Written by Widya Sawitar

User Rating: 0 / 5

Star InactiveStar InactiveStar InactiveStar InactiveStar Inactive
 
Kegiatan Penelitian Hisab Rukyat
untuk Penentuan Awal Bulan Zulhijjah 1439H (2018 M)
dalam Rangka Penentuan Idul Adha 1439H
Oleh Tim Planetarium dan Observatorium
Unit Pengelola Pusat Kesenian Jakarta Taman Ismail Marzuki
Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Provinsi DKI Jakarta

Seperti yang telah beberapa kali dipaparkan pada situs ini terkait penentuan awal bulan dalam kalender bahwa salah satu dari sekian banyaknya aplikasi langsung dari bidang ilmu Astronomi di kalangan masyarakat terwujud dalam bentuk penentuan waktu-waktu yang terkait erat dengan pelaksanaan ibadah keagamaan. Bagaimana pun, ibadah seperti ini banyak yang berpedoman pada kalender berbasis khususnya Bulan (bahkan kombinasi antara posisi Matahari dan Bulan, yaitu sistem luni-solar). Memang secara faktual yang tampak adalah pada umat Muslim yang terkenal dengan kalender Hijriahnya.

Di bawah ini, dapat dilihat perhitungan (hisab) yang dilakukan oleh Cecep Nurwendaya, yang merupakan salah satu anggota tim Planetarium dan Observatorium UP PKJ TIM sekaligus tenaga ahli dari Kementerian Agama RI, juga perbandingan dengan perhitungan lainnya dalam kegiatan Penelitian Hisab Rukyat di mana hal ini dilakukan dalam rangka penentuan tanggal 1 Zulhijjah 1439H di mana penentuan ini sangat penting dalam menentukan kapan Idul Adha 1439H berbasis kalender Matahari (kalender masehi) yang terjadi pada tanggal 10 Zulhijjah 1439H. Hasil perhitungan ini juga nantinya akan digunakan sebagai pedoman kegiatan observasi (rukyat) yang rencananya akan dilaksanakan oleh tim Planetarium dan Observatorium UP PKJ TIM di Kompleks Mercusuar Cikoneng, Pantai Anyer, Serang, Banten. Kegiatan observasi ini merupakan ranah pencarian bukti astronomis dari perhitungan yang dilakukan.

 

Hari Hisab/Rukyat/Ijtimak

Pada hari Sabtu Pon tanggal 11 Agustus 2018 dalam kalender Hijriah adalah tanggal 29 Zulqa’dah 1439H, di mana pada hari itu biasa disebut sebagai hari hisab, hari rukyat, dan hari ijtimak. Hal ini karena fenomena ijtimak antara Matahari dan Bulan terjadi pada hari dan tanggal tersebut, pada pukul 17:00:23,75 WIB. Perhitungan astronomis juga menunjukkan bahwa apabila dilihat dari kompleks mercusuar pada hari itu, maka Matahari akan terbenam pada pukul 17:58:33,76 WIB. Artinya kondisi fase Bulan yang rencananya akan diobservasi saat Matahari terbenam telah berumur kisaran 58 menit, atau fase Bulan adalah Sabit Awal/Muda (hilal atau Anak Bulan). Jadi, dari sisi perhitungan atau hisab, fase ini sudah masuk kategori New Moon.

 

Gambar 1
Posisi terjadinya ijtimak/konjungsi. Proses Gerhana Matahari Total tampak jelas
apabila nilai lintang dari Bulan berharga nol dan nilai bujur berharga sama.

 

Bagi kalangan tertentu yang berbasis hanya pada hisab, maka New Moon ini sekaligus menjadi New Month dalam arti secara otomatis esoknya menjadi tanggal 1 pada bulan Hijriah berikutnya. Namun, di Indonesia, tidak hanya berbasis hisab, melainkan hisab dan rukyat (bukan hisab atau rukyat). Jadi, yang menjadi permasalahannya bahwa New Moon belum niscaya menjadi New Month, karena dalam satu sisi lainnya bahwa fase ini belum tentu dapat dilihat (dirukyat) di mana dalam penentuan tanggal 1 pada kalender Hijriah ada ketentuan khusus. Ketentuan ini terkait dengan kondisi apakah anak bulan (sabit awal atau hilal) dapat diamati atau tidak tatkala Pemerintah RI mengambil keputusan untuk penentuan awal bulannya.

Pada kasus lainnya, kendati berbasis hisab (sudah New Moon), namun memperhitungan hadirnya hilal (sudah wujud atau tidak; wujud bila hilal di atas ufuk tatkala Matahari terbenam), maka New Moon tidaklah otomatis menjadi New Month (bila tidak wujud, maka untuk bulan Zulqa’dah 1439H akan digenapkan 30 hari yang akan dibahas lebih lengkap di paparan di sini).

Pada kasus di atas, dapat saja terjadi bahwa tahap ijtimak memang sudah terjadi. Namun, ketika Matahari terbenam ternyata posisi hilal terlalu dekat dengan Matahari (tidak dapat terlihat mata, sederhananya bahwa cahaya hilal kalah perkasa dibandingkan dengan pendaran Matahari). Atau lainnya, bahwa terbenamnya hilal mendahului terbenamnya Matahari (sederhananya bahwa saat Matahari terbenam, maka hilal sudah di bawah ufuk). Hal ini terkait kombinasi antara posisi Bulan, Bumi, dan Matahari. Juga lebih spesifik lagi tergantung posisi pengamat di landas Bumi. Sederhananya semisal kita di Jakarta dan di Medan tentu akan melihat perbedaannya. Apalagi posisi yang berjauhan seperti pengamat di Indonesia dengan di Afrika misalnya. Sekaligus dapat menjelaskan mengapa bila terjadi gerhana, maka tidak semua wilayah dapat menyaksikannya. Terlebih Gerhana Matahari Total, seperti tanggal 9 Maret 2016 di mana kota Palu mengalami totalitas, siang menjadi laksana malam dengan langit berbintang; sementara di Jakarta tetap saja Matahari tampak di langit dengan suasana siang seperti biasanya walau sedikit redup karena hanya gerhana sebagian saja.

Dalam kasus pengamatan hilal di sini pun sama, belum tentu satu tempat dapat melihatnya walau dapat saja tempat lain dapat mengamatinya (dalam kasus hilal, semakin ke barat, kemungkinan melihat hilal makin besar. Misal di Indonesia belum terlihat (maka kita menggenapkan 30 hari, lusa baru tanggal 1), maka kawasan Timur Tengah atau lebih ke arah barat kemungkinan besar atau bahkan sudah dapat melihatnya (mereka 29 hari dan esoknya tanggal 1). Sesuatu yang sangat wajar karena makin ke barat seiring dengan bertambahnya usia Bulan, juga fase, iluminasi, dan tinggi dari garis ufuk niscaya makin besar dan semakin relatif mudah diamati.

Gambar 2
Peta Ketinggian Hilal Menjelang Awal Bulan Zulhijjah 1439H
di Dunia saat Matahari terbenam tanggal 11 Agustus 2018.

 

Kembali pada data hisab, maka akan kita telusuri posisi hilal tersebut sebagai acuan tatkala hendak melakukan rukyat terkait penentuan awal bulan Zulhijjah 1439H. Dalam kasus ini memang terjadi perbedaan kondisi hilal di Indonesia, ada yang memiliki ketinggian dari ufuk yang berharga positif (sebagian kecil), ada yang ketinggian negatif (sebagian besar). Positif apabila saat Matahari terbenam, hilal berada di atas ufuk (sekali lagi, apakah dapat dilihat atau tidak adalah belum niscaya). Negatif berarti hilal terbenam terlebih dulu dibanding Matahari (saat Matahari terbenam, hilal sudah di bawah ufuk dan niscaya tidak dapat terlihat).

 

Gambar 3
Peta Ketampakan Hilal Awal Zulhijjah 1439H di Seluruh Dunia Berbasis Kriteria Odeh.

  Gambar 4
Peta Ketinggian Hilal Awal Zulhijjah 1439H di Indonesia.
Tampak sebagian besar wilayah Indonesia ketinggian hilal berharga negatif.
Andai positif juga tidak masuk kriteria, sedemikian bulan Zulqa’dah digenapkan 30 hari.
Jadi tanggal 12 Agustus 2018 adalah tanggal 30 Zulqa’dah 1439H

  Gambar 5

  Gambar 6

  Gambar 7

 

Gambar 8

 

Tabel 1

 

Tabel 2
Hasil hisab sistem Ephemeris Hisab Rukyat posisi hilal
menjelang awal Zulhijjah 1439 H tanggal 11 Agustus 2018 di Pos Observasi Pelabuhan Ratu.

 

Tabel 3
Hasil hisab sistem Ephemeris Hisab Rukyat posisi hilal
menjelang awal Zulhijjah 1439 H tanggal 11 Agustus 2018 di Pantai Anyer Serang Banten.

Secara nasional, memang tanggal 11 Agustus 2018 tetap menjadi hari rukyat seperti kesepakatan yang berlaku selama ini. Kesepakatan tersebut dapat dilihat pada fatwa di artikel Penentuan Syaban 1439H atau artikel terkait pada situs ini. Dalam kasus di sini, mempertimbangkan aspek astronomisnya, maka tim observasi Planetarium dan Observatorium Jakarta baru akan melaksanakan pengamatan keesokan harinya, yaitu pada hari Minggu tanggal 12 Agustus 2018, di mana saat rukyat tentu sudah melewati tahap ijtimak dan jarak busur dengan Matahari sudah cukup signifikan. Argumennya dapat dilihat pada paparan di sini.

 

TABEL 4
Data pembanding perhitungan kontemporer dapat dilihat di bawah ini (semisal ada perbedaan, dimungkinkan sebagai akibat perbedaan lintang dan bujur pengamat ataupun koreksi dimensi ukuran piringan Bulan dan Matahari, kedalaman ufuk, atau lainnya). Berbasis program time and date untuk waktu konjungsi di Kompleks Mercusuar, Pantai Anyer – Serang – Banten, dan ditentukan koordinat lokasi adalah 060 04’ 13” LS – 1050 53’ 05” BT, ketinggian 1 Mdpl, area waktu GMT +7 / WIB, maka waktu Ijtima/Konjungsi1 terjadi pada hari Sabtu, 11 Agustus 2018, pukul 16:57 WIB.

 

Gambar 9
Tampak bahwa Bulan (hilal) sudah terbenam dan di bawah ufuk ketika Matahari terbenam.

 

Gambar 10
Bagi yang berminat untuk melakukan rukyat dapat dibantu dengan ilustrasi ini.

 

Usaha Mencari Pembuktian Astronomis

Sekali lagi seperti yang telah dipaparkan di atas, bahwa terkait kombinasi posisi Matahari, Bulan, Bumi, dan kita sebagai pengamat, maka walaupun sudah terjadi ijtimak, hilal belum tentu dapat diamati. Hal ini dapat saja diakibatkan hilal yang terlalu dekat dengan Matahari (dapat dianalisis berbasis kombinasi antara selisih azimuth dan jarak busur). Atau seperti pada kasus tanggal 11 Agustus 2018 kali ini, yaitu kendati telah melewati tahap ijtimak, ternyata terbenamnya hilal kisaran 16 detik mendahului terbenamnya Matahari. Dari sisi geometris dapat dikatakan bahwa ketinggian hilal (bukan ketinggian Bulan) saat Matahari terbenam (diambil saat upper limb atau tepi piringan Matahari yang paling atas berada di batas horizon/ufuk – lihat gambar 9 walau ilustrasi di atas sedikit ekstrim untuk penggambarannya) memiliki harga negatif (dapat dianalisis dari kemiringan lintasan semu tahunan Matahari dan posisi hilal itu sendiri serta posisi pengamat di muka Bumi). Atau bila diambil titik tengah piringan Matahari, maka tatkala titik ini terbenam, upper limb dari Bulan (Qomar) baru 16 detik kemudian terbenam. Juga sebagian hilal sudah terbenam. Saat upper limb Matahari di batas ufuk, maka hilal sepenuhnya sudah terbenam. Sebut hilal belum wujud (ketinggian positif tatkala Matahari terbenam, walau belum niscaya dapat dirukyat).

Pertimbangan lain bahwa hilal yang dekat Matahari (kisaran 2 kali besar piringannya bila diambil titik tengah, atau 1 piringan bila merujuk tepi piringan keduanya) tentu cahaya Matahari terlalu perkasa dibanding cahaya hilal (iluminasi hilal sangat kecil). Jadi, hilal seperti ini praktis tidak dapat diamati. Dengan ini, sekali lagi bahwa Planetarium dan Observatorium Jakarta baru akan melakukan rukyat pada hari berikutnya, yaitu pada hari Minggu tanggal 12 Agustus 2018.

Kasus ini tentu berbeda dengan penentuan Ramadan 1439H yang lalu, (Penentuan Ramadhan 1439H) di mana kala itu pada tanggal 15 Mei 2018 (29 Syaban 1439H) merupakan hari hisab dan hari rukyat dan hari ijtimak. Namun, saat itu terjadinya ijtimak berlangsung setelah Matahari terbenam, yaitu pada pukul 17:44:55,15 WIB. Ijtimak baru terjadi pada pukul 18:50:28,12 WIB. Jadi, andaipun ada yang melihat Bulan, maka yang disaksikan adalah sabit tua atau usianya minus 1 jam 5 menit 33 detik. Jadi, dari analisis perhitungan astronomis bahwa Anak Bulan tidak dapat diobservasi. Selain itu, Bulan pun terbenam pukul 17:45:14,93 WIB (ketika terbenam pun belum melewati tahap ijtimak). Oleh karenanya, andai akan dilaksanakan pembuktian astronomis untuk memperoleh data empiris yang lengkap, pelaksanaan rukyat hanya dapat dilakukan keesokan harinya, yaitu tanggal 16 Mei seperti yang juga telah dilaksanakan oleh tim observasi Planetarium dan Observatorium Jakarta yang pada saat itu melakukan rukyat bersama dengan tim observasi dari BMKG di lokasi yang sama.

Berikutnya, akan dipaparkan data untuk kondisi hisab dan rukyat tanggal 12 Agustus 2018. Berdasarkan sifat edar Bulan, bahwa setiap harinya Bulan bergeser di lautan bintang ke arah timur kisaran 13 derajat dan bergeser di kawasan Zodiak. Dengan demikian, seharusnya dapat diperkirakan bahwa keesokan hari, tatkala Matahari terbenam, niscaya Bulan berada di atas ufuk dengan ketinggian kisaran 13 derajat pula. Tentu saja ini berlaku hanya di kawasan seperti Indonesia (sebut di wilayah ekuator di mana lingkaran ekliptika tidak terlalu miring atau rebah terhadap ufuk pengamat).

 Gambar 11

 

Gambar 12

Gambar 13

 

Tabel 5
Hasil hisab sistem Ephemeris Hisab Rukyat posisi hilal
menjelang awal Zulhijjah 1439 H tanggal 12 Agustus 2018 di Pantai Anyer Serang Banten.

Dari hasil hisab bahwa ketinggian hilal 13 derajat 52 menit 33,93 detik. Adapun pembanding perhitungan untuk lokasi di kompleks mercusuar Cikoneng, Pantai Anyer, Serang, Provinsi Banten, dapat dilihat pada tabel 5 di bawah (dikompilasi oleh tim Planetarium dan Observatorium Jakarta) berbasis:

Koordinat Lokasi : 06o 04’ 13” LS - 105o 53’ 05” BT
Ketinggian : 1 Mdpl
Area Waktu : GMT +7 / WIB
Ijtimak/Konjungsi2 : Telah terjadi pada hari Sabtu, 11 Agustus 2018. Pukul 16:57 WIB

 

TABEL 6
Data pembanding perhitungan kontemporer untuk hari Minggu tanggal 12 Agustus 2018
yang didapat berbasis 3 software astronomis.

 

Mengikuti jejak penelitian rukyatul hilal sedemikian hilal dapat disaksikan atau dirukyat tentu dapat dipertimbangkan beragam alasan (Penentuan Syawal 1439H) yang antara lain:

1. Di Indonesia dikenal adanya kriteria imkanurukyat sebesar 2 derajat berdasarkan kesaksian yang terjadi pada rukyat hilal penentuan 1 Syawal 1404H (atau pada tanggal 29 Juni 1984) di mana ijtimak terjadi pada pukul 10:18 WIB;

2. Kriteria MABIMS di mana:

  • ketinggian hilal minimal 2 derajat;
  • jarak busur 3 derajat; atau
  • umur hilal minimum 8 jam;

3. Landas acu empiris pada Limit Danjon (statistik dan batas kemampuan mata manusia secara wajar), bahwa hilal akan tampak apabila jarak sudut antara Bulan dan Matahari lebih besar dari 7 derajat di mana oleh Odeh dari Islamic Crescent Observation Project (ICOP), pada tahun 2004, dikoreksi berdasarkan statistik data baru dalam analisis perhitungannya bahwa limit ini adalah 6,4 derajat;

4. Konferensi Penyatuan Awal Bulan Hijriah International di Istambul pada tahun 1978, menyimpulkan bahwa:

  • Awal bulan dimulai apabila jarak busur antara Bulan dan Matahari lebih besar dari 8 derajat; dan
  • Tinggi Bulan dari ufuk pada saat Matahari terbenam lebih besar dari 5 derajat.

 

Jadi, melihat kecenderungan di atas, dapat diharapkan bahwa pada tanggal 12 Agustus 2018, hilal dapat dirukyat. Tentunya selain faktor di atas, cuaca pun tergolong yang menentukan. Adapun dalam ranah pembuktian lapangan, berikut ini disajikan ilustrasi dan tabel terkait:

Gambar 14

 

Gambar 15

 

Gambar 16

 

 

Gambar 17

 

Gambar 18

 

Gambar 19

 

Konfirmasi Hisab Astronomis

Adapun sehari setelahnya, yaitu hari Senin, 13 Agustus 2018, tetap dilakukan pengamatan posisi Bulan Sabit Muda untuk konfirmasi perhitungan. Seperti hasil perhitungan dan pengamatan bulan Syaban dan Ramadhan 1439H yang lalu, ataupun analisis data hisab untuk Syawal 1439H, bahwa ketika Anak Bulan pada saat hari hisab/rukyat/ijtimak belum terlihat, maka bulan tersebut digenapkan 30 hari dan ini yang terjadi pada Zulhijjah 1439H.

Untuk Zulhijjah kali ini, hilal berbasis hisab tidak mungkin diamati saat hari rukyat (11 Agustus 2018). Sejatinya, sehari setelahnya (12 Agustus 2018) dapat diamati, asalkan tidak ada aral melintang yang salah satunya adalah faktor cuaca atau force majeure lainnya. Oleh sebab itu, untuk lebih meyakinkan lagi serta konfirmasi terhadap hasil perhitungan astronomis, maka tetap dilakukan observasi pada hari Senin, 13 Agustus 2018. Pedoman untuk hari Senin, 13 Agustus 2018 adalah sebagai berikut:

Gambar 20

 

Gambar 21

 

Gambar 22

 

Tabel 7
Hasil hisab sistem Ephemeris Hisab Rukyat posisi hilal
menjelang awal Zulhijjah 1439 H tanggal 13 Agustus 2018 di Pantai Anyer Serang Banten.
Adapun pembanding perhitungan, dapat dilihat di bawah ini:

Tabel 8
Hasil hisab sistem Ephemeris Hisab Rukyat posisi hilal
menjelang awal Zulhijjah 1439 H tanggal 13 Agustus 2018 di Pantai Anyer Serang Banten
berbasis 3 software astronomis.

 

Gambar 23

 

Gambar 24

 

Gambar 25

 

Gambar 26

 

Gambar 27

 

Sekelumit catatan pada penentuan kalender Hijriah untuk penentuan tanggal 1 Zulhijjah 1439H:

  1. Berdasarkan hasil murni perhitungan (hisab) pada hari Sabtu tanggal 11 Agustus 2018 (hari hisab/ijtimak) bahwa Anak Bulan sudah ada karena ijtimak terjadi sebelum Matahari terbenam. Sudah positif (New Moon) walaupun tidak di atas ufuk ketika Matahari terbenam. Jadi, bulan Zulqa’dah hanya 29 hari dan tidak digenapkan dan tanggal 1 Zulhijjah 1439H jatuh pada hari Minggu tanggal 12 Agustus 2018. Artinya, Idul Adha (tanggal 10 Zulhijjah) adalah pada hari Selasa, 21 Agustus 2018;
  2. Berdasarkan hisab dan dengan pertimbangan hilal yang sudah wujud (dalam kasus di sini, hilal terbenam lebih dahulu dibanding Matahari walau sudah New Moon), maka bulan Zulqa’dah digenapkan menjadi 30 hari dan tanggal 1 Zulhijjah (sebagai acuan New Month) jatuh pada hari Senin, 13 Agustus 2018 di mana ini artinya Idul Adha 1439H akan jatuh pada hari Rabu tanggal 22 Agustus 2018
  3. Berdasarkan hasil observasi (rukyat), maka penentuannya berbasis rukyat pada hari hisab/rukyat/ijtimak, yaitu Sabtu tanggal 11 Agustus 2018. Apabila ada kesaksian dari pengamat hilal, maka tanggal 1 Zulhijjah 1439H juga jatuh pada hari Minggu tanggal 12 Agustus 2018 dan Idul Adha jatuh pada hari Selasa, 21 Agustus 2018. Namun, dari beberapa pertimbangan yang telah dipaparkan di atas, maka tidaklah mungkin hilal dapat dirukyat saat Matahari terbenam karena hilal terbenam terlebih dahulu dibandingkan dengan Matahari. Artinya, bulan Zulqa’dah niscaya akan digenapkan menjadi 30 hari dan tanggal 1 Zulhijjah jatuh pada hari Senin, 13 Agustus 2018 di mana ini artinya Idul Adha 1439H akan jatuh pada hari Rabu tanggal 22 Agustus 2018;
  4. Walhasil, yang memakai hasil murni perhitungan pada point 1 akan lebih awal menyambut Idul Adha 1439H dibandingkan dengan yang menggunakan hasil hisab dan wujudnya hilal serta hasil rukyat pada point 2 dan 3. Sebenarnya masalah ini juga sudah ditentukan garis kebijakannya oleh Kementerian Agama RI (lihat artikel sebelumnya);
  5. Seperti yang telah dipaparkan di situs ini sebelumnya pada penentuan 1 Syawal 1439H, bahwa perbedaan seperti yang selama ini terjadi sebenarnya sama sekali tidak menjadi masalah sepanjang masyarakat mengetahui alasan penetapannya secara ilmiah. Namun, dan yang jelas dalam hal ini, Pemerintah RI melalui Kementerian Agama sudah memiliki standard penentuan yang lengkap, baik yang berbasis hisab tradisional hingga merangkum ragam metode perhitungan modern, maupun metode rukyat pun dari yang bersifat konvensional yang telah dilakukan sejak bergenerasi yang lalu hingga pengamatan berteknologi canggih; juga disertai data yang dihimpun dari beragam atau banyak sumber dan narasumber; termasuk yang tidak kalah pentingnya demi kesatuan umat di wilayah RI, yaitu menghimpun semua hasil di atas dengan satu langkah upaya nan apik sebagai ajang kesepakatan secara nasional melalui Sidang Itsbat-nya di mana dengan suatu pagar tertentu ormas apapun dapat hadir untuk urun-rembug dalam musyawarahnya. Sekali lagi, bahwa keputusan akhir tentu dapat tampak dari kesepakatan para ulama yang mumpuni dan memiliki kompetensi dalam hal seperti ini untuk menjadi pedoman tauladan umatnya, sesuai ke-taat-azas-an yang secara ikhlas “mau” dipagari secara arif bijaksana oleh Pemerintah RI yang tentu penuh pengayoman dan permakluman demi persatuan dan kesatuan umat di Tanah Air.”
  6. Semoga kita dapat semakin arif menyikapinya, termasuk pada isu sains yang terkait. Berharap apabila makin memahami fenomena ini secara ilmiah, di ujung akhirnya, dapat menimbulkan rasa syukur dengan segala kerendahan hati karena mendapat kesempatan justru untuk menikmati perbedaan tersebut sebagai salah satu karunia-Nya yang tidak terukur besarnya. Selamat Idul Adha 1439H. Mohon Maaf Lahir dan Batin, serta doa keselamatan bagi khususnya untuk saudara kita yang sedang menjalankan ibadah haji, semoga menjadi haji yang mabrur. Salam Astronomi.–WS–

 

DAFTAR PUSTAKA

  • Abell, G.O.,    1975, Exploration of the Universe, Holt, Rinehart and Winston, New York
  • Departemen Agama RI, 1996, Winhisab Version 2.0, Badan Hisab Rukyat Departemen Agama RI
  • Departemen Agama RI, 2008, Panduan Hisab Rukyat, Direktorat Jenderal Bimbingan Masyarakat Islam
  • Kementerian Agama RI., 2018, Taqwim Standar Indonesia 2018 Masehi / 1439-1440 Hijriyah, Direktorat Jenderal Bimas Islam Kementerian Agama RI
  • Kementerian Agama RI., 2018, Ephemeris Hisab Rukyat 2018, Direktorat Urusan Agama Islam dan Pembinaan Syariah, Direktorat Jenderal Bimas Islam Kementerian Agama RI
  • Khafid, 1996, Mawaaqit 2001
  • Mahkamah Agung RI., 2018, Data Ephemeris Matahari dan Bulan tahun 2018, Direktorat Jenderal Badan Peradilan Agama.
  • MUI  2004, Keputusan Fatwa MUI Nomor 2 Tahun 2004 tentang Penetapan Awal Ramadhan, Syawal, dan Dzulhijjah, Komisi Fatwa MUI
  • Smart, W.M.,    1961, Spherical Astronomy, Cambridge Univ. Press, London
  • ---------------., 1989, Sofware Astronomi Astro Info, Tumasoftware, Zephyr Services 1900 Murray Ave. Pittsburgh, PA. 15217
  • ---------------., Red Shift 3 Multi Media Astronomy, Maris Multimedia Production
  • ---------------., 2004, Software Astronomi Starry Night Pro Plus 6.0, Imaginova Canada Lmt
    (Juga catatan dalam artikel terkait penelitian hisab rukyat pada situs ini).