Written by Widya Sawitar

User Rating: 1 / 5

Star ActiveStar InactiveStar InactiveStar InactiveStar Inactive
 
RIUHNYA PERKENALAN BUMI DENGAN ASTEROID

In the years since researchers have sought evidence
linking impacts with other mass extinctions of life
throughout geologic history.
The biggest of these, 251 million years ago, ended the vibrant Permian period
and nearly left Earth sterile:
90 to 95 percent of all species died within a geologic blink of an eye.
No compelling explanation for the Permian-Triassic extinction
— widely called the "Great Dying" —
has yet gained favor.
(skyandtelescope)

Gambar 1
Jatuhnya Meteor di Bumi
(Credit: Don Davis / NASA; armaghplanet dan skyandtelescope)

 

Biasanya apabila asteroid mengembara mendekati Matahari, sifatnya dapat menyerupai ujud komet. Mereka pun dapat menjadi sumber meteor. Kalau begitu, apakah dapat terjadi tabrakan dengan Bumi? Masalahnya justru dapat dipertanyakan, mengapa tidak? Ada baiknya untuk ditinjau ulang artikel sebelumnya di mana telah dipaparkan tentang ragam asteroid dengan segala karakternya (Asteroid 1, Asteroid 2, dan Asteroid 3). Juga sebagai rujukan, yang antara lain:

Kejadian hujan meteor pun sekaligus menunjukkan bahwa lintasan edar Bumi tumpang tindih dengan lintasan orbit asteroid pengembara walau yang terbanyak adalah yang bersumber dari komet karena sejatinya tubuh komet yang rentan hancur dibanding dengan asteroid yang umumnya padat dan karakter orbitnya yang gemar berkelana di antara planet-planet. Yang jelas, andai calon meteor atau meteoroid-nya berukuran besar – baik berupa komet ataupun asteroid, maka akan berdampak luar biasa karena kecepatan jatuh meteor dapat mencapai 10 hingga 75 km per detik. Apabila saja mobil kita memiliki kecepatan 75 km per detik, praktis waktu tempuh Jakarta ke Bogor hanya berkisar kurang dari 1 detik saja, layaknya sekedipan mata. Yang menjadi pertanyaan berikutnya, bagaimana apabila yang jatuh bukan sekedar serpihannya, melainkan asteroidnya secara utuh jatuh ke Bumi? Lebih dari itu, dengan menimbang bahwa ujud asteroid umumnya pejal atau padatan yang sangat berbeda dengan tubuh komet yang mudah hancur. Tentu berdampak lain di antara keduanya.

Jatuhnya meteor besar di permukaan Bumi saat sekarang ini sudah menjadi ladang penelitian yang berskala besar dan berkelanjutan. Ragam bidang keilmuan dengan sangat terpaksa terlibat aktif di dalam penelusurannya. Astrogeologi, Astrobiologi, Astrokimia, dan banyak lagi berusaha untuk bahu membahu guna mendapat benang merah proses keterjadiannya. Punahnya aneka kehidupan pun diduga kuat terkait dengan fenomena ini. Sudah lebih dari 190 kawah bentukan meteor diteliti. Berbasis catatan bahwa dalam rentang 500 juta tahun ke belakang diketahui telah 3 kali terjadi kepunahan massal, walau yang paling populer di masyarakat adalah yang terkait dengan kisah punahnya dinosaurus dan kawan-kawannya.

TABEL 1
Kawah yang diduga terbentuk sebagai dampak jatuhnya meteor
(Ref.: PASSC - Canada)

NAMA KAWAH (LOKASI) DIAMETER (KM)
Araguainha (Brazil) 40
Chesapeake Bay (Virginia – Amerika Serikat) 40*
Mjølnir (Norwegia) 40
Puchezh-Katunki (Russia) 40*
Saint Martin (Manitoba – Canada) 40
Woodleigh (Australia barat) 40
Montagnais (Nova Scotia – Canada) 45
Kara-Kul (Tajikistan) 52
Siljan (Swedia) 52
Charlevoix (Quebec – Canada) 54
Tookoonooka (Queensland) 55
Beaverhead (Montana – Amerika Serikat) 60
Kara (Russia) 65
Morokweng (Afrika Selatan) 70
Manicouagan (Quebec – Canada) 85*
Acraman (Australia selatan) 90
Popigai (Russia) 90*
Sudbury (Ontario - Canada) 130*
Chicxulub (Yucatan - Meksiko) 150*
Vredefort (Afrika Selatan) 160*

Catatan
Diameter yang tertera di atas merupakan perkiraan diameter kawah berbasis “rim-to-rim” (lereng atau dinding kawah), yaitu diameter kerusakan maksimum yang membentuk lubang kawah. Jadi perhitungan berdasarkan bagian yang runtuh atau dinding ke dinding kawah. Dalam beberapa literatur atau textbook hingga artikel dan jurnal ilmiah, ditemukan beberapa pendefinisian tentang diameter ini. Ada yang berbasis “rim-to-rim”, ada pula yang berbasis rentangan (praduga) titik pusat kawah, ke wilayah bibir kawah hingga ke arah menjauh selama masih terdampak, dan dapat dimasukkan sebagai bagian kawah tersebut.
Kasus di atas tentu saja dapat berpengaruh apabila kita ingin mengurutkan berbasis diameter. Contoh kasus untuk “rim-to-rim”: Kawah Chicxulub 150 km dan Sudbury hanya 130 km (di sini Sudbury urutan kedua). Namun, untuk definisi lain bahwa kerusakan maksimum Kawah Sudbury sekitar 260 km (diameter cincin terluar), sedangkan Chicxulub sebesar 240 km (Sudbury justru pada urutan pertama). (Ref.: The Planetary and Space Science Centre (PASSC) – University of New Brunswick, Fredericton, New Brunswick, Canada; passc.net/EarthImpactDatabase) dan untuk data pembanding bagi yang berminat menelusurinya dapat meninjau situs List of unconfirmed impact craters on Earth - Wikipedia, khususnya dari “references” atau daftar pustaka yang digunakan pada artikel di situs tersebut.

 

Pada paparan kali ini kita akan mencoba berkenalan serba sedikit tentang dampak jatuhnya Sang Penjelajah Kecil di Tata Surya di rumah Bumi kita, khususnya terkait dengan asteroid. Pertama, kita akan coba simak terbentuknya Kawah Barringer di gurun pasir Arizona di Amerika Serikat di mana diameter kawahnya mencapai sekitar 1.250 meter dengan kedalaman hingga kisaran 200 meter atau sekitar 2 kali tinggi Monas. Yang jelas, bukan kawah yang kecil. Dampaknya tentu luar biasa apabila hal ini terjadi pada jaman sekarang di daerah yang padat penduduk seperti kota besar pada umumnya.

 

Kawah Barringer

Kawah ini merupakan kawah pertama yang diketahui dan dipastikan terbentuk akibat jatuhnya meteor raksasa (bolide meteor / fireball). Sepintas bentuk geometri kawahnya seperti mangkuk. Namun, bibir mangkuknya unik karena cenderung berbentuk empat persegi panjang (lebih ke bentuk bujur sangkar, lihat gambar 3 di bawah), tidak lingkaran. Lokasi ditemukannya berada di Amerika Serikat bagian utara, lebih tepatnya di gurun pasir di bagian utara wilayah Arizona.

Ciri lain yang tampak adalah ketinggian bibir kawah dari permukaan gurun pasirnya kisaran 30 hingga 60 meter dengan kemiringan dinding kawah bagian atas sekitar 40 – 50 derajat. Bagian dasar kawah cenderung rata, dan inilah yang membedakan karakternya dengan struktur geologi kawah gunung berapi.

Budaya lokal (masyarakat setempat) mengenal kawah tersebut sebagai Coon Butte atau Coon Mountain. Tatkala diketahui adanya meteorit di sana untuk pertama kali, maka meteoritnya disebut Meteorit Canyon Diablo.

 

Gambar 2
Kawah Barringer
Apa yang terjadi ketika meteor jatuh ke permukaan Bumi (di daratan atau lautan)?
Apabila berukuran kecil, akan membentuk kawah yang kecil pula dan
mungkin mudah mengalami erosi apabila terjadi di darat,
atau secara global juga menjadi sesuatu yang mudah terlupakan.
Namun, apabila terbentuk seperti Kawah Barringer yang fotonya dapat kita simak bersama,
terbentuk kisaran 50.000 tahun yang lalu,
tentu kita akan berpikir berulang-ulang tiada berkeputusan karena tentu berdampak luar biasa besar.
Ibarat kota Jakarta yang niscaya akan tersapu habis
karena daya ledaknya ratusan kali bom nuklir yang pernah menimpa kota Hiroshima di Jepang.
Kini, kisaran 190 kawah sejenis telah diidentifikasi di seluruh dunia.
(https://apod.nasa.gov/apod/ap990711.html)

 

Prediksi awal bahwa apabila penyebabnya adalah akibat jatuhnya meteor, maka diperkirakan diameter meteoroid-nya antara 40 hingga 50 meter dan dengan komposisi unsur yang dominan adalah besi dan nikel. Perhitungan menunjukkan bahwa daya ledaknya setara dengan 2,5 juta ton TNT atau sekitar 150 kali daya ledak bom nuklir yang meluluhlantakan kota Hiroshima di Jepang.

Kasus terbentuknya Kawah Barringer akhirnya menjadi kajian bidang Geologi dan Astronomi. Hal ini dikarenakan pada awal penelitian terbentuk 2 kubu, yaitu yang menyatakan bahwa kawah tersebut akibat aktifitas vulkanik dan yang satu lagi adalah berbasis fenomena jatuhnya meteor besar. Kala awal penelitian, yang berbasis meteor menjadi kubu yang minoritas bahkan nyaris terpinggirkan dengan beragam argumennya.

Pada tahun 1891, pakar geologi Grove Karl Gilbert (kepala U.S. Geological Survey) menyimpulkan bahwa kawah ini akibat jatuhnya meteor dan konsekuensi logisnya bahwa seharusnya di lokasi tersebut akan ada sisa meteorit-nya, bahkan diasumsikan bahwa besar meteoroid-nya akan setara dengan besarnya kawah (ibarat peluru yang melubangi kayu, tentu diameter lubang setara dengan besarnya diameter peluru – asumsi ini tentu lumrah muncul kala itu dengan mengingat kecepatan yang sedemikian tinggi).

Dari penelitiannya bahwa di daerah lokasi tersebut pasti memiliki keunikan pola medan magnet (dalam kasus khusus bahkan anomali gravitasi). Hal ini berbasis asumsi bahwa meteor yang tidak habis terbakar tatkala sampai ke Bumi tentu merupakan benda yang rapat massanya besar dan dugaan kuat terdiri dari unsur logam, khususnya besi. Selain itu, struktur batuannya tentu berubah akibat dorongan tenaga tumbukan yang luar biasa dan berubah sifatnya menjadi sangat padat. Sayangnya, saat itu tidak ditemukan bukti. Dari fakta yang ditemukan itulah akhirnya disimpulkan bahwa kawah tersebut bukan karena tumbukan meteor, melainkan akibat adanya aktifitas bawah permukaan Bumi (walau tidak dinyatakan aktifitas vulkanik), yaitu adanya “explosion of superheated steam” dan salah satu komentarnya ketika mulai ditemukan serpihan meteorit di kawah tersebut, maka itu hanyalah sekedar kebetulan belaka, “thousands of meteorite fragments lying around it were simply a coincidence”).

A. E. Foote, seorang mineralogist dan merupakan orang pertama yang mempublikasikan jurnal ilmiah tentang analisis kehadiran kawah dan penemuan meteorit di sana pada tahun 1891 (Foote, A. E., 1891, Geological Features of the Meteoric Locality in Arizona, Academy of Natural Sciences Philadelphia Proceedings, V-40, p.407). Foote bersama koleganya mengumpulkan beberapa bongkah meteorit yang massanya cukup besar (kisaran 100, 75, dan 20 kg), 131 buah yang relatif ringan (1/16 ons hingga 3 kg), dan 100 kg meteorit yang telah teroksidasi. Tidak lama kemudian mendapat 3 lagi yang besar (315, 200, dan 70 kg). Pada beberapa sampel yang lebih besar didapati strukturnya berlubang (ada rongga) dan kasus ini mirip dengan yang dijumpai di wilayah Tucson (Signet Iron). Meteorit besi ini didapati mengandung troilite (kelompok sulfida besi, Fe(1-x)S (non-magnetic)), daubréelite (mineral sulfida, Fe2+Cr3+2S4) (Ref.: Troilite dan Daubréelite), karbon, dan berlian (diameter hingga 1/8 inci), dan yang terakhir digambarkan berwarna hitam dan sedikit bernilai komersial. Hasil penelitian dalam bentuk jurnal ilmiahnya dipaparkan pada pertemuan the American Association for the Advancement of Science (AAAS) di Washington DC. Salah satu pemerhatinya adalah Kepala Lembaga Survey Geologi Amerika Serikat, yang tidak lain Karl Gilbert.

