatir.

 

Mitologi

Penokohan hewan kepiting ini merupakan karakter minor pada kisah Heracles (Romawi: Hercules). Kisah populernya saat Heracles harus melawan monster berkepala banyak (Hydra) di rawa dekat Lerna (Lernaeus, Lernean Hydra). Saat itulah diceritakan sang kepiting muncul dari rawa untuk menggigit kaki Heracles. Hal ini membuat Heracles marah dan diinjaklah sang kepiting. Walau singkat ceritanya, konon dewi Hera (Juno), yang sangat membenci Heracles, tetap mengapresiasi usaha sang kepiting yang kemudian sebagai penghormatan ditempatkanlah sang kepiting di lautan bintang di kawasan Zodiak. Di Yunani disebut Karkinos (Latin: Carcinus). Menurut filsafat Kaldea dan Platonis, sosoknya adalah “Gate of Men”, yang melaluinya jiwa turun dari surga ke tubuh manusia.

Written by widya sawitar
Category:

User Rating: 5 / 5

Star ActiveStar ActiveStar ActiveStar ActiveStar Active

LIBRA
SKETSA KESETIMBANGAN

Widya Sawitar

 


Gambar 1
Atas: Simbol Libra.
Bawah: Wadah timbangan Libra,
digambarkan dalam Atlas Coelestis karya John Flamsteed (1646 – 1719)
yang diterbitkan di London pada tahun 1729.
Tampak Scorpius di bagian kiri bawah dan kaki Virgo terlihat di kanan atas.
(https://www.ianridpath.com/startales/Libra.htm)
(https://lhldigital.lindahall.org/cdm/compoundobject/collection/astro_atlas/id/1200/show/1172/rec/12)

Genitif: Librae
Singkatan: Lib
Ranking Luasan: 29
Sejarah: Salah satu dari 48 rasi bintang dalam daftar karya Ptolemy (Almagest)
Nama Yunani: Chele/Chelae

Pada era Yunani kuno, wilayah langit yang dikenal sebagai Libra adalah bagian dari capit/cakar Sang Kalajengking Scorpius. Wilayah ini disebut Chelae, yang artinya cakar. Kini luasan Libra (ke 29) bahkan lebih besar dari Scorpius (ke 33).

Identifikasi daerah ini dengan gambaran neraca (simbolisasi keseimbangan) menjadi mapan sejak abad pertama SM di Romawi, meskipun secara tepat kapan dan oleh siapa dibuat hingga kini masih diliputi kabut misteri. Ptolemy dalam Almagest  menyebutnya “Claws”, sesuai tradisi kala itu walaupun gambaran neraca sudah mulai muncul yang tertera pada Farnese Atlas, sebuah patung Romawi yang dibuat secara bersamaan dengan kala waktu penulisan Almagest. Bahkan gambaran ini diduga telah ada sejak 3.200 SM.

Libra adalah satu-satunya rasi bintang Zodiak yang merupakan benda mati; 12 rasi bintang lainnya merupakan gambaran hewan atau manusia. Begitu identifikasi Libra digambarkan sebagai neraca (balok kesetimbangan), maka kala itu sepenuhnya yang awalnya Scorpius dibagi menjadi 2, yaitu Scorpius dan Libra. Bersamaan simbolisasi keseimbangan, muncullah kisah terkait masalah keadilan dengan lahirnya