Written by Widya Sawitar

User Rating: 5 / 5

Star ActiveStar ActiveStar ActiveStar ActiveStar Active
 
AQUARIUS
SANG PEMBAWA AIR KEHIDUPAN

Bagian Pertama

 

Gambar 1
Lukisan Aquarius dalam the Atlas Coelestis karya John Flamsteed (1729).
Tampak ujung aliran air yang ditumpahkan dari pasu
berakhir di mulut rasi bintang Ikan Selatan, Piscis Austrinus.
(ianridpath/Aquarius)

 

“The sun his locks beneath Aquarius tempers,
And now the nights draw near to half the day,
What time the hoar frost copies on the ground
The outward semblance of her sister white,
But little lasts the temper of her pen”

(Kutipan: Longfellow's translation of Dante's Inferno - penelope.uchicago.edu/Aquarius)

 

Gambar 2
Simbol yang umum untuk Aquarius, air beriak.
Hal ini berawal dari budaya Mesir Kuno,
yaitu dari simbolisasi yang terdapat pada huruf hiroglif yang maksudnya adalah air
yang terkait dinamika air sungai Nil.
(wiki/commons/Aquarius.svg.png)

 

Kisah Masa Lalu

Pembahasan bab sejarah di sini utamanya diambil dari Star Names: Their Lore and Meaning karya Richard Hinckley Allen dalam bukunya (Allen, 1963) dan situs penelope.uchicago.edu/Aquarius, serta dengan tambahan lainnya untuk pelengkap.

Dijabarkan bahwa istilah untuk nama Aquarius secara harfiah adalah Manusia Air (Inggris: the Waterman; Italia: il Aquario; Perancis: le Verseau; Jerman: der Wassermann), termasuk Allen pun menamainya The Waterman. Secara fakta di kubah langit, bahwa Matahari melewati wilayah rasi bintang ini tatkala musim hujan di negara-negara tersebut. Namun, sebenarnya banyak pula rasi bintang atau dalam mitologinya terkait dengan air. Sebut semisal Capricornus, Cetus, Delphinus, Eridanus, Hydra, Pisces, dan Piscis Australis, di mana semuanya adalah makhluk air. Ditambah dengan Argo dan Crater di wilayah sekitarnya.

Wilayah Aquarius dan sekitarnya di kubah langit terkadang disebut Laut (The Sea). Bagian langit ini terlihat gelap dan tampak “dalam”. Namun, tentu saja ada bintang di sini, karena sejatinya bintang-bintang berada di keseluruhan bola langit. Daerah gelap ini dapat jadi merupakan daerah di luar piringan galaksi yang terejawantahkan di kubah langit sebagai daerah di luar selendang putih Bima Sakti. Atau dapat jadi daerah awan putih Bima Sakti yang penuh “debu” layaknya yang dilihat leluhur kita tentang adanya ular besar atau naga yang bertarung dengan salah satu tokoh Pandawa, yaitu Bima, yang lalu melahirkan nama Bima Sakti. Bintang-bintang di bagian langit ini cenderung sangat redup. Kebanyakan pada awal lahirnya mitologi di Eropa, para pengamat langitnya menghubungkan pola bintang di sini dengan air langit. Dari sinilah lahir penamaan seperti Cetus sang ikan paus, Pisces sang ikan, Eridanus yang merupakan gambaran sungai, dan Piscis Austrinusthe Southern Fish.

Pada era Aratos dinyatakan sebagai karakter air dan bagi masyarakat sekitar Eufrat dikaitkan dengan laut dan dianggap semuanya di bawah naungan Aquarius. Yang populer gambarannya adalah pemuda yang menuangkan air dari pasu (jambangan besar).

Mungkin dapat ditelusuri kisah yang lebih dahulu muncul. Pada era Babylonia awal, terdapat penggambaran sebagai manusia dewasa (kadang remaja) yang menuangkan air dari guci dan membawa kain (handuk) di tangan kirinya. Kadang hanya bagian penuangannya saja yang tergambar, tidak utuh ujud manusianya. Sementara itu dalam masyarakat Arab, sempat menggambarkannya sebagai keledai dengan 2 tong air yang perlahan kisahnya hanya dengan sebuah ember saja. Ini terjadi pada era Ulugh Beg berbasis ilustrasi dari karya Hyde Situla (Romawi), yaitu Well-bucket. Namun, Al Bīrūnī kemudian menggambarkannya (dalam kajian astrologinya) sebagai Amphora (wadah anggur dengan dua buah pegangan) yang diduga bahwa kisahnya pun tidak orisinal, melainkan berasal dari Ausonius, penyair abad 4 (yang juga dalam mitologinya melahirkan tokoh Urnam). Bahkan Vercingetorix, musuh besar kaisar Romawi dari Gaul (52 SM) telah mengisahkannya lewat tokoh yang mirip, Diota.

Pada masyarakat Romawi, juga dikenal sebagai salah satu simbol Zodiak, yaitu Peacock sebagai simbolisasi tokoh Juno yang merupakan adaptasi dari kisah Yunani yang menceritakan tokoh Herē atau Hera yang dalam aplikasinya terkait dengan periode bulan Gamelion (Januari – Februari) di mana kala inilah Matahari melintasi wilayah rasi bintang tersebut. Kadang juga dikaitkan dengan Goose, sejenis burung suci para dewi. Kisah ini pun pada era awal masehi dikaitkan dengan kisah religius.

Apabila melihat rentang waktu pemunculan kisah terkait Aquarius, sangat terasa cukup panjang dan merupakan adonan ragam budaya. Namun, kendati bergenerasi dan beragam budaya, kisahnya nyatanya konsisten terkait “manusia menuangkan air”. Di Yunani sebagai Penuang Air berbasis karya Catullus dengan sebutan Hydrochoüs, juga Germanicus (Hydrochoös) yang walau pada era selanjutnya menjadi Aquitenens atau Fundens Latices sebagai personifikasi dari tokoh Deucalion tatkala terjadi banjir besar (1500 SM). Deucalion adalah anak Prometheus yang bersama istrinya, Pyrrha, berhasil selamat dari banjir yang dikirim oleh Zeus sebagai hukuman atas kelemahan sifat manusia; kemudian pasangan ini ditugaskan untuk melemparkan batu ke belakang pundak mereka. Batuan tersebut yang pada akhirnya menjadi manusia yang kembali memenuhi Bumi).

Bagi sebagian bangsa Yunani, pemuda remaja belia ini identik dengan Ganymede (Ganymedes) yang dalam beberapa kasus berarti keriangan dalam kekuatan. Sebagai anak raja Tros dari Troy (Trojan), Ganymede adalah remaja belia paling tampan yang pernah hidup hingga para dewa memilihnya sebagai pembawa cawan emas berisi divine nectar, minuman para dewa. Nama dan kisah terkait Ganymede dan Zeus yang populer ini juga tampil pada karya Cicero, Hyginus, dan Vergil; dan dalam karya Ovid (Fasti) dengan tokoh Ganymede Juvenis, Puer Idaeus, dan Iliacus. Dalam kisahnya bahwa air yang dituang oleh Ganymede pada cawan Zeus merupakan air kehidupan bagi Bumi dalam konteks penciptaan. Statius dalam karyanya, Thebais, menulis kisahnya juga:

 

Then from the chase Jove's towering eagle bears,
On golden wings, the Phrygian to the stars.

 

Manilius (Romawi) dalam karyanya juga mengisahkan mengenai pasangan hidup Aequoreus Juvenis (Juve sendiri selanjutnya dikenal sebagai Zeus/Jupiter; atau dalam telaah keplanetan dikenal adanya planet Jovian atau planet keluarga Jupiter) yang mengisahkan Zeus yang hidup bersama pasangannya, Ganymedes, remaja pria nan cantik dari Phrygian yang merupakan anak dari raja Tros yang bertugas membawa sajian minuman para dewa (dapat juga lihat kisahnya pada Taurus Bagian 1).

 

Gambar 3
Contoh lain rekaan gambar artistik Aquarius.
(crystalinks/Aquarius)

 

Versi belakangan dari Manilius menyatakan bahwa Aquarius (Aequoreus Juvenis) adalah pemuda belia nan cantik penuang minuman yang dikisahkan diculik oleh seekor elang (diejawantahkan sebagai rasi bintang Aquila) yang tenyata adalah penyamaran Zeus. Tatkala sedang menggembala di Gunung Ida, Zeus sangat terkesima akan keelokannya dan ingin menjadikannya sebagai pendamping hidupnya. Zeus pun menyamar sebagai elang untuk membawa Ganymede ke Olympus (kisah lain agak berbeda bahwa Aquila adalah utusan Zeus). Hebohlah Olympus. Hebe, putri Zeus keberatan karena biasanya dialah yang bertugas sebagai penyedia minuman para dewa (Hebe adalah istri Hercules); sementara Hera, istri Zeus amat cemburu karena sangat akrabnya Zeus dengan Ganymede. Ini membuat Zeus murka dan justru akhirnya, agar selalu diingat, Ganymede (Aquarius) diberi kedudukan tinggi di langit di lautan bintang yang kini dikenal sebagai rasi bintang Aquarius.

Dijumpai pula tokoh Aristaeus, sebagai Yang Menghidupi yang membawa hujan di wilayah Ceos dan Cecrops, daerah yang senantiasa berembun, di mana telur ditetaskan hanya dengan pancuran (air kehidupan). Bagi penyair dan sejarawan Appian, pada abad 2, menyebutnya sebagai Hydridurus. Nama terkait Aquarius ini muncul kembali pada tahun 1515 pada buku Almagest (Ptolemy) dengan nama Idrudurus dan Hauritor Aquae. Penyair besar Yunani lainnya, Pindar, menyebut tokoh ini sebagai simbolisasi sumber mata air sungai Nil, air kehidupan di Bumi. Sastrawan Horace menambahkan pada karyanya Tyrannus Aquae, dan bahwa tokoh ini terkait pula dengan "saddening the inverted year," di mana James Thomson (1700 – 1748) melukiskannya dengan:

 

fierce Aquarius stains th' inverted year;

 

sementara Vergil menyebut tokoh ini sebagai Frigidus, dan menggambarkannya dengan hal yang sama di mana suasananya mirip tatkala musim tersebut berlimpah dengan tebaran embun dan limpahan hujan:

 

Extremoque inrorat Aquarius anno.

 

Di Babylonia, hadirnya Aquarius dikaitkan dengan bulan ke 11 Shabatu (Arax Šabatu, the Destroying Month atau Arax Arrat Zunne, bulan Kutukan Hujan, Curse of Rain yang terkait dengan banjir besar), yang kini jatuh pada bulan Januari (+ Februari). Sesuai Zodiak ke 11 karena dulu Maret adalah bulan pertama kalendernya. Sementara itu, (?) dalam dalam Kisah Penciptaan terdapat catatan mengenai banjir besar (buku 11).

Pada masanya di wilayah tersebut, nama tokohnya sendiri disimbolkan dengan gambaran Gu, sebuah guci yang airnya meluap, Akkadia Ku-ur-ku, the Seat of the Flowing Waters. Kadang muncul tokoh yang terkait, yaitu Rammān atau Rammānu, Dewa Badai, yang pada era sebelumnya disebut Imma, yang digambarkan sedang menuangkan air dari vas bunga walau kala itu kehadiran para dewa juga tidak terlalu dominan dalam pola keseharian masyarakatnya. Beberapa peneliti menyatakan bahwa Lord of Canals adalah asal kata masyarakat Akkadia untuk Aquarius dan telah muncul sejak 15.000 tahun yang lalu, di mana tatkala Matahari masuk wilayah rasi bintang ini sekaligus sebagai pertanda meluapnya sungai Nil (artinya mereka sudah sangat jeli karena secara sadar ataupun tidak sudah merekam jejak gerakan presesi Bumi. Gerakan presesi oleh Ptolemy digunakan untuk perhitungan astronomis untuk mengetahui posisi yang benar dari benda langit. Namun, tidak untuk keperluan astrologinya. Pada era inilah terjadi perbedaan mendasar antara Astronomi dan astrologi yang berkelindan dengan ramal meramal nasib).

Aben Ezra menyetarakan penamaan ini dari budaya Mesir kuno, Monius, yang berawal dari Muau yang berarti air. Adapun Kircher menamai Aquarius sebagai Brachium Beneficum, the Place of Good Fortune di mana Brown hanya memetakan 4 bintang di wilayah rasi itu, yaitu Alpha – Gamma – Zeta dan Eta Aquarii yang disebut sebagai Coptic Lunar Station. Kisah lainnya dari Serviss,

 

the ancient Egyptians imagined that the setting of Aquarius
caused the rising of the Nile,
as he sank his huge urn in the river to fill it.

 

Masyarakat Mesir pada masanya menganggap tokoh Aquarius ini adalah dalam wujud Dewa (sungai) Nil, Hapi, yang bertugas “mendistribusikan air kehidupan” ke penjuru langit dan Bumi. Pasu bagi mereka adalah simbol dari sumber takdir yang baik. Namun keunikannya, dalam kisahnya bahwa hal ini juga sebagai pertanda banjir sungai Nil (terkait tokoh atau rasi bintang Orion, juga bintang Sirius).

 

Ranah Arab

Pada budaya di Arab juga dikenal kisah ini dengan sebutan tokohnya adalah Ad/Al Dalw, the Well-bucket; dan dari Kazwini, dengan istilah Al Sākib al Mā᾽, Penuang Air, yang berhasil dicatat dalam Edeleu of Bayer dan Eldelis of Chilmead. Masyarakat Persia menyebutnya Dol atau Dūl (Pada masyarakat Persian Bundehesh disebut Vahik); masyarakat Yahudi memberi istilah Delī (Riccioli's Delle); Syria sebagai Daulo; Latin Dolium; Turki Kugha, dan semuanya berarti wadah air (pasu/ember/tong) (icoproject.org).

 

Gambar 4
Ilustrasi Aquarius di ranah Arab (icoproject.org)

 

TABEL 1
Urutan 10 Rasi Bintang Terluas di Kubah Langit.
Tampak bahwa wilayah Aquarius cukup luas, yaitu pada urutan ke 10 (icoproject/cons)

No. Nama Genitif Singkatan   LUASAN
(square degrees)
1 Hydra Hydrae Hya The Water Snake
(Ash-Shuja'a)
1.302,844
2 Virgo Virginis Vir The Maiden
(Al-'Athraa)
1.294,428
3 Ursa Major Ursae Majoris UMa The Great Bear
(Ad-Dubb Al-A'kbar)
1.279,66
4 Cetus Ceti Cet The Whale
(Qayttas)
1.231,411
5 Hercules Herculis Her The Son of Zeus
(Al-Jathi)
1.225,148
6 Eridani Eridani Eri The River
(An-Nahr)
1.137,919
7 Pegasus Pegasi Peg The Winged Horse
(Al-Faras Al-A'adham)
1.120,794
8 Draco Draconis Dra The Dragon
(At-Tinneen)
1.082,952
9 Centaurus Centauri Cen The Centaur
(Qanttorus)
1.060,422
10 Aquarius Aquarii Aqr The Water-bearer
(Ad-Dalw)
979,854

 

Ranah Tiongkok

Gambar 5
Filosofis Peta Langit Tiongkok yang terdapat 4 penjaga langit yang tersebar ke 4 penjuru mata angin. (idp.bl.uk/sky)

 

Di Tiongkok, rasi bintang Aquarius bergabung dengan Capricornus, Pisces, dan sebagian Sagittarius, bahkan hingga Pegasus dengan simbolisasi langitnya adalah penyu/kura-kura; Turtle, Tien Yuen; lihat artikel scorpius-sang-kalajengking. Ada yang menyebutnya Black Warrior (lihat juga Chinese_constellations) dan selanjutnya dikenal sebagai Hiuen Ying, the Dark Warrior and Hero atau Darkly Flourishing One: Hiuen Wu atau Hiuen Heaou, yaitu pada era dinasti Han (peneliti Dupuis menyebutnya Hiven Mao). Kelompok bintang ini merupakan simbolisasi kaisar Tchoun Hin, yang pada saat pemerintahannya terjadi banjir besar. Tiba saatnya kelompok Jesuit masuk, menjadi Paou Ping, the Precious Vase, yang terdiri dari 3 sieu (moon station) dan urutan pertama dalam Zodiaknya adalah hewan tikus di mana pada wilayah timur-jauh kisah sentralnya berkaitan dengan air dan penggambaran ini masih berlangsung hingga kini dalam almanak daerah Asia Tengah (Cochin China dan Jepang). Cukup lengkap lihat pada Aquarius/Chinese.

 

TABEL 2

Sama dengan pada kasus Scorpius Sang Kalajengking, maka untuk Aquarius berlaku identifikasi seperti tertera pada tabel di bawah. Kura-kura Hitam (ada yang menganggap kura-kura, ada yang mengatakan penyu, turtle), Xuan wu (玄武), dianggap sebagai penjaga gerbang utara dan merupakan representasi dari musim dingin; Diyakini sebagai simbol umur panjang, kura-kura utara ini sering digambarkan bersamaan dengan seekor ular. Penyatuan kedua makhluk ini dianggap sebagai pengejawantahan pencipta dan penciptaan Bumi. Selain itu, juga merupakan simbol air. Dalam kasus keterkaitannya dengan air, praktis sama dengan budaya manca negara (wiki/Chinese constellations; idp.bl.uk/sky).

Black Tortoise (北方玄武)

Musim Dingin

Penjaga Gerbang Utara






斗 (Dǒu) (Southern) Dipper Phi Sgr
牛 (Niú) Ox Beta Cap
女 (Nǚ) Girl Epsilon Aqr
虛 (Xū) Emptiness Beta Aqr
危 (Wéi/Wēi) Rooftop Alpha Aqr
室 (Shì) Encampment Alpha Peg
壁 (Bì) Wall Gamma Peg

 

Kaitannya dengan hadirnya kura-kura dan ular dapat ditelusuri dari kisah klasik Journey to the West karya Wu Cheng-en. Diceritakan bahwa Xuanwu adalah seorang raja wilayah utara yang memiliki dua bawahan yang diandalkan, dengan julukan "Tortoise General" dan "Snake General". Dewa ini memiliki sebuah kuil di Pegunungan Wudang di Hubei dan kini di sana dikenal adanya "Gunung Kura Kura" dan "Gunung Ular" di sisi seberang dari sebuah sungai dekat Wuhan, ibu kota Hubei. Legenda Tao mengatakan bahwa Xuanwu adalah seorang pangeran dari penguasa Tiongkok. Namun, tidak tertarik untuk menduduki tahta kerajaan, bahkan memilih untuk meninggalkan orang tuanya pada usia 16 tahun dan belajar Taoisme. Menurut legenda, konon dia akhirnya mencapai status spiritual kedewaan dan disembah sebagai dewa langit utara. Inilah yang menjadi pengejawantahan kura-kura dan ular pada kubah langit utara yang juga terkait dengan musim dingin (Jenner, 1955). Penulis sendiri belum tuntas dalam menelusuri naskah yang lebih dari 1400 halaman tersebut (mungkin ada pembaca yang berminat mempelajarinya?) Tokoh yang ditemukan adalah Xuanzang, berawal dari bayi yang terbuang yang diambil oleh pendeta Budha, dan kemudian saat remaja hendak mengembara mencari bapak ibunya. Dalam naskah ini pun juga hadir tokoh Sun Wukong (Sun Go Kong, Monkey Awakened to Emptiness, yang terkenal sebagai Raja Kera. Kisahnya pun populer di Indonesia).

Legenda lainnya (belum diketahui eranya), bahwa selama dalam pencarian jati dirinya, dia harus membersihkan semua dagingnya (mungkin lebih tepatnya adalah tubuh wadagnya). Bagaimana pun sebagai manusia, apapun yang dilakukan masih erat melekat dengan hal keduniawiannya. Tiba waktunya taraf kedewaan diraihnya, maka segala organ manusianya (perut dan yang terkait pencernaan) berubah menjadi kura-kura dan ular. Dalam kasus ini justru kedua hewan ini menjadi energi negatif (setan, dll.) dan meneror (menjadi penggoda) manusia. Mungkin dalam bahasa keseharian, bahwa selama manusia masih berkutat pada urusan perut, maka selama itu pula tingkat spiritualnya akan berhenti; tidak akan bergerak ke tingkat yang lebih tinggi, bahkan lebih sering tergelincir dalam dunia negatif (tidak lebih dari urusan duniawi semata). Setelah mencapai taraf kedewaan, Xuanwu pun mendengar tentang sepak terjang kedua makhluk tersebut dan kembali ke Bumi untuk melenyapkan sang monster. Namun, tatkala ular dan kura-kura itu menunjukkan penyesalannya, maka Xuanwu tidak jadi membunuh mereka melainkan  justru membiarkan mereka berlatih (?; martial arts atau melakukan tahapan latihan olah spiritual) dibawahnya untuk menebus kesalahannya. Mereka akhirnya menjadi Jenderal Kura-kura dan Ular dan membantu Xuanwu dalam pengembaraannya (Legenda lain mengatakan bahwa organ-organ fana dilempar keluar menjelma atau berubah menjadi Gunung Kura-kura dan Ular Wuhan).

(https://en.wikipedia.org/wiki/Black_Tortoise) Menurut sumber lain (sejatinya alternatif ceritanya cukup banyak, layaknya budaya yang turun temurun ber-generasi terlebih di ranah Tiongkok yang sangat luas dan budaya perantauan mereka yang sangat terkenal sejak dahulu kala) bahwa tatkala Xuanwu mulai merambah pada dunia pencerahan spirit, muncullah kesadaran ke-hakiki-annya dan memulai tahapan pembersihan diri dari semua dosa masa lalunya untuk menuju ranah spirit tertinggi, jiwa ketuhanan. Untuk mencapainya dikisahkan Xuanwu “mencuci” perut dan ususnya di sungai. Membersihkan dan menyucikan seluruh organ dalam tubuhnya, dosanya terlarutkan ke dalam air dalam bentuk nan gelap dan hitam. Inilah yang kemudian menjelma menjadi kura-kura hitam dan seekor ular yang menebar teror ke seantero Bumi. Begitu Xuanwu mengetahui hal ini, maka ditundukkanlah mereka berdua.

Pada kisah lainnya lagi, Xuanwu (玄武 "Dark Warrior" atau "Mysterious Warrior") atau Xuandi (玄 帝 "Dark Deity"), juga dikenal sebagai Zhenwu (真 武) atau Zhenwudadi (真 武大帝); True Warrior Great Deity, yang merupakan salah satu dewa dalam keyakinan masyarakat Tiongkok, dan salah satu dewa berderajat tinggi dalam ajaran Taoisme. Dia dipuja sebagai dewa yang tangguh, mampu mengendalikan unsur-unsur dan mampu menunjukkan mukzizat. Diidentifikasi sebagai dewa bagian utara Heidi (黑 帝 "Dewa Hitam") dan sangat dipuja oleh pelaku martial arts. Dia juga dianggap sebagai dewa pelindung bagi masyarakat wilayah Hebei, Manchuria, hingga ke Mongolia. Seperti halnya yang terjadi pada wilayah Kanton dan Min Selatan (terutama Hokkien) sampai ke wilayah selatan dari Hebei (wilayah Dinasti Song), Xuanwu juga banyak dihormati di wilayah Fujian dan Guangdong serta di antara para perantauan Tiongkok di bebagai wilayah (budaya yang dibawanya ke perantauan).

Sejak merebut tahta kekaisaran, Kaisar Yongle dari Dinasti Ming menyatakan bahwa kehadiran Xuanwu selama Kampanye Jingnan membuatnya meraih kejayaan melawan keponakannya sendiri. Dia pun memiliki biara Tao yang dibangun di Pegunungan Wudang di Hubei di mana Xuanwu diyakini masyarakat berhasil mencapai taraf keabadian (tingkat kedewaan) (wiki/Xuanwu).

Dalam pemetaan langit yang lebih modern, bahwa bintang di rasi bintang Aquarius, yang dalam pemetaan sekarang diidentifikasi sebagai Iota, Lambda, Sigma, dan Phi Aquarii ditambah dengan beberapa bintang di rasi bintang Capricornus dan Pisces, membentuk asterism (layaknya asterism Lintang Waluku keterkaitannya dengan Orion) Luy Peih Chin, the Camp with Intrenched Walls. Perunutan identifikasi Aquarius nyatanya berkembang pada budaya di seluruh dunia termasuk di Indonesia.

 

Budaya Nusantara

(wiki/Xuanwu; Chen Fu Zhen Ren; Riwayat Klenteng Tertua di Jawa Timur dan Bali) Di Indonesia, hampir setiap candi atau kuil terkait ajaran Tao senantiasa menyediakan altar untuk Xuantian Shangdi. Dari penelusuran bahwa kuil pertama yang terkait hal ini ada di Welahan, Jepara, Jawa Tengah. Sementara kuil yang memang dipersembahkan pada tokoh ini sebagai penghormatan adalah kuil di Gerajen dan Bugangan di Semarang, Jawa Tengah. Festivalnya dirayakan setiap tahun setiap hari ke 25, bulan ke 2 dalam kalender China. Penghormatan terhadap Chen Fu Zhen Ren, terutama di Kuil Tik Liong Tian, Rogojampi, Kabupaten Banyuwangi, Jawa Timur, dilakukan berbasis kepercayaan bahwa Xuantian Shangdi adalah dewa pelindung mereka. Itulah sebabnya mereka meletakkan altar persembahannya di sisi kanan altar persembahan bagi Chen Fu Zhen Ren, di ruang utama bagian tengah yang selalu diperuntukkan bagi dewa utama.

Chen Fu Zhen Ren (Tan Hu Cin Jin) adalah dewa leluhur orang Tionghoa Indonesia yang tinggal di wilayah Kabupaten Banyuwangi, Jawa, Bali, dan Lombok. Ia juga dihormati oleh penduduk asli Bali dan Jawa (Kejawen). Kuil persembahan bagi Chen Fu Zhen Ren sebagai dewa utama mereka tersebar di wilayah tersebut; namun, tokoh ini juga dikenal oleh masyarakat Jawa Barat dan negara-negara lain seperti Singapura dan Belanda karena dampak perdagangan dan penelitian akademis.

Pada sisi aplikasi lainnya, bahwa setelah terjadinya akulturasi budaya dengan budaya Arab, maka dikenal adanya penyebutan Aquarius dengan istilah Lintang Dalwi (umumnya di Jawa), Benteung Delu/Dalu (ranah Sunda), Bintang Dalui (Madura), Isaka/Dalwu (Yogyakarta, lihat pula tabel di bawah). Sementara itu di Minahasa disebut Simsim (Maass, p.432-444); atau dalam masalah pranatamangsa, penulis kutip contohnya:

 

“Der siebente zeitabschnitt des sonnejahres dauert 43 tage, ungefahr vom 21 dezember bis 2 februar inklusive. In dieser Zeit wird kein saatpadi mehr ausgestreut und man beginnt den zuerst gesaten padi auszupflanzen. Der lintang wuluh steht auf ungefahr 450 (hohe) und der lintang luku auf 250 am ostlichen himmel” (Maass, 1924, p.119).

Mangsa Kapitu (Musim ke 7) berbasis Tahun Matahari (kalender Syamsiah) berlangsung dengan rentang waktu 43 hari. Mulai sekitar tanggal 21 Desember dan berakhir kisaran tanggal 2 Februari. Pada rentang waktu ini tidak ada “saat padi” (menebar lebih banyak) dan (justru baru akan mulai) menanam padi. Lintang Wuluh (di sini adalah Lintang Kartika atau Pleiades) berada pada ketinggian sekitar 45 derajat dan Lintang Waluku (Orion) pada ketinggian 25 derajat di belahan langit timur (biasanya diamati tatkala Matahari terbenam sebagai standard observasi).

 

Dari Serat Centhini (Paku Buwana V, 1989, p.39):

 

“Dene surupipun lintang wuluh nuju mangsa, ing ka-siji ka-sapta Mandhasiyeki, soma manis wukunya.”

 

Dalam pranatamangsa di Indonesia pun masih umum ditentukan berbasis mindset astrologi di mana penentuan mangsa berdasarkan textbook jaman awal masehi dan kalau dibandingkan dengan primbon yang ada malah menjadi kurang jelas patokannya. Terlalu beragam. Sebagai contoh pada buku Pranatamangsa (Sindhunata, 2011). Pada penentuan mangsa kapitu (yaitu satu di antara musim rendheng, yaitu rentetan musim ke 7/kapitu, 8/kawolu, dan 9/kasanga). Dinyatakan bahwa mangsa ini berada dalam ayoman Bintang Tula (Naraca/Libra) dengan pelindung Dewa Sanghyang dan rentang waktunya antara kisaran tanggal 22 Desember hingga 2 Februari dengan sifat wisa kentar ing maruta (musimnya hujan angin, banjir, dan penyakit). Bila ditilik waktunya, maka yang jadi patokan dapat disamakan dengan apa yang dinyatakan oleh Thomas Stamford Raffles pada bukunya (The History of Java) berbasis manuscript dari kraton di Cirebon. Pembanding dapat dijumpai pada buku Tijdschrift voor Indische Taal, Land en Volkenkunde (Maass, 1924).

Patokan di atas dapat kita bandingkan pada tabel di bawah (Sawitar, 2015):

 

Tabel 3 Patokan Tanggal
Sebagai pembanding diberi patokan Sagittarius dan Capricornus.

ZODIAK KLASIK
(HOROSKOP)
EPOCH 2000
(KENYATAAN KINI)
RENTANG
SAGITTARIUS 22 NOV – 21 DES 18 DES – 21 JAN 34 HARI
CAPRICORNUS 22 DES – 21 JAN 21 JAN  – 16 FEB 26 HARI
AQUARIUS 22 JAN – 21 FEB 16 FEB  – 11 MAR 24 HARI

 

Jadi, dalam kasus di atas, apabila diambil patokan kubah langit perbintangannya pada era awal masehi, maka mangsa kapitu meliputi Capricornus dan sebagian Aquarius. Artinya berada pada pengayoman Lintang Makaram dan Lintang Kumbam. Adapun penamaan dapat lihat tabel di bawah (Sawitar, 2015):

 

Tabel 4 Nama Rasi Bintang dalam Budaya Nusantara
Untuk Solo dan Bali sebenarnya tidak berbeda dengan wilayah/budaya
semisal berbasis Sumatera (Markumba), yaitu tempayan (Maass, p.17)
atau dari Toba-Batak (Morhumba; Maass, p.29).

CAPRICORNUS Sanskrit: MAKARAM
Yogyakarta: UNGKER (kepompong) atau PALGUNA
Solo: YUYU (Ketam sungai; karakter: musim basah berdasar Anggara Mars)
Bali: MEKARA (Udang atau monster laut, kadang berkepala kala)
AQUARIUS Sanskrit: KUMBAM
Yogyakarta: PUSUH (Gulungan kapas) atau KUBA atau ISAKA
Solo: JAMBANGAN (Tempayan; nama gunung; karakter di bawah Batara Wisnu)
Bali: KUMBA (Jambangan/tempayan besar atau kepala)

 

Apabila Lintang Naraca/Libra, dapat dibandingkan waktunya:

 

Tabel 5 Libra

LIBRA 22 SEP – 21 OKT 31 OKT – 23 NOV 23 HARI
  Sanskrit: TULAM
Yogyakarta: WALUKA (Pasir) atau SITRA (Timbangan)
Solo: TRAJU (Timbangan; karakter di bawah Batara Guru)
Bali: TULA or TULARASI (Timbangan)

 

Apabila menilik manuscript Tiongkok pada era awal masehi, mereka sejatinya telah mendata daerah langit yang terkait dengan mangsa kapitu jauh lebih cermat karena pada patokannya sudah meliputi Sagittarius (berbatas Capricornus), Capricornus, dan Aquarius (berbatas Capricornus). Memang penelusuran ini tentu harus dirunut lebih cermat lagi. Terlebih di sini yang menjadi bahasan adalah aspek Astronomi, dan sama sekali tidak terkait dengn ramal meramal nasib dalam ranah astrologi. Masalah ramal meramal terserah kepada pembaca sekalian karena itu masalah keyakinan. Namun, yang sangat jelas di sini adalah pemetaan langit sesuai yang disuguhkan oleh langit, sebagai salah satu amanat untuk “membaca” alam secara objektif. Apa adanya. Contoh rancunya patokan ini juga dapat lihat pada Taurus Bagian 1 pada bahasan Zodiak dan pranatamangsa khususnya antara Mangsa Dhestha dan Saddha kaitannya dengan bintang pengayomnya Taurus. Ada baiknya dikutip sebagai berikut untuk sekedar membayangkan mengapa terjadi perbedaan yang sejatinya cukup besar. Dalam bahasa teknis bahwa perbedaan posisi di kubah langit dapat berkisar 30 derajat. Untuk gerak semu harian atau diurnal motion (terbit terbenam) benda langit pada arah timur-meridian-barat, maka ada perbedaan kisaran 2 jam. Kalau terkait lingkaran ekliptika, maka posisi Matahari dapat jadi akan salah dan melesetnya kisaran 1 bulan.

Penulis kutip sekedar pengingat dan peranti untuk membayangkan analisis yang harus dilakukan dari artikel Taurus Bagian 1 sebagai berikut:

 

Kalau mitologi Yunani/Romawi mengaitkan hal ini dengan kalender musim seperti yang telah dibahas di atas, maka demikian pula dengan budaya pranatamangsa (pratimasa) di Indonesia.

Dalam bulan Jawa kuno, untuk rasi bintang Taurus tradisional (22 April – 21 Mei, 30 hari) identik dengan mangsa 11 (18/19 April – 10/11 Mei, 23 hari), yaitu mangsa Dhesta / Wisaka / Jyesta / Djyestha / Hapit Lemah. Jadi untuk Taurus epoch 2000 (13/15 Mei – 19/22 Juni, 37/40 hari) akhirnya bergeser menjadi mangsa 12 atau mangsa Apit / Hapit Kayu / Saddha / Asadha / Jita / Rayagung (11/12 Mei – 20/21 Juni; 41 hari)(Ref.: Patokan mangsa: Tijdschrift, p.116 dan Prawiroatmojo). Pada penggolongan musim adalah yang tergolong musim Mareng bagian penghabisan. Musim Mareng meliputi 3 mangsa kisaran akhir Maret hingga Juni, yaitu mangsa 10 (Kasapuluh / Palguna / Wechaka / Sadasa), mangsa 11, dan mangsa 12 (Ref.: Prawiroatmojo dan Harianto). Dalam patokan lain adalah termasuk awal musim atau mangsa Terang (mangsa 12 dan 1) termasuk dengan ciri pancaroba bagian penghabisan.

Uniknya, dalam hal pranatamangsa pun dikaitkan dengan Zodiak Yunani/Romawi. Misal mangsa ke 12 yang biasa dikaitkan dengan Lintang Mina (Pisces). Namun, ada pula pendapat terkait Lintang Mimi-Mintuna atau Gemini. Kalau tokh hendak dikaitkan, maka penulis lebih menyimpulkan Gemini dan bukan Pisces,

 

dan

 

Bagaimanapun, masalah ini bagi penulis masih butuh penelusuran lebih dalam lagi. Inipun sekedar mencoba untuk melakukan langkah pertama, yaitu penyelarasan dalam hal penentuan batasannya sedemikian patokan musim masih dapat digunakan bagi khususnya masyarakat agraris. Namun, tentu dapat pula menjadi patokan untuk masyarakat bahari bila watak musimnya yang sesuai karakterisasi dari peta langitnya sudah ditentukan. Mudah-mudahan masih banyak narasumber yang masih berkecimpung dalam persoalan seputar ini, termasuk penyelarasan dengan keadaan langit yang sebenarnya sedemikian tidak terjadi seperti pada kasus astrologi. Utamanya adalah adanya keinginan agar budaya pranatamangsa tidak lekang oleh waktu di Bumi Nusantara

 

India dan Lainnya

Adapun di wilayah sekitar sungai Gangga, layaknya di Tiongkok, dikenal pula siklus Zodiak yang menurut Al Bīrūnī bahwa mereka menyebut Aquarius sebagai Khumba (juga di budaya Bali dan sebagian Yogyakarta/Solo) atau Kumbaba, yang terkait kedewaan, yaitu Dewa Badai yang menurutnya merupakan adaptasi dari Hesychios. Penamaan ini juga sama dengan masyarakat Tamil. La Lande menuliskannya sebagai Coumbum. Varāha Mihira, yang kental dengan pengetahuan Yunaninya, menyebutnya sebagai Hridroga dan Udruvaga. Adapun masyarakat Majus dan Druid, simbolisasinya adalah penggambaran seluruh pengetahuan perbintangan (apakah ini terkait filosofis air kehidupan belum penulis temukan/ketahui).

Bagi masyarakat Anglo-Saxons, sebutannya adalah Se-waeter-gyt, Penuang Air dan era selanjutnya oleh penerjemah Inggris, John of Trevisa, pada tahun 1398 dinyatakan sebagai

 

The Sygne Aquarius is the butlere of the goddes and yevyth them a water-potte.

 

Pada akhirnya, pada buku-buku di Inggris diperkenalkan beragam nama yang antara lain: Aquary, Aquarye, dan yang unik adalah Skinker sedemikian Cock dalam buku Meteorologiae-nya (1703, Philomathemat), berkomentar:

 

Jupiter in the Skinker opposed by Saturn in the Lion did raise mighty South-west winds.

 

Dante, dalam karyanya Il Purgatorio, menulis

 

geomancers their Fortuna Major
See in the Orient before the dawn
Rise by a path that long remains not dim,

 

dan dianalisis oleh Longfellow:

 

Geomancy is divination by points in the ground, or pebbles arranged in certain figures,
which have peculiar names
(ramalan berdasarkan titik-titik di tanah, atau kerikil yang disusun dalam angka-angka).
Among these is the figure called the Fortuna Major, which is thus drawn,
and, by an effort of the imagination,
can also be formed out of some of the last stars in Aquarius and some of the first in Pisces.

 

Bahkan dalam era astrologi dikenal penyebutan the Airy Trigon, di mana wilayah rasi bintang Gemini dan Libra termasuk didalamnya, dan digambarkan dengan:

 

a sign of no small note, since there was no disputing that its stars possessed influence,
virtue, and efficacy, whereby they altered the air
and seasons "in a wonderful, strange, and secret manner",
(bahwa bintang-bintang diakui secara luas akan memiliki pengaruh dalam kebajikan dan keberuntungan/nasib baik, juga pada alam dengan cara yang indah, unik, dan rahasia),

 

juga pada naskah kuno yang ditemukan tahun 1386, terdapat penulisan "It is gode to byg castellis, and to wed, and lat blode." Rasi bintang Capricorn yang berada di bawah naungan Saturnus adalah sebagai pengendali bagian (pergelangan) kaki dan apabila rasi bintang ini berada di ufuk berbarengan dengan Matahari (catatan: ini adalah fenomena konjungsi antara Capricorn dengan Matahari), maka fenomena ini sebagai penanda musim hujan. Tatkala juga terdapat di wilayah langit tersebut Saturnus (jadi konjungsi Capricorn, Matahari, dan Saturnus), maka manusia benar-benar dalam genggamannya – kepala dan leher – caput et collum; sementara apabila Jupiter yang berada di sana, maka yang digenggamannya adalah humeros, pectus et pedes – bagian bahu, dada, dan kaki. Dalam kasus ini, apakah hal ini terkait dengan kesehatan atau peruntungan, atau yang lainnya masih belum penulis ketahui. Kadang dalam fenomena ini dapat jadi terkait “aura/cakra” manusia.

Nama yang juga populer adalah Junonis Astrum yang dipakai sebagai penanda gerak semu harian rasi bintang tersebut, di mana Juno dan Jove (Juno terkait dengan Zeus/Jupiter) menjadi penjaganya, yang menguasai wilayah Cilicia dan Tyre. Pada masa selanjutnya, kisah ini ditelusuri dan dijumpai sampai ke dunia Arab, Tatary, Denmark, Rusia, Swedia bagian selatan, Westphalia, Bremen, dan Hamburg.

Pada karya Proctor, Mitologi dan Keajaiban Astronomi, dikemukakan tentang kaitan Zodiak dengan warna dan untuk Aquarius bersanding dengan warna biru. Bagi Lucius Ampelius (abad 2), ada kisah yang menyebut Liber Memorialis sebagai pengendali beragam angin yang terkait Zodiak tersebut. Adapun simbol gambar Aquarius yang populer adalah garis bergelombang (filosofisnya memang terkait dengan riak air, lihat gambar 2 di atas). Hal ini berawal dari budaya Mesir Kuno, yaitu dari simbolisasi yang terdapat pada huruf hiroglif yang maksudnya adalah air yang terkait dinamika air sungai Nil.

 

Gambar 6 Peta Aquarius
https://www.iau.org/static/public/constellations/gif/AQR.gif

 

Dalam masalah simbol Aquarius juga sebenarnya banyak ketidaksepahaman di antara para pakar. Seorang pakar, Brown, dalam Archaeologia bahkan menulis komentar berikut:

 

Respecting these Mr. C. W. King observes: "Although the planets are often expressed by their emblems, yet neither they nor the signs are ever to be seen represented on antique works by those symbols so familiar to the eye in our almanacs. Wherever such occur upon a stone it may be pronounced without any hesitation a production of the cinque-cento, or the following century. . . . As for the source of these hieroglyphics, I have never been able to trace it. They are to be found exactly as we see them in very old medieval MSS."; and Mr. King is inclined, in default of any other origin, "to suspect they were devised by Arab sages" — an opinion which I do not follow. The subject is certainly shrouded in great obscurity; and even Professor Sayce recently informed me that he had been unable to trace the history of the zodiacal symbols up to their first appearance in Western literature.

 

Adapun Clerke konon menjumpai manuscript abad 10 dan pada ukiran yang tidak lebih tua dari abad 15 atau 16. Asal muasalnya masih belum diketahui. Sekedar catatan dalam penelusuran seperti ini adalah yang terjadi pada Hargrave's Rosicrucian yang menjumpai ilustrasi dari sebuah benda dari masyarakat Mesir Kuno yang menunjukkan gambaran palang silang (salib) dan cakram seperti era sekarang yang terkait dengan simbol Leo dan Virgo, atau Scorpio, yang diduga berasal dari lukisan pada dada mumi yang disimpan di museum Universitas London. Jika pernyataan ini benar, asal mula yang lebih awal dapat diklaim untuk simbol-simbol terkait Zodiac daripada kesimpulan yang ada pada masa kini (dibanding simbol yang ada masa sekarang). Namun, ilustrasi keterkaitan dengan air masih belum disepakati.

Dari penelitiannya terhadap simbolisme astronomi kuno seperti adanya penemuan koin, monumen, dan lain-lain, Thompson menyimpulkan bahwa relief besar Cibele Asiatic, yang sekarang ada di Hermitage Museum di Saint Petersburg, dirancang untuk mewakili simbolisasi titik balik Aquarius dan Leo; dan bahwa Aquarius, Aquila, atau yang terkait dengan sejenis vulture semisal Lyra, lainnya Leo dan Taurus, muncul dalam citra yang digambarkan pada kitab religi awal masehi.

Apabila melihat kubah langit malam, sebenarnya rasi bintang Aquarius tidaklah terlalu istimewa bentuknya ataupun tidak mencolok (bandingkan dengan Sagittarius atau Scorpius misalnya). Formasi bintang Gamma, Zeta, Eta, dan Pi Aquarii biasa disebut Urn (seperti huruf Y). Masyarakat Yunani menyebutnya Kalpe, Kalpis, Kalpeis. Latin sebagai Situla atau Urna. Pliny membedakan antara keduanya. Bintang yang cukup redup, yaitu bintang Lambda, Chi (x atau kh), Phi (f), Omega Aquarii dan beberapa lainnya membentuk layaknya aliran air yang tumpah dari pasu menuju mulut dari (rasi bintang) Ikan Selatan (Piscis Austrinus, Southern Fish) yang berenang di sungai (rasi bintang) Eridanus (Ada yang menyatakan air ini sebagai minuman bagi sang ikan. Uniknya, apakah ikan minum air?). Spence mengomentari gambaran aliran air ini dari Farnese Globe – seperti bola dunia atau globe khusus posisi bintang – atau yang dideskripsikan oleh Manilius sebagai Ad juvenem, aeternas fundentem Piscibus undas dan Fundentis semper Aquarii, (inti karakter: pemuda yang menuangkan air untuk ikan), yaitu:

 

Ganymedes, the cup-bearer of Jupiter.
He holds the cup or little urn in his hand, inclined downwards;
and is always pouring out of it:
as indeed he ought to be, to be able from so small a source to form that river,
which you see running from his feet, and making so large a tour over all this part of the globe.

 

Manilius memberi catatan pada akhir tulisannya tentang Aquarius dengan “Sic profluit urna”, (lebih pada konteks air mengalir dari pasu) yang diterjemahkan oleh Spence sebagai "And so the urn flows on"; dan menambahkan:

 

which seems to have been a proverbial expression among the ancients,
taken from the ceaseless flowing of this urn;
and which might be not inapplicable now, when certain ladies are telling a story;
or certain lawyers are pleading.

 

Geminos, dalam karyanya (harfiah huruf Yunani: Eisagoge, atau Pendahuluan, 77 SM), memisahkan rasi bintang ini (untuk bagian air mengalirnya) sebagai aliran air (Χύσις ὕδατος,) the Pouring Forth of Water. Namun, Aratos hanya menyebutnya sebagai air, kendati juga memasukkan bintang Beta Ceti (rasi bintang Cetus atau Ikan Paus) dan bintang Fomalhaut. Cicero menyebut Aqua; dan Germanicus sebagai Effusio Aquae; sementara itu Effusor dan Fusor Aquae merupakan nama yang sering dimunculkan. Selanjutnya juga muncul nama Fluvius Aquarii.

Meskipun penting secara Astronomi terutama dari aspek posisi Zodiak dan dari banyaknya objek langit di wilayah tersebut seperti bintang ganda, gugus bintang, dan nebula, maka yang juga menjadi perhatian dan pertimbangan yang menarik adalah berdasarkan fakta bahwa salah satu dari tiga bintangnya, Psi Aquarii, sempat teramati digerhanai oleh planet Mars (fenomena okultasi) pada tanggal 1 Oktober 1672. Fenomena ini telah diprediksi oleh Flamsteed, dan atas sarannya, diamati dan diverifikasi oleh para astronom di Prancis dan oleh Richer dari Cayenne; dan beberapa lainnya yang juga turut melakukan observasi. Ini memungkinkan para astronom era selanjutnya seperti Leverrier (sang penemu planet Neptunus), dapat secara akurat untuk memastikan gerak orbit Mars, dan berbasis teori gravitasi yang kala itu sedang gencar-gencarnya dilakukan penelitian dalam membuktikan keabsahan teori Newton. Pada akhirnya permasalahan ini dapat turut membantu dalam penentuan perhitungan seberapa besar massa Bumi dan seberapa jauh Matahari dari tempat tinggal kita.

Pada masanya dulu, memang diamati bahwa Matahari berkelana di Aquarius antara kisaran tanggal 14 Februari sampai 14 Maret. Dalam katalog Argelander disebutkan bahwa di wilayah Aquarius terdapat 97 buah bintang yang kasat mata, sementara Heis katakan 146 buah. Hanya saja kala itu batas rasi bintang ini masih berbeda-beda. Hal ini dapat dipetakan setelah peta resmi dari IAU. La Lande, yang mengutip karya Firmicus (Mathesis, VIII.29.13) dan catatan bola langit Mesir, Petosiris, menyatakan dalam karyanya, l'Astronomie:

 

Aquarius se lève, avec une autre constellation qu'il nomme Aquarius Minor avec la Faulx, le Loup, le Lièvre & l'Autel;

 

Catatan:
pengertian Aquarius naik/meninggi (atau terbit?) masih belum jelas bagi penulis.
Biasanya sebagai patokan adalah titik terbit atau terbenam,
atau kulminasi atas (di meridian, lingkaran penghubung antara utara dan selatan
yang melewati puncak langit atau zenith)
Sementara, hal ini bersamaan dengan gerak rasi lainnya, yaitu Aquarius Minor bersama Faulx, Serigala, Kelinci dan Altar. Aquarius Minor bersama Faulx belum diketahui maksudnya, dan belum ada rujukannya terkait rasi bintang modern. Yang lain pun terasa kurang tepat karena andai “tokh” benar, maka lokasinya mereka berjauhan. Butuh penelusuran.
Dapat jadi, berjauhan dalam konteks setengah bola langit (artinya berseberangan),
atau berjarak 90 derajat dihitung dari zenith ke arah titik barat atau timur.

 

Mesopotamia

Bila di atas secara garis besar berkisah tentang Aquarius secara sejarah umum, tidak ada salahnya kita tengok budaya yang lebih awal pada era Mesopotamia.

Kita awali saat periode lahirnya pictograf (3200 – 2100 SM). Yang tercatat pada awalnya (Mesopotamia Sumeria) adalah Taurus dan Leo (simbol kekuatan/kekuasaan), juga Scorpius. Kala setelahnya, muncullah Aquarius yang dijadikan patokan cardinal point of the ecliptic. Titik patokan ini juga senantiasa berubah (konteksnya senantiasa disesuaikan pada era selanjutnya karena sejatinya gerak presesi Bumi diketahui dari perubahan tersebut). Penjejakan ini lebih pada bahwa “Matahari berkelana di suatu wilayah langit tertentu pada waktu tertentu”. Maksudnya pada suatu ketika, Matahari berada di rasi bintang tertentu dan ini merupakan pola berulang (sisi lain, lahirlah kalender Surya/Syamsiah atau solar calendar). Julukan lainnya adalah “a constellation during the day”. Kisah ini yang mungkin menginspirasi masyarakat (budaya) Yunani yang hadir jelang awal Masehi, bahwa malam hari Dewa Matahari beristirahat di istananya (interior of heaven). Dapat simak planetarium/helios.

Dari era tahun 2600 dan 2500 SM di wilayah Iran (Ancient Near Eastern) ditemukan gambaran (iconography) beragam ilustrasi Zodiak, yang salah satunya diduga kuat merupakan ilustrasi Aquarius dengan tampilan orang yang berdiri di atas sapi (oxen) yang tampak dengan dua aliran air yang pada masa setelahnya dijadikan sebagai simbol dewa Ea.

Berbasis penelitian budaya, kemungkinan bahwa hadirnya Zodiak tidak lepas dari lingkungan sekitar Sumeria, khususnya dari wilayah timur (Elam, yang masa selanjutnya menjadi wilayah Persia). Hal ini karena adanya penyebutan Tiga Bintang Elam yang terdiri dari (Pleiades) Taurus, Scorpius, dan Aquarius. Juga penyebutan Star of Akkad atau Star of Amurru (ditambah Gemini, Libra, dan kemungkinan sebuah lagi adalah Cancer). Kesemuanya lebih pada pedoman musim (layaknya pranatamangsa di ranah Nusantara). Hal ini dimaklumi dari akulturasi yang terjadi akibat semisal penaklukan suatu wilayah. Pada kisaran tahun 2334 SM, Mesopotamia dikuasai masyarakat Akkad, dan kembali dikuasai Sumeria kisaran 2150 SM, dan sejak tahun 1830 SM menjadi wilayah yang populer dengan sebutan Babylonia Kuno. Kemudian berturut Kassites (1530 SM), “Middle” Babylonians (1125 SM), Assyria (729 SM), Babylonia Baru/ Kaldean (612 SM), Persia (539 SM). Jadi permasalahan Zodiak pun tentu menjadi suatu akulturasi yang krusial. Ibarat budaya Yunani yang ditaklukkan oleh budaya Romawi (sebut semisal Zeus menjadi Jupiter, Ares menjadi Mars, dll). Hal ini juga berlangsung di Indonesia dengan banyak sekalinya istilah Belanda dijumpai pada budaya masa sekarang. Inilah yang terjadi pada masyarakat Sumeria kala itu. Jadi adanya simbolisasi Zodiak terasa sejak era 2300 SM. Termasuk dalam hal Aquarius; seperti yang dinyatakan oleh Rogers (Rogers, 1998):

 

“Ea, the beneficent god of earth and life, who dwelt in the abyssal waters, was shown with two streams running from his hands or shoulders; he became Aquarius, and his symbol also formed the constellations of Capricornus (Ea’s goat-fish, first seen on a seal of Ur just before 2000 BC), the Field (our Square of Pegasus), Piscis Austrinus .. “

 

Dalam pembagian langit, era 1350 – 1000 SM, Ea sebagai dewa Bumi sekaligus dewa kehidupan, menjadi penguasa langit bagian selatan (Enlil di utara, Anu di ekuator langit dan sebenarnya masuk wilayah Zodiak). Namun, Ea sejatinya dalam pandangan mereka dapat berada di mana saja. Simbolisasi wilayah Ea ada pada Capricornus (goat-fish with ram’s-head standard, atau turtle/penyu) dan Aquarius (penguasa langit selatan). Kisaran 1100 SM (era Babylonia), dikenal nama GU.LA, the great one untuk Aquarius sebagai kelompok “Star of Elam”. Pada pembagian langit selatan (terdata 15 bintang yang disebut Stars of Ea di mana salah satunya adalah GU.LA (juga ditulis ada NUNki; the star of Eridu / the city dan identifikasinya adalah bintang Canopus, yaitu bintang paling terang di rasi bintang Argo Navis yang kini terbagi 3: Vela – layar kapal, Carina – lunas, Puppis – buritan, yang sangat jauh dari Aquarius). Penulis belum mendapatkan argument pengelompokan ini. Termasuk dalam Stars of Ea ini adalah kelompok Centaurus, Carinae, Crux (?), Lupus, Scorpius, Sagittarius, dan Capricornus. Kesemuanya memang di selatan ekuator langit.

 

Gambar 7
Aquarius era Mesopotamia (1350 – 1000 SM).
Dari Rogers (1998), figure 5 yang pertama, yang berbasis Zodiak yang terdata di wilayah Mesir (Dendera Zodiac). Konsep gambaran ini bertahan hingga kisaran tahun 36 SM.

 

Pertimbangannya adalah bahwa Three Stars Each Tablets di mana masing-masingnya terdiri dari 12 bintang yang umumnya pada kala itu (1000 SM) lebih umum digunakan sebagai kalender musim layaknya pranatamangsa. Pada era Babylonia tersebut, kalender yang digunakan berbasis Bulan (Kalender Bulan seperti kalender umat Muslim, kalender Hijriah) di mana kalender tersebut diawali dengan kehadiran Bulan Baru (New Moon atau Hilal atau Anak Bulan) yang tampak pertama kali di dekat posisi titik musim panas (spring equinox). Jadi tatkala disandingkan dengan tahun berbasis Matahari, dimaklumi bahwa dalam 1 Tahun Matahari (Solar Year atau Solar Calendar) dapat terdiri dari 12 atau 13 bulan berbasis Bulan. Dapat maju atau mundur tergantung atau relatif terhadap edaran Matahari (layaknya perayaan Imlek).

 

Zodiak

Aquarius adalah satu dari 12 simbol Zodiak klasik (ke 11). Batas tanggal yang biasanya digunakan (khususnya dalam sisi astrologi) adalah antara tanggal 20/22 Januari s.d 18/21 Februari (epoch awal masehi). Jadi kita yang lahir antara tanggal tersebut konon dikatakan berbintang Aquarius. Berdasar posisi saat ini (epoch 2000), Matahari melintas daerah Aquarius antara tanggal 16 Februari s.d 11 Maret (24 hari). Jadi, seharusnya yang lahir pada kurun waktu inilah yang berbintang Aquarius.

Di beberapa daerah di Indonesia, seperti yang telah diulas di atas bahwa rasi bintang ini dikenal sebagai Kumbam (Sankrit), Lintang Kumba (Bali), Bintang Markumba/Morhumba (Toba), Lintang Pusuh/Isaka (Jawa Tengah), Dalwi/Dalwu (Jawa Tengah/Arab), Bentéung Delu (Sunda), Bintang Dalui (Madura), Kuba (Cirebon), Simsim (Minahasa). Sulit melihatnya di Jakarta, sebab bintang terterang hanya bermagnitudo 3,0. Rasi ini berada di ufuk timur saat Matahari terbenam pada tengah September. Titik kulminasi 25 Agustus hingga 7 September (midnight culmination; pukul 24:00 di meridian).

 

Pengantar

Sejak era mitologi bermillenia lalu yang terkait rasi bintang termasuk masalah Zodiak khususnya Aquarius tentu di antara identifikasi yang muncul mungkin sudah tidak asing lagi, minimal nama-namanya bagi kita semua. Sementara itu, khazanah keastronomian pada ranah manca negara masih terus digali termasuk pada budaya di Nusantara. Rasanya akan menjadi ladang penelitian yang tak lekang oleh waktu. Banyak lagi kisah budaya menera langit dari aneka bangsa yang mungkin masih tersembunyi dan penyelisikan pada hal tersebut tentu akan menjadi khazanah budaya manusia dalam mencoba menyibak cadar langit. Inipun juga melewati proses yang tidak sebentar. Pada tulisan mendatang (bagian kedua artikel ini), penulis mencoba memaparkan beberapa objek di rasi bintang Aquarius, dan tetap pada alur yang sedapat mungkin berawal dari sejarah penemuan atau penelitiannya. Semua daftar pustaka dan situs yang digunakan disertakan pada bagian pertama ini, kecuali apabila dalam penulisan paparan artikel berikutnya membutuhkan data tambahan atau data pembanding, maka akan disertakan pada bagian berikutnya. Semoga bermanfaat. Salam Astronomi.–WS–

 

Daftar Pustaka

  • Allen, R.H., 1963, Star Name, Dover Pub., New York
  • Almond, M., J. G. Davies, and A. C. B. Lovell, 1950, On Interstellar Meteors, The Observatory 70, p.112-113
  • Bakich, M., 1995, The Cambridge Guide to the Constellations, Cambridge University Press, Cambridge, p.51-53, 58-59, 142-145, 268-269
  • Cheng-en, W., Journey to the West (Adapted from the WJF Jenner translation (Beijing, 1955) by Collinson Fair. Copyright 2005, Silk Pagoda).
  • Cornelius, G., 2005, The Complete Guide to the Constellations, Duncan Baird Publishers, London, p.40-43.
  • Darling, D., 2004, The Universal Book of Astronomy, John Wiley & Son, New Jersey, p.227-228, 436
  • Davis Jr., G. A., 1944, The Pronunciations, Derivations, and Meaning of a Selected List of Star Names, Popular Astronomy 52: p.11
  • Hamilton, E., 1959, Mythology, A Mentor Book, New York, p.36
  • Jenniskens, P. and J. Vaubaillon, 2008, Minor Planet 2008 ED69 and the Kappa Cygnid Meteor Shower, The Astronomical Journal 136, p.725-730
  • Maass, A., 1924, Tijdschrift voor Indische Taal, Land en Volkenkunde, Albrecht & Co., Batavia, Deel LXIV, p.17, 29, 73-5, 104-105, 164-168, 432-435, 437, appendix A, B, C-1 (Identifizierte Sterne)
  • Opik, E. J., 1950, Interstellar Meteors and Related Problems, The Irish Astronomical Journal, volume 1, p.80-96
  • Paku Buwana V, 1989, Serat Centhini (Suluk Tambangraras) 8, Yayasan Centhini, Yogyakarta, p.33-53 (translated from old Javanese script by Kamajaya)
  • Pedersen, 1993, Early Physics and Astronomy, Cambridge Univ. Press, Cambridge, p.11, 40
  • Raffles, T.S., 2008, The History of Java, Narasi, Yogyakarta, Indonesia’s edition – H. Simanjuntak and R.B. Santosa (eds.), p.268-270, 342-351, 803-804, 845-859
  • Rogers, J. H., 1998, Origins of the Ancient Constellations: I. The Mesopotamian Traditions, Journal of the British Astronomical Association (JBAA) 108:1, 9-28
  • Sawitar, W., 2005, Constellations: In the Time Scale of the Cultures, in W. Sutantyo, P. W. Premadi, P. Mahasena, T. Hidayat and S. Mineshige (eds), Proceedings of the 9th Asian-Pacific Regional Meeting 2005, p.328-329
  • Sawitar, W., 2008, Constellations: The Ancient Cultures of Indonesia, in Shuang-Nan Zhang, Yan Li, Qingjuan Yu, and Guo-Qing Liu (eds), Proceedings of the 10th Asian–Pacific Regional IAU Meeting 2008, China Science & Technology Press, Beijing, p.409-410
  • Sawitar, W., 2009, Star and the Universe: The Ancient Cultures of Indonesia, “Stars of Asia Workshop” at National Astronomical Observatory of Japan – Mitaka – Tokyo
  • Sawitar, W., 2015, Astronomi dalam Cerita Rakyat Nusantara, Makalah pada Seminar Astronomi dalam Budaya Nusantara (SINDARA) di Universitas Ahmad Dahlan Yogyakarta (30/05/2015)
  • Sindhunata, 2011, Pranata Mangsa – Seri Lawasan, Gramedia (KPG), Jakarta, p.2-4, 11, 19

 

Daftar Situs

Amsmeteors.org/eta-aquariid-meteor-shower
Aquarius/Chinese
archive.org/exoplanet wasp-6b
Chen Fu Zhen Ren
Chinese_constellations
Crystalinks/Aquarius
Earthsky/Aquarius
ESA
eso.org/public/news/eso1249/
harvard/1950IrAJ/1/80O
harvard/1950Obs/70/112
Helios
HST/2 stars
HST/STScI - TRAPPIST-1 System
Ianridpath/Aquarius
IAU/AQR
icoproject.org
idp.bl.uk/sky
IMO/resources/Eta
Katalog Messier
Kepler space telescope
M2 - HST - WikiSky
M72 - HST - WikiSky
Meteor 1
Meteor 2
Meteorshowersonline/delta aq
NASA
nature/s41550-017-0374-z#ref-CR2
Observing the Eta Aquarids
Penelope.uchicago.edu/Aquarius
Riwayat Klenteng Tertua di Jawa Timur dan Bali
Scorpius Sang Kalajengking
space.com/30912-look-at-aquarius-this-week
space.com/tess-mission-new-era-exoplanet-research
spitzer.caltech.edu/Helix
STScI
Taurus Bagian 1
Transiting Exoplanet Survey Satellite
wiki/commons/Aquarius
wikipedia/Black Tortoise
wikipedia/Chinese constellations
wikipedia/List of stars in Aquarius
wikipedia/Roof (Chinese)
wikipedia/Xuanwu

 

Peranti Lunak

Stellarium 0.12.4