Written by Super User

User Rating: 5 / 5

Star ActiveStar ActiveStar ActiveStar ActiveStar Active
 

In pride the Lion lifts his mane
To see his British brothers reign
As stars below.
(Edward Young's Imperium Pelagi)

Il petto del lione ardente
(Dante's Paradiso)

(ref.: penelope.uchicago.edu)

 

Gambar 1
Simbol Rasi Bintang Leo (ref.: wiki/commons/Leo.svg)

 

In Greek and Roman, .. representing the Nemean Lion, originally from the moon,
and, after his earthly stay, carried back to the heavens with his slayer Hercules,
where he became the poet's Nemeaeus; Nemeas Alumnus; Nemees Terror; Nemeaeum Monstrum; and, in later times, No Animal Nemaeo truculento of Camões.
 It also was Cleonaeum Sidus, from Cleonae, the Argolic town near the Nemean forest
where Hercules slew the creature; Herculeus; and Herculeum Astrum.
But the Romans commonly knew it as Leo, Ovid writing Herculeus Leo and Violentus Leo.
(ref.: penelope.uchicago.edu)

 

Peta Langit Rasi Bintang Leo (ref.: iau.org/LEO)

 

 

Sekelumit Sejarah Penamaan

Dari segi luasannya di kubah langit bahwa Leo adalah rasi bintang terluas ke-12 dari 88 rasi bintang modern dengan area kisaran 947 derajat persegi. Dapat disaksikan bagi masyarakat pada garis lintang antara 90 LU dan 70 LS. Konstelasi atau rasi bintang di sekitarnya sebagai batasannya adalah Cancer, Coma Berenices, Crater, Hydra, Leo Minor, Lynx, Sextans, Ursa Major, dan Virgo.

Leo adalah salah satu rasi bintang tertua di langit. Penemuan catatan telah ada sejak 4000 – 3200 SM (Roger, p.10). Di Jerman disebut Lowe, Italia Leone, Anglo-Norman Leun, di mana pada era Ptolemy meliputi hingga rasi bintang Coma Berenices.

Bukti arkeologis menunjukkan bahwa budaya pada kawasan Mesopotamia memiliki peta langit perbintangan yang mirip dengan peta wilayah Leo sejak 4000 SM. Adapun masyarakat Persia menyebutnya sebagai Shir atau Ser, orang Babylonia menyebutnya URA atau UR.GU.LA. Ada sebutan lain, yaitu Latarak – dewa pelindung berkepala singa; mungkin “kebiasaan” yang mirip dengan gambaran bangsa Mesir purba yang kerap menggambarkan dewa dewinya berkepala binatang. Latarak berarti singa besar (ada yang menyatakan anjing besar). Untuk bintang paling terangnya, yaitu Regulus diberi nama Lugal, ilustrasi bintangnya berada di dada sang singa. Dalam tinggalan Babylonia juga ada bentukan bintang (uniknya gelap/kehitaman yang berdasarkan analisis bahwa memang diwarnakan demikian) yang berada pada ekor singa. Namun, penelusuran nama dalam kisahnya tidak/belum dijumpai. Sementara itu, orang Suriah menyebutnya sebagai Aryo, dan orang Turki menjulukinya sebagai Artan.

Astronom era Hindu awal menyebut Leo sebagai Asleha atau Sinha, masyarakat Tamil menyebut Simham. Namun, pada era berikutnya setelah akulturasi dengan Yunani bahkan hingga masuknya budaya Romawi, dikenal sebagai Leya atau Leyaya, dampak penyebutan dari nama Leo. Kawasan langitnya merupakan nakshatra ke-8, yaitu Magha (Perkasa atau Baik/Dermawan), juga yang ke 9 dan 10, Pūrva dan Uttara. Ada disebut tentang Phalgunī, Yang Akhir, di mana makna dan maksud kata ini tidak pasti. Ada yang menyatakan terkait dengan “Yang Buruk”.

Pada pemetaan di kawasan Arab adalah untuk manzil (nakshatra) 8, 9, dan 10 di mana secara berturutan dapat disetarakan dengan Al Jabhah (Dahi), Al Zubrah (surai), dan Al Ṣarfah (tikungan/putaran). Namun, dari sisi lain, pada masyarakat Tiongkok, konsep sieu (nakshatra/manzil) ini yang terkait Leo tidak muncul. Mereka mengadopsi, sebagai gantinya, manzil yang berada pada kawasan langit antara rasi bintang Hydra dan Crater, sehingga pada masa sekarang bahwa pemetaan ini orisinal dari masyarakat Tiongkok (terkait asterism atau sebagai contoh adalah Lintang Waluku di Nusantara dengan Orion Sang Pemburu). Memang pada era kemudian bahwa dalam Zodiak yang berbasis ekliptika apa yang digambarkan sebagai singa bermaujud pada gambaran kuda. Pada era awal bahkan digambarkan sebagai bagian dari apa yang dijuluki the Red Bird (masalah pemetaan Tiongkok ini dapat dilihat semisal pada Scorpius - Sang Kalajengking). Sementara itu, ada yang menyatakan sebagai Shun Ho, Burung Puyuh Api. Namun, pada abad ke-16 masyarakat Tiongkok mengadopsi Leo dan menerjemahkan sebagai Sze Tsze. Kawasan langit di antara Leo dan Virgo disebut Tae Wei atau Shaou Wei, dan bagian barat dari Leo bersama Leo Minor dikenal sebagai Yellow Dragon, ditandai oleh garis yang dibentuk oleh sepuluh bintang dari Regulus melalui bagian “Sickle”, bentuk sabit (lihat gambar 4). Gambaran dari pemetaan ini dianalisis sebagai gambaran salah satu Kereta Kuda Surgawi dari kekaisaran Tiongkok.

Raja Mesir, Necepsos, dan filsufnya Petosiris, mengajarkan bahwa penciptaan Matahari berawal di rasi bintang ini, tepatnya dekat bintang bernama Denebola (lihat bahasan bintang terang di bawah) dan karenanya Leo disebut sebagai Domicilium Solis, simbolisasi api dan panas; dan dalam astrologi, disebut the House of the Sun, yang mengatur hati manusia. Pandangan ini masih terjadi pada kawasan Bohemia, Prancis, Italia, dan kota-kota Bath, Bristol, dan Taunton di Inggris, bahkan hingga wilayah Philadelphia. Manilius menulis bahwa rasi bintang ini mengayomi (menguasai) wilayah Armenia, Bitinia, Kapadokia, Makedon, dan Frigia. Dalam pernujuman dikatakan sebagai penanda keberuntungan, dengan sifat merah dan hijau. Menurut Ampelius, bertanggung jawab atas angin Thrascias yang disebutkan oleh Pliny, Seneca, dan Vitruvius yang datang dari utara. Dokter era itu menyatakan bahwa ketika Matahari berada di tanda ini, obat akan menjadi racun, dan bahkan bermandikan cahaya Matahari dianggap berbahaya; sementara peramal cuaca menyatakan bahwa kehadiran guruh sebagai pertanda kematian orang-orang hebat (penelope.edu).

Dari penyelisikan lain bahwa masyarakat Babylonia menggambarkan bintang Regulus, yang paling terang di rasi bintang tersebut, sebagai "bintang yang berdiri di dada Singa," atau dapat lihat kutipan karya Dante di atas (Paradiso), Il petto del lione ardente (dada singa yang menyala/terbakar). Ada pula muncul sebutan Raja Para Binatang (King of the Beasts). Keduanya, baik rasi bintang maupun bintang paling terangnya dikenal oleh sebagian besar kebudayaan sejak bermillennia yang lalu.

Berbasis jejak budaya menera langit bahwa pencatatan perbintangan di kawasan Mesopotamia ternyata cukup beragam. Tentu saja hal ini terkait situasi yang terjadi pada tiap rentang masanya. Awal yang jelas dijumpai adalah era 3200 – 2100 SM, pada tinggalan berupa ragam tembikar. Yang awal dijumpai semisal hadirnya penokohan Taurus dan Leo. Dalam kasus ini ada kisah dewi yang berlutut atau mungkin seolah mengendarai 2 ekor singa, sang dewi digambarkan membawa senjata dan bersayap yang era kemudian diidentifikasi sebagai Ishtar (Rogers). Namun, pada era tahun 1100 – 700 SM untuk tokoh ini dilukiskn sebgai berikut (ref.: Mul-Apin by Gavin White):

 

The True Shepherd of Anu, Papsukal, the messenger of Anu and Ishtar (Orion)
The Twins who are opposite the True Shepherd of Anu, Lulal and Latarak (Cetus & part of Eridanus)
The star behind him, the Rooster (Lepus)
The Arrow, the arrow of the great god Ninurta (The star Sirius & probably other stars in Canis Major)
The Bow, the Elamite Ishtar, the daughter of Anu (Puppis)

 

Daerah perbintangan yang termasuk pada 23 Equatorial Stars on the Path of Anu yang merupakan pembagian langit pada era tersebut dan Scorpius. Perkiraan ada sejak 3200 SM. Pada kenyataan bahwa hewan ini memang banyak dijumpai, dapat juga sebagai simbolisasi dari kekuasaan atau dapat juga sebagai ranah spirit kepercayaan. Namun, karena adanya gambaran bintang gemintang, maka diyakini bahwa inilah cikal bakal gambaran rasi bintang Leo era awal. Khususnya, pada masa itu pula adanya penetapan wilayah langit Aquarius yang dianggap sebagai titik cardinal dari lingkaran langit yang kini dikenal sebagai ekliptika. Hadirnya Ishtar dan Virgo, masih dalam penelusuran karena dalam perkembangannya juga ada versi singa yang bersayap yang menunggang di atas tubuh ular besar (serpent) yang lambat laun menjadi rasi bintang Leo dan Hydra (Rogers). Penulis pun mencoba menyelisik Ishtar yang kadang dikaitkan dengan hadirnya Venus. Memang dalam kasus Serpent dijumpai bentukan yang serupa, Serpent dan sebut “pawangnya” yang kini adalah daerah rasi bintang Ophiuchus dan ularnya (Serpent; cauda/ekor dan caput/kepala.

Kembali pada era Babylonia yang mana identifikasi terkadang membingungkan karena munculnya tokoh Ishtar, di sini dikutip karya penelitian Gavin White yang tertulis di atas lebih lengkap lagi sebagai berikut (ref.: Mul-Apin by Gavin White):

 

Mul-Apin

Mul-Apin is a composite text that can be thought of as a general compendium
dealing with many diverse aspects of celestial divination.
The first sections of tablet 1 list all the mainstream Babylonian constellations
along with the deities associated with them.
Various other sections give the rising dates for the stars
and provide further useful information
that helps to locate the constellations in relation to each other
and as such it is the single most important resource
for reconstructing the overall plan of the Babylonian starmap.
Even though the earliest copy so far discovered was only
written shortly after 700 BCE,
the text was probably composed sometime between 1200 and 1000 BCE.
The following lists are derived from 'Mul.Apin,
An Astronomical Compendium
in Cuneiform' by Hermann Hunger and David Pingree, 1989.
The locations of the Babylonian stars in terms of the Greek stars
are my own attributions.

Mul-Apin divides the stars into northern, equatorial and southern paths:

33 Northern stars on the path of Enlil


The Lion, Latarak  (Leo)
The stars that stands in the breast of the Lion, the King Star (The star Regulus in Leo)
The dusky stars that stand in the tail of the Lion, the Frond of Erua, Zarpanitu  (Coma Berenices & the western part of Virgo)

 

 

Hingga beberapa abad sebelum masehi juga terdapat apa yang dikenal sebagai Seleucid Zodiac yang tersimpan dalam bentuk 12 keping tanah liat di mana tiga diantaranya yang dijumpai adalah yang kini dikenal sebagai rasi bintang Taurus, Leo dengan Corvus yang hinggap di tubuh Hydra, serta Virgo.

Banyak juga identifikasi yang berkembang. Memang bagi bangsa Sumeria, Leo menjadi penanda Summer Soltice (titik balik Matahari) di mana bintang terangnya disebut Sharru (Raja) tatkala era Babylonia yang dalam budaya Yunani menjadi Regulus yang justru disebut Raja Kecil. Yang disebut bintang pada ekor singa kemungkinan bagian dari rasi bintang modern Coma Berenice (Yunani dan kawasan Timur Tengah setelah hadirnya Islam). Namun, dari Eratosthenes dan Hyginus (Yunani) menyebut rasi bintang ini sebagai the hair of the queen Berenice of Egypt (dimaklumi karena Eratosthenes tinggal di wilayah yang kini adalah Mesir).

Dari ranah yang kini Persia (Elam), populer dengan Star of Elam yang merupakan rasi bintang yang kini disebut Pleiades (dulu dianggap rasi bintang sendiri yang kini bagian dari Taurus, lokasi di punggung banteng), Leo, Scorpius, Aquarius (?). Juga Gemini, Libra, Cancer. Julukan mereka semua adalah Star of Akkad/Amurru (2300 SM, era penaklukan Sumeria oleh Akkad: yang telah dipastikan adalah hadirnya banteng, singa, dan burung).

Pada versi lainnya bahwa Ishtar, adalah Dewi Langit – Whore of Babylon, dewi cinta dan kesuburan dan perang, ada yang disimbolkan dengan menggunakan senjata. Juga simbolisasi singa serta terkait masa panen. Kemudian hari menjadi pengejawantahan planet Venus. Namun, dalam sejarah, itu semua dapat dianggap sebagai awal mula adanya rasi bintang the Bow (kini Canis Major), Leo, dan Virgo.

Pada ranah Nusantara, tercatat penamaan Leo sebagai Lintang Kukusan (beda dengan Lintang Kemukus atau komet) atau Pusa (Yogyakarta), Singha (Solo, dengan karakter di bawah Batara Kala), Singa (Bali, atau kadang penamaannya dari Sanskrit adalah Singham).

 

Legenda Singa Nemea

Orang-orang Yunani mengaitkan Leo dengan singa Nemea, binatang buas yang dibunuh oleh Heracles. Seperti diketahui bahwa Heracles (pada budaya setelahnya, yaitu pada era Romawi dikenal sebagai Hercules) diberi 12 tugas oleh raja Eurystheus di mana salah satunya dan yang pertama tugasnya adalah membinasakan singa Nemea. Baik Eratosthenes dan Hyginus menulis bahwa singa ditempatkan di antara rasi bintang karena sang singa tersebut merupakan raja para binatang buas. Dinyatakan bahwa Hera yang kemudian menempatkan singa itu (Leo) di antara bintang gemintang sebagai salah satu rasi bintang atau konstelasi. Ada kisah lain bahwa yang menempatkan di kubah langit adalah Zeus (windows2universe).

Pada kisah lain bahwa salah satu alasan penempatannya sebagai salah satu Zodiak (lebih pada lokasinya di jalur Bima Sakti atau Milky Way) mungkin karena fakta bahwa singa meninggalkan tempat mereka di padang pasir untuk pergi ke tepian Sungai Nil (simbolisasi bentang awan putih Bima Sakti, layaknya Sungai Serayu di Jawa) ketika Matahari melintasi rasi bintang ini. Ada kemungkinan juga bahwa inipun sebagai penanda musim panas sedemikian para binatang mulai bergeser ke arah aliran Sungai Nil (simbol kehidupan) yang masih berlimpah airnya; migrasi singa di atas juga menjadi alasan bagi hadirnya simbolisasi visual Sphinx (windows2universe/Leo). Masyarakat Babylonia kadang menyebutnya Aru dan warga Yahudi lebih mengenalnya sebagai Arye. Uniknya di India mirip Persia "Sher" yang kesemuanya berarti singa. Astronom Hindu-Awal mengenalinya dengan sesuatu yang besar atau agung, layaknya pada banyak budaya lain, yaitu King of the Beasts, dan hampir semua sepakat bahwa singa sebagai raja para binatang buas (universetoday/Leo).

Berdasarkan kisah yang populer bahwa sang singa tinggal di sebuah gua di Nemea, sebuah kota yang terletak di sebelah barat daya Korintus (Corinth), tepatnya di kawasan Lembah Gunung Nemea, di antara wilayah Cleonae dan Phlius. Singa ini banyak memangsa penduduk dan tidak bisa dibunuh karena kulitnya tidak bisa ditembus oleh senjata apa pun. Kota tersebut lambat laun menjadi kosong dan senyap.

Asal muasal atau riwayat kehadiran sang singa juga masih misterius dalam arti ada beberapa versi mitologi yang muncul. Ada kisah bahwa dia merupakan “bapak” dari “anjing” Orthrus dan monster Typhon; atau bahkan dikatakan keturunan dari Selene, sang dewi Bulan. (ref.: Allen). Masyarakat Yunani menyebutnya sebagai Leon Nemeios yang dilatinkan menjadi Leo Nemeum (Nemean Lion). Banyak istilah lain seperti Nemeaeus, Nemeas Alumnus, Nemees Terror, Nemeaeum Monstrum. Asalnya dikatakan dari Nemea di Agolis (Cleonaeum Sidus dari Cleonae – Argolis di perbukitan Nemean) dan memang dikaitkan dengan rasi bintang Leo. Dalam satu versi dinyatakan putra dari Orthrus dan Chimaera. Ada yang menyebut keturunan Typhon (atau Orthrus) dan Echidna. Dari karya Ptolemy Hephaestion, New History Book 5 (Photius, Myriobiblon 190): "The Drakon (Dragon) which guarded the golden apples was the brother of the Nemean lion" (theoi/Nemeios).

Ketika Heracles tiba di Cleonae, dia diterima dengan baik oleh seorang pria nan sederhana bernama Molorchus. Orang ini bahkan bersedia untuk mengorbankan dirinya demi persembahannya ke Zeus sedemikian Heracles membujuknya untuk menunda selama tiga puluh hari sampai dia kembali dari pertarungannya dengan singa. Herakles mengajaknya agar kemudian mereka berdua dapat bersama-sama mempersembahkan sang singa kepada Zeus. Kendati demikian, memang ada keraguan dari Heracles tatkala menyatakan kepada Molorchus, bahwa apabila dia tidak kembali pada hari yang dijanjikan, maka Molorchus terpaksa harus menawarkan pengorbanan dirinya sebagai seorang pahlawan. Tiga puluh hari berlalu, dan ketika Heracles tidak kembali, Molorchus membuat persiapan untuk pengorbanan heroik. Namun, pada saat yang tepat, Heracles tiba dengan penuh kemenangan atas sang singa yang terbunuh. Keduanya kemudian mengorbankannya untuk Zeus.

Menurut Theocritus, pertarungan Heracles dan singa tidak di dalam gua, melainkan di lapangan terbuka bahkan Heracles konon sempat kehilangan satu jari tangannya. Ketika kembali ke raja Eurystheus membawa singa mati di pundaknya; dan sang raja yang takut pada kekuatan sang pahlawan dengan rupa penampilannya langsung menghilang (dikisahkan terbang) dan memerintahkan Heracles untuk memberi laporan tentang hasil tugasnya di luar wilayah gerbang kota.

Kulit sang singa memang diceritakan pada ragam kisah yang konon tidak  mempan dari semua senjata, seperti yang dialami sendiri pertama kali oleh Heracles ketika dia menembakkan panah pada singa dan melihat anak panahnya hanya memantul.

Tidak terpengaruh, Heracles mengangkat tongkatnya dan membuat binatang itu mundur ke dalam guanya. Heracles memblokir salah satu pintu masuk kemudian masuk melalui mulut gua yang lain. Dia bergulat dengan sang singa, mengunci dengan lengannya yang besar di leher singa dan mencekik binatang itu hingga binasa. Sang pahlawan membawa mayat singa itu di pundaknya dengan rasa penuh kemenangan. Kemudian dia menggunakan cakar tajam singa itu sendiri untuk memotong kulitnya, yang kemudian dia jadikan jubahnya. Mulut singa yang menganga di atas kepalanya membuat Heracles terlihat lebih garang berwibawa dari sebelumnya (kesan inilah yang membuat takut sang raja).

 

Gambar 3
Hercules and the Nemean Lion
(photo: Andreas Praefcke; constellation-guide/Leo)

 

Pemetaan Zodiak

Apabila melihat simbolnya (lihat gambar simbol Leo di awal tulisan) sejatinya adalah simbol dari surai binatang (layaknya surai kuda). Hyginus (1488) dan Albumasar (1489) meng-khayalkan surai ini sangat panjang mengitari hingga kaki belakang dan memanjang ke belakang. Hyginus meletakkan bintang Denebola pada bagian akhirnya. Pemetaan ini masih dalam penelitian. Juga kaitannya dengan kisah Mithra dari Persia dan yang tergambar pada hieroglif Mesir. Bahkan ditemukan juga gambaran Leo pada uang logam di kawasan Arab/Afrika.

Gambaran Leo umumnya dalam posisi berdiri, tetapi, dalam manuskrip Leiden, dalam sikap melenting, di mana ilustrasi “Sickle” (sabit) justru menjadi jelas (lihat gambar 4). Yang kini astronom ketahui secara formal bahwa bagian sabit berada di bagian depan di mana bintang paling terang Regulus berada. Bintang lainnya berturut-turut adalah nu, gamma, zeta, mu, epsilon. Inipun sudah ada pada karya Pliny. Namun, kala itu bukan menjadi bagian dari Leo. Uniknya untuk bagian ekor adalah sama dengan yang dipetakan sekarang.

Gambaran busur yang dianggap sebagai manzil dari Bulan nyatanya sama dengan apa yang dijumpai pada masyarakat Akkadian, yang mereka sebut Gim-mes (curved weapon, layaknya busur panah). Masyarakat Khorasmir dan Sogdian menyebutnya Khamshish, warga Copt mengenalnya sebagai Titefui (Dahi).

Matahari melewati kawasan tersebut antara 7 Agustus hingga 14 September. Pada awal pemetaan modern, Argelander mendata pada katalognya bahwa terdapat 76 bintang, adapun Heis sebanyak 161.

Di antara kawasan Leo dan Virgo dulu ada, sebut saja rasi bintang lokal (layaknya Lintang Waluku; istilahnya asterisme) yang disebut Fahne di mana Ideler berkomentar:

The Flag is a constellation of the heavens, one part in Leo and one part in Virgo. Has many stars. On the iron [the arrowhead of the staff] in front one, on the flag two, on every fold of the flag one.

 

Gambar 4 Leo dan Daerah Sabit
Daerah sabit (atas) kini adalah bagian depan singa atau dadanya
yang ditandai bintang Regulus sebagai pangkal sabit.
Adapun Denebola berada di daerah ujung ekornya.
(Program Software Stellarium 0.12.4)

 

Bintang Terang
(dalam batasan visual)

Regulus (Alpha Leonis)

Merupakan bintang paling terang di rasi bintang Leo dan ke 22 di kubah langit malam. Magnitudo semu kisaran 1,35 dengan jarak 77 tahun cahaya (tc). Bintang ini sebenarnya adalah sistem bintang jamak (berempat). Regulus A merupakan bintang ganda spektroskopis yang terdiri dari bintang deret utama (kelas luminositas V) dengan kelas spektrum B7 (atau identifikasi B7 V) yang berpasangan dengan bintang Katai Putih. Periode edarnya 40 hari. Sementara pasangan lainnya berupa bintang ganda yang terdiri dari Regulus B dan C yang memiliki separasi jarak dengan Regulus A sejauh 177 detik busur. Pasangan ini terdiri dari 2 bintang deret utama bermagnitudo semu 8,14 dan 13,5. Kelas spektrumnya K2 V dan M4 V. Jarak keduanya 100 satuan astronomi dengan periode edar 2000 tahun.

Regulus A adalah bintang berusia relatif muda, hanya beberapa juta tahun dengan massa sekitar 3,5 kali besar massa Matahari. Kendati besar, periode rotasinya hanya 15,9 jam (rapid rotator, bandingkan dengan Bumi, 1 rotasi 24 jam). Periode ini berada kisaran 16% di bawah batas ambang bintang tercerai berai karena gaya gravitasinya tidak dapat lagi menahan putaran yang lebih cepat lagi.

Posisi di kubah langit yang berada di daerah ekliptika, maka Regulus ini sering di-okultasi (digerhanai) oleh khususnya Bulan. Pada kala tertentu, walau sangat jarang, juga oleh Merkurius dan Venus.

Regulus berarti “little king” atau “prince”. Dalam budaya Yunani disebut Basiliscos yang memiliki arti yang sama. Di Timur Tengah disebut Qalb al-Asad yang berarti “the heart of the lion”.

 

Denebola (Beta Leonis)

Namanya berasal dari ranah Arab, ðanab al-asad, yang berarti ekor singa. Merupakan bintang paling terang kedua dan ke 61 di kubah langit. Tergolong bintang deret utama (kelas luminositas V) dengan kelas spektrum A3. Magnitudonya 2,1 dan berjarak 36 tc.

Massanya 1,75 kali Matahari dengan diameter 1,73 kali Matahari; atau luminositasnya 12 kali lebih cemerlang dibandingkan dengan Matahari. Denebola termasuk bintang variabel (tipe Delta Scuti variable). Jadi, perubahan kecerlangannya secara gradual, tidak ekstrim, berlangsung dalam periode beberapa jam saja (perubahan luminositas rentang 0,025 magnitudo sebanyak 10 kali setiap harinya).

Bintang ini relatif muda dengan taksiran usia 400 juta tahun. Mirip Regulus, rotasinya sangat cepat (128 km per detik) membuat bentuknya menjadi sangat pipih. Radiasi inframerahnya sangat kuat sedemikian diperkirakan adanya piringan materi debu di sekitarnya (mirip keberadaan cincin Saturnus).

Denebola merupakan anggota asosiasi IC2391 (walau tidak terikat secara gravitasi) yang juga termasuk bintang Alpha Pictoris (rasi bintang Pictor), bintang Beta Canis Minoris (rasi bintang Canis Minor), dan kelompok bintang IC 2391 (Omicron Velorum Cluster) di rasi bintang Vela.

 

Algieba (Gamma Leonis)

Termasuk bintang ganda. Dikenal dengan nama Algieba atau Al Gieba, yang berawal dari Al-Jabhah yang berarti dahi. Secara latin disebut juga Juba.

Merupakan bintang raksasa dengan kelas spektrum K1-IIIbCN0.5 (warna cenderung merah-jingga) bersama pasangannya yang juga cukup besar (10 kali diameter Matahari) dengan kelas spektrum G7IIICN-I (warna hijau-kuning). Yang raksasa luminositasnya 180 kali Matahari dengan magnitudo semu 2,28 dan pasangannya 50 kali luminositas Matahari dengan magnitudo 3.51 (magnitudo gabungan 1,98). Jarak bintang ganda kisaran 130 tc dan relatif mudah dilihat dengan teleskop ukuran kecil yang tentu di bawah cuaca yang ideal. Periode orbit antar keduanya kisaran 500 tahun. Ada keunikan dari pasangan ini, bahwa bintang utamanya (raksasa) diiringi oleh sebuah planet yang diketahui bulan November 2009.

Algieba, Adhafera (Zeta Leonis), dan Al Jabbah (Eta Leonis) secara bersama biasa dikenal dengan julukan the Sickle (sabit).

 

Zosma (Delta Leonis)

Delta Leonis termasuk bintang dengan rotasi cepat (180 km/s). Kelas spektrumnya A4 V (bintang deret utama) berjarak 58,4 tc dengan magnitudo 2,56. Sedikit lebih besar (214%) dan lebih panas dari Matahari (luminositas 15 kalinya). Dengan usia 600 juta tahun diprediksi dalam evolusinya akan menjadi bintang raksasa merah. Pergeserannya di langit mirip dengan bintang-bintang di Ursa Major sedemikian dimasukkan sebagai anggota the Ursa Major Moving Group. Nama populernya Zosma yang berasal dari budaya Yunani yang berarti sabuk dan lokasinya di panggul singa.

 

Chort (Theta Leonis)

Bintang deret utama (A2 V) dengan massa 2,5 kali Matahari. Masih relatif mudah ditera kasat mata karena magnitudonya 3,3 dengan jarak 165 tc. Theta Leonis diperkirakan berusia 550 juta tahun. Keunikannya memiliki radiasi inframerah yang kuat seperti Denebola sedemikian diduga kuat memiliki cincin materi debu. Rotasinya cukup cepat kisaran 23 km/s. Namanya kadang disebut Chort (berawal dari ranah Arab, al-kharāt atau al-khurt, yang artinya rusuk kecil), Coxa (panggul), atau Chertan (Arab; al-kharātān, dua tulang rusuk kecil).

 

Al Minliar (Kappa Leonis)

Kappa Leonis adalah bintang ganda. Kecerlangan semu 4,46, berjarak 210 tc. Nama berbasis budaya Arab, Minkhir al-Asad, artinya moncong. Klasifikasinya K2III.

 

Alterf (Lambda Leonis)

Lambda Leonis termasuk kelas K5 berjarak 336 tc dengan kecerlangan semu 4,32 dan namanya berbasis budaya Arab, aṭ-ṭarf (arah pandang; arah lihat sang singa).

 

Subra (Omicron Leonis)

Omicron Leonis merupakan bintang ganda berjarak 135 tc. Klasifikasi bintangnya F9III (bintang raksasa) dan A5mV (deret utama) dengan kombinasi kecerlangan semu 3,53.

 

Al Jabbah (Eta Leonis)

Eta Leonis adalah bintang maharaksasa terang dengan klasifikasi A0 Ib. Magnitudonya 3,511 dan berjarak kisaran 2.000 tc. Secara kasat mata tampak redup walaupun sejatinya memiliki luminositas 5600 kali lebih cemerlang dibanding Matahari. Kini diduga merupakan bintang ganda, masih dalam observasi.

 

Adhafera (Zeta Leonis)

Bintang raksasa dengan klasifikasi F0 III. Nama Arab, al-ðafīrah, yang berarti keriting atau kepang. Magnitudonya 3,33 dan jaraknya 274 tc. Kecerlangannya kisaran 85 kali Matahari. Ada pasangan semunya (bukan bintang ganda sejati), 35 Leonis, dengan magnitudo 5,90 yang berjarak 325,9 detik busur dari Adhafera dengan jarak ke Matahari 100 tc.

 

Ras Elased Borealis (Mu Leonis)

Klasifikasinya K3, magnitudo 4,1, jarak 133 tc. Nama tradisionalnya Rasalas (atau Ras Elad Borealis) dan Alshemali yang merupakan ringkasan Arab, ra’s al-’asad aš-šamālī, yang berarti bintang di utara kepala sang singa.

 

Ras Elased Australis (Epsilon Leonis)

Bintang raksasa G1 II dengan magnitudo 2,98 dan merupakan bintang paling terang ke 5 di rasi bintang Leo. Ditaksir usianya tidak muda lagi, kisaran 162 juta tahun. Jaraknya mencapai 247 tc. Ragam nama tradisionalnya, Ras Elased (Australis), Asad Australis, dan Algenubi (rās al-’asad al-janūbī, yang berarti bintang di selatan kepala sang singa). Luminositasnya 288 kali Matahari dengan jejari kisaran 21 kali Matahari. Bintang ini tergolong bintang tipe variabel Cepheid (perubahan kecerlangan sekitar 0,3 magnitudo setiap beberapa hari).

 

Rho Leonis

Rho Leonis adalah bintang ganda. Magnitudo semu 3,8 dengan jarak kisaran 5.000 tc. Klasifikasinya adalah bintang B1 dan telah mencapai tahap supergiant maharaksasa pada jejak evolusinya. Sebagai maharaksasa, bintang ini memiliki 21 kali besarnya massa Matahari, 37 kali dalam radiusnya, dan kondisi ini menyiratkan kecerlangannya mencapai kisaran 295.000 kali dibandingkan dengan terang Matahari. Rho Leonis merupakan bintang yang bergerak cukup cepat (30 km per detik relatif dari bintang terdekat, artinya semakin terpisah dalam kelompok “runaway star”). Komponen utama bintang ganda ini adalah maharaksasa biru dan separasi sudut dengan pasangannya kisaran 0,11 detik busur. Bintang pendamping memiliki magnitudo 4,8.

 

Iota Leonis

Iota Leonis adalah bintang ganda spektroskopis (hanya dapat diketahui dengan metode spektroskopi) dengan klasifikasi bintang F3 V. Magnitudo visualnya (semu) 4,00 dan berjarak sekitar 79 tc. Komponen-komponen dalam sistem bintang ganda ini terlalu berdekatan untuk dapat dilihat melalui teleskop.

 

Sigma Leonis

Sigma Leonis adalah bintang biru-putih dengan kelas spektrum B9,5V dengan magnitudo semu 4,0 dan berjarak sekitar 210 tc.

 

Objek Messier

Pada rasi bintang ini dapat dijumpai 5 objek Messier, yaitu M65, M66, M95, M96, dan M105. Kali ini hanya ditinjau M65 dan M66.

 

Messier 65 (M65, NGC 3623)

Merupakan salah satu anggota kelompok galaksi (Leo Triplett) yang berjarak 35 juta tc dan kecerlangan semu 9,3. Menempati luasan kubah langit kisaran 8x1,5 detik busur. Tipe galaksinya adalah Sa (spiral).

 

Gambar 5 Messier 65
(Credit: ESA/Hubble & NASA)(spacetelescope.org/potw1352a)

 

Ditemukan pada tahun 1780 oleh Charles Messier, yang juga sekaligus bersamaan menemukan M66 tepatnya pada tanggal 1 Maret. Messier 65 (M65, NGC 3623), bersama dengan tetangganya M66 dan NGC 3628, membentuk kelompok trio galaksi yang sangat populer di antara kelompok galaksi lainnya yang disebut Leo Triplett. Dalam deskripsi Messier dikatakan bahwa wujudnya seperti awan antar bintang (very faint nebula without stars). Karena citra kabur dan keraguan Messier inilah yang menyebabkan Admiral Smyth saat menemukannya justru memberi tahu ke Pierre Méchain (target utama Messier adalah komet; simak Katalog Messier). Hal ini sempat membuat Kenneth Glyn Jones tahun 1960 menyebut bahwa yang menemukan M65 dan M66 (juga M68) adalah Méchain. Halton Arp memasukkan M65 dalam katalognya, Catalogue of Peculiar Galaxies, dengan indeks nomor 317 (Leo Triplett).

Meskipun dekat dan di bawah kondisi saling mempengaruhi dalam tarikan gravitasi tetangganya, M65 masih menampakkan bentuk spiralnya (tipe Sa) yang dapat dikatakan "normal" dan seolah tidak terlihat adanya dampak signifikan akibat tarikan gravitasi tetangganya. Memiliki kawasan pusat yang menyerupai geometri lensa yang sangat jelas dan dilingkupi juntaian lengan spiral yang melingkar. Ada pula bentukan jalur debu yang relatif mudah diamati. Piringan bercahaya didominasi oleh populasi bintang tua. Pada jalur tertentu diduga kuat terkait dengan daerah pembentukan bintang-bintang. Wilayah ini sering terkaburkan karena kepadatan kawasan yang menjadi karakter galaksi tipe ini.

Pada tanggal 21 Maret 2013, M. Sugano menemukan proses ledakan bintang. Supernova ini diidentifikasi sebagai SN2013am. Lokasinya 15,3" timur dan 103,2" selatan dari pusat galaksi. Kecerlangan supernova saat ditemukan kisaran 15,6 dan tipenya adalah supernova tipe II (SNII) berasal dari bintang masif layaknya SNII lainnya yang pernah dijumpai (https://www.messier.seds.org/m/m065.html).

 

Messier 66 (M66, NGC 3627),

M66 atau NGC 3627 yang juga merupakan anggota Leo Triplett diperkirakan berjarak 35 juta tc. Para astronom menduga bahwa bentuk galaksinya terdistorsi dan hal ini akibat interaksi gravitasinya dengan tetangganya, yaitu Messier 65 dan NGC 3628. Galaksi M66 atau NGC 3627 merupakan galaksi dengan tipe spiral batang (barred spiral) dan sebagai salah satu contoh tipe Sb yang cemerlang. Bentuk ini memang banyak dijumpai pada daerah cakram dari Gugus Lokal (Gugus Lokal adalah kumpulan kisaran 30 galaksi di mana Bima Sakti dan Andromeda menjadi anggotanya).

 

Gambar 6 Messier 66
Fot ini diabadikan dengan menggunakan teleskop Spitzer
(Spitzer Infrared Nearby Galaxy Survey (SINGS) Legacy Project)
Credit: NASA/JPL-Caltech/R. Kennicutt (University of Arizona) and the SINGS Team
(spitzer.caltech.edu)

 

Struktur inti dan batang-nya yang biru mengilustrasikan konsentrasi bintang yang lebih tua. Sementara pada struktur batang, tampaknya tidak dijumpai daerah pembentukan bintang; sementara itu pada ujung batangnya berwarna merah terang dan masih aktif melahirkan bintang-bintang baru. Spiral berbatang menawarkan laboratorium yang sangat bagus untuk menelusuri daerah pembentukan bintang karena mengandung banyak lingkungan yang berbeda dengan berbagai tingkat aktivitas (seds.org/M-66).

NGC 3627 diperkirakan berjarak 35 juta tc dengan orientasi arah ke rasi bintang Leo. Bentuknya terdistorsi oleh rekan segrupnya, Messier 65 dan NGC 3628. NGC 3627 juga merupakan contoh sangat baik dalam penelitian galaksi berbentuk spiral batang di wilayah bidang gugus galaksi. Bersama M65, di mana M66 juga ditemukan oleh Messier. Dimensinya lebih besar dibanding M65. Keduanya sebenarnya telah teramati tahun 1773. Namun, saat itu tersaru dengan komet.

 

Gambar 7 Messier 66
Merupakan hasil komposisi foto oleh ESO. Tampak pusat dan struktur spiral dan batang yang jelas. Jalur materi debu pun tampak. Juga daerah panas gas hidrogen berwarna merah muda
sebagai indikator pembentukan bintang baru.
Credit: ESO; https://www.eso.org/public/images/eso0338c/

 

Selama ini telah ditemukan beberapa fenomena ledakan bintang atau supernova di galaksi tersebut, diantaranya:

  • SN1973R yang merupakan tipe SNII yang mencapai kecerlangan 15 yang diketahui tanggal 12 Desember 1973;
  • SN1989B yang diketahui tanggal 31 Januari 1989 dan mencapai puncak kecerlangan 12 pada tanggal 1 Februari 1989;
  • SN1997bs yang diketahui oleh team dari the Lick Observatory Supernova Search Team tanggal 15 April 1997 dan mencapai puncak cerlangnya 17,0. Tergolong “peculiar” (sulit digolongkan), mirip SNIIn;
  • SN2009hd yang ditemukan tanggal 2 Juli 2009 oleh Berto Monard dari Afrika Selatan pada kecerlangan 15,8; dan
  • SN2016cok (ASASSN-16fq) ditemukan tanggal 28 Mei 2016 dengan peranti All Sky Automated Survey for SuperNovae (ASAS-SN) dengan kecerlangan 16,6 dan sempat diikuti sampai ke puncak kecerlangan 16,1 pada tanggal 1 Juni 2016. Tipenya SNIIP (Plateau, pada kurva cahayanya).

 

Gambar 8 Messier 66
Foto komposisi antara panjang gelombang visual dan inframerah dengan teleskop angkasa Hubble. Credits: NASA, ESA and the Hubble Heritage (STScI/AURA)-ESA/Hubble Collaboration; Acknowledgment: Davide De Martin and Robert Gendler

 

Beberapa Fakta

Pada wilayah Leo ditemukan adanya 11 bintang dengan planet pengiringnya (Extra Solar Planet / ESP). Kekhususan lainnya bahwa terdapat dua hujan meteor yang terkait dengan rasi bintang ini. Salah satunya yang terkenal adalah Leonids Shower yang biasanya mencapai puncaknya pada tanggal 17 – 18 November setiap tahunnya dan memiliki titik radian dekat bintang terang bernama Gamma Leonis. Hujan meteor January Leonids adalah hujan meteor intensitas kecil yang berpuncak antara tanggal 1 dan 7 Januari.

Apabila lebih seksama lagi, maka sebenarnya terdapat lima hujan meteor tahunan yang terkait dengan rasi bintang Leo. Yang pertama adalah hujan meteor Delta Leonids yang terjadi antara 5 Februari hingga 19 Maret setiap tahun. Puncak aktivitas pada akhir Februari dengan jumlah maksimum rata-rata sekitar 5 meteor per jam. Tanggal selanjutnya adalah hujan meteor 17 April dan hujan meteor Sigma Leonids. Fenomenanya cukup langka di mana titik radiannya di dekat perbatasan Leo / Virgo. Termasuk sangat minim karena intensitasnya hanya kisaran 1 hingga 2 meteor per jam.

Yang sangat spektakuler dalam sejarah pengamatan hujan meteor, yaitu hujan meteor Leonid. Tanggal puncak kisaran 17 November. Keunikannya bahwa aktivitasnya biasa terjadi sekitar 2 hari sebelum dan sesudahnya. Titik radian dekat Regulus. Tahun 1966 diperkirakan 500.000 meteor per jam (140 per detik; statistik ini masih beragam versi dan masih terus ditelusuri; Badai Garis Cahaya dari Langit dan Hujan Batu Api dari Langit). Terakhir yang cukup banyak adalah tahun 2005. Rata-rata setiap tahunnya dapat diharapkan sekitar 20 meteor per jam di antara selang 33 tahun. Dari kecepatan jatuhnya bahwa Leonids tergolong yang sangat cepat, mencapai 71 km/s.

Yang terakhir adalah Leo Minorids yang memuncak pada kisaran 14 Desember. Hujan meteor ini ditemukan oleh para astronom amatir pada tahun 1971 dan belum benar-benar dikonfirmasi. Diprediksi mencapai 10 meteor per jam dengan kecerlangan yang termasuk redup dan butuh situasi lokasi observasi yang bebas polusi udara dan cahaya.

 

Sezarah Astrologi

Horoskop didasarkan pada dua jenis zodiak. Astrologi Veda tergantung pada zodiac sidereal, sedangkan astrologi Eropa umumnya justru mengikuti zodiak tropis. Astrologi sidereal mengikuti rasi bintang asli (sesuai kenyataan di langit, senantiasa terkoreksi) di mana tanda-tanda zodiak didasarkan posisi benar. Astrologi tropis, di sisi lain, menggunakan titik balik Matahari sebagai titik acuan pada posisi awal era masehi (era Ptolomaeus/Ptolemy abad 2 dan tidak pernah dikoreksi hingga kini).

Beberapa milenium sejak astrolog awal yang berbasis tropis memberi patokan tanda di langit perbintangan, titik ini dikatakan telah menjauh dari rasi bintang patokan karena presesi ekuinoks (pergeseran titik gamma/hamal akibat gerak presesi Bumi yang kisaran 26 ribu tahunan akibat tarikan Matahari; Sejatinya ada gerak nutasi yang diakibatkan Bulan).

Tidak seperti mitra siderealnya, zodiak tropis dikatakan memiliki makna simbolik atau metafora yang lebih. Tanda bintang dari astrologi sidereal lebih bersifat instrinsik. Dalam hal posisi planet, Matahari pada titik balik musim semi dianggap sebagai titik pertama berbasis rasi bintang Aries untuk zodiak tropis. Hasil dari perbedaan cara membaca horoskop ataupun astrologi ini menunjukkan bahwa sistem koordinat zodiak berangsur terpisah dengan kecepatan pergeseran rata-rata tahunan sekitar 1,4 derajat per abad.

Perubahan ini juga menjelaskan perbedaan tanggal yang terkait dengan setiap tanda bintang. Misalnya, Aries menurut rentang zodiak tropis 20 Maret hingga 19 April. Untuk zodiak sidereal, dimulai pada 14 April hingga 14 Mei.

Seperti yang telah disinggung bahwa perbedaannya pada dasarnya berakar pada presesi ekuinoks. Selama berabad-abad, dua belas tanda zodiak dari zodiak tropikal tidak lagi sesuai dengan bagian langit yang sama sebagai rasi bintang aslinya. Sederhananya, apabila kita yakin bahwa yang lahir 1 Maret berzodiak Pisces, nyatanya di langit posisi Matahari ada di Aquarius (epoch 2000, biasanya setiap 50 tahun dikoreksi. Jadi berikutnya memakai epoch 2050). Mana yang hendak diyakini? Sementara patokan Zodiak berdefinisi jelas bahwa saat lahir, Zodiaknya adalah berbasis posisi Matahari di langit. Jadi, seharusnya merujuk pada posisi sebenarnya di mana kita semua dapat ikut serta mengamati kubah langit, yang “didefinisikan” sebagai rasi bintang Zodiak ada 13 buah. Bahkan Matahari era kekinian melewati wilayah Scorpius hanyalah dalam rentang waktu 6 hari saja, tidak lagi 30 hari atau sebulan seperti pedoman horoskop yang banyak beredar (horoskop tradisional).

Hal ini seperti yang juga pernah penulis paparkan sebelumnya bahwa “Dalam pranatamangsa Jawa, untuk yang tradisional dalam kasus Taurus termasuk mangsa atau musim ke 11 Dhestha (Wisaka, Jyesta, Hapit Lemah; 18/19 April – 10/11 Mei, 23 hari; Tijdschrift, p.116); sementara kini (epoch 2000) masuk mangsa ke 12 Saddha (13 Mei – 22 Juni). Namun, pada sumber lain agak unik karena tetap dianggap mangsa Dhestha dan rentangnya adalah mulai tanggal 12 Mei hingga 12 Juni (Prawiroatmodjo, p.196). Harusnya yang lahir pada kurun waktu inilah yang berbintang Taurus atau penganut pranatamangsa adalah yang ke 12. Memang untuk kalangan astrologi dalam kasus Taurus mungkin dapat dikatakan beruntung karena ternyata yang lahir antara tanggal 13 hingga 21 Mei praktis baik penentuan Zodiak tradisional maupun berbasis epoch 2000, tetap berzodiak Taurus (pranatamangsa 11 Dhesta)” (Rasi Bintang dalam Denyut Budaya (Bag 3a)).

Dalam salah satu adaptasi catatan tentang pranatamangsa atau kalender musim dapat diambil contoh (sabdadewi.wordpress.com) semisal:

 

Atau dalam penentuan Zodiak antara tradisional dengan epoch 2000

 

Pada kasus lain bahwa orang yang terlahir tanggal 23 Juli hingga 23 Agustus konon berada di bawah naungan rasi bintang Leo (tradisional) dengan karakternya pada sisi astrologi bahwa menurutnya orang tersebut bertalenta menjadi pemimpin, dermawan, dsb. Sering dikaitkan pula dengan semisal aroma, bunga, warna, batu keberuntungan, dsb. Banyak lagi yang terkait peruntungan manusia. Dalam kasus nasib ataupun peruntungan seperti ini memang sama sekali bukanlah ranah Astronomi. Namun, bagaimana penyelarasan rentang waktu dikaitkan dengan posisi benda langit yang nyata dapat diobservasi menjadi pertimbangan Astronomi.

 

Pengantar

Berdasar sezarah kisah di atas jelas bahwa masyarakat telah berusaha menafsirkan hadirnya jagad semesta dengan segala isi dan fenomenanya, termasuk yang terkait rasi bintang Leo. Tiap daerah atau bangsa punya imajinasinya, baik dalam ujud kosa kata maupun cerita rakyat. Terlepas dari sisi astrologi maupun Astronomi, bagaimanapun ini adalah potret budaya manusia. Walau berkelindan dengan mitos ataupun takhayul di sana sini, bagaimana pun ini adalah tahapan primordial manusia sebelum meraih taraf zaman ke-kini-an. Berharap pada masa mendatang, penulis masih dapat kesempatan untuk mendongeng kisah rasi bintang Zodiak lainnya. Sezarah sekalipun, semoga bacaan ini bermanfaat. Salam Astronomi. –WS–

 

Daftar Pustaka

Dapat dilihat pada artikel Zodiak sebelumnya tentang Aquarius, Capricornus, Taurus, dll. Serta dari artikel serial Rasi Bintang dalam Denyut Budaya.

 

Situs