Written by Super User

User Rating: 1 / 5

Star ActiveStar InactiveStar InactiveStar InactiveStar Inactive
 

 

Kegiatan Penelitian dan Pengamatan Bulan

dalam Penentuan Awal Bulan Dzulhijjah 1440H (2019 M)

 

Tim Observasi Planetarium dan Observatorium

Unit Pengelola Pusat Kesenian Jakarta Taman Ismail Marzuki

Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Provinsi DKI Jakarta

 

Kompilasi : Widya Sawitar

 

 

         Sebagai lembaga satu-satunya di Jakarta yang secara konsisten berupaya mempopulerkan Astronomi serta menjembatani antara dunia sains Astronomi dengan masyarakat umum, Planetarium dan Observatorium Jakarta, khususnya dengan adanya observatorium sebagai sarana laboratorium dalam aspek Observational Science, telah memberi kontribusi nyata dalam kegiatan Hisab Rukyat sejak tahun 1974 dan berkesinambungan hingga kini. Juga kolaborasi yang dibangun bersama dengan ragam instansi seperti Kementerian Agama, Observatorium Bosscha ITB, LAPAN, BMKG, dll. Dalam kasus ini termasuk dalam masalah penentuan kalender berbasis Bulan.

 

         Seperti yang telah diketahui oleh sebagian masyarakat bahwa waktu pelaksanaan ibadah keagamaan, khususnya bagi umat Muslim utamanya berlandas acu pada dinamika orbit Bumi terhadap Matahari, dan Bulan terhadap Bumi (sebut sebagai kombinasi ketiganya secara simultan). Banyak hal terkait dengan hasil observasi terhadap dinamika ketiga objek langit tersebut yang dapat dipelajari termasuk ragam fenomena yang ada. Terlebih alat bantu lihat secara visual atau optik semakin berdaya guna dan ini membantu dalam kerja masyarakat yang berkecimpung atau bekerja di observatorium atau observasi secara umum, baik para astronom professional maupun astronom amatir (berbasis hobby). Secara sederhana sebut semisal penentuan jadwal waktu sholat yang dapat dilihat pada posisi Matahari dikombinasi dengan satu perbandingan antara teori matematis dengan satu cara sederhana, yaitu dengan mengukur rentang panjang bayang-bayang. Hal ini juga berlaku saat mengobservasi fase wajah Bulan (usia Bulan), maka muncullah beragam teori yang kini semakin mengerucut dalam cara menentukan awal bulan dalam kalender Hijriah seperti penentuan awal bulan Syaban (yang didalamnya ada malam Nisfu Syaban, tanggal 15), awal ibadah puasa (1 Ramadhan), Idul Fitri (1 Syawal), awal bulan Dzulhijjah (untuk pedoman Idul Adha, tanggal 10), hingga penentuan saat Tahun Baru Hijriah.

         Contoh lain yang sejak bermilenia lalu menyemarakkan muatan budaya dalam perkembangan peradaban manusia, yaitu terjadinya fenomena Gerhana Matahari dan Gerhana Bulan yang kemudian muncul teori perhitungannya sedemikian kapan terjadinya fenomena ini mulai dapat diperkirakan. Atau pada sisi lain, muncullah anjuran untuk melaksanakan sholat gerhana atau semisal penentuan arah kiblat, dll. Dalam kasus seperti contoh di atas, maka dalam bahasan ini akan ditinjau khususnya dalam kegiatan Penelitian dan Pengamatan Bulan dalam Penentuan Awal Kalender Bulan (baca: Kalender Hijriah), atau lebih spesifik adalah perhitungan (hisab) dan rencana pengamatan (rukyat) posisi Bulan Sabit Awal (hilal atau Anak Bulan) untuk menentukan awal bulan Dzulhijjah 1440H berbasis Astronomi yang terkait dengan Idul Adha 1440H.

 

Hisab dan Rukyat

Hisab adalah bagian teori hitungan / perhitungan / perkiraan berbasis kaidah Matematika dan Fisika; sementara rukyat adalah perihal melihat / penglihatan / pengamatan yang dalam Astronomi disebut observasi, baik kasat mata atau memakai bantuan ragam peranti observasi khususnya yang berbasis panjang gelombang visual.

         Pada sisi lainnya bahwa dalam ranah ibadah umat Muslim di Indonesia juga terdapat fatwa, yaitu Fatwa MUI No. 2 tahun 2004, di mana awal bulan Dzulhijjah seperti halnya Ramadhan dan Syawal ditentukan berdasar metode Rukyat dan Hisab (bukan: Rukyat atau Hisab). Secara hisab sudah jelas tertera dalam Taqwim Standar Indonesia. Selain itu, sebenarnya dalam bidang Astronomi permasalahan posisi Bulan dan Matahari, bahkan objek langit seperti planet, komet, dan banyak lagi juga telah dilakukan perhitungannya; termasuk kapan terjadinya gerhana hingga perhitungan untuk berpuluh tahun ke depan dengan presisi yang tinggi dapat dibuktikan dengan kegiatan observasi sedemikian sebuah teori dapat dikatakan sahih. 

         Hari penentu kapan jatuhnya awal bulan dalam kalender Hijriah dilakukan pada tanggal 29 bulan Hijriah (biasa disebut hari hisab dan hari rukyat) dan yang sangat baik juga bertepatan dengan hari ijtimak (konjungsi). Pemilihan tanggal ini terkait periode sinodis Bulan. Dari sini akan ditentukan, apakah ada kemungkinan untuk meng-istikmal-kan (menggenapkan) bulan Hijriah menjadi 30 hari atau tidak.

         Selain itu, keputusan di Indonesia juga berdasarkan pada apakah posisi hilal (anak Bulan) pada hari hisab sudah memenuhi kriteria Hisab Kriteria MABIMS atau belum (ketinggian Bulan minimal 2 derajat untuk seluruh wilayah negara anggota, jarak sudut Matahari dan Bulan minimal 3 derajat, dan umur Bulan minimal 8 jam setelah saat ijtimak). Apabila belum, maka seluruh anggota MABIMS, yakni Brunei Darussalam, Indonesia, Malaysia, dan Singapura akan menggenapkan bulan Hijriah menjadi 30 hari.

         Hisab Kriteria MABIMS ini disepakati oleh seluruh anggota MABIMS sejak Muzakarah Rukyat dan Takwim Islam Negara Anggota MABIMS di Jakarta pada tanggal 21–23 Mei 2014. Juga biasanya dalam penentuan tersebut dilaksanakan terlebih dahulu Temu Kerja Hisab Rukyat. Inipun dimaklumi karena metode perhitungan ada beragam macamnya, sedemikian secara keilmuan akan saling isi. Pada paparan inipun disajikan beberapa hasil metode perhitungan.

         Pertanyaannya adalah apabila hasil perhitungannya (hisab) ternyata menjumpai kondisi hilal berada di bawah ufuk (negatif) tatkala Matahari terbenam untuk seluruh wilayah Indonesia, apakah hilal masih perlu dirukyat atau diobservasi? Dari hisab memang jelas bahwa hilal tidak mungkin dilihat. Ada beberapa pemikiran dan pertimbangan dalam menjawab pertanyaan ini, antara lain: 

 

a. Menurut Keputusan Fatwa Majelis Ulama Indonesia No. 2 tahun 2004, pada Fatwa Pertama dan poin pertama berbunyi: Penetapan awal Ramadan, Syawal, dan Dzulhijjah dilakukan berdasarkan metoda ruk'yah dan hisab oleh Pemerintah RI cq Menteri Agama dan berlaku secara nasional. Oleh karena fatwanya masih digunakan sebagai panduan penentuan awal bulan Hijriah di Indonesia, maka rukyat harus/wajib dilaksanakan sebagai konfirmasi dari hisab. Tanpa menyebutkan posisi hilalnya, di atas atau di bawah ufuk. Dalam kasus ini, lebih jelasnya bahwa apakah posisi hilal berdasar hisab berharga negatif (artinya: hilal di bawah ufuk) atau berharga positif (di atas ufuk), kegiatan rukyat tetap harus/wajib dilaksanakan untuk konfirmasi hasil hisab;

 

b. Pemerintah harus mengayomi seluruh pengamal metode penentuan awal bulan Hijriah di Indonesia. Diakui atau tidak, pada kenyataannya di kalangan masyarakat terdapat ragam metode penentuan awal bulan, antara lain:

 

1. Metode hisab murni tanpa memerlukan konfirmasi hasil rukyat;

2. Metode rukyat yang dipandu oleh sistem hisab yang akurat; dan

3. Metode rukyat murni, yang tidak ada kaitannya atau tidak mau tahu dengan metode hisab. Tidak ada panduan hisab untuk rukyat. Pada metode ini akan dilakukan rukyat tanpa terpengaruh apakah hilal di bawah dan di atas ufuk menurut hasil hisab;

 

c. Sekalipun menurut hisab kontemporer atau modern, hilal berada di bawah ufuk, sering kali menurut beberapa sistem hisab takhribi sudah positif atau berada di atas ufuk jika ijtimak sudah berlangsung sebelum Matahari terbenam pada tanggal 29 Hijriah. Beberapa kota di Indonesia kadang mengalami ijtimak qoblal ghurub atau ijtimak berlangsung sebelum Matahari terbenam; dan

 

d. Indonesia saat ini tidak menganut penggunaan rukyat global. Sekalipun di seluruh wilayah Indonesia pada saat Matahari terbenam ketinggian hilal berada di bawah ufuk (memiliki ketinggian hilal negatif), namun ada wilayah-wilayah tertentu di dunia yang memungkinkan hilal dapat dirukyat. Secara sederhana, andai di Indonesia tidak terlihat dan di Afrika terlihat, maka kita tidak dapat memakai kesaksian hilal masyarakat di Afrika sebagai penetapannya yang diuraikan berikut ini.

 

Mengacu kepada keputusan fatwa di atas pada poin keempat:

 

         Hasil rukyat dari daerah yang memungkinkan hilal dirukyat walaupun di luar wilayah Indonesia yang matla'nya sama dengan Indonesia dapat dijadikan pedoman oleh Menteri Agama RI.

 

Yang dimaksud Matla' yang sama dengan Indonesia adalah wilayah MABIMS (Brunei Darussalam, Indonesia, Malaysia dan Singapura). Mungkin di Indonesia tidak terlihat. Namun, misal Timur Tengah, Eropa, dan Afrika hilal dapat dirukyat. Andaipun ada pelaporan dari negara-negara itu, maka hasil rukyat tidak dapat dipakai untuk penentu awal bulan Hijriyah di Indonesia (matla’ yang sangat berbeda dan berjauhan).

         Dalam penelitian dan pengamatan ini, untuk kurun tahun 2019 (1440 H), Planetarium dan Observatorium UP PKJ TIM mengadakan kegiatan Penelitian dan Pengamatan Bulan dalam penentuan awal bulan Syaban, Ramadhan, Syawal, dan Dzulhijjah di Anyer, Serang, Provinsi Banten. Serba sedikit mengapa mengambil penentuan bulan Dzulhijjah, termasuk pengambilan lokasi di pantai Anyer dengan pertimbangan teknis dan astronomis antara lain:

 

1. Planetarium dan Observatorium UP PKJ TIM memiliki fasilitas untuk observasi benda langit yang bersifat mobile (portable telescope);

 

2. Kondisi geografis titik lokasi yang dipilih memenuhi syarat observasi:

- bentang ufuk barat terbuka luas sehingga tidak ada penghalang hingga batas ufuk;

- tingkat polusi udara dan polusi cahaya masih sangat minim;

- horizon pengamat terkait kedalaman ufuk memadai karena lokasinya memiliki ketinggian beberapa meter dari permukaan laut;

- instrumen pengamatan relatif aman karena tingkat kelembaban relatif rendah;

 

3. Akses menuju wilayah lokasi pengamatan relatif mudah dijangkau, termasuk fasilitas yang ada;

 

4. Hasil perhitungan ini juga akan digunakan sebagai rujukan pada Sidang Itsbat di Kementerian Agama RI dan sekaligus untuk pedoman kegiatan observasi (rukyat) di Kompleks Mercusuar Cikoneng. Kegiatan observasi ini lebih merupakan ranah pencarian bukti astronomis; dan

 

5. Kegiatan ini meliputi ranah sains dan keagamaan. Dilakukan banyak pihak; lokal, nasional, dan internasional. Jadi, Planetarium dan Observatorium Jakarta dapat menjadi wakil di lokasi bersangkutan (di antara sekitar 100 titik pengamatan secara nasional); sekaligus dapat menjalin kerjasama sosialisasinya termasuk dengan pemerintah daerah setempat, atau dengan instansi terkait yang juga mengadakan kegiatan serupa, serta dengan komunitas terkait yang senyatanya kerap mempertanyakan masalah penentuan hari besar umat Muslim ini.

 

         Berikut ini, dapat dilihat perhitungan (hisab) yang dilakukan bersama Cecep Nurwendaya, yang merupakan salah satu anggota tim Planetarium dan Observatorium Jakarta sekaligus tenaga ahli dari Kementerian Agama RI, juga perbandingan dengan beberapa perhitungan lainnya.

 

 

 

OBSERVASI KAMIS, 1 AGUSTUS 2019

DI KOMPLEKS MERCUSUAR CIKONENG, ANYER, SERANG,

PROVINSI BANTEN.

 

Hari Hisab/Rukyat/Ijtimak

Secara nasional, hari Kamis tanggal 1 Agustus 2019 dianggap sebagai hari rukyat seperti kesepakatan musyawarah MABIMS. Dengan pertimbangan aspek astronomis, maka Tim Planetarium Jakarta akan melaksanakan observasi pada hari tersebut yang jatuh pada tanggal 29 Dzulqa’dah, di mana posisi Bulan sudah melewati tahap ijtimak (konjungsi; dalam kasus khusus menimbulkan fenomena Gerhana Matahari semisal yang akan terjadi di Indonesia nanti, yaitu Gerhana Matahari Cincin tanggal 26 Desember 2019. Di Jakarta hanya Gerhana Matahari Sebagian).

 

Gambar 1

Posisi terjadinya ijtimak/konjungsi. Proses Gerhana Matahari Total tampak jelas

apabila nilai lintang dari Bulan berharga nol dan nilai bujur berharga sama.

 

 

         Kali ini terjadinya ijtimak berlangsung sebelum Matahari terbenam, yaitu pada hari Kamis Pon tanggal 1 Agustus 2019 atau 29 Dzulqa’dah 1440H pada pukul 10:14:35 WIB (Ephemeris). Perhitungan astronomis menunjukkan bahwa Matahari terbenam apabila dilihat dari kompleks mercusuar adalah pada pukul 17:58:26,85 WIB. Artinya kondisi fase Bulan yang rencananya akan diobservasi saat Matahari terbenam, sebut sebagai hilal atau Bulan Sabit Awal, usianya 7 jam 43 menit 52 detik. Jadi, dari analisis perhitungan astronomis bahwa Anak Bulan “kemungkinan besar” dapat diobservasi (analisis MABIMS, minimal usia 8 jam). Selain itu, hilal akan terbenam pukul 18:15:46,63 WIB. Jadi, ada kesempatan sekitar 17 menit 19,77 detik untuk observasi hilal sebelum akhirnya terbenam dihitung sejak terbenamnya Matahari.

         Bagi kalangan tertentu yang berbasis hanya pada hisab, maka New Moon ini sekaligus menjadi New Month dalam arti secara otomatis esoknya menjadi tanggal 1 pada kalender yang berbasis Bulan pada bulan berikutnya. Namun, di Indonesia, tidak hanya berbasis hisab, melainkan hisab dan rukyat (bukan hisab atau rukyat). Jadi, yang menjadi permasalahannya bahwa New Moon belum niscaya menjadi New Month, karena dalam satu sisi lainnya bahwa fase ini belum tentu dapat dilihat (dirukyat) di mana dalam penentuan tanggal 1 pada kalender Hijriah ada ketentuan khusus. Ketentuan ini terkait dengan kondisi apakah anak bulan (sabit awal atau hilal) dapat diamati atau tidak tatkala Pemerintah RI mengambil keputusan melalui Sidang Itsbat untuk penentuan awal bulannya.

         Pada kasus lainnya, kendati berbasis hisab sudah New Moon, namun memperhitungan hadirnya hilal (sudah wujud atau tidak; wujud apabila hilal di atas ufuk tatkala Matahari terbenam), maka New Moon juga tidaklah otomatis menjadi New Month (bila tidak wujud, maka untuk bulan Dzulqa’dah 1440H digenapkan 30 hari).

         Pada kasus lain lagi, dapat saja terjadi bahwa tahap ijtimak memang sudah terjadi (New Moon). Namun, ketika Matahari terbenam ternyata posisi hilal terlalu dekat dengan Matahari (sudah wujud tetapi tidak dapat terlihat mata, sederhananya bahwa cahaya hilal kalah perkasa dibandingkan dengan pendaran Matahari). Atau lainnya, bahwa terbenamnya hilal mendahului terbenamnya Matahari (sederhananya bahwa saat Matahari terbenam, hilal sudah terlebih dahulu terbenam. Tidak wujud saat Matahari terbenam, saat ghurub). Hal ini terkait kombinasi antara posisi Bulan, Bumi, dan Matahari. Juga lebih spesifik lagi tergantung posisi sang pengamat di landas Bumi. Sederhananya semisal kita di Jakarta dan di Medan, tentu akan melihat perbedaannya. Apalagi posisi yang berjauhan seperti pengamat di Indonesia dengan di Afrika. Sekaligus dapat menjelaskan mengapa apabila terjadi gerhana, maka tidak semua wilayah dapat menyaksikannya. Sebagai contoh pada fenomena Gerhana Matahari Total pada tanggal 9 Maret 2016 di mana kota Palu mengalami totalitas, siang menjadi laksana malam dengan langit berbintang; sementara di Jakarta tetap saja Matahari tampak di langit dengan suasana siang seperti biasanya walau sedikit lebih redup karena hanya mengalami gerhana sebagian saja.

 

Gambar 2

Peta Ketinggian Hilal Menjelang Awal Bulan Dzulhijjah 1440H

di Dunia saat Matahari Terbenam Tanggal 1 Agustus 2019.

 

Gambar 3

Peta Ketampakan Hilal Awal Dzulhijjah 1440H (1 Agustus 2019) di Seluruh Dunia Berbasis Kriteria Odeh.

 

 

         Dalam kasus pengamatan hilal di sini pun sama, belum tentu satu tempat dapat melihatnya walau dapat saja tempat lain dapat mengamatinya (dalam kasus hilal, semakin ke barat, kemungkinan melihat hilal makin besar. Misal di Indonesia belum terlihat (maka kita menggenapkan 30 hari, lusa baru tanggal 1), maka kawasan Timur Tengah atau lebih ke arah barat kemungkinan besar atau bahkan sudah dapat melihatnya (mereka 29 hari dan esoknya tanggal 1). Sesuatu yang sangat wajar karena makin ke barat seiring dengan bertambahnya usia Bulan, juga fase, iluminasi, dan tinggi dari garis ufuk yang niscaya semakin besar dan semakin relatif mudah diamati.

         Kembali pada data hisab, maka akan ditelusuri posisi hilal tersebut sebagai acuan tatkala hendak melakukan rukyat terkait penentuan awal bulan Dzulhijjah 1440H. Dalam kasus ini memang tidak terjadi perbedaan kondisi hilal di Indonesia, semua berharga positif. Apakah hilal dapat dirukyat atau dilihat adalah pertimbangan pada aspek yang lain lagi.

 

Gambar 4

 

Tabel 1

Hasil Hisab Sistem Ephemeris Hisab Rukyat

di Pelabuhan Ratu sebagai pusat data rukyat nasional.

 

Tabel 2

Data Ephemeris berbasis titik Pelabuhan Ratu

 

Gambar 5

 

Referensi Pelaporan Hilal

Apabila menilik harga ketinggian hilal dan pra-syarat lain, memang ada kemungkinan hilal dapat dirukyat pada hari Kamis tanggal 1 Agustus 2019. Sebagai pertimbangan bahwa memang ada referensi pelaporan hilal tatkala terjadi kondisi hilal seperti pada penentuan awal bulan Dzulhijjah 1440H ini (khususnya di seluruh wilayah Indonesia). Dapat dilihat kondisi hilal pada titik lokasi rukyat utama di Pos Observasi Bulan (POB) Pelabuhan Ratu, Sukabumi pada hari Kamis, 1 Agustus 2019, yaitu:

 

1. Tinggi / Irtifa’ hilal Upper Limb =  3,44 derajat;

2. Tinggi / Irtifa’ hilal Center =  3,16 derajat;

3. Jarak busur Bulan dari Matahari =  3,81 derajat;

4. Umur  hilal =  7 Jam 40 menit 49 detik; dan

5. Fraksi illuminasi hilal   =  0,19 %

 

Di Indonesia dikenal adanya kriteria imkanurukyat sebesar 2 derajat berdasarkan kesaksian yang terjadi pada rukyat hilal penentuan 1 Syawal 1404H (atau pada tanggal 29 Juni 1984) di mana ijtimak terjadi pada pukul 10:18 WIB oleh:

 

1. Muhammad Arief, 33 tahun. Panitera Pengadilan Agama Pare-pare;

2. Muhadir, 30 tahun. Bendahara Pengadilan Pare-pare;

3. H. Abdul Hamid, 56 tahun. Guru Agama Jakarta;

4. H. Abdullah, 61 tahun. Guru Agama Jakarta;

5. K. Ma’mur, 55 tahun. Guru Agama Sukabumi; dan

6. Endang Effendi, 45 tahun. Hakim Agama Sukabumi.

 

Selain itu, ada pertimbangan lain:

 

1. Kriteria MABIMS di mana:

 

a) ketinggian hilal minimal 2 derajat;

b) jarak busur 3 derajat; atau

c) umur hilal minimum 8 jam.

 

2. Landas acu empiris pada Limit Danjon (statistik dan batas kemampuan mata manusia secara wajar), bahwa hilal akan tampak apabila jarak sudut antara Bulan dan Matahari lebih besar dari 7 derajat di mana oleh Odeh dari Islamic Crescent Observation Project (ICOP), pada tahun 2004, dan dikoreksi berdasarkan statistik data baru dalam analisis perhitungannya bahwa limit ini adalah 6,4 derajat.

 

Bagaimana dengan hilal awal Dzulhijjah 1440H di Indonesia?

 

Apabila murni hanya pada metode hisab dengan segala pertimbangan yang ada di atas, maka akan tampak untuk di Indonesia (dapat diambil salah satu posisi sentral perhitungan di POB Pelabuhan Ratu, Kamis, 1 Agustus 2019 atau 29 Dzulqa’dah 1440H) hasilnya adalah sebagai berikut:

 

i. Hilal posisi positif berarti awal Dzulhijjah 1440H adalah Jum’at, 2 Agustus 2019; dan

ii. Hilal positif dan sudah ujud (di atas ufuk saat Matahari terbenam) berarti awal Dzulhijjah 1440H adalah Jum’at, 2 Agustus 2019.

 

Apabila dikombinasi dengan syarat rukyat, maka

 

iii. Berbasis data hisab dan pertimbangan pada referensi pelaporan hilal di atas (3,44 dibanding batasan 2), kondisi hilal Dzulhijjah 1440H hari Kamis tanggal 1 Agustus 2019 telah masuk kriteria, kecuali kriteria Limit Danjon (3,44 dibanding batasan 6,40). Jadi, statusnya “tetap besar harapan” untuk melihat hilal walau bagi sebagiannya tentu akan sangat kesulitan. Dari sini, kemungkinan besar bahwa awal Dzulhijjah 1440H atau tanggal 1 Dzulhijjah 1440H jatuh pada hari Jum’at, 2 Agustus 2019.

 

Apabila nanti ada kesaksian pelaporan dalam hal rukyat pada hari hisab, hari rukyat, hari ijtimak – yaitu pada hari Kamis Pon, 29 Dzulqa’dah 1440H (1 Agustus 2019) saat Matahari terbenam (Maghrib), maka “kita dapat tentukan” bahwa awal Dzulhijjah 1440H jatuh pada hari Jum’at tanggal 2 Agustus 2019 dan Idul Adha 1440H jatuh pada hari Minggu 11 Agustus 2019 (Sekedar catatan: Idul Adha adalah tanggal 10 Dzulhijjah).

 

Tabel 3

Data Ephemeris berbasis titik observasi Mercusuar Cikoneng, Anyer, Serang – Provinsi Banten

pada hari Kamis, 1 Agustus 2019 (29 Dzulqa’dah 1440H).

 

Adapun pembanding perhitungan, dapat dilihat di bawah ini (Kompilasi data: Mila I. Ikhsanti) untuk Kompleks Mercusuar Cikoneng, Anyer, Serang – Provinsi Banten:

 

Tabel 4

Koordinat Lokasi : 060 04’ 13” LS – 1050 53’ 05” BT

Ketinggian                 : 1 Mdpl

Area Waktu         : GMT +7 / WIB

Ijtimak/Konjungsi : Kamis, 1 Agustus 2019. Pukul 10:11 WIB

 

Catatan: Adanya perbedaan karena adanya pembulatan angka, data ijtimak, presisi koordinat.

 

Gambar 6 Ilustrasi posisi hilal dari Kompleks Mercusuar Cikoneng, Anyer, Serang – Provinsi Banten

 

Gambar 7 Ilustrasi gambar hilal awal Dzulhijjah 1440H (Kamis, 1 Agustus 2019).

 

Gambar 8

Ilustrasi orientasi bentuk hilal dilihat dari Kompleks Mercusuar Cikoneng

pada hari Kamis, 1 Agustus 2019 (29 Dzulqa’dah 1440H).

 

Gambar 9 Ilustrasi arah pengamat untuk observasi hilal

 

Gambar 10 Pedoman rukyat hilal dilihat dari Kompleks Mercusuar Cikoneng

 

 

Contoh singkat pelaporan lapangan:

 

LAPORAN OBSERVASI BULAN SABIT MUDA AWAL BULAN RDZULHIJJAH 1440H

 

Hari/Tanggal  : Kamis, 1 Agustus 2019 (29 Dzulqa’dah 1440H)

Lokasi           : Kompleks Mercusuar Cikoneng, Anyer, Serang – Provinsi Banten

 

Data GPS

Jumlah satelit            : ………  

 

Koordinat Pengamat

Lintang                     : ….…o ........’ ……...” LS

Bujur                        : …….o … …’ ……..” BT

Tinggi dari muka laut : ……….. meter

 

Kondisi Langit Saat Pengamatan Pukul 17:58:27 s.d. 18:15:47 WIB (durasi 17 menit  20 detik)

 

1. Cerah sekali / Cerah / Awan tipis / Awan sedang / Awan tebal (mendung) / hujan kecil / hujan Besar.

2. Saat Matahari terbenam : Matahari tampak penuh / tampak sebagian / terhalang awan 

3. Bulan sabit tidak terlihat / terlihat oleh mata / terlihat lewat binokuler / terlihat lewat teleskop.

4. Yang berhasil melihat Bulan Sabit: …….. orang / tidak ada, pada pukul …………….WIB.

5. Bulan sabit dapat dipotret / tidak dapat dipotret / hanya awan sekitar Bulan yang dapat dipotret.

 

Keterangan data Bulan Sabit: 

Tinggi Bulan Sabit Center            =      30 29’ 8,84” 

Beda Azimuth Bulan – Matahari   =      10 33’ 6,39” (Bulan di utara Matahari) 

Umur Bulan Sabit                       =      7 jam 43 menit 52 detik 

Illuminasi Bulan Sabit                 =      0,20 %

 

 

OBSERVASI JUM’AT, 2 AGUSTUS 2019

 

Adapun sehari setelahnya, yaitu Jum’at, 2 Agustus 2019 tetap dilakukan pengamatan posisi Bulan Sabit Muda untuk konfirmasi perhitungan astronomis. Seperti hasil perhitungan dan pengamatan untuk penentuan bulan Ramadhan 1440H yang lalu, bahwa Anak Bulan pada saat hari hisab/rukyat/ijtimak sudah terlihat, maka bulan Syaban tidak digenapkan. Namun, untuk konfirmasi terhadap hasil perhitungan astronomis guna mendapatkan data empiris di lapangan, maka tetap dilakukan observasi sebanyak dua kali. Termasuk kali ini, walau nanti ada kesaksian pada tanggal 1 Agustus 2019, maka untuk memperoleh data yang lebih akurat dilakukan juga rukyat pada tanggal 2 Agustus 2019, dengan data hisab sebagai berikut:

 

Gambar 11

 

Gambar 12

Peta Ketampakan Hilal Awal Dzulhijjah 1440H (2 Agustus 2019) di Seluruh Dunia Berbasis Kriteria Odeh.

 

Gambar 13

Peta Ketinggian Hilal Awal Dzulhijjah 1440H (2 Agustus 2019) di Indonesia.

 

 Tabel 5

Data Ephemeris berbasis titik observasi Mercusuar Cikoneng, Anyer, Serang – Provinsi Banten

pada hari Jum’at, 2 Agustus 2019 (1 Dzulhijjah 1440H).

 

Tabel 6

Pembanding hasil hisab untuk hari Jum’at tanggal 2 Agustus 2019

 

Koordinat Lokasi : 060 04’ 13” LS – 1050 53’ 05” BT

Ketinggian                 : 1 Mdpl

Area Waktu         : GMT +7 / WIB

Ijtimak/Konjungsi : Kamis, 1 Agustus 2019. Pukul 10:11 WIB

 

Gambar 14

Ilustrasi posisi hilal dari Kompleks Mercusuar Anyer pada hari Jum’at, 2 Agustus 2019 saat ghurub. 

 

 

Gambar 15

Ilustrasi gambar hilal dari Kompleks Mercusuar Anyer

pada hari Jum’at, 2 Agustus 2019 (1 Dzulhijjah 1440H).

 

Gambar 16

Ilustrasi orientasi bentuk hilal dilihat dari Kompleks Mercusuar Anyer

pada hari Jum’at, 2 Agustus 2019 (1 Dzulhijjah 1440H).

 

Gambar 17

Ilustrasi arah pengamat untuk observasi hilal dilihat dari Kompleks Mercusuar Anyer

pada hari Jum’at, 2 Agustus 2019 (1 Dzulhijjah 1440H).

 

Gambar 18

Pedoman rukyat hilal dilihat dari Kompleks Mercusuar Anyer

pada hari Jum’at, 2 Agustus 2019 (1 Dzulhijjah 1440H).

 

 

Sekilas Landas Acu Penetapan

Mungkin sebagian masyarakat masih belum mengetahui tentang bagaimana proses atau tahapan penetapan hari istimewa berbasis kalender Hijriah. Walau hal ini sudah relatif rutin disosialisasikan, tidak ada salahnya di sini disaji-ulangkan kembali sekelumit kisah bagaimana proses penetapan oleh Pemerintah RI melalui Sidang Itsbat yang dapat disimak pada uraian berikut.

         Sidang Itsbat adalah sidang penetapan awal bulan Hijriah. Pertama diadakan  tahun 1950; dan berbasis fatwa para ulama, bahwa pemerintah punya hak untuk menentukan Awal Ramadhan, Idul Fitri, dan Idul Adha. Kemudian, tahun 1972 dibentuk Badan Hisab dan Rukyat (BHR) yang didalamnya terdapat para ahli, ulama, dan pakar astronomi. Tugas inti adalah memberikan informasi kepada Menteri Agama tentang data awal bulan Ramadhan, Syawal, dan Dzulhijjah. Sementara itu, Planetarium dan Observatorium Jakarta baru menjadi anggota BHR tahun 1974 dipelopori Kepala Planetarium Jakarta yang pertama (Bapak Santoso), berkesinambungan ke Kepala Planetarium Jakarta berikutnya (Bapak Darsa, hingga tahun 2001). Sejak tahun 2001 dilanjutkan oleh staf Penceramah Planetarium Jakarta, Bapak Cecep Nurwendaya sebagai narasumber/tenaga ahli yang senantiasa berkolaborasi dengan staf Astronomi Planetarium Jakarta yang melakukan paparan di hadapan sidang tentang apa yang dibahas pada artikel ini sebagai masukan keputusan.

         Sidang Itsbat bersifat musyawarah di mana hasil dalam sidang merupakan kesepakatan antar ormas Islam yang diwakili oleh utusannya. Jadi, dapat dikatakan bahwa Pemerintah hanya memfasilitasi, mengumpulkan para tokoh, para ulama untuk membahas kapan awal bulan itu ditetapkan. Hanya saja, nanti setelah diambil satu kesepakatan dari sidang ini, barulah Menteri Agama memutuskan dan memberi pengumuman secara resmi. Hingga kini bahwa Sidang Itsbat di Indonesia utamanya untuk menentukan awal bulan Ramadhan, Syawal, dan Dzulhijjah, yaitu berdasarkan pada fatwa MUI No. 2 tahun 2004. Jadi, Sidang Itsbat selalu dilaksanakan pada hari hisab dan hari rukyat, yaitu:

 

1. Tanggal 29 Syaban untuk Itsbat Awal Ramadhan;

2. Tanggal 29 Ramadhan untuk Itsbat Awal Syawal; dan

3. Tanggal 29 Dzulqa’dah untuk Itsbat Awal Dzulhijjah.

 

Apabila metode hisab bermakna prediksi/informasi hilal penentu awal bulan, maka metode rukyat bermakna konfirmasi hilal penentu awal bulan. Sidang ini dilaksanakan di Gedung Kementerian Agama RI dan rukyat dilaksanakan di berbagai wilayah di seluruh Indonesia. Perukyat resmi didampingi oleh Hakim Agama untuk memberikan itsbat kesaksian rukyat hilal. Hal ini mengacu pada UU RI No.3 Tahun 2006 Pasal 52A.

         Selain itu bahwa Sidang Itsbat dipimpin oleh Menteri Agama, didampingi oleh Ketua MUI, Ketua Komisi VIII DPR RI, Dirjen Bimas Islam, dan Sekjen Kementerian Agama. Peserta sidang terdiri dari Perwakilan ormas–ormas Islam, ulama, tokoh masyarakat, Anggota Badan Hisab Rukyat (sekarang Tim Hisab Rukyat), Duta Besar Perwakilan Negara Sahabat, Pejabat Kementerian Agama, dan instansi terkait.

 

a) Sidang Itsbat diawali Pra Sidang dengan acara Presentasi Penjelasan Posisi Hilal Penentu Awal Bulan Hijriah oleh Tim Hisab Rukyat Kementerian Agama dilanjutkan dengan tanya jawab dan diskusi mulai pukul 16:30 WIB sampai menjelang masuk waktu Maghrib;

 

b) Sidang Itsbat dimulai ba’da shalat Maghrib berjamaah. Setelah dibuka oleh  Menteri Agama dilanjutkan dengan pelaporan hasil rukyat dari seluruh wilayah Indonesia yang telah melaporkan ke panitia penerima hasil rukyat oleh Direktur Urais Kemenag;

 

Gambar 19

Berbasis lokasi rukyat, maka di seluruh Indonesia yang tercatat resmi sebagai tempat observasi,

baik permanen maupun bersifat mobile tampak pada gambar di atas.

Untuk penentuan 1 Ramadhan 1440 yang lalu terdaftar sekitar 105 titik tempat rukyatul hilal atau POB.

Adapun Planetarium dan Observatorium UP PKJ TIM sejak era tahun 2008 mengambil posisi 5.

 

c) Pada tahap pembahasan hasil rukyat. Menteri Agama, sebagai pimpinan sidang memberikan kesempatan kepada seluruh peserta sidang untuk menanggapi dan memberikan berbagai pertimbangan syariah dan ilmiah hasil rukyat yang telah dilaporkan tadi, untuk bahan pertimbangan;

 

d) Menteri Agama meminta pandangan dan pertimbangan keagamaan pada Ketua MUI terutama dalam hal yang krusial jika ada perbedaan pendapat di antara peserta sidang;

 

e) Berpedoman pada kesepakatan bersama peserta sidang, Menteri Agama secara resmi mengitsbatkan atau menetapkan awal bulan Hijriah; dan

 

f) Press Release tentang hasil Sidang Itsbat disampaikan oleh Menteri Agama didampingi oleh Ketua MUI, Ketua Komisi VIII DPR RI, dan Pejabat Kementerian Agama RI.

 

 

Catatan Akhir

Pada penentuan awal bulan Dzulhijjah 1440H kali ini dapat diringkas sebagai berikut:

 

- Berdasarkan hasil murni perhitungan (hisab) bahwa Anak Bulan atau hilal sudah wujud atau berharga positif pada hari hisab dan hari rukyat dan hari ijtimak (29 Dzulqa’dah 1440H atau Kamis, 1 Agustus 2019). Jadi, kecenderungannya bulan Dzulqa’dah 1440H tidak akan digenapkan 30 hari sedemikian tanggal 1 Dzulhijjah 1440H jatuh pada hari Jum’at, 2 Agustus 2019;

 

- Berdasarkan observasi (rukyat), maka penentuannya berbasis rukyat secara nasional pada lebih dari 100 titik lokasi pengamatan yang akan dilakukan pada hari hisab/rukyat/ijtimak, yaitu pada hari Kamis tanggal 29 Dzulqa’dah 1440H atau 1 Agustus 2019, saat ghurub (saat Matahari terbenam). Apabila ada kesaksian dari pengamat hilal, maka kecenderungannya akan diterima karena berbasis kriteria yang ada praktis dapat dikatakan “cukup memenuhi harapan dan memenuhi syarat”;

 

- Apabila diputuskan bahwa benar tanggal 1 Dzulhijjah 1440H adalah hari Jum’at, 2 Agustus 2019, maka Idul Adha 1440H jatuh pada hari Ahad/Minggu tanggal 11 Agustus 2019;

 

- Dari aspek astronomis, bahwa pelaksanaan rukyatul hilal dilakukan mulai Kamis, tanggal 1 Agustus 2019 karena berbasis hisab bahwa tahap ijtimak sudah terjadi dan hilal sudah wujud. Adapun konfirmasi hasil hisab pun dilakukan pada tanggal 2 Agustus 2019 (observasi hari kedua) untuk penguat data empiris;

 

- Seperti yang sebelumnya pernah dipaparkan bahwa kadang terjadi, hasil hisab berbeda dengan hasil rukyat. Jadi, dalam kasus ini kadang terjadi perbedaan dalam penentuan awal bulan Hijriahnya (tidak dari segi perhitungan astronomisnya). Sebagai contoh: berdasar perhitungan bahwa Anak Bulan sudah berharga positif karena sudah lewat tahap ijtimak dan lokasinya di atas ufuk ketika Matahari terbenam di hari hisab/rukyat/ijtimak. Namun, tidak ada kesaksian pada pelaksanaan rukyat. Walhasil, yang menggunakan hasil murni perhitungan biasanya lebih awal melaksanakan semisal ibadah puasa/Idul Fitri dibandingkan dengan yang menggunakan hasil hisab dan rukyat. Sebenarnya masalah ini juga sudah ditentukan garis kebijakannya oleh Kementerian Agama RI. Mungkin hal inilah yang sering dipertanyakan oleh masyarakat luas. Bidang Astronomi sebagai ilmu (pure science atau MIPA) memang kini dapat menentukan “New Moon” dengan ketepatan yang semakin dapat diandalkan, namun tidak untuk menentukan “New Month” yang lebih ke ranah religi. Kalau pada jaman dahulu kala memang menjadi lumrah apabila seorang astronom juga sekaligus ulama besar sebagai penentu kebijakan ibadah umat;

 

- Seperti yang telah dipaparkan saat penentuan 1 Syawal 1440H, bahwa “rasanya” memang akan “tenang” beberapa tahun ke depan ini berbasis perhitungan atau hisab murni (memang kemungkinan akan terjadi perbedaan mulai Idul Adha 1443H (2022M) dan waktu selanjutnya akan penuh pernak pernik). Hal ini justru karena “kebaikan Bulan menempatkan posisinya”.

 

Tabel 7

Peringatan hari raya berbasis kalender Bulan yang berdasarkan perhitungan dari tahun 2001 s.d 2025.

Perhitungan berlandas acu tanggal 29 pada bulan sebelumnya.

 

Misal tanggal 29 Dzulqa’dah 1443H (2022M), harga tinggi hilal hanya 1,9 derajat.

Dengan adanya prasyarat tertentu, maka sangat mungkin terjadi perbedaan Hari Raya Idul Adha 1443H.

Jadi, karena “kebaikan Bulan” pada posisinya, hingga Idul Fitri tahun 2022

dapat diharapkan perayaan berlangsung bersamaan.

Ini pun masih dapat terjadi sama, tergantung lokasi observasi (ke arah barat semakin besar).

 

Pada tabel juga didata 4 kali tinggi hilal yang kurang dari 3,4 derajat

yang berhasil dirukyat selama kurun waktu 19 tahun.

 

- Semoga kita dapat semakin arif menyikapinya, termasuk pada isu sains yang terkait. Berharap apabila masyarakat semakin memahami fenomena ini secara ilmiah, di ujung akhirnya, dapat menimbulkan rasa syukur dengan segala kerendahan hati karena mendapat kesempatan justru untuk menikmati perbedaan tersebut sebagai salah satu karunia-Nya yang tidak terukur besarnya. Selamat Idul Adha 1440H. Mohon Maaf Lahir dan Batin, serta doa keselamatan bagi khususnya untuk saudara-saudara kita yang sedang menjalankan ibadah haji, semoga menjadi haji yang mabrur. Salam Astronomi.–WS–

 

DAFTAR PUSTAKA

Abell, G.O., 1975, Exploration of the Universe, Holt, Rinehart and Winston, New York

Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika, 2018, Peta Ketinggian Hilal pada Setiap Awal Bulan Qomariah Tahun 1440/1441 H (2019 M)

Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika, 2018, Almanak 2019

Departemen Agama RI, 1996, Winhisab Version 2.0, Badan Hisab Rukyat Departemen Agama RI

Departemen Agama RI, 2008, Panduan Hisab Rukyat, Direktorat Jenderal Bimbingan Masyarakat Islam

Kementerian Agama RI, 2017, Temu Kerja Hisab Rukyat Tahun 2016 (3 – 5 Mei 2017 di Hotel Millennium Kebon Sirih Jakarta), Ditjen Bimas Islam, Direktorat Urusan Agama Islam dan Pembinaan Syariah

Kementerian Agama RI., 2019, Taqwim Standar Indonesia 2019 Masehi / 1440-1440 Hijriyah, Direktorat Jenderal Bimas Islam Kementerian Agama RI

Kementerian Agama RI., 2019, Ephemeris Hisab Rukyat 2019, Direktorat Urusan Agama Islam dan Pembinaan Syariah, Direktorat Jenderal Bimas Islam, Kementerian Agama RI

Khafid, 1996, Mawaaqit 2001

Mahkamah Agung RI., 2019, Data Ephemeris Matahari dan Bulan tahun 2019, Direktorat Jenderal Badan Peradilan Agama.

MUI  2004, Keputusan Fatwa MUI Nomor 2 Tahun 2004 tentang Penetapan Awal Ramadhan, Syawal, dan Dzulhijjah, Komisi Fatwa MUI

Smart, W.M., 1961, Spherical Astronomy, Cambridge Univ. Press, London

---------------., 1989, Sofware Astronomi Astro Info, Tumasoftware, Zephyr Services 1900 Murray Ave. Pittsburgh, PA. 15217

---------------., Red Shift 3 Multi Media Astronomy, Maris Multimedia Production

---------------., 2004, Software Astronomi Starry Night Pro Plus 6.0, Imaginova Canada Lmt