Written by Widya Sawitar

User Rating: 5 / 5

Star ActiveStar ActiveStar ActiveStar ActiveStar Active
 

 

Penelitian Hisab Rukyat untuk Penentuan Awal Bulan Syawal 1440H

 

 

Planetarium dan Observatorium

Unit Pengelola Pusat Kesenian Jakarta Taman Ismail Marzuki

Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Provinsi DKI Jakarta

 

Kompilasi: Widya Sawitar

 

 

 PERENUNGAN AWAL

Topik penentuan awal bulan Hijriah memang terasa berulang muncul ke permukaan, minimal menyangkut 3 bulan dalam kalender Hijriah, yaitu Ramadhan, Syawal, dan Dzulhijjah. Bahkan tahun demi tahun seolah tiada berkesudahan masalah ini muncul ke permukaan.

Masalah di atas terasa sejak tahun 1984 dan mulai muncul menjadi pertanyaan yang meluas pada 2 dekade terakhir di mana masyarakat senantiasa bertanya akan adanya perbedaan dalam sebuah ketetapan yang dibangun utamanya pada ranah religi. Walau tahun demi tahun sudah banyak penjabaran dan penjelasannya, seolah-olah topik seperti ini tidak lekang oleh waktu.

 

Apabila hendak menyimak dengan seksama perkembangannya di masyarakat luas, nyatanya penuh dinamika dalam ragam penafsiran dan perbedaan. Dapat dikatakan bahwa pada ranah kenyataan, kadang terasa gaduh walau dalam konteks harapan yang positif. Di sini disajikan kembali tinjauan yang sama untuk perhitungan kalender Hijriah tahun 1440H atau tahun 2019 pada kalender Masehi, khususnya menyangkut penentuan awal bulan Syawal 1440H. Berikut ini beberapa aspek disaji-ulangkan kembali dalam hal latar belakang dan yang terkait kegiatan ini. Sekedar mengingatkan kembali. 

Kali ini, kita coba kaitkan bahasan dengan istilah yang begitu populer di kalangan masyarakat Indonesia, yaitu “Lebaran”. Mungkin kata inilah yang paling populer di masyarakat apabila disangkutkan dengan hadirnya 3 bulan Hijriah tersebut. Hal ini karena kebutuhan apapun yang bersifat kasat mata dan terkait penyambutan hari lebaran (Idul Fitri) yang pada jaman sekarang seolah menjadi hak mutlak pada ranah tuntutan para insaninya, tatkala terhubung dengan pikiran di ranah sayap-duniawi.

Siapa yang tidak mengenal istilah cuti bersama, mudik, THR, baju baru, dll. yang terkait dengan lebaran? Namun, bagaimana sejarah legal formalnya dalam ranah religi? Apakah tuntutan akan diberikannya cuti (mudik) dan THR berbasis ranah syariat? Atau sekedar dampak tuntutan pengeluaran yang lebih dari keseharian? Tidak dapat THR seolah menjadi kegaduhan tersendiri. Namun, apabila merunut pada jejak tertentu, pada ujungnya memang didapatinya satu unsur yang mencuat dan sangat menonjol, silaturahmi dan ini rasanya di luar wilayah material yang rasanya menjadi kewajiban setiap insan dimanapun dia ditempatkan. Satu dunia spirit yang justru berlandas acu pada religi. Adapun THR dan lainnya yang menjadi produk lokal “mungkin” sekedar dampak pelaksanaannya. Uniknya, justru perhitungan dan tuntutannya kadang sangat “rumit” dan dianggap mutlak.

Pada sisi lainnya, apapun latar belakang kisah seputar aspek sosial-budaya tentang “berlebaran” bahwa “penentuan kapan” kita akan berlebaran pada satu sisi dalam aspek sains Astronomi nyatanya juga tidak lebih dari sekedar salah satu dampak dari sekian banyaknya aplikasi bidang ilmu ini.

Masalah dalam Astronomi tersebut sebenarnya sekedar konsekuensi logis dari adanya kalender Bulan, yang sejatinya perhitungannya kini sudah semakin mapan. Fenomena paralel dengan fenomena kalender seperti gerhana “tokh” kini sudah dapat dihitung secara teoritis matematis untuk mengetahui bahkan hingga ke 50 tahun yang akan datang. Contoh kasus yang mungkin akan digunakan oleh anak cucu kelak, bahwa akan terjadi Gerhana Matahari Total nanti tanggal 23 Mei 2096. Ya, masih 78 tahun lagi yang akan melewati Pulau Kalimantan dan Pulau Sumatera bagian selatan. Juga tanggal 15-16 April 2098 di mana akan terjadi Gerhana Bulan Total yang dapat dinikmati seluruh masyarakat Indonesia dan bersabar menanti 80 tahun lagi. Ini sekedar contoh teoritis. Dapat dikatakan bahwa perhitungan yang telah dilakukan tahun 1980 hingga kini dari basis data yang ada nyatanya tidak ada satupun yang meleset (koreksi tetap ada, dan biasanya setahun sebelumnya dan ordenya hanya beberapa menit kalaupun ada).

 

KALENDER BULAN

Pada kasus ini, sekali lagi, mengapa perbedaan berulang-ulang terjadi di luar ranah sains? Mungkin ini yang menarik bagi masyarakat luas. “Rasanya” memang akan “tenang” beberapa tahun ini berbasis perhitungan atau hisab murni (tenang hingga tahun 2022, kecuali mulai penentuan Idul Adha 1443H dan waktu selanjutnya akan penuh pernak pernik) yang justru karena “kebaikan Bulan” pada posisinya.

 

Tabel 1

Peringatan hari raya berbasis kalender Bulan

yang berdasarkan perhitungan dari tahun 2015 s.d 2025.

Perhitungan berlandas acu tanggal 29 pada bulan sebelumnya.

Misal tanggal 29 Ramadhan 1444H (2023M), harga tinggi hilal hanya 1,7 derajat.

Dengan adanya prasyarat tertentu, maka sangat mungkin terjadi perbedaan Hari Raya (Idul Fitri).

Jadi, karena “kebaikan Bulan” pada posisinya, hingga tahun 2022

dapat diharapkan perayaan berlangsung bersamaan (kecuali Idul Adha 1443H).

Ini pun masih dapat terjadi sama, tergantung lokasi observasi (ke arah barat semakin besar).

 

 

Menyinggung masalah kalender, tentu yang paling populer diketahui masyarakat di dunia adalah yang berbasis Matahari yang umum disebut kalender Masehi atau kalender Matahari (Solar Calendar, Syamsiah). Bahkan sangat unik karena masyarakat yang dikatakan menggunakan kalender berbasis Bulan (Lunar Calendar) hingga ke penentuan ritual keagamaannya pun tetap saja masih menggantungkan ritme hidup dan penjadwalannya berbasis kalender Matahari. Seolah kalender Bulan yang digunakan hanya sekedar untuk pemenuhan acara ritual belaka, tidak lebih. Hal ini dapat dibandingkan dengan pemakaian kalender lainnya termasuk yang dalam beberapa kasus merupakan kombinasi antara posisi Matahari dan Bulan (Luni-solar Calendar) seperti masyarakat Tiongkok.

Secara faktual di Indonesia yang tampak pada masyarakat adalah pada umat Muslim yang terkenal dengan kalender Hijriahnya. Tentu masalah seperti ini dibutuhkan kehati-hatian apabila kita memang tidak terbiasa menggunakannya. Sering pertanyaan muncul, “Lebaran kapan?” dan tentu jawaban yang paling tepat adalah tanggal “1 Syawal.” Namun, pada masyarakat menjadi unik. Tetap saja bertanya, “Iya, kapan?” Selalu, siapapun, dimanapun dipaksa untuk menyebut tanggal Masehi. Akhirnya yang terjawab, misalnya “Tanggal 5 Juni.” Lega sudah rasanya, baik yang menjawab maupun yang bertanya, terlebih semua sepakat.

Serta “Lagi-lagi”, yang terpikir adalah kapan usai ibadah puasa (lebih indah disebut ibadah Ramadhan, karena nyatanya pada bulan Ramadhan bukan melulu sekedar berpuasa); muncul pula secara simultan, kapan cuti bersama? Kapan libur? kapan “mudik”? kapan THR muncul? kapan mulai menyiapkan “hidangan lebaran” dan pakaian yang baik? dan sekian banyak lagi sekedar kebutuhan atau pemenuhan kepuasan pada ranah inderawi lainnya. Lebih unik, pembicaraan seputar “kebutuhan pemenuhan” lebaran sudah ramai dikedepankan, bahkan sering mencuat justru saat ibadah Ramadhan pun belum dimulai. Inilah pernak pernik budaya dalam ranah ujud yang sangat akrab dan nyata di masyarakat.

Terlepas dari ranah budaya di atas, berikut ini dipaparkan masalah teknis astronomis dalam penentuan awal bulan Syawal khususnya tahun ini (1 Syawal 1440H).

 

DATA HISAB PENENTUAN AWAL BULAN SYAWAL 1440H

Guna memenuhi hasrat untuk mengetahui “kapan lebaran tiba”, maka pada paparan berikutnya dapat dilihat serba sedikit bagaimana hasil teoritis matematis atau perhitungan, yang juga dikenal sebagai kaidah hisab yang dilakukan oleh Cecep Nurwendaya, yang merupakan salah satu anggota tim Planetarium dan Observatorium UP PKJ TIM, juga kompilasi hasil perhitungan, analisis data, dan uji banding oleh Widya Sawitar; serta persiapan lainnya termasuk persiapan melakukan pengamatan Bulan Sabit Awal Syawal atau rukyatul hilal oleh anggota lainnya untuk perbandingan dalam mencari landasan teori dalam Kegiatan Penelitian Hisab Rukyat ataupun Kegiatan Penelitian dan Pengamatan Bulan dalam Penentuan Awal Kalender Bulan di mana hal ini dilakukan dalam rangka penentuan awal bulan Syawal 1440H.

Hasil perhitungan (hisab) ini biasanya akan digunakan sebagai pedoman kegiatan observasi (rukyat) yang pada kesempatan kali ini Planetarium dan Observatorium UP PKJ TIM akan melaksanakan kegiatan observasinya atau rukyat hilal tidak pada hari rukyat (29 Ramadhan 1440H atau 3 Juni 2019) karena secara teknis mendapati bahwa Bulan tidak akan dapat dilihat. Kegiatan observasi ini sebenarnya merupakan ranah ilmiah dalam pencarian bukti astronomis dari perhitungan yang dilakukan, bahkan pada ranah spirit pun pada sebagian besar masyarakat terdapat “kewajiban” untuk melakukannya. Setiap tahun, sebelum diputuskan kapan jatuhnya awal Syawal, maka niscaya pada Sidang Itsbat Kementerian Agama RI akan mendengar terlebih dahulu laporan hasil rukyat dari seluruh wilayah Indonesia (penentuan 1 Ramadhan kemarin dilakukan dari 102 titik pengamatan secara nasional). Sejatinya kelompok mana pun boleh turut sumbang saran hasil observasinya dengan prosedur tertentu, karena bagaimanapun menyangkut kebersamaan dan kemudahan pengambilan keputusan dengan masukan data kesaksian yang jelas dan akurat.

Kembali pada metode hisab yang akan dibahas bahwa seperti pada kasus-kasus  sebelumnya di mana hari penentu atau hari untuk menentukan kapan jatuhnya awal bulan Hijriah dilakukan pada setiap tanggal 29 bulan Hijriah (disebut hari hisab dan hari rukyat). Apakah ini bertepatan juga dengan hari ijtimak, belum menjadi keniscayaan. Peninjauannya adalah kasus per kasus. Artinya, penentuannya adalah dilakukan setiap bulan, sepanjang tahun, sepanjang kita gunakan kalender Bulan, atau bahkan sepanjang Bulan masih hadir sebagai satelit Bumi (Info: Bulan setiap tahun bergeser menjauhi Bumi kisaran 3 cm).

Satu fenomena dalam kasus di atas adalah ijtimak yang di dalam bidang Astronomi biasa disebut konjungsi. Dalam fenomena ini adalah konjungsi antara Bulan dan Matahari di mana salah satu konjungsi istimewa adalah terjadinya peristiwa Gerhana Matahari Total. Adapun yang terkait dengan tanggal 29 untuk setiap bulannya karena sejatinya 1 (satu) periode sinodis Bulan (misal Purnama ke Purnama berikutnya, atau dari satu fase ke fase yang sama) tidaklah ber-angka bulat, yaitu sekitar 29,5 hari. Jadi, penentuan tanggal dimaklumi kalau dilakukan tanggal 29. Berbasis ini pula, maka di sini akan ditentukan, apakah harus di-istikmal-kan atau digenapkan bulan Hijriah menjadi 30 hari? Kalau tidak digenapkan, artinya apabila sekarang tanggal 29, maka esok adalah tanggal 1. Apabila digenapkan, artinya apabila sekarang tanggal 29, maka esok tanggal 30 dan baru lusa tanggal 1 (paling panjang rentangnya adalah 30 hari).

Selain itu, seperti yang pernah terjadi pada penentuan awal bulan Ramadhan 1440H yang baru lalu bahwa keputusan dalam ibadah umat Muslim di Indonesia juga berdasar kesepakatan dan aturan tertentu. Salah satunya adalah, apakah posisi hilal (sebut anak Bulan) pada hari penentu hisab sudah memenuhi kriteria masuknya awal bulan Hijriah di Indonesia berbasis Hisab Kriteria MABIMS, yaitu perhitungan hisab yang berpedoman kepada ketinggian Bulan minimal 2 derajat untuk seluruh wilayah negara anggota, jarak sudut Matahari dan Bulan minimal 3 derajat, dan umur Bulan minimal 8 jam setelah saat ijtima'. Apabila ternyata belum memenuhi kriteria awal bulan tersebut, maka di seluruh anggota MABIMS, yakni Brunei Darussalam, Indonesia, Malaysia, dan Singapura secara hisab meng-istikmal-kan menjadi 30 hari, walau ketentuannya tetap di koridor musyawarah yang disepakati dan yang kemudian di Negara Kesatuan Republik Indonesia dibakukan sebagai keputusan Pemerintah Republik Indonesia bagi Warga Negara  Indonesia secara sah.

Untuk penentuan 1 Syawal 1440H (2019) kali ini, bahwa tanggal 29 Ramadhan 1440H bertepatan dengan tanggal 3 Juni 2019. Jadi, jatuhnya hari hisab dan hari rukyat adalah pada hari Senin Wage tanggal 3 Juni 2019 di mana rukyatnya sendiri akan dilakukan saat Matahari terbenam. Data hisab dapat dilihat pada uraian berikut ini dan diambil basis perhitungannya dengan mengambil acuan Pos Observatorium Bulan (POB) Pelabuhan Ratu – Sukabumi sebagai Markaz Hisab Kementerian Agama RI.

 

Gambar 1

Peta Ketinggian Hilal Menjelang Awal Bulan Syawal 1440H di Dunia

saat Matahari Terbenam.

 

Gambar 2

Posisi terjadinya ijtimak/konjungsi. Proses Gerhana Matahari Total tampak jelas

apabila lintang berharga nol dan bujur berharga sama.

 

Gambar 3

Peta Ketampakan Hilal Awal Syawal 1440H (3 Juni 2019)

di Seluruh Dunia Berbasis Kriteria Odeh

(Ref.: Icoproject)

 

Gambar 4

Peta Ketinggian Hilal Awal Syawal 1440H di Indonesia.

 

Tabel 2

Hasil Hisab Sistem Ephemeris Hisab Rukyat

posisi hilal menjelang awal Syawal 1440 H tanggal 3 Juni 2019

di Pelabuhan Ratu sebagai pusat data rukyat nasional.

 

Tabel 3

Hasil Hisab Sistem Ephemeris Hisab Rukyat

tanggal 3 Juni 2019 di Pelabuhan Ratu sebagai pusat data rukyat nasional,

dan prediksi posisi Matahari - Bulan.

 

 

Gambar 5

Simulasi Hilal Diamati dari POB Pelabuhan Ratu Berbasis Software Starry Night Pro 6

pada hari Senin, 3 Juni 2019.

 

  

Gambar 6

Sebagai Pembanding Simulasi Hilal Diamati dari POB Pelabuhan Ratu Berbasis Software Red Shift 3.

 

Tabel 4

 

Gambar 7

Ilustrasi posisi (Senin, 3 Juni 2019). Hilal terbenam 2 menit mendahului terbenamnya Matahari.

Positif setelah ijtimak (New Moon), namun tidak wujud saat terbenam Matahari.

Prediksi adalah belum New Month.

 

Gambar 8

 

Tabel 5

 

PERBANDINGAN HISAB

Pada Tabel 2 terdapat lebih dari 20 metode hisab dengan hasil akhir yang akan digunakan untuk pedoman melakukan rukyat walau dalam paparan yang sederhana. Di sini akan diberikan sedikit lagi data sekedar pembanding, khususnya untuk hari Senin Wage tanggal 3 Juni 2019 berbasis posisi di Pelataran Atas Puncak Tugu Monas Jakarta dan Kompleks Mercusuar Cikoneng, Anyer, Serang – Provinsi Banten (Planetarium dan Observatorium UP PKJ TIM akan melakukan rukyat hilal baru pada hari Selasa tanggal 4 Juni di Anyer). Pembanding perhitungan apabila dilakukan rukyat sebagai berikut:

 

 

 

Menilik hasil ini, perbedaan data untuk awam “rasanya” tidak signifikan. Perbedaan lokasi antara Kompleks Mercusuar Cikoneng dan Puncak Tugu Monas tampak dari waktu terbenam Matahari, yaitu dengan perbedaan poses kisaran 4 menit saja. 

Selain itu pada ketinggian yang sama antara Mercusuar Cikoneng dan Pelataran Kawasan Tugu Monas, tentu masyarakat di kawasan Pelataran Kawasan Tugu Monas akan terlebih dahulu mengalami terbenamnya Matahari dan melaksanakan Shalat Maghrib dibandingkan masyarakat di Mercusuar Cikoneng. Hal ini sangat dimaklumi karena posisi Jakarta berada lebih ke arah timur dibandingkan dengan posisi Mercusuar Cikoneng. Artinya dan seharusnya tinggi hilal di Mercusuar akan lebih tinggi. Nyatanya dari hisab tampak memang ketinggian hilal berbeda kisaran 1 menit 23 detik di mana di Mercusuar 6 derajat 23,3 menit dan di Tugu Monas Jakarta 7 derajat 46,7 menit. Memang terasa tidak signifikan secara awam.

Juga masalah ketinggian. Ketinggian lokasi pengamatan terkait kedalaman ufuk. Lihat gambar 9 di bawah. Pada waktu dan lokasi yang sama, yang berada di Pelataran Cawan Monas akan lebih dahulu mengalami waktu Shalat Maghrib dibandingkan dengan yang berdiri di Ruang Puncak Tugu Monas. Hal ini karena yang di bawah tentu akan melihat Matahari terbenam terlebih dahulu.

 

Gambar 9

Ilustrasi kedalaman ufuk.

Jadi, apabila ketinggian hilal berharga tertentu dilihat dari satu ketinggian,

maka di lokasi yang sama, pada ketinggian tertentu membuat tinggi hilal pun semakin besar.

Contoh ekstrim di atas sekedar ilustrasi yang memudahkan pemahaman.

 

 

Posisi makin ke barat seharusnya juga akan semakin tinggi hilal-nya seiring sejalan dengan usia Bulan yang bertambah (ibarat, yang bermalam tahun baru terlebih dahulu tentulah saudara kita yang berada di Papua dibandingkan dengan yang tinggal di Sumatera Utara). Tampak di zona Arab Saudi, Matahari terbenam pukul 19:02 Waktu Saudi di mana usia Bulan otomatis juga sudah bertambah tua kisaran 4 jam atau kisaran usia 5 jam 57 menit) yang setara dengan ketinggian hilal yang makin besar dan berbasis hisab memang sudah 59 menit 11 detik.

Jadi terkadang terjadi bahwa di seluruh wilayah Indonesia belum dapat “melihat” hilal, nyatanya mereka yang di Arab Saudi sudah dapat melihatnya. Baik secara hisab maupun rukyat. Dengan lain perkataan, permasalahan akan muncul dan terasa apabila berbasis hisab dihasilkan harga yang “rentan”. Sebut semisal di Indonesia usia Bulan 6 jam, maka di Timur Tengah tentu sudah sekitar 10 jam. Di Indonesia tidak masuk kriteria (esok baru tanggal 30), maka di Timur Tengah sudah masuk kriteria (esok lumrah kalau sudah tanggal 1; dalam penetapan Idul Fitri, maka esok pagi sudah berlebaran). Walhasil dengan dalil apapun, kala itu di Indonesia akan menggenapkan 30 hari; sementara di Arab Saudi keesokan harinya sudah masuk tanggal 1 (artinya Kalender Bulan berjalan di Indonesia digenapkan menjadi 30 hari, sementara di Arab Saudi hanya 29 hari). Hal ini sangat lumrah dan pada satu sisi tidak fenomenal sama sekali.

 

Usaha Mencari Pembuktian Astronomis

Sekali lagi seperti yang telah dipaparkan di atas, bahwa terkait kombinasi posisi Matahari, Bulan, Bumi, dan kita sebagai pengamat, maka walaupun sudah terjadi ijtimak, hilal belum tentu dapat diamati. Hal ini dapat saja diakibatkan hilal yang terlalu dekat dengan Matahari (dapat dianalisis berbasis kombinasi antara selisih azimuth dan jarak busur). Atau seperti pada kasus tanggal 11 Agustus 2018 tahun lalu, yaitu kendati telah melewati tahap ijtimak, ternyata terbenamnya hilal kisaran 16 detik mendahului terbenamnya Matahari. Dari sisi geometris dapat dikatakan bahwa ketinggian hilal (bukan ketinggian Bulan) saat Matahari terbenam (diambil saat upper limb atau tepi piringan Matahari yang paling atas berada di batas horizon/ufuk) memiliki harga negatif (dapat dianalisis dari kemiringan lintasan semu tahunan Matahari dan posisi hilal itu sendiri serta posisi pengamat di muka Bumi). Atau bila diambil titik tengah piringan Matahari, maka tatkala titik ini terbenam, upper limb dari Bulan (Qomar) baru 16 detik kemudian terbenam. Juga sebagian hilal sudah terbenam. Saat upper limb Matahari di batas ufuk, maka hilal sepenuhnya sudah terbenam. Sebut hilal belum wujud (ketinggian positif tatkala Matahari terbenam, walau belum niscaya dapat dirukyat).

Pertimbangan lain bahwa hilal yang dekat Matahari (kisaran 2 kali besar piringannya apabila diambil titik tengah, atau 1 piringan apabila merujuk tepi piringan keduanya) tentu cahaya Matahari terlalu perkasa dibandingkan dengan cahaya hilal (iluminasi hilal sangat kecil). Jadi, hilal seperti ini praktis tidak dapat diamati. Dengan ini, sekali lagi bahwa Planetarium dan Observatorium Jakarta baru akan melakukan rukyat pada hari berikutnya, yaitu pada hari Selasa, tanggal 4 Juni 2019.

Kasus di atas sekaligus dapat menjelaskan perbedaan perbandingan hisab untuk tanggal 3 Juni, bahwa pada baris Lama Bulan di Atas Ufuk Sejak Sunset Hingga Terbenam, semua berharga positif.

Kasus ini tentu berbeda dengan penentuan Ramadan 1439H tahun 2018 yang lalu, di mana kala itu pada tanggal 15 Mei 2018 (29 Syaban 1439H) merupakan hari hisab dan hari rukyat dan hari ijtimak. Namun, saat itu terjadinya ijtimak berlangsung setelah Matahari terbenam (terbenam pukul 17:44:55,15 WIB). Ijtimak baru terjadi pada pukul 18:50:28,12 WIB. Jadi, andaipun ada yang melihat Bulan, maka yang disaksikan adalah sabit tua atau usianya minus 1 jam 5 menit 33 detik. Jadi, dari analisis perhitungan astronomis bahwa Anak Bulan tidak dapat diobservasi. Selain itu, Bulan pun terbenam pukul 17:45:14,93 WIB (ketika terbenam pun belum ijtimak).

Dari kasus di atas, oleh karenanya, andai akan dilaksanakan pembuktian astronomis berbasis hisab dan rukyat untuk memperoleh data empiris yang lengkap, pelaksanaan rukyat hanya dapat dilakukan keesokan harinya, yaitu pada hari Selasa tanggal 4 Juni 2019 seperti yang akan dilaksanakan oleh tim observasi Planetarium dan Observatorium Jakarta yang mengambil lokasi di Kompleks Mercusuar Cikoneng.

 

Observasi Astronomis pada Hari Selasa, 4 Juni 2019

Berikutnya, akan dipaparkan data untuk kondisi hisab dan rukyat tanggal 4 Juni 2019 di mana rukyat ini lebih fokus pada pembuktian dalam ranah astronomis berbasis perhitungan yang telah dilakukan. Berdasarkan sifat edar Bulan, bahwa setiap harinya Bulan bergeser di lautan bintang ke arah timur kisaran 12 – 13 derajat dan bergeser di kawasan Zodiak. Dengan demikian, seharusnya dapat diperkirakan bahwa keesokan hari, tatkala Matahari terbenam, niscaya Bulan berada di atas ufuk dengan ketinggian kisaran 13 derajat pula. Tentu saja ini berlaku hanya di kawasan seperti Indonesia (sebut di wilayah ekuator di mana lingkaran ekliptika tidak terlalu miring atau rebah terhadap ufuk pengamat).

 

Gambar 10

Peta Ketinggian Bulan Sabit Awal Bulan Syawal 1440H pada peta Dunia; Selasa, 4 Juni 2019.

 

Gambar 11

Peta Ketampakan Hilal Awal Syawal 1440H (Selasa, 4 Juni 2019)

di Seluruh Dunia Berbasis Kriteria Odeh

(Ref.: Icoproject)

 

 

Gambar 12

 

 Tabel 8

Hasil hisab sistem Ephemeris Hisab Rukyat posisi hilal

awal Syawal 1440H tanggal 4 Juni 2019 di Kompleks Mercusuar Cikoneng.

 

 

 

Dari hasil hisab bahwa ketinggian hilal kisaran 11 derajat 21 menit (diambil lowerlimb). Adapun pembanding perhitungan untuk lokasi di Kompleks Mercusuar Cikoneng, Anyer, Serang – Provinsi Banten, dapat dilihat pada tabel 9 di bawah berikut ini:

 

 

 

Gambar 13

Pada saat  Matahari terbenam tinggi Bulan Sabit (center) = 11,610.

 Jarak busur  Bulan – Matahari = 11,940. Beda Azimuth Bulan – Matahari = 1,200.

 Umur Sabit Bulan = 1 hari 00 jam 43 menit 35 detik.

Bulan terbenam  54 menit 36 detik setelah  Matahari  terbenam tanggal 4 Juni 2019.

 

Gambar 14

Simulasi Hilal Berbasis Software Starry Night Pro 6

Selasa, 4 Juni 2019.

 

 Gambar 15

Ilustrasi posisi dan bentuk Bulan Sabit Awal Syawal 1440H.

 

Gambar 16

Pedoman Rukyat Bulan Sabit Awal, Selasa tanggal 4 Juni 2019 di Kompleks Mercusuar Cikoneng.

 

 
Observasi Astronomis pada Hari Rabu, 5 Juni 2019

Berikutnya, akan dipaparkan data untuk kondisi hisab dan rukyat tanggal 5 Juni 2019.

 

 

SERBA SERBI LANDAS ACU PENETAPAN

Penetapan oleh Pemerintah melalui Sidang Itsbat melalui Badan Hisab dan Rukyat di mana terdapat para ahli, ulama, dan pakar astronomi, yang bersifat musyawarah di mana hasil dalam sidang merupakan kesepakatan antar ormas Islam. Jadi, Pemerintah hanya memfasilitasi, mengumpulkan para tokoh dan ulama untuk membahas kapan awal bulan itu ditetapkan berbasis hisab dan rukyat. Terakhir, barulah Menteri Agama memutuskan dan memberi pengumuman secara resmi.

 

   

Gambar 17

Berbasis lokasi rukyat tatkala penentuan Ramadhan 1440H, maka di seluruh Indonesia,

yang tercatat resmi sebagai tempat observasi,

baik permanen maupun bersifat mobile tampak pada gambar, di mana terdapat 102 titik lokasi rukyatul hilal atau POB.

Planetarium dan Observatorium UP PKJ TIM di lokasi Banten.

 

 

PELAPORAN  HILAL DI  WILAYAH INDONESIA.

Sehubungan dengan rutinitas kegiatan rukyat, maka “pengalaman” masa lalu akan adanya kesaksian tentang hilal dan posisinya di kubah langit tentu dapat dijadikan pedoman tatkala membuat keputusan. Terlebih ini menyangkut masyarakat di satu negara kesatuan yang meliputi ribuan pulau, Indonesia, demi persatuan dan kesatuan. Rukyat pun tentu tidak dilakukan sembarang tanpa patokan. Perhitungan/hisab dilakukan berbasis Pelabuhan Ratu dan didukung hisab di semua titik rukyat. 

 

Pertimbangan 1.

Di Indonesia terdapat kriteria imkanurukyat sebesar 2 derajat berdasarkan kesaksian yang pernah terjadi untuk 1 Syawal 1404H (29 Juni 1984).

Pertimbangan 2.

Kriteria MABIMS (tinggi hilal minimal 2 derajat, jarak busur 3 derajat, atau umur hilal minimum 8 jam).

Pertimbangan 3.

Landas acu empiris Limit Danjon (statistik dan batas kemampuan mata manusia secara wajar), sekitar 6,4 derajat.

Pertimbangan 4.

Konferensi Penyatuan Awal Bulan Hijriah International di Istambul pada tahun 1978.

Pertimbangan 5.

Rekor pengamatan Bulan Sabit Awal dalam catatan Astronomi modern saat ini adalah tatkala observasi hilal Ramadhan 1427H (usia Bulan kisaran 13 jam 15 menit yang dipotret dengan teleskop dengan kombinasi kamera CCD di Jerman).

Pertimbangan 6.

Jarak hilal terdekat yang pernah terlihat adalah sekitar 8 derajat, dengan usia 13 jam 28 menit oleh Robert Victor di Amerika Serikat tanggal 5 Mei 1989 dengan menggunakan alat bantu binokuler (kekeran)(Ref.: Di  Cicco, 1989, Sky & Telescope, 78; p.322).

 

 

SELANGKAH MENUJU LEBARAN 2019

Bagaimana dengan hilal awal Syawal 1440H?

Apabila murni hanya pada metode hisab dengan segala pertimbangan yang ada di atas, maka akan tampak untuk di Indonesia (dapat diambil salah satu posisi sentral perhitungan di POB Pelabuhan Ratu, Senin, 3 Juni 2019 atau 29 Ramadhan 1440H) hasilnya adalah sebagai berikut:

 

          i. Semua pertimbangan tidak masuk;

         ii. Kecuali, yang menyatakan bahwa New Moon niscaya New Month (dan Indonesia tidak menganut konsep ini),

 

maka hilal Syawal 1440H, pada hari hisab, hari rukyat, hari ijtimak, – yaitu pada hari Senin Wage tanggal 29 Ramadhan 1440H atau 3 Juni 2019 saat Matahari terbenam (Maghrib) – akan mustahil diamati dari seluruh wilayah Indonesia. Artinya, diprediksi bahwa “Kita berlebaran” pada hari Rabu, 5 Juni 2019. 

 

Namun, 

Terdapat Keputusan Fatwa Majelis Ulama Indonesia Nomor 2 Tahun 2004 Tentang Penetapan awal Ramadhan, Syawal, dan Dzulhijjah yang ditandatangani oleh K. H. Ma’ruf Amin (Ketua MUI Komisi Fatwa) dan Hasanudin (Sekretaris MUI Komisi Fatwa) tanggal 24 Januari 2004 M di mana:

 

Fatwa pertama:

1. Penetapan awal Ramadhan, Syawal, dan Dzulhijjah dilakukan berdasarkan metode rukyat dan hisab oleh Pemerintah RI cq Menteri Agama dan berlaku secara nasional;

2. Seluruh umat Islam di Indonesia wajib menaati ketetapan Pemerintah RI tentang penetapan awal Ramadhan, Syawal, dan Dzulhijjah;

3. Dalam menetapkan awal Ramadhan, Syawal, dan Dzulhijjah, Menteri Agama wajib berkonsultasi dengan Majelis Ulama Indonesia, ormas-ormas Islam, dan Instansi terkait; dan

4. Hasil rukyat dari daerah yang memungkinkan hilal dirukyat walaupun di luar wilayah Indonesia yang mathla’nya sama dengan Indonesia dapat dijadikan pedoman oleh Menteri Agama RI.

 

Rekomendasi 

Agar Majelis Ulama Indonesia mengusahakan adanya kriteria penentuan awal Ramadhan, Syawal, Dzulhijjah untuk dijadikan Pedoman oleh Menteri Agama dengan membahasnya bersama ormas-ormas Islam dan para ahli terkait.

 

Juga,

Berdasarkan UU RI Nomor 3 Tahun 2006 Tentang Perubahan atas UU Nomor 7 Tahun 1989 tentang Peradilan Agama pada Pasal 52A, yaitu Pengadilan Agama memberikan itsbat kesaksian rukyat hilal dalam penentuan awal bulan pada tahun Hijriah; di mana pada Lembaran Negara RI Tahun 2006 Nomor 22 terdapat penjelasan pasal tersebut bahwa “Selama ini pengadilan agama diminta oleh Menteri Agama untuk memberikan penetapan (itsbat) terhadap kesaksian orang yang telah melihat atau menyaksikan hilal bulan pada setiap memasuki bulan Ramadhan dan awal bulan Syawal tahun Hijriah dalam rangka Menteri Agama mengeluarkan penetapan secara nasional untuk penetapan 1 (satu) Ramadhan dan 1 (satu) Syawal. Pengadilan Agama dapat memberikan keterangan atau nasehat mengenai perbedaan penentuan arah kiblat dan penentuan waktu shalat.”

 

Walhasil,

bahwa pada ranah ibadah umat Muslim di Indonesia berdasarkan fatwa yang didukung oleh UU RI di atas sudah sangat terang benderang bahwa penentuan awal bulan Hijriah khususnya Ramadhan, Syawal, dan Dzulhijjah ditentukan berdasar metode Rukyat dan Hisab, bukan metode Rukyat atau Hisab. Secara hisab sudah jelas tertera dalam Taqwim Standar Indonesia dan terasa tidak ada keraguan hasilnya.

