Written by Widya Sawitar

User Rating: 0 / 5

Star InactiveStar InactiveStar InactiveStar InactiveStar Inactive
 

Penelitian Hisab Rukyat untuk Penentuan Awal Bulan Syawal 1439H

 

Planetarium dan Observatorium

Unit Pengelola Pusat Kesenian Jakarta Taman Ismail Marzuki

Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Provinsi DKI Jakarta

 

Kompilasi: Widya Sawitar

 

 

 

PERENUNGAN AWAL (RAMADAN)

Topik penentuan awal bulan Hijriah memang terasa berulang muncul ke permukaan, minimal menyangkut 3 bulan dalam kalender Hijriah, yaitu Ramadan, Syawal, dan Dzulhijjah. Bahkan tahun demi tahun seolah tiada berkesudahan masalah ini muncul ke permukaan. Hal ini terasa sejak tahun 1984 dan sangat terasa pada 2 dekade terakhir di mana masyarakat senantiasa bertanya akan adanya perbedaan dalam sebuah ketetapan yang dibangun utamanya pada ranah religi. Walau tahun demi tahun banyak penjabaran dan penjelasannya, seolah-olah topik seperti ini tidak lekang oleh waktu. Apabila hendak menyimak dengan seksama perkembangannya di masyarakat awam/luas/umum, nyatanya penuh dinamika juga perbedaan. Dapat dikatakan bahwa pada ranah kenyataan, kadang terasa gaduh walau dalam konteks harapan yang positif. Di sini disajikan kembali tinjauan yang sama untuk perhitungan kalender Hijriah tahun 1439H atau tahun 2018 pada kalender Masehi, khususnya menyangkut penentuan awal bulan Syawal. Berikut ini beberapa persoalan disaji-ulangkan kembali dalam hal latar belakang dan yang terkait kegiatan ini. Sekedar mengingatkan kembali.

        Kali ini, kita coba kaitkan bahasan dengan istilah yang begitu populer di kalangan masyarakat Indonesia, yaitu “Lebaran”. Mungkin kata inilah yang paling populer di masyarakat apabila disangkutkan dengan hadirnya 3 bulan Hijriah tersebut. Hal ini karena kebutuhan apapun yang bersifat kasat mata dan terkait penyambutan hari lebaran (khususnya 1 Syawal) pada jaman sekarang seolah-olah menjadi hak dengan karakter harga mutlak pada ranah tuntutan para insaninya, tatkala terhubung dengan pikiran di ranah sayap-duniawinya. Siapa yang tidak kenal istilah mudik, THR, dll. terkait lebaran. Namun, bagaimana sejarah legalitas religi adanya hal itu? Juga di Indonesia?

        Apapun latar belakang kisah seputar aspek sosial-budaya tentang “berlebaran” bahwa “penentuan kapan” kita akan berlebaran pada satu sisi dalam ranah sains tidak lebih dari sekedar salah satu dampak dari sekian banyaknya aplikasi bidang ilmu Astronomi. Selain itu, hal ini sekedar konsekuensi logis dari adanya kalender Bulan, yang sejatinya perhitungannya kini sudah makin mapan. Fenomena paralel dengan fenomena kalender seperti gerhana “tokh” kini sudah dapat dihitung secara teoritis untuk mengetahui bahkan hingga ke 50 tahun yang akan datang. Contoh kasus yang mungkin akan digunakan oleh anak cucu kelak, bahwa akan terjadi Gerhana Matahari Total nanti tanggal 23 Mei 2096. Ya, masih 78 tahun lagi yang akan melewati Pulau Kalimantan dan Pulau Sumatera bagian selatan. Juga tanggal 15-16 April 2098 di mana akan terjadi Gerhana Bulan Total yang dapat dinikmati seluruh masyarakat Indonesia dan bersabar menanti 80 tahun lagi. Ini sekedar contoh teoritis dan dapat dikatakan perhitungan dari awal 1980 hingga kini tidak ada satupun yang meleset (koreksi tetap ada, dan biasanya setahun sebelumnya dan ordenya hanya beberapa menit kalupun ada). Namun, sekali lagi, mengapa perbedaan berulang-ulang terjadi di luar ranah sains? Mungkin ini yang menarik bagi masyarakat luas. “Rasanya” memang akan “tenang” beberapa tahun ini berbasis perhitungan atau hisab murni (tenang hingga tahun 2022, kecuali mulai penentuan Idul Adha 1443H dan waktu selanjutnya akan penuh pernak pernik) yang justru karena “kebaikan Bulan” pada posisinya.

        Menyinggung masalah kalender tentu yang paling populer diketahui masyarakat dunia adalah yang berbasis Matahari yang umum disebut kalender Masehi atau kalender Matahari (Solar Calendar). Bahkan sangat unik karena masyarakat yang dikatakan menggunakan kalender berbasis Bulan (Lunar Calendar) hingga ke penentuan ritual keagamaannya pun tetap saja masih menggantungkan ritme hidup dan penjadwalannya berbasis kalender Matahari. Seolah kalender Bulan yang digunakan hanya sekedar untuk pemenuhan acara ritual belaka, tidak lebih. Hal ini dapat dibandingkan dengan pemakaian kalender lainnya termasuk yang dalam beberapa kasus merupakan kombinasi antara posisi Matahari dan Bulan (Luni-solar Calendar).

      Secara faktual di Indonesia yang tampak pada masyarakat adalah pada umat Muslim yang terkenal dengan kalender Hijriahnya. Tentu masalah seperti ini dibutuhkan kehati-hatian apabila kita memang tidak terbiasa menggunakannya. Sering pertanyaan muncul, “Lebaran kapan?” dan tentu jawaban yang paling tepat adalah tanggal: “1 Syawal.” Namun, pada masyarakat menjadi unik. Tetap saja bertanya, “Iya, kapan?” Selalu, siapapun, dimanapun dipaksa untuk menyebut tanggal Masehi. Akhirnya yang terjawab, misalnya “Tanggal 15 Juni.” Lega sudah rasanya, baik yang menjawab maupun yang bertanya, terlebih semua sepakat. “Lagi-lagi”, yang terpikir adalah kapan usai ibadah puasa (lebih indah disebut ibadah Ramadan, karena nyatanya pada bulan Ramadan bukan melulu sekedar berpuasa), kapan libur? kapan “mudik”? kapan mulai menyiapkan “hidangan lebaran” dan pakaian yang baik? dan sekian banyak lagi sekedar kebutuhan pada ranah inderawi lainnya. Lebih unik, pembicaraan seputar lebaran sudah ramai dikedepankan, padahal ibadah Ramadan baru akan mulai. Inilah pernak pernik budaya dalam ranah ujud yang sangat akrab dan nyata di masyarakat.

    Terlepas dari ranah budaya di atas, berikut ini dipaparkan masalah teknis astronomi dalam penentuan awal bulan Syawal khususnya tahun ini (1 Syawal 1439H).

 

DATA HISAB PENENTUAN AWAL BULAN SYAWAL 1439H

Guna memenuhi hasrat untuk mengetahui “kapan lebaran tiba”, maka pada artikel di bawah ini dapat dilihat serba sedikit bagaimana hasil teoritik matematis atau perhitungan, yang juga dikenal sebagai kaidah hisab yang utamanya dilakukan oleh Cecep Nurwendaya, yang merupakan salah satu anggota tim Planetarium dan Observatorium UP PKJ TIM, juga kompilasi hasil perhitungan dan analisis data oleh anggota lainnya untuk perbandingan dalam mencari landasan teori dalam Kegiatan Penelitian Hisab Rukyat ataupun Kegiatan Penelitian dan Pengamatan Bulan dalam Penentuan Awal Kalender Bulan di mana hal ini dilakukan dalam rangka penentuan awal bulan Syawal 1439H. Hasil perhitungan ini biasanya akan digunakan sebagai pedoman kegiatan observasi (rukyat) yang pada kesempatan kali ini Planetarium dan Observatorium UP PKJ TIM tidak melaksanakan kegiatan observasinya atau rukyat hilal. Kegiatan observasi ini sebenarnya merupakan ranah ilmiah dalam pencarian bukti astronomis dari perhitungan yang dilakukan, bahkan pada ranah spirit pun pada sebagian besar masyarakat terdapat “kewajiban” untuk melakukannya. Setiap tahun sebelum Sidang Itsbat oleh Kementerian Agama RI diputuskan, maka niscaya akan mendengar terlebih dahulu laporan hasil rukyat dari seluruh wilayah Indonesia. Sejatinya kelompok mana pun boleh turut sumbang saran hasil observasinya dengan prosedur tertentu, karena bagaimanapun menyangkut kebersamaan dan kemudahan pengambilan keputusan dengan masukan data kesaksian yang jelas dan akurat.

Kembali pada metode hisab yang akan dibahas bahwa seperti pada kasus-kasus  sebelumnya di mana hari penentu atau hari untuk menentukan kapan jatuhnya awal bulan Hijriah dilakukan pada setiap tanggal 29 bulan Hijriah (disebut hari hisab dan hari rukyat). Apakah ini bertepatan juga dengan hari ijtimak, belum menjadi keniscayaan. Peninjauannya adalah kasus per kasus. Artinya, penentuannya adalah dilakukan setiap bulan, sepanjang tahun, sepanjang kita gunakan kalender Bulan, atau bahkan sepanjang Bulan masih hadir sebagai satelit Bumi (Bulan: Satelit Bumi).

Ijtimak di dalam bidang Astronomi biasa disebut konjungsi (dalam kasus di sini adalah konjungsi antara Bulan dan Matahari di mana salah satu konjungsi istimewa adalah terjadinya fenomena Gerhana Matahari Total (Gerhana Matahari dan Gerhana Bulan). Adapun yang terkait dengan tanggal 29 untuk setiap bulannya karena sejatinya 1 (satu) periode sinodis Bulan (misal Purnama ke Purnama berikutnya, atau dari satu fase yang fase yang sama) tidaklah ber-angka bulat, yaitu sekitar 29,5 hari. Jadi, penentuan tanggal dimaklumi kalau dilakukan tanggal 29. Berbasis ini pula, maka di sini ditentukan, apa harus di-istikmal-kan atau digenapkan bulan Hijriah menjadi 30 hari? Kalau tidak digenapkan, artinya apabila sekarang tanggal 29, maka esok adalah tanggal 1. Apabila digenapkan, artinya apabila sekarang tanggal 29, maka esok tanggal 30 dan baru lusa tanggal 1 (paling panjang rentangnya adalah 30 hari).

Selain itu, seperti yang pernah disinggung dalam penentuan awal bulan Syakban 1439H yang baru lalu bahwa keputusan dalam ibadah umat Muslim di Indonesia juga berdasar kesepakatan dan aturan tertentu. Salah satunya adalah, apakah posisi hilal (sebut anak Bulan) pada hari penentu hisab sudah memenuhi kriteria masuknya awal bulan Hijriah di Indonesia berbasis Hisab Kriteria MABIMS, yaitu perhitungan hisab yang berpedoman kepada ketinggian Bulan minimal 2 derajat untuk seluruh wilayah negara anggota, jarak sudut Matahari dan Bulan minimal 3 derajat dan umur Bulan minimal 8 jam setelah saat ijtima'. Apabila ternyata belum memenuhi kriteria awal bulan tersebut, maka di seluruh anggota MABIMS, yakni Brunei Darussalam, Indonesia, Malaysia, dan Singapura secara hisab meng-istikmal-kan menjadi 30 hari, walau ketentuannya tetap di koridor musyawarah yang disepakati yang lalu di Negara Kesatuan Republik Indonesia dibakukan sebagai keputusan Pemerintah Republik Indonesia bagi Warga Negara  Indonesia secara sah.

            Untuk penentuan 1 Syawal 1439H (2018) kali ini, bahwa tanggal 29 Ramadan 1439H bertepatan dengan tanggal 14 Juni 2018. Jadi, jatuhnya hari hisab dan hari rukyat adalah pada hari Kamis Kliwon tanggal 14 Juni 2018 di mana rukyatnya sendiri akan dilakukan saat Matahari terbenam. Data hisab dapat dilihat pada uraian berikut ini dan diambil basis perhitungannya dengan mengambil acuan Pos Observatorium Bulan (POB) Pelabuhan Ratu Sukabumi sebagai Markaz Hisab Kementerian Agama RI.

 

Gambar 1

Posisi terjadinya ijtimak/konjungsi. Proses Gerhana Matahari Total tampak jelas apabila lintang berharga nol dan bujur berharga sama.

 

 Gambar 2

Peta Ketampakan Hilal Awal Syawal 1439H (14 Juni 2018) di Seluruh Dunia Berbasis Kriteria Odeh.

 

Gambar 3

 Peta Ketinggian Hilal Awal Syawal 1439H (14 Juni 2018) di Indonesia.

 

Tabel 1

Hasil Hisab Sistem Ephemeris Hisab Rukyat posisi hilal menjelang awal Syawal 1439 H tanggal 14 Juni 2018 di Pelabuhan Ratu sebagai pusat data rukyat nasional.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 Gambar 5

Simulasi Hilal Diamati dari POB Pelabuhan Ratu Berbasis Software Starry Night Pro 6

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Gambar 6

Sebagai Pembanding Simulasi Hilal Diamati dari POB Pelabuhan Ratu Berbasis Software Red Shift 3.

 

Gambar 7

Simulasi Observasi atau Rukyat Berbasis Pedoman Hisab dari Posisi Hilal pada saat Matahari Terbenam di POB Pelabuhan Ratu Berpedoman Koordinat Horison.

 

 Gambar 8

 Simulasi Observasi atau Rukyat Berbasis Pedoman Hisab dari Posisi Hilal pada saat Matahari Terbenam di POB Pelabuhan Ratu Berbasis Koordinat Horison pada Cakrawala Barat di Titik Matahari Akan Terbenam.

 

Tabel 2a

Gambar 9a

 

Tabel 2b

Gambar 9b

 

Tabel 2 dan Gambar 9

Dari posisi hilal tampak pula bahwa di Mekkah, ijtimak terjadi malam hari, yaitu Rabu tanggal 13 Juni 2018, dan posisi Bulan dikatakan positif pada hari Kamis, 14 Juni 2018.

 

PERBANDINGAN HISAB

Pada Tabel 1 terdapat 27 metode hisab dengan hasil akhir yang sekiranya dapat digunakan untuk bekal apabila akan melakukan rukyat walau dalam paparan yang sederhana. Di sini akan diberikan sedikit lagi data sekedar pembanding, khususnya untuk hari Kamis Kliwon tanggal 14 Juni 2018 berbasis posisi Kompleks Mercusuar Cikoneng – Pantai Anyer – Serang – Provinsi Banten di mana biasanya Planetarium dan Observatorium UP PKJ TIM melakukan rukyat hilal, serta berdasarkan posisi Planetarium Jakarta sendiri sebagai berikut:

Lokasi                       : Kompleks Mercusuar Cikoneng, Pantai Anyer, Serang, Banten

Koordinat                  : 060 04’ 13” LS – 1050 53’ 05” BT

Ketinggian                : 1 Mdpl

Area Waktu              : GMT +7 / WIB

Ijtima/Konjungsi[1]  : Kamis, 14 Juni 2018; Pukul 02:43 WIB


[1]https://timeanddate.com

 

Lokasi                       : Planetarium dan Observatorium Jakarta, Indonesia

Koordinat Lokasi      : 060 11’ 24,62” LS – 1060 50’ 13,01” BT

Ketinggian                : 1 Mdpl

Area Waktu              : GMT +7 / WIB

Ijtima/Konjungsi       : Kamis, 14 Juni 2018; Pukul 02:43 WIB

 

Menilik hasil ini, perbedaan data memang tidak terasa signifikan. Perbedaan ketinggian antara Mercusuar dan Planetarium Jakarta tampak dari waktu terbenam Matahari, yaitu dengan perbedaan kisaran 4 menit. Dalam hal ini, Planetarium lebih dahulu mengalami waktu shalat Maghrib dan hal ini sangat dimaklumi karena posisi Jakarta berada lebih ke arah timur dibandingkan dengan posisi Mercusuar. Artinya dan seharusnya tinggi hilal di Mercusuar lebih tinggi. Nyatanya dari hisab tampak memang ketinggian hilal berbeda kisaran 2 menit di mana di Mercusuar 7 derajat 29 menit 4 detik dan di Planetarium Jakarta 7 derajat 26 menit 46 detik. Tidak signifikan secara awam.

Posisi makin ke barat seharusnya juga akan semakin tinggi hilal-nya seiring sejalan dengan usia Bulan yang bertambah. Tampak di zona Arab Saudi, Matahari terbenam pukul 19:06 waktu Saudi di mana usia Bulan otomatis juga sudah bertambah tua kisaran 4 jam dan bernilai lebih dari 0,85 hari (kisaran 20 jam 20 menit) yang setara dengan ketinggian hilal yang makin besar dan berbasis hisab memang sudah 8 derajat 39 menit 44 detik.

Terkadang terjadi bahwa di seluruh wilayah Indonesia belum dapat “melihat” hilal, nyatanya mereka yang di Arab Saudi sudah dapat melihatnya. Baik secara hisab maupun rukyat. Walhasil dengan dalil apapun, kala itu di Indonesia akan menggenapkan 30 hari; sementara di Arab Saudi keesokan harinya sudah masuk tanggal 1 (artinya kalender bulan berjalan di Indonesia digenapkan menjadi 30 hari, sementara di Arab Saudi hanya 29 hari saja. Lagi-lagi hal ini menjadi sesuatu yang sangat lumrah terjadi dan tidak fenomenal sama sekali).

 

SERBA SERBI LANDAS ACU PENETAPAN

Sekelumit kisah bagaimana proses penetapan oleh Pemerintah RI melalui Sidang Itsbat dapat disimak pada uraian berikut. Sidang Itsbat adalah sidang penetapan awal bulan Hijriah. Pertama diadakan pada tahun 1950; dan secara sederhana berbasis fatwa para ulama, bahwa pemerintah punya hak untuk menentukan Awal Ramadan, Idul Fitri dan Idul Adha. Kemudian, pada tahun  1972  dibentuklah Badan Hisab dan Rukyat (BHR) yang didalamnya terdapat para ahli, ulama, dan pakar astronomi. Tugas inti mereka adalah memberikan informasi kepada Menteri Agama tentang data awal bulan Ramadan, Syawal, dan Dzulhijjah.

Sidang Itsbat bersifat musyawarah di mana hasil dalam sidang merupakan kesepakatan antar ormas Islam yang diwakili oleh utusannya. Jadi dapat dikatakan bahwa Pemerintah hanya memfasilitasi, mengumpulkan para tokoh, para ulama untuk membahas kapan awal bulan itu ditetapkan. Hanya saja, nanti setelah diambil satu kesepakatan dari sidang ini, barulah Menteri Agama memutuskan dan memberi pengumuman secara resmi. Hingga kini bahwa Sidang Itsbat di Indonesia utamanya untuk menentukan awal bulan Ramadan, Syawal, dan Dzulhijjah, yaitu berdasarkan pada fatwa MUI No. 2 tahun 2004. Jadi, Sidang Itsbat selalu dilaksanakan pada hari hisab dan hari rukyat, yaitu:

 

  1. Tanggal 29 Syakban untuk Itsbat Awal Syakban;
  2. Tanggal 29 Ramadan untuk Itsbat Awal Syawal; dan
  3. Tanggal 29 Dzulkaidah untuk Itsbat Awal Dzulhijjah.

 

Adapun metode hisab seperti yang telah dibahas sebelumnya berarti prediksi/informasi hilal penentu awal bulan. Rukyat bermakna konfirmasi hilal penentu awal bulan.

Sidang Itsbat dilaksanakan di Gedung Kementerian Agama RI dan rukyat dilaksanakan di berbagai wilayah di seluruh Indonesia. Perukyah terorganisir (resmi) didampingi oleh Hakim Agama untuk memberikan itsbat kesaksian rukyat hilal. Hal ini mengacu pada UU RI No.3 Tahun 2006 Pasal 52A.

Selain itu bahwa Sidang Itsbat dipimpin oleh Menteri Agama, didampingi oleh Ketua MUI, Ketua Komisi VIII DPR RI, Dirjen Bimas Islam, dan Sekjen Kementerian Agama. Peserta sidang terdiri dari Perwakilan ormas–ormas Islam, ulama, tokoh masyarakat, Anggota Badan Hisab Rukyat (sekarang Tim Hisab Rukyat), Duta Besar Perwakilan Negara Sahabat, Pejabat Kementerian Agama, dan instansi terkait.

 

a)  Sidang Itsbat diawali Pra Sidang dengan acara Presentasi Penjelasan Posisi Hilal Penentu Awal Bulan Hijriah oleh Tim Hisab Rukyat Kementerian Agama dilanjutkan dengan tanya jawab dan diskusi mulai pukul 16:30 WIB sampai menjelang masuk waktu Maghrib;

b)  Sidang Itsbat dimulai ba’da sholat Maghrib berjamaah. Setelah dibuka oleh  Menteri Agama dilanjutkan dengan pelaporan hasil rukyat dari seluruh wilayah Indonesia yang telah melaporkan ke panitia penerima hasil rukyat oleh Direktur Urais Kemenag;

c) Tahap pembahasan hasil rukyat. Menteri Agama, sebagai pimpinan sidang, memberikan kesempatan kepada seluruh peserta sidang untuk menanggapi dan memberikan berbagai pertimbangan syariah dan ilmiah hasil rukyat yang telah dilaporkan tadi, untuk bahan pertimbangan;

d)  Menteri Agama meminta pandangan dan pertimbangan keagamaan pada Ketua MUI terutama dalam hal yang krusial jika ada perbedaan pendapat di antara peserta sidang;

e)  Berpedoman pada kesepakatan bersama peserta sidang, Menteri Agama secara resmi mengitsbatkan atau menetapkan awal bulan Hijriah; dan

f)  Press Release tentang hasil Sidang Itsbat disampaikan oleh Menteri Agama didampingi oleh Ketua MUI, Ketua Komisi VIII DPR RI, dan Pejabat Kementerian Agama RI.

 

 

Gambar 10

Berbasis lokasi rukyat, maka di seluruh Indonesia yang tercatat resmi sebagai tempat observasi, baik permanen maupun bersifat mobile tampak pada gambar di atas. Untuk penentuan 1 Syawal 1439 nanti terdaftar sebanyak 78 titik tempat rukyatul hilal atau POB. Planetarium dan Observatorium UP PKJ TIM biasanya mengambil posisi 5.

 

PELAPORAN  HILAL DI  WILAYAH INDONESIA.

Sehubungan dengan rutinitas kegiatan rukyat, maka “pengalaman” masa lalu akan adanya kesaksian tentang hilal dan posisinya di kubah langit tentu dapat dijadikan pedoman tatkala membuat keputusan. Terlebih ini menyangkut masyarakat di satu negara kesatuan yang meliputi ribuan pulau, Indonesia, demi persatuan dan kesatuan.

Dalam hal rukyat, tentu tidak dilakukan secara sembarangan tanpa patokan. Berbasis perhitungan/hisab yang telah dilakukan berlandas acuan POB Pelabuhan Ratu, pada hari Kamis, 14 Juni 2018 M atau 29 Ramadan 1439H dapat diringkas sebagai berikut:

 

Tinggi/Irtifa’hilal                                =  7,72 derajat;

Jarak Busur Bulan – Matahari         =  7,84 derajat; dan

Umur Hilal                                       =  15 jam 00 menit  36 detik;

(Fraksi Illuminasi Hilal 0,66%)

 

Pertimbangan 1.

Di Indonesia dikenal adanya kriteria imkanurukyat sebesar 2 derajat berdasarkan kesaksian yang terjadi pada rukyat hilal penentuan 1 Syawal 1404H (atau pada tanggal 29 Juni 1984) di mana ijtimak terjadi pada pukul 10:18 WIB oleh:

 

1.  Muhammad Arief, 33 tahun. Panitera Pengadilan Agama Pare-pare;

2.  Muhadir, 30 tahun. Bendahara Pengadilan Pare-pare;

3.  H. Abdul Hamid, 56 tahun. Guru Agama Jakarta;

4.  H. Abdullah, 61 tahun. Guru Agama Jakarta;

5.  K. Ma’mur, 55 tahun. Guru Agama Sukabumi; dan

6. Endang Effendi, 45 tahun. Hakim Agama Sukabumi.

 

Pertimbangan 2.

Kriteria MABIMS di mana:

 

a)  ketinggian hilal minimal 2 derajat;

b)  jarak busur 3 derajat; atau

c)  umur hilal minimum 8 jam.

 

Pertimbangan 3.

Landas acu empiris pada Limit Danjon (statistik dan batas kemampuan mata manusia secara wajar), bahwa hilal akan tampak apabila jarak sudut antara Bulan dan Matahari lebih besar dari 7 derajat di mana oleh Odeh dari Islamic Crescent Observation Project (ICOP), pada tahun 2004, dikoreksi berdasarkan statistik data baru dalam analisis perhitungannya bahwa limit ini adalah 6,4 derajat.

 

Pertimbangan 4.

Konferensi Penyatuan Awal Bulan Hijriah International di Istambul pada tahun 1978, menyimpulkan bahwa:

 

a)    Awal bulan dimulai apabila jarak busur antara Bulan dan Matahari lebih besar dari 8 derajat; dan

b)    Tinggi Bulan dari ufuk pada saat Matahari terbenam lebih besar dari 5 derajat.

 

Pertimbangan 5.

Rekor pengamatan Bulan Sabit Awal dalam catatan Astronomi modern saat ini adalah tatkala observasi hilal Ramadan 1427H di mana usia Bulan kisaran 13 jam 15 menit yang dipotret dengan teleskop dengan kombinasi kamera CCD di Jerman.

 

Pertimbangan 6.

Jarak hilal terdekat yang pernah terlihat adalah sekitar 8 derajat, dengan usia Bulan 13 jam 28 menit yang diamati oleh Robert Victor di Amerika Serikat tanggal 5 Mei 1989 dengan menggunakan alat bantu binokuler (kekeran)(Ref.: Di  Cicco, 1989, Sky & Telescope, 78; p.322).

 

SELANGKAH MENUJU LEBARAN 2018

Bagaimana dengan hilal awal Syawal 1439H?

Apabila murni hanya pada metode hisab dengan segala pertimbangan yang ada di atas, maka akan tampak untuk di Indonesia (dapat diambil salah satu posisi sentral perhitungan di POB Pelabuhan Ratu, Kamis, 14 Juni 2018 atau 29 Ramadan 1439H) hasilnya adalah sebagai berikut:

i.       Pertimbangan 1, 2, 3, 5, dan 6 masuk kriteria;

ii.   Pertimbangan 4, bagian a tidak masuk kriteria; selisih sedikit, yaitu kisaran 0,16 derajat busur atau 9,6 menit busur dan sebagai pembanding adalah diameter piringan Bulan sekitar 30 menit busur. Namun, dalam kondisi tertentu menjadi sangat krusial dalam argumennya. Adapun untuk bagian b masuk kriteria,

 

maka hilal Syawal 1439H, pada hari hisab, hari rukyat, hari ijtimak, – yaitu pada hari Kamis Kliwon tanggal 29 Ramadan 1439H atau 14 Juni 2018 saat Matahari terbenam (Maghrib) – akan dapat diamati dari seluruh wilayah Indonesia. Artinya “Kita berlebaran” pada hari Jum’at, 15 Juni 2018.

 

Namun demikian,

Terdapat Keputusan Fatwa Majelis Ulama Indonesia Nomor 2 Tahun 2004 Tentang Penetapan awal Ramadan, Syawal, dan Dzulhijjah yang ditandatangani oleh K. H. Ma’ruf Amin (Ketua MUI Komisi Fatwa) dan Hasanudin (Sekretaris MUI Komisi Fatwa) tanggal 24 Januari 2004 M di mana:

 

Fatwa pertama:

1.  Penetapan awal Ramadan, Syawal, dan Dzulhijjah dilakukan berdasarkan metode rukyat dan hisab oleh Pemerintah RI cq Menteri Agama dan berlaku secara nasional;

2.  Seluruh umat Islam di Indonesia wajib menaati ketetapan Pemerintah RI tentang penetapan awal Ramadan, Syawal, dan Dzulhijjah;

3.  Dalam menetapkan awal Ramadan, Syawal, dan Dzulhijjah, Menteri Agama wajib berkonsultasi dengan Majelis Ulama Indonesia, ormas-ormas Islam, dan Instansi terkait;

4.  Hasil rukyat dari daerah yang memungkinkan hilal dirukyat walaupun di luar wilayah Indonesia yang mathla’nya sama dengan Indonesia dapat dijadikan pedoman oleh Menteri Agama RI.

 

Rekomendasi

Agar Majelis Ulama Indonesia mengusahakan adanya kriteria penentuan awal Ramadan, Syawal, Dzulhijjah untuk dijadikan Pedoman oleh Menteri Agama dengan membahasnya bersama ormas-ormas Islam dan para ahli terkait.

 

Juga,

Berdasarkan UU RI Nomor 3 Tahun 2006 Tentang Perubahan atas UU Nomor 7 Tahun 1989 tentang Peradilan Agama pada Pasal 52A, yaitu Pengadilan Agama memberikan itsbat kesaksian rukyat hilal dalam penentuan awal bulan pada tahun Hijriah; di mana pada Lembaran Negara RI Tahun 2006 Nomor 22 terdapat penjelasan pasal tersebut bahwa “Selama ini pengadilan agama diminta oleh Menteri Agama untuk memberikan penetapan (itsbat) terhadap kesaksian orang yang telah melihat atau menyaksikan hilal bulan pada setiap memasuki bulan Ramadan dan awal bulan Syawal tahun Hijriah dalam rangka Menteri Agama mengeluarkan penetapan secara nasional untuk penetapan 1 (satu) Ramadan dan 1 (satu) Syawal. Pengadilan agama dapat memberikan keterangan atau nasehat mengenai perbedaan penentuan arah kiblat dan penentuan waktu shalat.”

 

Walhasil,

bahwa pada ranah ibadah umat Muslim di Indonesia berdasarkan Fatwa yang didukung pula oleh UU RI di atas sudah sangat terang benderang bahwa penentuan awal bulan Hijriah khususnya Ramadan, Syawal, dan Dzulhijjah ditentukan berdasar metode Rukyat dan Hisab (bukan: Rukyat atau Hisab). Secara hisab sudah jelas tertera dalam Taqwim Standar Indonesia dan terasa tidak ada keraguan hasilnya.

Atau dengan kata lain bahwa oleh karena Fatwa dan UU RI di atas masih digunakan sebagai panduan penentuan awal bulan Hijriah di Indonesia, maka rukyat harus/wajib dilaksanakan sebagai konfirmasi dari hisab. Konsekuensi penggunaan fatwa ini adalah tanpa menyebutkan posisi hilalnya, apakah berada di atas atau di bawah ufuk. Dalam kasus ini, lebih jelasnya bahwa apakah posisi hilal berdasar hisab pada hari penentuan berharga negatif (artinya: hilal di bawah ufuk) atau berharga positif (hilal di atas ufuk), kegiatan rukyat tetap harus/wajib dilaksanakan sebagai konfirmasi dari hasil hisab.

 

Jadi,

kalau hanya hisab murni, dapat dikatakan bahwa 1 Syawal 1439H jatuh pada hari Jum’at, 15 Juni 2018. Namun, penentuan kapan mengakhiri ibadah Ramadan tahun ini untuk menyongsong tanggal 1 Syawal 1439H sedemikian esok harinya “kita berlebaran”, dan sebagai Warga Negara Indonesia yang baik, tetap wajib merujuk kepada keputusan Pemerintah RI melalui Sidang Itsbat-nya pada tanggal 29 Ramadan 1439H atau 14 Juni 2018 (selepas Matahari terbenam/Maghrib), termasuk men-taat-i fatwa yang ada. Selamat Menunaikan Ibadah Ramadan 1439H dan bersiap menyambut datangnya masa kemenangan.

 

PERENUNGAN AKHIR (RAMADAN)

Seperti yang diungkapkan pada topik sejenis bahwa perbedaan seperti yang selama ini terjadi sebenarnya sama sekali belum menjadi masalah sepanjang masyarakat mengetahui alasan penetapannya secara ilmiah. Namun, dan yang jelas dalam hal ini, Pemerintah RI melalui Kementerian Agama sudah memiliki standard penentuan yang lengkap, baik yang berbasis hisab tradisional hingga merangkum ragam metode perhitungan modern, maupun metode rukyat pun dari yang bersifat konvensional yang telah dilakukan sejak bergenerasi yang lalu hingga pengamatan berteknologi canggih; juga disertai data yang dihimpun dari beragam atau banyak sumber dan narasumber; termasuk yang tidak kalah pentingnya demi kesatuan umat di wilayah RI, yaitu menghimpun semua hasil di atas dengan satu langkah upaya nan apik sebagai ajang kesepakatan secara nasional melalui Sidang Itsbat-nya di mana dengan suatu pagar tertentu ormas apapun dapat hadir untuk urun-rembug dalam musyawarahnya. Sekali lagi, bahwa keputusan akhir tentu dapat tampak dari kesepakatan para ulama yang mumpuni dan memiliki kompetensi dalam hal seperti ini untuk menjadi pedoman tauladan umatnya, sesuai ke-taat-azas-an yang secara ikhlas “mau” dipagari secara arif bijaksana oleh Pemerintah RI yang tentu penuh pengayoman dan permakluman demi persatuan dan kesatuan umat di Tanah Air. Selamat Idul Fitri 1439H. Mohon Maaf Lahir dan Batin. Salam Astronomi.

 

DAFTAR PUSTAKA

Abell, G.O.,    1975, Exploration of the Universe, Holt, Rinehart and Winston, New York

Departemen Agama RI, 1996, Winhisab Version 2.0, Badan Hisab Rukyat Departemen Agama RI

Departemen Agama RI, 2008, Panduan Hisab Rukyat, Direktorat Jenderal Bimbingan Masyarakat Islam

Kementerian Agama RI., 2018, Taqwim Standar Indonesia 2018 Masehi / 1439-1440 Hijriyah, Direktorat Jenderal Bimas Islam Kementerian Agama RI

Kementerian Agama RI., 2018, Ephemeris Hisab Rukyat 2018, Direktorat Urusan Agama Islam dan Pembinaan Syariah, Direktorat Jenderal Bimas Islam Kementerian Agama RI

Khafid, 1996, Mawaaqit 2001

Mahkamah Agung RI., 2018, Data Ephemeris Matahari dan Bulan tahun 2018, Direktorat Jenderal Badan Peradilan Agama.

MUI  2004, Keputusan Fatwa MUI Nomor 2 Tahun 2004 tentang Penetapan Awal Ramadhan, Syawal, dan Dzulhijjah, Komisi Fatwa MUI

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Smart, W.M.,  1961, Spherical Astronomy, Cambridge Univ. Press, London

---------------., 1989, Sofware Astronomi Astro Info, Tumasoftware, Zephyr Services 1900 Murray Ave. Pittsburgh, PA. 15217

---------------., Red Shift 3 Multi Media Astronomy, Maris Multimedia Production

---------------., 2004, Software Astronomi Starry Night Pro Plus 6.0, Imaginova Canada Lmt

(Juga catatan dalam artikel terkait situs).

 

 

Category: