Written by Super User

 

Gerhana Matahari
Menyambut Gerhana Matahari 26 Desember 2019

Widya Sawitar dan Mila I. Ikhsanti

 

“Dengan demikian bisa diterangkan kepada rakjat
sebagai tadi dikatakan oleh Saudara Sutami,
Gerhana Bulan itu bukan kok ada Betoro Kolo ngrikiti Bulan, tidak.”

“Misalnja kita ini masih banjak jang ber-gugon tuhon, bertachajul,
mengira bahwa gerhana karena Bulan digrogoti oleh Betoro Kolo”

“Mengira sadja bahwa Gerhana Bulan atau Matahari
bahwa Betoro Kolo sedang nggrogoti Bulan dan Matahari”

Dikutip dari Pidato Bung Karno saat Pemancangan Tiang Pertama
Pembangunan Projek Gedung Planetarium tanggal 9 September 1964.
Catatan:
Ngrikiti : mengerip atau menggigit sedikit demi sedikit.
Gugon tuhon: mudah percaya takhayul

 

 

 

 

Gambar 1
Di India dan Indonesia terdapat cerita rakyat terkait gerhana Matahari
dengan tokoh Batara Kala/Rembu Culung/Rahu/Ketu,
juga tradisi memukul-mukul lesung atau pohon kelapa agar gerhana cepat berlalu.
Inipun dalam cerita rakyat di Indonesia secara lisan (oral tradition) ada 2 versi.
Namun, apabila melihat teks dalam “1981, Manikmaya I, Dept P & K , Jakarta, p.100-104;
manuscript yang diterjemahkan oleh Sri Sumarsih”,
maka bukan Batara Kala yang memakan Matahari/Bulan
melainkan Rembu Culung (Wuluculung).
(Ref.: Sawitar, W., 2015; Illustrator: Ibnu Mukti/POJ)

 

INGAT!
Jangan sekali-kali melihat Matahari ataupun fenomena yang menyertainya
seperti Gerhana Matahari berlama-lama secara langsung.
Berbahaya bagi mata.
Apalagi dengan peranti optis
seperti binokuler (kékeran) atau teleskop tanpa filter khusus.
Dapat membuat gangguan kesehatan mata secara serius
bahkan pada taraf tertentu dapat menyebabkan kebutaan.

 

Sebagian bahasan diambil dari artikel Gerhana Matahari dan Gerhana Bulan (19 Januari 2016, planetarium.jakarta.go.id). Apabila ditelusuri sejarah, baik di Nusantara maupun mancanegara, banyak mitos tentang fenomena gerhana dijumpai. Tentu saja temuan ini menjadi salah satu cara dalam melestarikan kekayaan khasanah budaya manusia pada masa lalu, termasuk dalam menyikapi fenomena Gerhana Matahari yang akan terjadi tanggal 26 Desember 2019, sebagai salah satu bonus fenomena langit pada akhir tahun 2019.

 

