Written by Widya dan Nadya
Category:

User Rating: 0 / 5

Star InactiveStar InactiveStar InactiveStar InactiveStar Inactive

HUJAN METEOR PERSEIDS 

oleh:

Nadya Hidayatie dan Widya Sawitar

 

Walau kubah langit pada malam hari di Jakarta saat ini sudah tidak indah lagi dengan bentang perbintangan karena atmosfernya tercemar oleh polusi udara dan polusi cahaya, namun tetap untuk objek langit tertentu masih dapat ditera dengan baik. Pemetaan langit masih dapat dilakukan, termasuk hadirnya objek dekat seperti planet dan Bulan yang memang relatif terang.

Kondisi di atas tentu berbeda apabila kita pergi agak jauh dari kota Jakarta, ke tempat yang tingkat polusinya rendah. Ribuan bintang di langit dapat disaksikan, yang sudah sejak jaman dahulu dijadikan pedoman waktu dan arah bagi para nelayan di laut dan pengembara, serta dijadikan pedoman musim bagi para petani. Tidak kalah pentingnya adalah jembatan spirit untuk memahami karya ciptaNya.

Apabila melihat dengan cermat, selain bintang gemintang, planet, dan Bulan, kadang masih dapat terlihat meteor dan komet, bahkan sekarang dapat pula terlihat satelit buatan manusia yang berjalan perlahan di samudra perbintangan. Ada yang unik saat kita melakukan pengamatan benda langit, sadar ataupun tidak, menjadikan kita dapat mengenal dimensi waktu, yang selanjutnya menjadi penting dalam pengamatan dan memahami fenomena alam secara umum dalam dimensi ruang alam semesta. Termasuk fenomena yang pada bulan Agustus mendatang dapat kita cermati.

Written by widya sawitar
Category:

User Rating: 0 / 5

Star InactiveStar InactiveStar InactiveStar InactiveStar Inactive

CANCER
SANG KEPITING

Oleh :

Widya Sawitar

Gambar 1
Atas: Simbol Cancer
Bawah: Cancer, ilustrasi pada karya Johann Bode, Uranographia (1801).
Gugus terbuka Praesepe tampak di tengah cangkang kepiting,
sedikit di utara garis ekliptika,
di antara bintang Asellus Borealis and Asellus Australis (Gamma and Delta Cancri).
(ianridpath - Cancer)

Genitif: Cancri
Singkatan: Cnc
Ranking Luasan: 31
Sejarah: Salah satu dari 48 rasi bintang dalam daftar karya Ptolemy (Almagest)
Nama Yunani: Karkinos

 

Cancer adalah salah satu dari tiga belas rasi bintang Zodiak dan terletak di belahan Bumi utara. Simbolnya seperti yang tertera pada gambar 1 di atas (a). Luasannya di kubah langit kisaran 506 derajat persegi dan bintang-bintangnya relatif redup di mana bintang paling terangnya, Beta Cancri hanya memiliki magnitudo visual 3,7 (limit bawah kasat mata adalah 6). Pada rasi bintang ini diketahui terdapat 2 bintang yang memiliki planet, termasuk 55 Cancri yang memiliki lima planet terdiri dari 1 Super-Bumi (seperti Bumi) dan 4 planet gas raksasa (struktur tubuh seperti Jupiter). Diketahui pula terdapat 1 planet yang berada pada zona layak huni dan karenanya memiliki komposisi kimiawi yang mirip dengan Bumi. Di pusat area terdapat gugus terbuka (open cluster) yang disebut Praesepe, yang dalam katalog Messier bernomor 44 dan populer bagi para astronom amatir.

 

Mitologi

Penokohan hewan kepiting ini merupakan karakter minor pada kisah Heracles (Romawi: Hercules). Kisah populernya saat Heracles harus melawan monster berkepala banyak (Hydra) di rawa dekat Lerna (Lernaeus, Lernean Hydra). Saat itulah diceritakan sang kepiting muncul dari rawa untuk menggigit kaki Heracles. Hal ini membuat Heracles marah dan diinjaklah sang kepiting. Walau singkat ceritanya, konon dewi Hera (Juno), yang sangat membenci Heracles, tetap mengapresiasi usaha sang kepiting yang kemudian sebagai penghormatan ditempatkanlah sang kepiting di lautan bintang di kawasan Zodiak. Di Yunani disebut Karkinos (Latin: Carcinus). Menurut filsafat Kaldea dan Platonis, sosoknya adalah “Gate of Men”, yang melaluinya jiwa turun dari surga ke tubuh manusia.

