Written by Widya Sawitar

User Rating: 5 / 5

Star ActiveStar ActiveStar ActiveStar ActiveStar Active
 

“Those born under the sign of the Dragon are full of intelligence,
vitality and enthusiasm.
The Dragon is a revered sign that appears confident but can be gentle inside.
Dragons are generally popular although, being perfectionists,
can be too direct or demanding of others.”

 

Dragon 1928 1940 1952 1964 1976 1988 2000 2012
Yang Earth Metal Water Wood Fire Earth Metal Water

(Kutipan: PREVIOUS: Astrology and Astronomy)


Dalam mitologi, Scorpius (Kalajengking) dikirim oleh Dewi Hera untuk membunuh Sang Pemburu Orion (sebagian wilayah rasi bintang Orion di Indonesia disebut Lintang Waluku). Dalam versi lain, bahwa yang mengirim Scorpius adalah Dewi Artemis (Romawi: Diana). Hera adalah versi Yunani, sementara versi Romawi dari Hera adalah Juno. Adapun Zeus (Yunani) dalam versi Romawi adalah Jupiter. Rasi bintang Scorpius (atau yang melingkupi kelompok bintang ini) telah disebut dalam ragam budaya sejak bermilenia yang lalu. Sebut dalam sejarah peta langit masyarakat di ranah Mesopotamia, Mesir, Tiongkok ( dan Korea, Jepang), Amerika Selatan, hingga budaya menera langit di Nusantara. Demikian pula kisah ataupun mitologi serta penerapan penggunaannya dalam kehidupan sehari-hari. Dalam bahasan kali ini, walaupun dalam paparan yang sangat terbatas karena cakrawala pengetahuan penulis yang senyatanya sangat sempit, penulis mencoba menelusuri kisah rasi bintang ini dengan menitikberatkan pada sejarah yang berbasis budaya Tiongkok dengan sedikit berbaur dengan budaya manca negara dalam analisisnya. Semoga tetap bermanfaat.

 

Azure Dragon

Pada budaya pemetaan langit yang berlangsung sejak ribuan tahun yang lalu pada masyarakat Tiongkok bahwa mereka membagi wilayah kubah langit berbasis ekuator langit (lebih karena mereka melihat gerak harian benda langit yang unik akibat hidup jauh ke utara dari lingkaran ekuator atau kalau di Indonesia adalah lingkaran khatulistiwa). Selain itu, juga dibagi ke dalam 4 zona langit terkait 4 arah mata angin dengan simbolisasi 4 binatang yang dianggap sakral (Walker, p.253) dengan kombinasi 4 warna (konsep dewa dewi pun seiring sejalan dalam hal ini). Salah satunya adalah sosok naga di mana beberapa rujukan menyebutnya sebagai Naga Biru the Blue Dragon (Qing long; 青龙; Scorpius – Chinese associations dan The Chinese Sky). Ada yang menganggapnya sebagai Naga Hijau the Green Dragon (hua.umf.maine.edu) yang diyakini sebagai dewa penjaga arah timur dan terkait musim semi (spring). Pada Azure Dragon of the East (東方青龍 atau the Eastern Dragon), malah disebut semuanya, yaitu Bluegreen, Blue, dan Green Dragon. Dari penerjemahan Qing long, memang lebih ke warna hijau. Dari cermin perunggu yang ditemukan pada era Sui, 581 – 618) pun disebut dalam mitologinya sebagai Naga Hijau (Bright Moon on Dressing Table: Bronze Mirrors).

Karakterisasi naga di atas umumnya berbeda dengan pandangan budaya manca negara, khususnya budaya masyarakat di wilayah Eropa (Mesopotamia, Yunani, Romawi) di mana hewan ini biasanya dikaitkan dengan monster atau personifikasi yang berkarakter jahat, buas, ganas, dan aneka sifat sejenisnya. Sebaliknya di Tiongkok lebih sering dianggap sebagai makhluk yang baik, sang penjaga, sang pengayom. Juga terkait dengan kemuliaan sang kaisar dan biasanya disandingkan dengan hadirnya Burung Merah yang menjadi dewi penjaga arah selatan yang terkait musim panas (summer). Sang Burung merupakan simbolisasi dari sang permaisuri.

Gambar 1 Makam Kuno Raja di Henan
Tampak di sebelah menyebelah kerangka sang raja terdapat ornamen naga dan macan.
https://hua.umf.maine.edu

 

Faktor naga menjadi unik dalam kasus di sini karena dalam pemetaan langit bahwa gambaran naga ini meliputi beberapa rasi bintang yang pada era kini diketahui berasal dari budaya Eropa, Mesir, dan Timur Tengah; atau seperti kita kenal sekarang. Salah satunya adalah Scorpius yang pada budaya di Nusantara populer dengan sebutan Lintang Klopo Doyong (pohon kelapa yang miring).

Gambaran makhluk naga ini sejatinya telah ada bermilenia yang lalu. Pada situs makam neolitik yang diperkirakan berusia 7300 tahun, terdapat kerangka manusia yang diduga adalah seorang raja di mana di sebelah kanan kirinya (lihat gambar 1) terdapat karya berbentuk naga (dianggap sebagai Azure Dragon) dan macan (dianggap White Tiger). Ditemukan di situs Xishuipo Puyang di Provinsi Henan dan diperkirakan situs ini adalah kompleks makam raja. Sebenarnya ada pula bentukan Burung Merah (Rosefinch atau Vermilion) yang tidak terekam kamera foto dalam gambar di atas.

Simbol-simbol itu mungkin telah dikuburkan bersama raja untuk melindunginya; atau sebagai simbol statusnya di langit (surga). Bentuk kuburan itu sendiri seperti bentuk mahkota di mana bentuk ini merupakan simbol keyakinan bahwa langit (surga) terdiri dari 6 lingkaran konsentris yang dibagi dengan 7 kurva (penulis belum dapat menafsir ujud utuh sketsanya dan kaidah filosofisnya; barangkali di antara pembaca ada yang dapat membantu “menerjemahkan” penemuan ini).

Penggambaran naga nyatanya bahkan hingga kini sedemikian populernya, bahkan melahirkan kisah kaisar pertama, Shi Huangdi (221 – 209 SM), yang dikatakan meraih keabadiannya sebagai naga dan menghuni langit (Wilkinson-Philip, p.179; mirip mitos masyarakat Mesir kuno); pun menjadi ide adanya gambar naga pada bendera Tiongkok.

 

Gambar 2 Naga dan Putri Bulan
Batuan tatah yang ditemukan di daerah Nanyang, Provinsi Henan.
Tampak di bagian bawah kiri hingga kanan atas terdapat 16 bintang terang yang merupakan gambaran naga dan disebutkan sebagai Naga Hijau. Namun, bila menyimak bahasanya adalah 苍龙 atau Cāng Lóng, maka seharusnya Naga Hitam (atau abu-abu, walau dalam mitologinya disebut Naga Hijau). Dijelaskan bahwa Cāng Lóng menempati langit timur ketika Bintang Biduk berada di atas (penulis: dapat jadi yang dimaksudkan adalah di meridian). Sementara itu, juga ada gambaran Bulan yang bertatahkan simbolisasi Bulan, yaitu kelinci dan katak berkaki 3. https://hua.umf.maine.edu

 

 

Juga hadirnya tokoh Yu (naga) sebagai citra positif. Yu merupakan transformasi jasad dari Gun, cucu kaisar, yang kemudian mendapat izin Sang Kaisar Langit untuk memperbaiki kerusakan akibat banjir sehingga kehidupan di muka Bumi dapat berlanjut. Dengan kerja kerasnya membangun bukit dan gunung yang baru, dan juga membuat saluran-saluran air yang pada akhirnya membuat kehidupan di Bumi kembali asri dengan beragam makhluknya (apakah banjir besar ini terkait mitologi banjir pada budaya manca negara semisal fenomena mitologi Benua Atlantis atau lainnya, penulis belum menemukan argumennya).

 

Mitologi Chang’e.

Baik kelinci dan katak adalah simbol dari hadirnya Sang Rembulan. Konon dalam mitologinya kala itu bahwa katak ini sebenarnya seorang wanita nan cantik yang sedang menyamar bernama Chang’e. Dahulu kala dia tinggal di Bumi bersama suaminya yang merupakan pemanah terkenal yang menyelamatkan Bumi dari seekor naga (namun, di sini lebih menjelaskan ancaman dari bintang jatuh yang maksudnya adalah meteor). Pada versi yang populer bahwa terdapat 10 Matahari yang menyamar sebagai burung gagak yang meneror Bumi. Dengan perbuatannya, sang suami mendapat hadiah berupa air abadi. Namun, air ini ternyata diambil oleh sang istri yang kemudian diminumnya sedemikian membuat marah sang suami dan para dewa. Akhirnya sang istri lari dan terbang ke Bulan.

Di Bulan, Chang’e menemukan kelinci dan pohon Cassia (Cassia) di mana keduanya merupakan simbol kesuburan dan umur panjang. Ada beberapa versi cerita. Kelinci itulah yang menyediakan air keabadian untuk hidup selamanya atau Chang’e yang memang membawanya ke Bulan. Ada juga yang mengisahkan bahwa air abadi tidak diminumnya, melainkan Chang’e meminta kelinci untuk membantu membagikannya ke semua orang di Bumi.

Pada akhir kisahnya, Chang’e menetap di sebuah istana – Jade Palace di Bulan dan dapat dilihat jelas oleh masyarakat Bumi tatkala Bulan Purnama. Diduga kuat bahwa inilah sejarah adanya Festival Bulan di mana hidangan berupa kue Bulan menjadi simbolisasi dari kisah dalam mitologi ini dan merupakan salah satu cara berbagi dalam harapan antar masyarakatnya agar berusia panjang (https://hua.umf.maine.edu).

Namun, merujuk pada mitologi tentang Putri Bulan berbasis Stars of Asia Workshop di NAOJ-Mitaka, Tokyo, Jepang di mana penulis pun sebagai salah satu editorial board tahun 2009 bahwa Chang’e adalah dewi Bulan, sedikit kutipan hasil penelitian Sze-leung Cheung adalah:

“Chang’e was the wife of Yi (羿) who was the hero shot down the nine Suns (Catatan: tersisa 1 Matahari yang kita lihat sehari-hari). Together with Yi, Chang’e was Goddess but forbidden by Emperor Jun to return back to the heaven. After Yi has shot down the Suns and killed monsters, he headed northwest to Mount Kunlun (崑崙山) to look for the elixir of immortality. Yi climbed many mountains, passed many rivers in many days, and finally reached the destination and met Xiwangmu (西王母), the Queen Mother of the West. Xiwangmu was depicted with a human head and tiger body. She was the ruler of punishment, calamity and disease. Yi asked Xiwangmu to give him the elixir of immortality so that he can continuously to serve the people. Xiwangmu knew Yi was the hero who saved the humankind, and after deep considerations, she agreed and awarded him the elixir”.

Pada catatannya bahwa asal nama Chang’e (嫦娥) adalah Heng’e (姮娥). Namun, masyarakat kala itu melarang nama tersebut (taboo); “that forbidden use the name as same as the Emperor’s, and therefore Heng’e was renamed as Chang’e”. Adapun tokoh katak dan kelinci di Bulan bermula dari kisah pada manuscript era Warring States (kemungkinan selepas era dinasti Han, 206 SM – 220 M) di mana pada mulanya kisah dua hewan ini terlepas dari mitos Putri Bulan. Mungkin paralel dengan mitologi Nuwa dan Fuxi pada era yang berdekatan. Ada juga rujukan yang menyebutnya Chang O. Perkembangan lainnya, ada yang menyebutnya sang suami adalah Houyi (Lord Houyi 后羿). Pada kisah akhir disebutkan bahwa “Houyi built himself a palace on the sun as “Yang” (the male principle), while Chang E is “Yin” (the female principle). Once a year, on the 15th day of the full moon, Houyi is able to visit his wife and on this night the moon is especially full and beautiful” (Astrology and Myths).

 

Selain pada situs ini, ditemukan pula yang sejenis dan berusia jauh lebih muda, yaitu pada masa dinasti Han (dinasti di wilayah timur; kisaran tahun 25 – 220, situs makam Wukaiming di Kuil Para Leluhur Wuliang di daerah Jiaxiang – Provinsi Shandong). Perkiraan keberadaan ukiran biduk (Bintang Biduk atau Gayung Besar di Indonesia) yang ada pada ukiran kereta (kuda) raja adalah kelompok bintang yang kini dikenal sebagai bagian dari rasi bintang Ursa Major (Beruang Besar) yang biasa pula digunakan sebagai petunjuk arah utara layaknya kita memakai Lintang Gubug Penceng untuk arah selatan (mengenai Bintang Biduk, lihat artikel: Rasi Bintang Dalam Denyut Budaya (Bagian Kedua)).

 

Perlu juga diketahui bahwa ornament seperti di atas yang terdapat pada makam para raja juga banyak ditemukan di manca negara dan erat terkait dengan Astronomi dan religinya. Keyakinan bahwa fenomena (khususnya yang bersifat periodik) di alam semesta (mungkin dalam filosofi Jawa disetarakan dengan adanya jagad cilik jagad gede kaitannya juga dengan pranatamangsa) memiliki pertanda unik dan ada harmoni spirit yang tersembunyi yang tidak setiap makhluk dapat menerjemahkannya. Ini semua dipercaya akan membimbing mereka untuk menemukan kunci jawabnya termasuk ketentraman dan pengendalian diri, serta memiliki kekuatan untuk melakukan sesuatu yang berdampak pada masyarakatnya. Juga diyakini bahwa ada hubungan langsung antara hadirnya fenomena di langit dan “rumah” kaisar dan ini adalah salah satu tinggalan penting untuk sistem dinasti yang berkelanjutan; serta kekonsistenan dari ujud warisan dari zaman ke zaman (https://hua.umf.maine.edu). Menafikan fenomena langit sama artinya dengan meruntuhkan pemerintahannya dari legitimasi. Bahkan dalam kematian, raja bersiap untuk mengambil tempat yang seharusnya di antara mereka yang telah diberi amanat langit. Tema keyakinan seperti ini nyatanya ditemukan pula di hampir seluruh budaya di dunia.

 

Jejak peradaban yang terkait tokoh naga juga terekam pada cermin perunggu (bronze mirror) yang ditemukan pada banyak situs bahkan digunakan hingga kini. Masyarakat Tiongkok percaya bahwa cermin perunggu dapat digunakan untuk menepis efek negatif (evil spirits, subdue demons), dan oleh karenanya benda ini umumnya diletakkan di atas pintu rumah, dinding rumah dan kuil, hingga digunakan di bagian depan baju perang.

 

Gambar 3 Empat Hewan Mitologi
Dibuat era Sui berdiameter 22,1 cm. Terdapat hiasan Burung Merah (rosefinch) di bagian atas, Kura-kura Hitam (Xuanwu) di bawah, Naga Hijau di kiri, Macan Putih di kanan. Selain itu ada 12 hewan terkait mitologi Zodiak di lingkaran luar (Bright Moon on Dressing Table: Bronze Mirrors). Sebagian menyebut bahwa penjaga utara adalah kura-kura dan ular sebagai simbolisasi the Dark Warrior (Walker, p.253)

 

Cermin perunggu, yang kaya akan konotasi budaya, selalu digunakan para leluhur untuk mengungkapkan rasa sayang, kerinduan, dan harapan terbaik mereka. Beragam ukuran dijumpai dan umumnya memiliki bentuk yang apik dalam corak serta beragam isi ataupun simbolisasi terkait kehidupan hingga ranah spirit religi yang estetik serta rupa yang artistik.

 

 

Gambar 4 Mystic Beasts
Cermin perunggu yang dibuat pada masa dinasti Tang (618 – 907) berdiameter 10,6 cm. Format ini biasa digunakan di bagian atas gedung pemerintahan yang merupakan simbol wawasan yang luas dan ketegaran (hnmuseum)

 

 

Pemetaan Sorpius

Seperti telah disinggung di atas bahwa salah satu rasi bintang yang berada pada tubuh naga adalah Scorpius. Salah satu ilustrasi dapat dilihat pada gambar di bawah. Namun demikian, bagi penulis bahwa gambaran ini tidak tepat apabila kita ikuti bagaimana peta bintang yang sesungguhnya. Secara garis besar bahwa pengertian Wei adalah ekor di mana ekor naga dan ekor kalajengking harusnya sama, terlebih bagian paling belakang naga adalah bintang dengan identifikasi Gamma Sagittarii.

 

Gambar 5 Pemetaan Langit
Empat penjaga langit yang terkait 4(+1) binatang. Ada yang menyebut hanya kura-kura, ada yang menyebut kura-kura dan ular untuk penjaga utara seperti pada gambar. Juga tampak bahwa pemetaan modern terhadap gambaran kalajengking berada di wilayah naga. Juga terkait warna: Biru (atau Hijau, atau hitam, atau abu-abu), Hitam, Putih, Merah ("The Chinese Sky")(International Dunhuang Project).

 

Kita coba identifikasi bintang-bintang di rasi kalajengking ini sebagai berikut. Bintang paling terang di Scorpius adalah Antares yang merah cemerlang di kubah langit malam. Pada awalnya berasal dari budaya Yunani yang artinya “Seperti Mars” (Planet Mars). Seiring waktu, menjadi rival atau saingan atau bahkan anti-Mars. Pada budaya kuno Tiongkok bahwa Antares biasa disebut Huo, Bintang Api dengan 2 pengapit/pengawalnya (lihat gambar 6 di bawah). Bintang ini dianggap mewakili tahta kekaisaran di mana bintang Sigma Scorpii menjadi Sang Pangeran Mahkota dan bintang Tau Scorpii mewakili anak dari selirnya.

 

 

Gambar 6 Bagian Jantung Naga (Xīn)
(di dalam elips bergaris putus-putus putih)
Tiga bintang utama bagian Xin adalah:
心宿一    (Xīnsuyī) atau Sigma Scorpii (Al Niyat, ke arah kepala; kanan atas);
心宿二    (Xīnsuèr) atau Alpha Scorpii (Antares, tengah); dan
心宿三    (Xīnsusān) atau Tau Scorpii (ke arah ekor, kiri bawah)
(AEEA)

 

 Keempat bintang yang membentuk kepala kalajengking, yaitu Beta, Delta, Pi, dan Rho Scorpii, dikenal sebagai Fang (“kamar”), yang kemudian dinamakan rumah bulan (mansion) keempat. Fang menandai bagian abdomen (perut) dari sang naga. Beta Scorpii atau nama populernya Acrab dalam bahasa Arab berarti kalajengking. Alternatif namanya yang seiring waktu adalah Graffias yang dalam bahasa Latin berarti capit (memang secara harfiah cakar. Namun, dalam ilustrasi kuno maupun kita lihat ujud kalajengking lebih tepat sebagai capit). Sementara itu di bagian depan kalajengking ada Delta Scorpii atau Dschubba yang berawal dari kata Arab yang berarti dahi. Hal ini mengacu pada posisinya di tengah kepala kalajengking. Penafsiran kuno bahwa 4 bintang ini merupakan 4 asisten raja atau dikisahkan sebagai suatu kelompok dengan 4 ekor kuda. Memang ada beberapa bintang lagi yang terkait. Bintang ganda Omega Scorpii 1 dan 2 dianggap sebagai Gōuqián (鉤鈐), “kunci”. Sementara itu, bintang tunggal Nu Scorpii di sebelah utara adalah Jiànbì (鍵閉), layaknya baut yang diduga untuk mengamankan ruangan. Bentangan tanduk atau capitnya (Rogers, 1998, p.25) hingga mencapai ke bintang Spica, bintang paling terang di rasi bintang Virgo, dan satunya lagi mencapai bintang Arcturus, bintang paling terang di rasi bintang Bootes.

Dalam pemetaan, bintang terang di ekor naga adalah Mu Scorpii (Wěisuyī) (Chinese constellations; Scorpius in Chinese astronomy - Wikipedia). Dapat dilihat pemetaan mereka pada gambar 7 di bawah dengan analisis berbasis ilustrasi dari program simulasi Astronomi berikut:

 

Gambar 7 Bagian Ekor Naga (Wěi)
Berturut dari ujung ekor adalah Lesath (Nu Sco), Shaula (Lambda Sco), Kappa Sco,
HIP 87261 (panah merah), Iota 1 Sco, Girtab (Theta Sco), Eta Sco (panah hijau),
Zeta 1 dan 2 Sco (panah biru, bukan bintang ganda,
hanya penampakan di kubah langit yang berdekatan), Mu 1 Sco, Epsilon Sco.
Sembilan bintang ini di luar HIP 87261 adalah identik dengan bagian ekor Scorpius
(terhubung garis).
(Ref.: AEEA dan  Program Stellarium 0.12.4)

 

Kelompok bintang yang mirip kait atau kail pancing yang terdiri dari 9 bintang dari Epsilon ke Nu dan Lambda Scorpii tidak lain adalah ekor naga (Wěi, yang berarti ekor), sekaligus merupakan rumah bulan keenam yang dinamai sesuai dengan namanya. Sebenarnya daerah ini adalah rumah pertama dari tiga rumah bulan yang dianggap sebagai Wěi (dua lainnya ada di rasi bintang Aquarius dan Aries). Namun, masing-masing memiliki kisah yang berbeda (maksudnya secara sederhana bahwa mereka memiliki 3 nama Wěi di kubah langit). Wěi yang dibahas di sini mengacu pada ekor naga. Apabila dibandingkan pemetaan ini, maka ekor naga dapat disebut sama dengan ekor kalajengking. Dalam mitologinya (Scorpius) bahwa Wěi juga mewakili simbolisasi istana Kaisar, dengan banyak ruang bagi sang permaisuri dan selir. Di sebelah atas nyaris berdampingan dengan bintang ketiga, atau Zeta Scorpii (panah biru pada gambar), adalah objek kabut sebagai simbolisasi dari Shengong, ruang ganti. Mereka tidak melihatnya atau menggambarkannya sebagai titik cahaya melainkan citra agak kabur. Pada masa kini, objeknya diketahui sebagai gugus bintang terbuka (open cluster) NGC 6231 (contoh gugus terbuka yang terkenal adalah Pleiades atau Lintang Kartika; M45). Bila cuaca cerah, maka objek ini relatif mudah dilihat dengan kasat mata karena magnitudo semunya hanya 2,6 (lihat penjabaran NGC6231 di bawah dan lokasi pada gambar 8).

 

NGC 6231
Gugus terbuka NGC 6231 ditemukan oleh Giovanni Batista Hodierna kisaran tahun 1650 yang dinyatakan dikatalognya sebagai Luminosae (dalam karya bukunya De Admirandis Coeli Characteribuse – 1654, Palermo). Secara terpisah ditemukan oleh antara lain: Edmond Halley (1678), de Chéseaux (1745-46), Lacaille (1751-52). Identifikasi yang sempat diberikan adalah bagian kepala komet dari “false comet", sementara ekornya adalah gugus bintang yang kini diketahui sebagai Trumpler 24 (ke arah utara). Juga disebut sebagai bagian dari asosiasi Scorpius OB1 (List of NGC objects (6001–7000), 6231)

 

Secara garis besar keterkaitan pemetaan Azure Dragon (naga) dengan Scorpius dapat dilihat pada tabel berikut:

 

Azure Dragon
of the East

東方青龍
dongfang: timur
qinglong: naga

Musim Semi
Nomor Nama Indonesia Nama Bintang
1 角 (Jué/Jiăo) Tanduk / sudut Spica
2 亢 (Kàng) Tengkuk Kappa Virginis
3 氐 (Dī) Akar /Cakar (Graffias) Alpha Librae
4 房 (Fáng) Ruang / Abdomen Pi Scorpii
5 心 (Xīn) Jantung Alpha Scorpii
6 尾 (Wěi) Ekor Mu Scorpii
7 箕 (Jī) Keranjang Gamma Sagittarii

Tabel 1
Tampak bahwa gambaran atau simbolisasi naga ini meliputi 4 rasi bintang,
 yaitu Virgo (terkait disertakannya bintang paling terangnya Spica), Libra, Scorpius, dan Sagittarius. Berarti meliputi 4 rasi bintang Zodiak klasik era awal masehi (karena kini Zodiak ada 13 rasi bintang).
Di sini, lebih diulas mengenai mitologi dan pemetaan Scorpius.
Tentang Sagittarius silakan baca artikel Sagittarius Sang Pemanah.
(Ref.: Chinese constellations dan https://hua.umf.maine.edu/China)

 

Identifikasi lainnya untuk bintang di Scorpius antara lain adalah yang berada di dekat ujung ekor naga di mana ada bintang tunggal bernama Fuyue, kini G Scorpii yang tidak lain adalah HIP 87261 (panah merah pada gambar 7). Bintang ini merupakan simbolisasi dari seorang budak legendaris (atau pertapa) yang menjadi penasehat Kaisar Wu Ding (1200 SM). Bintang ini juga dianggap gambaran Sang Ratu yang sedang berdoa untuk anak dan cucu laki-lakinya. Tepat di sebelah utara itu ada Yu, yang digambarkan sebagai seekor ikan di bentangan Bima Sakti, yang identifikasinya adalah gugus bintang terbuka yang juga dicatat oleh Charles Messier dalam katalognya yang terkenal sebagai M7 (lihat artikel Sekilas Sejarah Katalog Messier).

 

Ptolemy dalam bukunya yang terkenal, Almagest, mencantumkan tiga bintang di luar rasi bintang Scorpius (“unformed stars” julukannya). Yang pertama dia sebut sebagai bintang samar (nebulous star) yang berada di belakang bagian sengat kalajengking (ujung ekor). Dugaan paling kuat dari pemetaannya bahwa objek ini adalah M7. Oleh sebab itu, kadang M7 disebut juga sebagai Gugus Ptolemy (Ian Ridpath's Star Tales).

 

Di sebelah kanan ekor, terdapat enam bintang termasuk H dan N Scorpii yang merupakan bagian dari Jizu, gambaran dari batalion tentara yang siap untuk mengusir pasukan penyerang. Jizu sendiri terdiri dari 12 bintang yang dibagi menjadi empat kelompok dan masing-masing beranggotakan 3 bintang di mana 2 kelompok berada di daerah Scorpius, yang lainnya (era kini) berada di rasi bintang Lupus dan rasi bintang Norma. Sementara itu, di bagian utara Scorpius terdapat 2 rasi bintang yang terkait dengan kisah “perdagangan di langit” di dalam dan sekitar Ophiuchus (Zodiak di antara Scorpius dan Sagittarius pada era sekarang, Zodiak ke 9 dihitung berurut dari Aries dan terakhir, ke 13, adalah Pisces)(Scorpius – Chinese associations). Kisah perdagangan ditandai dengan adanya 3 bintang dengan formasi segaris, walau dalam pemetaan belum ada kata sepakat tentang identitasnya, konon membentuk kelompok Fa (harfiahnya hukuman) yang melambangkan denda atau kompensasi finansial terhadap pedagang yang tidak jujur. Juga terdapat 4 bintang, termasuk Xi Scorpii membentang hingga ke (era kini) Libra, membentuk kelompok Xixian, pintu timur ke ruang penyelidikan tentang kasus pelanggaran perdagangan. Adapun untuk sektor barat adalah kelompok Dongxian, yang berada di Ophiuchus.

 

Ragam Nama

Dalam budaya Mesopotamia bahwa Scorpius sebagai penanda Autumn Equinox (musim gugur). Pada awalnya melingkupi wilayah langit yang luas. Identifikasi yang kini sebagai rasi bintang Libra awalnya termasuk Scorpius, yaitu bagian capitnya. Capit di utara (Beta Librae) pada waktu dulu, yaitu pada era Eratosthenes dan Hipparchus, merupakan bintang yang paling terang. Pada era Ptolemy dan al-Sufi bahwa Antares dan Beta Libra memiliki kecerlangan sama, kisaran magnitudo semu 2. Sejak itu Beta Librae meredup dan sebaliknya Antares (magnitudo 2 hingga tahun 1430 dan magnitudo 1 saat masuk abad 19) semakin cemerlang. Uniknya Antares, mulai tahun 1880, magnitudonya bervariasi antara 1,2 hingga 1,8 dengan periode kisaran 5 tahun. Ini artinya Antares tergolong bintang variabel, bintang yang berubah-ubah kecerlangannya (Rogers, 1998, p.24-25 dan Darling, 2004, p.27). Hingga masuk era Yunani, Libra masih termasuk Scorpius.

Dalam manuscript Mesopotamia (MUL.APIN, awalnya Stars of Akkad; berasal dari budaya masyarakat Akkadian) yang jelas dipetakan dan disebut mereka adalah Libra (Zibanitum; ZIB.BA.AN.NA; Rogers, 1998, p.16-17) dan Scorpius tidak disebut dan demikian pula selanjutnya untuk Stars of Umurru (1830 – 1500 SM). Baru pada era (1100 – 700 SM) bahwa Scorpius (Gir.tab) disebut dan sebaliknya tidak untuk Libra. Inipun terkait mitologi dalam kisah penciptaan alam semesta dengan tokohnya Naga Tiamat (her chaos against the gods, tampak dunia negatif yang menonjol dari naga dibanding karakterisasi naga pada budaya di Tiongkok). Dalam kisahnya juga disebutkan dan digambarkan adanya Manusia Kalajengking. Dalam catatan lainnya, juga disebut bintang Antares sebagai penanda kalender berbasis Bulan, yaitu GAB.GIR.TAB (patokannya adalah breast of Scorpius). Juga ditemukan kesetaraan antara simbolisasi Scorpius dengan Ishhara (goddess of all inhabited regions). Atau identifikasi lainnya seperti GABA GIR.TAB (dada kalajengking, yaitu Lishi dan Nabu). Ada pula pemetaan terkait bintang yang disebut sebagai d-Sharur4 u dShargaz yang kini diidentifikasi sebagai Lambda dan Nu Scorpii.

Pada penamaan bintang dalam budaya Arab pun (Davis, 1944, p.22) ditemukan kasus serupa bahwa yang kini dikelompokkan sebagai Libra, penggambarannya pun tidak berubah dari sebelumnya. Memang penyebutannya adalah Libra dan sudah terpisah dari Scorpius (hal ini dimaklumi karena budaya pemetaannya berbasis buku Almagest-nya Ptolemy) di mana Alpha Librae diberi nama Zubenelgenubi (az-Zuban al-Janubi; capit kalajengking selatan) dan Beta Librae yang namanya Zubeneschamali (az-Zuban ash-Shamali) yang artinya capit kalajengking utara. Keduanya disebut az-Zubaniyani yang diartikan sebagai dua capit. Adapun tentang Scorpius, penamaan Antares diadaptasi dari Yunani yang memiliki arti anti/rival Mars, dan lebih karena warnanya. Untuk Beta Scorpii, seperti disinggung sebelumnya, dikenal juga sebagai Graffias (capit, Yunani) atau Acrab (adaptasi dari bahasa Arab) yang berarti “the Crab” (menilik harfiahnya kepiting, namun penggambarannya lebih mengarah ke kalajengking dan kenyataannya bahwa pengertian dan penggambaran berikutnya akhirnya lebih condong pada hewan kalajengking. Nama terkait budaya Arab lainnya adalah Shaula (ash-Shaula) dan Lesath (al-Las’a, sengat di ujung ekor kalajengking). Adapun yang berawal dari turunan budaya masyarakat Sumeria adalah dari GIR.TAB (kakkab-Aqrabu) dan berlaku untuk Shaula dan Lesath dan terkait (dugaan kuat) nama Sharur (Sar-ur, Shaula) dan Shargaz (Sar-gaz, Lesath). Dua nama terakhir adalah nama dua dewanya (Star Gods)(Davis, 1944, p.26).

 

Zodiak

Saat ini Scorpius dikenal sebagai salah satu dari 88 rasi bintang (IAU - Constellations, lihat artikel Rasi Bintang Dalam Denyut Budaya (Bagian Pertama)), sekaligus salah satu dari 12 simbol Zodiak klasik, yang dalam kesepakatan sebagai zodiak ke 8. Pada era Julius Caesar (100 – 44 SM), daerah langit ini dibagi 2 bagian yaitu Scorpius dan Libra (Timbangan). Daerah Libra sesungguhnya adalah bagian dari capit kalajengking. Jadi batas Scorpius di kubah langit perbintangan saat ini hanya sampai bagian kepala kalajengking. Berupa 3 bintang terang di mana 2 diantaranya dibayangkan sebagai mata kalajengking.

Mengenai batasan tanggal yang biasa dikenal adalah antara tanggal 22 Oktober hingga 21 November. Jadi yang lahir antara tanggal tersebut dikatakan berbintang Scorpius. Nyatanya patokan ini hanya berlaku sekitar 2000 tahun lalu. Memang kala itu antara tanggal tersebut Matahari sedang melintasi wilayah Scorpius. Namun, apabila kita sekarang mengamati kubah langit yang sesungguhnya dan siapapun dapat ikut mengamatinya, maka daerah Scorpius akan dilalui Matahari hanya antara tanggal 23 hingga 29 November (hanya dalam kurun waktu 6 hari saja). Artinya, hanya yang lahir antara tanggal tersebutlah yang seharusnya disebut berbintang Scorpius. Adapun yang mencanangkan bahwa rentang tanggal yang lama tetap berlaku untuk sepanjang masa adalah Ptolemy (Claudius Ptolemaeus, Claudios Ptolemaios) yang berasal dari budaya Mesir Kuno, yang hidup dalam kurun tahun 100 – 178 M, (ada yang menyatakan 87 – 150, 100 – 165, atau 130 – 175 M) yang melahirkan astrologi modern (lebih ke arah ramal meramal nasib). Tidak lagi perduli dengan koreksi akibat adanya gerak presesi Bumi, di mana koreksi ini yang senantiasa dilakukan oleh para pendahulunya. Tidak lagi memakai konfigurasi bintang yang sejati yang ada dan ditunjukkan oleh langit sebenarnya. Bahkan seringnya dan lebih parah lagi bahwa yang meramal tidak tahu lagi objek langitnya (bintang-bintang, planet, dll.) yang justru dijadikan patokannya. Jadi, mulai era inilah pedoman kaidah astrologi dan Astronomi terbedakan.

Kembali di kubah langit perbintangan, berpatokan pada kondisi geografis kota Jakarta, bahwa saat terbaik untuk melihat Scorpius dimulai awal bulan Juni. Pada pukul 19:00 WIB, Scorpius sudah terlihat di atas ufuk Timur. Solar Conjunction (Matahari di Scorpius) akhir November, bersamaan pula bahwa rasi bintang ini pada pukul 18:00 WIB sudah terbenam. Jadi sepanjang malam tidak akan dapat dilihat sampai nanti tampak lagi di awal malam pada bulan Juni (Ref.: Stellarium 0.12.4).

Untuk melihat rasi bintang ini relatif mudah karena terdapat 16 bintang terang yang benar-benar memiliki konfigurasi mirip kalajengking. Di Indonesia lazim disebut Vrischikam (Sanskrit), Lintang Klopo Doyong / Kala Sungsang / Banyak Angrem / Sangkal Putung / Manggakala (Yogyakarta), Lintang Ketonggeng (Solo; musim kering berdasar Dite Matahari), Merchika (Bali). Cara melihat yang terbaik adalah dengan mata bugil, tanpa alat bantu seperti binokuler (kèkeran) ataupun teleskop. Hal ini karena Scorpius mencakup wilayah langit yang relatif luas (496,78 derajat persegi atau sekitar 1,204% luas bola langit di mana menempati urutan ke 33 dalam luasannya. Yang paling luas adalah rasi bintang Hydra, kisaran 3,158% luas bola langit).

 

Gambar 8 Peta Langit Scorpius
Dalam gambar dapat dilihat keberadaan M7 dan NGC 6231. Juga Libra yang dulu termasuk Scorpius. Apabila lingkaran hitam penanda bintang semakin besar,
artinya bintang tersebut semakin cemerlang apabila dilihat kasat mata.
Magnitudo semu yang tertera adalah antara 1 hingga 6
di mana besaran 6 merupakan batas kemampuan kasat mata.
(Ref.: SCO - IAU)

 

Identifikasi Beberapa Bintang Terang

Pada rasi ini ada sekitar 16 bintang yang cemerlang, dari kisaran 60 bintang yang tampak dengan mata bugil (magnitudo semu < 5,5 dan tentu saja bukan diamati dari kota Jakarta yang sudah tinggi tingkat polusi udara dan polusi cahayanya). Yang menonjol antara lain:

  • Antares
    Alpha Scorpii, urutan ke 16 dari urutan bintang terang di langit apabila diamati dengan mata telanjang. Berwarna merah dan terletak di jantung Scorpius. Indeks alpha (berbasis huruf Yunani) adalah tanda bintang paling terang di rasi bintang bersangkutan apabila dilihat oleh kita sebagai pengamat dengan mata bugil. Antares adalah bintang maha raksasa merah dengan jejari sekitar 320 kali jejari Matahari. Jaraknya sekitar 185 parsec (1 pc = 3,262 tahun cahaya = 3.086 x 1013 km) atau sekitar 604 tahun cahaya (bintang paling cemerlang di langit malam adalah Sirius; jarak Matahari hanya sekitar 8,3 menit cahaya = 150 juta km). Luminositas Antares atau energi yang dipancarkan setiap detiknya sekitar 40.000 kali luminositas Matahari. Warnanya merah karena temperatur permukaannya tergolong rendah, yaitu sekitar 3400 K (Matahari kisaran 6000 K, kuning). Merupakan bintang variabel di mana pada suatu masa berubah antara magnitudo 1,2 – 1,8 dan kini kisaran 0,9 hingga 1,1. Kelas spektrumnya adalah M1Ib (M menandakan bukan bintang yang panas dan Ib atau “satu b” menandakan sebagai maha raksasa yang sangat terang);
  • Acrab/Graffias
    Beta Scorpii merupakan bintang ganda dengan m = 2,6. Dalam katalog lain indeksnya adalah zeta. Merupakan bintang berwarna biru-putih yang berarti temperaturnya tinggi, lebih panas dibanding Matahari. Urutan kecerlangan ke 93. Penamaan Acrab diduga kuat berawal dari Jabhat Al Akrab. Kelas spektrumnya B0.5-V (B0.5 tanda bintang panas dan V atau “lima” menandakan bintang Deret Utama seperti Matahari yang berkelas spektrum G2-V). Jaraknya 530,34 tahun cahaya. Identifikasi lainnya Beta 1 Sco, 8 Sco A, HIP78820A;
  • Dschubba
    Delta Sco berwana biru-putih dengan m = 2,35 dan urutan kecerlangan ke 76 di kubah langit. Sementara itu, menempati kecerlangan urutan ke 5 di Scorpius. Merupakan bintang bertiga (sebuah bintang mengedari pasangan bintang). Salah satunya, yang tampak dengan kasat mata adalah bintang variabel yang sangat aktif atau tergolong eruptive variable star. Kelas spektrumnya B0.2-IV berjarak 401,67 tahun cahaya. Identifikasi lainnya 7 Sco, HIP78401A;
  • Wei
    Epsilon Sco dengan urutan kecerlangan ke 72. Kelas spektrumnya K2-IIIb (bertemperatur rendah) dan m = 2,25. Jaraknya 63,71 tahun cahaya. Identifikasi lainnya 26 Sco, HIP82396;
  • Girtab / Sargas
    Theta Sco berwarna kuning dengan m = 1,85, urutan kecerlangan ke 39. Kelas spektrumnya F1 dengan jarak kisaran 272,02 tahun cahaya dan merupakan bintang ganda. Identifikasi lainnya adalah HIP86228A;
  • Shaula / Alascha
    Lamda Sco dengan m = 1,6 dan kecerlangannya ke 25. Tergolong bintang panas dengan kelas spektrum B1.5-IV dan jaraknya kisaran 571,20 tahun cahaya. Merupakan bintang variabel (harga m antara 1,62 hingga 1,68). Identifikasi lainnya adalah 35 Sco, HIP85927; dan
  • Girtab
    Kappa Sco pada urutan kecerlangan ke 81. Catatan, bahwa dalam beberapa rujukan bahwa nama Girtab diberikan pada Kappa dan Theta Sco. Merupakan bintang variabel (pulsating variable star) dengan m = 2,41 – 2,42. Kelas spektrumnya B1.5-III dan jaraknya 483,19 tahun cahaya. Identifikasi lainnya adalah HIP86670.

 

Objek yang Menarik

(Untuk objek Messier dapat dilihat pada artikel Selintas Sejarah Katalog Messier).

  • Messier 4 (M4 atau NGC 6121) dengan m= 5,9; gugus bola, dekat Antares (lihat gambar 9 di bawah);
  • M6 (NGC 6405, Collinder, 341, Melotte 178, Lund 769, OCL 1030, ESO 455-SC030) (M6) dengan m= 4,2; gugus terbuka, juga dikenal sebagai Butterfly Cluster yang lokasinya dekat ekor Scorpius (4 derajat ke barat daya gugus terbuka M7). Relatif mudah dilihat dengan kasat mata. Diameter gugus mencapai 20 tahun cahaya dengan jarak 2000 tahun cahaya dan diperkirakan usianya 50 juta tahun. Diamati oleh Hodierna pada tahun 1654 (dan Messier tahun 1764) dan kala itu dihitung jumlah bintangnya hanya mencapai 80 buah. Anggotanya sebagian besar adalah tipe bintang panas (blue). Namun, yang paling terang adalah bintang raksasa jingga BM Scorpii yang merupakan bintang variabel dengan m = 5,5 – 7,0.
  • M7 (NGC 6475, m= 3,3; gugus terbuka. Nama populernya adalah Ptolemy’s Cluster yang lokasinya dekat dengan ujung ekor Scorpius yang merupakan kelompok bintang atau gugus terbuka (open/galactic cluster) yang cukup jelas apabila dilihat dengan binokuler. Gugus yang juga diamati oleh Hodierna pada tahun 1654 ini diketahui kala itu beranggotakan 30 bintang. Kini diketahui lebih dari 80 bintang dengan kecerlangan m<10. Usia cluster ini diperkirakan sekitar 220 juta tahun dan jaraknya 1000 tahun cahaya;

 

Gambar 9 Messier 4
Messier 4 atau M4 juga diidentifikasi sebagai NGC 6121 merupakan gugus bola (globular cluster) yang ditemukan pertama kali oleh Philippe Loys de Chéseaux (1718 – 1751) tahun 1745 dan dikatalogkan oleh Charles Messier tahun 1764. Merupakan globular cluster pertama yang berhasil diidentifikasi bintang anggotanya secara individual yang diawali pengamatannya oleh William Herschel tahun 1783. Diketahui ada sedikitnya 43 bintang variabel didalamnya.
Jaraknya kisaran 7200 tahun cahaya dengan magnitudo semu 5,9. Bentang radiusnya 35 tahun cahaya dengan perkiraan usia mencapai 12,2 milyard tahun (sebanding usia alam semesta). Ditemukan objek menarik, yaitu bintang katai putih yang berpasangan dengan pulsar PSR B1620-26. Uniknya pada tahun 2003 ditemukan planet mengedari pasangan bintang ini dengan besar massa kisaran 1,2 hingga 6,7 kali massa Jupiter;
dan ini adalah temuan planet yang pertama di gugus bola. Kini telah diketahui bahwa jumlah anggota gugus ini mencapai puluhan ribu bintang.
(Ref.: NASA, STScI, Hubble Space Telescope, WikiSky)

 

  • M80 (NGC 6093, m=7,2, gugus bola), di tengah-tengah antara kepala Scorpius bagian tengah dan bintang Antares, yang merupakan gugus bola. Pernah ditemukan nova (letupan bintang) pada tahun 1860;
  • Penampakan wilayah dari bintang Antares sampai ke ekor Scorpius praktis terlihat berada di dalam pita bentangan awan putih Bima Sakti (galaksi tempat kita tinggal). Daerah ini layaknya awan putih tipis membentang di langit mirip selendang yang mengelilingi kita. Pada dasarnya adalah lautan ratusan milyar bintang. Sangat jelas hanya apabila langit malam cerah tiada ber-awan, terlebih apabila tidak ada Bulan dan jauh dari polusi udara dan polusi cahaya akibat terang benderangnya lampu-lampu kota.

 

Fakta Terkait

  • Titik Pusat (AR, d): (16h 49m; -270)
  • Pada lokasi ±50 timur laut bintang Nu Sco terdapat sumber pemancar sinar-X yang sangat kuat, bahkan paling kuat setelah Matahari (identifikasinya Sco X-1 atau 3U 1617-15) yang merupakan bintang-ganda-dekat. Ditemukan pada tahun 1962, dengan periode keterubahan pendaran kurang dari 1 hari dengan perbedaan magnitudonya sekitar 1. Salah satu komponennya adalah bintang neutron. Jaraknya kisaran 800 hingga 1600 tahun cahaya, masih dalam penelitian. Juga pemancar sinyal radio.
  • 18 Sco (m = 5,49, M = 4,75, d = 46 tc) merupakan bintang yang relatif dekat dan mirip Matahari ditilik dari parameter massa, luminositas, temperatur, warna, gravitasi permukaan, kecepatan rotasi, aktifitas permukaan, kelimpahan besi, dan yang menarik bahwa bintang ini sama-sama sendirian, tidak berpasangan seperti Matahari. Belum ada laporan bahwa di sana ada sistem ke-planet-an.
  • M4. Pada tahun 1987, ditemukan pulsar milidetik pertama (PSR 1821-24) dengan periode 3,0 milidetik. Artinya lebih cepat putaran rotasinya dibandingkan dengan Pulsar Kepiting yang berlokasi di pusat Nebula Kepiting yang merupakan sisa materi ledakan supernova SN1054 Tau (lihat artikel Supernova: Ledakan Bintang (Bag. 1)).

 

Hujan Meteor

  • Alpha Scorpiids                 21 April – 26 Mei    (15 Mei)
  • South Omega Scorpiids    23 Mei – 15 Juni    (31 Mei)
  • North Omega Scorpiids    23 Mei – 15 Juni    (31 Mei)
  • Chi Scorpiids                                                 (5 Juni)

 

Bintang Dekat

  • LFT1358                     (urutan ke 33 bintang terdekat Matahari, jarak 15,3 tc)
  • HD156384 A-B-C        (ke 88, bintang bertiga, jarak 23,3 tc)
  • LFT1266-1267­            (ke 102, bintang ganda, jarak 24,9 tc)

 

Pengantar

Seperti yang penulis singgung dari artikel tentang Zodiak sebelumnya (Sagittarius Sang Pemanah) “bahwa berharap pada masa mendatang, penulis berusaha untuk serba sedikit bercerita tentang rasi bintang lainnya. Terlepas dari sisi astrologi maupun Astronomi, bagaimanapun ini adalah tinggalan budaya yang terkait pola pikir makhluk yang namanya manusia dan sebagiannya tidak lain adalah para leluhur kita sendiri.” Berkelindannya ranah sains dan takhayul memang harus diakui masih susah diuraikan justru patokan bendanya nyaris sama. “Ada baiknya kita simak sisi Astronomi-nya saja di mana benda yang terlibat dapat kita telusuri di kubah langit, baik kasat mata maupun dengan bantuan peranti observasi seperti binokuler dan teleskop.” Salam Astronomi.–WS–

 

Daftar Pustaka

  • Cheung, S., 2009, Chang’e Flies to the Moon, “Stars of Asia Workshop” at National Astronomical Observatory of Japan – Mitaka – Tokyo, 11-14 Mei 2009
  • Cheung, S., 2009, Houyi Shot the Sun, “Stars of Asia Workshop” at National Astronomical Observatory of Japan – Mitaka – Tokyo, 11-14 Mei 2009
  • Cornelius, G., 1997, The Starlore Handbook: An Essential Guide to the Night Sky, Chronicle Books
  • Cornelius, G., 2005, The Complete Guide to the Constellations, Duncan Baird, London.
  • Darling, D.J., 2004, The Universal Book of Astronomy, John Wiley & Sons, Inc., New Jersey, p.27, 79, 150, 407, 441-3
  • Davis Jr., G. A., 1944, The Pronunciations, Derivations, and Meaning of a Selected List of Star Names, Popular Astronomy 52: p.8-30
  • Hartmann, W.K., 1985, Astronomy: The Cosmic Journey, Wadsworth Pub. Co., Belmont
  • Pedersen, O. 1993, Early Physics and Astronomy: A Historical Introduction, Cambridge University Press, Cambridge
  • Rogers, J. H., 1998, Origins of the Ancient Constellations: I. The Mesopotamian Traditions, Journal of the British Astronomical Association (JBAA) 108:1, 9-28
  • Sawitar, W., 2009, Star and the Universe: The Ancient Cultures of Indonesia, “Stars of Asia Workshop” at National Astronomical Observatory of Japan – Mitaka – Tokyo, 11-14 Mei 2009
  • Sawitar, W., 2015, Astronomi dalam Cerita Rakyat Nusantara, Makalah pada Seminar Astronomi dalam Budaya Nusantara (SINDARA) di Universitas Ahmad Dahlan Yogyakarta (30/05/2015)
  • Walker, C. (ed.), 1996, Astronomy: Before the Telescope, British Museum Press, London

 

Situs

6231
AEEA (Activities of Exhibition and Education in Astronomy)
AEEA (Activities of Exhibition and Education in Astronomy)
Astrology and Astronomy
Astrology and Myths page
Azure Dragon of the East
Bright Moon on Dressing Table: Bronze Mirrors
Cassia
Chinese constellations
Hubble Space Telescope
https://hua.umf.maine.edu/China/astronomy/tianpage/chinese_constellations.html
https://hua.umf.maine.edu/China/astronomy/tianpage/0006H_9183w.html
https://idp.bl.uk/education/astronomy/classroom.html
https://www.constellation-guide.com/constellation-list/scorpius-constellation/
Hunan Provincial Museum
Ian Ridpath's Star Tales
IAU - Constellations
IDP HOME (The International Dunhuang Project)
List of meteor showers
List of NGC objects (6001–7000)
Messier 4
Messier 6
Messier 4 Hubble_WikiSky
Meteor Data Center - Tabel Hujan Meteor
NASA
Rasi Bintang Dalam Denyut Budaya (Bagian Pertama)
Rasi Bintang Dalam Denyut Budaya (Bagian Kedua)
SCO - IAU
Scorpius – Chinese associations
Scorpius in Chinese Astronomy
STScI
Tabel Seluruh Hujan Meteor
The Chinese Sky
The History of Astronomy in China
The University of Maine
WikiSky