Written by Widya Sawitar

User Rating: 0 / 5

Star InactiveStar InactiveStar InactiveStar InactiveStar Inactive
 

Gambar 1
Konjungsi Venus, Mars, Bulan, dan Jupiter (6 – 7 November 2015)
Credit: M. Rayhan (lokasi: Planetarium Jakarta)

 

Pada era yang sebagian masyarakat katakan serba modern sekarang ini
nyatanya mengorbankan salah satu sisi pola pikir ataupun pandangan manusia
tentang rumah besarnya, yaitu alam semesta
yang justru menjadi karunia-Nya yang begitu megah.
Dalam skala mikro, semisal untuk warga yang tinggal di kota Jakarta
rasanya sudah nyaris lupa bahwa di kubah langit
sebenarnya banyak petunjuk justru tentang eksistensi kesejatiannya.
Kini kubah langit malam di atas Jakarta sudah tidak lagi bertabur ribuan bintang
karena dampak sesuatu yang dikatakan serba canggih
di mana polusi udara dan cahaya justru menjadi keniscayaannya.

 

Kubah Langit Malam

Apapun yang terjadi saat kita memandang kubah langit malam di Jakarta (atau kota besar pada umumnya), kita tetap bersyukur karena dalam kondisi tertentu masih dapat menyimak bintang gemintang yang cemerlang, Bulan, dan planet-planet. Rasi bintang yang sejak ribuan tahun yang lalu dipakai leluhur untuk bercocok tanam dan mengarungi samudra sebagiannya masih relatif mudah ditera. Contoh semisal rasi bintang Orion yang di Indonesia populer disebut Lintang Waluku (luku: alat bajak sawah) dan Crux (Lintang Gubug Penceng, Bintang Layang Layang, Lintang Pari), atau yang dikatakan Segitiga Musim Panas dan Segitiga Musim Dingin bagi masyarakat belahan utara dan selatan pun masih dapat ditera dengan cukup baik, juga Bintang Biduk (Seven Stars) sebagai penanda arah utara utamanya masyarakat belahan utara, namun sangat jelas bagi masyarakat di Bumi Nusantara.

Dari beberapa fenomena konjungsi, bahkan dalam sejarah dikenal adanya “Star of Bethlehem” yang salah satunya dihipotesiskan terjadinya fenomena konjungsi kisaran 10 September 6 SM di mana Venus dan Mars di sisi barat dan konjungsi Bulan-Jupiter-Saturnus yang bersandingan di sisi timur. Jadi khususnya Jupiter-Saturnus untuk kurun sebulan lebih senantiasa berdampingan (Star-of-Bethlehem).

Terlepas dari itu, tentu saja, selain kondisi minim polusi, maka untuk observasi fenomena langit menjadi lebih ideal apabila cuaca cerah. Walau demikian, kadang pada situasi yang ekstrim di mana justru selepas hujan deras yang cukup lama, maka apabila ini terjadi di malam hari, kita untuk beberapa menit dapat melihat kubah langit kota Jakarta kembali bertabur ribuan bintang. Selepas itu kembali memudar.

Apabila melihat dengan cermat, nyatanya di kubah langit malam selain hadirnya bintang, kita dapat melihat benda langit yang mengembara di lautan bintang, yaitu Bulan dan planet. Inilah salah satu sebab mengapa mereka tidak setiap saat dapat dilihat kendati suasana ideal sekalipun. Mereka terus bergeser di kubah langit. Namun, tentu saja geraknya teratur berbasis lintas orbit dan periodenya masing-masing.

 

Gambar 2
Peta langit malam di Jakarta tanggal 14 September 2018 pada pukul 18:30 WIB.
Titik S menandakan titik ufuk selatan, W menandakan barat, N adalah utara.
Berturut dalam gambar dari arah timur (kiri atas) ke arah barat (kanan bawah) adalah
bintang Fomalhaut (ujung aliran air dari rasi bintang Aquarius, nama lain adalah Alpha Piscis Austrini), Mars, Saturnus, Antares (di jantung rasi bintang Scorpius), Bulan, Jupiter, Venus, dan Spica (bintang paling terang di rasi bintang Virgo).
Dekat arah selatan (baratdaya) tampak bintang Rigil Kent dan Hadar (bintang alpha dan beta
rasi bintang Centaurus yang di Indonesia dikenal sebagai Lintang Wulanjar Ngirim)
dan Acrux (bintang paling terang di rasi bintang Crux. Crux di sini acap disebut
Bintang Layang-layang, Lintang Pari, Bintang Salib Selatan, atau Lintang Gubug Penceng).
Arah utara ada Vega, bintang paling terang di rasi bintang Lyra atau Harpa, salah satu dari 20 bintang paling terang di kubah langit malam (Ref.: Stellarium 0.12.4).

 

Dinamika Tata Surya

Semua planet termasuk Bumi bergerak mengedari Matahari pada lintas orbitnya masing-masing dan praktis semua planet bergerak dalam satu bidang orbit (lihat gambar 3). Ibarat keping uang logam, maka keping itulah sebagai bidang orbit planet dan tepi keping uang logam tersebut ibarat lintasannya dan titik pusat kepingnya sebagai posisi Matahari. Luas keping tentu berbeda untuk tiap planet tergantung jaraknya ke Matahari.

 

Gambar 3
Tata Surya dan ilustrasi ke-sebidang-an lintas edar planet (warna gambar: proses invert).
(Credit: Photojournal-NASA-JPL)

 

Menurut Copernicus, lintasan edar ini berbentuk lingkaran. Namun, dibuktikan oleh Kepler bahwa orbit itu bentuknya ellips dan Matahari berada di salah satu titik apinya. Bumi dan 7 planet lainnya bersama Matahari membentuk satu tatanan yang selanjutnya dikenal sebagai Keluarga Matahari atau Tata Surya. Adapun nama planet dimulai dari yang terdekat Matahari adalah Merkurius, Venus, Bumi, Mars, Jupiter, Saturnus, Uranus, dan Neptunus.

Apabila kita petakan lintasan pergerakan (semu) Matahari di langit selama satu tahun (dikatakan semu karena sebenarnya Bumi yang bergerak mengedarinya), maka akan membentuk lintasan lingkaran. Lintasan ini disebut lingkaran ekliptika (lihat gambar 4). Dengan demikian, karena planet dan Bulan praktis sebidang orbit, maka pergeseran mereka semua berada tidak jauh dari lingkaran ekliptika. Bila semua dipetakan, maka baik Matahari, planet, dan Bulan, kesemuanya bergeser di wilayah langit yang populer disebut daerah Zodiak yang terdiri dari 13 rasi bintang.

 

Gambar 4
Lintas edar Bumi terhadap Matahari dan orientasi sumbu rotasinya.
Ada bidang lingkaran khayal yang disebut bidang orbit.
Dari Bumi, justru Matahari yang tampak bergeser membentuk lingkaran
yang disebut lingkaran ekliptika (bidangnya adalah bidang ekliptika).
Karena semua planet praktis sebidang orbit dengan Bumi,
maka dari pengamat di Bumi akan terlihat bahwa baik Matahari dan planet
akan bergeser di lintasan yang berdekatan di sekitar lingkaran ekliptika,
yaitu daerah langit yang disebut Zodiak (Credit: WS).

 

Sementara itu, kita tahu bahwa Bumi memiliki pengiring/satelit, yaitu Bulan yang bergerak mengedari Bumi sedemikian mempunyai bidang orbit. Kebetulan orientasi bidang orbit Bumi hampir sama dengan bidang orbit Bulan (selisih kemiringan kisaran 5,2 derajat, lihat gambar 5). Walhasil, apabila kita lihat Matahari, planet, dan Bulan, mereka cenderung tampak bergeser di kubah langit dengan lintasan yang berdekatan.

 

Gambar 5
Orientasi antara bidang orbit Bumi dan bidang orbit Bulan.
Dalam hal ini apabila dilihat oleh pengamat di Bumi,
maka tempat bergesernya Bulan di lautan bintang tidak jauh dari bidang orbit Bumi atau bidang ekliptika. Jadi, dari Bumi akan terlihat tempat geser Bulan berdekatan
dengan Matahari dan planet-planet di kawasan Zodiak (Credit: WS)

 

Yang mudah diikuti pergeseran hariannya di kubah langit adalah Bulan, karena dekat Bumi (kisaran 13 derajat per hari ke arah timur. Catatan: bila garis ufuk 0 derajat, maka zenith atau puncak kubah langit adalah 90 derajat; kalau dari ufuk titik barat ke ufuk titik timur melewati zenith adalah 180 derajat).

Pada sisi lain bahwa pemunculan objek langit secara periodik menjadikan kita mengenal dimensi waktu. Apa yang dapat disaksikan tentu bergantung di mana kita mengamati, sedemikian dimensi ruang menjadi penting. Contoh lain seperti Bintang Layang Layang di mana masyarakat Jepang atau yang lebih ke lintang utara sukar bahkan tidak dapat melihatnya. Kendati kita relatif mudah melihatnya, ternyata tidak setiap malam dapat disaksikan. Andai terlihat, kadang awal malam sudah terbit, kadang sudah nyaris terbenam. Inipun berlaku pada planet dan Bulan.

Seperti yang telah disebut di atas bahwa planet bergeser di wilayah Zodiak, yaitu 13 rasi atau kelompok bintang di antara 88 rasi bintang yang disepakati secara internasional. Pun demikian Bulan dan Matahari. Kecepatan gerak mereka berbeda-beda. Untuk planet berlaku bahwa semakin dekat ke Matahari geraknya semakin cepat. Jadi dimaklumi apabila pergeseran mereka di kubah langit pun ada yang cepat, ada yang lambat. Akibatnya, bila dibandingkan dengan Bulan kalau kita amati di kubah langit dalam rentang waktu tertentu, membuat Bulan tampak senantiasa bergeser mendekati lalu menyusul dan meninggalkan planet. Antar planet pun demikian, yang cepat kerap menyusul yang lambat.

Melihat kondisi ini, maka wajar bila suatu saat posisi mereka berdekatan. Lebih unik lagi apabila Bulan dalam gerak gesernya menutup planet. Nama fenomenanya kadang disebut konjungsi Bulan dan planet, ada yang membayangkan sebagai gerhana planet (karena planetnya menghilang di balik Bulan), dan sebenarnya ada nama khusus untuk fenomena ini, yaitu okultasi. Yang istimewa adalah tatkala Matahari dan Bulan bersatu di kubah langit, yang peristiwanya disebut Gerhana Matahari. Atau, terkadang planet-planet dan Bulan berkumpul di suatu lokasi yang relatif berdekatan. Inipun masih disebut sebagai konjungsi. Jadi, dalam satu waktu kita dapat melihat dua atau lebih di antara mereka ada di kubah langit seolah berbaris (lihat gambar 1 di atas).

 

Gambar 6
Konjungsi tanggal 5 Mei 2000.
Berkumpulnya planet yang kasat mata, Matahari, dan Bulan.
(Ref.: Stellarium 0.12.4)

 

Beberapa fenomena konjungsi antara Bulan dan planet pernah terjadi (yang tentu cukup unik) semisal tanggal 7 April 1994 antara Merkurius, Mars, Saturnus, Jupiter, dan Bulan. Yang istimewa adalah tanggal 5 Mei 2000, planet yang kasat mata (5 planet) dan Bulan berkumpul dekat Matahari. Juga tanggal 6 – 7 November 2015 antara Mars, Jupiter, Venus, dan Bulan, tanggal 5 – 6 November 2016 antara Venus, Mars, Saturnus, dan Bulan di mana dua yang terakhir kala itu Planetarium Jakarta melaksanakan Peneropongan Umum untuk masyarakat.

 

Gambar 7
Bila Venus bergeser ke posisi di antara Matahari dan Bumi, disebut konjungsi dalam.
Bila Matahari yang berada di antara Venus dan Bumi, disebut Venus konjungsi luar.
(Ref.: Tom-Wildoner)

 

Dengan karakter orbit seperti yang telah dipaparkan di atas, maka fenomena konjungsi adalah hal yang wajar, layaknya fenomena Gerhana Matahari yang terjadi tanggal 9 Maret 2016 dan Gerhana Bulan yang baru berlalu, yaitu tanggal 31 Januari 2018 (istilah populer: Super Blue Blood Moon) dan 28 Juli 2018 (Micro Blood Moon). Namun, apabila kita bayangkan bahwa planet-planet, Bulan, dan Matahari berada pada 1 lokasi di kubah langit, maka besar kemungkinan terjadinya adalah dalam selang waktu 8,6x1046 tahun. Tentu sesuatu yang sukar kita bayangkan karena usia Jagad Raya saja berdasar penelitian terakhir baru berusia dengan orde 13 milyard (13x109) tahun. Sebut semisal terjadi konjungsi itu di awal lahirnya Tata Surya yang kisaran 5 milyard tahun lalu (5x109 tahun), maka baru akan terjadi lagi konjungsi itu sekitar orde 1036 tahun yang akan datang. Adapun untuk konjungsi seperti 5 Mei 2000, baru akan terulang kisaran 1000 tahun yang akan datang.

 

Konjungsi

Sekali lagi menyoal konjungsi. Dalam Astronomi, konjungsi merupakan kesearahan lokasi benda langit apabila diamati dari Bumi. Lebih teknisnya terkait kesamaan dalam parameter asensiorekta atau lintang ekliptika. Sifatnya pun kadang istimewa, kadang suatu yang rutin terjadi. Objek langit pun beraneka yang dapat dilibatkan, tidak sebatas Matahari, Bulan, dan planet. Sebagai contoh semisal konjungsi Bulan dan planet yang sering ditentukan berdasarkan patokan Matahari. Tatkala benda langit tersebut searah pandang lokasinya atau berkonjungsi dengan Matahari, maka terbitnya bersamaan dengan terbitnya Matahari. Jadi, tentu akan sulit bahkan tidak dapat disaksikan. Dengan kata lain, besar sudut elongasinya sebesar 0 derajat. Apabila terjadi antara Matahari dan Bulan, maka fenomena konjungsi itu yang rutin adalah berdampak pada fase Bulan di mana kala itu Bulan disebut (fase) Bulan Mati, menjelang (fase) Bulan Baru. Apabila konjungsinya sempurna (benar-benar searah), maka fenomena Gerhana Matahari (Total) akan terjadi.

Ada yang unik pada Merkurius-Venus. Sebagai planet-dalam (inferior), mereka berdua mengalami 2 posisi konjungsi, yaitu konjungsi dalam (inferior conjunction) dan konjungsi luar (superior conjunction). Adapun planet luar, yaitu Mars, Jupiter, Saturnus mengalami fenomena konjungsi (searah Matahari) dan fenomena oposisi (berlawanan arah dengan Matahari). Untuk Mars, oposisi terakhir adalah tanggal 27 Juli 2018 yang baru lalu dan kembali oposisi kisaran 26 bulan yang akan datang.

Kembali pada Venus dan Merkurius. Konjungsi dalam terjadi tatkala posisi planet tersebut berada di antara Matahari dan Bumi. Ada satu fenomena menarik di sini. Apabila terjadi konjungsi dalam yang sempurna, maka kedua planet ini akan melintas di depan piringan Matahari. Andai saja kita bayangkan kedua planet ini besarnya terlihat sama besar dengan ukuran piringan Matahari, maka tentu Matahari akan tertutup dan  menimbulkan fenomena Gerhana Matahari. Namun, kita semua kini mengetahui bahwa ukuran kedua planet tersebut jauh lebih kecil. Kendati demikian, tetap saja kalau diamati dengan teknik khusus akan tampak piringan Matahari tertutup sebesar ukuran planet tersebut. Jadi, apakah lalu disebut Gerhana Matahari Sebagian? Nyatanya, ada nama khusus dalam peristiwa ini, yaitu fenomena transit. Adapun konjungsi luar apabila posisi Matahari berada di antara mereka dan Bumi.

Terkait peristiwa yang dialami planet dalam, maka mereka akan tampak semakin purnama sesaat (relatif) menjelang dan sesaat setelah konjungsi luar dengan karakter ukuran semakin kecil karena terhadap Bumi semakin jauh. Sebaliknya, wajah mereka tampak semakin sabit menjelang dan setelah konjungsi dalam dengan ukuran semakin besar karena semakin mendekati Bumi. Apabila kita lihat Venus sedemikian cemerlang sebagai Bintang Timur atau Bintang Barat, justru kala itu fasenya sabit tipis. Terbalik dengan Bulan, cemerlang tatkala purnama, redup ketika sabit tipis.

Dalam kasus di sini, dapat diingatkan kembali bahwa fenomena konjungsi di atas dengan pedoman bahwa fenomenanya apabila dilihat dari Bumi. Apabila dibayangkan di kubah langit terjadi konjungsi, seolah mereka bersatu di kubah langit, maka sejatinya tidak demikian. Jarak antar yang berkonjungsi dapat jadi sangat berjauhan. Misal piringan Bulan menutup gugus bintang tertentu, maka kini diketahui bahwa jarak Bulan tentu jauh lebih dekat dibandingkan dengan jarak gugus tersebut. Demikian pula konjungsi Bulan dengan planet. Jadi, hanya penampakan di kubah langitlah yang membuat seolah-olah mereka bersatu atau saling mendekat satu sama lainnya. Namun, tidak berlaku penyatuan itu terhadap jarak antar mereka.

Apapun bentuk penyatuan di kubah langit, khususnya terkait dengan adanya fenomena konjungsi, maka semoga kita dapat semakin arif menyikapi berbagai isu sains, khususnya mengenai fenomena Astronomi yang sering dikaitkan dengan derap hidup manusia hingga yang bersifat takhayul.

 

Observasi Konjungsi Tanggal 14 September 2018.

Untuk tanggal 14 September 2018 (lihat gambar 2), fenomena konjungsi yang secara jelas adalah antara Bulan dan Jupiter (separasi kisaran 5 derajat busur). Posisi planet Venus, Mars, dan Saturnus relatif agak terpisah jauh (Mars di belahan timur, Saturnus di puncak langit, Venus di barat) . Namun, dalam satu waktu kita dapat saksikan kelimanya secara bersamaan.

Giliran tanggal 17 September, karena Bulan bergeser relatif cepat, maka Sang Rembulan giliran mendekati Saturnus. Dan tanggal 20 September mendekati Mars (lebih dekat tanggal 18 Oktober dan 16 November). Sekali lagi bahwa semua berpatokan pada kondisi Jakarta tanggal 14 September 2018, pukul 18:30 WIB. Seperti yang telah dibahas di atas, suatu ketika tidak lagi sekedar dekat. Kadang Bulan menutupi sang planet seperti terakhir terjadi pada Venus (okultasi Venus oleh Bulan) pada tanggal 16 September 2017.

 

Serba Serbi Bintang, Planet, dan Bulan.

Pada saat mengamati fenomena konjungsi tentu saja akan semakin semarak apabila langit cerah sedemikian beraneka objek langit dapat disaksikan. Selain Bulan yang terang benderang dan planet-planet, maka tebaran bintang di kubah langit dapat pula kita cermati. Pengamatan yang sambung sinambung bergenerasi sejak millennia lalu membuat nenek moyang kita melahirkan suatu kebiasaan sehingga muncullah budaya menera langit sekaligus melahirkan peranti navigasi dan pertanian berbasis bintang gemintang, hingga ditemukannya pedoman arah bagi para pengembara dan pelaut, termasuk mitologi yang menyertainya. Sedikit, di sini, disinggung tentang beberapa objek astronomis tatkala menyaksikan konjungsi objek langit, antara lain:

 

1. Bintang
Untuk warga Jakarta, bila melihat kubah langit malam tentu hanya jelas melihat bintang yang relatif terang. Panduan di sini: 14 September 2018, pukul 18:30 WIB dengan referensi peranti lunak Stellarium 0.12.4.

 

Gambar 8
Bila kita lihat ke arah baratdaya (Selatan-Barat) dengan ketinggian kisaran 60 derajat (ingat bahwa ketinggian ufuk adalah 0 derajat dan puncak langit atau di atas kepala kita atau zenith adalah 90 derajat), kita temukan bintang terang berwarna merah. Dialah Antares (diberi tanda lingkaran) yang terletak di jantung kalajengking Scorpius. Jangan salah dengan planet Mars yang juga berpendar merah terang di arah Selatan-Timur (tenggara) dengan ketinggian kisaran 55 derajat (ketinggian yang hampir sama dengan ketinggian Antares). Ke arah barat dari Antares yang jelas tampak adalah Bulan yang berdekatan dengan Jupiter (Bulan dan Jupiter berada di rasi bintang Libra). Ke arah lebih barat adalah Sang Bintang Kejora planet Venus yang cemerlang yang berdekatan dengan bintang terang Spica (lebih ke barat lagi), yaitu bintang paling terang di rasi bintang Virgo.

 

Gambar 9
Bila melihat ke barat agak ke utara dengan ketinggian kisaran 30 derajat dapat dijumpai bintang merah cemerlang, Arcturus, yang merupakan bintang paling terang di rasi bintang Bootes. Jadi pada tanggal 14 September 2018 nanti kisaran pukul 18:30 terdapat 3 objek langit berwarna merah terang, yaitu Mars (belahan timur), Antares (dekat puncak langit), dan Arcturus (arah barat, sedikit ke utara). Bila cerah, silakan cermati beda penampakan antara planet dan 2 bintang tersebut dalam hal kerlap kerlipnya. Inilah yang dulu merupakan salah satu modal nenek moyang kita ribuan tahun yang lalu untuk membedakan tampilan kedua objek tersebut selain karakter pengembaraannya di lautan bintang. Bahkan perbedaan tersebut masih sering digunakan sebagai standard bahasan di sekolah.

 

Gambar 10
Bila melihat ke selatan agak ke barat kisaran 30 derajat (catatan: selatan ke barat adalah 90 derajat), dengan ketinggian 20 derajat (dilingkari pada gambar) terdapat bintang terang, yaitu bintang terdekat dengan Matahari berjarak sekitar 4,2 tahun cahaya bernama bintang Rigil Kent atau Alpha Centauri, bintang paling terang di rasi bintang Centaurus. Bersama bintang Hadar dalam ranah budaya di Nusantara dikenal sebagai Lintang Wulanjar Ngirim. Merupakan bintang ganda visual karena relatif mudah dilihat keterpisahannya antara 2 bintang penyusunnya. Namun, sejatinya adalah bintang bertiga. Komponen yang ketiga bernama Proxima Centauri dan bintang ini yang terdekat dengan Matahari.

 

Gambar 11
Summer Triangle.
Bila melihat ke arah utara dengan ketinggian kisaran 45 derajat akan melihat bintang cemerlang cenderung putih-biru, bernama Vega yang merupakan bintang paling terang di rasi bintang Lyra (Harpa). Dari titik utara geser 30 derajat ke timur dengan ketinggian 30 derajat akan bertemu bintang terang bernama Deneb (diberi tanda lingkaran),
yaitu bintang paling terang di rasi bintang Cygnus atau angsa.
Sementara itu, apabila melihat ke arah timur laut (antara utara dan timur) dengan ketinggian 60 derajat, akan melihat bintang paling terang di rasi bintang Aquila (Elang),
di bagian mata elang tepatnya, yaitu bintang Altair.
Pada gambar di atas, bintang Vega dan Altair diberi tanda garis penghubung.
Ketiga bintang ini, Vega-Deneb-Altair membentuk formasi segitiga
yang oleh masyarakat di belahan Bumi utara populer dengan sebutan Summer Triangle
atau Segitiga Musim Panas, yang memang dulu penampakannya
di kubah langit sebagai penanda datangnya musim panas.

 

2. Jupiter
(Ref.: Planet Jovian) Pada era Proto-Indo-Eropa disebut Dyeu-pater (Father Sky-God) yang di Yunani kala itu disebut Dias atau Phaethon (blazing). Ditemukan penyebutan lain pada era penaklukan Romawi terhadap Estruria, Itali bagian selatan (Estrucan), yaitu Tinia (the Sky God atau Thunderer) yang lalu menjadi Diospiter (the Father of the Sky). Di Jerman Kuno sebelah utara (Norsemen: Skandinavia, dll) disebut Thor dan pada era awal Romawi disebut dies Jovis. Pelatinan nama memunculkan Jupiter dan era modern dikenal istilah planet Jovian (sebut planet keluarga Jupiter).

Budaya di China, Korea, dan Jepang disebut the wood star (Muxing, Fu Star) terkait dengan 5 unsur utama di alam. Di India Brihaspati (guru spiritual para dewa). Di Asia Tengah – Turki, disebut Erendiz atau Erentuz (eren dan yultuz yang berarti bintang). Di Indonesia dijuluki Wrahaspati, Wrespati, Respati, Brihaspati (Sanskrit-Jawa), Boraspati (Sumatera Utara), Mustari (Arab), Mastri. Dewa utamanya adalah Batara Guru. Peng-abadi-annya adalah sebagai nama hari, yaitu hari Kamis yang secara internasional sama dengan Thor’s day (Thursday).

Jupiter adalah planet terbesar dengan volume 1.300 kali Bumi. Kategorinya adalah planet gas di mana tidak ada daratan dan lautan di permukaan. Massanya 318 kali massa Bumi (kisaran 2/3 massa Tata Surya di luar Matahari) dengan diameter 143.000 km (11 kali Bumi). Julukannya Planet Gas Raksasa. Wajahnya tersusun atas pola pita-pita gelap-terang dan rupanya merupakan daerah badai yang berlangsung terus menerus. Selain jalur badai, ada juga ragam pusaran badai. Yang terkenal the Great Red Spot, seperti tornado dan berusia lebih dari 300 tahun. Jupiter diiringi 69 satelit (menunggu 13 lagi untuk konfirmasi data orbitnya, menjadi 82 buah) dan mempunyai cincin (walaupun sangat tipis) dengan lebar kisaran 6000 km dan tebal beberapa puluh km yang terdiri dari partikel-partikel kecil yang berukuran kurang dari 10 km. Cincin Jupiter terletak ±53.000 km di atas lapisan atmosfer terluarnya.

 

Gambar 12
Sempat terekam adanya kilatan cahaya di atmosfer atas Jupiter tanggal 3 Juni 2010
yang diduga karena jatuhnya meteor (lingkaran merah).
Namun, biasanya tertinggal daerah gelap yang ternyata tidak dijumpai.
Dugaannya bahwa meteor tersebut tidak sampai menghujam dalam sudah meledak (fireball). (Credit: NASA, ESA, M.H. Wong (University of California, Berkeley),
H.B. Hammel (Space Science Institute, Boulder, Colo.),
A.A. Simon-Miller (Goddard Space Flight Center), and the Jupiter Impact Science Team)

 

3. Saturnus
Yang paling dikenal dari planet ini adalah cincinnya yang sangat lebar. Cincin ini sebenarnya terdiri dari 9 cincin utama yang tersusun atas partikel es ragam unsur. Ada semacam celah pada cincin tersebut yang relatif mudah dilihat dari Bumi yang disebut Cassini Division. Ditera pertama kali oleh Giovanni Cassini tahun 1675 dengan teleskop di Observatorium Paris, dengan perbesaran teleskop 90 kali (lensa obyektif 2,5 inci). Memang Saturnus bukanlah satu-satunya planet bercincin. Jupiter, Saturnus, Uranus, dan Neptunus semuanya memiliki cincin. Hanya saja cincin Saturnus yang paling besar yang terbentuk dari bermilyard partikel mulai seukuran kerikil hingga sebesar gunung. Letaknya pada bidang ekuator dengan lebar mencapai kisaran 120-an ribu km (diameter keseluruhan lingkaran cincin sekitar 350 kali panjangnya Pulau Jawa). Tebalnya sekitar 10 km. Selain itu, karena kedudukan sumbu rotasinya membentuk sudut sekitar 27 derajat terhadap bidang orbitnya, maka posisi ini mengakibatkan penampakan cincinnya selalu berubah-ubah apabila dilihat dari Bumi (lihat gambar 11). Kadang kita melihat cincinnya dari atas, kadang-kadang hilang hanya tampak garis membelah planet, kadang tampak dari bawah.

Sifat lain Saturnus bahwa ditemukan perbedaan jejari ekuator dengan kutub yang cukup besar. Radius ekuator 60.268 km, radius kutub hanya 54.364 km (bentuk oblate spheroid akibat tubuhnya yang dominan gas dan rotasinya sangat cepat sekitar 35.500 km per jam; Bumi kisaran 1.670 km per jam).

 

Gambar 13 Saturnus
Kemiringan atau inklinasi bidang ekuator dengan bidang orbitnya
membuat kita dapat melihat dari Bumi ragam posisinya.
Yang paling bawah menunjukkan Saturnus pada kondisi musim gugur di belahan utara,
sedangkan gambar paling atas menunjukkan musim dingin.
Gambar diambil antara Oktober 1996 hingga November 2000.
Credit: NASA and The Hubble Heritage Team (STScI/AURA); R.G. French (Wellesley College), J. Cuzzi (NASA/Ames), L. Dones (SwRI), and J. Lissauer (NASA/Ames)

 

Planet ke-6 ini adalah planet terjauh yang dapat dilihat secara kasat mata. Jadi telah dikenal bermillennia lalu bahkan oleh nenek moyang kita. Dimaklumi juga karena Saturnus adalah planet terbesar kedua dengan ukuran sekitar 80% ukuran Jupiter dan besar diameter 9 kali Bumi dan juga merupakan planet gas raksasa. Ada kesamaan antara Saturnus dengan Jupiter, yaitu komposisi atmosfernya dan sama-sama mempunyai satelit yang banyak. Massanya 95 kali Bumi dan volume 755 kali lebih besar dari Bumi. Uniknya, massa jenis Saturnus lebih kecil dari air. Jadi, apabila kita masukkan ke wadah air yang dapat menampungnya, dia akan mengapung. Jumlah satelitnya terbanyak kedua, yaitu 62 buah. Saturnus pertama kali dikunjungi oleh wahana antariksa tahun 1979 (Pioneer 11) dan yang terakhir Cassini-Huygens (2004).

Walau dikatakan sebagai planet gas, diyakini bahwa bagian pusatnya terbentuk dari gabungan besi dan nikel, serta batuan berunsur silicon dan oksigen. Inti planet ini diselubungi lapisan berturut ke arah luar metallic hydrogen, hidrogen dan helium cair, baru permukaannya yang kaya akan unsur kristal amoniak. Sementara unsur di atmosfer yang banyak antara lain amoniak, acetylene, etana, propane, phosphine, dan metana. Juga dijumpai ammonium hydrosulfide (NH4SH), air, dan senyawa hidrokarbon lainnya dalam jumlah yang tidak terlampau banyak.

Penemuan terakhir diketahui bahwa ada lagi sebentuk cincin pada jarak 12 juta km dari planet ini dengan kemiringan sekitar 27 derajat dari bidang ekuatornya. Keunikan lainnya karena adanya satelit yang posisinya justru di dalam cincin seperti Pandora dan Prometheus, lahirlah istilah Shepherd Moon (Satelit Penggembala).

Satelit terbesarnya, yaitu Titan, memiliki diameter lebih besar dari planet Merkurius, serta memiliki atmosfer yang tebal. Julukannya adalah Bumi Purba karena dari penelitian bahwa kondisi Titan sekarang mirip dengan Bumi jaman dahulu kala.

 

4. Bulan
Kehadirannya membuat interaksi yang menarik untuk ditelusuri. Geraknya di antara bintang-bintang kisaran 13 derajat ke arah timur di sepanjang Zodiak. Sang Dewi Malam akan kembali ke Zodiak yang sama tiap 27,3 hari. Kala jelajah ini disebut 1 bulan sideris (menempuh 1 lingkaran, 3600).

Matahari juga bergeser ke timur, tampak seperti dikejar-kejar Bulan. Perubahan fase Bulan berulang secara tetap dan tergantung kepada jarak sudutnya terhadap Matahari. Bulan Mati (Bulan Baru) terjadi saat Bulan berada di arah Matahari, Bulan separuh terjadi ketika jarak sudut Matahari-Bumi-Bulan 90 derajat atau 270 derajat (posisi kuartir dan menimbulkan fenomena pasang perbani), dan fase Bulan Purnama terjadi ketika jarak sudutnya 180 derajat (Bumi diapit Matahari dan Bulan). Tahapan ini berulang rata-rata 29½ hari yang disebut 1 bulan sinodis (pasang purnama)

Fase Bulan adalah sebagai akibat Bulan mengedari Bumi. Oleh karena Bulan benda gelap, tidak bercahaya sendiri, maka wajah Bulan yang terang akibat cahaya Matahari pun berubah seiring posisi edarnya. Wajahnya akan menarik jika dilihat dengan teleskop (sebaiknya tidak saat purnama di mana struktur kawah tidak akan jelas). Bagian wajahnya yang menghadap ke Bumi selalu sama akibat kala edarnya sama dengan periode rotasinya. Rona terang dipermukaannya adalah daerah tinggi disebut terra (jamak: terrae = dataran) dan rona gelap cenderung rendah disebut mare (jamak: maria = laut). Kini diketahui bahwa dataran gelapnya ternyata bentukan lava yang mengeras yang utamanya berada di cekungan besar akibat tumbukan.

 

5. Venus
(Ref.: Planet Kebumian) Merupakan benda yang sangat terang di kubah langit, bahkan dapat dilihat pagi hari sesaat setelah Matahari terbit atau sore sesaat Matahari hendak terbenam. Di Indonesia disebut Bintang Pagi atau Bintang Sore/Malam. Sebutan populer di Jawa Lintang Panjer Esuk/Sore. Julukan lintang (bintang), tetapi mereka sadar bahwa benda ini sangat berbeda dengan bintang pada umumnya.

 

Tabel 1. Nama atau Julukan Venus dalam Ragam Budaya
(Ref.: Cornelius (2005), Maass (1924), situs Wikipedia)

 

Daerah Venus
China Tai-bai (the Great White; the Opener of Brightness), Chang-geng (the Excellent West One)
Romawi Lucifer (Light-Bringer, Morning Star), Vesper (Evening Star), Venus
Yunani Hesperus/Hesperos/Heosphoros (Evening Star), Phosphorus/Eosphorus (Morning Star – Bearer of Light; Bearer of Dawn)
Babylonian/Yunani Ishtar/Aphrodite (Born of the Foam)
Amerika Tengah (Maya) Quetzalcoatl (Morning Star)
Aceh Bintang Thikurluëng/Thkureuëng ; Bintang Timu; Bintang Rusha; Bintang Pancuri
Sumatera Utara (Batak) Bintang Perpola, Singkora; Bintang Sihapuhapu
Sumatera Barat (Minangkabau) Bintang Zuhara (Lebih karena adaptasi nama Arab); Bintang Timur/Timua(r); Bintang Sulur/Sulua(r); Bintang Kajora; Bintang Babi (kemungkinan yang dimaksud adalah babi hutan); Bintang Barat.

Catatan:
Ada juga dalam catatan Maass (1924) sebutan dalam masyarakat Minangkabau, yaitu stern des morgengrauens (bintang fajar). Disebut sebagai Bintang Kasiangan.
Lampung Bintang Jerlang
Mentawai Bintang Sukat
Jawa Lintang Joar/Johra/Zahara; Bentéung Juhara dan Bentéung Barat (Sunda); Bintang Johro (Madura); Bintang Suhara (Sumenep); Lintang Timur (Baduy); Lintang Panjer Rina/Esuk/Sore

(Catatan: banyak nama mirip Zuhara di Sumatera Barat; adaptasi nama Arab);

Ting Negara Landa (The Dutch’s Lantern) pada masa penjajahan Belanda.
Bali Lintang Celeng (mirip Sumatera Barat: Bintang Babi); Lintang Sidamalung; Lintang (Bintang) Siyang; Lintang Pameneh
Timor Fafel Momel (Bintang Pagi), Gfung-näno (Bintang Malam)
Buru Metala
Kei Teleowar (Bintang Pagi); Butuon Atiko (Bintang Malam)
Aru Tawon Maera
Maluku (Ambon) Marimatawa
Sulawesi Lolaurik (Halmahera); Ngoma Oru (Bintang Pagi) dan Ngoma Lobitara (Bintang Malam) untuk Ternate; Ngoma Korru dan Ngoma Bolongossa untuk Tidore; Bintang Bawi (Makassar); Kaendoan dan Ipengamo ni wihoo/Ipahamumuris/Se Sankor/Sangkor; Lolaurék untuk Minahasa
Kalimantan Bintang Sawah (Bintang Pagi) dan Bintang Maling (Bintang Malam)
Papua Samfari (Bintang Pagi) dan Maklendi/Mandira/Makbeeni (Bintang Malam)

 

Berbeda dengan Merkurius, atmosfer Venus sangat tebal, kisaran 180 km. Selain itu pekat dan didalamnya pada ketinggian antara 48 hingga 68 km terdapat awan yang menyelimuti planet yang terdiri dari unsur sulfur (S) dan asam sulfat (H2SO4). Yang terbanyak adalah karbondioksida (CO2). Bila terjadi hujan, maka sifat hujannya adalah hujan asam. Kondisi ini dapat dijelaskan sebagai berikut. Walau jaraknya ke Matahari lebih jauh dibandingkan Merkurius serta lamanya berotasi, permukaannya jauh lebih panas baik siang maupun malam, ±485 0C. Hal ini sebagai akibat terjadinya efek rumah kaca atau green house effect. Memang unsur utama atmosfer adalah karbondioksida. Namun, terdapat pula oksigen, nitrogen, dan air.

 

Gambar 14
Foto yang diabadikan oleh wahana Magellan yang menunjukkan bagian kutub utara Venus
berbasis radar dan kombinasi citra warna yang dihasilkan oleh wahana Venera 13 dan 14
serta wahana Pioneer Venus Orbiter.
Daerah terang sedikit di bawah titik kutub utara dinamai Maxwell Montes
(Magellan press release P-39224, Credit: Venus - nssdc.gsfc.nasa.gov)

 

 

Keunikan lain bila kita di permukaannya, maka akan melihat terbitnya Matahari dari ufuk barat dan terbenam di timur. Hal ini akibat arah rotasinya yang berlawanan dengan arah gerak rotasi Bumi.

Venus tidak memiliki satelit. Apabila kita berkesempatan melihat dengan teleskop, maka akan terlihat bentuk wajahnya menampakkan fase seperti wajah Bulan, ada saatnya sabit (saat dekat ke Bumi, posisi konjungsi-dalam atau di antara Matahari dan Bumi) dan ada saatnya (nyaris) purnama (saat jauh dari Bumi, posisi konjungsi-luar atau Matahari diapit Bumi dan Venus). Sebenarnya hal ini juga terjadi pada Merkurius, namun tentu harus dengan teleskop yang besar saja dapat terlihat karena ukuran Merkurius sangat kecil.

Pada perjalanan sejarah penerbangan tercatat adanya wahana penyelidik yang berasal dari Amerika Serikat, antara lain: Mariner 2 (1962), Mariner 4 (1967), Mariner 10 (1974), Pioneer Venus 1 dan 2 (1978), Magellan (1991/2). Sementara itu, yang berasal dari USSR (dulu Uni Soviet): (seri) Venera 2 (1966), 4 (1967), 5/6 (1969), 7 (1970), 8 (1972), 9/10 (1975), 11/12 (1978), dan Veha (Venus-Halley, 1985).

 

6. Mars
(Ref.: Planet Kebumian atau dapat pula lihat Mars Sang Dewa Perang) Mars sering disebut Planet Merah karena tampak warnanya yang merah, kadang jingga kekuningan. Hal ini disebabkan banyaknya oksida besi yang memenuhi permukaannya. Mars mengorbit Matahari dengan periode 687 hari pada jarak rata-rata 228 juta km. Seperti juga Bumi, orbit Mars ini agak lonjong sehingga jarak titik terdekat dan titik terjauh berbeda sekitar 42 juta km. Diameter Mars hanya 6.784 km, kira-kira setengah diameter Bumi. Sebanyak ±15% tubuhnya terdiri atas besi dan belerang. Atmosfernya didominasi oleh karbondioksida (95%), sementara uap air (H2O) hanya kisaran 0,03% saja. Suhu permukaan cukup ekstrim, yaitu antara minus 133 hingga 27 derajat celcius.

Secara garis besar, permukaan Mars terbagi menjadi dua karakter, yaitu daerah dataran tinggi belahan selatan yang penuh dengan kawah dan alur mirip saluran, serta belahan utara yang lebih mulus dan penuh dengan gunung api yang sudah padam. Kedua belahan ini begitu berbeda sehingga Mars seolah seperti belahan dua jenis planet yang bertangkupan. Mars juga memiliki atmosfer yang bertekanan hanya 1/150 tekanan atmosfer Bumi. Dua satelitnya ditemukan oleh Asaph Hall tahun 1877, yaitu Phobos (artinya ketakutan) dan Deimos (teror).

 

Gambar 15
Mars dipotret dengan teleskop angkasa Hubble pada tanggal 18 Juli 2018 dengan jarak hanya 59 juta kilometer saja (terdekat setelah oposisi tahun 2003). Posisi oposisi biasa terjadi setiap kisaran 26 bulan, dan tahun ini jatuh pada tanggal 27 Juli 2018. Penelitian yang sedang gencar sekarang adalah tentang mekanisme badai debu di permukaannya yang mengandung banyak unsur karat besi. Tampak di kanan bawah piringan Mars terdapat bentukan terang dan lonjong yang tidak lain adalah cekungan Hellas dengan diameter kisaran 2240 km dengan kedalaman 8 km yang diduga akibat hantaman asteroid sekitar 4 milyar tahun yang lalu. Terfoto juga satelitnya, Phobos (kanan) dan Deimos (kiri) berupa citra terang seperti bintang.
(Credit: NASA, ESA, and STScI)

 

Situs

conjunction - Britannica
conjunction - encyclopedia
https://hubblesite.org/
https://hubblesite.org/image/4215/news
https://minorplanetcenter.net/iau/lists/MPLists.html
https://nssdc.gsfc.nasa.gov/imgcat/html/object_page/mgn_p39224.html
https://planetarium.jakarta.go.id/index.php/12-aktivitas/11-peliputan-fenomena-astronomis
https://planetarium.jakarta.go.id/index.php/artikel-astronomi/92-fenomena-konjungsi
https://planetarium.jakarta.go.id/index.php/artikel-astronomi/43-berkenalan-dengan-matahari-dan-planet-kebumian
https://planetarium.jakarta.go.id/index.php/artikel-astronomi/47-berkenalan-dengan-planet-jovian
https://planetarium.jakarta.go.id/index.php/artikel-astronomi/39-mars-sang-dewa-perang-bagian-1
https://www.britannica.com/event/Star-of-Bethlehem-celestial-phenomenon#ref186033
Tom-Wildoner
What's a conjunction? | Astronomy Essentials | EarthSky

 

Peranti Lunak

Stellarium 0.12.4