Written by Super User
Category:

User Rating: 0 / 5

Star InactiveStar InactiveStar InactiveStar InactiveStar Inactive

In pride the Lion lifts his mane
To see his British brothers reign
As stars below.
(Edward Young's Imperium Pelagi)

Il petto del lione ardente
(Dante's Paradiso)

(ref.: penelope.uchicago.edu)

 

Gambar 1
Simbol Rasi Bintang Leo (ref.: wiki/commons/Leo.svg)

 

In Greek and Roman, .. representing the Nemean Lion, originally from the moon,
and, after his earthly stay, carried back to the heavens with his slayer Hercules,
where he became the poet's Nemeaeus; Nemeas Alumnus; Nemees Terror; Nemeaeum Monstrum; and, in later times, No Animal Nemaeo truculento of Camões.
 It also was Cleonaeum Sidus, from Cleonae, the Argolic town near the Nemean forest
where Hercules slew the creature; Herculeus; and Herculeum Astrum.
But the Romans commonly knew it as Leo, Ovid writing Herculeus Leo and Violentus Leo.
(ref.: penelope.uchicago.edu)

Written by Widya Sawitar
Category:

User Rating: 0 / 5

Star InactiveStar InactiveStar InactiveStar InactiveStar Inactive

Gambar 1
Konjungsi Venus, Mars, Bulan, dan Jupiter (6 – 7 November 2015)
Credit: M. Rayhan (lokasi: Planetarium Jakarta)

 

Pada era yang sebagian masyarakat katakan serba modern sekarang ini
nyatanya mengorbankan salah satu sisi pola pikir ataupun pandangan manusia
tentang rumah besarnya, yaitu alam semesta
yang justru menjadi karunia-Nya yang begitu megah.
Dalam skala mikro, semisal untuk warga yang tinggal di kota Jakarta
rasanya sudah nyaris lupa bahwa di kubah langit
sebenarnya banyak petunjuk justru tentang eksistensi kesejatiannya.
Kini kubah langit malam di atas Jakarta sudah tidak lagi bertabur ribuan bintang
karena dampak sesuatu yang dikatakan serba canggih
di mana polusi udara dan cahaya justru menjadi keniscayaannya.

Written by Widya Sawitar
Category:

User Rating: 0 / 5

Star InactiveStar InactiveStar InactiveStar InactiveStar Inactive
Kegiatan Penelitian Hisab Rukyat
untuk Penentuan Awal Bulan Zulhijjah 1439H (2018 M)
dalam Rangka Penentuan Idul Adha 1439H
Oleh Tim Planetarium dan Observatorium
Unit Pengelola Pusat Kesenian Jakarta Taman Ismail Marzuki
Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Provinsi DKI Jakarta

Seperti yang telah beberapa kali dipaparkan pada situs ini terkait penentuan awal bulan dalam kalender bahwa salah satu dari sekian banyaknya aplikasi langsung dari bidang ilmu Astronomi di kalangan masyarakat terwujud dalam bentuk penentuan waktu-waktu yang terkait erat dengan pelaksanaan ibadah keagamaan. Bagaimana pun, ibadah seperti ini banyak yang berpedoman pada kalender berbasis khususnya Bulan (bahkan kombinasi antara posisi Matahari dan Bulan, yaitu sistem luni-solar). Memang secara faktual yang tampak adalah pada umat Muslim yang terkenal dengan kalender Hijriahnya.

Written by Widya Sawitar
Category:

User Rating: 0 / 5

Star InactiveStar InactiveStar InactiveStar InactiveStar Inactive
AQUARIUS
SANG PEMBAWA AIR KEHIDUPAN

Bagian Kedua

“But in reality, such an age is nowhere near right now.
The naming of an "age" refers to a period in which the vernal equinox
— the place where the sun appears on the first day of spring —
lies inside a specific constellation.
But thanks to the wobbling of the Earth's axis, a phenomenon called "precession,"
the equinox point appears to shift slowly westward against the background stars,
taking 25,700 years for one trip.
Right now, the equinox is located in Pisces;
so actually, it's currently the Piscean Age, and the Age of Aquarius will not dawn until 2599.”
(Joe Rao; October 23, 2015; in space.com/30912-look-at-aquarius-this-week)

Written by Widya Sawitar
Category:

User Rating: 0 / 5

Star InactiveStar InactiveStar InactiveStar InactiveStar Inactive
GERHANA BULAN TOTAL
SABTU, 28 JULI 2018
PLANETARIUM DAN OBSERVATORIUM
UNIT PENGELOLA PUSAT KESENIAN JAKARTA TAMAN ISMAIL MARZUKI
DINAS PARIWISATA DAN KEBUDAYAAN
PROVINSI DKI JAKARTA

Atas dasar perhitungan astronomis bahwa pada hari Sabtu (dinihari), tanggal 28 Juli 2018, untuk seluruh wilayah Indonesia dapat menikmati fenomena Gerhana Bulan Total (GBT). Proses GBT mulai pada pukul 00:14:49 WIB dan berakhir pukul 06:28:37 WIB. Peristiwa ini dapat disaksikan oleh semua pengamat di wilayah Indonesia (lihat gambar 1). Namun demikian, tahapan gerhana yang relatif dapat mudah diamati oleh awam adalah mulai pukul 01:24:27 WIB (titik U1 pada gambar 2, saat Bulan masuk bayang-bayang utama atau umbra Bumi) hingga pukul 05:19:00 WIB (titik U4 saat Bulan meninggalkan umbra Bumi). Wajah Bulan, yang seharusnya dalam fase purnama, sebagian menjadi gelap, bahkan menjadi merah tua tatkala keseluruhan piringan Bulan memasuki umbra Bumi (pukul 02:30:15 WIB pada titik U3 s.d 04:13:12 WIB pada titik U3). Catatan: deskripsi fenomena di sini berpedoman dengan sekiranya yang dapat disaksikan dari kota Jakarta, termasuk perhitungan waktu kejadiannya yang berbasis waktu wilayah barat (zona +7 atau WIB). Uniknya, bila GBT tanggal 31 Januari pada kondisi Blue Moon, kali ini tidak demikian. Kala itu dalam kondisi Super Moon (perigee), kali ini justru posisi Bulan adalah apogee (Micro Moon).