Written by Widya Sawitar

User Rating: 5 / 5

Star ActiveStar ActiveStar ActiveStar ActiveStar Active
 
GERHANA BULAN TOTAL
SABTU, 28 JULI 2018
PLANETARIUM DAN OBSERVATORIUM
UNIT PENGELOLA PUSAT KESENIAN JAKARTA TAMAN ISMAIL MARZUKI
DINAS PARIWISATA DAN KEBUDAYAAN
PROVINSI DKI JAKARTA

Atas dasar perhitungan astronomis bahwa pada hari Sabtu (dinihari), tanggal 28 Juli 2018, untuk seluruh wilayah Indonesia dapat menikmati fenomena Gerhana Bulan Total (GBT). Proses GBT mulai pada pukul 00:14:49 WIB dan berakhir pukul 06:28:37 WIB. Peristiwa ini dapat disaksikan oleh semua pengamat di wilayah Indonesia (lihat gambar 1). Namun demikian, tahapan gerhana yang relatif dapat mudah diamati oleh awam adalah mulai pukul 01:24:27 WIB (titik U1 pada gambar 2, saat Bulan masuk bayang-bayang utama atau umbra Bumi) hingga pukul 05:19:00 WIB (titik U4 saat Bulan meninggalkan umbra Bumi). Wajah Bulan, yang seharusnya dalam fase purnama, sebagian menjadi gelap, bahkan menjadi merah tua tatkala keseluruhan piringan Bulan memasuki umbra Bumi (pukul 02:30:15 WIB pada titik U3 s.d 04:13:12 WIB pada titik U3). Catatan: deskripsi fenomena di sini berpedoman dengan sekiranya yang dapat disaksikan dari kota Jakarta, termasuk perhitungan waktu kejadiannya yang berbasis waktu wilayah barat (zona +7 atau WIB). Uniknya, bila GBT tanggal 31 Januari pada kondisi Blue Moon, kali ini tidak demikian. Kala itu dalam kondisi Super Moon (perigee), kali ini justru posisi Bulan adalah apogee (Micro Moon).

Peristiwa GBT aman dilihat dengan mata telanjang termasuk dengan alat bantu optik (binokuler atau teleskop). Tidak berbahaya bagi kesehatan mata. Namun, tatkala melihat dengan alat bantu optik dan mengamati Bulan dalam fase purnama hasilnya cukup menyilaukan. Jadi, tidak pula disarankan berlama-lama terlebih cuaca cerah. Bagi sebagian, dampak terlalu silau juga membuat tidak nyaman (kadang pusing). GBT ini termasuk dalam kategori seri Saros 129 dan merupakan gerhana ke 38 dari total 71 kali dalam seri tersebut. Dalam hal ini, gerhana seri Saros 129 yang berikutnya (ke 39) akan terjadi kisaran 18 tahun lagi, yaitu tanggal 8 Agustus 2036, hanya saja tidak dapat disaksikan dari seluruh wilayah Indonesia. Hanya masyarakat di benua Afrika bagian barat dan benua Amerika bagian selatan.

 

Gambar 1
Peta wilayah yang dapat menyaksikan gerhana.
(Ref.: eclipse.gsfc.nasa.gov)

 

Seperti yang pernah ditulis pada pada artikel GBT 31 Januari 2018 bahwa dalam Astronomi, fenomena gerhana adalah peristiwa yang sangat wajar dan biasa terjadi. Hal ini dilihat dari sifat Bulan yang mengedari Bumi, sementara Bumi mengedari Matahari. Baik Bumi dan Bulan sama-sama tidak memancarkan cahaya sendiri, hanya mendapat cahaya utamanya dari Matahari. Dengan demikian, akan dimengerti kalau baik Bumi dan Bulan memiliki bayang-bayang, baik bayang-bayang utama yang disebut umbra maupun bayang-bayang samar (penumbra). Jadi dapat dimaklumi juga apabila permukaan Bumi terkena bayang-bayang Bulan – terjadilah gerhana Matahari. Atau berlaku sebaliknya, Bulan memasuki bayang-bayang Bumi sedemikian terjadi gerhana Bulan.

 

Gambar 2
Tahapan Gerhana Bulan Total.
Bagian timur piringan Bulan (arah E) akan mengalami penggelapan terlebih dahulu (P1).
(Ref.: eclipse.gsfc.nasa.gov)

 

Tahapan Gerhana

  1. Bulan masuk penumbra Bumi (P1): pukul 00:14:49 WIB.
    Biasanya mata awam sukar membedakan apakah sudah terjadi gerhana atau belum;
  2. Bulan masuk umbra Bumi (U1): pukul 01:24:27 WIB.
    Mulai relatif mudah dilihat dengan mata telanjang;
  3. Fase GBT mulai (U2): pukul 02:30:15 WIB.
    Wajah Bulan berwarna merah (makin besar polusi udara, makin merah gelap);
  4. Tengah Gerhana (Mid): pukul 03:21:43 WIB.
    Waktu puncak fase GBT;
  5. Akhir tahap total (U3): pukul 04:13:12 WIB.
    Wajah Bulan mulai terang ditepinya (Bulan mulai keluar umbra);
  6. Bulan keluar umbra Bumi (U4): pukul 05:19:00 WIB.
    Wajah Bulan kembali Purnama, namun kecerlangannya belum kembali normal karena masih dalam tahap Gerhana Bulan Penumbra;
  7. Bulan keluar penumbra Bumi (P4): pukul 06:28:37 WIB; dan
    berakhirlah gerhana.

 

Dari data di atas tampak bahwa rentang waktu proses GBT adalah 6 jam 13 menit 48 detik di mana tahap total terjadi selama 1 jam 42 menit 57 detik. Bagi peminat Astrofotografi ataupun serba sedikit ingin memilih topik penelitian terkait fenomena ini dapat simak artikel sebelumnya pada GBT 31 Januari 2018.

 

Peta Langit Malam

Bila kita sudah siap sebelum proses GBT dimulai (27 Juli 2018, pukul 23:00 WIB), maka di dekat Bulan (lihat gambar 3) tampak adanya bintang terang berwarna merah, yang ternyata adalah planet Mars (Lintang Joko Belek). Sementara itu Si Cantik dari Tata Surya yang khas dengan cincinnya, yaitu planet Saturnus berada di sebelah baratnya di wilayah rasi bintang Sagittarius.

 

Gambar 3
Peta langit kota Jakarta pada hari Sabtu (dinihari) tanggal 28 Juli 2018 pukul 00:14:41 WIB.
Dekat Bulan ada bintang berwarna merah terang dan nyatanya dia bukanlah bintang sejati,
melainkan planet Mars.
Keduanya berada di wilayah rasi bintang atau konstelasi Capricornus,
salah satu dari rasi bintang Zodiak.
(Anti Ares, lihat gambar 4 di bawah)
(Ref.: Stellarium 0.12.4)

 

Lebih ke arah barat dijumpai bintang sejati berwarna merah pula yang tidak lain adalah Antares (Antares dalam sejarah sering disebut Anti Ares di mana Ares adalah nama berbasis budaya Yunani, yang pada era sesudahnya, yaitu pada era Romawi lebih dikenal sebagai Mars (tentang Mars dapat lihat Mars Sang Dewa Perang). Sebutan Anti Ares, saingan/rival dari Ares karena memang warna bintang ini sama-sama berwarna merah terang). Posisinya sendiri berada di jantung Scorpius, Sang Kalajengking (tentang Scorpius lihat Scorpius Sang Kalajengking dan gambar 4 di bawah).

Pada kisaran pukul 02:30 WIB, bersamaan fase total, tampak baru terbit kelompok bintang Taurus dengan bintang terangnya yang juga berwarna merah, yaitu Aldebaran, yang merupakan salah satu mata dari rasi bintang Taurus Sang Banteng (Kisahnya silakan simak Taurus 1 dan Taurus 2).

 

Gambar 4 Peta Langit Scorpius
Dalam gambar dapat dilihat keberadaan M7 dan NGC 6231. Juga Libra yang dulu termasuk Scorpius.
Apabila lingkaran hitam penanda bintang semakin besar,
artinya bintang tersebut semakin cemerlang apabila dilihat kasat mata.
Magnitudo semu yang tertera adalah antara 1 hingga 6
di mana besaran 6 merupakan batas kemampuan kasat mata.
 (Dikutip dari Scorpius Sang Kalajengking; Ref.: SCO - IAU)
Adapun Sagittarius pada gambar terletak di tepi sisi kiri
dan tentang rasi bintang ini dapat lihat Sagittarius Sang Pemanah.

 

Seperti yang ditulis pada artikel gerhana sebelumnya, „Berharap cuaca cerah, sedemikian peristiwa Gerhana Bulan Total ini dapat kita saksikan, termasuk dalam mencermati wajah kubah langit malam dengan segala pernak pernik yang bertabur menghiasinya. Fenomena astronomis ini semata hadiah sekaligus tantangan dari Yang Maha Cendekia untuk ditelaah secara ilmiah. Juga merupakan saat yang paling unik dan khas dari rentang hidup manusia untuk sejenak menggugah kembali nuraninya. Merenungkan ke-Maha Besar-an Sang Pencipta Langit dan Bumi dalam segala ragam ciptaan di jagad semesta berikut segala peristiwa yang menyertainya. Bagi umat Muslim biasanya melaksanakan shalat gerhana sekaligus memohon ampunan-Nya.“ Salam Astronomi. –WS–