Written by Widya Sawitar

User Rating: 2 / 5

Star ActiveStar ActiveStar InactiveStar InactiveStar Inactive
 
KEMUSNAHAN MASSAL YANG TIDAK TERBAYANGKAN
”THE GREAT DYING”

In the years since researchers have sought evidence
linking impacts with other mass extinctions of life
throughout geologic history.
The biggest of these, 251 million years ago, ended the vibrant Permian period
and nearly left Earth sterile:
90 to 95 percent of all species died within a geologic blink of an eye.
No compelling explanation for the Permian-Triassic extinction
— widely called the "Great Dying" —
has yet gained favor.
(S&T)

Gambar 1 K-T Impact
Tidak terbayangkan apabila meteor raksasa jatuh di daratan,
tentu debu dan bebatuan aneka ukuran beterbangan ke segala arah.
Belum lagi efek getaran atau gempa spontan yang terjadi, dsb.
Bila jatuh di lautan-dalam tentulah dapat menyebabkan sibakan luar biasa
disertai tsunami yang sukar dibayangkan.
“Sekedar” letusan Gunung Krakatau saja membuat pesisir di sekitarnya tersapu bersih,
bahkan mercusuar pun yang sedemikian kokoh menjadi tersapu tidak berbentuk
dan lampunya terdampar hingga ke perbukitan yang berkilometer jauhnya.
Cuaca pun menjadi redup hingga 3 tahun lamanya karena debu beterbangan
Berkelana di langit hingga menutupi nyaris seluruh bola Bumi bersama arakan awan.
(Credit: Don Davis / NASA; donaldedavis/KTHIT)

 

Seperti yang telah ditulis pada artikel Asteroid Bagian 4 bahwa “memang melihat dampak yang ditimbulkan oleh fenomena jatuhnya meteor besar yang bersumber dari asteroid dapat mendirikan bulu tengkuk. Tidak terbayangkan apabila dua kejadian di atas (terbentuknya Kawah Barringer dan Kawah Chicxulub) berlangsung pada wilayah yang berpenduduk padat layaknya kota besar di dunia pada masa sekarang ini. Terlepas dari kekhawatiran di atas bahwa apapun hasil penelitian, tetaplah dapat menjadi ajang pembelajaran bagi kita semua. Selain itu, ternyata penemuan terakhir dari team kolaborasi para ilmuwan internasional juga menjumpai bukti bahwa kepunahan massal seperti fenomena Kawah Chicxulub pernah juga dialami makhluk di Bumi sekitar 250 juta tahun yang lalu. Inipun disimpulkan akibat dari jatuhnya asteroid yang berdiameter hingga 12 km. Kepunahan ini menandai peralihan jaman Permian – Triassic. Dari penelitian, dampak yang ditimbulkan saat itu jauh lebih mengerikan dibandingkan dengan saat dinosaurus musnah. Perkiraannya hingga 90 hingga 95% kehidupan musnah dari muka Bumi (nationalgeographic)”.

 

Penelusuran Kejadian

Mengenai fenomena kepunahan global di akhir era Permian mungkin belum dijumpai adanya kesepakatan di antara para pakar. Belum ditemukan adanya penjelasan yang memadai mengenai mekanisme peralihan atau transisi jaman Permian-Triassic (P-T) di mana kala itu tercatat pula sebagai salah satu peristiwa kepunahan massal yang berlangsung di seluruh permukaan Bumi. Fenomenanya biasa disebut “the Great Dying”. Berbeda dengan kepunahan tatkala dinosaurus lenyap dari kehidupan di muka Bumi yang menyebabkan pula berakhirnya jaman Cretaceous ke jaman Tertiary (C-T atau K-T). Kesulitannya adalah lokasi benturan yang diperkirakan tidak hanya terjadi pada satu wilayah tertentu. Berbasis penelitian rekam jejak fosil juga saling tumpang tindih dengan ragam fenomena lain yang justru mirip dalam hal terjadinya kepunahan.

Berdasarkan penelitian di wilayah Tiongkok bagian selatan oleh Kunio Kaiho (Institute of Geology and Paleontology, Tohoku University, Sendai, Jepang) dan koleganya pada tahun 2001 bahwa mereka menemukan cebakan unsur isotop sulfur dan strontium yang sangat banyak pada batuan yang diduga penanda batas P–T, khususnya pada era berakhirnya jaman Permian, bersamaan dengan temuan konsentrasi bulir-bulir (diduga) bentukan tumbukan yang luar biasa dahsyat. Selain itu, pada lapisan yang ditelitinya ternyata ditemukan konsentrasi unsur-yang-seharusnya-lumrah-ada, yaitu manganese, fosfor, kalsium, dan microfossils (foraminifera) yang nyatanya berkurang secara signifikan dibandingkan dengan komposisi normalnya. Data ini menunjukkan pada kesimpulannya bahwa adanya sebuah asteroid atau komet menabrak samudera pada akhir waktu Permian. Efek tumbukan yang terjadi menyebabkan pelepasan unsur sulfur yang cepat dan berlimpah dari bagian kerak Bumi ke atmosfer di atas samudera, yang menyebabkan oksigen pada atmosfer di atas samudera berkurang drastis bahkan menghilang. Juga terjadinya hujan asam yang ekstrim dan yang paling mengerikan kalau kita bayangkan bahwa kala itu terjadi krisis kehidupan dalam sejarah keberadaan makhluk hidup di Bumi (S&T).

Pada tahun 2004, team pakar geologi yang dipimpin oleh Luann Becker (Universitas California, Santa Barbara) yakin bahwa telah menemukan kawah yang sebanding dengan Kawah Chicxulub yang terkubur oleh sedimen dasar laut. Lokasi temuan yang disebut Bedout High ini terletak di daerah barat laut benua Australia. Awal penemuan adalah adanya semacam dataran luas di bawah muka laut yang terkubur. Mungkin mirip bentukan dasar Kawah Barringer; yaitu dengan karakter rata, luas, dan penuh sedimen. Kemudian dataran ini terangkat oleh proses alam (S&T). Mereka yakin bahwa kawah ini merupakan kandidat lokasi yang terdampak jatuhnya meteor besar yang mengakhiri jaman Permian (harvard.edu).

Sebenarnya analisis tentang keterkaitan dataran ini dengan lokasi jatuhnya meteor besar telah digagas pertama kali tahun 1996 oleh pakar geologi minyak Bumi, John Gorter. Namun, pemikiran ini tidak mendapat tanggapan serius hingga saatnya Becker dan rekannya, Robert J. Poreda (Universitas Rochester) memeriksa sampel batuan yang diambil dari proses pengangkatan dataran Bedout High.

Berdasarkan hasil penelitiannya, dijumpai bebatuan yang berbeda karakternya dengan batuan vulkanik yang biasa ditemukan. Sifatnya mirip dengan batuan yang diperoleh baik di Kawah Barringer maupun Chicxulub (sifatnya shocked and melted rock). Pencitraan seismik, data gravitasi, dan identifikasi batuan yang mencair dan batuan bentukan (terduga) tumbukan (breccias; breksi) yang dijumpai bersesuaian dengan kondisi wilayah yang dianggap sebagai kawah bentukan meteor yang telah terkubur di dalam lapisan permukaan Bumi.

Batuan breksi yang ditemukan di atas dapat dikatakan silika murni (SiO2), dan beberapa bentukan batuan lainnya yang terdampak proses tumbukan hingga dampak gelombang kejut yang dihasilkan. Distribusi batuan ini layaknya membentuk semacam lapisan tersendiri yang menjadi pemisah zaman P–T. Data gravitasi dan seismik yang ada menunjukkan bahwa wilayah Bedout High merupakan daerah luas yang setara dengan maksimalnya Kawah Chicxulub. Analisis unsur (uji isotop, dll) menunjukkan bahwa usia kawah antara 250,1±4,5 hingga 250,7±4,3 juta tahun (harvard.edu). Artinya rentang waktu ini bertepatan dengan tanda transisi jaman Permian-Triassic di mana terjadi kepunahan global. Keunikan bukti ini diperoleh dengan sampel batuan yang justru ditemukan jauh dari lokasi yang diduga kawah, yaitu tersebar di wilayah Antarctica (Kutub Selatan), Tiongkok, dan Jepang. Sekedar catatan penulis bahwa jangan dibayangkan kondisi muka Bumi, khususnya daratan seperti sekarang ini seperti pada gambar 2 di bawah. Pada masa “the Great Dying” bahwa hampir semua daratan masih menjadi satu kesatuan (Pangaea, Pangaea_to_present). Karakter batuan dapat dikatakan sama. Jadi dari penelitian ini dapat ditera lokasi, ukuran, dan umur kawah Bedout High sedemikian dapat menjelaskan kapan transisi P–T di seluruh dunia (Becker, 2004). Dapat dibandingkan dengan sumber lain, misal Burgess dan koleganya menyatakan bahwa kepunahan terjadi antara 251,941±0,037 dan 251,880±0,031 juta tahun yang lalu dengan proses pemusnahan dalam rentang waktu 60±48 ribu tahun (Burgess et al, 2014, yang hasil penelitian ini dirujuk oleh penulis artikel pada situs Permian–Triassic extinction event). Yang terlihat – tampaknya – orde tentang kapan terjadinya kemusnahan hampir semua pakar memiliki harga yang tidak berbeda secara signifikan (harvard.edu).

 

Gambar 2
Temuan kawah di dunia yang telah dikonfirmasi sebagai kawah bentukan meteor.
passc.net/EarthImpactDatabase

 

Pertimbangan antara ragam kehidupan di laut dan darat yang harus dimasukkan dalam penelitian pada dasarnya disepakati oleh hampir semua pakar yang terlibat. Nyatanya, banyak sekali parameter yang harus diperhitungkan dalam pekerjaan ini serta ragam keilmuan yang terpaksa harus terjun langsung, baik secara teori maupun penelitian lapangannya. Beragam bidang ilmu yang terlibat dan mungkin kurang populer di kalangan masyarakat kita antara lain seperti spesialis bidang geokronologi, paleontologi, paleofisiologi, geokimia – geofisika, chemostratigraphy, cyclostratigraphy, paleobiology, dll. termasuk astrokimia, astrobiologi, astroarkeologi (atau arkeo-astronomi), hingga etnoastronomi karena sangat lumrah apabila suatu kejadian atau pertanda alam pada jaman dahulu diejawantahkan dalam ujud gambar, lukisan, atau mitos tertentu dan tiap budaya di dunia memiliki simbol khusus yang berbeda (kadang mirip) antar satu ujud produk budaya dengan lainnya, ataupun bidang ilmu lainnya.

 

Analisis Sumber Kepunahan

Sementara itu dari berbagai sumber bahwa disimpulkan (sementara) bahwa transisi P-T terjadi pada waktu kisaran 251 juta tahun yang lalu (yang didahului dengan kejadian kepunahan kisaran 20 juta tahun sebelumnya, yaitu peralihan era Kungurian dan Roadian). Namun, apabila ditilik di lapangan bahwa hingga kinipun masih terdapat 2 kubu terkait pemicu kepunahan massal, yaitu akibat terjadinya pemuntahan lava yang luar biasa besar dan meluas (berawal dari wilayah Siberia); dan yang kedua adalah akibat jatuhnya meteor besar dengan meteoroid-nya berupa asteroid. Analisis kepunahan, kala itu lautan di Bumi kehilangan 80 – 96% ragam kehidupan (Shaney, 2008) dan angka ini tidak berbeda secara signifikan antar para peneliti.

Dalam kasus seperti ini dapat kita simak semisal penelusuran salah satu pakar dari Australia yang agak meragukan hasil Becker, khususnya mengenai kawah di Australia barat laut. Andrew Glikson (Australian National University, Canberra) menyatakan bahwa tim-nya tidak menemukan bukti sahih tentang adanya dampak gelombang kejut terhadap batuan di Bedout High. Juga munculnya pertanyaan tentang bagaimana mekanisme pengangkatan dataran tersebut. Sementara itu, dinding kawah pun tidak dijumpai (berbeda dengan semisal kasus Kawah Barringer dan Kawah Chicxulub di mana dinding kawah tertampak jelas, bahkan sebagian Kawah Chicxulub berada di dasar lautan hingga tertutup materi dasar lautannya di wilayah Teluk Meksiko. Namun, tetap dapat ditera dinding kawahnya).

Selain itu, pada batas lapisan Bumi sebagai penanda transisi jaman P-T tidak ditemukan anomali unsur iridium, unsur yang sangat langka di Bumi, tetapi sangat lumrah dijumpai pada meteorit. Dalam arti kata bahwa kepunahan tidak terkait dengan jatuhnya meteor. Kalau demikian, justru menjadi pertanyaan yang menarik, apa penyebab kepunahan? Apabila karena letupan lava, maka seberapa banyak lava dan seberapa panjang durasi pemuntahannya sedemikian dampak kandungan debu dan gas dari lava yang keluar dapat mencemari seluruh atmosfer, mendinginkan Bumi, dan merusak keasrian lingkungan lautan. Hal ini karena kepunahan dalam penelitian nyatanya hampir semua mempunyai kesimpulan yang sama, yaitu terkait dengan tiga kondisi ekstrim tersebut.

Uniknya bahwa ahli kepurbakalaan yang menekuni fenomena kepunahan massal, Douglas H. Erwin dari National Museum of Natural History menemukan bukti yang menghubungkan Bedout High dengan fenomena the Great Dying. Menarik, tetapi tidak meyakinkan, sebut saja sekedar salah satu pemikiran, dan bahkan hal ini masih meragukan dan dapat kita simak komentarnya sendiri, "We need to establish that these [events] happened at exactly the same time". Artinya jatuhnya meteor dengan kepunahan terjadi dalam kurun waktu yang sama. Menjadi agak mengherankan sebenarnya jikalau kedua fenomena tersebut tidak berkaitan satu dengan lainnya. Selain itu, banyak ahli paleontologi menunjukkan bahwa pernah suatu saat terjadi pemuntahan lava yang luar biasa banyak sedemikian membentuk wilayah yang kini menjadi daerah Siberia. Fenomena inilah yang diduga sebagai pencetus terjadinya kepunahan di batas jaman P–T. Letusan tersebut membuat kadar karbon dioksida dan gas berbahaya akan naik berlipat di atmosfer dan memicu efek rumah kaca secara ekstrim. Gejolak iklim inilah yang menyebabkan kepunahan secara bertahap hingga 160.000 tahun. Belum ada bukti meyakinkan untuk kebenaran teori ini (S&T).

Adapun pada tahun 2011, Brian Handwerk (2011) yang berbasis penelusuran wilayah di China hingga Tibet bahwa batasan P–T adalah 252,28 juta tahun dan proses punahnya kehidupan berlangsung kisaran 200.000 tahun (NG-great-dying). Sementara itu, K. A. Farley dan S. Mukhopadhyay dari California Institute of Technology tidak mendapatkan bukti untuk daerah selain di Meishan – Tiongkok tempat lokasi yang ditelusuri Becker. Memang diakui bahwa mereka menemukan bukti adanya cebakan abu vulkanik purba dengan taksiran usia kisaran 250 juta tahun (berbasis isotop helium pada lapisan batuan). Namun, ada kendala lagi dari hasil Becker yang dianggap meragukan, yaitu bahwa penanda transisi P–T berada jauh di atas lapisan yang diduga terbentuk akibat tumbukan (dengan hadirnya bentukan fullerene – layaknya kerikil yang terdistribusi di adukan semen lalu mengeras). Bagi Yukio Isozaki dari Department of Earth Science and AstronomyUniversity of Tokyo bahwa ini artinya ada selisih waktu yang cukup signifikan antara 2 kejadian tersebut (dan justru membuka peluang baru penelitian, apakah memang pernah terjadi minimal secara lokal di Tiongkok di mana berlangsung 2 kali fenomena pemusnahan global). Namun uniknya, bahwa pada lapisan tertentu di sana sejatinya ternyata dijumpai fullerene yang bersesuaian dengan yang diprediksi, tidak di atas atau di bawah lapisan transisi P–T (Sahney et al, 2008).

Shu-zhong Shen, pakar paleontologi dari the China's Nanjing Institute of Geology and Palaeontology menyatakan bahwa waktu 200 ribu terlalu singkat melihat dari analisis kandungan batuan (analisis unsur karbon yang ditemukan pada lapisan batuan sedimen; carbon isotope signatures). Adapun tahun 2013 pada penelitian (Burgess et al, 2014) yang terkait kepunahan di darat dan di laut menurut Sam Bowring dari Massachusetts Institute of Technology (MIT) bahwa fenomenanya terjadi secara simultan (andai pun terpisah, tidak terpisah dengan rentang waktu yang sedemikian lama). Di lautan diduga pemicunya adalah kadar oksigen yang menurun ke level pemusnahan global. Dalam analisis Shen, yang bertahan adalah makhluk yang relatif jauh lebih kecil sedemikian lahir istilah Liliput Effect (ingat buku terkenal Gulliver’s Travel karya Jonathan Swift; 1726).

Berbasis berbagai kelompok peneliti bahwa kepunahan global andai pun terjadi, tentu bukan melulu akibat langsung dari kondisi gangguan spontan sesaat setelah tumbukan. Hal ini karena apabila secara normal pun terjadi perubahan lingkungan semisal akibat efek rumah kaca, kemudian perubahan iklim global, maka sekarang pun kita semua sedang dalam proses tersebut dan yang terdampak memang secara global, namun prosesnya dan yang mengalaminya tidak secara serentak dan ekstrim. Uniknya, memang perlahan, namun pasti.

 

Gambar 3
Apabila meteor raksasa menghujam ke Bumi dengan ukuran berpuluh kilometer
dan dengan kecepatan melebihi peluru, tentu dampak spontannya saat itu akan sukar dibayangkan,
baik dampak temperatur, tumbukan, goncangan, dan yang terkait lainnya.
Di dalam Tata Surya, hal tumbukan seperti ini merupakan hal yang sangatlah lumrah.
Betapa komet SL9 yang hanya berdiameter beberapa kilometer saja (<4 km)
sanggup melubangi Jupiter dengan ukuran berlipat kali melebihi ukuran Bumi
yang terjadi bulan Juli 1994 di mana masyarakat dunia disuguhkan secara langsung
bagaimana dampak tabrakan komet tersebut dengan Jupiter;
termasuk di Planetarium dan Observatorium Jakarta
yang kala itu membuka observatoriumnya selama seminggu
dengan mengajak masyarakat umum untuk turut mengamatinya.
(donaldedavis/DDGNLND2)

 

Dari ragam penelusuran pun tetap terdapat dua kubu dalam melihat fenomena kepunahan global yang berlangsung kisaran 250 juta tahun yang lalu, yaitu asteroid impact dan flood basalt volcanism. Memang terekam pada temuan batuan pada lapisan terduga batas P–T bahwa kala itu diketahui kadar oksigen berkurang secara drastis dan sebaliknya kadar karbon dioksidasi bertambah berlipat kali. Namun, pemicu kepunahan global bukan semata karena akibat langsung dari dua penyebab tersebut. Inipun sebenarnya disepakati para pakar. Komentar dari Burgess, dkk. bahwa “These processes in turn may be relevant to current biological and climate change and the timescales of feedbacks between environmental change and extinction,” dan pertimbangan data bahwa kepunahan ini tertanda jelas pada lapisan dan berlangsung tidak dalam rentang waktu berkepanjangan (relatif singkat dalam skala waktu evolusi kehidupan di muka Bumi).

Dari beberapa penelitian memang terasa masih jauh dari hasil final dan penentuan beragam parameter dalam analisis fenomena ini masih senantiasa dipertimbangkan. Apa yang sekiranya menjadi mekanisme pemusnahan? Semisal dalam kasus menjawab, seberapa besar rentang waktu musnahnya ragam kehidupan tersebut? Dari analisis radioisotope bahwa rentangnya masih dalam rentang yang lebar, yaitu antara 1,5 juta tahun hingga yang terpendek adalah <200±100 ribu tahun. Adapun dari tafsiran astrochronological interpretations, relatif lebih singkat, yaitu antara 700.000 tahun hingga 10.000 tahun. Adapun Wu, dkk (2013) menghasilkan rentang 83.000 tahun (setengah rentang waktu dibandingkan dengan hasil Douglas H. Erwin). Dalam hal ini dapat juga merujuk pada pertimbangan yang diajukan Burgess, dkk. yang patut dianggap penting bahwa:

 

“Mass extinctions are major drivers of macroevolutionary change and mark fundamental transitions in the history of life, yet the feedbacks between environmental perturbation and biological response, which occur on submillennial timescales, are poorly understood. We present a high-precision age model for the end-Permian mass extinction, which was the most severe loss of marine and terrestrial biota in the last 542 My, that allows exploration of the sequence of events at millennial to decamillenial timescales 252 My. This record is critical for a better understanding of the punctuated nature and duration of the extinction, the reorganization of the carbon cycle, and a refined evaluation of potential trigger and kill mechanisms.” (Burgess et al, 2014). Catatan: My = million years.

 

Burgess beserta koleganya mendapati angka rentang waktu proses pemusnahan sebesar 61±48 ribu tahun berbasis daur karbon. Namun, untuk kehidupan menjadi – katakanlah – normal kembali ternyata membutuhkan rentang waktu hingga 10 juta tahun, relatif cukup lama untuk recovery kondisi lingkungan Bumi. Pada kasus inipun para pakar sejatinya hampir semua menyetujuinya. Sekedar perenungan bagi kita, apabila lingkungan tempat tinggal kita – sebut – mengalami kerusakan, maka pemulihannya tentu membutuhkan waktu ber-generasi. Mungkin bukan sekedar perenungan lagi, melainkan sebuah peringatan. Bayangkan, bagaimana caranya membersihkan udara kota Jakarta agar kembali seperti katakanlah kondisi udara 100 tahun yang lalu?

Mungkin pendapat Andrew H. Knoll (Knoll, 2007) dapat ditinjau bahwa dalam mengevaluasi semua analisis yang terkait kepunahan global sebagai penanda berakhirnya jaman Permian, kita perlu menarik perbedaan yang jelas antara sesuatu yang mematikan atau memusnahkan (kill mechanism) dan mekanisme yang memicu kepunahan (trigger mechanism). Mekanisme pertama, mekanisme pemusnahan adalah proses gangguan terhadap fisiologis yang menyebabkan kematian, sedangkan mekanisme pemicu adalah gangguan kritis yang membawa satu atau lebih mekanisme pemusnahan ke dalam proses keseluruhannya. Secara umum bahwa para pakar bidang kebumian telah berusaha mengidentifikasi sekiranya apa mekanisme pemicu kepunahan. Pemicu yang diduga dan nanti pada gilirannya akan dapat dikaitkan dengan satu atau lebih mekanisme pemusnahan. Paleophysiology ikut berperan karena setiap mekanisme pemusnahan memprediksi pola kepunahan fisiologi dan kelangsungan hidup, dan tentu saja hal ini menjadi ajang uji kelaikan dari hipotesis terkait fenomena geofisika dan lainnya yang terlibat dalam penelitian.

 

Proses Pemusnahan Massal

Mungkin akan lebih mudah apabila kita bayangkan jatuhnya meteor raksasa di suatu lokasi. Tentu akibat jatuhnya dengan segala karakter yang ada dari sebuah meteor akan berdampak secara langsung (dapat karena tertimpa bobotnya yang besar, atau karena kecepatannya yang dapat melebihi kecepatan desingan peluru, atau karena panas yang luar biasa di mana besi pun dapat meleleh, dll). Namun, dampak secara tidak langsung pun tidak kalah dahsyat ancamannya. Bayangkan semisal jatuh di wilayah persawahan. Yang jelas penanaman selanjutnya akan terdampak. Yang mengandalkan sawah untuk bahan pangan tentu terancam. Kalau persawahannya menjadi sukar ditanami, tentu dampak kelaparan dapat terjadi. Jadi baik dampak langsung maupun tidak langsung pada titik tahap tertentu sama-sama dapat menimbulkan kematian ataupun kepunahan kehidupan secara massal.

Apabila melihat bahwa kepunahan tidak bersifat spontan atau singkat, maka dapat menimbulkan berbagai gangguan fisiologis yang pada akhirnya berujung pada kepunahan. Atau dapat terjadi perubahan fisiologis akibat kondisi lingkungan yang berubah ekstrim dan yang tidak sanggup beradaptasi dan bertahan, maka tentu akan terpinggirkan. Yang bertahan, sebagai contoh, dapat juga mengalami mutasi genetik.

Tentu dalam hal ini tidak dapat lepas dari adanya seleksi alam. Mungkin ini sebagai salah satu dasar pertimbangan adanya Liliput Effect. Sebut saja jatuhnya meteor sebagai faktor mekanisme pemicu. Tentu saja kalau dalam bidang ilmu tertentu, bagaimana mutasi dalam fisiologis dapat secara lambat laun memusnahkan bagi yang terdampak. Merujuk pada hasil telaah Brian Handwerk (2011), nyatanya dengan berbasis penelitiannya bahwa minimal ada rentang waktu ratusan ribu tahun. Hal seperti ini sudah menjadi kesimpulan ketika dinosaurus musnah (terkait Kawah Chicxulub).

Pada fenomena the Great Dying bahwa musnahnya kehidupan memakan waktu kisaran 200 hingga 300 ribu tahun. Apabila kita bayangkan rangkaian kehidupan manusia, akan ada berapa generasi yang terdampak? Bila rata-rata seseorang berumur 100 tahun, maka artinya setelah melewati ribuan generasi membuat keturunan orang tadi suatu ketika tidak akan lagi dapat melihat dinosaurus; dan dalam dialog fiktif barangkali dapat muncul pernyataan, “menurut nenek moyang saya, dulu konon ada makhluk seperti ini seperti itu bentuknya ..,” dst. dan dinosaurus pun tinggallah sebuah kisah tragis pada masa lalu layaknya yang kita alami pada masa kekinian.

Dalam kaitannya dengan fenomena luapan lava Siberia (Siberian Trap Volcanism) seperti yang diungkapkan oleh Sahney (2008), bahwa Knoll sepakat kalau kejadian tersebut ber-intersepsi atau sebut saja bersamaan dalam rentang waktu tertentu. Fenomena ini jelas mengubah komposisi ataupun kondisi atmosfer dan karakter lautan. Melihat karakter kepunahan, kondisi ini kemungkinan besar terjadi menyeluruh di seluruh dunia (sekedar pembanding: letusan Krakatau hanya membuat kondisi atmosfer menjadi “kotor terhalang” oleh debu vulkanik kisaran 3 tahun saja). Tentu dalam satu tahapan, dapat dikatakan berdampak besar dan spontan pada beragam makhluk hidup (biological catastrophe).

Melihat perubahan kandungan karbon dioksida (sifat CO2 mapan dalam siklus), maka jumlah yang terlontar mengotori atmosfer dan lautan tentu tergantung seberapa lama luapan lava vulkanik tersebut. Pendapat ini juga disepakati seperti yang diungkapkan oleh Burgess (dari kutipan di atas, huruf warna biru: This record is critical for a better understanding of the punctuated nature and duration of the extinction) yang berdasarkan durasi luapan lavanya.

Berdasarkan perhitungan bahwa kandungan yang diprediksi memusnahkan kehidupan secara global, dalam kuantitas akan bertahan kisaran 500 ribu tahun. Secara sederhana tentang kemapanan ini bahwa begitu CO2 sejumlah tertentu dilepas ke udara, maka butuh waktu ratusan tahun lamanya untuk menghilang. Walhasil, apabila buangan (polusi) CO2 di suatu tempat terjadi terus menerus – sebut semisal pada jaman sekarang ini akibat buangan asap pabrik, asap kendaraan yang berkelanjutan, maka kandungan CO2 akan terus bertambah. Dampaknya dapat terjadi efek rumah kaca, tempat itu akan semakin panas. Kondisi permukaan planet Venus tentu menjadi contoh yang sangat baik. Seandainya, suatu hari buangan ini dihentikan sekalipun (semua kendaraan dan pabrik berhenti bekerja), maka butuh puluhan hingga ratusan tahun agar kandungan CO2 berkurang ataupun kembali ke kondisi bersih udara.

Pada satu sisi lainnya, bahwa diduga mekanisme pemusnahan yang terjadi pada era transisi P–T adalah sebagai akibat berkurangnya kadar oksigen – bahkan pada level tertentu unsur ini menghilang – dari wilayah laut. Hal ini tampak dari fosil yang ditemukan dan juga pada lapisan tertentu yang diduga sebagai penanda transisi P–T. Penanda kehidupan khususnya pada kandungan unsur organik dari bakteri anoksigenik (anoxygenic photosynthetic bacteria) juga dijumpai pada era Permian akhir.

Dalam kasus keterkaitan dengan analisis bidang ini, sebenarnya banyak kandidat yang telah dijumpai eksistensinya. Tentu saja untuk menyimpulkan satu sebab tunggal akan menjadi sangat sulit karena justru keterkaitannya dengan fenomena terkait lainnya. Sebagai contoh bahwa apabila kesetimbangan CO2 terganggu dalam waktu lama, tentu akan berpengaruh pada semisal kadar oksigen, metana, hingga sulfur (SO2). Bagi makhluk yang sensitif tentu akan terlebih dahulu terdampak, dan selanjutnya akan terjadi proses berantai akibat dampak awal tadi.

 

Gambar 4
Betapa atmosfer yang tampak asri ini dengan proses alaminya
seperti evaporasi, konveksi, pembentukan hujan, kesetimbangan temperatur, dsb.
pada suatu ketika dahulu kala terusik secara ekstrim
sebagai dampak kombinasi fenomena jatuhnya meteor dan letusan gunung berapi.
 (Credit: Astronaut Photo-graph ISS006-E-19436 (Climate-change-earth))

 

Hasil penelitian mengenai masalah yang terkait organisme kehidupan secara individu (salah satunya daya tahan terhadap perubahan lingkungan) serta gabungan efek hipoksia (kurangnya oksigen), hiperkapnia (kelebihan karbon dioksida), naiknya unsur sulfida yang beracun atau toksisitas sulfida, dan kenaikan temperatur yang dijumpai pada invertebrata di laut yang terakumulasi sangat cepat, tentu menjadi tantangan dunia ilmu pengetahuan dari berbagai tinjauan dan ragam bidang keilmuan. Masalahnya karena kita sendiri tinggal di Bumi di mana semua efek ini justru sekarang juga meningkat, perlahan tetapi pasti, dan setidaknya sebagiannya sebagai akibat aktivitas penghuninya sendiri (apabila ditinjau sekarang di kota besar, dominan karena aktifitas manusianya sendiri). Namun, penelitian fisiologis yang dilakukan untuk menganalisis isu lingkungan pada era ke-kini-an tentu dapat berguna untuk menginformasikan pemikiran kita tentang kepunahan yang terjadi pada masa lalu hingga beratus juta ke masa silam. Bagi yang berminat membahas topik ini dapat merujuk pada karya Knoll dan koleganya (Knoll et al, 2007).

 

SALING MENYAPA

Ref.:
nasa/safely-past-earth
dan
List Of The PHAs

Sebuah berita menarik dari NASA bahwa ada asteroid yang relatif besar melintas mendekati Bumi pada tanggal 19 April 2017. Namun, ternyata kali ini kita semua tidak usah khawatir. Aman bagi penduduk Bumi karena walau dikatakan mendekati Bumi, tetap jarak terdekatnya sekitar 1,8 juta kilometer, atau kira-kira 4,6 kali jarak dari Bumi ke Bulan. Meskipun tidak ada kemungkinan asteroidnya bertabrakan dengan planet kita, ini merupakan jarak terdekat dalam kurun ratusan tahun bagi sebuah asteroid dengan ukuran seperti ini (650 m).

Asteroid dengan identifikasi 2014 JO25 ini ditemukan tanggal 5 Mei 2014 oleh astronom dari Catalina Sky Survey, dekat Tucson, Arizona (Mount Lemmon Survey) yang berbasis Proyek Pengamatan NEO NASA yang bekerjasama dengan University of Arizona. Berdasarkan penelitian berbasis wahana NEOWISE yang dilakukan NASA bahwa ukuran asteroid ini kisaran 650 meter. Karakter permukaannya sekitar dua kali lebih reflektif dibandingkan dengan Bulan (albedonya besar). Pada saat ini masih sangat sedikit informasi terkait karakter fisik dari asteroid ini walaupun karakter orbitnya telah diketahui dengan baik.

 

Gambar 5
Tujuan misi AIM (Asteroid Impact Mission) meliputi karakterisasi yang lebih rinci dari pasangan asteroid, peletakan dalam orbit dari satelit peneliti dan pendarat penumbuk ke permukaan asteroid,
pemantauan dampak dari komponen yang sengaja dibenturkan ke asteroid
(DART, kinetic impactor, NASA), pengukuran penyimpangan lintas orbit (akibat tumbukan tadi),
dan telaah karakter kawah yang terbentuk,
serta menyampaikan data ke Bumi melalui teknologi komunikasi berbasis laser.
(Copyright ESA – ScienceOffice.org)
(esa.int/AIM_Infographic)

 

Asteroid mendekati Bumi dari arah Matahari dan terlihat pada kubah langit malam setelah tanggal 19 April (sekitar 2 hari saja sebelum akhirnya hilang dari pandangan mata). Kecerlangannya mencapai magnitudo 11. Sebagai catatan bahwa semakin besar angka magnitudo, benda ini akan semakin redup atau sukar dilihat. Batas kemampuan kasat mata kisaran 6. Artinya, puncak kecerlangan asteroid tersebut 100 kali lebih redup dibanding batas kemampuan kasat mata kita. Jadi, bila ingin melihat harus dengan bantuan alat bantu binokuler atau teleskop.

Sebenarnya, asteroid yang ukurannya kecil banyak dijumpai melintas sangat dekat dengan Bumi bahkan beberapa kali dalam seminggu. Yang sebesar atau sekeluarga dengan 2014 JO25 dalam ukurannya baru yang pertama kali dalam 400 tahun terakhir. Kalau ukurannya besar, pernah terjadi tatkala asteroid bernama  (4179) Toutatis yang berukuran 5 km mendekati Bumi dalam jarak setara, yaitu kisaran 4 kali jarak Bulan pada bulan September 2004. Toutatis ditemukan oleh Pollas tanggal 4 Januari 1989 dan akan mendekat lagi bulan November 2069 dengan prediksi jarak kisaran 3 juta km.

Kedekatan asteroid yang berikutnya diprediksi terjadi tahun 2027 (7 Agustus 2027). Asteroidnya berukuran ±800 m, yaitu asteroid (137108) 1999 AN10. Asteroid ini akan melintas dekat dengan jarak setara jarak Bumi-Bulan, ±398.000 km. Yang sempat ramai diperbincangkan adalah asteroid yang awalnya diidentifikasikan sebagai 2004 MN4 dan kini bernama (99942) Apophis. Diameternya 300-an meter saja dan ditemukan oleh Tucker, Tholen, dan Bernardi tanggal 19 Juni 2004. Diprediksi akan mendekati Bumi tanggal 13 April 2029 dengan jarak hanya kisaran 39.660 km saja (sejarak ketinggian satelit goestasioner yang mirip ketinggian satelit Palapa).

Peristiwa tanggal 19 April menjadi penting khususnya bagi ranah penelitian dan menjadi kesempatan yang sangat baik untuk mengamati asteroid ini dengan beragam peranti. Para astronom pun beramai-ramai mengamatinya dengan teleskop di seluruh dunia untuk mengambil data sebanyak mungkin tentang ragam aspek yang dimilikinya. Pengamatan berbasis radar dilakukan di NASA's Goldstone Solar System Radar di California serta di National Science Foundation’s Arecibo Observatory – Puerto Rico. Data berbasis radar digunakan untuk memperoleh kontur dan karakter permukaannya. Resolusinya diharapkan dapat memetakan hingga kawahnya yang hanya beberapa meter saja diameternya.

Lintas dekat yang terjadi tanggal 19 April adalah yang paling dekat dan diperkirakan baru akan terjadi lagi untuk kisaran 500 tahun ke depan. Uniknya, pada tanggal itu pula, komet PanSTARRS (C/2015 ER61) juga berada pada posisi terdekat dengan Bumi, yaitu kisaran 175 juta km. Komet ini ditemukan tahun 2015 oleh tim survei Pan-STARRS NEO melalui teleskop di observatorium yang terletak di puncak Haleakala, Hawaii. Komet ini masih dalam proses letupan (penguapan dan sublimasi yang aktif) dipermukaannya dan tampak makin cerah.

Bila disimak, bahwa di atas sana ternyata sebenarnya banyak benda yang berlalu lalang. Andaipun mereka “mampir”, mungkin menjadi sesuatu yang sangat wajar. Sampai tanggal 11 Desember 2017, diketahui ada NEA, berupa asteroid sebanyak 17.272 yang telah diketahui datanya di mana 886 diantaranya berdiameter lebih dari 1 km (cneos.jpl.nasa). Berdasarkan lintas orbitnya, sebanyak 1765 asteroid berpotensi berkenalan dengan kita semua (PHA). Selain itu, terdapat 107 komet yang sering mendekati Bumi. Dari penelusuran bahwa kejadian ledakan di Tunguska tahun 1908 diduga kuat adalah akibat jatuhnya pecahan komet Encke yang meluluhlantakkan sekitar 2000 km persegi hutan di sana (Asteroid Bagian 2).

 

Pada tahun 2015, bukti baru dijumpai di daerah Karoo Basin di Afrika Selatan. Dari penelusuran awal bahwa memang terjadi kepunahan global yang terjadi kisaran 250 juta tahun lalu di mana 90% kehidupan laut dan 70% hewan di dunia musnah berbasis penelitian batuan di wilayah tersebut. Yang menjadi pertanyaannya adalah bahwa kepunahan di darat mendahului kepunahan di laut dengan rentang waktu kisaran 1 juta tahun. Analisis fosil yang justru sudah diterima para pakar adalah usia kejadian di wilayah laut, yaitu 251,9 juta tahun lalu. Apabila selama ini kita mengenal makhluk bernama dinosaurus dan kawan-kawannya yang musnah, maka di daerah Karoo Basin ini dikenal hewan bernama Dinogorgon, ada yang digolongkan sebagai synapsids (Sering disebut reptil seperti mamalia atau mammal-like reptiles yang merupakan hewan perpaduan antara anjing dan kadal dan dianggap sebagai generasi pertama vertebrata darat. Selain itu ada pula diictodon, dicynodont, dll. yang mem-fosil (NG/permian-extinction).

Salah satu peneliti di Afrika ini adalah John Geissman, dari Department of Geosciences – Universitas Texas – Dallas yang sejak tahun 2011 turut menguji batuan pada wilayah yang terduga sebagai dampak jatuhnya meteor besar tersebut. Tim ini sendiri dipimpin oleh Robert Gastaldo yang telah lebih dari 10 tahun meneliti batuan dan fosil di Karoo Basin. Penelitian ini juga mendapati adanya anomali medan magnet.

Geissman mencoba uji materi temuannya, yaitu adanya kantong abu vulkanik yang mem-fosil di lapisan bebatuan. Ada keunikannya bahwa abu vulkanik yang terpendam ini 60 meter lebih dalam dibandingkan dengan lokasi lapisan penanda transisi P–T. Artinya aktifitas vulkanik ini berlangsung sebelum terjadinya fenomena kepunahan global. Dari analisis geologi yang dilakukan Geissman dan koleganya diperoleh bahwa kejadiannya terpisah rentang waktu antara 200 hingga 300 ribu tahun. Jadi apabila aktifitas vulkanik terjadi 253,5 juta tahun yang lalu, maka kepunahan terjadi kisaran 253,3 juta tahun yang lalu.

Sebenarnya ada satu fenomena lagi yang harus dipertimbangkan, yaitu adanya fenomena berantai yang berasal dari dalam Bumi. Memang jatuhnya meteor besar (sebut 10 km) terlebih di wilayah daratan jelas dapat menyebabkan terbentuknya kawah dengan segala akibatnya pada permukaan Bumi (dampaknya silakan sedapat mungkin kita bayangkan). Satu yang mungkin juga terdampak adalah apabila wilayah tersebut merupakan daerah vulkanik aktif (banyaknya saluran lava bawah permukaan misalnya). Jatuhnya meteor dapat memicu aktivitas vulkanik yang memang sukar dibayangkan apabila membuat dampak letusan terjadi secara berantai. Memuntahkan material magma di permukaan secara luas. Sekarang dampak ini juga menjadi perhatian para pakar yang salah satunya adalah Balz Kamber dari bidang Geologi dan Mineralogi di Trinity College Dublin. Bersama tim internasionalnya menyimpulkan bahwa tatkala terjadi jatuhnya meteor tersebut seketika diikuti rangkaian letusan gunung berapi yang intens, berkepanjangan dan bersifat eksplosif (ancient-meteorite-impact). Jadi, memang muncul pertanyan baru. Apa kaitan antara Siberian Trap Volcanism dengan rangkaian letusan yang diteliti Kamber? Salah satu solusinya adalah mengetahui data lapisan bawah permukaan. Apakah bersesuaian atau tidak. Bila ditemukan 2 lapisan berbeda artinya kedua fenomena tersebut terjadi dengan waktu yang berbeda. Masalah ini masih dalam pencarian data fisik lapisan Bumi.

Berdasarkan kasus di atas bahwa sangat terasa kalau semakin banyak parameter yang dimasukkan dalam analisisnya, ternyata semakin tidak terbayangkan dampak global yang dapat ditimbulkan oleh fenomena jatuhnya meteor besar; terlebih bersumber dari asteroid yang karakternya cenderung padat dan kecepatan jatuhnya relatif sangat cepat dibanding apabila sumber asalnya adalah sebuah komet. Tentu dengan teknologi observasi yang semakin maju, seharusnya juga membuat kita semakin sadar bahwa objek langit seperti khususnya asteroid acap kali ber”sliwer”an di sekitar kita yang akhirnya membuat kegiatan patroli langit menjadi sesuatu yang “seolah” menjadi keharusan. Andai pun akan berdampak global, berharap kita semua sudah bersiap jauh hari sebelumnya. Kolaborasi internasional pun menjadi sesuatu yang wajib dikedepankan. Kerjasama antara para astronom profesional (ataupun pada bidang terkait) dengan astronom amatir pun menjadi sesuatu yang semakin harmonis, saling menopang satu dengan yang lain guna mendapat data sebanyak dan seakurat mungkin.

 

Sekedar Sezarah Perenungan

Bagaimana kekhawatiran terhadap ancaman fenomena kepunahan global tentunya tidak dapat lepas dari hasil perhitungan matematis. Atas dasar bidang ilmu tersebut, apabila ada asteroid jatuh di Samudra Atlantik, maka seluruh pantai timur Amerika Serikat akan tersapu gelombang laut sampai 200-an km ke arah daratannya. Di Eropa, gelombang ini akan menjangkau hingga jauh ke wilayah Perancis dan Portugal.

 

Gambar 6
Pemetaan Lokasi Sebaran Penjelajah Kecil di Tata Surya.
Warna hijau adalah daerah Sabuk Utama Asteroid, warna biru menggerombol pada lingkaran terluar (lintasan Jupiter) adalah Keluarga Asteroid Trojan.
Melihat distribusi seperti ini rasanya menjadi suatu kelumrahan apabila mereka semua yang begitu dinamis justru saling berbenturan, tidak luput juga adalah perkenalan Bumi dengan asteroid yang berdimensi kecil maupun besar.
(Credit: inner (the Minor Planet Center/IAU))

 

Sementara itu dalam perhitungan lainnya, Owen Toon dan koleganya dari ARC-NASA mendapatkan bahwa apabila besarnya asteroid tersebut kisaran 1 km dan jatuh di lautan berkedalaman 4 km, maka efek gelombang pasang menjangkau daerah seluas Samudra Pasifik. Bagaimana apabila diameternya “hanya” 200 m, tetapi menghujam ke Bumi dengan kecepatan mencapai 60 km per detik (ibarat dari Jakarta pergi ke Bogor naik kendaraan secepat itu, maka satu detik sampai)? Adushkin dan Nemchinov dari Rusia menghasilkan gambaran yang mendebarkan. Sibakan (cipratan awal) air laut dalam tempo beberapa puluh detik dapat mencapai ketinggian 35 km. Inipun harus diperhitungkan arah datangnya.

Banyak sudah simulasi akan fenomena ini dilakukan para pakar; dan jujur harus diakui bahwa dampaknya memang mengkhawatirkan karena terkait “nasib” makhluk – apapun – di permukaan Bumi. Hal ini pula yang menyebabkan Ballistic Missile Defence Organization atau Strategic Defence Initiative Organitation atau Star Wars mengusulkan kerjasama dengan NASA guna merancang satelit penghancur berpeluru kendali sejak awal tahun 80-an (Strategic Defense Initiative dan STAR WARS - Eisenhower). Proyek ini dikenal sebagai Clementine-2 dengan sistem LEAP (Light ExoAtmospheric Projectiles; Lightweight Exo-Atmospheric Projectile). Wahana ini memakai teknologi pendahulunya yaitu Clementine-1 yang berhasil meneliti ulang Bulan (direncanakan juga kala itu untuk meneliti asteroid 1620 Geographos, namun gagal.)

Saat ini sudah banyak objek langit khususnya asteroid yang tergolong EGA yang diwaspadai. Atau, dari keluarga atau kelompok AAA yang digolongkan sebagai kelompok PHA (Potentially Hazardous Asteroid). Contohnya asteroid temuan Scotti tanggal 6 Desember 1997, yaitu asteroid 1997XF11 yang akan lintas-dekat dengan Bumi tanggal 26 Oktober 2028. Atau yang baru-baru ini dilacak yaitu asteroid yang pada tahun 2019 konon akan “berkenalan” dengan kita para penghuni Bumi walau akhirnya diketahui hanya sekedar lintas-dekat saja.

Terlepas dari fenomena di atas, bahwa memang ancaman dari langit ini terasa mengerikan bagi manusia yang justru karena sulit untuk membayangkan keparahan bencana yang akan terjadi. Namun, ditilik dari fenomena astronomis – sekali lagi – hal seperti ini adalah sesuatu yang sangat wajar. Pada sisi lain, kendati menimbulkan kekhawatiran, akan lebih mengerikan lagi apabila kehancuran Bumi ini bukan diakibatkan oleh datangnya objek langit seperti asteroid, melainkan – malah – diakibatkan oleh polah tingkah penghuninya sendiri (baca: umat manusia) yang justru biasanya berlangsung pelan perlahan tetapi pasti.

Dalam kasus ancaman dari hadirnya manusia di muka Bumi sejatinya sangat jelas. Populasi manusia bertambah banyak, seperti saat ini kisaran 7 milyard jiwa. Belum menghitung jumlah flora fauna. Memang teknologi semakin maju, semakin canggih. Namun, konsekuensinya adalah bahwa bahan pangan dan papan makin terkuras. Polusi udara, air, tanah, hingga polusi cahaya (termasuk polusi suara) justru seolah menjadi wajah kehidupannya tanpa dapat dielakkannya. Rona coklat daratan tahun demi tahun semakin meluas apabila dilihat berbasis hasil foto Bumi dari luar angkasa. Ini artinya semakin berkurangnya tumbuhan dan semakin berkurangnya oksigen yang terproduksi. Kini Bumi semakin panas, membuat es di kutub sudah banyak mencair. Jadi, lumrah sekali pada jaman sekarang daerah pesisir secara berkala mengalami pasang ekstrim. Banjir rob menjadi keseharian karena muka air laut semakin tinggi terlebih untuk wilayah ekuator. Belum pertikaian dan mesin perang semakin canggih, senjata nuklir pun semakin populer. Inilah yang saat sekarang menjadi pola hidup manusia di sebuah kapal raksasa yang dijuluki Planet Biru, yang tidak lain adalah Bumi. Dapat jadi – ancaman benda langit seperti yang telah dibahas pada rangkaian artikel “Asteroid” ini – “tokh” andai saja terjadi hanyalah sekedar “momen sesaat” untuk menggugah kesadaran nurani terdalam kita semua; yang rasanya akan terjadi secara sekejap dan spontan dalam kesejatian tiap insan. Atau, .. fenomena seperti ini – kalau terjadi – hanyalah “sekedar” tabuh gong penutup semata dari Yang Maha Memiliki Segalanya.

Dari rangkaian ulasan asteroid sebelumnya dan yang kini hadir (Bagian 1 hingga 5), penulis berharap dapat menambah wawasan pengetahuan bagi kita semua walau sezarah sekalipun. Semoga tetap bermanfaat sebagai bekal melangkah ke masa yang akan datang, walau hanya cukup sebagai bekal penyambung nafas sepenghirupan saja. Sekedar untuk melengkapi rangkaian artikel terkait asteroid ini, penulis masih berharap untuk memaparkan satu topik lagi seputar data nama, sebut saja sekedar intermezzo atau selingan dari keseluruhan bahasan. Salam Astronomi. –WS–

 

Daftar Pustaka

Lihat Daftar Pustaka pada artikel:
Asteroid Bagian 1, Asteroid 2, Asteroid 3,
dan Asteroid 4 dengan tambahan:

  • Becker, L., et al, 2001, Impact Event at the Permian-Triassic Boundary: Evidence from Extraterrestrial Noble Gases in Fullerenes, Science, Vol.291, Issue 5508, p.1530-1533
  • Becker, L., et al, 2004, Bedout: A Possible End-Permian Impact Crater Offshore of Northwestern Australia, Science, Vol.304, Issue 5676, p.1469-1476 (Abstract)
  • Burgess, S. D., et al, 2014, High-precision Timeline for Earth’s Most Severe Extinction, Proceedings of the National Academy of Sciences of the United States of America (PNAS), March, 2014, 111;9, p.3316-3321
  • Dasch, P. (ed.), 2002, Planetary Science and Astronomy – Space Science Volume 2, Macmillan Reference USA – Thomson Gale, New York, p.176
  • Gersonde, R., 2005, The Late Pliocene Impact of the Eltanin Asteroid into the Southern Ocean – Documentation and Environmental Consequences, Geophysical Research Abstracts, Vol. 7, 02449, SRef-ID: 1607-7962/gra/EGU05-A-02449 © European Geosciences Union 2005
  • Gulick, S. et al, 2016, Chicxulub: Drilling the K-Pg Impact Crater, International Ocean Discovery Program – Expedition 364 Preliminary Report – In Collaboration with the International Continental Scientific Drilling Program
  • Kaiho, K., et al, 2001, End-Permian Catastrophe by a Bolide Impact: Evidence of a Gigantic Release of Sulfur from the Mantle, (Abstract), Geology, vol. 29, Issue 9, p.815
  • Kieffer, S. W., 1971, Shock Metamorphism of the Coconino Sandstone at Meteor Crater, Arizona, Journal of Geophysical Research, vol.76, no.23, August 10 – 1971, p.5449-5473
  • Knoll, A. H., et al, 2007, Paleophysiology and End-Permian Mass Extinction, Earth and Planetary Science Letters 256, p.295-313
  • Kring, D. A., 2017, Guidebook to the Geology of Barringer Meteorite Crater, (a k a Meteor Crater), 2nd Edition, Lunar and Planetary Institute (LPI Contribution No. 2040)
  • Kring, D. A. et al, 2017, Chicxulub and the Exploration of Large Peak-Ring Impact Craters through Scientific Drilling, (GSA Today, v.27, doi:10.1130 / GSATG352A.1. Copyright 2017), The Geological Society of America
  • Pope, K. O. et al, 1993, Surficial geology of the Chicxulub Impact Crater, Yucatan, Mexico, Abstract, National Center for Biotechnology Information, U.S. National Library of Medicine (Geology, 1996: 24(6): p.527)
  • Pope, K. O. et al, 1996, Surface Expression of the Chicxulub Crater, Abstract, National Center for Biotechnology Information, U.S. National Library of Medicine (Earth Moon Planet, 1993: 63: p.93)
  • Renne, P. R. et al, 2013, Time Scales of Critical Events Around the Cretaceous-Paleogene Boundary, Science 339:684 (8 February 2013)
  • Winemiller, T. L., 2007, The Chicxulub Meteor Impact and Ancient Locational Decisions On the Yucatán Peninsula, Mexico: the Application of Remote Sensing, GIS, and GPS in Settlement Pattern Studies, Tampa, Florida: American Society for Photogrammetry and Remote Sensing, retrieved October 2, 2012

 

Situs
Lihat Daftar Situs pada artikel:
Asteroid Bagian 1, Asteroid 2, Asteroid 3, dan Asteroid 4 dengan tambahan:

Astrobiofindings-rock-long-held-assumptions-about-ancient-mass-extinction
Lightweight Exo-Atmospheric Projectile - Wikipedia
List of unconfirmed impact craters on Earth - Wikipedia
List Of The Potentially Hazardous Asteroids (PHAs)
NGnews/great-dying-permian-mass-extinction-science
Permian–Triassic extinction event
Skyandtelescope/did-an-impact-trigger-the-great-dying
'STAR WARS' Traced to Eisenhower Era
Strategic Defense Initiative - Wikipedia
https://www.astrobio.net/
https://www.astrobio.net/meteoritescomets-and-asteroids/ancient-meteorite-impact-sparked-long-lived-volcanic-eruptions-earth/
https://www.astrobio.net/news-exclusive/energy-cycles-planets-can-tell-us-climate-change-earth/
https://www.donaldedavis.com/PARTS/KTHIT.jpg
https://www.e-education.psu.edu/earth104/
https://www.ecns.cn/
https://www.esa.int/Our_Activities/Space_Engineering_Technology/Asteroid_Impact_Mission/Asteroid_Impact_Mission2
https://www.humboldt.edu/hsmc/
https://www.minorplanetcenter.net/iau/lists/InnerPlot.html
https://www.nationalgeographic.com/
https://www.nasa.gov/feature/jpl/asteroid-to-fly-safely-past-earth-on-april-19
https://www.passc.net/EarthImpactDatabase/Worldmap.html
https://www.pnas.org/content/suppl/2014/02/05/1317692111.DCSupplemental
https://www.sciencedaily.com/
https://www.skyandtelescope.com/
https://adsabs.harvard.edu/abs/2004Sci...304.1469B
https://en.wikipedia.org/wiki/Pangaea#/media/File:Pangaea_to_present.gif
https://earthobservatory.nasa.gov/?eocn=topnav&eoci=home
https://geology.geoscienceworld.org/content/29/9/815
https://news.nationalgeographic.com/news/2011/11/111121-great-dying-permian-mass-extinction-science/
https://phys.org/
https://science.sciencemag.org/content/293/5539/2343
https://ssd.jpl.nasa.gov/sbdb.cgi?sstr=P/2010+A2
https://web.mit.edu/
dan yang tertulis langsung pada artikel.