Written by Super User

User Rating: 0 / 5

Star InactiveStar InactiveStar InactiveStar InactiveStar Inactive
 

FENOMENA KONJUNGSI

7 September 2019

 

Oleh Widya Sawitar

 Gambar 1

Konjungsi Jupiter, Bulan, Mars, dan Venus (7 November 2015)

(Credit: M. Rayhan; Lokasi: Planetarium Jakarta) 

 

Kondisi kubah langit malam Jakarta harus diakui sudah penuh dengan polusi udara dan cahaya

yang semakin memprihatinkan. Sangat mudah indikasinya. Lihatlah taburan bintang-bintang

yang semakin sedikit terlihat walau malam cerah tiada berawan. Tiada lagi dendang lagu “Kupandang langit penuh bintang bertaburan”. Kini hanyalah mimpi semata,

khususnya bagi para muda di Jakarta.

 Tentu suasana ini menjadi salah satu karunia yang sudah semakin diredupkan

(silakan simak artikel Polusi Cahaya di situs ini) 

Namun, kita masih dapat bersyukur

karena masih dapat terlihat bintang yang terang, juga planet dan Bulan.

Rasi bintang yang sejak ribuan tahun lalu dipakai leluhur untuk bercocok tanam

dan mengarungi samudra sebagiannya masih relatif dapat ditera.

Semisal rasi bintang Orion yang di Indonesia populer disebut Lintang Waluku (luku: alat bajak sawah) dan Crux (Lintang Gubug Penceng, Bintang Layang Layang,

Lintang Pari).

Tentang budaya menera langit, silakan simak artikel berseri Rasi Bintang dalam Denyut Budaya. 

Tentu saja selain kondisi minim polusi, maka untuk observasi fenomena langit

menjadi lebih ideal apabila cuaca cerah.

Hal ini karena kita terorientasi untuk melihat dengan panjang gelombang kasat mata.

Agak berbeda dengan semisal teleskop radio, yang walaupun kondisi penuh polusi dan berawan tebal kita tetap dapat bebas lepas melihat ke kedalaman jagad

semesta.

Di sini yang akan ditelusuri tentu hanya sebatas cahaya kasat mata

di mana hal ini sesuai dengan rentang kemampuan mata awam.

 

 

Menatap Kubah langit

Apabila melihat dengan cermat, nyatanya di kubah langit malam selain hadirnya bintang yang bagi awam memiliki konfigurasi yang selalu sama, kita dapat melihat benda langit yang mengembara di lautan bintang, yaitu Bulan dan planet. Inipun banyak awam yang kurang menyadari padahal bendanya sangat jelas terlihat tanpa alat bantu apapun. Pergeseran Bulan dan planet yang cukup jelas inilah yang menyebabkan mereka tidak setiap saat dapat dilihat. Mereka terus bergeser. Namun, tentu saja geraknya teratur berbasis lintas orbit dan periodenya masing-masing.

       Yang paling mudah diikuti geraknya adalah Bulan. Pemunculan yang periodik menjadikan kita mengenal dimensi waktu. Apa yang dapat disaksikan tentu bergantung di mana kita mengamati, sedemikian dimensi ruang menjadi penting. Contoh lain seperti Bintang Layang Layang di mana masyarakat Jepang atau yang lebih ke lintang utara sukar bahkan tidak dapat melihatnya. Kendati kita relatif mudah melihatnya, ternyata tidak setiap malam dapat disaksikan. Andai terlihat, kadang awal malam sudah terbit, kadang sudah nyaris terbenam. Inipun berlaku pada planet dan Bulan.

 

Dinamika Bulan dan Planet

Secara garis besar bahwa planet dan Bulan bergeser di kubah langit di wilayah Zodiak, yaitu 13 rasi atau kelompok bintang di antara 88 rasi bintang yang ada di bola langit. Hal ini karena Bulan dan semua planet bergerak mengedari Matahari nyaris pada satu bidang orbit. Ibarat keping uang logam, maka tepi keping adalah lintasan orbitnya dan seluruh keping itulah layaknya bidang orbitnya. Dalam hal ini, lintasan atau bidangnya tidak lingkaran melainkan ellips (lonjong) dan Matahari berada di salah satu titik fokusnya (apabila lingkaran, titik fokus hanya satu, yaitu di pusat lingkaran).

