Written by Widya Sawitar

User Rating: 0 / 5

Star InactiveStar InactiveStar InactiveStar InactiveStar Inactive
 
AQUARIUS
SANG PEMBAWA AIR KEHIDUPAN

Bagian Kedua

“But in reality, such an age is nowhere near right now.
The naming of an "age" refers to a period in which the vernal equinox
— the place where the sun appears on the first day of spring —
lies inside a specific constellation.
But thanks to the wobbling of the Earth's axis, a phenomenon called "precession,"
the equinox point appears to shift slowly westward against the background stars,
taking 25,700 years for one trip.
Right now, the equinox is located in Pisces;
so actually, it's currently the Piscean Age, and the Age of Aquarius will not dawn until 2599.”
(Joe Rao; October 23, 2015; in space.com/30912-look-at-aquarius-this-week)

 

 

Gambar 1 AQUARIUS
(Ref.: program stellarium 0.12.4)

 

Seperti yang telah dipaparkan di artikel pertama yang lebih membahas sejarah, bahwa pendataan bintang secara individual telah ada sejak bermilenia yang lalu, dan sedikit kutipannya: “Dalam pembagian langit, era 1350 – 1000 SM, Ea sebagai dewa Bumi sekaligus dewa kehidupan, menjadi penguasa langit bagian selatan (Enlil di utara, Anu di ekuator langit dan sebenarnya masuk wilayah Zodiak). Namun, Ea sejatinya dalam pandangan mereka dapat berada di mana saja. Simbolisasi wilayah Ea ada pada Capricornus (goat-fish with ram’s-head standard, atau turtle/penyu) dan Aquarius (penguasa langit selatan). Kisaran 1100 SM (era Babylonia), dikenal nama GU.LA, the great one untuk Aquarius sebagai kelompok “Star of Elam”. Pada pembagian langit selatan (terdata 15 bintang yang disebut Stars of Ea di mana salah satunya adalah GU.LA ( juga ditulis ada NUNki; the star of Eridu / the city dan identifikasinya adalah bintang Canopus, yaitu bintang paling terang di rasi bintang Argo Navis yang kini terbagi 3: Vela – layar kapal, Carina – lunas, Puppis – buritan, yang sangat jauh dari Aquarius). Penulis belum mendapatkan argument pengelompokan ini. Termasuk dalam Stars of Ea ini adalah kelompok Centaurus, Carinae, Crux (?), Lupus, Scorpius, Sagittarius, dan Capricornus. Kesemuanya memang di selatan ekuator langit.”

Sementara itu, pada budaya Nusantara penulis pun belum menemukan nama bintang secara individual, khususnya di rasi bintang Aquarius. Atau, seperti pada kutipan dari artikel pertama, “Apabila melihat kubah langit malam, sebenarnya rasi bintang Aquarius tidaklah terlalu istimewa bentuknya ataupun tidak mencolok (bandingkan dengan Sagittarius atau Scorpius misalnya). Formasi bintang Gamma, Zeta, Eta, dan Pi Aquarii biasa disebut Urn (seperti huruf Y). Masyarakat Yunani menyebutnya Kalpe, Kalpis, Kalpeis. Latin sebagai Situla atau Urna. Pliny membedakan antara keduanya. Bintang yang cukup redup, yaitu bintang Lambda, Chi (x atau kh), Phi (f), Omega Aquarii dan beberapa lainnya membentuk layaknya aliran air yang tumpah dari pasu menuju mulut dari (rasi bintang) Ikan Selatan (Piscis Austrinus, Southern Fish) yang berenang di sungai (rasi bintang) Eridanus.” Namun demikian, tidak ada salahnya di sini diungkapkan beberapa fakta ke-kini-an tentang rasi bintang Aquarius.

 

Bintang Terang

Pada rasi bintang ini hanya ada 3 bintang yang cukup terang (masih dapat disaksikan di kubah langit malam kota Jakarta tatkala cerah):

1. Alpha Aquarii atau Sadalmelik (Sadalmelek / Al Sa’d al Malik / Al Sa’d al Mulk – the Lucky One / Stars of the King, bintang keberuntungan sang raja). Dalam Washington Double Star Catalog diberi indeks WDS J22058-0019. Kadang ada yang menyebutnya Rucbah, walau nama ini melekat pada bintang Delta Cassiopeiae. Nama resminya berbasis IAU adalah Sadalmelik (21 Agustus 2016; WDS J22058-0019A) dan bintang Delta Cassiopeiae diberi nama Ruchbach.

Pada budaya Tiongkok (pada artikel pertama), bintang ini termasuk kelompok Wēi Xiù, yang berarti Atap (Roof) di mana kelompok ini meliputi bintang Alpha Aquarii, Theta Pegasi, dan Epsilon Pegasi. Dalam kasus ini, Alpha Aquarii disebut Wēi Xiù yī, bintang pertama/utama dari kelompok tersebut. Pada pemetaan modern, lokasinya di bahu kanan figur Ganymede.

Usia bintang ini masih relatif muda, kisaran 53 juta tahun dan sedang dalam tahap evolusi menjadi maharaksasa. Tergolong tipe G2 Ib (kuning, maharaksasa yang terang). Magnitudo semu 2,95. Besar massa sekitar 6,5 kali Matahari dan radius 77 kali Matahari, serta berjarak kisaran 759 tahun cahaya. Temperatur efektif mirip Matahari, kisaran 5.210 K dan luminositas 3.000 kali Matahari. Kendati diberi indeks alpha, sebenarnya secara visual sedikit lebih redup dibandingkan dengan bintang Beta Aquarii.

 

 

Gambar 2
Manuscript Bintang Alpha Aquarii
(Davis, 1944, p.11)

 

Pemberian indeks A terkait WDS Catalog karena sebenarnya bintang ini memiliki pasangan (visual companion) dengan indeks UCAC2 31789179 (m=12,2) dan separasi jarak 110,4 arcseconds.

Status atau karakter maharaksasanya menunjukkan bahwa bintang ini sedang dalam taraf evolusi cepat dan “sekarat”. Kecenderungannya menjadi bintang variabel (Cepheid). Namun, nyatanya bukan tergolong bintang variabel tersebut. Sebut saja kategori Hybrid Star. Biasanya bintang seperti ini akan membubuskan materi dalam ujud angin bintang yang bersifat “panas”. Nyatanya, lebih dingin dibanding yang seharusnya. Sadalmelik dalam kasus di atas dapat dikatakan berada di antara keduanya. Kondisi ini hingga sekarang masih dalam taraf penelitian, ibarat komentar Jim Kaler “The star points to paths in which we can advance the stellar science, but ones that are still covered by underbrush”.

 

2. Beta Aquarii atau Sadalsuud (Al Sa’d al Su’ud – the Luckiest of the Lucky). Bintang ini berwarna kuning dengan magnitudo semu 2,90. Sadalsuud – bukan Sund atau Saud, seperti yang sering ditulis – berasal kata dari ranah Arab, Al Sa'd al Su'ud, yang secara bebas diterjemahkan sebagai Yang Paling Beruntung dari Yang Beruntung, tatkala terbitnya bersamaan dengan terbitnya Matahari di mana musim dingin telah berlalu dan memasuki musim semi yang lalu berlanjut dengan musim hujan. Rentang ini termasuk “rumah” ke 22 (manzil(ah)/mension) di mana kelompok penandanya termasuk bintang yang dalam era kini disebut bintang Xi Aquarii dan Kappa Capricorni. Catatan: tertulis c yang dalam abjad Yunani adalah kappa (k atau c). Untuk cis (ç) adalah chi/kh/x.

Bintang Beta dan Xi juga merupakan “rumah” Bulan dalam budaya Persia yang disebut Bunda yang kawasan langit tersebut bagi masyarakat budaya Coptic disebut Upuineuti (the Foundation; Coptic: budaya Afro-Asia, budaya Mesir yang lebih modern, uniknya menjangkau hingga Libia dan Sudan). Adapun bintang Beta sendiri menandai sieu atau ”rumah” Heu, Hiu, atau (Void), yang dahulu disebut Ko, sebagai pusat dari tujuh sieu yang disebut Heung Wu (the Black Warrior; dan inilah yang sering ditujukan pada sejarah Black Turtle/Tortoise; penjaga gerbang utara sebagai pengayom musim dingin) yang lokasi terlihatnya di seperempat langit utara. Hal ini ditemukan dalam budaya masyarakat Hindu sebagai Kalpeny, ditafsirkan sebagai “Yang Tidak Diketahui Artinya” (unknown signification). Pada wilayah Sungai Efrat dikenal sebagai Kakkab Namma(kh), the Star of Mighty Destiny, yang mungkin berasal dari nama manzil, atau juga nama julukan dari pakar astrologi, yaitu Fortuna Fortunarum.

Al Firuzabadi dari Khorasan, editor Al Ḳāmūs, kamus Arab yang terkenal pada abad ke-14, menyebut beberapa bintang redup dibawahnya, Al Au’ā yang merupakan bentuk jamak dari Nau', yang berarti bintang. Namun, tanpa ada penjelasan lanjutannya dan yang jelas bahwa nyatanya bintang ini memang tidak mencolok ataupun menarik perhatian.

Beta Aquarii berjarak kisaran 612 tahun cahaya dengan kelas spektrum dan luminositas G0 Ib.

 

3. Gamma Aquarii. Pada bagian lengan di tepi terdalam Urn dengan bintang paling barat dari bentukan Y adalah Sadachbia yang berasal dari kata Al Sa'd al Aḣbiyah (Lucky Star of Hidden Things; tempat terlindungi), karena pada musim itu tatkala cahaya Matahari bersinar memanasi Bumi, kala itulah makhluk tanah seperti cacing dan reptil yang mengubur diri selama musim dingin mulai keluar dari peraduannya. Namun, dari tafsir bahwa Aḣbiyah adalah bentuk jamak dari Ḣibā', sebut sebagai tenda/naungan/rumah, maka penjelasan yang masuk akal adalah bahwa bintang tersebut terbit tatkala senja musim semi, setelah asa dan penderitaan selama musim dingin, dan tenda-tenda pengembara pun tersegarkan di padang rumput dan cuaca dianggap menyenangkan.

Penyebutan "Felicity of Tents” pun muncul dari Whitney yang menyitir filosofis awal penerjemahannya. Bintang Zeta, Eta, Pi Aquarii termasuk Gamma Aquarii dalam karya peta Ulugh Beg – untuk kelompok tersebut di mana bintang Zeta merupakan puncak dari tenda tadi. Adapun Kazwini, pada masanya menyebut bintang Zeta sebagai Al Sa'd, dan tiga bintang lain sebagai tendanya.

Sebenarnya dalam penampakannya di langit secara visual berada pada urutan ke 8 dengan magnitudo semu 3,86. Lebih redup dari Delta Aquarii (3,27), sedangkan jaraknya hanya kisaran 158 tahun cahaya. Kelas luminositasnya relatif kecil dibandingkan dengan bintang Alpha/Beta Aquarii, yaitu kelas V / Deret Utama / katai; mirip Matahari. Namun, tetap cukup terang di langit. Rupanya bintang ini kelas spektrumnya A0 (relatif panas, lebih panas dibandingkan dengan bintang Alpha/Beta Aquarii)(Darling, p.32).

 

Objek yang Menarik

1. M2 (NGC7089, globular cluster, m = 6,3)

Objek globular cluster atau gugus bola ini ditemukan oleh Jean-Dominique Maraldi pada tanggal 11 September 1746 ketika sedang berburu komet. Lokasinya di bagian barat Aquarius. Charles Messier (lihat Katalog Messier) secara independen menemukan kembali dan mengatalogkannya tepat 14 tahun kemudian, yaitu pada tanggal 11 September 1760, sebagai "nebula tanpa bintang". William Herschel adalah yang pertama kali menegaskan bahwa nebula tersebut sejatinya tersusun atas banyak sekali bintang, bukan sekedar nebula (materi/awan antar bintang). Identifikasinya adalah M2 atau NGC 7089.

Diameter gugus ini sekitar 150 – 175 tahun cahaya, berisi sekitar 150.000 bintang, dan merupakan salah satu gugus bola yang memiliki anggota sangat banyak dan lebih kompak (padat). Karenanya, diklasifikasikan berbasis kepadatan sebagai kelas II. Berbasis geometri atau bentuknya tergolong kelas eliptisitas 9 (IX) atau identifikasi bentuk adalah E1 (lihat gambar 3). Lokasinya kisaran 37.500 tahun cahaya (W.E. Harris), berarti berada di seberang pusat galaksi Bima Sakti (karena jarak Tata Surya ke pusat galaksi hanya kisaran 20.000 tahun cahaya). Magnitudo semu sekitar 6,3 dan besar piringannya apabila dilihat dari Bumi memiliki diameter antara 6 hingga 8 menit busur (catatan: diameter sudut piringan Matahari/Bulan kisaran 30 menit busur), dengan bagian tengah yang besar (padat) kisaran 5 menit busur.

Gambar 3
Dengan teknologi sekaliber teleskop Hubble saja, gugus ini tampak dominan nebula yang bercampur bintang gemintang. Tentu dimaklumi apabila pada tahun 1746, dengan teknologi teleskop yang ada bahwa objek ini hanya tampak seperti awan putih semata. Juga wajar apabila Messier pun pernah menganggap temuannya adalah sebuah komet, atau berlaku sebaliknya.
(M2 - Hubble - WikiSky)

 

Seperti kebanyakan gugus dengan sifat seperti ini bahwa bagian tengahnya kompak (kerapatan tinggi) dan intinya hanya sekitar 0,34 menit busur (atau 20 detik busur). Besar diameter ini setara dengan diameter gugus sekitar 3,7 tahun cahaya. Radius efek pasang surutnya tergolong besar mencapai jangkauan 21,45 menit busur atau setara dengan 233 tahun cahaya (artinya di luar radius ini, bintangnya akan terperangkap gravitasi pusat galaksi).

Pada pendataan awal bahwa bintang yang paling terang di M2 adalah bintang raksasa merah–kuning dengan magnitudo 13,1. Dalam evolusi bintang, apabila anggota-anggotanya digambarkan dengan diagram HR tampak bahwa cabang horizontalnya memiliki kecerlangan (magnitudo) 16,1. Gugus M2 dalam kelas spektrum tergolong F0 dengan indeks warna minus 0,06. Kini diketahui bahwa M2 tergolong berkelas spektrum F4 dan memiliki indeks warna (B-V)=0,66. Berdasarkan penelitian Halton Arp bahwa usia gugus bola M2 kisaran 13 miliar tahun (setara dengan gugus sejenis yang kenal sebagai M3 dan M5). Artinya, usia gugus sudah sangat tua karena sebanding dengan usia jagad raya.

 

Tabel 1 Data Lokasi dan Karakter M2

Asensiorekta

Deklinasi

Jarak

Kecerlangan Visual

Diameter Sudut

: 20 jam 53,5 menit

: – 12 derajat 32 menit

: 37.500 tahun cahaya

: 6,3

: 6,6 menit busur

 

2. M72 (NGC6981, globular cluster, m = 9,3)

Gugus bola ini ditemukan pada tahun 1780 oleh Pierre Méchain dari Perancis yang tidak lain adalah kolega dari Messier. Ujudnya di kubah langit tampak lebih kecil dan redup dibanding gugus bola lainnya. Identifikasi selain M72 adalah NGC 6981. Letaknya di bagian barat dari rasi bintang Aquarius, dekat dengan kelompok bintang berempat, M73.

 

Gambar 4
M72 ditemukan Méchain pada malam 29-30 Agustus 1780.
Baru tanggal 4 dan 5 Oktober hal yang sama dilakukan oleh Charles Messier
yang kemudian memasukkannya ke dalam katalognya.
Pada awalnya mereka berdua hanya sekedar menganggapnya sebagai nebula,
bukan gugus bintang.
Dengan instrumen yang lebih besar, astronom Inggris John Herschel
(putra penemu Uranus, William Herschel) menyebutnya
"gugus bintang dengan bentuk bulat" yang terang.
Astronom Amerika Harlow Shapley mencatat kemiripannya dengan Messier 4 dan Messier 12.
Berdasarkan catatan, bahwa tampaknya pada kesempatan yang sama,
Messier juga menemukan dan mengukur M73,
yang sebenarnya juga tidak terlalu istimewa secara penampakannya di langit.
(Ref.: M72 - Hubble - WikiSky)(Credit: NASA, STScI, WikiSky)

 

Gugus ini berjarak kisaran 53.000 tahun cahaya, dan tentunya lokasi ini merupakan lokasi yang cukup jauh di luar Pusat Galaksi. Berbasis magnitudo semu yang berharga kisaran 9 hingga 10, dan pertimbangan jarak yang jauh, maka disimpulkan bahwa gugus ini termasuk gugus bola yang mempunyai cahaya intrinsik yang memang sangat terang. Namun, anggota M72 tidak terlalu terkonsentrasi (Shapley mengklasifikasikannya sebagai kelas IX). Di antara gugus bola dalam katalog Messier, hanya lima bahkan kurang yang bangun tubuhnya terkonsentrasi, yaitu M55 (kelas XI), M71 (kelas X-XI) serta M56, M68, dan M107 (kelas X).

Dari telaah spektrum (efek Doppler) bahwa M72 bergerak mendekati kita dengan kecepatan yang cukup besar, sekitar 255 km/s (setara dengan gerak Matahari mengedari pusat galaksi Bima Sakti). Anggota M72 ada yang merupakan bintang variabel yang sangat dikenal jenisnya, yaitu RR Lyrae (ada 49 bintang yang sudah didata). Adapun diameter gugus sekitar 106 tahun cahaya dan setara dengan 6,6 menit busur.

Menurut Deep Sky Field Guide untuk Uranometria 2000.0, bintang paling terang di M72 adalah sekitar 14,2 mag, sedangkan Kenneth Glyn Jones, yang mengutip Helen Sawyer Hogg, memberikan rata-rata 25 bintang paling terang sebagai 15,86. Besaran tingkat cabang horisontal adalah 16,9.

Ada beberapa cara untuk menemukan M72: Temukan bintang 3 Aqr (m = 4,5) dan Epsilon Aqr (m = 4) dekat Delphinus; M72 adalah 3 derajat selatan, 1,5 derajat dari Epsilon Aqr (bintang patokan ini cukup terang). Atau cari M73, kelompok empat bintang, dari Nu Aquarii; kemudian M72 adalah 1,5 derajat arah barat ke utara sedikit atau menemukannya 9 derajat arah timur dari bintang Alpha Cap, bintang paling terang di Capricornus. Kendati demikian, memang butuh peta langit yang akurat untuk mencarinya dan tentu pengalaman.

Penampakan M72 merupakan noktah cahaya samar-samar, sangat kecil dan tekstur kasar (inipun apabila dengan teleskop 4-inci, kisaran diameter 2 menit busur untuk bagian intinya, bagian ini cukup terang).

Dari penelitian bahwa terdapat bintang dengan magnitudo semu 6, yaitu HD 198431 dengan koordinat (20j 50,6m; – 12 derajat 32 menit, dan kelas spectrum K1 III) terletak kisaran 40' ke arah barat M72. Dengan jarak setara lagi, (20j 46,9m; – 12 derajat 51 menit) dari M72 terdapat galaksi anggota Grup Lokal, yaitu Aquarius Dwarf (Grup Lokal adalah kelompok kecil galaksi di mana galaksi kita menjadi anggotanya. Anggap ini adalah RT kita, yang antar RT akan membentuk RW, kelurahan, dst.). Adapun ke arah timur, sekitar 1,5 derajat, adalah lokasi di mana M73 dapat ditemukan, formasi bintangnya seperti huruf Y dari 4 bintang yang umumnya dianggap tidak mencolok.

Berdasarkan pengamatan lanjutan bahwa Messier 72 berjarak 54,57 ± 1,17 ribu tahun cahaya (setara 16,73 ± 0,36 kpc) dari Matahari. Massa gabungannya ditaksir kisaran 168.000 kali massa Matahari. Usia tergolong tua, sekitar 9,5 miliar tahun. Bagian intinya yang padat bintang memancarkan kecerlangan sebesar 2,26 kali luminositas Matahari per parsec persegi.

 

3. M73 (NGC6994, galactic cluster, m = 9,1).

4. Helix Nebula (NGC7293). Planetary Nebula terdekat berjarak 450 tahun cahaya. Posisi antara Iota Aquarii dan Alpha Piscis Austrini (Alpha PsA atau Fomalhaut). Penemunya Harding (1824) dengan m = 7,3 (dapat dilihat dengan binokuler).

 

Gambar 5
Bintang yang sedang sekarat ini sedang melontarkan materi bagian selubungnya,
dan menyisakan inti bintang yang telanjang, yang akan menjadi bintang katai putih.
Foto Nebula Helix ini merupakan gabungan antara bidikan Spitzer Space Telescope (NASA)
dan Galaxy Evolution Explorer (GALEX) milik NASA
yang ditangani oleh California Institute of Technology di Pasadena.
Dalam tahap akhir matinya bintang, lapisan luar bintang akan terlempar ke segala penjuru.
Tatkala kerapatannya mengecil, maka teradiasikan oleh inti bintang sedemikian berpendar.
Bentuk Kabut Planet umumnya beragam tergantung mekanisme ledakannya.
Helix berjarak kisaran 450 tahun cahaya di wilayah Aquarius.
Konon, Matahari akan bernasib sama dengan terbentuknya Helix.
(spitzer.caltech.edu/Helix)(NASA/JPL-Caltech)

 

5. Saturn Nebula (NGC7009). Planetary Nebula di barat daya Eta Aquarii, berjarak 2.400 tahun cahaya dengan m = 8,0. Penemu Herschel (1782), dan namanya diberikan oleh Rosse (1840, juga memberi nama sisa ledakan supernova, SN1054 Tau sebagai Nebula Kepiting / Crab Nebula).

 

Hujan Meteor

Berdasarkan observasi bahwa cukup banyak hujan meteor di mana titik radiannya diketahui berasal dari rasi bintang Aquarius. Namun demikian, hanya beberapa yang dianggap mapan (senantiasa terlihat dengan karakter atau data fisik yang diketahui, termasuk sejarah pengamatannya). Hujan meteor tersebut diantaranya adalah:

  • Eta Aquariids (4 – 7 Mei);
  • North Delta Aquariids (12 Agustus);
  • Southern Delta Aquariids (29 Juli);
  • Kappa Aquariids (21 September);

Induk meteor diduga asteroid dengan identifikasi 2006 AR3. Termasuk yang tergolong tidak mapan walau termasuk kategori annual (tiap tahun). Diketahui terdiri dari 2 titik radian;

  • North Iota Aquariids (20 September);

Tergolong tidak mapan walau termasuk kategori annual (tiap tahun). Data diperoleh khususnya tahun 2002/06/08 dan 2012. Terdiri dari 7 titik radian. Induk meteor belum diketahui;

  • Southern Iota Aquariids (5 Agustus)

Tergolong tidak mapan walau termasuk kategori annual (tiap tahun). Data diperoleh tahun 2002 dan 2006. Induk meteor juga belum diketahui.

  • Daytime Epsilon Aquariids (1968/69);
  • Daytime C Aquariids; tahunan dan diduga berasal dari asteroid 2004 NL8;
  • Beta Aquariids; tahunan dan diketahui terdiri dari 3 titik radian; dan
  • 99 Aquariids (tahunan).

Sebenarnya banyak lagi hujan meteor yang titik radiannya berada di rasi bintang ini. Berdasarkan perhitungan bahwa mereka memang tergolong periodik. Namun, penampakannya tidak mapan. Lebih sering tidak teramati. Untuk penamaan, khususnya Aquariids, kadang disebut Aquariid/s (American Meteor Society dan International Meteor Organization), atau kadang Aquarid/s (meteorshowersonline.com) saja.

 

Eta Aquariids

Hujan meteor ini diketahui berkaitan dengan komet Halley (1P/Halley), cukup terang dan rata-rata pada puncak penampilannya dapat terlihat hingga 20 meteor per jam. Sumber hujan meteor praktis sama dengan Hujan Meteor Orionids. Rentang terjadinya memang cukup panjang, antara 19 April hingga 28 Mei. Namun demikian, umumnya rentang puncaknya antara 1 hingga 8 Mei. Pengamatan lanjutan menunjukkan bahwa puncak penampilan antara tanggal 5 – 6 Mei (60 meteor per jam). Kecepatan jatuh rata-rata dapat mencapai 66 km/s. Penamaannya diberikan setelah pengamatan yang cukup lama di mana titik radiannya diketahui dekat bintang Eta Aquarii (studi kasus tentang hujan meteor dapat lihat Meteor 1 dan Meteor 2). Saat terbaik melihatnya adalah lewat tengah malam hingga waktu Subuh, dan tentu saja ada beberapa syarat dalam kegiatan observasi meteor yang harus diperhatikan seperti tingkat polusi udara dan cahaya, hadirnya Bulan, dsb (Darling, p.171)("Observing the Eta Aquarids").

 

Delta Aquariids

Seperti halnya Eta Aquariids dengan titik radian dekat bintang Eta Aquarii, maka titik radian hujan meteor ini dekat bintang Delta Aquarii. Keunikannya bahwa hujan meteor dari titik radian ini terdiri dari 2 sumber yang memang berbeda karakternya. Yang selatan lebih banyak meteornya (15 – 20 meteor per jam dengan koordinat titik radian (339, –17)) dibanding yang bagian utara (10 meteor per jam, titik radian (340, –2)).

Hujan meteor ini pertama diamati dan diteliti oleh G. L. Tupman pada tahun 1870 di mana saat itu dia berhasil mencatat ada 65 meteor antara tanggal 27 Juli hingga 6 Agustus. Dari gambar plot penampakannya, maka disimpulkan titik awal dan akhir adalah (RA:340, Dec: –14) dan (333, –16). Selanjutnya dikoreksi oleh Ronald McIntosh tatkala berhasil mengamati hujan meteor ini antara tahun 1926 hingga 1933. Lintasannya bermula pada (334,9, −19,2) dan berakhir pada (352,4, −11,8). Mary Almond dan para koleganya menyempurnakan data pada tahun 1952 berbasis penentuan kecepatan dan lintasan yang lebih akurat (harvard/1950IrAJ/1/80O)(Opik, 1950); “more selective beamed aerial”.

Analisis oleh Opik didasari penelitian berbasis gelombang radio untuk mengidentifikasi meteor, memilah mana yang anggota dan yang bukan. Penelitian ini dilakukan secara cermat karena diprediksi bahwa hujan meteor berawal dari adanya aliran materi yang cukup lebar (bayangkan bebatuan aneka ukuran yang melayang ber-arak-arak-an tidak beraturan membentuk layaknya sungai melingkari Matahari (harvard/1950Obs/70/112)(Mary, 1950). Suatu saat secara periodik (tahunan atau annual), Bumi menyelam dan menyeberangi sungai bebatuan ini. Ibarat menyelam menyeberangi sungai; a broad system of orbits that are probably connected and produced by one extended stream.

Gambar 6
Pemetaan titik radian hujan meteor Delta Aquariids
(delta aquariids)

Kesimpulan yang didapat dari sejak Mary hingga Opik berhasil dikonfirmasi berdasarkan Harvard Meteor Project tahun 1952-1954, berbasis penelitian dengan peranti fotografi. Proyek ini juga menghasilkan bukti pertama bahwa aliran materi yang terjadi dan mengakibatkan hujan meteor ini lebih dikarenakan dampak gangguan gravitasi planet Jupiter (meteorshowersonline/delta aq). Kini fenomena seperti itu sudah menjadi penelitian yang mapan. Hampir semua hujan meteor umumnya memiliki kecenderungan yang sama.

Dari penelitian unsur dan orbit, serta sejarah pembentukannya, diduga kuat bahwa induk meteornya berasal dari asteroid keluarga Kracht dengan taksiran massa totalnya mencapai 10 milyard ton. Yang menjadi cikal bakal hujan meteor Delta Aquariids tinggal kisaran setengahnya, atau sekitar 6,25 milyar ton (Jenniskens, 2008).

 

Southern Delta Aquariids (SDA)

SDA sejatinya berlangsung cukup lama, yaitu mulai pertengahan Juli hingga akhir minggu ketiga bulan Agustus. Puncaknya kisaran 30 Juli dengan kecepatan rata-rata 41 km/s. Dapat mencapai jumlah 25 meteor per jam dan termasuk cemerlang.

 

Fakta Terkait Lainnya

Tanggal 23 September 1846, Neptunus ditemukan untuk pertama kali di batas konstelasi Aquarius, kisaran 1 derajat ke arah utara dari bintang Iota Aquarii (titik radian hujan meteor Iota Aquariids) oleh astronom Jerman, Galle saat observasi di Observatorium Berlin. Pencariannya berdasarkan rumus matematika yang diajukan setahun sebelumnya secara terpisah oleh Leverrier (Perancis) dan Adam (Inggris).

Selain itu, juga ditemukan sistem tata surya di luar Tata Surya kita, dengan bintang induk berupa bintang katai merah (red dwarf, Gliese 876) dan diedari 3 planet yang salah satunya diduga kuat mirip planet kebumian (terrestrial) dan kandidat lainnya adalah planet gas Gliese 849b. Juga planet 91 Aquarii b yang mengedari bintang raksasa jingga (orange giant). Serba sedikit akan dibahas berikut ini tentang extra solar planet, ESP.

 

Extra Solar Planet (ESP)

Harapan akan kemungkinan dijumpainya kehidupan di dunia lain telah mendorong imajinasi manusia selama bermilenia dan selama 20 tahun terakhir, penemuan demi penemuan hadirnya planet-planet yang mengorbit bintang-bintang lain telah memicu pencarian dunia seperti Bumi yang dapat menopang kehidupan. Ragam peranti penelitian diberdayakan oleh beragam tim astronom hingga bidang keilmuan lainnya, termasuk diantaranya adalah peluncuran observatorium ruang angkasa Kepler milik NASA. Sebelumnya (bahkan hingga kini) teleskop Hubble pun sudah banyak berkiprah dan berandil besar dalam perburuan ini seperti dalam hal pengukuran untuk kali pertama tentang komposisi atmosfer ESP.

Hingga sekarang pun para astronom masih menggunakan teleskop Hubble untuk melakukan pencarian akan hadirnya atmosfer di ESP berukuran sedang dan menemukan petunjuk yang meningkatkan kemungkinan kelayakhunian pada dua ESP (lihat gambar 7 dan 8 di bawah).

 

Gambar 7
Gambaran artis tentang planet gas raksasa yang mengorbit bintang kerdil merah yang relatif dingin, Gliese 876, berjarak kisaran 15,19 tahun cahaya di arah rasi bintang Aquarius.
ESP ini ditemukan pada tahun 1998 dan identifikasinya Gliese 876b.
Berdasarkan penelitian terakhir bahwa massanya antara 1,9 hingga 2,4 kali besar massa planet Jupiter. Planet ini hanya seperlima jarak Matahari-Bumi terhadap bintang induknya,
dan diduga kuat memiliki banyak satelit
dan memiliki saudara yang massanya hanya setengah Jupiter,
yang berada di antara bintang induk dan planet tersebut.
Bintang Gliese 876 sendiri memiliki massa hanya sepertiga massa Matahari
dan terlalu redup untuk dilihat dengan kasat mata.
Posisi planet Gliese 876b adalah R. A. 22h 53m 16,73s dan Dec. -14° 15' 49,3".
Credit:  NASA and G. Bacon (STScI)

 

Tim astronom juga menemukan bahwa planet ekstrasurya TRAPPIST-1b dan TRAPPIST-1c, kira-kira berjarak 40 tahun cahaya, tidak mungkin memiliki atmosfer yang didominasi hidrogen yang biasanya ditemukan di planet gas seperti Jupiter. Atmosfer yang kompak (padat) sejatinya dapat menimbulkan efek rumah kaca, dan dapat meluruhkan potensi kehidupan.

Rencana diluncurkannya Teleskop Ruang Angkasa James Webb yang akan datang (2019/20) tentu diharapkan akan membantu menentukan komposisi dari atmosfer ini dan mencari potensi ataupun tanda-tanda adanya kehidupan, minimal secara awal tentunya adanya unsur pendukung kehidupannya, seperti hadirnya unsur karbon dioksida, ozon, metana, atau lainnya.

 

Gambar 8 (Hubble - TRAPPIST-1 System)

 

Seperti yang juga dimuat oleh Nature tanggal 5 Februari 2018, bahwa terdapat tujuh exoplanet berukuran sedang yang siap untuk digunakan dalam studi atmosfer di seputar bintang katai merah (red dwarf) TRAPPIST-1. Hidrogen secara khusus adalah salah satu gas rumah kaca yang kuat yang dapat mencegah kelayakhunian planet. Atmosfer yang sebagian besar didominasi oleh hidrogen, jika bebas dari awan, harus menghasilkan tanda-tanda spektroskopi yang menonjol di panjang gelombang inframerah-dekat (near-infrared) yang terdeteksi selama fenomena transit (planet tersebut melintas di depan piringan bintangnya). Observasi pada planet-planet terdalam telah mengesampingkan tanda-tanda tersebut. Namun, planet terluar lebih mungkin untuk mempertahankan atmosfer seperti halnya pada planet Uranus/Neptunus. Penelusuran intensif dilakukan tim peneliti terhadap empat planet-dalam (bila di Tata Surya, planet dalam ini ibarat Merkurius hingga Mars, atau inner-planet) atau di dekat zona layak huni (artinya pada kondisi lingkungan orbit sejarak Bumi), wilayah di mana ujud air dalam rupa cair dapat terbentuk di permukaan planetnya.

Planet yang tidak menunjukkan karakter menonjol pada panjang gelombang inframerah-dekat di mana tidak terbentuk atmosfer ber-hidrogen-bebas dijumpai pada TRAPPIST-1d, e, dan f. Petunjuk khusus ada pada planet g (Nature Astronomy, volume 2, p.214–219, 2018). Tim astronom peneliti antara lain: Julien de Wit, Hannah R. Wakeford, Nikole K. Lewis, Laetitia Delrez, Michaël Gillon, Frank Selsis, Jérémy Leconte, Brice-Olivier Demory, Emeline Bolmont, Vincent Bourrier, Adam J. Burgasser, Simon Grimm, Emmanuël Jehin, Susan M. Lederer, James E. OwenVlada Stamenković dan Amaury H. M. J. Triaud.

 

Gambar 9
Hanya 40 tahun cahaya jauhnya, sepelemparan batu dalam skala jarak di galaksi kita.
Terdapat beberapa planet berukuran Bumi yang mengorbit bintang kerdil merah TRAPPIST-1.
Empat planet terletak di zona layak huni
(sebut seperti kondisi pada jarak Bumi di mana memungkinkan adanya kehidupan),
sebuah wilayah di kejauhan dari bintang di mana air ujud cair dijumpai
di mana air ini merupakan salah satu syarat kunci kehidupan yang kita kenal.
Para astronom yang menggunakan Teleskop Hubble
telah melakukan survei spektroskopi pertama tentang dunia ini.
Para peneliti mengungkapkan bahwa setidaknya tiga planet eksoplanet tidak punya atmosfer
yang kaya dengan unsur hidrogen dan mirip planet gas seperti Neptunus.
Ini berarti atmosfernya mungkin lebih tipis dan kaya akan gas yang lebih berat
seperti yang ditemukan di atmosfer Bumi, seperti karbon dioksida, metana, dan oksigen.
Para astronom berencana menggunakan Teleskop Luar Angkasa James Webb (NASA),
yang dijadwalkan diluncurkan pada tahun 2019, untuk menyelidiki lebih dalam atmosfer planet
untuk mencari keberadaan unsur-unsur seperti itu
yang dapat memberikan petunjuk apakah dunia yang luas ini layak huni.
Credit: NASA, JPL/Caltech, and R. Hurt and T. Pyle (IPAC)

 

Satu kandidat planet yang dijumpai pada arah rasi bintang Aquarius adalah dengan identifikasi WASP-6b (lihat tabel 3 dan gambar 10). Yang unik HD189733b, yang kemudian dikenal sebagai "planet biru” (karena kondisi fisik terluarnya mirip dengan Bumi). Permodelan dinamika atmosfernya berbasis teoritis. Pada gambar, skala perbandingan besar antar mereka dibuat semirip mungkin (HAT-P-12b yang terkecil dan kira-kira seukuran Jupiter; WASP-17b yang terbesar kisaran 2 kali Jupiter. Indikator planet panas tampak pada sisi malam yang berpendar dan yang paling kuat efeknya adalah pada WASP-12b walau juga tampak pada WASP-19b dan WASP-17b. Efek Hamburan Rayleigh yang membuat langit berwarna biru dan warna Matahari yang cenderung merah-jingga kala hendak terbenam juga tampak pada adanya tepi berbias warna biru di planet WASP-6b, HD 189733b, HAT-P-12b, dan HD209458b.

 

Gambar 10
Gambaran seniman ini merupakan data temuan adanya 10 planet layaknya Jupiter
dengan karakter temperatur yang tidak seperti Jupiter, bahkan tergolong panas (hot Jupiter).
Ilustrasinya digambar berbasis data penelitian oleh astronom David Sing dan rekan-rekannya
yang memakai gabungan antara teleskop visual Hubble dan teleskop inframerah Spitzer.
(Ref.: https://hubblesite.org/image/3660/category/2-stars)
Illustration Credit: NASA and ESA; Science Credit: NASA, ESA, and D. Sing (University of Exeter, UK)
By combining data from NASA's Hubble and Spitzer Space Telescopes.

 

Tabel 2
Penemuan ESP (Extra Solar Planet) atau Exoplanet (Ref.: lihat gambar 10).

No Nama Objek Rasi Bintang Jarak
1 WASP-12b Auriga 871 tahun cahaya (267 parsecs)
2 WASP-6b Aquarius 1,000 tahun cahaya (300 parsecs)
3 WASP-31b Crater 1,304 tahun cahaya (400 parsecs)
4 WASP-39b Virgo 230 tahun cahaya (80 parsecs)
5 HD 189733b Vulpecula 63 tahun cahaya (20 parsecs)
6 HAT-P-12b Canes Venatici 465 tahun cahaya (143 parsecs)
7 WASP-17b Scorpius 1,000 tahun cahaya (300 parsecs)
8 WASP-19b Vela 815 tahun cahaya (250 parsecs)
9 HAT-P-1b Lacerta 453 light-years (139 parsecs)
10 HD 209458b Pegasus 154 light-years (47 parsecs)

 

Tabel 3 (Planet) WASP-6b
Bintang induk WASP-6 merupakan bintang kelas G8, dengan m=12,4, massa 0,888 kali Matahari,
Usia dikisaran 11 milyard tahun, temperature efektif sekitar 5450 K, radius 0,87 kali Matahari
(archive.org/voparis/wasp-6b)

Nama Objek WASP-6b
Posisi (J2000)

RA    :   23h 12m 38s

Dec   : - 22° 40' 06"

Rasi Bintang Aquarius
Jarak 1.082 tahun cahaya (307 parsecs)
Tahun Penemuan 2008
Semimajor axis 0,0421 satuan astronomi
Periode edar 3,361006 hari
Eksentrisitas 0,054
Radius 1,224 x Jupiter
Inklinasi orbit 88,47 derajat
Metode observasi Transit

 

Pesawat angkasa pemburu-planet milik NASA, yaitu TESS (Transiting Exoplanet Survey Satellite) merupakan wahana penyelidik ESP berbasis metode transit yang diluncurkan tanggal 16 April 2018 dengan roket SpaceX Falcon 9 dari Stasiun Angkatan Udara Cape Canaveral di Florida. TESS akan meneliti lebih dari 200.000 bintang tetangga terdekat untuk menyisir fenomena transit yang nantinya akan menjadi bahan penelitian dan pembanding bagi observatorium lain.

"TESS is opening a door for a whole new kind of study,"

seperti yang dikatakan oleh salah satu tim peneliti dari NASA's Goddard Space Flight Center di Greenbelt, Maryland, Stephen Rinehart,

"We're going to be able to study individual planets
and start talking about the differences between planets.
The targets TESS finds are going to be fantastic subjects for research for decades to come.
It's the beginning of a new era of exoplanet research.”
(space.com/tess-mission-new-era-exoplanet-research).

 

Gambar 11 Wahana TESS
Credit: NASA's Goddard Space Flight Center

 

Jika semua berjalan sesuai rencana, wahana yang berbobot 318 kilogram ini mengorbit Bumi dengan lintasan sangat lonjong (eksentrisitasnya besar) dengan jarak terdekat (perigee) kisaran 108.000 km dan terjauh (apogee) 373.000 km. Merupakan wahana pertama dengan karakter orbit seperti ini. Periode orbitnya sekitar 13,7 hari.

TESS akan menghabiskan misi utamanya selama dua tahun dengan menggunakan empat kamera khusus untuk berburu fenomena transit. Metode ini juga dilakukan oleh pendahulunya, Kepler Space Telescope yang juga milik NASA. Memang berbiaya jauh lebih mahal, namun sebanding dengan daya jangkaunya yang sangat jauh hingga mendeteksi bintang hingga jarak 1.000 tahun cahaya (TESS kisaran 300 tc saja). Dengan kepekaan tinggi, Kepler (Kepler Space Telescope) telah menemukan sekitar 2/3 jumlah exoplanet yang diketahui selama 5 tahun (2009 – 2013; konfirmasi exoplanet saat itu baru di kisaran 3.700 buah).

 

Gugus Galaksi

Sebenarnya hingga kini sudah banyak galaksi yang diketahui memiliki lubang hitam raksasa (massive black hole) dipusatnya yang menyebabkan gas di sekitarnya bercahaya. Namun, pada kasus galaksi kacang hijau sangat aneh karena seluruh tubuhnya berpendar, bukan sekedar pusatnya yang cemerlang. Pengamatan ini mengungkapkan untuk pertama kalinya adanya wilayah yang luas dan bercahaya, serta sangat cemerlang yang bukan berbasis mekanisme yang selama ini diketahui.

 

Gambar 12
Sebuah kelas atau klasifikasi baru pada gugus galaksi teridentifikasi menggunakan peranti Very Large Telescope (VLT) dari ESO, Gemini South Telescope, dan Teleskop Kolaborasi 3 negara:
Kanada-Prancis-Hawaii (CFHT).
Anggota Gugus ada yang mendapat sebutan “galaksi buncis (green bean galaxies)” karena penampakannya di langit yang unik, berpendar dengan intensitas yang kuat yang berasal dari lubang hitam raksasa dipusatnya. Objek dan fenomenanya sangat langka di alam semesta.
(eso.org/eso1249)

 

Astronom Mischa Schirmer dari Observatorium Gemini telah melihat banyak objek yang sangat jauh hingga “di tepian” jagad, mencari ragam gugus galaksi. Namun, tatkala menemukan satu objek dalam sebuah foto hasil bidikan dari Teleskop Kanada-Prancis-Hawaii (CFHT), dia tetap merasa terkejut dan tercengang. Yang disaksikan nyata adalah galaksi, tetapi pendaran hijau terang itulah yang mengusiknya. Itu tidak seperti galaksi yang pernah dilihat sebelumnya, sesuatu yang sama sekali tidak terduga. Dia segera menggunakan ESO’s Very Large Telescope (VLT) untuk mencari tahu mekanisme seperti apa yang menyebabkannya (eso.org/eso1249).

 

“ESO granted me special observing time at very short notice and just a few days after I submitted my proposal, this bizarre object was observed using the VLT,” says Schirmer. “Ten minutes after the data were taken in Chile, I had them on my computer in Germany. I soon refocused my research activities entirely as it became apparent that I had come across something really new.”

 

Objek baru ini diberi indeks J224024.1−092748 atau J2240. Lokasinya di wilayah Aquarius berjarak sekitar 3,7 milyard tahun cahaya. Setelah penemuan itu, tim Schirmer menelusuri daftar hampir satu miliar galaksi lain untuk uji banding dan ternyata menjumpai 16 objek lagi dengan karakter yang mirip dan inipun setelah dikonfirmasi dengan hasil observasi menggunakan Gemini South Telescope. Dengan penyelisikan ini, disadari bahwa memang objek seperti demikian sangatlah langka, rata-rata hanya ditemukan sebuah dalam ruang dengan bentang 1,3 milyard tahun cahaya. Julukan Galaksi Kacang Hijau memang disebabkan penampakannya. Sebenarnya ada yang mungkin mirip yang sebelumnya diketahui, yaitu dengan julukan green pea (kacang capri). Catatan selingan; penerjemahan julukan ini cukup unik karena green bean biasa untuk buncis atau kacang-kacangan yang bentuknya panjang; untuk green pea umumnya seperti kacang capri (lebih kecil dibanding buncis dan bentuknya bulat). Nyatanya, bentuk geometri itulah yang mungkin diamati oleh Schirmer, termasuk dalam hal perbandingan ukurannya. Rasanya butuh waktu relatif lama untuk mendapat jawab akan misteri ini.

 

Pengantar

Berharap pada masa mendatang, penulis masih dapat berusaha untuk serba sedikit memaparkan kisah tentang rasi bintang Zodiak yang lainnya. Terlepas dari sisi astrologi maupun Astronomi, bagaimanapun ini tinggalan budaya. Walau berkelindan dengan takhayul di sana sini, bagaimana pun ini adalah tahapan primordial manusia sebelum meraih taraf iptek yang sekarang. Sesedikit apapun, semoga bacaan ini bermanfaat. Salam Astronomi. –WS–

 

 

Referensi

Pustaka dan daftar situs dapat dilihat pada artikel Aquarius Bagian 1.