Written by widya sawitar
Category:

User Rating: 0 / 5

Star InactiveStar InactiveStar InactiveStar InactiveStar Inactive

LIBRA
SKETSA KESETIMBANGAN

Widya Sawitar

 


Gambar 1
Atas: Simbol Libra.
Bawah: Wadah timbangan Libra,
digambarkan dalam Atlas Coelestis karya John Flamsteed (1646 – 1719)
yang diterbitkan di London pada tahun 1729.
Tampak Scorpius di bagian kiri bawah dan kaki Virgo terlihat di kanan atas.
(https://www.ianridpath.com/startales/Libra.htm)
(https://lhldigital.lindahall.org/cdm/compoundobject/collection/astro_atlas/id/1200/show/1172/rec/12)

Genitif: Librae
Singkatan: Lib
Ranking Luasan: 29
Sejarah: Salah satu dari 48 rasi bintang dalam daftar karya Ptolemy (Almagest)
Nama Yunani: Chele/Chelae

Pada era Yunani kuno, wilayah langit yang dikenal sebagai Libra adalah bagian dari capit/cakar Sang Kalajengking Scorpius. Wilayah ini disebut Chelae, yang artinya cakar. Kini luasan Libra (ke 29) bahkan lebih besar dari Scorpius (ke 33).

Identifikasi daerah ini dengan gambaran neraca (simbolisasi keseimbangan) menjadi mapan sejak abad pertama SM di Romawi, meskipun secara tepat kapan dan oleh siapa dibuat hingga kini masih diliputi kabut misteri. Ptolemy dalam Almagest  menyebutnya “Claws”, sesuai tradisi kala itu walaupun gambaran neraca sudah mulai muncul yang tertera pada Farnese Atlas, sebuah patung Romawi yang dibuat secara bersamaan dengan kala waktu penulisan Almagest. Bahkan gambaran ini diduga telah ada sejak 3.200 SM.

Libra adalah satu-satunya rasi bintang Zodiak yang merupakan benda mati; 12 rasi bintang lainnya merupakan gambaran hewan atau manusia. Begitu identifikasi Libra digambarkan sebagai neraca (balok kesetimbangan), maka kala itu sepenuhnya yang awalnya Scorpius dibagi menjadi 2, yaitu Scorpius dan Libra. Bersamaan simbolisasi keseimbangan, muncullah kisah terkait masalah keadilan dengan lahirnya

Written by widya sawitar
Category:

User Rating: 0 / 5

Star InactiveStar InactiveStar InactiveStar InactiveStar Inactive

Kegiatan Penelitian dan Pengamatan Bulan
dalam Penentuan Awal Bulan Dzulhijjah 1441H (2020 M)

Tim Observasi Planetarium dan Observatorium
Unit Pengelola Pusat Kesenian Jakarta Taman Ismail Marzuki
Dinas Kebudayaan Provinsi DKI Jakarta

Disarikan oleh Widya Sawitar


 

Sebagai lembaga satu-satunya di Jakarta yang secara konsisten berupaya mempopulerkan Astronomi sejak didirikan tahun 1964, serta menjembatani antara dunia sains Astronomi dengan masyarakat umum, Planetarium dan Observatorium Jakarta, khususnya dengan adanya observatorium sebagai sarana laboratorium dalam aspek Observational Science, telah memberikan kontribusi nyata dalam kegiatan Hisab Rukyat sejak tahun 1974 dan berkesinambungan hingga kini. Juga kolaborasi yang dibangun bersama dengan ragam instansi seperti Kementerian Agama, Program Studi Astronomi ITB, Observatorium Bosscha ITB, LAPAN, BMKG, dll. Dalam kasus ini termasuk dalam masalah penentuan kalender berbasis Bulan.

Seperti yang telah diketahui oleh sebagian masyarakat bahwa waktu pelaksanaan ibadah keagamaan, khususnya bagi umat Muslim utamanya berlandas acu pada dinamika orbit Bumi terhadap Matahari, dan Bulan terhadap Bumi (sebut sebagai kombinasi ketiganya secara simultan). Banyak hal terkait dengan hasil observasi terhadap dinamika ketiga objek langit tersebut yang dapat dipelajari termasuk ragam fenomenanya. Terlebih alat bantu lihat secara visual atau optik semakin berdaya guna dan membantu kerja masyarakat yang berkecimpung di observatorium atau observasi secara umum; baik para astronom profesional, astronom amatir (berbasis hobbi), hingga yang masih memegang metode pengamatan berbasis tradisi sejak ratusan tahun yang lalu. Secara sederhana sebut semisal penentuan jadwal waktu sholat yang dapat dilihat pada posisi Matahari dikombinasi dengan satu perbandingan antara teori matematis dengan satu cara sederhana, yaitu dengan mengukur rentang panjang bayang-bayang. Hal ini juga berlaku saat mengamati fase Bulan (usia Bulan), maka muncullah ragam teori yang kini semakin mengerucut dalam cara menentukan awal bulan dalam kalender Hijriah, seperti penentuan awal bulan Syaban (yang didalamnya terdapat malam Nisfu Syaban, tanggal 15), awal ibadah puasa (1 Ramadan), Idul Fitri (1 Syawal), awal bulan Dzulhijjah (untuk pedoman Idul Adha, tanggal 10), hingga penentuan Tahun Baru Hijriah (1 Muharram).

Written by Widya dan Nadya
Category:

User Rating: 0 / 5

Star InactiveStar InactiveStar InactiveStar InactiveStar Inactive

ARIES SANG DOMBA

Nadya Hidayatie dan Widya Sawitar

 

Aries merupakan salah satu rasi bintang zodiak yang terletak di belahan langit bagian utara.
Konstelasi ini berada di urutan ke-39 berdasarkan luasannya di kubah langit.
Dalam bahasa latin berarti domba,
dengan simbolnya yang melambangkan tanduk domba.
Konstelasi ini dilukiskan untuk menghormati seekor domba jantan terbang
yang dalam mitologi memiliki bulu emas yang menyelamatkan kedua putri Raja Thebes.

Nama Genetif: Arietis (disingkat Ari)
Sumber Awal: Salah satu dari 48 konstelasi Yunani yang disusun Ptolemy dalam Almagest
Nama Yunani: Κριός (Krios)

Ilustrasi Aries pada the Atlas Coelestis karya John Flamsteed (1729).
Di langit, tampak sang domba tidak memakai bulu, yang dilepaskan di Bumi.
(https://www.ianridpath.com/startales/Aries.htm)

Matahari melakukan gerak semu tahunan akibat revolusi Bumi terhadapnya, sehingga jejak lintasannya membentuk lingkaran khayal yang disebut ekliptika di mana lingkaran ini berada di kubah langit perbintangan dilatarbelakangi oleh rasi-rasi bintang yang populer disebut rasi bintang Zodiak di mana ada 13 rasi bintang yang dilalui oleh Matahari, yaitu Aries, Taurus, Gemini, Cancer, Leo, Virgo, Libra, Ophiuchus, Scorpius, Sagittarius, Capricorn, Aquarius, dan Pisces di mana luasan masing-masingnya di kubah langit tidaklah sama sejak awal pemetaan langit dan kini diformalkan oleh IAU.

Rasi-rasi bintang memiliki penggambaran yang berbeda-beda di langit, yang salah satunya adalah domba, yaitu Aries, dan termasuk dalam jajaran Zodiak. Sang domba jantan ini digambarkan menoleh ke arah rasi bintang Taurus Sang Banteng. Luasan di urutan ke-39 di antara 88 rasi bintang dengan luas 441,395 derajat persegi (1,1% dari luas bidang bola langit). Matahari perlu waktu kisaran 25,5 hari untuk melintasi wilayah Aries, yaitu sekitar tanggal 19 April hingga 13 Mei.

Di langit malam, Aries berada di belahan langit utara dan terletak di antara