Written by Widya Sawitar

User Rating: 0 / 5

Star InactiveStar InactiveStar InactiveStar InactiveStar Inactive
 

Bumi dan Jagad Semesta
Sekilas Tinjauan Sejarah Yunani Kuno

Bagian Pertama
oleh
Widya Sawitar

 

How the gods and earth arose at first
And rivers and the boundless swollen sea
And shining stars, and the broad heaven above
(https://www.ancient.eu/Theogony/)

 

Tahap mitos di Yunani memudar menjelang era Masehi. Gagasan fisika-matematis mulai mencuat. Dasar geometri sebagai peranti penjelas gerak benda langit semakin mapan. Tidak lagi bertumpu pada mitos leluhurnya. Namun, paham geosentris masih dominan di mana Bumi dianggap pusat jagad semesta.

 

Era Transisi Keilmuan

Sejarah budaya Yunani sejatinya masih banyak yang belum terkuak, termasuk bidang Astronomi. Mitos penciptaan mungkin dari leluhur di Mynoan dan Mycenaean (Mesir) bermilenia sebelumnya. Budaya Hindu, Mesopotamia, Mesir, dan Asia Jauh turut mengisi kisahnya. Kejayaannya bermula dari adanya sastra kepahlawanan Iliad dan Odyssey dari Homer, juga Works and Days buah karya Hesiodos di mana kepopulerannya dapat bersanding dengan Mahabharata dan Ramayana.

Karya Homer masih kental imajinasinya pada makhluk seperti Pegasus (Kuda Terbang), Centaurus, dan sebagainya. Namun, batas kehidupan antara manusia dengan ranah antah berantah tersebut sudah jelas. Manusia bukan dewa, dan dewa pun memiliki keterbatasan. Sifat dewa tidak lain pengejawantahan keinginan atau sifat manusia itu sendiri. Kisahnya berpijak pada drama keseharian. Katakan, usaha ini adalah memanusiakan manusia itu sendiri, positif atau negatif. Adapun dalam karya Hesiodos, sudah dikaitkan dengan kalender. Contohnya petani yang bercocok tanam menabur benih saat gugus bintang Pleiades menghilang di langit malam (di Indonesia, Lintang Waluku jadi patokan). Atau mulai panen saat Pleiades terbit pada awal malam. Uniknya, pada karya lain, Theogony, penuturan kisahnya secara mitologi justru lebih terasa, yaitu munculnya tokoh seperti Eros, Gaia (Bumi), Uranos (Langit), atau figur Olympos lainnya.

Usaha untuk mengurai fenomena alam perlahan dilakukan terintegrasi antara rasio dan rasa. Pertanyaan apa dan mengapa, relasi sebab dan akibat, pencarian pola khusus dan umum menjadi basisnya. Pada eranya, inilah yang mencuat pada budaya Yunani (Ionian) dan tentu dapat dianggap sebagai revolusi pemikiran yang memang lebih mencuat dibandingkan dengan budaya sebelumnya, termasuk dibandingkan dengan budaya wilayah sekitarnya. Namun, inipun baru mulai sekitar tahun 1.000 SM dan dapat dikatakan bahwa pada era itu budaya Yunani mengalami masa transisi dari mitos murni ke gagasan ilmiah, beranjak dari ranah filosofis (kualitatif), kemudian dibarengi ide matematis (kuantitatif). Memang diakui bahwa sulit memisahkan keduanya (bahkan dalam beberapa kasus, hingga kini campuran keduanya, mitos dan ilmiah, masih ada, sebut masih muncul takhayul).

 

Mitologi Penciptaan Semesta

Bila kita sarikan dan kutip bahasan Wasson (2017) tentang Theogony karya Hesiod, dikisahkan tentang bagaimana terciptanya alam raya yang berawal dengan tuturan “give me sweet song” kepada para dewinya (muses, 9 dewi seni dan sains).

How the gods and earth arose at first
And rivers and the boundless swollen sea
And shining stars, and the broad heaven above
And how the gods divided up their wealth
and how they shared their honours, how they first
Captured Olympus with its many folds.

Para dewa membahas suasana Chaos dan bagaimana dari kekacauan itu justru lahir siang dan malam, juga tampilnya dewi Bumi (Gaia) dan dewa langit (Ouranos / Uranus) serta para putranya seperti Eros (Kasih Sayang), Tartarus (Dunia Bawah), Erebus (Kegelapan), dan Nyx (Malam). Namun, selanjutnya dari Nyx terbentuklah Malapetaka, Mimpi, Perselisihan, Rasa Salah, dan Alam Tidur, termasuk Takdir dan Nasib. Sifat dewa nyata sebagai citra manusia itu sendiri;

who track down the sins of men and gods,
and ever cease from awful rage
Until they give the sinner punishment.

Namun, dari Gaia dan Ouranos lahirlah Kronos yang bengis, yang pada waktunya menjadi musuh ayahnya sendiri. Semua “anak” Bumi dan Langit – yang sangat terkenal dengan sebutan Titan – nyatanya dibenci oleh ayah mereka sejak kelahirannya. Setiap anak yang lahir, Ouranos akan membawanya ke “dasar” Bumi. Namun, sang ibu yang teramat sedihnya akhirnya merencanakan penyelamatan. Suatu malam, saat Ouranos mendekati istrinya, Kronos yang bersembunyi lalu muncul dan mengambil sabit berbilah panjang hadiah dari ibunya dan melumpuhkan ayahnya. Darah yang menetes melahirkan Furies dan para raksasa. Bagian tubuh Ouranos yang terpotong dibuang ke laut yang lalu lahirlah Aphrodite, sang dewi cinta (Romawi: Venus). Catatan: Fury layaknya spirit dalam penghukuman, sering diwakili sebagai satu dari tiga dewi yang mengeksekusi kutukan yang diucap pada penjahat, menyiksa hati nurani yang bersalah, dan penyebab kelaparan dan wabah penyakit sebagai bayaran kejahatan.

