Written by widya sawitar
Category:

User Rating: 0 / 5

Star InactiveStar InactiveStar InactiveStar InactiveStar Inactive

Penelitian dan Pengamatan Bulan
dalam Penentuan Awal Bulan Syawal 1441H

 

Planetarium dan Observatorium
Unit Pengelola Pusat Kesenian Jakarta Taman Ismail Marzuki
Dinas Kebudayaan Provinsi DKI Jakarta

 

Kompilasi oleh : Widya Sawitar

 

PERENUNGAN AWAL

       Kembali kita berjumpa dalam topik seputar penentuan awal bulan Hijriah. Kali ini adalah penentuan awal Syawal 1441H (2020M). Dalam kurun lebih dari 3 dekade mungkin terasa bagi semua bahwa sering muncul pertanyaan akan adanya perbedaan dalam sebuah ketetapan awal bulan Hijriah yang dibangun utamanya pada ranah religi. Walau tahun demi tahun sudah banyak penjabaran dan penjelasannya, seolah-olah topik ini senantiasa hadir.
Apabila hendak menyimak dengan seksama perkembangannya di masyarakat luas, nyatanya penuh dinamika dalam ragam penafsiran dan perbedaan. Dapat dikatakan bahwa pada ranah kenyataan, kadang terasa gaduh walau dalam konteks harapan yang positif. Di sini disajikan kembali tinjauan yang sama untuk perhitungan penentuan awal Syawal 1441H. Beberapa aspek disaji-ulangkan kembali dalam hal latar belakang dan yang terkait. Sekedar mengingatkan kembali karena penentuan kapan Idul Fitri terakhir telah setahun berlalu.


       Kali ini, kita coba kaitkan bahasan dengan istilah yang begitu populer di kalangan masyarakat Indonesia, yaitu “Lebaran”. Mungkin kata inilah yang paling populer di masyarakat apabila disangkutkan dengan hadirnya 3 bulan Hijriah yang istimewa (Ramadan, Syawal, dan Dzulhijjah). Hal ini karena kebutuhan apapun yang bersifat kasat mata dan terkait penyambutan hari lebaran (Idul Fitri), pada jaman sekarang seolah menjadi hak mutlak pada ranah tuntutan para insaninya, tatkala terhubung dengan pikiran di ranah sayap-duniawi.


       Siapa yang tidak kenal istilah cuti bersama, mudik, THR, baju baru, dll. yang terkait berlebaran? Namun,

Written by widya sawitar
Category:

User Rating: 0 / 5

Star InactiveStar InactiveStar InactiveStar InactiveStar Inactive

Bumi dan Jagad Semesta
Sekilas Tinjauan Sejarah Yunani Kuno

 

Bagian Kedua
oleh
Widya Sawitar

 

the subject of metaphysics deals with the first principles of scientific knowledge
and the ultimate conditions of all existence.
More specifically, it deals with existence in its most fundamental state
(i.e. being as being), and the essential attributes of existence.
(https://www.iep.utm.edu/aristotl/)

Seperti yang telah dinyatakan pada artikel Bagian Pertama
bahwa tahap mitos di Yunani mulai pudar menjelang era Masehi,
gagasan fisika-matematis mulai mengemuka menggantikan peran dewa dewi.
Tidak lagi bertumpu pada legenda leluhurnya.
Dasar geometri sebagai peranti penjelas gerak benda langit makin mapan.
Namun, paham geosentris masih dominan di mana Bumi sebagai pusat segala-galanya.
Gagasan pada ranah ilmiah ini dipelopori utamanya oleh Thales
dan banyak lagi pendukungnya pada era selanjutnya.
Salah satu yang mendukung hal ini adalah Aristotle (Aristoteles).

Aristotle (384 – 322 SM)

(Ref.: Joshua J. M.; 22 Mei 2019; https://www.ancient.eu/aristotle/) Berikut ini serba sedikit akan dikisahkan tentang Aristotle yang dianggap merombak konsep “atom”. Baginya, alam semesta adalah satu unsur yang merupakan materi sebagai kesatuan utuh. Bumi tetap diletakkan sebagai pusat segala-galanya (geosentris). Adapun elemen dasarnya adalah

Written by SF, WS, NH
Category:

User Rating: 0 / 5

Star InactiveStar InactiveStar InactiveStar InactiveStar Inactive

KOMET ATLAS
Pengelana dari Tepian Tata Surya

Sarah Fauziah, Widya Sawitar dan Nadya Hidayatie


Gambar 1

Simbol komet dan foto komet Atlas (C/2019 Y4)
yang diambil tanggal 26 Maret 2020 dari lokasi Ohio, Amerika Serikat
(Credit: John Chumack)

        Saat sekarang ini, Bumi sedang didekati oleh sang pengelana dari tepian Tata Surya. Begitu jauh rumahnya sedemikian hanya dapat sekedar lewat sekali setiap kisaran 5500 tahun sekali. Sang pengelana ini tidak lain adalah sebuah komet yang diberi indeks C/2019 Y4, yang juga populer disebut komet ATLAS.
Komet ini merupakan komet yang ditemukan oleh

Written by widya sawitar
Category:

User Rating: 0 / 5

Star InactiveStar InactiveStar InactiveStar InactiveStar Inactive

Kegiatan Penelitian dan Pengamatan Bulan
dalam Penentuan Awal Bulan Ramadan 1441H (2020 M)
di Kawasan Taman Impian Jaya Ancol, Jakarta
  

Oleh Tim Planetarium dan Observatorium
UP Pusat Kesenian Jakarta TIM – Dinas Kebudayaan Provinsi DKI Jakarta
 

Disarikan oleh Widya Sawitar


       Topik penentuan awal bulan Hijriah terasa berulang muncul ke permukaan, minimal menyangkut Ramadan, Syawal, dan Dzulhijjah. Hal ini terasa sejak tahun 1984 dan sangat terasa pada 2 dekade terakhir di mana masyarakat senantiasa bertanya akan adanya perbedaan dalam sebuah ketetapan yang dibangun utamanya pada ranah religi. Walau selalu ada penjabaran dan penjelasannya, topik seperti ini tidak lekang oleh waktu. Perkembangannya di masyarakat luas penuh dinamika dan juga perbedaan. Kadang terasa gaduh walau dalam konteks harapan yang positif. Di sini disajikan kembali tinjauan yang sama untuk perhitungan kalender Hijriah tahun 1441H (2020M), khususnya penentuan awal Ramadan. Banyak topik disaji-ulangkan kembali dalam

Written by widya sawitar
Category:

User Rating: 0 / 5

Star InactiveStar InactiveStar InactiveStar InactiveStar Inactive

FENOMENA LANGIT APRIL – JUNI 2020

Pedoman Observasi Berbasis Kota Jakarta

Widya Sawitar

Simbol Rasi Bintang Leo, Virgo, Libra, dan Scorpius.
Rasi bintang Zodiak yang dapat disaksikan sejak awal April selepas waktu Maghrib di ufuk timur.

      Kendatipun wajah kubah langit pada malam hari di Jakarta saat ini sudah tidak indah lagi dengan bentang taburan bintang gemintang karena atmosfernya tercemar berat oleh polusi udara dan polusi cahaya, namun tetap untuk objek langit tertentu masih dapat ditera dengan baik, bahkan bintang cemerlang pun masih mudah dilihat. Pemetaan langit masih “cukup lumayan” untuk dilakukan, termasuk hadirnya objek dekat seperti planet dan Bulan yang memang relatif terang bagi pengamat di Bumi.

      Kondisi di atas tentu berbeda apabila kita pergi agak jauh dari kota Jakarta, ke tempat yang masih asri serta tidak padat penduduknya. Hamparan pemandangan yang sangat indah di langit terasa membangkitkan kedekatan terhadap kita yang mau memahami alam semesta dan kesejatian diri. Dapat terlihat ribuan bintang di langit yang sudah sejak jaman dahulu dijadikan pedoman waktu dan arah bagi para nelayan serta para pengembara. Juga dijadikan pedoman bagi para petani untuk