       Kecepatan gerak mereka berbeda-beda. Makin dekat ke Matahari, gerak planet makin cepat. Namun, dalam kasus ini, Bulan yang paling cepat. Akibatnya, kalau diamati dalam rentang waktu tertentu, membuat Bulan tampak bergeser menyusul planet-planet; dan antar planet pun demikian, yang cepat akan menyusul yang lambat.

 

Okultasi, Konjungsi, dan Gerhana

Melihat dinamika di atas, maka suatu saat, posisi mereka berdekatan. Lebih unik apabila Bulan dalam gerak gesernya menutup planet. Nama fenomenanya kadang disebut konjungsi Bulan dan planet, ada yang membayangkan sebagai gerhana planet (karena planetnya menghilang di balik Bulan), dan sebenarnya ada nama khusus untuk fenomena ini, yaitu okultasi. Atau, kadang planet dan Bulan sekedar berkumpul di suatu lokasi yang berdekatan. Ini masih disebut konjungsi. Yang istimewa tatkala Matahari dan Bulan bersatu di kubah langit, yang peristiwanya disebut Gerhana Matahari.

       Beberapa fenomena konjungsi antara Bulan dan planet pernah terjadi (yang tentu cukup unik), semisal tanggal 7 April 1994 di mana posisi Merkurius, Mars, Saturnus, Jupiter, dan Bulan berdekatan. Yang istimewa adalah tanggal 5 Mei 2000, planet yang kasat mata (5 planet) dan Bulan berkumpul dekat Matahari. Tanggal 6 – 7 November 2015 antara Mars, Jupiter, Venus, dan Bulan. Tanggal 5 – 6 November 2016 antara Venus, Mars, Saturnus, dan Bulan. Juga tanggal 14 September 2018, fenomena konjungsi yang secara jelas adalah antara Bulan dan Jupiter (separasi kisaran 5 derajat busur). Posisi planet Venus, Mars, dan Saturnus relatif agak terpisah (Mars di belahan timur, Saturnus di puncak langit, Venus di barat) . Namun, dalam satu waktu kita dapat saksikan kelimanya secara bersamaan. Giliran tanggal 17 September 2018, karena Bulan bergeser relatif cepat, maka Sang Rembulan giliran mendekati Saturnus. Dan tanggal 20 September mendekati Mars (lebih dekat tanggal 18 Oktober dan 16 November). Semua berpatokan pada kondisi Jakarta.

       Seperti yang telah dibahas di atas, suatu ketika tidak lagi sekedar dekat. Kadang Bulan menutupi sang planet seperti terakhir terjadi pada Venus (okultasi Venus oleh Bulan, 18 September 2017, 05:41 WIB), dan yang berikutnya adalah tanggal 8 September 2019 (okultasi Saturnus oleh Bulan, 21:34 WIB).

 

Konjungsi dan Transit

Sekali lagi menyoal konjungsi bahwa dalam fenomena Astronomi, konjungsi merupakan kesearahan lokasi benda langit apabila diamati dari Bumi. Melihat kondisi pergerakan planet dan Bulan, tentu peristiwa konjungsi adalah hal yang wajar, termasuk konjungsi istimewa layaknya Gerhana Matahari yang terjadi tanggal 9 Maret 2016 dan 26 Desember 2019 yang melewati wilayah Indonesia. Fenomena gerhana ini termasuk yang cukup istimewa di mana konjungsinya relative sempurna (benar-benar searah). Namun, apabila kita bayangkan bahwa planet-planet, Bulan, dan Matahari berada pada 1 lokasi di kubah langit, maka besar kemungkinan terjadinya adalah dalam selang waktu 8,6x1046 tahun. Tentu sesuatu yang sukar kita bayangkan karena usia Jagad Raya saja berdasar penelitian terakhir baru berusia orde 13 milyard (13x109) tahun. Sebut semisal terjadi konjungsi itu di awal lahirnya Tata Surya yang kisaran 5 milyard tahun (5x109 tahun), maka baru akan terjadi lagi konjungsi itu sekitar orde 1036 tahun yang akan datang. Adapun untuk konjungsi seperti 5 Mei 2000, baru akan terulang kisaran 1000 tahun yang akan datang.

       Lebih teknisnya, ini terkait kesamaan dalam parameter asensiorekta atau lintang ekliptika. Sifatnya pun kadang istimewa, kadang suatu yang rutin terjadi. Objek langit pun beraneka yang dapat dilibatkan, tidak sebatas Matahari, Bulan, dan planet. Kasus unik lainnya semisal pada planet Merkurius dan Venus di mana sebagai planet-dalam (inferior) memiliki keunikan karena memiliki 2 posisi konjungsi, yaitu konjungsi-dalam (inferior conjunction) dan konjungsi-luar (superior conjunction). Adapun planet-luar, yaitu Mars, Jupiter, Saturnus mengalami konjungsi (searah Matahari) dan oposisi (berlawanan arah dengan Matahari).

 

Gambar 2

Bila Venus bergeser ke posisi di antara Matahari dan Bumi, disebut konjungsi-dalam.

Bila Matahari yang berada di antara Venus dan Bumi, disebut Venus konjungsi-luar.

(Ref.: Tom-Wildoner)

 

Kembali pada Venus dan Merkurius. Konjungsi-dalam terjadi tatkala posisi planet tersebut berada di antara Matahari dan Bumi. Ada satu fenomena menarik di sini. Apabila terjadi konjungsi-dalam yang sempurna, maka kedua planet ini akan melintas di depan piringan Matahari. Andai saja kita bayangkan kedua planet ini besarnya di kubah langit terlihat sama besar dengan ukuran piringan Matahari, maka tentu Matahari akan tertutup dan  menimbulkan fenomena Gerhana Matahari. Namun, sekarang kita tahu bahwa ukuran kedua planet tersebut jauh lebih kecil. Kendati demikian, tetap saja kalau diamati dengan teknik khusus akan tampak piringan Matahari tertutup sebesar ukuran planet tersebut. Jadi, apakah lalu disebut Gerhana Matahari Sebagian? Nyatanya, ada nama khusus dalam peristiwa ini, yaitu fenomena transit. Adapun konjungsi-luar apabila posisi Matahari berada di antara mereka dan Bumi. Andai dengan alat khusus, saat konjungsi-luar ini tentu baik Merkurius dan Venus akan bersembunyi di balik piringan Matahari. Hal ini mirip dengan proses okultasi.

       Berkaitan dengan peristiwa yang dialami planet-dalam, maka mereka akan tampak semakin purnama sesaat (relatif) menjelang dan sesaat setelah konjungsi luar dengan karakter ukuran semakin kecil karena terhadap Bumi semakin jauh. Sebaliknya, wajah mereka tampak semakin sabit menjelang dan setelah konjungsi-dalam dengan ukuran semakin besar karena semakin mendekati Bumi. Apabila kita lihat Venus sedemikian cemerlang sebagai Bintang Timur, Bintang Barat, atau Bintang Kejora, justru kala itu fasenya sabit tipis. Terbalik kondisinya dengan penampakan Bulan yang akan semakin cemerlang tatkala purnama, dan meredup ketika sabit tipis.

       Dalam kasus di sini, dapat diingatkan kembali bahwa fenomena konjungsi di atas dengan pedoman bahwa fenomenanya apabila dilihat dari Bumi. Apabila dibayangkan di kubah langit terjadi konjungsi, seolah mereka saling berdekatan satu dengan lainnya bahkan seolah menyatu (semisal yang istimewa pada fenomena gerhana, okultasi, transit) di kubah langit, maka sejatinya mereka tidak benar-benar menyatu. Jarak yang berkonjungsi dapat jadi sangat berjauhan. Misal piringan Bulan menutup gugus bintang tertentu, maka kini diketahui bahwa jarak Bulan ke Bumi dan jarak gugus ke Bumi tentu sangat berbeda jauh. Demikian pula konjungsi Bulan dengan planet. Jadi, hanya penampakan dari Bumi yang seolah mereka bersatu atau saling mendekat satu sama lainnya. Namun, tidak berlaku penyatuan itu terhadap jarak antar mereka.

 

Observasi Konjungsi Tanggal 7 September 2019

 

Untuk tanggal 7 September 2019, fenomena konjungsi yang secara jelas adalah antara Saturnus, Jupiter, dan Bulan. Pada awal malam, sebut pukul 18:30 WIB, posisi Bulan cukup tinggi, sekitar 70 derajat dari ufuk tenggara (lihat gambar 3). dalam satu waktu kita dapat saksikan ketiganya secara bersamaan.

 

Gambar 3

Konjungsi antara Saturnus, Bulan, dan Jupiter pada hari Sabtu, 7 September 2019 pukul 18:30 WIB.

Posisi Jakarta (E: timur, S: selatan, W: barat; Ref.: Animasi Stellarium 0.12.4)

Gambar 4

(Zoom Gambar 3) Tampak bahwa Saturnus (di timur Bulan) berada pada jubah Centaurus.

Posisi Jupiter di dekat capit kiri Scorpius, tepatnya dalam rasi bintang Zodiak yang ke 13 Ophiuchus.

Posisi Jakarta (tepi kiri gambar: timur, bawah: selatan, kanan: barat).

 

Terlihat barisan dari timur ke barat adalah Saturnus, Bulan, Jupiter, dan bintang Antares.

Bintang merah ini merupakan bintang paling terang di Scorpius. Pada ilustrasi di atas seolah di kepala kalajengking. Namun, berdasarkan mitologi lokasinya ada di

jantungnya.

Apabila mengarah pandang ke utara, akan terlihat bintang cemerlang, yaitu Vega, bintang biru paling terang di rasi bintang Lyra (Harpa). Agak ke arah barat akan

melihat bintang cemerlang yang juga berwarna merah, yaitu Arcturus, bintang paling terang di rasi bintang Bootes.

(Ref.: Animasi Stellarium 0.12.4).

 

 

 

 

       Apapun bentuk penyatuan di kubah langit, khususnya terkait dengan adanya fenomena konjungsi, maka semoga kita dapat semakin arif menyikapi berbagai isu sains, khususnya mengenai fenomena Astronomi yang seringkali dikaitkan dengan derap hidup manusia bahkan hingga nasib dan peruntungannya sampai masalah yang bersifat takhayul.

 

Serba Serbi Bintang, Planet, dan Bulan.

Pada saat mengamati fenomena konjungsi tentu saja akan semakin semarak apabila langit cerah sedemikian beraneka objek langit dapat disaksikan. Selain Bulan yang terang benderang dan planet-planet, maka tebaran bintang gemintang di kubah langit dapat dicermati. Pengamatan berkelanjutan pada masa dulu membuat nenek moyang kita melahirkan suatu kebiasaan sehingga muncullah budaya menera langit sekaligus melahirkan peranti navigasi untuk pedoman arah bagi para pengembara dan pelaut. Juga pertanian berbasis bintang gemintang, hingga ditemukannya kalender, termasuk mitologi yang menyertainya. Kini dibahas serba sedikit tentang beberapa objek langit saat menyaksikan konjungsi hari Sabtu, tanggal 7 September 2019 nanti, antara lain:

 

1.    Bintang

       Bila melihat langit malam bertabur bintang, seolah bintang-bintangnya menempel pada kubah berbentuk setengah bola. Tanpa alat bantu seperti binokuler/teleskop, maka jumlah bintang yang terlihat berkisar 5.000 buah (kondisi asri yang bebas polusi udara dan cahaya, lagi-lagi tidak di Jakarta). Kalau disimak, susunan bintang ini relatif tetap, apalagi dalam skala rentang usia hidup kita. Oleh sebab itu, bintang-bintang yang berdekatan dikelompokkan dalam gambaran ujud tertentu. Sebagai contoh bentuk layang-layang (Crux) yang bagi nelayan juga dikhayalkan sebagai ikan pari (Lintang Pari), atau di manca negara kelompok ini dianggap palang atau salib. Hal ini dilakukan manusia sejak millennia lalu. Pada dasarnya, pengelompokan bintang tidak lain adalah suatu usaha untuk membuat peta langit untuk memudahkan pengenalan susunan bintang, baik untuk keperluan praktis maupun keilmuan (Sekedar catatan bahwa peletakan satelit GPS ditentukan atas dasar tata koordinat langit dan keilmuan ini sangat mendasar dalam mempelajari Astronomi). Kini keseluruhan bola langit dibagi 88 daerah langit atau kelompok bintang yang disebut rasi bintang atau konstelasi. Penggunaan ini diresmikan oleh International Astronomical Union (IAU) tahun 1922.

 

2.    Jupiter

       Planet terbesar di mana kita dapat masukkan 1.300 benda seukuran Bumi kedalamnya. Terbentuk dari awan gas yang mampat sehingga disebut Planet Gas Raksasa. Tidak ada daratan dan lautan di permukaannya. Massanya 318 kali massa Bumi (sama dengan 2/3 massa Tata Surya di luar Matahari) dengan diameter 143.000 km (11 kali diameter Bumi). Wajahnya terbentuk dari pola pita-pita gelap dan terang dan merupakan daerah badai yang berlangsung terus menerus. Selain jalur badai, ada juga pusaran-pusaran badai. Yang terkenal the Great Red Spot, mirip tornado berusia lebih dari 300 tahun. Jupiter diiringi 83 satelit (79 sudah dikonfirmasi) dan mempunyai cincin (walaupun sangat tipis) dengan lebar kisaran 6000 km dan tebal beberapa puluh km yang terdiri dari partikel-partikel kecil yang berukuran kurang dari 10 km. Cincin Jupiter terletak ±53.000 km di atas lapisan atmosfer terluarnya. Tentang Jupiter silakan simak artikel Berkenalan dengan Planet Jovian pada situs ini.

 

3.    Saturnus

       Yang paling dikenal dari planet ini adalah cincinnya yang besar. Namun, Saturnus bukanlah satu-satunya planet bercincin. Jupiter, Saturnus, Uranus, dan Neptunus semuanya memiliki cincin. Hanya saja cincin Saturnus yang paling besar yang terbentuk dari bermilyard partikel mulai seukuran kerikil hingga sebesar gunung. Diameter keseluruhan ±350 kali panjang Pulau Jawa dengan tebalnya hanya kisaran 10 km. Planet ke-6 ini adalah planet terjauh yang dapat dilihat kasat mata. Jadi, telah dikenal bermillennia lalu. Dimaklumi juga karena Saturnus adalah planet terbesar kedua. Diameternya 9 kali Bumi, massa 95 kali, dan volume 755 kali lebih besar dari Bumi. Uniknya, massa jenis Saturnus lebih kecil dari air, maka apabila kita masukkan ke wadah air yang dapat menampungnya, dia akan mengapung. Jumlah satelitnya terbanyak kedua, yaitu 62 buah. Saturnus pertama kali dikunjungi oleh wahana antariksa tahun 1979 (Pioneer 11) dan yang terakhir Cassini-Huygens (2004). Tentang Saturnus silakan simak artikel Berkenalan dengan Planet Jovian pada situs ini.

 

4.    Bulan

       Kehadirannya membuat interaksi yang menarik untuk ditelusur. Geraknya di antara bintang-bintang kisaran 13 derajat ke arah timur di sepanjang Zodiak. Sang Dewi Malam akan kembali ke Zodiak yang sama tiap 27,3 hari.  Kala jelajah ini disebut 1 bulan sideris (menempuh 1 lingkaran, 3600).

       Matahari juga bergeser ke timur, tampak seperti dikejar-kejar Bulan. Perubahan fase Bulan senantiasa berulang dan tergantung kepada jarak sudutnya terhadap Matahari. Bulan Mati (Bulan Baru) terjadi saat Bulan berada di arah Matahari, Bulan separuh terjadi ketika jarak sudut Matahari-Bumi-Bulan 90o atau 270o, dan fase Bulan Purnama terjadi ketika jarak sudutnya 180o (Bumi diapit Matahari dan Bulan). Tahapan ini berulang rata-rata 29½ hari yang disebut 1 bulan sinodis.

       Fase Bulan adalah akibat Bulan mengedari Bumi. Oleh karena Bulan benda gelap, tidak bercahaya sendiri, maka wajah Bulan yang terang akibat cahaya Matahari pun berubah seiring posisi edarnya. Wajahnya akan jauh lebih menarik jika dilihat dengan teleskop. Bagian wajahnya yang menghadap ke Bumi bagi masyarakat awam seolah selalu sama (ada yang membayangkan terdapat gambar kelinci di wajah Bulan).

       Bidang orbit Bulan membentuk kemiringan dengan bidang ekliptika (bidang orbit Bumi) sebesar 5° 08’ 43”. Sementara itu, sumbu rotasi Bumi membentuk kemiringan dengan bidang ekliptika sebesar 23,5°. Jadi, bidang orbit Bulan memiliki kemiringan signifikan terhadap bidang ekuator Bumi. Uniknya periode rotasi Bulan sama dengan periode orbitnya sehingga wajahnya yang menghadap Bumi selalu sama. Namun, karena kemiringan sumbu rotasi Bulan terhadap bidang orbitnya sebesar 1,5° serta faktor kelonjongan lintasannya (eksentrisitas), maka hampir 59% wajah Bulan dapat kita lihat. Dengan kata lain, 41% wajahnya sama sekali tidak pernah terlihat dari Bumi.

       Tampak pergerakan Bulan yang begitu kompleks dan unik, seolah selama mengedari Bumi, Bulan kalau diamati akan tampak seolah bergerak kombinasi antara mengangguk-tengadah dan menggeleng kiri-kanan (sejatinya juga karena paralaks). Selain itu lintasan geserannya pun membentuk lintasan bergelombang dengan periode kisaran 19 tahun. Jadi, ada gerak revolusi, rotasi, menggeleng-geleng, mengangguk-angguk, juga nutasi. Fakta lain bahwa bidang orbitnya pun bergerak laksana keping uang logam yang berputar dan hampir jatuh di mana gerak ini membuat tidak setiap Bulan Mati terjadi Gerhana Matahari, dan tidak setiap Purnama terjadi Gerhana Bulan.  

       Pada fakta lain bahwa rona terang dipermukaannya ternyata merupakan dataran tinggi yang disebut terra (jamak: terrae = dataran) dan rona gelap cenderung rendah disebut mare (jamak: maria = laut). Kini diketahui bahwa dataran gelapnya ternyata bentukan lava yang mengeras yang utamanya ada di cekungan besar akibat tumbukan.

       Andai Bulan Purnama pada posisi terdekat Bumi (perigee) disebut Super Moon, maka bila bersamaan terjadi Gerhana Bulan Total, gabungan fenomena disebut Super Red/Blood Moon. Ditambah lagi kalau saja ini merupakan purnama kedua dalam bulan kalender Masehi, maka disebut Super Blue Blood Moon seperti yang terjadi tanggal 31 Januari 2018, tahun lalu. Fenomena ini baru akan terulang nanti pada tanggal 31 Januari 2037, menanti 18 tahun lagi. Tentang Bulan dapat disimak artikel Bulan: Satelit Bumi pada situs ini

 

Kegiatan Peliputan di Planetarium dan Observatorium Jakarta

Terkait fenomena konjungsi, Planetarium dan Observatorium Jakarta bermaksud mengadakan Peneropongan untuk Umum pada hari Sabtu tanggal 7 September 2019 yang rencananya dimulai dengan ceramah dan workshop pada sore hari. Dilanjutkan selepas Maghrib dengan observasi di Observatorium hingga pukul 23:00 WIB. Tata cara kesertaan akan diumumkan kemudian pada situs ini.

 

Fenomena Berikutnya Yang Terkait: Okultasi Saturnus oleh Bulan

Pada tanggal 8 September 2019, sehari setelah Kegiatan Peliputan Fenomena Konjungsi Bulan dan Planet yang rencananya akan diselenggarakan oleh Planetarium dan Observatorium Jakarta, akan terjadi fenomena okultasi Saturnus oleh Bulan. Masyarakat dapat langsung melakukan observasi dari tempat masing-masing. Walau sebenarnya agak disayangkan bahwa para pengamat di Jakarta hanya dapat melihat sedikit saja bagian Saturnus yang tertutup. Seolah Saturnus menyusuri tepian piringan Bulan. Bagi anda yang berada semakin ke arah timur, ekstrimnya semisal ke Kupang atau bahkan Biak dan Jayapura, tentu akan melihat Saturnus seolah bersembunyi di balik Bulan. Bagi pengamat di Jakarta akan menjumpai fenomena langka di mana tampak Bulan bergeser dengan jelas menyusul Saturnus di kubah langit; dan bagaimana proses menyusulnya dapat disimak pada ilustrasi berikut ini:

 

Gambar 5

Konjungsi antara Saturnus dan Bulan pada hari Minggu, 8 September 2019 (19:00 WIB).

Bulan berada di sebelah barat dari Saturnus. Bulan perlahan bergeser ke timur, mendekati Saturnus.

Posisi Pengamat di Jakarta.

Warna invert. Jadi, pada gambar, bagian Bulan yang putih adalah malam hari.

(Ref.: Animasi Stellarium 0.12.4).

 

Gambar 6

Konjungsi/Okultasi antara Saturnus dan Bulan pada hari Minggu, 8 September 2019 (21:35 WIB).

Bulan yang bergeser lebih cepat ke timur perlahan tampak menutupi sebagian Saturnus.

Saat kejadian, posisi Bulan berada di selatan Saturnus.

Warna invert. Jadi, pada gambar, bagian Bulan yang putih adalah malam hari.

Posisi Pengamat di Jakarta (hanya kisaran 1 – 2 menit).

Untuk wilayah semakin ke timur, posisi Bulan agak ke utara sehingga Saturnus akan tertutup seluruhnya. Seolah Saturnus ditelan oleh kegelapan Sang Dewi Malam

kemudian muncul kembali dari sisi cerlangnya siang di wajah Rembulan.

 

Catatan:

Untuk daerah Jayapura, Saturnus menghilang di balik Bulan kisaran 2 jam

(23:54:26 WIT s.d 01:57:34 WIT)

Untuk Surabaya, pukul 21:22:49 WIB s.d 22:18:42 WIB.

Untuk Yogyakarta, pukul 21:17:31 WIB s.d 22:12:03 WIB 

(Ref.: Animasi Stellarium 0.12.4, Mohon dikoreksi berbasis koordinat pengamat pada program).

 

 Gambar 7

Konjungsi antara Saturnus dan Bulan pada hari Minggu, 8 September 2019 (22:35 WIB).

Bulan yang bergeser lebih cepat ke timur perlahan tampak meninggalkan Saturnus.

Warna invert. Posisi Pengamat di Jakarta (Ref.: Animasi Stellarium 0.12.4). 

 
 

Gambar 8

Konjungsi antara Venus dan Bulan pada hari Senin, 18 September 2017 pukul 05:35 WIB

yang menimbulkan fenomena okultasi. Kala itu Venus sepenuhnya tertutup oleh piringan Bulan.

Diabadikan di Observatorium Jakarta (Credit: Mila I. Ikhsanti)

 

Renungan Langit

Hadirnya Observatorium Jakarta dengan visi misi yang lebih sebagai “corong suara Astronomi”, lebih pada ranah pendidikan untuk memperkenalkan Observational Science, mencoba mengajak masyarakat beragam kalangan, baik tingkat usia, latar belakang pendidikan dan profesi, atau siapapun yang ingin belajar bersama-sama “membaca” langit, bersama-sama dengan masyarakat luas yang mencoba memahami walau sekedar sezarah pengetahuan tentang Astronomi. Pada kegiatan rutin seperti inilah, Planetarium dan Observatorium Jakarta mencoba memfasilitasi keingintahuan masyarakat maupun melakukan sosialisasi keilmuan dalam ranah sains Astronomi, walau dengan kapasitas khususnya observatorium yang terbatas. Mencoba senantiasa mengajak semua kalangan untuk membuka cadar langit seluas-luasnya demi sezarah karunia-Nya tentang pengetahuan beragam nama benda yang dihamparkan oleh-Nya di segenap pelosok alam semesta.

       Atau dari sisi lainnya, seperti yang acapkali dinyatakan, bahwa itu semua adalah dalam rangka usaha Observatorium Jakarta dan kita semua untuk mendorong terungkapnya dimensi ataupun fenomena yang masih sangat banyak tersembunyi, untuk mencoba belajar menalar realita sebatas domain kerjanya sebagai makhluk yang secara mutlak punya keterbatasan. Selebihnya, tentu terserah kepada kita dalam ranah spiritnya masing-masing, bagaimana kita manfaatkan Astronomi atau sains secara umum sebagai basis, baik berlandas ranah ujud ataupun dataran spirit dan kita aktifkan fungsi transendental kita untuk menggapai Yang Maha Mulia yang ilmuNya dalam ranah Jagad Rana Ganesha Widya Jasa Adiutama tidak tertampung bahkan dalam jagad semesta yang maha luas ini. Pada tahap ini, semoga kita dapat semakin arif menyikapi berbagai isu sains khususnya Astronomi dan justru mungkin saja segala ujaran menjadi tidak bermakna. Karena justru ujungnya, pada satu ranah tertentu adalah feel amazement – rasa syukur dengan segala kerendahan hati karena mendapat kesempatan untuk merasakan penjabaran dan indahnya Science melalui Astronomy sebagai tahapan pencarian sebanyak mungkin bekal di Jagad Buwana (Bumi) dan ber”cermin” pada Widiyuta ing waudadi, wintang ing widik – bintang di laut, bintang di langit – untuk menuju Jagatkamuksan, yang ”keindahan tamannya” tidak akan dapat tertandingi oleh taman manapun di ranah ujud jagad semesta.

       Teringat kata bijak, “Saatnya nanti” tangan dan kaki kitalah yang berbicara. Nyatanya .. kita mewujud dalam alam semesta laksana tangan kaki sebagai bagian dari diri nan rentan ini. Jadi, semoga tidaklah salah kalau sedikit ditambahkan bahwa “Saatnya nanti”, bintang gemintang pun yang akan berembug tentang kita. Mereka “dihadirkan” demi kita, dan apa kira-kira yang mereka beritakan apabila kita tidak berkenan “menyapa”nya. Hadirnya Jagad Semesta termasuk kita didalamnya adalah kebenaran apapun kondisinya.

       Kembali pada rencana peliputan yang akan diagendakan, tentu berharap cuaca cerah sedemikian fenomena ini dapat disaksikan dan tentu tidak menyita waktu kita yang khususnya warga Jakarta, termasuk dalam mencermati wajah kubah langit malam dengan segala pernak perniknya. Fenomena ini semata sezarah hadiah sekaligus tantangan dari Yang Maha Cendekia untuk ditelaah secara ilmiah. Juga merupakan saat yang paling unik dan khas dari rentang hidup manusia untuk sejenak menggugah kembali nuraninya. Merenungkan ke-Maha Besar-an Sang Pencipta Langit dan Bumi dalam segala ragam ciptaan di jagad semesta berikut segala peristiwa yang menyertainya. Semoga denyar gemerlap dan semaraknya lampu lampu kota yang konon membuat indah kota Jakarta, tidak menafikan hadirnya semburat bintang gemintang yang mengajak kita mengembara ke kedalaman keindahan kesejatian insani. Wartya Wiyata Wicitra Withing Wintang Widik Widik (Berita baik nan indah bermula dari kerlap kerlip semburat cahaya bintang gemintang). Selamat menikmati bentang langit malam. Salam Planetarium. –WS– 

 

Referensi

conjunction - encyclopedia;

conjunction - Britannica;

What's a conjunction? | Astronomy Essentials | EarthSky

Software Stellarium 0.12.4;

Tom-Wildoner; dan

Beberapa kutipan dan review artikel-terkait pada situs ini.