Mitologi kompilasi Wasson ini nyatanya bertahan bermillennia. Uniknya, saat budaya di wilayah lain masih erat dengan mitos, di Yunani jelang era masehi mulai bertransisi ke ranah ilmiah. Tidak lagi menyebut dunia dewa sebagai “sebab” atau “mengadanya” jagad semesta dengan semua fenomena penyertanya.

 

Kepeloporan Thales dari Miletos

Perlahan, peran dewa dewi di atas mulai surut dalam penjelasan akan fenomena alam. Diawali Thales (624/5 – 546/8 SM) dari Miletos. Memang, banyak yang menganggap bahwa dia hanya mewarisi teorinya berbasis hasil pendahulunya (Yunani dan Near-Eastern). Namun, banyak ahli membantah. Thales dihargai sebagai pemikir orisinal dan tidak terikat tradisi dan bukan penganut mitologi. Salah satu yang mendukung hal ini adalah Aristoteles, khususnya tentang hipotesis terkait dengan sifat materi. Hal ini mirip dengan hadirnya takhayul yang populer di Indonesia bahkan hingga era yang konon disebut era millennial sekarang ini.

Kisah Homer yang sangat terkenal pun tidak membuat Thales mengikuti kaidah pemikiran yang tersirat. Apapun yang terjadi di alam semesta baginya tidak terkait dengan mitos yang beredar kala itu semisal hadirnya air yang dikaitkan dengan dewa Oceanus dan Tethys. Bagi Thales hanya disebutkan merupakan materi utama/dasar pengisi alam dengan sifat yang merangkum semua sifat materi yang ada (the nature of all things). Tidak ada imbuhan lainnya, dan sangat berbeda dari kisah yang ada kala itu, sehingga ketokohannya pun menjadi unik dan mengemuka. Aristoteles menganggap belum pernah terjadi pada era sebelumnya. Pandangan Thales tidak kuno dan “primitif”. Idenya baru, menarik, dan menonjol pada pandangan tentang hadirnya alam semesta. Ini salah satu pengakuan Aristoteles yang baginya Thales adalah the founder of natural philosophy.

Gambar 1 Thales
(https://www.ancient.eu/img/r/p/500x600/934.jpg?v=1485682866)

 

Dasar Matematika, khususnya Geometri berkembang sejak Thales yang mulai mencari elemen dasar pembentuk jagad raya. Konsepnya, segala sesuatu yang eksis “mengada” karena adanya elemen dasar (prime matter) atau prinsip dasar (fisis), dan sebagai akibat dari suatu aksi dari keberadaan gaya alam yang beragam. Dalam hal ini Thales beranggapan bahwa air adalah elemen dasarnya. Inilah yang menjadi asal muasal pergerakan dan perubahan (evolusi). Hasil ini berdasar pengalamannya mengembara ke Mesir dan melihat siklus dan kaitan antara Sungai Nil dengan pola kehidupan di tepiannya. Sekaligus dinyatakan bahwa alam semesta ada awalnya dan bukan perbuatan dewa. Perjalanannya ke Mesir dan Babylonia tidak lain dari keinginannya untuk mempelajari Geometri dan Astronomi. Dalam kasus ini artinya bahwa di Mesir dan Babylonia, kedua ilmu tersebut pada batas tertentu sudah lebih maju. Namun, pembuktian bahwa keliling lingkaran sebanding dengan jari-jari merupakan hasil eksperimennya. Juga pembuktian bahwa besar sudut di alas dari sebuah segitiga samakaki adalah sama besar.

Mark (2009) menyebut bahwa Thales secara luas dianggap sebagai filsuf dan ahli matematika Barat yang pertama. Miletus/Miletos adalah tempat yang kini di pantai barat Turki. Sang filsuf ini terkenal akan alur perhitungannya yang akurat dalam menentukan terjadinya Gerhana Matahari dan terbukti sesuai prediksinya, yaitu saat terjadi tanggal 28 Mei 585 SM. Thales dikenal baik sebagai astronom, geometer (pakar geometri), negarawan, dan sang bijak. Pertanyaan mendasar yang dianggap pemikiran besarnya adalah saat mempertanyakan “Elemen dasar apa yang menyusun alam semesta?” Bagi Aristoteles, “Sebab Pertama” dari Thales adalah air karena dapat berubah bentuk dan bergerak tanpa mengubah substansi dasarnya. Memang diakui bahwa tidak ada catatan tertulis tentang hal ini dan ide lainnya, juga kehidupannya, kecuali dari penuturan atau karya filsuf setelahnya.

 

Jejak Karya Thales

Dalam penyelisikan memang diakui banyak pihak bahwa keraguan selalu ada tentang apakah Thales mewarisi karya tulis, atau hanya arsip muridnya (O’Grady, dalam https://www.iep.utm.edu/thales/). Sejumlah manuscript kuno memuat pujian dari generasi sesudahnya atas hasil pemikirannya (artinya, sebenarnya ada karya tinggalannya atau bahkan karya tulis tersebut). Simplicius menyatakan bahwa ada arsipnya dengan tema Nautical Star-guide (catatan: tentang navigasi bintang). Diogenes Laertius sempat meneliti dan meragukan keaslian gagasannya, tetapi pada sisi lain mengakui adanya karya Thales yang dia akui, yaitu On the Solstice (catatan: Titik Balik Matahari) dan satu lagi On the Equinox (catatan: awal musim panas). Hesychius mencatat bahwa Thales menulis tentang objek langit khususnya pada On the Equinox dan banyak lagi topik lainnya. Callimachus menyatakan bahwa Thales memakai Ursa Minor sebagai navigasi. Catatan: umumnya sebagai petunjuk arah utara, sementara itu penulis menjumpai bahwa yang populer pada budaya manca negara untuk arah mata angin di lintang utara adalah Ursa Major. Namun, untuk penggunaan Ursa Minor, sejatinya sangat dimengerti. Pada Ursa Minor, bintang yang dipakai adalah Polaris dan pasti dari lokasi pengamat bahwa bintang tersebut selalu ada karena tergolong sirkumpolar, yang tidak pernah terbenam, bahkan menjadi sentral gerak harian bintang. Posisi sepanjang waktu selalu tetap. Sebagai patokan, hal ini mirip seperti pengarahan pembangunan Candi Borobudur yang diduga kuat memakai bintang yang sama walau lebih ke ranah spirit berbasis budaya di India. Hal ini karena secara fisik tidak mungkin terlihat).

Diogenes mengisahkan penyair bernama Choerilus yang menyatakan bahwa Thales “was the first to maintain the immortality of the soul” dan dalam karyanya berjudul De Anima, ada pernyataan dari Aristoteles dan ini secara eksplisit menunjukkan bahwa Aristoteles bekerja dari sumber tertulis yang dibuat Thales. Juga bahwa Thales, dari beberapa catatan, adalah yang pertama meneliti Astronomi, yang pertama untuk memprediksi Gerhana Matahari dan untuk mengoreksi masalah Titik Balik Matahari. Demikian pula Eudemus yang menulis buku Sejarah Astronomi. Beberapa ilmuwan berikutnya nyatanya menjadi penerus Thales, diantaranya Xenophanes, Herodotus, Heraclitus, dan Democritus.

Proclus (450 M, generasi filsuf terakhir Yunani) mencatat bahwa Thales diikuti oleh banyak geometer, yang sebagian besar juga akrab dalam ranah ilmu pengetahuan Yunani, semisal Mamercus (murid Thales), dan termasuk Hippias of Elis, Pythagoras, Anaxagoras, Eudoxus dari Cnidus, Philippus dari Mende, Euclid, dan Eudemus, seorang teman Aristoteles, yang menulis sejarah Aritmatika, Astronomi, dan Geometri, dan banyak lagi. Melihat pernyataan mereka ataupun analisisnya menunjukkan bahwa sebagian besar berasal dari sumber tertulis Thales.

 

Proclus:
[Thales] first went to Egypt and thence introduced this study [geometry] into Greece.
He discovered many propositions himself, and instructed his successors in the principles
underlying many others, his method of attacking problems had greater generality in some cases and was more in the nature of simple inspection and observation in other cases.
(Ref.: J. J. O’Connor and E. F. Robertson, Thales of Miletus, University of St. Andrews)
(https://www-groups.dcs.st-and.ac.uk/~history/Biographies/Thales.html)

 

Setiap catatan yang mungkin disimpan Thales akan menjadi keuntungan dalam karyanya, dan berlaku untuk penelitian Matematika dan Astronomi-nya yang memuat terinci tentang tanggal dan waktu yang ditentukan ketika membuat koreksi posisi Matahari di kubah langit perbintangan. Tentu menjadi sulit dipercaya apabila Thales tidak membuat buku harian penelitiannya tatkala melakukan perjalanannya, terutama terkait bidang Geometri, termasuk perjalanan panjangnya ke wilayah Mesir di mana dia selesaikan semua perhitungan tentang bangunan piramida serta hipotesisnya tentang alam terkait fenomena perubahan yang menyertainya.

Proclus mengakui bahwa Thales adalah penemu sejumlah teorema spesifik dalam karyanya (A Commentary on the First Book of Euclid's Elements). Ini menunjukkan bahwa Eudemus sebagai sumber Proclus sebelumnya memiliki catatan tertulis tentang penemuan Thales. Bagaimana Thales “membuktikan” teorinya jika tidak dalam karya tulisnya? Karya yang dikaitkan dengan Thales, termasuk tentang navigasi bintang dapat jadi adalah rujukan utama Eudemus.

 

Prinsip Utama

Analisis yang dapat diambil dari O’Grady (https://www.iep.utm.edu/thales/), bahwa masalah sifat materi, dan transformasinya ke ragam benda penyusun alam semesta, yang banyak melibatkan para filsuf, dapat dikatakan secara sistematis dipicu oleh  kehadiran dan pandangan Thales. Agar hipotesisnya dipercaya, penting baginya untuk menjelaskan bagaimana semua hal dapat terbentuk dari unsur air, dan akhirnya nanti kembali ke materi asal. Hal ini melekat dalam pemikirannya bahwa air memiliki potensi untuk berubah ke ragam benda yang kita kenal, termasuk dalam ranah flora fauna, cuaca, hingga bidang geologi. Salah satu filsuf era selanjutnya, Plato, bahwa hipotesis Thales menggiringnya pada sesuatu yang bersifat periodik. Bermula dengan “apa yang kita sebut air”, dan menjelaskan teori yang mungkin dikemukakan oleh Thales, termasuk pernyataan tentang apa yang kini disebut proses penguapan (air) dan argumennya yang tidak lagi terkait dengan pandangan masyarakatnya yang masih kental dengan mitos.

Saat Aristoteles menyadari bahwa Thales menyatakan elemen utama di jagad raya adalah air dan proses penyertanya dalam fenomena penguapan, ia pun membuat pernyataan “that the nurture of all creatures is moist, and that warmth itself is generated from moisture and lives by it; and that from which all things come to be is their first principle” (O’Grady, dalam https://www.iep.utm.edu/thales/). Namun, Aristotle sejatinya tidak sependapat.

Bidang metalurgi telah ada jauh sebelum Thales mempresentasikan teorinya, sehingga Thales tahu bahwa panas dapat mengubah logam ke keadaan cair. Air menunjukkan perubahan yang jelas dapat diobservasi, transformasi ujud dalam tiga keadaan yang kini kita kenal, yaitu cair, uap, dan es. Pemahaman bahwa air dapat mengejawantah ke dalam Bumi atau menyatu ke dalam tanah adalah prinsip pemikiran Thales. Di Miletus, di Teluk Lade,  dapat diamati bahwa sungai di sana mengering (berkala). Juga pulau Lade di teluk tersebut meluas dan sungai menyempit yang membuat warga di Priene, di seberang teluk Miletus, merelokasi gudang-gudang lebih dekat ke tepian. Pelabuhan kota Miletus (reruntuhannya) yang dulu makmur sekarang berjarak sepuluh kilometer dari pantai. Adapun Pulau Lade sekarang menjadi bagian dari dataran pertanian. Akan ada kesempatan untuk mengamati daerah lain di mana Bumi (daratan) dihasilkan dari air (konteks awalnya air akhirnya menjadi daratan/tanah), misalnya, delta Halys, Ister, yang ditulis oleh sastrawan Hesiod (Theogony, 341), sekarang disebut Danube, Tigris-Euphrates, dan hampir pasti sungai Nil. Transformasi air menjadi daratan ini akan menjadi pembuktian doktrin Thales. Baginya, air berpotensi untuk memelihara dan menghasilkan seluruh apapun yang ada di alam semesta. Aëtius bahkan menyatakan untuk pemikiran Thales, “bahkan api Matahari dan bintang-bintang, dan hingga alam raya sendiri dibentuk berbasis (penguapan) air”.

Diakui bahwa memang tidak diketahui pasti bagaimana Thales menjelaskan tentang elemen dasar air. Namun, Aristoteles yakin bahwa alasan yang diajukannya mungkin merupakan hasil observasi Thales di mana di sana tidak ada lagi faktor dewa mitologi yang berperan (inilah kepeloporannya yang menjadi sangat terkenal sebagai pendobrak tradisi mitologi). Pandangan bahwa segala sesuatu berawal dari air, sebagai elemen dasar pembentuk alam semesta bertahan, dan tidak tertumbangkan hingga tahun 1769 saat Antoine Lavoisier (lihat https://ms.wikipedia.org/wiki/Antoine_Lavoisier) melakukan eksperimen, dan prinsip proses spontan tidak terbantahkan hingga abad ke-19 saat Louis Pasteur mulai berkiprah (lihat https://en.wikipedia.org/wiki/Louis_Pasteur).

 

Gagasan tentang Bumi

Dalam hal karakter Bumi, Thales berusaha memberi usulan jawaban atas beberapa persoalan. Mengapa Bumi seperti yang dia pijak, bagaimana bentuknya, ukurannya, termasuk mengapa terjadi gempa Bumi, tentang Titik Balik Matahari, seberapa besar Matahari dan Bulan, dll.

 

a.    Bumi Mengapung di Atas Air

Aristoteles menyatakan bahwa Bumi mengapung di air adalah pendapat yang sudah mengemuka sejak Thales. Hal ini dikaitkan dengan ragam benda yang banyak terapung di atas air layaknya kayu di mana sejatinya Aristoteles termasuk yang sukar menerimanya.

Thales mengantisipasi masalah dengan pikiran terbuka. Dijelaskan bahwa sifat “mengapung” tentu karena kualitas tertentu, kualitas daya apung yang mirip dengan kayu. Di pelabuhan kota Miletus yang sibuk, Thales memiliki kesempatan tidak terbatas untuk mengamati kedatangan dan keberangkatan kapal dengan muatan yang lebih berat daripada air, dan menyadari keunikan fenomena tersebut. Thales mungkin telah membayangkan kaidah fisis yang terjadi antara kapal dan Bumi, tentang adanya fenomena mengapung dan ada sesuatu yang membuatnya mengapung (daya apung). Jadi, di sini nyata bahwa hipotesis Thales didukung oleh observasi yang akurat dan pertimbangan yang masuk akal. Memang, Seneca melaporkan bahwa konon Thales memiliki pulau yang ditopang oleh air dan dapat hanyut seperti kapal. Oleh karenanya, Aristoteles pun dalam karyanya Metaphysics menunjukkan pemahamannya bahwa Thales percaya bahwa air adalah entitas permanen, elemen dasar, dan karenanya Bumi disebutkan mengapung di atas air.

Bagi Thales, sebagai pengejawantahan elemen air, tentunya Bumi haruslah merupakan unsur yang “ringan” layaknya pulau atau kayu yang terapung yang berbasis observasinya nyatanya ada, bahkan kapal pengangkut bahan berat seperti logam pun dapat “mengapung”. Herodotus sempat terkesan ketika dia melihat Chemmis, sebuah pulau terapung, sekitar 38 km sebelah timur laut Naucratis, salah satu pusat dagang Mesir yang mungkin juga dikunjungi oleh Thales. Seneca menggambarkan pulau-pulau terapung di daerah Lydia. Pliny menggambarkan beberapa pulau terapung, yang paling relevan bagi peneliti bahwa itu adalah Reed Islands, di Lydia. Berbasis inilah Thales mungkin mengemukakan hipotesisnya, termasuk pandangannya bahwa air memiliki kapasitas untuk mendukung Bumi.

Dalam hipotesisnya bahwa Thales tidak memasukkan unsur kedewaan sebagai sebab hadirnya fenomena alam. Tidak lagi berkisah tentang Oceanus atau Gaia, melainkan secara tegas objeknya adalah air dan Bumi. The idea that Thales would have resurrected the gods is quite contrary to the bold, new, non-mythical theories which Thales proposed.

 

b.    Bumi Bulat

Komentator modern berasumsi bahwa Thales menganggap bumi datar, tipis, dan bundar, tetapi tidak ada kesaksian dari manuscript apapun yang mendukung pendapat itu. Sebaliknya, Aristoteles-lah yang mengaitkan pengetahuan tentang bulatnya Bumi dengan Thales, sebuah pendapat yang kemudian dilaporkan oleh Aëtius dan Plutarch. Aristoteles menulis bahwa beberapa orang berpikir Bumi bulat, yang lain datar dan berbentuk seperti silinder, dan mengaitkan Bumi datar dengan Anaximenes, Anaxagoras, dan Democritus. Jika mengikuti urutan pernyataan Aristoteles, bahwa “beberapa orang berpikir itu bulat”, merujuk pada teori Thales. Aristoteles kemudian mengikuti teori ini berbasis teori murid generasi pertama Thales di Milesian School, yaitu Anaximander, dan kemudian melaporkan bahwa pandangan Bumi datar berasal dari generasi ketiganya, yaitu Anaximenes.

Ada beberapa alasan Aristoteles untuk menerima bahwa Thales menganggap Bumi bulat, antara lain:

  • Pertama adalah kenyataan bahwa selama Gerhana Matahari, bayangan akibat fenomena ini selalu cembung; oleh karena itu Bumi harusnya berbentuk bola;
  • Kedua, Thales, yang diakui sebagai observer langit yang handal, akan mengamati bahwa bintang yang tampak di lokasi tertentu mungkin tidak terlihat di tempat yang semakin ke utara atau selatan, sebuah fenomena yang dapat dijelaskan dalam pemahaman tentang Bumi bulat; dan
  • Ketiga, dari pengamatan sederhana bahwa memang Bumi memiliki cakrawala melengkung dan dilingkupi suatu kubah besar (langit). Tatkala diamati dari ketinggian tertentu, cakrawala tampak jelas melengkung. Apabila semakin tinggi, langit tampak jelas seperti kubah dengan ufuk melingkar. Apabila diamati selama sebut saja 1 periode musim, kubah akan tampak berputar, dengan banyak objek langit berubah posisinya secara bersesuaian dengan ketinggiannya, tetapi kembali ke tempat yang sama di akhir periode.

Gambar 2
Ukiran (Flammarion) yang menggambarkan alam semesta.
(https://en.wikipedia.org/wiki/Flammarion_engraving)

 

Melalui karyanya di bidang Astronomi, dapat dikatakan bahwa Thales hampir pasti telah mengenal langit malam dan gerak benda langit. Ada bukti bahwa Thales memakai rasi bintang Ursa Minor (Beruang Kecil) untuk keperluan navigasi. Sebagai hasil dari pengamatan yang dilakukan dalam periode waktu yang lama, Thales dapat menyadari pergerakan bintang di kubah langit bersifat tetap. Dengan mengukur besaran piringan Matahari saat terbit, dan juga tatkala menera adanya Titik Balik Matahari, sekali lagi Thales menyadari bahwa banyak fenomena alam dapat dijelaskan hanya apabila Bumi berbentuk bola.

Dari pantai, sebuah kapal terlihat terbenam bertahap ke bawah ufuk. Diawali lambungnya, diikuti tiangnya lalu puncak layar. Jika seseorang memiliki pendamping yang mengamati dari titik yang lebih tinggi, pendamping itu akan melihat kapal untuk waktu yang sedikit lebih lama sebelum menghilang dari pandangan.

Aëtius sendiri mencatat perbedaan pendapat tentang bentuk Bumi yang dipegang oleh Thales, Anaximander, dan Anaximenes. Cicero merujuk pada pendapat bahwa Thales yang pertama menyatakan Bumi layaknya bola. Memang diakui bahwa para penerus Thales ada yang tidak sepaham. Namun, itu bukan alasan untuk menolak pandangan bahwa Thales yang menjadi pelopor dalam hipotesis Bumi berbentuk bola. Ini bukan satu-satunya kesempatan di mana Anaximander dan Anaximenes gagal memahami pandangan Thales. Bahwa mereka tidak mengikuti tahapan observasi dengan kaidah atau metode ilmiah yang dipakai di Milesian School adalah argumen utamanya. Ada kesaksian bahwa Thales menyadari bahwa Bumi berbentuk bola, tetapi nyatanya memang tidak ada bukti yang menunjukkan bahwa Thales mengusulkan bentuk Bumi yang lain.

 

c.    Teori Gempa Bumi

Teori Thales tentang penyebab gempa konsisten dengan hipotesisnya bahwa Bumi mengapung di air. Aëtius mencatat bahwa Thales dan Democritus menyebut air menjadi penyebab gempa. Seneca menyatakan teori Thales bahwa gempa akibat gelombang besar (https://en.wikipedia.org/wiki/Thales_of_Miletus). Meski akhirnya diketahui salah, hipotesis Thales rasional karena penjelasannya tidak melibatkan entitas tersembunyi (catatan: tidak ada peran dewa). Tentu hal ini tidak mengikuti kebiasaan masyarakat pada jamannya di mana apapun yang ada di alam berikut fenomenanya, semua berpulang pada peran dewa (Connors – Robertson, 1999). Kala itu, hampir semua masyarakatnya menganggap bahwa gejolak samudra dipahami sebagai perbuatan dewa Poseidon (Romawi: Neptune).

 

Anaximander

Herodotos kira-kira 150 tahun setelahnya mengisahkan tentang penelitian Thales dan sekaligus mengkritisinya. Uniknya justru dianggap memperkuat argumen pemikiran adanya hubungan sebab – akibat (causality).

Sejak era Thales bahwa istilah physis muncul untuk pertama kalinya sebagai istilah teknis pentingnya sesuatu yang bersifat ilmiah. Physis (fisis) nantinya diartikan sebagai nature, sedemikian physics (fisika) diartikan sebagai ilmu pengetahuan alam secara umum. Namun, sempat terjadi pergeseran makna fisika saat diartikan sebagai ilmu pengetahuan tentang adanya elemen dasar. Juga terjadi percepatan atas pendekatan rasional terhadap gejala alam. Terjadinya banjir besar di dataran Thessalian akibat meluapnya sungai Peneus, tidak lagi dikatakan sebagai akibat ulah dewa Poseidon. Melainkan karena terjadinya gempa Bumi.

Bumi tidaklah berbentuk datar juga dilontarkan oleh Anaximander (610 – 547 SM), murid Thales yang juga berasal dari Miletian School (termasuk Anaximenes – lihat uraian di bawah), yaitu berbentuk seperti pilar batu (silinder) dengan ukuran tingginya sepertiga diameternya. Silinder ini mengapung di tengah-tengah alam semesta yang tidak berhingga luasnya. Analisis ini dicatat oleh Aristotle (tentang Aristotle lihat bahasan Aristotle di artikel berikutnya) dan Hyppolytos (abad 4 SM). Dasar geometri sudah melekat. Adanya lingkaran ekliptika dan lingkaran ekuator mulai diperkenalkan, dan mengetahui bahwa antara kedua lingkaran tersebut memiliki kemiringan dalam arti membentuk sudut (inklinasi). Pada saat olimpiade ke 58 (547 – 544 SM), Anaximander meneliti bahwa lingkaran ekliptika (lintasan semu pengembaraan Matahari di daerah Zodiak) tidaklah lingkaran sempurna.

Pendapat ini sempat diulas oleh Plinius pada abad awal Masehi. Selain itu, telah membuat peta penghuni suatu wilayah secara cermat dengan segala perniknya yang nantinya menjadi dasar bagi Hekataios (Hecataeos, 550 – 475 SM, dari Miletos) untuk mengembangkan dasar geografi dan cartografi. Hasil ini berhasil dianalisis oleh Diogenes Laertios pada abad 3 M, dan akhirnya Hekataios dikatakan sebagai pencipta ilmu geografi.

Salah satu karya Anaximander dari pemetaan ini adalah cikal bakal miniatur bola langit (celestial globe, peta langit dalam bentuk bola transparan). Juga penerapan jam Matahari (Sundial) dengan tongkat istiwa (gnomon) pertama kali di Sparta. Penggunaannya untuk menentukan titik musim semi dan Titik Balik Matahari (soltis, sama dengan Bangsa Mesir). Sejak itu, konsep kalender Anaximander dijadikan standard secara luas. Konsep lainnya semisal tentang evolusi pun diyakininya, juga konsep pasangan bahwa semua yang ada di jagad raya ini berpasangan semisal panas – dingin, kering – basah, bahkan baik – buruk. Elemen dasar baginya bukan hanya air. Ada juga Bumi, Api, dan Udara. Artinya bahwa elemen dasar di alam raya ada 4 (Bandingkan dengan konsep India kuno). Jagad raya baginya tidak satu, tidak terhitung; kadang hilang atau saatnya muncul kembali (konsep osilasi). Adanya gerak baru terjadi saat dunia tercipta dan munculnya akibat faktor physis (di sini konteksnya adalah nature) yang bersifat abadi (eternal).

Dalam analisis tentang lahirnya jagad raya, dikatakan bahwa ada “sesuatu” yang menghasilkan panas dan dingin yang lalu memisahkan diri dari Sang Keabadian. Terbentuklah dunia dan dari sinilah lahir bola api yang melingkupi dunia sebagai udara layaknya lapisan-lapisan kulit kayu di batang pohon (artinya konsep lapisan atmosfer sudah disinggung). Lapisan yang terjauh nantinya akan melahirkan Matahari, Bulan, dan bintang gemintang. Anaximander juga menulis buku berbentuk prosa berjudul On Nature. Namun sayang, dapat dikatakan tidak tersisa jejak peninggalannya pada era sekarang ini. Dapat disebut bahwa inilah karya buku pertama berbentuk prosa di era Yunani. Tidak seperti karya-karya pendahulunya yang dapat disebut senantiasa berbentuk puisi. Yang sempat mengulasnya adalah Aristotle dan Theophrastos (abad 4 SM), dan beberapa generasi sesudahnya.

Beberapa catatan tentang kehidupan Anaximander ditulis pula oleh Simplikios abad 6 M, berdasar catatan Theophrastos. Ulasan tentang buku pertama Anaximander dalam bentuk prosa berjudul On Physis dilakukan Apollodoros (abad 2 SM). Keberadaan banyaknya dunia atau jagad semesta sempat diulas oleh Simplikios. Namun, keberadaan fisis sebagai sesuatu yang abadi dan tidak bergantung pada waktu serta melingkupi seluruh jagad raya terdapat dalam catatan Hippolytos (abad 3 M). Seabad sebelumnya, Plutarch berhasil menyusun ulang konsepnya tentang lahirnya Jagad Raya, bagaimana Matahari, Bulan, dsb. terbentuk. Uniknya, pada era ini telah terpikir bahwa adanya hujan akibat air yang menguap akibat panas Matahari yang nantinya menggumpal di atas menjadi tetes air yang jatuh lagi ke Bumi (siklus hidrologi).

Adapun pendapatnya bahwa bintang terbuat dari api dicatat oleh Aëtius (100 M), letaknya konon di antara Bulan dan planet-planet. Sementara Matahari yang paling jauh, berbentuk seperti cincin bergaristengah 28 kali diameter Bumi dan terbentuk dari api. Bulan sendiri diameternya berukuran 19 kali Bumi. Masih belum jelas argumen matematisnya terhadap analisis ini.

 

Perkembangan Pemikiran

Periode selanjutnya muncul Anaximenes (585 – 525 SM) yang menyimpulkan bahwa elemen dasar jagad raya adalah udara. Teori evolusi bentuk yang dilontarkan sudah menyinggung adanya kondensasi materi (salah satunya siklus hidrologi). Mulai ada perubahan saat Pythagoras (582 – 507 SM) menyatakan Bumi bulat seperti bola pejal. Bukan sekedar Bumi semata, melainkan semua benda yang ada di alam semesta ini berbentuk Bola: Matahari, Bulan, planet, dan bintang gemintang.

Heraclitus (530 SM) menggali lagi konsep pasangan. Awal muasal Jagad Raya adalah sebuah kondisi di mana hanyalah terdapat kegalauan (chaos) lalu lambat laun menjadi harmoni (cosmos). Mengambil ide evolusi, segalanya dapat terbentuk dari pasangan ini. Filosofinya, semua mengalir dan kita tidak dapat melalui alur yang sama saat menyusuri sebuah aliran air di sungai walau melakukannya berulang-ulang. Tentang harmoni alam raya, antara chaos dan cosmos, yang mengaturnya bukanlah dewa. Keraguan pada peran dewa dalam kepercayaan Yunani muncul, dan berlanjut. Baginya, kekuatan Sang Pencipta lebih agung dari kekuasaan dewa, bahkan walau digabung dengan kekuatan semua yang ada di Jagad ini. Parmenides (515 SM) menegaskan kemudian bahwa alam semesta dengan segala isi dan fenomena yang ada sebagai kesatuan utuh, diatur oleh The One Yang Esa. Sekaligus dia juga menunjukkan bahwa Bintang Timur dan Bintang Barat adalah benda yang sama, yaitu planet Venus.

Philolaus (500 SM) yakin bahwa Bumi – Matahari – Bulan dan 5 Planet mengedari Api Abadi. Baginya terdapat 9 objek pengembara selain bintang (fixed stars) yang dianggap tidak pernah berubah konfigurasinya. Namun, dia perlu menambah benda langit lain, yaitu antichthon atau anti-Bumi (pasangan antara Bumi dan anti-Bumi). Hal ini beranjak dari anggapan bahwa jumlah atau bilangan 10 adalah yang paling sempurna.

Sementara waktu yang dibutuhkan untuk mengedari Api Abadi adalah sama dengan periode rotasi Bumi, yaitu 24 jam (1 hari, kini diketahui bahwa hal ini terjadi pada Bulan). Yang jelas, bahwa keberanian untuk tidak meletakkan Bumi sebagai pusat Jagad Raya (yang saat itu tentu menjadi sesuatu yang sangat kontroversial karena terkait aspek religi) serta konsep rotasi–revolusi-nya merupakan suatu kepeloporan tersendiri. Dalam era ini sebenarnya gagasan mengubah konsep geosentris sudah muncul.

Konsep Bumi–Bulan–Planet sebagai benda yang mirip, bersaudara, pertama kali dikemukakan oleh Anaxagoras (499 – 428 SM). Dikatakan bahwa mereka tidak memancarkan cahayanya sendiri, melainkan hanya memantulkan cahaya yang diperolehnya dari Matahari. Bahkan, demikian pula pada komet. Alasan yang dikemukakan khususnya tentang Bulan, bahwa karena hanya menerima cahaya Matahari membuat wajah Bulan mengalami fase sabit, separuh, purnama, dsb.

Adapun bintang dikatakan sebagai benda langit yang mirip Matahari yang terbentuk dari batu yang sangat panas. Mengapa tidak terasa panas, menurut pendapatnya karena letak Matahari teramat sangat jauh. Karena bintang-bintang lebih jauh lagi, maka hanya tampak berupa titik cahaya saja yang panasnya tidak terasakan walaupun muncul pada malam hari. Namun, konsepnya kembali ke geosentris. Dikatakan pula bahwa Bulan memiliki pegunungan setelah beberapa kali mengamati peristiwa gerhana. Yang meleset, bahwa di Bulan ada kehidupan seperti Bumi. Akibat dua pendapat terakhir tersebut, dia di penjara.

Pada masa di atas, Anaxagoras mengembangkan ide Anaximander dan Empedocles (510 SM) yang menyatakan Bumi, Udara, Api, dan Air sebagai elemen dasar. Namun, pertanyaannya adalah apakah inti semua itu? Di sini muncul ide materi – non materi. Pergerakan bukanlah karena suatu sebab, melainkan sejak adanya penciptaan alam semesta gerak itu sudah demikian adanya. Salah satu cabang pemikiran ini sempat melahirkan gagasan mengenai inti dari elemen dasar yang dikenal sebagai atom (sesuatu yang tidak dapat dibagi lagi, yang dalam pengetahuan kekinian adalah pencarian partikel elementer penyusun Jagad Raya. Penggabungan antara Astronomi Kosmologi dengan Fisika Partikel/Inti). Konsep ini diadaptasi dan diperkenalkan oleh Democritus tahun 460 SM.

Pandangan makin melangkah maju dengan ide Heraclides Ponticus (388/390 – 310/15 SM) yang menyatakan bahwa gerak benda langit dari timur ke barat (gerak harian, terbit-terbenam) akibat rotasi Bumi (sama dengan Philolaus). Paham geosentrisnya adalah Bumi diedari Matahari, Bulan, planet, dan bintang. Sedangkan khusus Merkurius dan Venus mengedari Matahari. Adapun hal ini akibat dari hasil pengamatannya yang menunjukkan kedua planet tersebut selalu dekat Matahari. Dalam hal ini bahwa sistematika dalam pengamatannya sudah cermat. Sementara itu Eodoxus (408 – 355 SM) mengatakan bintang-bintang berada pada bola transparan dan berpusat Bumi yang berotasi. Bulan, Matahari, planet berada diantaranya dan terletak di bola konsentrisnya masing-masing. Catatannya, berupa buku yang berjudul On the Velocities (khusus gerak planet). Namun sayang, buku ini akhirnya hilang. Adapun ringkasannya, nantinya muncul pada buku Aristotle berjudul Metaphysics, juga oleh penerusnya Eudemos.

Konsep sudut elongasi untuk Merkurius dan Venus diperkenalkan. Bila Venus berada pada elongasi timur, artinya berada di sisi timur Matahari. Jadi, akan tampak setelah Matahari terbenam sebagai bintang barat, bintang sore, atau bintang malam. Berlaku sebaliknya. Perhitungan terhadap Bulan, diperoleh periode revolusi sinodis Bulan berharga 29,53 hari, periode draconitic-nya 27,21 hari, periode Saros (musim gerhana) sebesar 18,6 tahun, dan periode revolusi siderisnya 27,32 hari.

 

Pengantar

Penelusuran transisi mitos ke ranah ilmiah pada sejarah budaya Yunani Kuno memang diakui harus lebih dicermati lagi. Dasar filosofis yang terkandung dari setiap tokoh memang harus ditelusuri. Ranah rasio dan rasa, ranah ujud dan spirit dari masing-masing filsuf Yunani memang unik dan sejatinya sangat menarik untuk didiskusikan. Pemikiran ilmiah yang jauh ke depan yang membuka gerbang iptek kekinian sangat penting untuk diikuti. Bagaimanapun mindset kala itu banyak yang sama dengan era sekarang ini. Yang berbeda adalah peranti pembuktian untuk konfirmasinya. Teori mereka lambat laun dapat dibahasakan melalui Astronomi, Fisika, Matematika, Kimia, Biologi, Geologi, dll. Inipun setelah melewati pengujian ber-ratus generasi, bermillennial pun telah dilewati.

Linimasa pemikiran ini harus diakui berkelindan dengan aneka penemuan iptek era kini yang kita katakan modern. Bahasan di sini sekedar menawarkan topik di mana mungkin (baca: semoga) ada yang berniat untuk mempelajarinya sebagai warisan yang tidak lekang oleh waktu. Banyak yang dulu kala dianggap sekedar cerita mitologi nyatanya secara ilmiah dapat dijabarkan. Mitologi Daedalus terbang ke Matahari, seorang menteri Tiongkok yang memakai boks berbaling-baling hingga berbahan mesiu petasan, hingga kisah Wright bersaudara, hanyalah salah satu contohnya. Bukan sekedar dari ujud nyata karyanya, tetapi lebih pada bagaimana manusia memiliki keinginan untuk menggapai sesuatu nun jauh di sana. Mindset yang sama dengan perkembangan jaman yang berbeda.

Andaipun pada era sekarang dijumpai ketidaksesuaian antara teori atau pandangannya dengan hasil observasi di lapangan, bukan berarti kita pandang sebagai sebuah kesalahan. Namun, pandanglah lebih pada bagaimana menerima sebuah teori dengan suatu pembelajaran yang berkelanjutan yang tidak terpisahkan antara ranah ilmiah dan spirit, dari generasi ke generasi demi satu kesetimbangan. Penelusuran hikmah dari sebuah proses yang telah terentang bermillenial. Penulis sendiri tidak berkecimpung dalam bidang yang kini lebih akrab dengan nama filsafat-ilmu. Namun, pola pikir setiap generasi pasti memiliki dasar filosofisnya sendiri sebagai pola pikir massal yang melahirkan warisan budaya bergenerasi ke depan, termasuk dalam hal ini adalah yang terjadi pada masyarakat Yunani Kuno yang harus kita akui juga sangat membantu terbukanya cadar ilmu pengetahuan.

Bahasan di sini sekedar menyajikan capaian bidang Astronomi secara ujud dari beberapa tokohnya. Pada bahasan berikutnya, penulis masih sebatas berkeinginan untuk mencoba mengulas beberapa hasil karya para tokoh budaya Yunani lainnya. Keterbatasan ini semata karena penulis pun merasa sulit untuk membahasnya pada ranah filosofis pemikiran dari sang tokoh. Sekedar sezarah kesadaran bahwa adanya bekal tersembunyi dalam proses pembelajaran keilmuan, yang dicoba dicari. Salam Astronomi.–WS–

 

Daftar Pustaka

Allen, R.H., 1963, Star Name, Dover Pub., New York
Audouze, J. dan Guy Israel, (eds.), 1994, The Cambridge Atlas of Astronomy, 3rd edition, Cambridge Univ. Press, New York – Cambridge
Bakich, M., 1995, The Cambridge Guide to the Constellations, Cambridge Univ. Press, Cambridge
Darling, D., 2004, The Universal Book of Astronomy, John Wiley & Son, New Jersey
Easton, S.C., 1963, The Heritage of the Past, Holt-Rinehart and Winston, New York
Magill, F.N (ed), 1998, Dictionary of World Biography, Vol.I, Salem Press, Inc. and Fitzroy Dearborn Pub. Ltd., Pasadena-Chicago
Pedersen, O. 1993, Early Physics and Astronomy: A Historical Introduction, Cambridge University Press, Cambridge
Ruggles, C. dan M. Cotte (eds), 2010, Heritage Sites of Astronomy and Archaeoastronomy in the Context of the UNESCO World Heritage Convention: A Thematic Study, ICOMOS (International Council on Monument and Sites) and IAU (International Astronomical Union), Paris
Sawitar, W., 2014, Menjelajahi Jagad Raya, Bahan Ajar Penyuluhan Astronomi Tingkat SMP/SMA di Jakarta, Planetarium Jakarta
Walker, C., 1996, Astronomy: Before the Telescope, British Museum Press, London

 

Situs

https://books.google.co.id/books?id=_CMl8ziTbKYC&pg=PA1121&redir_esc=y#v=onepage&q&f=false
https://ms.wikipedia.org/wiki/Antoine_Lavoisier
https://en.wikipedia.org/wiki/Heraclides_Ponticus
https://en.wikipedia.org/wiki/Louis_Pasteur
https://en.wikipedia.org/wiki/Thales_of_Miletus
https://journals.sagepub.com/doi/10.1177/002182869202300401
https://www.ancient.eu/Aristarchus_of_Samos/
https://www.ancient.eu/Thales_of_Miletus/ (Thales of Miletus, Internet Encyclopedia of Philosophy; Joshua J. Mark; 2 September 2009)
https://www.ancient.eu/Theogony/ (Donald L. Wasson, Theogony; 19 Desember 2017)
https://www-groups.dcs.st-and.ac.uk/~history/Biographies/Thales.html
https://www.iep.utm.edu/thales/ (Patricia O'Grady; The Flinders University of South Australia; Australia)