Atau dengan kata lain bahwa oleh karena Fatwa dan UU RI di atas masih digunakan sebagai panduan penentuan awal bulan Hijriah di Indonesia, maka rukyat harus/wajib dilaksanakan sebagai konfirmasi dari hisab. Konsekuensi penggunaan fatwa ini adalah tanpa menyebutkan posisi hilalnya, apakah berada di atas atau di bawah ufuk. Dalam kasus ini, lebih jelasnya bahwa apakah posisi hilal berdasar hisab pada hari penentuan berharga negatif (artinya: hilal di bawah ufuk) atau berharga positif (hilal di atas ufuk), kegiatan rukyat tetap harus/wajib dilaksanakan sebagai konfirmasi dari hasil hisab.

 

Jadi,

kalau hanya hisab murni di mana New Moon niscaya New Month, dapat dikatakan bahwa 1 Syawal 1440H jatuh pada hari Selasa, 4 Juni 2019. Indonesia tidak mengikuti paham ini. Harus wujud dulu di mana saat Matahari terbenam, hilal di atas ufuk. Dari sini, maka 1 Syawal 1440H jatuh pada hari Rabu, 5 Juni 2019.

 

Yang harus menjadi perhatian,

Penentuan kapan mengakhiri ibadah Ramadhan tahun ini untuk menyongsong tanggal 1 Syawal 1440H sedemikian esok harinya “kita berlebaran”, dan sebagai Warga Negara Indonesia yang baik, tetap wajib merujuk kepada keputusan Pemerintah RI melalui Sidang Itsbat-nya pada tanggal 29 Ramadhan 1440H atau 3 Juni 2019 (selepas Matahari terbenam/Maghrib), termasuk men-taat-i fatwa yang ada. 

 

 

PERENUNGAN AKHIR (RAMADHAN)

Seperti yang diungkapkan pada topik sejenis bahwa perbedaan seperti yang terjadi selama ini sebenarnya sama sekali tidak menjadi masalah sepanjang masyarakat mengetahui alasan penetapannya secara ilmiah. Namun, dan yang jelas dalam hal ini, Pemerintah RI melalui Kementerian Agama sudah memiliki standard penentuan yang lengkap, baik yang berbasis hisab tradisional hingga metode perhitungan modern, maupun metode rukyat pun dari yang konvensional yang berlaku sejak bergenerasi yang lalu hingga pengamatan berteknologi canggih; juga disertai data yang dihimpun dari beragam atau banyak sumber dan narasumber; termasuk yang tidak kalah pentingnya demi kesatuan umat di wilayah RI, yaitu menghimpun semua hasil di atas dengan satu langkah upaya nan apik sebagai ajang kesepakatan secara nasional melalui Sidang Itsbat-nya di mana dengan suatu pagar tertentu, ormas apapun dapat hadir untuk urun-rembug dalam musyawarahnya. Sekali lagi, bahwa keputusan akhir tentu dapat tampak dari kesepakatan para ulama yang mumpuni dan memiliki kompetensi dalam hal seperti ini untuk menjadi pedoman tauladan umatnya, sesuai ke-taat-azas-an yang secara ikhlas “mau” dipagari secara arif bijaksana oleh Pemerintah RI yang tentu penuh pengayoman dan permakluman demi persatuan dan kesatuan umat di Tanah Air. Silaturahmi dan kekerabatan sebagai kata kunci. Selamat Idul Fitri 1440H. Mohon Maaf Lahir dan Batin. Salam Astronomi. 

 

 

DAFTAR PUSTAKA

Abell, G.O., 1975, Exploration of the Universe, Holt, Rinehart and Winston, New York

Departemen Agama RI, 1996, Winhisab Version 2.0, Badan Hisab Rukyat Departemen Agama RI

Departemen Agama RI, 2008, Panduan Hisab Rukyat, Direktorat Jenderal Bimbingan Masyarakat Islam

Kementerian Agama RI., 2019, Taqwim Standar Indonesia 2019 Masehi / 1440-1440 Hijriyah, Direktorat Jenderal Bimas Islam Kementerian Agama RI

Kementerian Agama RI., 2019, Ephemeris Hisab Rukyat 2019, Direktorat Urusan Agama Islam dan Pembinaan Syariah, Direktorat Jenderal Bimas Islam Kementerian Agama RI

Khafid, 1996, Mawaaqit 2001

Mahkamah Agung RI., 2019, Data Ephemeris Matahari dan Bulan tahun 2019, Direktorat Jenderal Badan Peradilan Agama.

MUI  2004, Keputusan Fatwa MUI Nomor 2 Tahun 2004 tentang Penetapan Awal Ramadhan, Syawal, dan Dzulhijjah, Komisi Fatwa MUI

Smart, W.M., 1961, Spherical Astronomy, Cambridge Univ. Press, London

---------------., 1989, Sofware Astronomi Astro Info, Tumasoftware, Zephyr Services 1900 Murray Ave. Pittsburgh, PA. 15217

---------------., Red Shift 3 Multi Media Astronomy, Maris Multimedia Production

---------------., 2004, Software Astronomi Starry Night Pro Plus 6.0, Imaginova Canada Lmt

 

 

Situs Planetarium: planetarium.jakarta.go.id

 

Category: