Written by Widya Sawitar

User Rating: 5 / 5

Star ActiveStar ActiveStar ActiveStar ActiveStar Active
 
Kemanakah Bintang Gemintang di Kubah Langit Malam?

Lingkup pengaturan dalam Undang-Undang ini meliputi:

(UU RI No. 21 Tahun 2013 tentang Keantariksaan, Bab I Pasal 6 Butir a hingga n)

Setiap kegiatan Keantariksaan dilarang
melakukan kegiatan yang dapat mengakibatkan pencemaran
dan/atau
kerusakan lingkungan hidup bumi dan …
(UU RI No. 21 Tahun 2013 tentang Keantariksaan, Bab II Pasal 8 Butir e)

Catatan: Dua kutipan UU ini keseluruhannya menyoal pada masalah keantariksaan dan menyinggung aspek efisiensi, keamanan, keselamatan, sesuatu yang merugikan, kelestarian lingkungan hidup, tanggung jawab, peran serta masyarakat, dll.

 

Gambar 1
"El Gordo" (Spanyol, "yang gemuk", ACT-CL J0102-4915).
Julukan dari gugus galaksi yang diprediksi berusia 9,7 milyard tahun
pada arah rasi bintang Phoenix
di mana usia alam semesta sendiri kisaran 13,8 milyard tahun.
Jadi gugus galaksi ini ada kisaran 5 milyard tahun sebelum Matahari terbentuk.
Setiap titik cahaya yang anda lihat pada foto di atas adalah galaksi.
Tidak kurang dari 3000 trilyun bintang seperti Matahari kita ada dalam gugus ini
(sekitar 3.000 kali lebih masif dibanding galaksi Bima Sakti).
Namun, sebagian besar massa tersembunyi sebagai materi gelap (dark matter).
Team Teleskop Hubble bersama J. Jee (University of California, Davis), J. Hughes (Rutgers University), F. Menanteau (Rutgers University and University of Illinois, Urbana-Champaign), C. Sifon (Leiden Observatory), R. Mandelbum (Carnegie Mellon University), L. Barrientos (Universidad Catolica de Chile), and K. Ng (University of California, Davis) berusaha untuk menelusuri kehadiran benda langit
nun nyaris “di ujung alam semesta”.
(Credit: NASA, ESA, and J. Jee (University of California, Davis))

 

Pengantar

Di kota Jakarta, kisaran 40 tahun yang lalu, semua orang dapat melihat ke kubah langit malam untuk menyaksikan taburan ribuan bintang berkedap kedip aneka warna. Kunang-kunang pun yang laksana bintang berkerlap kerlip masih bercengkerama di sana sini. Secara global pada saat sekarang, betapa ratusan juta anak-anak di seluruh dunia tidak akan pernah lagi mengalami pemandangan langit tersebut, termasuk hilangnya kesempatan untuk menikmati bentangan galaksi tempat tinggal kita, Bima Sakti, dari tempat tinggalnya. Kesan natural suasana langit malam nan gelap sebagai karya cipta dan karunia-Nya semakin sulit diperoleh, bahkan lenyap sama sekali. Peningkatan dan meluasnya penggunaan cahaya buatan pada malam hari tidak hanya mengusik pandangan (baca: pola pikir atau mindset) kita tentang alam semesta, melainkan nyatanya secara nyata, secara fisik sudah mulai mengganggu lingkungan, keselamatan, konsumsi energi, kesehatan, hingga taraf mengubah budaya kita.

Di sini dicoba untuk sebagian besarnya disarikan dari paparan International Dark-sky Association (International Dark-Sky Association) sebagai sumber utama tulisan. Berharap pihak yang berkompeten dalam bidang terkait tulisan di sini dapat menyumbang saran ke pihak yang lebih berwenang lagi. Tulisan ini mungkin sekedar yang orang Jawa sebut “rerasaan” semata, berandai-andai. Semata karena sebagian besarnya (efisiensi energi listrik secara global, kesehatan, lingkungan hidup, keamanan) bukanlah bidang yang penulis geluti. Inilah mengapa semua situs sebagai sumber diberikan di sini sedemikian dapat langsung dipelajari. Penulis pun belum memiliki gambaran solusi; .. bahkan rasanya ibarat orang yang ingin bernyanyi dengan orchestra lengkap, maka tulisan ini baru sekedar pada tahap niat bernyanyinya saja di mana melihat partiturnya juga belum, apalagi bentuk orchestranya. Masih sebatas mimpi naik panggung tentunya. Namun, semoga bermanfaat walau sezarah sekalipun.

 

Polusi Cahaya

Sebagian besar dari kita telah akrab dengan istilah polusi udara, polusi tanah, ataupun polusi air. Sementara itu, yang mungkin jarang terdengar adalah polusi cahaya. Sebenarnya, gagasan penulisan ini pun muncul ketika agak terperangah saat dilangsungkan pencanangan Hari Antariksa Nasional tanggal 6 Agustus 2017 yang lalu, dengan tanggal yang sama saat disahkannya UU RI tahun 2013 tentang Keantariksaan (Lembaga Penerbangan Antariksa Nasional (LAPAN)). Banyak yang bertanya kepada penulis tentang galaksi Bima Sakti, kapan dan di mana dapat dilihat? Sebenarnya pada kondisi lingkungan yang memenuhi syarat pengamatan, kita semua setiap malam niscaya dapat melihatnya. Yang menjadi masalah adalah ketika banyak masyarakat Jakarta yang bertanya.

Pada dasarnya, polusi cahaya terkait dengan terjadinya penggunaan yang tidak tepat atau berlebihan dari cahaya buatan (sebut lampu, atau dalam kasus lokal dan sangat khusus semisal banyaknya cerobong api di pabrik seperti di daerah Cilegon). Polusi inipun sebenarnya menimbulkan konsekuensi ataupun dampak lingkungan yang cukup serius bagi manusia, satwa, tumbuhan, dan saatnya nanti terhadap iklim global. Dalam kaitan fenomena Astronomi, yang jelas masyarakat Jakarta sehari-harinya tidak dapat lagi melihat taburan ribuan bintang pada malam hari (apalagi Bima Sakti).

Apabila membahas semisal polusi udara, maka tentu ada komponen yang menjadi indikator sedemikian dapat kita katakan bahwa polusi udara di suatu tempat masih rendah atau sudah tinggi. Demikian pula apabila kita bahas polusi cahaya di mana komponen terkait polusi ini meliputi:

  1. Glare, yaitu terang yang berlebihan yang menimbulkan ketidaknyamanan mata. Bayangkan anda dekat papan iklan berlampu cerlang aneka warna serta terus berkerlap kerlip, atau bagi pengendara kendaraan saat bertemu kendaraan lain yang berlawanan arah dan lampunya sangat terang serta tersorot ke mana-mana; atau bagi yang terbiasa paparan dengan media infocus/LCD, sadar ataupun tidak akan lebih nyaman apabila ruangannya cenderung gelap karena apabila terang akan berdampak proyeksi bahan paparannya menjadi tidak jelas dilihat. Artinya, akibat adanya cahaya lampu berlebih (polusi cahaya), maka objek terang lainnya (proyeksi bahan paparan, atau sebut bintang di kubah langit) terkalahkan cahayanya.
  2. Skyglow, yaitu terangnya langit malam di daerah tempat tinggal. Sederhananya bahwa langit tidak gelap pekat. Mungkin secara tidak sadar tatkala kita melihat ke langit pada malam hari, warnanya tidak lagi gelap pekat. Penduduk Jakarta sudah terbiasa berlangit malam seperti ini. Atau ketika kita misalnya pada malam hari keluar kota Jakarta; sempatkanlah melihat ke arah Jakarta, maka seolah Jakarta bertudung kubah cahaya akibat pendar gemerlap lampu kota berbentuk layaknya pucuk cendawan. Atau, apabila kita ke mercusuar di Anyer melihat ke arah timur, maka tudung cahaya di langit berwarna jingga cemerlang semalaman akan terlihat jelas, walau dalam kasus polusi cahaya ini bersifat unik atau lokal, karena Bima Sakti tetap sangat indah apabila diamati dari sebagian besar lokasi di pantai Anyer, bahkan benda langit yang bernama nebula pun masih mudah disaksikan;
  3. Light Trespass, yaitu cahaya yang tersorot tidak pada tempatnya ataupun tidak dibutuhkan. Banyak lampu taman bahkan taman kota menimbulkan nuansa indah. Warna hijau dedaunan akan tampak seharian. Namun, kalau terlalu terang dan memancar cahayanya ke segala arah hingga 24 jam, kapan satwa ataupun tumbuhan malam beraktifitas? Mungkin kini pun mulai banyak lampu sorot yang diarahkan ke langit yang konon demi suatu keindahan atau mungkin sekedar untuk hiburan semata;
  4. Clutter, yaitu penempatan sumber cahaya yang tidak beraturan. Silakan nikmati sendiri bagaimana pola sebaran papan iklan bertabur cahaya warna warni yang statis maupun berkerlap kerlip, demikian pula lampu yang diarahkan entah ke mana dimanapun kita menemukan penerang luar ruang. Papan iklan yang bernuansa nyaman hingga yang menyilaukan dan berkerlap kerlip membuat pusing kepala.

 

Polusi cahaya sangat terasa setelah perkembangan industri yang semakin meningkat. Dapat kita sebut semisal pembangunan sistem penerangan pada gedung apapun peruntukannya (rumah, hotel, perkantoran, pabrik, dll., baik dalam maupun luar ruang), papan iklan, lampu jalan, dan banyak ragam lainnya.

Faktanya, banyak media pencahayaan yang digunakan khususnya pada malam hari yang tidak efisien, kalau tidak dapat dikatakan secara serampangan (terlalu terang, salah sasaran, tidak terlindung, tata letak terkesan tambal sulam tersebar di sana sini). Pada akhirnya, dalam banyak kasus, penerangan tersebut sebenarnya sama sekali tidak perlu. Selanjutnya, energi listrik yang digunakan untuk membuat itu semua akan terbuang sia-sia karena sistem pencahayaannya tidak fokus pada sasaran sebenarnya (daerah yang ingin diterangi). Infrastruktur untuk itu pun menjadi terbuang percuma. Pada akhirnya hal ini menjadikannya berbiaya tinggi yang kurang bermanfaat.

Berdasarkan data tahun 2016, bahwa 80% masyarakat di dunia berada di bawah kondisi skyglow (langit malam tidak lagi gelap pekat). Masyarakat Eropa dan Amerika Serikat bahkan mencapai 99% yang sudah tidak mengalami malam secara natural sejatinya malam (Ref: World Atlas of Artificial Night Sky Brightness, NASA Blue Marble Navigator, dan Globe at Night interactive light pollution map). Bentangan galaksi Bima Sakti sudah sangat sulit bahkan tidak lagi dapat disaksikan oleh kisaran sepertiga masyarakat di seluruh dunia (termasuk 60% masyarakat Eropa, nyaris 80% Amerika wilayah utara, dan 23% masyarakat yang tinggal di antara 75°LU dan 60° LS). Juga oleh masyarakat Jakarta; bahwa bentang awan putih Bima Sakti tinggallah mimpi yang indah.

 

Dampak Polusi Cahaya

Sejak hadirnya Bumi, tentu terbayang kalau malam hari yang menjadi penerang malam hanyalah Bulan, taburan bintang, dan planet. Sesekali benda langit lain seperti komet dan meteor dalam fraksi pencahayaan yang teramat sangat kecil, tetapi unik. Bahkan penulis pun pernah menikmati pendaran meteor (bolide meteor) tatkala ke Kepulauan Seribu yang sedemikian terang hingga memantul cemerlang di permukaan laut mengalahkan pendar cahaya Bulan Sabit. Kini, pola alamiah itu hilang. Malam bertabur lampu-lampu kota kini menjadi pemandangan yang “normal”, yang sesungguhnya pada satu ranah tertentu membuat kehidupan mulai menjadi tidak normal. Banyaknya lampu buatan mengalahkan kegelapan karena pada masa sekarang kota-kota bercahaya pada malam hari. Sadar ataupun tidak, perlahan mengganggu pola alami siang-malam, yang akan niscaya pula akan menggeser keseimbangan lingkungan. Efek negatif dari hilangnya sumber daya alam inspirasional ini mungkin tidak kita sadari atau bahkan bagi kebanyakan dari kita bahwa dampak polusi cahaya seolah tidak berwujud. Apa benar demikian?

 

Gambar 2
Tebaran Pijar Lampu di Indonesia
Citra Bumi pada malam hari yang diperoleh NASA dan National Oceanic and Atmospheric Administration (NOAA) berbasis satelit  Suomi National Polar-orbiting Partnership (NPP) yang berhasil diluncurkan pada bulan Oktober 2011 dan bekerja sama dengan the Department of Defense. “The night is nowhere near as dark as most of us think. In fact, the Earth is never really dark. And we don’t have to be in the dark about what is happening at night anymore either,” menurut Steven Miller, pakar studi atmosfer dari Colorado State University. Foto telah dimuat pada artikel Berkenalan dengan Matahari dan Planet Kebumian. Di sini diambil bagian wilayah Indonesia. Sangat jelas, cahaya telah begitu cemerlang di wilayah Pulau Jawa, sekaligus menunjukkan distribusi penghuni terkonsentrasi di daerah ini termasuk aktifitas yang sangat tinggi.
Pakar ilmu sosial dan demografi pun menggunakan citra seperti ini untuk model distribusi spasial kegiatan ekonomi, dan populasi. Para perencana dan kelompok lingkungan telah menggunakan peta dari lampu yang tampak tersebar tersebut untuk memilih situs untuk pembangunan observatorium Astronomi dan memantau aktifitas manusia di sekitar taman ataupun lokasi perlindungan satwa liar.
Perusahaan tenaga listrik, para pengendali bencana, dan media berita berusaha untuk beralih ke lampu malam untuk mengamati panorama kubah langit malam (Sebenarnya, di Indonesia telah dicoba pada acara Earth Hour, namun belum juga berhasil walau telah dilakukan sejak tahun 2011). Bagi pemantauan kondisi iklim/cuaca khususnya malam hari tentu sangat berguna, bahkan hingga kepentingan militer.
Credit: NASA Earth Observatory/NOAA NGDC

 

Hemat Energi?

Apabila cermat mengikuti kecenderungan waktu demi waktu, maka yang jelas tampak bahwa konsumsi energi akan menjadi berlipat dan dapat tidak terkendali di mana pola hidup hemat energi akhirnya menjadi sesuatu yang mahal. Tidak terasa bulan demi bulan pembiayaan hidup berbasis listrik menjadikan masyarakat sebenarnya banyak yang mengeluh. Begitu biaya beban listrik diberitakan naik, barulah mulai serentak terhenyak. Pada ranah tertentu adalah sesuatu yang wajar, namun pada sisi lainnya apakah ke-terhenyak-an ini pada tempatnya?

Adanya lampu-lampu nan terang benderang membuat ke mana pun kita pergi pada malam hari akan menjumpai gedung dan jalan-jalan dipenuhi aneka cahaya (bahkan kini siang hari pun dalam gedung didapati hal serupa). Istilah “waktu” dalam budaya Jawa terkait kebiasaan keseharian “sirepbocah/sireplarè” (biasa anak-anak sudah mulai tenang, tidak keluar rumah atau bermain, saat istirahat atau tidur, kisaran jam 20:00 WIB), ataupun “sirepwong” (jam 22:30 WIB), menjadikan “rasanya” di kota seperti Jakarta menjadi tidak berlaku lagi. Kehadiran media hiburan seperti televisi dan rekan-rekannya yang berbasis listrik, baik dalam maupun luar ruang semakin membanjir. Kehidupan malam yang dilaluinya serasa memuaskan mata dengan pemandangan penuh dengan gemerlap lampu di jalan, “serasa hidup di kota besar indah rasanya”, termasuk saat memasuki gedung-gedung pertokoan besar (mall) yang terang benderang siang maupun malam yang menawarkan ragam produk (mungkin akrab dengan istilah kegiatan window shopping). Tidak menyadari di balik itu semua adalah biaya tinggi, baik dari infrastruktur pembangunan instalasinya maupun pertimbangan daya listrik yang digunakan. Beban biaya listrik secara global niscaya naik, tokh masyarakat juga yang nantinya akan turut menanggungnya. Keluh kesah karena biaya listrik naik menjadi salah satu alternatif kehidupannya. Unik jadinya, padahal itu adalah keniscayaan dan bukan sesuatu yang aneh. Sekedar konsekuensi logis dari suatu fenomena. Semoga kata-kata dan ajakan hemat energi bukan menjadi slogan semata, apalagi mimpi indah. Dalam hal kasus ini tentulah sangat banyak pakar energi di Indonesia yang dapat memberi solusinya demi ketahanan energi pada masa mendatang.

 

Kesetimbangan Ekosistem

Adanya polusi cahaya akan membuat pola siang dan malam yang mapan sejak jutaan tahun di suatu daerah, khususnya bagi ragam kehidupan akan terganggu. Sadar ataupun tidak, pada jaman sekarang banyak orang sejak kecil konon katanya tidak dapat tidur kalau lampu dimatikan. Siapa yang akan mematikan lampu ketika dia sudah tertidur? Ujung-ujungnya, jelas akan terjadi pemborosan energi. Pola hidup hewan dan tumbuhan berubah, dan saatnya akan bermutasi – walau lambat, namun pasti. Rantai makanan pun akan ber-evolusi. Para pakar biologi niscaya akan sepakat dengan kekhawatiran ini, terlebih menyangkut perubahan DNA makhluk hidup. Atau pemandangan alam lainnya, yaitu hadirnya ratusan kunang-kunang di seluruh tepi sungai dan jalur hijau di Jakarta misalnya, yang kini entah sudah raib ke mana; atau memang sudah hilang, atau memang kita tidak pernah memperhatikan karunia ini?

Penelitian ilmiah menunjukkan bahwa akibat penerang buatan menyebabkan dampak mematikan bagi beberapa jenis hewan amfibi, burung, mamalia, serangga, dan tanaman. Para ahli lingkungan pasti memahami, apabila dalam rantai makanan ada yang hilang, maka kesetimbangan ekosistem akan berubah. Contoh lain yang terjadi pada hewan malam (nocturnal), minimal pola hidupnya berubah. Belum lagi ancaman dari predatornya, susah baginya untuk bersembunyi. Atau mungkin apabila kita cermati, kapan kita yang berada di tengah kota Jakarta terakhir mendengar jangkrik menghiasi tidur malam kita, pasangan katak bernyanyi, ayam berkokok tanda dini hari dan masanya fajar akan menyingsing? Rasanya semua itu kini menjadi kenang-kenangan yang sangat indah (dan menjadi dongeng sebelum tidur bagi anak-anak generasi mendatang. Betapa ironisnya).

Kisah lainnya, bahwa jutaan anak penyu (tukik) mengalami kematian setiap tahun (the Florida Department of Environmental Protection and the Florida Fish and Wildlife Conservation Commission). Saat menetas biasanya mereka ke laut dengan mendeteksi kecerlangan horizon permukaan laut yang relatif lebih tinggi dibandingkan dengan daratan (sifat alamiah hubungan antara tukik dengan permukaan air laut yang memendarkan cahaya bintang gemintang, planet, dan Bulan). Namun, justru mereka umumnya kini ke arah daratan karena daratan lebih terang akibat banyaknya lampu. Bagaimana di sepanjang pantai Indonesia? Mungkin penelitian dalam kasus ini sangat dibutuhkan dan tentunya akan membuat cakrawala pengetahuan baru bagi khususnya masyarakat pesisir. Pada ranah lain, untuk mencari cumi pada era sekarang tidak perlu menantikan terangnya pendar Bulan. Tokh sambil melaut kita dapat membawa penerang buatan dan terkadang mengingat inipun penulis kadang tersenyum karena beberapa kali melakukannya.

Migrasi burung yang berbekal navigasi cahaya Bulan dan bintang pun kini diketahui banyak yang mengalami perubahan pola; kadang terlalu cepat atau terlalu terlambat dari musim yang seharusnya. Dalam banyak kasus, hal ini ternyata semakin diketahui bahwa akan menimbulkan kematian massal. Selain itu, proses reproduksi pun banyak mengalami kegagalan. Pada kasus lainnya bahwa populasi serangga pun menurun tajam. Memang, mereka memiliki naluri untuk senantiasa mendekati cahaya yang relatif terang. Namun, kini dengan adanya penerang buatan akan berdampak fatal karena justru akan memusnahkan mereka. Sang predatornya pun pada akhirnya susah memperoleh makanannya. Dalam rantai makanan jelas kesetimbangan ekosistem lambat laun tidak akan berjalan dengan semestinya. Seperti yang dikatakan oleh Chad Moore, salah satu mantan staf the National Park Service di Amerika Serikat, “… When we add light to the environment, that has the potential to disrupt habitat, just like running a bulldozer over the landscape ... ”.

Dalam kasus ini, cobalah sesekali menyimak cermat rumah kita dan sekitarnya. Siswa pun dapat diajak bekerjasama untuk mencatat. Hasilnya dapat dibawa ke sekolah menjadi bahan diskusi tentang lingkungan hidup untuk tentunya mencari solusi bagaimana yang sebaiknya dilakukan. Kita bayangkan bahwa ini akan terasa lebih mapan lagi apabila para pakar lingkungan hidup turut memetakan dampak polusi cahaya ini secara lebih terpadu lagi dan melakukan ragam sosialisasi.

 

Kesehatan Manusia

Seperti kita ketahui, beraneka jenis lampu LED (light emitting diode) banyak menjamur di setiap daerah dan perumahan. Sebut semisal layar komputer apapun jenisnya, TV, atau peranti penerang dengan ragam bentuknya. Hampir semua berbasis cahaya biru. Berdasarkan riset, kehidupan malam bagai siang yang terang benderang berbasis lampu yang radiasinya berpanjang gelombang biru ternyata menaikkan resiko gangguan kardiovaskular (jantung), obesitas, depresi, kesulitan tidur, diabetes, dan kanker. Circadian Rhythm (siklus harian terkait fluktuasi cahaya alamiah atau jam/ritme biologis) pun terganggu (pola tidur dan terjaga menjadi tidak alami lagi). Hadirnya hormon neurotropik, yaitu melatonin (secreted by the pineal gland that inhibits melanin formation and is thought to be concerned with regulating the reproductive cycle) peka pada ritme circadian ini. Selain itu, hormon ini memiliki karakter antioksidan, pembangun sistem kekebalan, kolesterol rendah, dan membantu kerja tiroid, pancreas, ovaries, testes, dan kesetimbangan adrenalin. Jadi kalau terganggu, silakan saja anda bayangkan akibatnya. Memang tidak seketika, karena karakternya justru perlahan dan niscaya (Ref: According to experts at Harvard Medical School dan 2016 American Medical Association report).

Dampak komponen glare (terang berlebih) pun dapat dirasakan pada kenyamanan dan keamanan. Pada malam hari, kontras mata jelas berkurang apabila mata kita terpapar cahaya putih-biru, terlebih bila usia semakin bertambah. Bila berkendara di daerah yang penuh gemerlap dan pendar lampu pun akan terasa bahwa mata kita menjadi “kurang awas”, juga letih. Melihat kasus seperti ini, penulis berkeyakinan bahwa di Indonesia tentu tidak kekurangan ahli kesehatan yang dapat bahu membahu meneliti masalah tersebut. Minimal ketika harus menggunakan lampu LED atau lainnya apapun peruntukannya, batas aman seperti apa sekiranya yang dapat dianjurkan kepada khalayak (faktor temperatur terkait panjang gelombang yang dipaparkan tentu menjadi salah satu ragam penelitian terkait teknologi lampu jenis ini. Sekali lagi, penulis yakin di Indonesia banyak pakar yang dapat ikut sumbang saran dalam kasus serupa ini).

Dampak kesehatan ini mungkin sebagiannya seolah tidak berwujud seperti dinyatakan sebelumnya. Namun, perlahan bertahun kemudian baru terasakan. Ritme biologis berubah secara perlahan, tentu metabolisme tubuh pun perlahan berubah hingga satu titik akan berdampak sesuatu yang sangat sulit ditebak. Tentunya juga menimbang bagian tubuh mana yang lemah. Bila fungsi pancreas atau tiroid terkena, diabetes pun mengancam. Demikian pula kaitannya dengan obesitas, gangguan jantung, dll. Satu sama lain saling berkelindan. Sekali lagi, pakar kesehatan sekiranya dapat sumbang saran dalam problematika dampak polusi cahaya ini, khususnya yang dialami kota-kota besar. Sekali lagi penulis yakin bahwa di Indonesia tidak akan kekurangan pakar dalam meneliti kasus seperti ini.

 

Aman Bila Terang?

Pada sisi lainnya, apakah ada bukti ilmiah yang jelas bahwa peningkatan pencahayaan luar ruang akan menghalangi kejahatan? Memang kenyataannya, sehari-hari apabila kita berjalan-jalan pada malam pekat tanpa penerangan di jalan, sebagian dari kita akan merasa kurang nyaman. Alasannya pun beragam. Mungkin penerangan yang akhirnya tersedia akan membuat kita merasa aman, tetapi belum terbukti untuk membuat kita aman. Para peneliti Inggris dan Wales melihat data dari tabrakan lalu lintas dan tindak kejahatan di 62 daerahnya dan menemukan bahwa penerangan buatan yang dipasang di lokasi ternyata tidak ada pengaruhnya, entah dimatikan total, diredupkan, dimatikan/diredupkan pada jadwal tertentu, atau diganti dengan lampu LED berdaya listrik rendah. Padahal, begitu besar dana telah dikeluarkan untuk hal tersebut. Tapi yang jelas, mereka yang akan menjadi sasaran tindak kejahatan akan mudah terlihat termasuk barang bawaannya apabila ada penerang di lokasinya. Bila ini terjadi, belum tentu sang korban mengenali pelakunya. Hal ini dapat jadi karena kaget dan panik. Hal lain, sadar atau tidak bahwa semakin terang lokasi, maka mata kita bagian pupil tentu mengecil laksana kita lihat jelas prosesnya pada mata kucing. Belum lagi arah datang sinar yang kadang kurang menguntungkan. Sadar setelah peristiwa berlalu. Barangkali ini dapat menjadi bidang penelitian yang baik bagi aparat yang bekerja dalam bidang keamanan (Ref: 1997 National Institute of Justice study; situasi tidak aman dapat terjadi dimanapun dan kapanpun, baik kondisi terang maupun gelap; Ch. 7: Preventing Crime at Places, John E. Eck) untuk mengantisipasi dan membantu meneliti efektifitas penerangan buatan dimanapun diletakkan; baik terkait infrastruktur yang dibangun, maupun besaran energi listrik yang harus disediakan yang ujungnya adalah biaya yang akan mengalir dari kebutuhan tersebut. Penulis pun yakin bahwa penelitian seperti ini sudah menjadi data sahih di lingkungan yang bergelut dalam bidang keamanan. Memang mungkin masalah sosialisasinya saja yang belum merata.

 

Fenomena Astronomi.

Sebenarnya langit gelap tidak berarti tempat berpijak kita pun harus gelap. Bukan berarti kita kembali ke masa dahulu kala. Penerangan yang berdaya guna (inilah masalahnya!) tentu akan dapat dirancang hemat energi sekaligus mengarahkan cahaya ke lokasi yang dibutuhkan saja, serta mempertimbangkan antara kondisi harmonis antara faktor industri perlampuan, kesehatan, kenyamanan, keamanan, dan suguhan kerlap kerlip cahaya bintang gemintang secara natural. Selain itu efisiensi infrastruktur yang terkait juga turut dipikirkan, termasuk masalah ekosistem.

 

The scattering of light from man-made sources into the night sky,
which increases the background brightness of the sky above its natural level
and interferes with astronomical observations. …
However, the problem is growing one and a matter of worldwide concern
for both amateur and professional astronomers
(Mitton, 1991).

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Gambar 3
Rasi Bintang Scorpius dan Bima Sakti
Pemotretan dilakukan di Planetarium dan Observatorium Jakarta (3 April 2014, pukul 04.12 WIB).
Gambar kiri sebelum diproses dalam arti dipotret apa adanya dan sebelah kanan setelah diproses dengan Adobe Lightroom CC 2015 & Adobe Photoshop CC 2015. Walau sudah diproses sekalipun, nyatanya daerah Bima Sakti masih sulit dilihat. Bandingkan dengan bidikan pada gambar 4 di bawah.
Credit: M. Rayhan – Planetarium dan Observatorium Jakarta
dengan kamera Nikon D5100, Lensa AF_S DX Nikkor 18-200 mm.
Citra tunggal 25 detik eksposur, ISO 6400, Foc. Lenght 26 mm f/3.8

 

Seperti telah disinggung di atas bahwa apabila kita tinggal di kota Jakarta, maka malam cerah tiada berawan pun hanya menyuguhkan bintang yang relatif terang atau benda dekat lainnya seperti Bulan dan planet. Namun, andaipun polusi cahaya dapat ditekan, nyatanya polusi udara menjadi kendala yang merepotkan. Mungkin sadar ataupun tidak, ketika kita menyorotkan lampu senter (flashlight) warna putih-biru terang ke suatu tempat pada lokasi bebas polusi cahaya dan udara, maka cahayanya dapat fokus ke sasaran. Kini andai saja di daerah tersebut ada kabut (sebut polutan), maka cahaya lampu senter tadi akan tersebar kemana-mana (sekaligus menjawab mengapa lampu kabut berwarna kuning). Inilah yang terjadi di atmosfer Jakarta. Kondisi polusi udara dan cahaya, membuat langit malam di atas Jakarta cenderung seperti berkabut kemerahan (lihat gambar 3).

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Gambar 4
Bima Sakti dipotret dari daerah Parangkusumo – Yogyakarta (15 Agustus 2012, pukul 22.19 WIB).
Gambar kiri sebelum diproses, gambar kanan sudah diproses dengan Adobe Lightroom CC 2015 & Adobe Photoshop CC 2015.
Nyata benar perbedaan tampilan wajah kubah langit malam antara di Jakarta (gambar 3) dengan di Jogja.
Credit: M. Rayhan – Planetarium dan Observatorium Jakarta
dengan kamera Nikon D90, Lensa AT-X Pro Tokina 11-16 mm.
Citra tunggal 30 detik eksposur, ISO 3200, Foc. Lenght 11 mm f/2.8

 

Kini, bagaimana membayangkan struktur alam semesta apabila benda langit semakin sulit dinikmati oleh masyarakat umum? Fenomena astronomis pun sulit dibayangkan. Bahkan sekedar impresi ketertakjuban pun rasanya sudah semakin jauh terhadap bentang karunia bintang gemintang-Nya. Dulu manusia gencar dengan hadirnya komet dan meteor bahkan hujan meteor, maka pada saatnya nanti “cuma sekedar” cerita di buku semata. “Ah, .. teori,” ujaran banyak anak muda jaman sekarang, karena memang mereka tidak pernah mengamatinya.

Seberapa banyakkah penduduk Jakarta yang pernah menikmati keindahan Bima Sakti secara langsung? Taburan ribuan bintang berwarna warni bak warna pelangi? Melihat terbit terbenamnya bintang di batas ufuk? Lima pengembara langit yang nyatanya senantiasa berpindah tempat berlatar belakang bintang sedemikian kita tahu adanya planet dan Zodiak? Kapankah kita melihat minimal Zodiak kita sendiri di bentang kubah langit malam? Peletakan GPS yang kini mewabah pemakaiannya, tokh sebenarnya peletakan di orbitnya menggunakan tata koordinat langit. Bagaimana menera koordinat kalau benda acuannya semakin hilang dari pandangan?

Secara keseluruhan bahwa “mindset” terkait ruang-waktu pun menjadi barang mahal dalam memahami luasnya ataupun geometri Jagad Raya. Yang cukup terasa adalah dampak budaya, minimal budaya menera langit untuk kebutuhan keseharian (dalam semua aspek termasuk religi) dapat jadi tidak akan ada lagi (lambat laun sekedar teori dan penuh tafsir). Kedekatan dengan langit dengan segala bendanya semakin mendekati batas mimpi. Dalam ranah lain, betapa masyarakat Jakarta kehilangan salah satu karunia-Nya yang nyata gratis diberikan, namun terlalu asyik dengan teknologinya sedemikian makin banyak yang mengabaikannya. Atau, merasa tidak butuh lagi gift seperti ini dalam derap langkah yang katanya semakin maju? (berharap tidak demikian jawabannya).

Di satu sisi yang lain, ada yang terus mencari dan berupaya membangun jembatan agar kedekatan terus terjalin. Yang lain dapat jadi sudah semakin tidak hendak tahu lagi, dan kalau sudah demikian, maka tinggallah menunggu saat-saat keputusan-Nya yang niscaya. Namun, beruntunglah di Jakarta ada Planetarium dan Observatorium Jakarta yang banyak membantu dalam konteks praktek lapangan berupa simulasi langit berlandas visi planetariumnya serta pengamatan langit berbasis visi observatoriumnya; termasuk komunitas Astronomi binaannya, yaitu Himpunan Astronomi Amatir Jakarta (HAAJ) dan secara simultan terhadap lebih dari 8 Klub Astronomi binaan HAAJ di beberapa SMA di Jabodetabek. Minimal membangun jembatan kedekatan ini masih terus dilakukan dan kehadirannya justru dalam kondisi seperti ini menjadi sangat penting. Minimal menggugah perubahan mindset tentang keindahan malam dengan segala dampak spiritnya. Namun, seberapa banyakkah yang dapat terlingkupi untuk skala nasional? Padahal banyak sekali kota besar di Indonesia yang semakin terang benderang.

Pada kasus penelitian Astronomi berbasis observasi langit, secara nasional selama ini berpusat di Observatorium Bosscha yang telah berdiri sejak tahun 1923. Untuk keberlangsungannya, maka pada tahun 2004, lembaga yang berada di bawah naungan FMIPA ITB dan bekerjasama dengan Prodi Astronomi ITB, dinyatakan sebagai Benda Cagar Budaya oleh Pemerintah. Oleh karena itu, keberadaannya dilindungi UU Nomor 2/1992 tentang Benda Cagar Budaya. Selanjutnya, tahun 2008, Pemerintah menetapkan Observatorium Bosscha sebagai salah satu Objek Vital Nasional yang harus diamankan (Observatorium Bosscha). Ini hanyalah sekedar satu contoh bagaimana memaknai dampak polusi cahaya.

 

Sebuah Angan Angan, atau Bahkan Mimpi?

Pada akhirnya, minimal apa yang sekiranya dapat kita kerjakan adalah menjawab apakah polusi cahaya ini di Indonesia atau di kota-kota besar seperti Jakarta termasuk dalam ranah batasan pencemaran dan/atau kerusakan lingkungan hidup seperti yang tertulis dalam UU tentang keantariksaan yang dikutip pada awal tulisan? Kalau ya, tentu bukan saling tuding dan berbantah – namun, apa yang harus kita lakukan bersama sebagai sumbang saran khususnya bagi para muda yang niscaya akan mewarisi Bumi seisinya ini? Berharap satu “win-win solution” yang berakhir baik untuk apapun, siapapun, dan dimanapun. Memang hal ini berkelindan tiada jeda dan pun tiada putus dengan kearifan dalam melihat perkembangan teknologi, juga terkait masalah kemajuan iptek keantariksaan. Selain itu, sama sekali bukan berniat mengajak hidup kembali seperti jaman purba yang hanya berlampu bintang gemintang ataupun kemilau sang Rembulan. Namun, tergelitik pada pertanyaan; kalau bukan tentang kegiatan keantariksaan, apakah kita boleh melakukan pencemaran seperti kasus polusi cahaya di atas? Semoga semua akan dengan cepat bersepakat menjawab, “Tentu tidak!” Lalu? Salam Astronomi. –WS–

 

Daftar Pustaka

  • UNDANG UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 21 TAHUN 2013 TENTANG KEANTARIKSAAN
  • Darling, D., 2004, The Universal Book of Astronomy, John Wiley & Son, New Jersey, p.291
  • Mitton, J., 1991, A Concise Dictionary of Astronomy, Oxford Univ. Press, Oxford, p.222

 

Situs:

1997 National Institute of Justice study
2015 study published in the Journal of Epidemiology and Community Health
2016 American Medical Association report
According to experts at Harvard Medical School
Globe at Night
International Dark-Sky Association
International Dark-Sky Association / Loss Of The Night Network
Lembaga Penerbangan Antariksa Nasional (LAPAN)
Observatorium Bosscha
World Atlas of Artificial Night Sky Brightness
Wikipedia Indonesia (Hormon Melatonin)
Wikipedia the Free Encyclopedia (Diabetes Mellitus)