Pada tahun 1902, giliran Daniel Moreau Barringer, seorang pengusaha Amerika Serikat (Philadelphia) dan pakar bidang pertambangan mulai ikut dalam kancah penelitian terhadap kawah di Arizona tersebut. Barringer lulus dari Universitas Princeton tahun 1879 tatkala usianya baru 19 tahun. Melanjutkan ke Universitas Pennsylvania (bidang hukum) dan lulus baik dan relatif singkat juga, yaitu tahun 1882 (walau bidang ini membuatnya bosan dan tidak menjadi bidang yang digelutinya untuk seterusnya). Kegemarannya adalah aktivitas luar ruang, yaitu berburu (rekan berburunya adalah Theodore Roosevelt dan penulis sekaligus pakar sejarah Owen Wister). Barringer berhasil membuka cakrawala ilmu pengetahuan karena setelahnya akhirnya muncul bidang ilmu Astrogeologi (Barringer lebih pada studi lapangan).

Barringer akhirnya tertarik untuk memulai kajian tentang kawah di Arizona tersebut dan mengambil pandangan yang berlawanan dengan pendahulunya, Gilbert. Dalam penelitiannya, dia didampingi oleh pakar Matematika dari almamaternya di Universitas Philadelphia, yaitu Benjamin Chew Tilghman. Setelah menemukan bahwa beberapa meteor kecil yang komposisi unsurnya besi/nikel ditemukan di tepi kawah dan sekitarnya, Barringer yakin bahwa hanya meteor besar dan dominan logam besi yang dapat menjadi penyebab fenomena geologis semacam itu.

Awal tindakannya lebih layaknya seorang pengusaha atau penambang, Barringer mencoba mengajukan klaim atas wilayah tersebut. Kemudian sebelum melakukan penelitian lanjutan, Barringer memanfaatkan kesempatan tersebut untuk membentuk perusahaan dengan alasan untuk menambang besi di sana demi keuntungan komersial. Awalnya, tanpa benar-benar mengunjungi dan mengeksplorasi layaknya pakar pertambangan, Barringer membentuk Standard Iron Company dan meminta izin pertambangan di kawah tersebut dan sekitarnya.

Berbekal izin itulah, maka tidak kurang dari 40 lubang tambang digali dalam rentang waktu tahun 1903 hingga 1908 dengan kedalaman 60 hingga 323 meter untuk penelitian struktur geologi dan unsur yang dikandungnya (hingga tahun 1953 mencapai 419 meter oleh The United States Refining, Smelting, and Mining Company). Bagi pembaca yang berminat dalam analisis geologi (analisis unsur dan proses keterjadian batuannya), dapat merujuk pada buku karya David A. Kring (2017), Guidebook to the Geology of Barringer Meteorite Crater, (aka Meteor Crater), 2nd Edition, yang dipaparkan pada pertemuan tahunan Meteoritical Society pada bulan Juli 2017.

Penelitiannya juga menunjukkan bukti terdeteksinya debu dan kerikil dari lokasi tersebut yang terlontar ke segala arah dan menutupi wilayah sekitarnya. Jutaan ton batu gamping dan batu pasir dilempar keluar dari wilayah terbentuknya kawah, menutupi permukaan hingga radius 1,5 km. Pada awalnya juga diduga terbentuk danau di dasar kawah kemudian tersedimentasi sedemikian kedalamannya berkurang hingga tinggal 180-an meter saja (artinya dasar kawah awal sudah tertimbun pasir dan batuan kecil). Tebaran materi lontaran ini ternyata semakin banyak ditemukan pula hingga radius 7 km.

Barringer menyimpulkan dari kandungan debu, pasir, dan remah batuan silikat yang ditemukan bahwa ujud tersebut hanya dapat terjadi dengan peristiwa yang singkat/spontan, tidak secara gradual dengan rentang waktu panjang layaknya pembentukan struktur geologi yang kala itu diketahui (sebut semisal terbentuknya gurun pasir, pastilah berlangsung tidak sebentar; demikian pula terbentuknya deretan pegunungan).

Pada tahun 1906, dan sekali lagi pada tahun 1909, Barringer dan Tilghman mengajukan argumen mereka tentang proses terbentuknya kawah tersebut ke Academy of Natural Sciences (Akademi Ilmu Pengetahuan Alam) di Philadelphia. Barringer pun mendapat dukungan ahli geologi terkemuka kala itu (1908), yaitu pakar Geologi dari Amerika Serikat, George P. Merrill yang juga telah berhasil menguji batuan yang diambil dari dinding dan dasar kawah. Merrill menyimpulkan bahwa bentukan layaknya gelas/kuarsa yang ditemukan berlimpah di lokasi niscaya hanya dapat ada dengan proses bertemperatur yang sangat tinggi. Selain itu, sumber panas seperti ini tidak dijumpai pada lokasi tersebut termasuk dari bawah permukaan. Kita bayangkan semisal ada aktivitas gunung berapi, maka didalamnya tentu ada sumber lava yang panas dan ini tidak dijumpai di bawah kawah ataupun disekitarnya. Adapun kenyataan di lapangan memang demikian, tidak adanya batuan vulkanik alami di sekitar kawah. Ada salah satu unsur dari sekian banyak unsur yang terlibat yang menjadi perhatian, yaitu Coconino (Ref.: Coconino Sandstone) yang terdampak akibat adanya tekanan luar biasa besar yang sangat mendadak dan dalam waktu singkat. Bagaimana jalaran gelombang kejut dapat membentuk kawah seperti itu dan bagaimana dampaknya, inilah yang menjadi pertimbangan dan salah satu fokus penelitiannya.

Analisis tentang proses dadakan yang berdurasi sangat singkat pada media berpori sangat penting karena hampir semua batuan di Bumi (planet kebumian secara umum) diketahui bersifat demikian. Juga dengan karakter batuan seperti ini pulalah terjadi proses erosi yang menyumbangkan perannya dalam pembentukan permukaan Bumi. Untuk alasan ini, sebagian besar peristiwa tumbukan, terlebih karena jatuhnya meteor besar dengan kecepatan yang diketahui melebihi kecepatan peluru, tentu akan menimbulkan gelombang kejut yang besar dan pastilah menjalar pada batuan berpori yang menghuni kerak Bumi (permukaan khususnya). Kini beberapa kawah menjadi pusat penelitian, antara lain Kawah Barringer (Arizona), Campo del Cielo (Argentina), Gosses Bluff (Australia bagian utara), Henbury (wilayah utara Amerika), dan Wabar (Arab) yang memiliki kelimpahan besar dalam bentukan batuan akibat proses metamorfosis karena adanya gelombang kejut (Kieffer, 1971, p.5449-51).

Bersamaan, kala itu para astronom sedang ramai membahas bagaimana kawah di Bulan dapat terbentuk. Jadi, penelitian Barringer pun menggiring para astronom ikut kancah dalam penelitian fenomena terbentuknya Kawah Barringer.

 

“Once again, the debate moved between those championing extra-terrestrial volcanic activity (gradualism) versus those who favored an impact hypothesis (cataclysm). This outcome of these debates had enormous impact in both geology and astronomy” (Barringer Meteor Crater)
dan bahkan dinyatakan secara terbuka tatkala Barringer melakukan paparan tahun 1909 dari kubu penentangnya:
“Some persons could scarcely conceal their derisive thoughts. Nevertheless .. Barringer ploughed through his paper, painful though it must have been for him, until he completed it.” (The Battle for Impact Theory)

 

Hipotesis tumbukan meteor perlahan akhirnya semakin mapan, dan berbasis perhitungan bahwa besar massa meteor yang menghantam gurun pasir Arizona mencapai 300.000 tons (30x lebih kecil dibanding prediksi Barringer, kisaran 10 juta ton) dan kecepatan jatuhnya kisaran (26.000 – 26.800 mph) hingga 34.000 - 35.000 mph atau sekitar 12 hingga 15 km per detik. Hasil ini didapat setelah direktur perusahaannya (Standard Iron Company) meminta bantuan perhitungan kepada pakar Matematika, F. R. Moulton.

Tiba tanggal 23 November 1929, hasil perhitungan dan teori berbasis kajian Barringer, berhasil dituntaskan Moulton. Tidak kurang 127 halaman analisis matematis dan argumen diajukan. Namun, sayangnya tanggal 30 November, seminggu kemudian, Barringer wafat. Namun demikian, anak-anaknya melihat bagaimana gagasan Barringer dibenarkan oleh para pakar. Masyarakat umum pun akhirnya kini tahu bahwa itulah penemuan Barringer yang sangat fenomenal, berupa kawah terdampak jatuhnya meteor besar (meteor crater). Tidak lama, nama ilmiah kawah ini yang diberikan oleh Meteoritical Society adalah Barringer Meteorite Crater. Namun, pengakuan ini baru benar-benar diterima setelah 57 tahun sejak paparan pertamanya tahun 1906.

Sejatinya, hampir tiga puluh tahun, Barringer menjadi pedang dan perisai perseteruan ilmiah yang seringkali menimbulkan perdebatan mengenai asal mula terbentuknya kawah tersebut. Teorinya memang berhasil diakui kalangan peneliti. Namun, justru terjadi saat Barringer benar-benar kehabisan dana untuk bukan sekedar dana penelitiannya, tetapi juga untuk kehidupannya. Pada ujung temuan yang gemilang pada tahun 1929 inilah, Barringer meninggal karena serangan jantung. Sebagai warisan abadinya adalah dalam pelekatan namanya untuk nama kawah tersebut yang hingga kini digunakan.

Pada tahun 1960an, astronom Amerika Serikat dan ahli geologi Eugene Shoemaker (bersama Edward Chao dan David Milton) menemukan kesamaan antara struktur batuan yang ditemukan di Kawah Barringer dan yang ditemukan di lokasi uji bom nuklir (di Nevada). Bahkan ditemukan unsur yang tidak dijumpai dalam proses alam biasa kecuali sebagai dampak tekanan dan panas yang spontan dan luar biasa besar, yang diketahui tahun 1953 atas hasil eksperimen pakar kimia Loring Coes (mineral silica yang disebut coesite). Selain itu, terdapat struktur kristal unik, yaitu bentukan "shattercones" pada batuan yang juga dijumpai (diawali dari penelitian oleh Robert S. Dietz) dan ini hanya dapat terbentuk akibat tekanan mendadak yang sangat besar, dan sekaligus menunjukkan bahwa pada masanya pastilah terjadi ledakan yang luar biasa dahsyat di lokasi tersebut. Penelitian lanjutan memberi gambaran bahwa fenomenanya terjadi kisaran 50.000 tahun yang lalu.

Metodologi dalam pencarian bukti semacam itu terus berkembang sampai pada taraf hipotesis keterjadian tumbukan di Tunguska – Siberia tahun 1908 serta analisis tabrakan dahsyat di penghujung Zaman Kapur (Cretaceous Period) 66 juta tahun yang lalu yang diperkirakan telah memicu kepunahan dinosaurus (lihat bahasan Kawah Chicxulub di bawah).

Kini dengan penemuan lebih dari 190 kawah dampak tumbukan, maka penelitian terkait fenomena ini menjadi sangat penting dalam menelusuri sejarah geologi Bumi, minimal senantiasa ada rujukan dalam alur penelitian tentang struktur yang terbentuk pada muka Bumi, yaitu melalui kajian teori “gradualism” yang memiliki rentang waktu panjang (evolusi) dan “catastrophic” yang spontan berdurasi singkat (revolusi). Contoh penemuan lokasi jatuhnya meteor relatif besar dapat lihat artikel Hujan Batu Api dari Langit, khususnya pada gambar 3 pada artikel tersebut.

 

Gambar 3
Laser Scanning of Meteor Crater’s Interior and Western Ejecta Field
Pada bulan Juni 2007, NASA memimpin proyek pemindaian berbasis laser landas-Bumi menelusuri bagian dalam kawah menggunakan pemindai Optech ILRIS 3D
yang dilakukan dari dasar kawah (sisi foto kiri).
Tidak kurang sekitar 5 jam pemindaian dilaksanakan dan dengan cara yang sama dengan pemindai Leica HDS3000. Data yang diperoleh diintegrasikan dengan hasil Digital Elevation Map (DEM; penganalisis photogrammetric) oleh QuickBird Image pada hasil tahun 2006.
Ketelitiannya hingga desimeter dan foto di atas adalah hasilnya.
Credits:
Project High Resolution Planetary Analog Crater Terrain Model for Navigation Studies: NASA Project Integration Office – Stennis Space Center, Mississippi – Rodney D. McKellip, NASA Lead.  Data were gathered and processed by Richard Brown, Andrew Navard, and Don Holland of the Applications Visualization Team of NASA’s Applied Science Program at SSC.
 
Bagi khususnya yang berminat dalam telaah Geologi dapat melihat:
Preliminary Report of Project Results:
Brown, R. B. et al. (2008)
Creation of High Resolution Terrain Models of Barringer Meteorite Crater (Meteor Crater) Using Photogrammetry and Terrestrial Laser Scanning Methods,
Lunar and Planetary Science XXXIX, Abstract #2453
atau
Meteor Crater DEM (with DigitalGlobe multispectral drape) created by merging exterior photogrammetric DEM and laser scanned interior data.

 

Berdasarkan penelitian hingga tahun 2016, disimpulkan dan disepakati bahwa kecepatan meteor pembentuk kawah tatkala jatuh kisaran 15 km/detik dengan jumlah massa 3,2x108 kg. Batas penemuan materi sisa dampak tumbukan meteor yang cukup besar (melt specimens) belum ditemukan pada jarak lebih dari 2,4 km dihitung dari tepi kawah. Lontaran batuan materi kawah awal terlontar hingga radius 1.860 meter, rata-rata 1.543 m (terdapat juga hingga jarak kisaran 3 – 7 km). Sementara itu, tumpukan pasir dan debu sisa ledakan mengubur dinding kawah hingga ketebalan 20 m, dan sedimen ini mencapai ketebalan 300 m pada dasar kawahnya.

Pelajaran dari fenomena seperti ini adalah bahwa proses keterjadian serupa ini dapat menyebabkan “bencana” yang tidak kecil dampaknya bagi kehidupan di Bumi. Betapa gempa Bumi terjadi dalam skala besar (walau durasi singkat mirip dampak ledakan bom yang berlangsung sesaat saja), kerusakan lingkungan yang tidak terbayangkan, betapa dampak terjangan materi yang berhamburan dapat menyapu radius yang dapat mencapai berkilometer jauhnya. Adapun prediksi matematis memang dapat dilakukan. Namun, karakter dari sang tamu seperti ini dari segi unsur misalnya tentu menjadi perhatian tersendiri. Apabila dominan besi, tidak terbayangkan dengan ujud sebesar 50 meter melesat menghujam Bumi dengan kecepatan melebihi kecepatan peluru, bahkan hingga 15 km per detik.

Sekarang kita coba bayangkan, seberapa besar dan dahsyatnya dampak jatuhnya meteor besar yang memusnahkan ragam fauna, semisal memusnahkan dinosaurus. Tentu semakin berkerut kernyit di dahi, sangat sukar dibayangkan. Untuk kasus seperti ini ada baiknya kita ambil contoh kepunahan makhluk dinosaurus tersebut yang diakui para pakar memiliki skala kepunahan massal cukup besar, yaitu fenomena yang terjadi kisaran 65 juta tahun yang lalu di wilayah Teluk Meksiko, Amerika bagian tengah yang akan dibahas berikutnya.

 

Kawah Chicxulub

Punahnya dinosaurus diduga berkait dengan jatuhnya meteor besar yang berupa asteroid berdiameter sekitar 10 km. Menghujam ke Bumi 65 juta tahun yang lalu dan jatuh tepatnya di daerah jazirah atau semenanjung Yucatan Meksiko membentuk Kawah Chicxulub yang berarti “Ekor (atau Tanduk) Setan”. Walau secara terpisah ch’ik berarti kutu dan xulub berarti iblis, setan, atau tanduk, arti awalnya adalah “sumur tanduk besar” yang mungkin karena rongga dalam tanduk tersebut. Diameter kawah diprediksi (hingga kini masih terus dalam penelitian) antara 200 – 300 km dan kedalamannya mencapai sekitar 3 km yang menjadi juga sebagian dari Teluk Meksiko. Hal ini tercatat dalam kisah evolusi Bumi sebagai zaman peralihan antara periode Cretaceous menuju Tertiary. Era transisi yang disebut Cretaceous-Paleogene ini biasa juga dinamakan sebagai transisi K–Pg, yang juga secara resmi disebut masa transisi era Cretaceous–Tertiary (C–T atau K–T). Penyebutan huruf K untuk Cretaceous sebenarnya berawal dari Kreide (Jerman) yang berarti kapur. Dampak fenomena ini sangat dahsyat yang memusnahkan ragam kehidupan. Sebagai ilustrasi ke-kini-an tentang beberapa makhluk purba yang dicoba direka ulang dapat dilihat pada situs berikut: bbc/21351017. Kini daerah Chicxulub sudah menjadi kota, bahkan terdapat hotel dan area wisata (Chicxulub dan Chicxulub Puerto – daerah pantai Teluk Meksiko; dapat dilihat pada situs google maps).

 

Gambar 4
Ilustrasi detik-detik awal menghujamnya asteroid dalam ujud meteor raksasar ke wilayah Teluk Meksiko.
(Credit: Jane Palmer – Smithsonian; smithsonianmag/180958222)

 

Secara intens penelitian terhadap keberadaan kawah tersebut berawal dari tahun 1978 tatkala pencarian minyak Bumi oleh pakar Geofisika, yaitu Glen Penfield dan Antonio Camargo di wilayah Teluk Meksiko. Mereka mendapati bentukan kawah simetris berdiameter kisaran 70 km. Secara diam-diam, karena kebijakan perusahaannya, mereka mencari data lebih detail dan mencoba memetakannya. Akhirnya diketahui bahwa kawah tersebut ternyata jauh lebih luas dari yang diperkirakan, yaitu mencapai 180-an km dengan pusatnya dekat desa Chicxulub di semenanjung Yucatan. Karena yakin akan hasil penelitiannya, maka mereka pun membuat jurnal yang dengan berani dan rasa yakin dipaparkan pada konferensi Society of Exploration Geophysicists tahun 1981.

Awal pengeboran daerah tersebut hingga kedalaman 1,3 km. Hasil analisisnya bahwa daerah tersebut dianggap sekedar bentukan lava karena strukturnya kala itu tidak terdeskripsikan dalam bidang geologi. Penelitian ini akhirnya ditinggal. Baru muncul Walter Alvarez dan ayahnya seorang pakar Fisika yang juga pemenang Nobel – Luiz Walter Alvarez (asteroidnya 3581 Alvarez yang ditemukan oleh E. Shoemaker dan C. Shoemaker tanggal 23 April 1985; identitas lain 1985 HCMPC/3581) – yang kebetulan secara paralel menelitinya. Berdua berasal dari University of California di Berkeley dan mereka menyatakan bahwa kawah tersebut adalah akibat jatuhnya meteor (analisis unsur Irridium bahwa daerah tersebut mencapai angka 6 di mana umumnya pada kerak Bumi berkisar 0,4 parts per billion by weightAlvarez, 1980). Struktur batuan yang ditemukan mirip kondisinya dengan yang dijumpai pada Kawah Barringer. Telaah Kawah Chicxulub pun pada akhirnya memancing hasil penelitian sebelumnya, karena tahun 1950 para pakar geologi telah menemukan adanya anomali gaya gravitasi di beberapa lokasi di wilayah tersebut, yang akhirnya ini dikaitkan dengan massa padatan akibat hantaman meteor yang terkubur di sana (Winemiller, 2007, p.3; "Chicxulub").

 

Gambar 5
Lokasi desa Chicxulub di semenanjung Yucatan – Meksiko (daerah Teluk Meksiko).
NASA pun mencoba menelusuri lokasi titik pusat kawah dan disimpulkan terletak pada lintang utara 210 20’ dan bujur barat 890 30’. Adapun diameternya 150 km dengan usia kawah 64,98±0,05 juta tahun.
Sumber pembentuk kawah adalah meteorit tipe Chondrite dan identik dengan unsur yang secara umum ada pada komposisi unsur asteroid.
(Credit: "Chicxulub" (kiri); lpi.usra.edu/science/kring/ (kanan) dan untuk data: "PIA03379")

 

Gabungan hasil penelitian para pakar Geofisika/Geologi menunjukkan bahwa diameter kawah diketahui kisaran 300-an km dengan usianya 66.038.000±11.000 tahun (bila berbasis analisis isotop impact glass atau kuarsa yang terbentuk terkait dampak tumbukan: 66,038±0,049 juta tahun, sementara apabila berdasarkan atas fenomena diskontinuitas atau kepunahan massal kehidupan dari analisis penemuan fosil adalah 66,019±0,021 juta tahun (jsg.utexas.edu; "Dinosaur extinction")). Adapun dari penelitian Pope et al, 1993, bahwa pada kasus ini lapisan material era Cretaceous sudah tertutup sedimen dengan tebal kisaran 1 km yang komposisi materinya adalah materi era setelahnya, yaitu dari jaman Tertiary. Analisis lain mereka juga menunjukkan adanya 2 cincin konsentris yang diduga kuat adalah bentukan kawah dan relatif terlihat (masyarakat lokal menyebutnya cenote). Diameternya sekitar 165±5 km dan yang kedua sekitar 240 km. Namun, yang kini diteliti apakah bentuk cincin kawah ini benar lingkaran atau elips (dengan pertimbangan besar sudut jatuhnya atau analisis proyeksi jatuhnya meteor dan hingga kini belum ada konfirmasinya).

 

Berbasis hasil analisis data geomorfik, tanah, dan topografi di wilayah utara dari Semenanjung Yucatán dikonfirmasi bahwa bagian Kawah Chicxulub yang terkubur memiliki karakter permukaan yang berbeda dan sedimentasi karbonat sepanjang era Cenozoik telah dipengaruhi oleh lingkungan atau karakter kawah yang terbentuk. Proses penimbunan pada era Tersier Akhir sebagian besar terbatas pada daerah di dalam lingkungan kawah yang yang terkubur, dan bentukan lingkaran diduga bertahan hingga era Pliocene (5,3 juta tahun lalu). Struktur topografi kawah adalah serangkaian bentukan konsentris dengan kawah. Yang paling menonjol adalah palung (bentuk lingkaran) dengan diameter 83 km (cincin Cenote).

Sementara itu, bentuk permukaan pada era awal Tertiary mengalami kenaikan ke luar batas ring awal tadi membentuk topografi bertingkat dengan palung luar dan puncak punggungan pada radius 103 dan 129 km. Dua palung terputus membentuk layaknya celah antara radius 41 dan 62 km.

Palung (lebih tepatnya layaknya parit konsentris) luar dan palung dalam yang berada pada radius 62 km juga menandai tepi cincin yang terkubur. Puncak punggungan merupakan bentukan yang terkait dengan tepi/dinding kawah yang mengalami perubahan bentuk setelah proses tumbukan. Tafsiran ini mendukung temuan sebelumnya bahwa cekungan kawah sebagai dampak utama tumbukan memiliki diameter dalam orde (165±5 km hingga) 180 km, sifatnya konsentris, relief rendah hingga melewati lingkaran diameter tersebut bahkan pada akhir proses tumbukan meluas hingga diameter kisaran (240 hingga) 260 km. Jadi, dampak awal perubahan terhadap struktur permukaan kalau dibayangkan melanda ke segala arah melingkupi radius jarak kota Jakarta ke Cirebon (Surface of the crater - NCBI).

 

Uniknya dari hasil di atas bahwa terjadinya kepunahan massal berlangsung sekitar 300.000 tahun setelah tumbukan asteroid. Inipun menjadi pertimbangan tersendiri. Jadi, minimal ada kesepakatan bahwa memang terjadi tumbukan meteor. Juga lahir kesepakatan bahwa punahnya dinosaurus dan kawan-kawannya secara global tidak melulu karena dampak langsung tabrakan, melainkan dampak berkelanjutan setelahnya (contoh: akibat perubahan iklim, dsb.). Adapun sumbernya (meteoroid) berdiameter 10 – 15 km dengan besar atau daya ledak mencapai kisaran 10 milyard kali bom nuklir yang dijatuhkan di Hiroshima (orde 1023 J; bandingkan dengan bom buatan manusia yang terbesar hingga saat ini yang hanya orde 1017 J atau setara 50 megaton TNT). Lubang kawahnya sendiri mencapai diameter 100 km dengan dampak sampai kedalaman mencapai 30 km (kedalaman rata-ratanya kisaran orde 3 km).

Dampak tumbukannya tentulah sangat dahsyat. Gelombang Tsunami diduga mencapai ketinggian 100 meter yang melanda hingga daerah Florida, Alabama, Mississippi, Louisiana, dan Texas yang berjarak lebih dari 500 km ke arah seberangnya (ke utara). Sibakan awal (lihat gambar 1) ditaksir mencapai ketinggian 4,6 km. Belum lagi diikuti dengan hamburan debu dan uap panas yang memenuhi atmosfer dan ledakan yang sanggup mendidihkan dan menguapkan air. Juga efek suara (gelombang kejut) yang niscaya akan terdengar hingga ratusan kilometer ke segala arah. Teriring gelombang kejut di permukaan, maka bersamaan terjadi rambatan yang sama di bawah tanah yang dianggap sebagai pemicu letusan gunung berapi secara berantai (mungkin seperti pasta gigi yang tiba-tiba kita remas, maka pasta gigi tadi akan memuncrat dan bayangkan yang diremas adalah dapur magma gunung berapi). Adapun fosil terdampak kondisi ini dijumpai hingga radius 5000 km.Taksirannya bahwa kala itu 70% bentuk kehidupan musnah.

Berdasarkan penelitian dari Sean Gulick, seorang pakar dari Institute for Geophysics di Universitas Texas (Austin’s Jackson School of Geosciences) bersama koleganya bahwa asteroidnya jatuh di perairan dalam (kisaran 100 m) dan membuat uap air yang memenuhi atmosfer menjadi berlipat hingga 6,5 kali dari yang seharusnya atau normalnya. Yang menjadi masalah bahwa secara bersamaan terbentuk sedimen yang kaya akan sulfur yang cepat bereaksi dengan uap air membentuk aerosol yang kaya akan sulfat. Inilah yang kemungkinan besar membuat perubahan iklim global karena proses pendinginan oleh aerosol tadi; atau kemungkinan lainnya adalah terjadinya fenomena hujan asam yang sangat ekstrim. Musim dingin nuklir pun berlangsung dan cukup lama. Jadi pendinginan diakibatkan pertama karena cahaya Matahari terhalang; yang kedua akibat energi panas Matahari banyak diserap oleh polutan/aerosol yang ada. Pola cuaca berubah. Memang dapat terjadi efek rumah kaca. Namun, efek ini belum signifikan.

Penelitian lain menunjukkan bahwa keduanya terjadi bersamaan walau masing-masing akhirnya berlangsung dalam skala yang sedikit lebih kecil. Proses ini seperti efek domino. Atmosfer penuh aerosol, membuat cahaya Matahari terhadang, panas terserap oleh materi di atmosfer. Redup, gelap, bahkan suasana layaknya malam menjadi berkepanjangan dan membuat temperatur semakin turun. Kedinginan melanda dan membuat tumbuhan mulai punah. Pada tahap ini berlanjut dengan sang pemakan tumbuhan yang makin kekurangan pangan, populasinya pun semakin berkurang. Dampaknya tentu akan membuat sang predatornya akan mengalami kesulitan makanan, dst. Belum lagi efek super-tsunami, gempa Bumi, sapuan gelombang kejut maupun gelombang panas sebagai ujud dampak langsung ketika terjadi tumbukan. Rusaknya habitat tentu berdampak panjang (minimal secara local. Memang kehidupan di wilayah tersebut akan pulih, tetapi dalam tempo yang tidak terbayangkan panjangnya).

Pada tahun 2007, William F. Bottke, David Vokrouhlický, dan David Nesvorný menyatakan bahwa asteroid sebagai sumber petaka merupakan asteroid yang tergolong Keluarga Baptistina di mana keluarga asteroid ini terbentuk kisaran 160 juta tahun lalu. Keluarga ini tergolong anggota Sabuk Utama Asteroid (tentang keluarga asteroid lihat artikel Asteroid 3). Anggota terbesarnya adalah asteroid 298 Baptistina. Analisis ini berbasis penelitian terhadap temuan serpih-serpih mikroskopis di mana tipe meteoritnya identik dengan yang dijumpai pada keluarga asteroid tersebut (carbonaceous chondrites). Sejatinya dibutuhkan analisis lanjutan yang masih dalam penelusuran peneliti lainnya.

Sementara itu, kubu yang menolaknya berbasis data inframerah wahana WISE. Tidak kurang 1.056 anggota keluarga ini telah diteliti dan kesimpulannya bahwa keluarga ini baru terbentuk kisaran 80 juta tahun. Dari penelusuran dinamika orbit (resonansi, dll.), serta besar massa unsur penyusunnya, maka agar lintasannya dapat berubah sedemikian menjadi pengembara dibutuhkan waktu puluhan juta tahun ("Did Asteroid Baptistina Kill the Dinosaurs?"). Artinya bahwa sejak terbentuk hingga terjadi jatuhnya asteroid tersebut ke semenanjung Yucatan rentang waktunya terlalu singkat. Jadi sumbernya pasti bukanlah dari Keluarga Baptistina.

Pada tahun 2010 sempat pula muncul hipotesis lain di mana fenomena ini melibatkan asteroid P/2010 A2 yang baru ditemukan tanggal 6 Januari 2010 yang merupakan anggota Keluarga Flora, sebagai pemicu transisi jaman K–T. Hingga kini alternatif ini belum mendapat argumen sahihnya.

 

Teleskop Angkasa Hubble berhasil mengikuti proses terjadinya pola distribusi remah-remah berbentuk X dan disertai keberadaan jejak debu dan remah batuan yang menunjukkan adanya tabrakan antara dua asteroid. Inilah untuk kali pertama dampak proses tumbukan berhasil diamati.

Tabrakan asteroid ini tergolong spektakuler dengan kecepatan rata-rata saat tumbukan kisaran 17.000 km/jam (5 kali lebih cepat dari peluru). Objek seperti komet yang dicitrakan oleh Hubble, yang diberi indeks P/2010 A2, pertama kali ditemukan berbasis survei langit pada program riset Lincoln Near-Earth Asteroid, (LINEAR), pada tanggal 6 Januari 2010. Pola distribusi bentuk X teramati dengan jelas pada citra Hubble baru terjadi pada tanggal 25 dan 29 Januari. Identifikasi lain objek ini adalah 354P/LINEAR yang juga digolongkan sebagai Encke-type Comet.

"Ini sangat berbeda dengan pola coma yang ditemukan pada komet," komentar dari peneliti ​​utama David Jewitt dari University of California di Los Angeles. "materialnya terdiri dari debu dan kerikil, yang mungkin baru saja terlontar dari intinya. Sebagian terdorong oleh adanya tekanan radiasi dari sinar Matahari membentuk layaknya ekor yang lurus. Terdapat pula gumpalan debu yang bergerak bersamaan yang kemungkinan berasal dari bagian dari objek sumber yang tidak jelas terlihat."

Keunikan dari fenomena ini bahwa intinya sendiri (P / 2010 A2) justru berada di luar gumpalan debu tersebut dan dihitung diameternya kisaran 140 meter. Ada dugaan bahwa inti utama P/2010 A2 adalah merupakan sisa dari sebuah tabrakan asteroid yang karakternya tergolong “hypervelocity collision”.

Pertimbangan awal bahwa kini diketahui antar anggota Sabuk Utama Asteroid acap saling bertabrakan. Setelah diteliti bahwa P/2010 A2 diketahui tergolong keluarga Flora di mana ditaksir keluarga ini terbentuk kisaran 100 juta tahun yang lalu.

Penelusuran pada evolusi orbit menunjukkan adanya harapan bahwa salah satu bagian keluarga ini berubah orbitnya ke Bumi setelah rentang 35 juta tahun. Ini artinya ada kemungkinan bahwa anggota keluarga asteroid inilah yang menjadi sumber pembentukan Kawah Chicxulub. Jadi pendukung penjelasan mengenai kepunahan dinosaurus semakin jelas.

 

Gambar 6
Comet-like Asteroid P/2010 A2
Tampak fenomena tabrakan 2 asteroid yang berhasil diabadikan
oleh teleskop angkasa Hubble (comet-like asteroid).
Salah satunya berukuran kisaran 140 meters
yang dikuti dengan ekor debu di belakang bentukan X.
Partikel ekor ini bervariasi dari ukuran 1/25 inci hingga 2,5 cm.
Asteroid ini jelas adalah asteroid pengembara.
Dugaannya bahwa sistem ini merupakan pecahan dari asteroid
yang jauh lebih besar dan merupakan anggota Sabuk Utama Asteroid.
Kecepatan saat tabrakan dihitung mencapai kisaran 17.000 km/jam.
Para astronom sedang (2017) merancang bangun
Large Synoptic Survey Telescope (LSST) untuk mengamati fenomena seperti ini.
(Credit: NASA, ESA, and D. Jewitt (UCLA))

Pada saat pengamatan ini, P/2010 A2 kira-kira berjarak 288 juta km dari Matahari dan 144 juta km dari Bumi. Parameter kelonjongan atau eksentrisitas e sekitar 0,1297 dengan setengah sumbu panjang a sekitar 2,2897 satuan astronomi, inklinasi orbit i 5,2559 derajat, perihelion 2,0036, aphelion 2,5758, dan periode kisaran 3,46 tahun  ("Suspected Asteroid" dan ssd.jpl.nasa.gov)

 

Gambar 7
Ilustrasi yang digambarkan oleh Don Davis
ketika sebuah bolide meteor meledak di atas kota Los Angeles.
Peristiwa spektakuler terakhir yang dialami Bumi dengan proses serupa
adalah jatuhnya (terduga) pecahan komet Encke  di kawasan Tunguska tahun 1908.
Lebih dari 2.000 km persegi hutan luluh lantak karenanya.
(Ref.: https://www.donaldedavis.com/PARTS/LABLAST.jpg)

 

The Great Dying – Sarana Perenungan Penghuni Bumi

Memang melihat dampak yang ditimbulkan oleh fenomena jatuhnya meteor besar yang bersumber dari asteroid dapat mendirikan bulu tengkuk. Tidak terbayangkan apabila dua kejadian di atas sedemikian terbentuk Kawah Barringer dan Kawah Chicxulub berlangsung pada wilayah yang berpenduduk padat layaknya kota besar di dunia pada masa sekarang ini. Terlepas dari kekhawatiran ini bahwa apapun hasil penelitian, tetaplah dapat menjadi ajang pembelajaran bagi kita semua. Selain itu, ternyata penemuan terakhir dari team kolaborasi para ilmuwan internasional juga menjumpai bukti bahwa kepunahan massal selain yang terjadi pada fenomena terbentuknya Kawah Chicxulub pernah juga dialami makhluk di Bumi sekitar 250 juta tahun yang lalu. Inipun disimpulkan akibat dari jatuhnya asteroid yang berdiameter hingga 12 km dan peristiwanya menandai peralihan jaman Permian – Triassic. Dampak yang terjadi lebih mengerikan dibandingkan dengan saat dinosaurus musnah. Perkiraannya 90 hingga 95% kehidupan apapun bentuknya musnah dari muka Bumi (nationalgeographic). Kisah lebih lengkap akan penulis sajikan pada Asteroid Bagian ke 5. Salam Astronomi.–WS–

 

Daftar Pustaka
Lihat Daftar Pustaka pada artikel Asteroid Bagian 1, 2, dan 3 dengan tambahan:

  • Alvarez, L. W. et al, 1980, Extraterrestrial Cause for the Cretaceous-Tertiary Extinction, Science, New Series, Vol. 208, No. 4448. (Jun. 6, 1980), pp. 1095-1108
  • Gersonde, R., 2005, The Late Pliocene Impact of the Eltanin Asteroid into the Southern Ocean – Documentation and Environmental Consequences, Geophysical Research Abstracts, Vol. 7, 02449, SRef-ID: 1607-7962/gra/EGU05-A-02449 © European Geosciences Union 2005
  • Gulick, S. et al, 2016, Chicxulub: Drilling the K-Pg Impact Crater, International Ocean Discovery Program – Expedition 364 Preliminary Report – In Collaboration with the International Continental Scientific Drilling Program
  • Kieffer, S. W., 1971, Shock Metamorphism of the Coconino Sandstone at Meteor Crater, Arizona, Journal of Geophysical Research, vol.76, no.23, August 10 – 1971, p.5449-5473
  • Kring, D. A., 2017, Guidebook to the Geology of Barringer Meteorite Crater, (a k a Meteor Crater), 2nd Edition, Lunar and Planetary Institute (LPI Contribution No. 2040)
  • Kring, D. A. et al, 2017, Chicxulub and the Exploration of Large Peak-Ring Impact Craters through Scientific Drilling, (GSA Today, v.27, doi:10.1130 / GSATG352A.1. Copyright 2017), The Geological Society of America
  • Pope, K. O. et al, 1993, Surficial geology of the Chicxulub Impact Crater, Yucatan, Mexico, Abstract, National Center for Biotechnology Information, U.S. National Library of Medicine (Geology, 1996: 24(6): p.527)
  • Pope, K. O. et al, 1996, Surface Expression of the Chicxulub Crater, Abstract, National Center for Biotechnology Information, U.S. National Library of Medicine (Earth Moon Planet, 1993: 63: p.93)
  • Renne, P. R. et al, 2013, Time Scales of Critical Events Around the Cretaceous-Paleogene Boundary, Science 339:684 (8 February 2013)
  • Winemiller, T. L., 2007, The Chicxulub Meteor Impact and Ancient Locational Decisions On the Yucatán Peninsula, Mexico: the Application of Remote Sensing, GIS, and GPS in Settlement Pattern Studies, Tampa, Florida: American Society for Photogrammetry and Remote Sensing, retrieved October 2, 2012

 

Situs
Lihat Daftar Situs pada artikel Asteroid Bagian 1, 2, dan 3 dengan tambahan:

armaghplanet.com/Creataceous-wipe-out
asd.gsfc.nasa.gov/blueshift/index.php/2010/08/11/how-to-kill-a-dinosaur-from-space/
Barringer Meteor Crater
Barringer Meteor Crater
Center for Remote Sensing » Boston University
Center for Remote Sensing - Boston University
en.wikipedia.org/wiki/Chicxulub_crater
geosociety.org/gsatoday/science/G352A/GSATG352A.pdf
Hubble Finds that a Bizarre X-Shaped Intruder
List of unconfirmed impact craters on Earth - Wikipedia
lpi.usra.edu/exploration/training/illustrations/chicxulub-crater/
lpi.usra.edu/exploration/training/illustrations/chicxulub-effects/
lpi.usra.edu/publications/books/barringer_crater_guidebook/
Largest Crater in the Sahara Discovered by Boston University ...
planetarium.jakarta.go.id/index.php/artikel-astronomi
Skyandtelescope.com/bigsplat
space.com/834-mystery-arizona-meteor-crater-solved.html
ssd.jpl.nasa.gov/sbdb.cgi?sstr=P/2010+A2
Surface expression of the Chicxulub crater - NCBI
Surficial geology of the Chicxulub impact crater, Yucatan, Mexico. - NCBI