Kisah Masa Lalu

Sejak bermillennia yang lalu, berapa makhluk termasuk bergenerasi manusia apapun budayanya yang melihat hamparan langit yang terbentang dengan ragam wajahnya? Apakah mereka melihat Matahari dan Bulan sebagai objek langit yang berbeda-beda? Termasuk fenomena yang menyertainya. Tentu tidak. Matahari yang dilihat di balik dunia, di benua Amerika tentu sama dengan Matahari yang masyarakat kita saksikan. Yang dapat terjadi pada fenomena yang terkait keduanya adalah lahirnya 2 kutub berseberangan, kagum atau takut. Masing-masing mengembara dalam benaknya. Sejenak dapat disimak beberapa mitologi gerhana dari mancanegara.
Mitologi tersebut salah satunya dari ranah India di mana terdapat kisah tentang Raksasa Rahu yang menelan Matahari akibat dendam kesumatnya. Semisal pada kisah Samudramanthan dari India (kompilasi oleh Leena Damle) diceritakan terjadinya pertarungan antara Dev (Dewa) dan Danav (Danawa/Raksasa) memperebutkan Amrit atau nectar (air abadi, objek air abadi ini mirip dengan kisah Bima dalam Dewa Ruci, yang berdasar tugas dari gurunya, Resi Druna, diminta mencari Tirta Prawita, atau sebutan lainnya Tirtha Amrta, Toya Pawitra, Banyu Mahapawitra, Tirtha Kamandanu / Kamandalu).
Ketika Danawa menang, digunakanlah mantera yang dapat menghidupkan balatentaranya yang mati (Sanjeevani Mantra). Sang Dewa mengadukan ke Brahma (Sang Pencipta Alam Semesta) yang lalu disarankan meminta tolong Dewa Wisnu.
Agar tidak saling berebut, Dewa Wisnu menjelma sebagai Dewi Mohini untuk membagi secara adil. Rahu – salah satu Danawa – duduk di antara Dewa Surya (Dewa Matahari) dan Dewa Candra (Dewa Bulan) – menyamar sebagai Dewa. Tatkala mulai minum air kehidupan tersebut, Dewa Surya dan Dewa Candra memergokinya. Tidak menunggu waktu, mereka melapor ke Dewa Wisnu dan saat itu pula langsung memenggal kepala Rahu dengan senjatanya Sudarshan Chakra. Kepala Rahu tetap hidup, sementara tubuh lainnya jatuh. Hal inilah yang membuat Matahari dan Bulan senantiasa diburu oleh Rahu dan terjadilah fenomena gerhana.
Dari Bangladesh pun dijumpai tokoh bernama sama, Rahu dan Ketu (kompilasi Sarker dan Lundock). Pada kisahnya, digambarkan bahwa Rahu gemar menjelajahi dunia bawah tanah (the underworld, Patalpuri) mencari tempat air abadi yang disimpan oleh Mahadewa. Ketika berhasil menemukannya, diketahui oleh Sang Matahari dan Rembulan yang kemudian mengadukannya ke Dewa Wisnu. Hal ini membuat leher Rahu dipenggal dengan pedangnya. Kepala Rahu dibiarkan melayang di langit sebagai hukumannya, sementara bagian tubuh selebihnya yang disebut Ketu diletakkan pada sisi berseberangan (180 derajat).
Masyarakat Bangladesh meyakini Rahu pada posisi Ascending Node dan Ketu pada posisi Descending node (terkait titik nodal, perpotongan lintasan Bulan dengan bidang ekliptika). Jadi ketika Matahari atau Bulan melewati titik ini, diyakini Ketu atau Rahu akan menelan Matahari atau Bulan. Terjadilah gerhana. Walau sejatinya Rahu dan Ketu tidak kasat mata, para astronom masa lalu yakin posisinya menjadi rumah-planet (Graha) dan senantiasa mengikuti pergerakannya di lautan bintang. Semua posisi benda langit ini menjadi tampak ketika terjadi gerhana. Semua itu konon mempengaruhi kehidupan di Bumi.
Dari ranah Jepang pun dijumpai kisah terkait gerhana (kompilasi oleh Takao Ibaraki dan Norio Kaifu). Dahulu kala saat Bumi dan langit terpisah, lahirlah di langit Dewa Izanaki dan Dewi Izanami. Mereka mencipta kepulauan Jepang. Juga banyak dewa termasuk 3 Dewa utama Ama-terasu, Tuku-yomi, dan Susano-o. Izanaki mengamanatkan Ama-terasu, Dewa Matahari untuk mengawasi langit, Tuku-yomi, Dewa Bulan untuk mengawasi langit malam, Susano-o untuk mengawasi lautan.
Saat Izanami berpulang, Susano-o senantiasa menangis dengan suara sedemikian keras membuat pepohonan di hutan mati, raungannya membuat badai terjadi dimana-mana. Tingkahnya membuat luluh lantaknya area persawahan, dll. Ama-terasu tidak sanggup menghentikannya, istananya pun rusak dibuatnya dan lalu bersembunyi di gua langit Ama-no-Iwato dan menutupnya sedemikian dunia menjadi gelap gulita. Keburukan dan bencana pun melanda Bumi.
Para dewa terus berusaha yang salah satunya dengan cara menaruh cermin di depan gua, dan keceriaan Dewi Ame-no-uzume menari di depan gua tersebut membuat Ama-terasu penasaran dan membuka pintu gua. Melihat pantulan dirinya di cermin membuat Ama-terasu bergerak keluar. Saat itulah Dewa Tajikara-o secepatnya menarik tangan Ama-terasu sehingga seluruh tubuhnya kembali keluar gua dan dunia pun kembali terang benderang.
Bagaimana di Indonesia? (Kompilasi Sawitar dan Ferry) Secara umum ceritanya dapat disarikan berikut ini. Pada masyarakat di Jawa Tengah, khususnya, ada tradisi terkait Gerhana Matahari. Masyarakat akan memukul-mukul lesung, kentongan, atau batang pohon kelapa. Lainnya bersembunyi menyelam di sungai, menutup semua celah rumah, menutup semua penampungan air, bersembunyi hingga bahkan ke kolong meja. Lainnya bersembahyang.
Hampir sama terjadi di Bali. Dalam mitologinya dikisahkan bahwa Kala Rahu (or Rembu Culung, Wuluculung) merupakan raksasa yang membantu Batara Indra untuk mencari Tirta Pawitra. Siapapun yang meminumnya akan hidup abadi.
Kala Rahu berhasil menemukan dan mengambilnya dan akan menyerahkannya kepada para dewa. Pada saatnya, ternyata Kala Rahu tidak diijinkan untuk turut meminumnya oleh para dewa. Merasa kecewa, kemudian berusaha keras untuk mencurinya dan berhasil. Namun, kepergok dan membuatnya berusaha kabur ke angkasa ke atas awan.
Lokasi ini justru diketahui oleh Batara Surya (Dewa Matahari) pada siang hari dan oleh Batara Candra (Dewa Bulan) pada malam hari. Kedua dewa inilah yang memberitahukan kepada Dewa Wisnu (Dewa Kebajikan). Seketika itu pula, karena kepergok dan telah diketahui Batara Wisnu, maka diminumlah air abadi tersebut. Sebelum air masuk ke tenggorokannya, leher sang Kala Rahu ditebas senjata Batara Wisnu, Cakra (Cakradeksana).
Kepala Kala Rahu masih terus hidup, tubuhnya jatuh ke Bumi kemudian berubah menjadi lesung. Kala Rahu dendam pada Batara Surya dan Batara Candra, dan terus berusaha untuk menelannya. Namun, walau berhasil (terjadilah gerhana), tetap Dewa Surya dan Dewa Candra berhasil lolos karena begitu ditelan, tidak lama kemudian keluar dari tenggorokan Kala Rahu yang sudah terpotong. Masyarakat yang ketakutan, akhirnya memukul-mukul tubuh Kala Rahu yang jatuh ke Bumi (tubuh ini dalam ujud gong, lesung, kentongan, dsb).
Masyarakat sering menyamakan tokoh Batara Kala dengan Kala Rahu (Rembu Culung), dan sejatinya adalah tokoh yang berbeda. Sementara itu, di Bali lebih dikenal tokohnya bukan Batara Candra, juga bukan Batari Candra, melainkan Batari (Dewi) Ratih. Dikisahkan Dewi Ratih menolak pinangan Kala Rahu, dan kondisi ini membuat semua dewa menjadi resah akan keangkaramurkaan Kala Rahu dan semua meminum air abadi untuk berjaga. Selebihnya alurnya mirip, hanya saja terkait Gerhana Bulan dan bukan Gerhana Matahari.
Nama kedua Batara (Surya, Candra) memang disinggung dalam mitos Gerhana Matahari dan Gerhana Bulan. Inipun dalam cerita rakyat secara lisan (oral tradition) ada 2 versi. Namun, pada manuscript Manikmaya I (Sri Sumarsih), bukan Batara Kala yang menelan Matahari/Bulan melainkan Rembu Culung (Wuluculung). Pada versi Bab VI Adiparwa ada tokoh raksasa (Kala Rahu), anak dari Sang Wipracitti dan Sang Singhika. Terlepas dari adanya variasi ini, maka inilah tinggalan yang luar biasa. Istilah yang ada dalam fenomena Gerhana Matahari Total di Jawa Tengah adalah Bagowong, Pagowong, atau Coblong.
Di tempat lain pun, penulis yakin banyak cerita seputar gerhana dan masih butuh untuk penelusurannya. Sebut semisal dari ranah Bangka dikenal tokoh dan objek yang sebenarnya mirip, contohnya Raksasa Rau – Dewa Surya, Dewa Chandra, Dewa Wisnu – Panah – Telaga Amerta – Kepala Abadi, tubuh ke dalam tanah. Juga alur kisah Sang Dewi yang bersembunyi di balik Dewa Surya dan Dewa Candra. Terjadilah gerhana. Budaya memukul benda-benda (membuat kegaduhan saat gerhana) juga dijumpai. Mitos ini mirip di Bali, dengan tokoh putrinya Dewi Ratih (Dewi Bulan). Atau dari masyarakat Dayak di mana dikenal tokoh Jangkarang Matan Andau. Peristiwa gerhana adalah pertanda sesuatu bagi keberlangsungan hidup manusia (masyarakat Kaharingan – Palangkaraya) dan biasanya dikaitkan dengan suatu pertanda alam bagi (nationalgeographic - mitologi-mitologi-gerhana-di-nusantara)
Ketika masyarakat belahan Bumi lain berbicara tentang fenomena gerhana, muncul pula cerita tentang Naga Langit yang menelan Matahari atau Bulan (ranah Tiongkok). Yang tidak kalah menariknya adalah adanya adat kebiasaan masyarakat tertentu yang begitu beraneka ketika gerhana terjadi. Hal ini sebenarnya adalah cerminan rasa ketakutan psikologis, mungkin juga harapan akibat kepercayaan terhadap mitos gerhana. Namun, ada pula yang justru menganggap hal ini sebagai satu karunia yang dapat memperkuat kesejatian dirinya di luasnya Jagad Semesta.
Memang unik apabila menyimak tingkah flora dan fauna saat Gerhana Matahari Total (GMT). Hewan malam (nokturnal) seperti tarsius, kukang, kelelawar pun terpengaruh. Atau berlaku sebaliknya, makhluk siang seketika bersembunyi tatkala siang cerah mendadak gelap laksana malam. Banyak burung yang berhenti bernyanyi saat GMT. Kini banyak aspek yang para ahli lakukan untuk menanggapi peristiwa gerhana baik dari sisi iptek maupun seni budaya.

 

Gerhana Matahari

Dalam sains Astronomi, gerhana merupakan gejala alam biasa yang berulang akibat sifat edar Bumi dan Bulan terhadap Matahari. Gerhana merupakan gejala saling menutupi antar benda langit. Bulan bergerak di kubah langit di antara kedua belahan langit di sepanjang daerah Zodiak dan demikian pula Matahari. Jadi, suatu saat mereka berdua saling bertemu. Dengan kata lain, pada suatu waktu Bulan lewat di depan Matahari dan menutupinya, maka terjadilah Gerhana Matahari (fase Bulan Mati atau konjungsi). Jenis Gerhana Matahari adalah Gerhana Matahari Total (GMT), Gerhana Matahari Cincin (Annular/GMC), atau Gerhana Matahari Sebagian (Partial/GMS).

 

Sekali lagi mengingatkan, untuk melihat secara langsung maupun melalui peranti optis fenomena GMS dan GMC, wajib menggunakan filter khusus (ND5). Pada GMT pun sejatinya akan melalui proses tertutup sebagian terlebih dahulu, baru kemudian fase total, dan diakhiri juga dengan tahapan gerhana sebagian. Jadi, pada prosesnya tetap wajib menggunakan filter Matahari.

 

Tatkala Bulan ber-oposisi terhadap Matahari (Bumi diapit Matahari dan Bulan, fase purnama), Bulan dapat memasuki bayang-bayang Bumi, sehingga terjadi Gerhana Bulan. Jenisnya adalah Gerhana Bulan Total (GBT), Gerhana Bulan Sebagian (GBS), atau Gerhana Bulan Penumbra (samar/GBP).


Gerhana Matahari Total

Kita ketahui bahwa Bumi dan Bulan tidak bercahaya sendiri. Jadi, saat mendapat cahaya Matahari keduanya memiliki bayang-bayang. Bentuk bayangannya berupa kerucut karena ukuran Matahari jauh lebih besar. Pada bayangan itu terdapat daerah gelap (umbra) dan bagian samar (penumbra). Ketika terjadi Gerhana Matahari, bayangan Bulan jatuh ke permukaan Bumi dan bergerak sepanjang daerah tertentu yang disebut daerah lintasan atau jalur gerhana yang terdiri atas jalur gerhana total dan gerhana sebagian. Daerah GMT dilalui oleh bayangan umbra Bulan dan daerah GMS hanya dilalui oleh bayangan penumbra. Tempat yang mengalami gerhana berbeda dari satu kejadian ke kejadian berikutnya, akibat dari sistem peredaran Bumi terhadap Matahari dan peredaran Bulan sebagai satelit Bumi.
GMT merupakan fenomena yang istimewa dibandingkan dengan Gerhana Matahari lainnya maupun Gerhana Bulan. Hal ini karena sifat kejadiannya yang ekstrem. Tidak terbayangkan masyarakat sejak ribuan tahun lalu mendapati siang hari yang terang benderang mendadak menjadi laksana malam dengan taburan bintang di kubah langit. Memang hal ini tidaklah berlangsung lama, bahkan paling lama hanya sekitar 7 menit saja. Kini bahkan banyak sekali yang dapat dipelajari dari peristiwa GMT, antara lain: penampakan korona, lapisan kromosfer, prominensa hingga flare di permukaan Matahari. Terjadinya gerhana disertai pula oleh peristiwa pasang surut laut maksimum akibat letak Matahari, Bulan, dan Bumi yang praktis segaris. Juga perilaku makhluk hidup yang berubah termasuk manusianya sendiri dalam runutan budaya ketika menanggapi peristiwa unik ini. Juga dampak perubahan cuaca di jalur GMT. Bidang keilmuan Mekanika Benda Langit pun dapat diuji karena biasanya peristiwa ini telah dirunut dan diturunkan secara matematis sejak puluhan tahun sebelumnya, termasuk ketepatan kalender berbasis Bulan. Banyak lagi telaah sains yang dapat dilakukan, termasuk dalam ranah budaya semisal cerita rakyat terkait GMT.


Gerhana Matahari Cincin

Untuk jenis gerhana lainnya adalah GMC, yang terjadi apabila puncak kerucut bayangan umbra Bulan tidak mencapai muka Bumi (menggantung di angkasa). Hanya bayangan antumbra (lihat gambar 2). Hal ini dapat terjadi karena jarak Bumi-Bulan berubah-ubah, sesuai jalur edar Bulan yang berbentuk elips (kadang dekat, kadang jauh dari Bumi). Pada saat GMC, bulatan Bulan di kubah langit tampak lebih kecil dibandingkan dengan ukuran piringan Matahari. Namun, peristiwa ini dulu tidak disadari karena belum adanya filter Matahari. Sama halnya dengan GMS yang hanya dapat dilihat dengan menggunakan filter khusus. Namun, apabila sekedar melihat keanehan proyeksi cahaya Matahari ketika terjadi gerhana (lihat gambar 3) – seharusnya fenomena GMS dan GMC telah disadari sejak ber-millennia yang lalu.

 

Gambar 2
Proses terjadinya Gerhana Matahari Cincin
(Ref: https://www.timeanddate.com/eclipse/annular-solar-eclipse.html)

 

Gambar 3
Bayang-bayang fenomena Gerhana Matahari yang terbentuk oleh celah dedaunan
Kiri: Ref.: Stephan Heinsius (apod.nasa.gov-apod-ap100123)
Kanan: Ref.: F. Espenak (mreclipse.com-SEphoto-TSE2017-TSE2017-W7028)

 

Siklus Gerhana

Kembali pada masalah mekanisme gerhana bahwa fase Bulan berulang rata-rata dalam 29,5 hari (1 bulan sinodis; misal purnama ke purnama berikut). Tidak setiap Bulan Mati terjadi Gerhana Matahari, begitu pula tidak setiap Bulan Purnama terjadi Gerhana Bulan. Hal ini karena bidang orbit Bulan membentuk bidang miring (5,20) terhadap bidang ekliptika (bidang orbit Bumi). Perpotongan dua bidang tersebut membentuk garis nodal (titik potong lintasan dengan bidang adalah ascending dan descending node) yang berputar ke arah barat dalam periode 18,6 tahun (periode nutasi Bulan).
Kedudukan Matahari dekat sebuah titik nodal disebut musim gerhana, yang berulang setiap 173,3 hari. Kombinasi periode ini berulang setiap 18 tahun 11,3 hari yang disebut periode Saros. Setiap perulangan periode Saros, wilayah lintasan gerhana di Bumi bergeser tempatnya karena harga periode ini tidak bulat. Jika musim gerhana pertama di bulan Januari, maka Gerhana Matahari dapat terjadi sebanyak 5 kali dalam satu tahun. Jumlah maksimum seluruh jenis gerhana per tahun hanya 7 kali.
Kapan terjadi Gerhana Matahari dan Gerhana Bulan dapat dihitung jauh hari sebelumnya, karena sistem gerak 3 benda tersebut telah diketahui. Data Gerhana Matahari tahun 2016 hingga 2023 dapat lihat Tabel 1.

 

Tabel 1

Gerhana Matahari Tahun 2016 - 2023

 

 

Gerhana Matahari Cincin (GMC) 26 Desember 2019 di Indonesia

Pada hari Kamis tanggal 26 Desember 2019, masyarakat Indonesia dapat menyaksikan Gerhana Matahari Cincin atau Gerhana Matahari Parsial tergantung dari lokasi pengamat. GMC dapat disaksikan mulai dari daerah Padang Sidempuan (Sumatera Utara), Batam (Kepulauan Riau), Singkawang (Kalimantan Barat), sebagian Kalimantan Utara, dan Kalimantan Timur. Sedangkan sebagian besar daerah lain, termasuk Jakarta, hanya akan menyaksikan GMS.
Kembali pada fenomena yang akan terjadi bahwa fase cincin pada GMC adalah wilayah yang dilalui oleh bayangan antumbra (lihat gambar 2), yaitu perpanjangan proyeksi dari umbra (bayangan utama) di mana Bulan tepat berada di depan Matahari tetapi piringannya tampak lebih kecil, tidak menutupi piringan Matahari. Sementara itu, fase parsial/sebagian seperti yang akan terjadi di Jakarta adalah wilayah yang dilalui penumbra. Tampak piringan Bulan hanya menutupi sebagian piringan Matahari.
GMC kali ini merupakan gerhana kategori Siklus Saros 132, yaitu gerhana ke 46 dari total 71 kali gerhana (yang pertama 13 Agustus 1208). Berikutnya, yang ke 47 akan terjadi 5 Januari 2038 dan yang ke 71 (terakhir) tanggal 25 September 2470.
GMC secara global melewati wilayah Eropa bagian timur, sebagian besar Asia, Australia barat daya, Afrika timur, Samudra Pasifik, Samudra Hindia; dan lokasi puncak GMC pada koordinat 01°LU 102,3°BT (dekat Sungai Apit, Mengkapan, Provinsi Riau).

 

Gambar 4

 

 Gambar 5

 

Sesuai prediksi, jalurnya seperti pada gambar 4, 5, dan 6 (4: garis biru; 5 garis merah tua; 6: garis biru tua adalah jalur sentral GMC, Ref.: xjubier.free - solar_eclipses - 20191226).

Gambar 6
ACEH: Singkil; SUMUT: Sibolga, Padang Sidempuan, Sipirok, Tarutung, Silabu, Singkuang, Nias Utara; RIAU: Pasir Pangaraian, Sontang, Bonai, Ujungtangjung, Duri, Minas, Dumai, Siak, Dayung, Pulau Bengkalis, Pulau Rangsang, Pulau Karimun Besar, Pulau Kundur; KALBAR: Singkawang, Pemangkat, Sambas, Momong, Ledo, Pangsi, Serimbu, Kembayan, Taman Nasional Danau Sentarum, Putusibau, Taman Nasional Betung Kerihun; KALTARA: Makulit, Lasan, Basahan; KALTIM: Tumbit, Pulau Maratua, Pulau Samama.

 

Sementara itu, beberapa lokasi yang dapat melihat fase cincin di Indonesia adalah:

1. Padang Sidempuan         Sumatera Utara
2. Duri Riau
3. Batam                           Kep. Riau
4. Singkawang                   Kalimantan Barat
5. Pemangkat                    Kalimantan Barat
6. Sebagian Provinsi Kalimantan Utara dan Kalimantan Timur

Untuk wilayah Batam tampak pada gambar berikut:

Gambar 7
Pulau Batam, Pulau Rempang, Pulau Galang, Pulau Bintan,
Tanjung Pinang, Pulau Sugi, Pulau Bulan.

 

 

 

Gambar 8
Ilustrasi tahapan penampakan terjadinya Gerhana Matahari Cincin.
Di Jakarta hanya GMS seperti gambar 8a dan 8e.
Untuk jalur seperti pada gambar 7, bahwa daerah kawasan biru mengalami GMC
dengan penampakan seperti gambar 8b, 8c, dan 8d.
Adapun jalur garis biru adalah sentral GMC atau seperti gambar 8c.

 

Persentase tertutupnya piringan Matahari antara di Batam dan Jakarta adalah:

 

Tabel 2

 

Perkiraan waktu tahapan gerhana, ada pada tabel berikut:

 

Tabel 3

Durasi total gerhana di Batam        :       3 jam 51 menit
Durasi fase cincin di Batam            :       3 menit 15 detik
Durasi total gerhana di Jakarta       :       3 jam 40 menit

 

Beberapa Fakta Terkait

1. Jarak Benda Langit dari Bumi

   

     Bulan – Bumi : 378.288,716 km

Perigee tanggal 18 Desember 2019 (8 hari setelah gerhana)
Apogee tanggal 2 Januari 2020 (7 hari sebelum gerhana)

 

    Matahari – Bumi : 147.122.000 km

Aphelion tanggal 5 Juli 2019 (174 hari setelah gerhana)
Perihelion tanggal 5 Januari 2020 (10 hari sebelum gerhana)

 

2. Diameter Tampak atau diameter sudut

 

Matahari : 0o 32’ 32”
Bulan : 0o 31’ 34”

Terlihat bahwa diameter sudut Bulan lebih kecil dari Matahari yang membuat terjadinya GMC.

 

3. Gerhana Matahari Sebelum dan Sesudah

a. Gerhana Matahari Sebelumnya (global)

i. Parsial : 6 Januari 2019

Asia timur dan Samudra Pasifik

ii. Cincin : 1 September 2016

Asia selatan, Australia barat, sebagian besar Afrika, Samudra Atlantik dan Hindia, Antartika

b. Gerhana Matahari Selanjutnya (global)

i. Cincin : 21 Juni 2020

Sebagian Afrika, Pakistan selatan, India utara, dan Cina

c. Gerhana Matahari Sebelumnya di Indonesia

i. Parsial : 1 September 2016

Sebagian Pulau Jawa

ii. Total : 9 Maret 2016

Sebagian Pulau Sumatera, Kalimantan, dan Sulawesi

iii. Cincin : 26 Januari 2009

Selat Sunda

d. Gerhana Matahari Selanjutnya di Indonesia

i. Partial : 21 Juni 2020

Indonesia bagian utara

ii. Total : 20 April 2023

Sebagian Papua bagian barat

iii. Cincin : 21 Mei 2031

Sebagian Pulau Kalimantan dan Sulawesi bagian tengah

e. Gerhana Matahari Sebelumnya di Jakarta

i. Parsial : 1 September 2016

ii. Cincin : Belum pernah sepanjang abad ini

f. Gerhana Matahari Selanjutnya di Jakarta

i. Parsial : 20 April 2023

(di Indonesia: Hybrid Solar Eclipse: Total dan Cincin sekaligus yang melewati jalur Timor hingga Biak)

 

Perkiraan Cuaca

Berdasarkan prediksi cuaca bahwa wilayah Batam berbasis hasil statistik dari persentase tingkat awan di sepanjang garis tengah jalur GMC memiliki kesempatan cukup baik dalam syarat observasi langit, serta hari berhujan yang kecil (berbasis pemilihan lokasi yang didata dari wilayah Sibolga – Sumatera Utara hingga Singkawang – Kalimantan Barat). Rentang waktu puncak gerhana dan obskurasi pun memiliki nilai yang termasuk sangat baik, yaitu mencapai 94%.
Seperti halnya pada kegiatan peneropongan yang telah diadakan sebelumnya, kegiatan peneropongan GMS kali ini juga akan menyesuaikan dengan kondisi cuaca. Jika cuaca mendung dan hujan, maka kegiatan peneropongan dibatalkan karena sejatinya Matahari tidak akan dapat terlihat. Sehingga masyarakat dihimbau untuk melihat dan mempertimbangkan kondisi cuaca sebelum menuju lokasi pengamatan.

 

Tabel 4

 

 

Gambar 8

 

Planetarium dan Observatorium Jakarta

Terkait dengan fenomena tersebut, Planetarium dan Observatorium Jakarta sebagai pusat pendidikan sains Astronomi akan mengadakan Penelitian, Pengamatan, dan Peliputan Umum GMC maupun GMS serta pembagian 5.700 buah kacamata Matahari untuk mengamati fenomena ini kepada masyarakat secara gratis.
Berdasarkan syarat observasi Astronomi dan pengalaman bahwa kegiatan ini sangat baik untuk pembelajaran bagi masyarakat luas pada bidang sains Astronomi maupun bidang terkait lainnya termasuk kaidah pendidikan sains. Secara observasi, fenomena yang terlihat yang akan terjadi berbeda antara daerah yang mengalami GMC dan GMS. Selain itu, berdasarkan waktu terjadinya, fenomena berlangsung relatif tidak terlalu pagi ataupun sore sedemikian tahapan gerhana dari awal hingga akhir secara matematis akan dapat dipantau dan dengan dampak kemungkinan besar disaksikan oleh masyarakat luas termasuk siswa yang saat kejadian berada dalam masa liburan.
Lokasi observasi direncanakan dibagi di dua tempat. Pertama, di kawasan Pusat Kesenian Jakarta Taman Ismail Marzuki, yaitu pengamatan GMS. Kedua, dilakukan di jalur GMC, yaitu dengan target di Batam – Kepulauan Riau.
Untuk rencana target di jalur GMC, Planetarium dan Observatorium Jakarta bekerja sama dengan Himpunan Astronomi Amatir Jakarta (HAAJ) untuk melakukan ekspedisi pengamatan di kota Batam dan sekitarnya di Kepulauan Riau berbasis swadana penelitian. Namun, untuk sementara pengamatannya bersifat undangan, khususnya tenaga dan peserta didik, serta komunitas terkait. Walau demikian, tetap diusahakan untuk terbuka bagi masyarakat umum. Karenanya, pada prosesnya, Planetarium dan Observatorium Jakarta, seperti yang selama ini dilakukan, akan menjalin kerjasama dengan jajaran pemerintah daerah setempat, yaitu Dinas Kebudayaan dan Pariwisata, Dinas Pendidikan, ataupun dengan instansi atau komunitas terkait yang secara bersama mengadakan kegiatan di lokasi observasi, termasuk dengan tenaga dan peserta didik, ataupun masyarakat lokal.
Untuk pengamatan di Planetarium dan Observatorium Jakarta, masyarakat cukup datang ke Planetarium dan Observatorium Jakarta pada tanggal 26 Desember 2019 mulai pukul 07.00 WIB. Setiap orang hanya mendapatkan satu kacamata selama kuota tersedia. Selain kacamata Matahari, Planetarium dan Observatorium Jakarta akan menyediakan teleskop 10 (sepuluh) buah yang dilengkapi filter Matahari dan didampingi oleh astronom, tenaga ahli, dan staf Planetarium dan Observatorium Jakarta. Namun, terkait dengan berlangsungnya kegiatan revitalisasi kawasan Pusat Kesenian Jakarta Taman Ismail Marzuki, maka pendaftaran dan lokasi kegiatan akan disesuaikan dengan kondisi di lapangan dan akan diinformasikan kemudian.

 

Gambar 9
Revitalisasi kawasan Pusat Kesenian Jakarta TIM.

 

Selain itu, terkait data saintifik dan observasi, Planetarium dan Observatorium Jakarta telah dan akan bekerjasama dengan LAPAN khususnya Pusat Sains Antariksa LAPAN Bandung, Program Pendidikan dan Kelompok Keahlian Astronomi ITB Bandung, Observatorium Bosscha ITB, Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika, Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia, juga komunitas astronomi yang antara lain Himpunan Mahasiswa Astronomi (Himastron) ITB Bandung, Himpunan Astronomi Amatir Jakarta (HAAJ), Forum Pelajar Astronomi (FPA), Forum of Scientist Teenagers (FOSCA), Forum Guru Astronomi DKI Jakarta, Langitselatan.com, Universe Awareness (UNAWE), dan banyak lagi lembaga terkait dunia sains.
Kegiatan ini juga dapat menjadi ajang peningkatan ke-ilmu-an khususnya Astronomi bagi staf Planetarium dan Observatorium Jakarta itu sendiri dengan penelitian ilmiah secara terbatas yang pada gilirannya akan disebarluaskan pula hasilnya kepada masyarakat, khususnya terkait orisinalitas data berbasis penelitian mandiri yang berguna khususnya untuk para siswa olimpiade sains bidang Astronomi dan sains secara umum. Adapun kegiatan dengan jangkauan yang lebih luas akan membuat kiprahnya dapat lebih dikenal.

 

Gambar 10
Gerhana Matahari Sebagian (Astrofotografer: Ronny Syamara/POJ)

 

Gambar 11
Pengamatan Gerhana Matahari Menggunakan Metode Proyeksi Celah Kecil (Pinhole)
(Sumber: Berbagai situs dan dokumentasi POJ)

 

12.a

12.b

12.c

12.d

Gambar 12
Ragam metode dan situasi pengamatan Matahari dan GMS 9 Maret 2016 di Planetarium Jakarta
(Ref.: Dokumentasi POJ)

 

13.a

13.b

13.c

13.d

13.e

Gambar 13
Suasana Penyuluhan, Workshop, dan Observasi GMT 9 Maret 2016 di Palu – Sulawesi Tengah
bersama aparat pemda setempat dan masyarakat lokal.

 

 

Fenomena GMC kali ini memang terjadi pada saat musim penghujan. Namun, tentu berharap cuaca cerah sehingga GMC/GMS dapat disaksikan dengan segala pernak perniknya. Fenomena ini semata hadiah sekaligus tantangan dari Yang Maha Cendekia untuk ditelaah secara ilmiah. Juga saat yang paling unik dan khas dari rentang hidup manusia untuk sejenak menggugah kembali nuraninya. Merenungkan ke-Maha Besar-an Sang Pencipta dalam segala ragam ciptaan di Jagad Semesta berikut dengan segala peristiwa yang menyertainya. Seandainya tokh mendung ataupun bahkan hujan, tentu menjadi sebuah hikmah tersendiri mengapa kita tidak diberi karunia untuk menyaksikannya. Pada fenomena seperti ini, bagi umat Muslim biasanya melaksanakan shalat gerhana sekaligus memohon ampunan-Nya. Silakan menikmati kubah langit. Salam Astronomi. –WS–

 

 

Daftar Pustaka

Sawitar, W., 2008, Constellations: The Ancient Cultures of Indonesia, in Shuang-Nan Zhang, Yan Li, Qingjuan Yu, and Guo-Qing Liu (eds), Proceedings of the 10th Asian–Pacific Regional IAU Meeting 2008, China Science & Technology Press, Beijing, p.409-410

Sawitar, W., 2009, Star and the Universe: The Ancient Cultures of Indonesia, “Stars of Asia Workshop” at National Astronomical Observatory of Japan – Mitaka – Tokyo

 

 

Situs

https://eclipsophile.com/annular-solar-eclipses/ase2019/

https://eclipse.gsfc.nasa.gov/solar.html

https://eclipse.gsfc.nasa.gov/SEgoogle/SEgoogle2001/SE2019Dec26Agoogle.html

https://eclipse.gsfc.nasa.gov/SEsaros/SEsaros132.html

https://nationalgeographic.grid.id/read/13303945/mitologi-mitologi-gerhana-di-nusantara?page=all

https://www.fourmilab.ch/earthview/pacalc.html

https://www.saao.ac.za/public-2/viewing-the-sky/sun/perihelion-aphelion-equinoxes-and-solstices-2004-2020/

https://www.timeanddate.com/eclipse/

https://www.timeanddate.com/eclipse/annular-solar-eclipse.html

https://xjubier.free.fr/en/site_pages/solar_eclipses/xSE_GoogleMap3.php?Ecl=+20191226&Acc=2&Umb=1&Lmt=1&Mag=1&Max=1

dan situs yang disebut dalam artikel.

 

 

Peranti Lunak

 

Stellarium 0.19.1

Starry Night Pro Plus 6

 

 

Category: