Written by Super User

User Rating: 5 / 5

Star ActiveStar ActiveStar ActiveStar ActiveStar Active
 

Penelitian dan Pengamatan Bulan

dalam Penentuan Awal Kalender Bulan

(Penelitian Hisab Rukyat untuk Penentuan Awal Bulan Syaban 1441H)

 

Oleh:

Tim Observasi Planetarium dan Observatorium UP PKJ TIM

Dinas Kebudayaan Provinsi DKI Jakarta

Kompilasi oleh: Widya Sawitar

 

            Seperti yang telah dipaparkan pada situs ini tentang hal yang sama tahun sebelumnya, di sini akan disajikan kembali perhitungan untuk tahun 1441H (2020 M). Kendati demikian, tetap disaji-ulangkan kembali tentang latar belakang dan yang terkait kegiatan ini untuk sekedar mengingatkan lagi atas segala yang terkait perhitungan, penentuan keputusan, dan alasannya.

            Salah satu aplikasi Astronomi adalah penentuan waktu pelaksanaan ibadah keagamaan, khususnya bagi umat Muslim dengan kalender Hijriyah-nya. Contohnya penentuan jadwal sholat, awal bulan Syaban (yang didalamnya ada malam Nisfu Syaban, tanggal 15), awal ibadah puasa (1 Ramadhan), Idul Fitri (1 Syawal), awal bulan Dzulhijjah (pedoman Idul Adha, tanggal 10), atau penentuan Tahun Baru Hijriyah (1 Muharram). Contoh lain seperti pelaksanaan sholat gerhana (perhitungan kapan terjadinya Gerhana), penentuan arah kiblat, dll. Pada paparan ini ditinjau khususnya dalam Penelitian dan Pengamatan Bulan dalam Penentuan Awal Kalender Bulan, atau lebih spesifik adalah perhitungan (hisab) dan rencana pengamatan (rukyat) posisi Bulan Sabit Awal (hilal atau Anak Bulan) untuk menentukan awal kalender Bulan, lebih khusus adalah penentuan awal bulan Syaban 1441H berbasis bidang ilmu Astronomi.

             Sebagai lembaga satu-satunya di Jakarta yang secara konsisten berupaya mempopulerkan Astronomi serta menjembatani antara dunia sains Astronomi dengan masyarakat umum, Planetarium dan Observatorium Unit Pengelola Pusat Kesenian Jakarta Taman Ismail Marzuki (UP PKJ TIM) Dinas Kebudayaan Provinsi DKI Jakarta telah memberikan kontribusi nyata dalam kegiatan Hisab Rukyat sejak tahun 1974 dan berkesinambungan hingga sekarang, juga berkolaborasi dengan ragam instansi seperti Kementerian Agama, Observatorium Bosscha ITB, LAPAN, BMKG, dll.

Hisab dalam bahasa Indonesia diartikan sebagai hitungan/perhitungan/perkiraan berbasis teori Astronomi yang landas acunya adalah bidang Fisika dan Matematika. Adapun rukyat adalah melihat/penglihatan/pengamatan yang dalam Astronomi disebut observasi, baik kasat mata maupun menggunakan bantuan beragam peranti observasi.

            Pada ranah ibadah umat Muslim di Indonesia juga terdapat fatwa, yaitu Fatwa MUI No. 2 tahun 2004, di mana awal bulan Syaban seperti halnya Ramadhan, Syawal, Dzulhijjah, dan Muharram di Indonesia ditentukan berdasar metode Rukyat dan Hisab (bukan: Rukyat atau Hisab). Secara hisab sudah jelas tertera dalam Taqwim Standar Indonesia. Selain itu, sebenarnya dalam bidang Astronomi permasalahan posisi Bulan dan Matahari, bahkan objek langit seperti planet, komet, dan banyak lagi juga telah dilakukan perhitungannya; termasuk kapan terjadinya gerhana hingga perhitungan untuk berpuluh tahun ke depan dengan presisi yang tinggi yang dapat dibuktikan dengan kegiatan observasi sedemikian sebuah teori dapat dikatakan sahih.

            Hari penentu atau hari untuk menentukan kapan jatuhnya awal bulan Hijriyah dilakukan tanggal 29 bulan Hijriyah (hari hisab dan hari rukyat) yang bertepatan dengan hari ijtimak, yang dalam Astronomi disebut konjungsi (dalam kasus di sini konjungsi antara Bulan dan Matahari). Terkait tanggal 29 ini pula bahwa karena sejatinya 1  periode sinodis Bulan (misal Purnama ke Purnama berikutnya, fase yang sama) tidaklah ber-angka bulat, yaitu sekitar 29,5 hari. Jadi, penentuan tanggal dimaklumi kalau dilakukan pada tanggal 29. Berbasis ini pula, maka disinilah ditentukan, apakah ada kemungkinan untuk meng-istikmal-kan (menggenapkan) bulan Hijriyah menjadi 30 hari. Kalau tidak digenapkan, artinya apabila sekarang tanggal 29, maka esok adalah tanggal 1. Apabila digenapkan, artinya apabila sekarang tanggal 29, maka esok tanggal 30 dan baru lusa tanggal 1 (paling panjang rentangnya adalah 30 hari).

            Selain itu, keputusan di Indonesia juga berdasar kesepakatan. Salah satunya adalah, apakah posisi hilal (Anak Bulan) pada hari penentu hisab tersebut sudah sesuai kriteria masuknya awal bulan Hijriyah di Indonesia yang berbasis kesepakatan hasil Hisab Kriteria MABIMS, yaitu perhitungan hisab yang berpedoman kepada ketinggian Bulan minimal 2 derajat untuk seluruh wilayah negara anggota, jarak sudut Matahari dan Bulan minimal 3 derajat atau umur Bulan minimal 8 jam setelah saat ijtima'. Apabila belum, maka di seluruh anggota MABIMS, yakni Brunei Darussalam, Indonesia, Malaysia, dan Singapura secara hisab menggenapkan bulan Hijriyah menjadi 30 hari.

            Hisab Kriteria MABIMS disepakati seluruh anggota MABIMS pada Muzakarah Rukyat dan Takwim Islam Negara Anggota MABIMS di Jakarta tanggal 21–23 Mei 2014. Dalam penentuanpun dilaksanakan terlebih dahulu Temu Kerja Hisab Rukyat. Ini dimaklumi karena metode perhitungan banyak ragamnya sehingga secara keilmuan dapat saling memeriksa hasilnya. Pada paparan inipun disajikan beberapa hasil metode perhitungan (lihat tabel perhitungan yang disertakan).

            Apabila berdasarkan hasil hisab, maka hasilnya memang sudah tampak jelas, sudah terang benderang. Pertanyaannya adalah apabila hasil hisab ternyata menjumpai kondisi hilal berada di bawah ufuk (negatif) tatkala Matahari terbenam untuk seluruh wilayah Indonesia, apakah hilal masih perlu dirukyat? Dari hisab memang jelas tidak dapat dilihat. Ada beberapa pemikiran dan pertimbangan antara lain:

  1. Keputusan Fatwa Majelis Ulama Indonesia No. 2 tahun 2004, pada Fatwa Pertama, poin pertama: Penetapan awal Ramadan, Syawal, dan Dzulhijjah dilakukan berdasarkan metoda ruk'yah dan hisab oleh Pemerintah RI cq Menteri Agama dan berlaku secara nasional. Oleh karena fatwanya masih berlaku, maka rukyat harus/wajib dilaksanakan sebagai konfirmasi dari hisab. Konsekuensi penggunaan fatwa ini adalah tanpa menyebutkan posisi hilalnya, apakah di atas atau di bawah ufuk. Dalam kasus ini, lebih jelasnya bahwa apakah posisi hilal berdasar hisab pada hari penentuan berharga negatif (artinya: hilal di bawah ufuk) atau berharga positif (hilal di atas ufuk), kegiatan rukyat tetap harus/wajib dilaksanakan sebagai konfirmasi dari hasil hisab.
  2. Pemerintah harus mengayomi seluruh pengamal metode penentuan awal bulan Hijriyah di Indonesia. Diakui atau tidak, pada kenyataannya di kalangan masyarakat di Indonesia ada tagam metode penentuan awal bulan, antara lain:
    1. Metode hisab murni tanpa perlu hasil rukyat,
    2. Metode rukyat yang dipandu sistem hisab,
    3. Metode rukyat murni, yang lepas sama sekali dengan metode hisab. Tidak ada panduan hisab untuk rukyat. Rukyat dilakukan tanpa terpengaruh oleh posisi hilal tatkala Matahari terbenam, hilal di bawah dan di atas ufuk menurut hisab.
  3. Sekalipun menurut hisab kontemporer (modern), hilal di bawah ufuk, sering kali menurut beberapa sistem hisab takhribi sudah positif atau di atas ufuk jika ijtimak sudah berlangsung sebelum Matahari terbenam pada tanggal 29 Hijriyah. Beberapa kota di Indonesia kadang mengalami ijtimak qoblal ghurub atau ijtimak berlangsung sebelum Matahari terbenam.
  4. Indonesia saat ini tidak menganut penggunaan rukyat global. Sekalipun di seluruh wilayah Indonesia pada saat Matahari terbenam ketinggian hilal berada di bawah ufuk (memiliki ketinggian hilal negatif), namun ada wilayah-wilayah tertentu di dunia yang memungkinkan hilal dapat dirukyat.

Mengacu Keputusan Fatwa MUI di atas, pada poin keempat bahwa Hasil rukyat dari daerah yang memungkinkan hilal dirukyat walaupun di luar wilayah Indonesia yang matla'nya sama dengan Indonesia dapat dijadikan pedoman oleh Menteri Agama RI. Matla' yang sama dengan Indonesia yang dimaksud adalah wilayah anggota MABIMS. Mungkin saja di Indonesia dan sekitarnya tidak dapat terlihat. Namun, semisal terjadi di Amerika atau Afrika dapat dilihat. Andai ada laporan hilal dapat terlihat di negara-negara ini, maka hasil rukyat tersebut tidak dapat dipakai untuk penentu awal bulan Hijriyah di Indonesia (matla’ yang berbeda dan berjauhan).

            Untuk tahun 2020 (1441-1442H), Planetarium dan Observatorium UP PKJ TIM mengadakan Penelitian dan Pengamatan Bulan dalam Penentuan Awal Kalender Bulan, khususnya penentuan awal bulan Syaban, Ramadhan, Syawal, Dzulhijjah, dan Muharram di wilayah Anyer – Serang – Banten. Secara umum di masyarakat bahwa penentuan awal Ramadhan, Syawal, dan Dzulhijjah sudah populer (adanya kewajiban dari fatwa) dengan adanya berita atau siaran langsung di televisi tentang sidang penentuannya, Sidang Itsbat oleh Kementerian Agama RI. Kali ini diulas serba sedikit mengapa diambil penentuan bulan Syaban, termasuk pengambilan lokasi di pantai Anyer. Pertimbangan teknis dan astronomis antara lain:

  1. Planetarium dan Observatorium UP PKJ TIM memiliki fasilitas untuk observasi benda langit yang bersifat mobile (portable telescope) terkait kegiatan ini;
  2. Kondisi geografis titik lokasi yang dipilih memenuhi syarat observasi:
    • bentang ufuk barat terbuka luas hingga tidak ada penghalang;
    • tingkat polusi udara dan polusi cahaya masih sangat minim;
    • horizon pengamat terkait kedalaman ufuk memadai karena lokasinya memiliki ketinggian beberapa meter dari permukaan laut;
    • instrumen pengamatan relatif aman karena kelembaban relatif rendah;
  3. Akses menuju wilayah lokasi pengamatan di Anyer – Serang – Banten relatif mudah dijangkau, termasuk fasilitas yang ada yang terkait kegiatan;
  4. Pertimbangan bahwa yang mungkin belum dipahami adalah penentuan awal bulan Syaban. Umat Islam perlu menentukan awal bulan Syaban. Hal ini terkait dengan malam antara hari ke-14 dan ke-15 yang merupakan malam istimewa dalam ibadah; malam Nisfu Syaban (Nisfu: pertengahan). Berbasis berbagai redaksi Hadist bahwa malam Nisfu Syaban adalah malam diampuninya dosa dan dikabulkannya doa. Sangat dianjurkan untuk beribadah sepanjang malam. Terkait dengan pentingnya Rukyat Hilal awal bulan Syaban, terdapat sebuah miskonsepsi yang banyak tidak disadari masyarakat yang menganggap bahwa bulan Purnama adalah pertengahan sebuah bulan dalam kalender Qomariah. Hal ini menjadi tidak akurat jika kita menggunakan perspektif Astronomi. Dalam Astronomi terdapat dua macam periode revolusi Bulan terhadap Bumi, Sideris (27,32 hari) dan Sinodis (29,53 hari). Dalam perhitungan Rukyat Hilal, periode Sinodis yang digunakan sebagai acuan sedemikian menjadi sangat jelas bahwa fase purnama tidak selalu jatuh pada hari ke-15 sebuah bulan. Pertengahan sebuah bulan Qomariah lebih sering jatuh pada hari ke-14, dengan sedikit pergeseran (tergantung lintas orbit) antara hari ke-13 hingga ke-15, tergantung kapan konjungsi dan posisi ketinggian Bulan pada saat rukyat Selain kekeliruan dalam menghitung pertengahan Bulan, masyarakat juga sering keliru dalam menentukan fase Bulan Purnama secara visual. Dengan mata biasa tanpa alat bantu, akan sulit membedakan antara fase bulan Purnama atau fase sehari sebelum dan sesudah bulan Purnama karena ketiganya secara sekilas memiliki bentuk yang sangat mirip. Hal ini menjadikan Rukyat Hilal untuk menentukan awal bulan Syaban menjadi sangat penting untuk membantu masyarakat dalam menentukan malam Nisfu Syaban dengan presisi ketepatan yang tinggi; dan
  5. Kegiatan pada ranah sains dan keagamaan ini dilakukan banyak pihak; lokal, nasional, dan internasional. Jadi, Planetarium dan Observatorium UP PKJ TIM dapat menjadi wakil di antara sebaran titik observasi secara nasional; sekaligus menjalin kerjasama sosialisasinya termasuk dengan pemerintah daerah setempat, atau dengan instansi terkait, serta dengan komunitas terkait yang kerap mempertanyakan masalah penentuan hari besar umat Muslim ini.

            Di bawah ini dapat dilihat hasil hisab untuk rukyat. Untuk hisab, diberikan patokan secara nasional, yaitu di Pelabuhan Ratu dengan hasil sebagai berikut:

Tabel 1

Rekap Sistem Hisab Penentu Awal Bulan Syaban 1441H (2020M)

Tabel 1

Gambar 1

Gambar 1

Ilustrasi penampakan hilal yang sudah berharga positif pada Selasa, 24 Maret 2020.

 

Gambar 2 Ilustrasi penampakan hilal yang sudah berharga positif pada Selasa, 24 Maret 2020

 

 

Tabel 2

SISTEM EPHEMERIS HISAB RUKYAT

PELABUHAN RATU SUKABUMI, SELASA, 24 MARET 2020M  / 29 RAJAB 1441H.

Tabel 2

Tabel 3

SISTEM EPHEMERIS HISAB RUKYAT

PANTAI ANYER SERANG, SELASA, 24 MARET 2020M  / 29 RAJAB 1441H.

Tabel 3

Untuk panduan rukyat atau observasi berbasis hisab adalah sebagai berikut:

Gambar 3

Gambar 3

Ilustrasi penampakan hilal yang sudah berharga positif pada Selasa, 24 Maret 2020.

 

Gambar 4

Gambar 4

Ilustrasi penampakan hilal yang sudah berharga positif pada Selasa, 24 Maret 2020.

Iluminasinya kisaran 0,2 % (teramat sangat sulit dilihat kasat mata di mana pendah cahaya Matahari tentulah masih sangat dominan).

 

            Pada tanggal 24 Maret 2020 dalam kalender Hijriyah adalah tanggal 29 Rajab 1441H, di mana hari tersebut merupakan hari hisab dan hari rukyat dan hari ijtimak. Berbasis perhitungan Astronomi menunjukkan bahwa kondisi fase Bulan yang “akan” terlihat adalah fase Sabit Awal pada saat Matahari terbenam (ghurub). Jadi, sudah terjadi ijtimak (pada pukul 16:29:14 WIB) dan jelas dalam satu aspek, yaitu pada aspek perhitungan bahwa kondisi positif sudah terpenuhi.

            Positif di sini dalam pengertian bahwa saat rukyat dilakukan, maka Bulan telah melewati fenomena ijtimak; ditambah kondisi berbasis analisis lokasi rukyat bahwa ketika saatnya atau ketika dilakukan rukyat, maka Bulan juga sudah berada di atas ufuk tatkala Matahari terbenam. Yang menjadi ajang pembuktian berikutnya, apakah dapat diobservasi (di-rukyat). Jadi, pembuktian satu-satunya akan perhitungan (hisab) tersebut adalah dengan cara observasi (rukyat). Diputuskan untuk melakukan pengamatan pada hari tersebut, yaitu pada hari Selasa tanggal 24 Maret 2020 saat Matahari terbenam (pukul 18:05:22 WIB) di mana masih dimungkinkan untuk dapat mengamati fase Sabit Awal tersebut. Artinya, apabila teramati, maka esok harinya, Rabu tanggal 25 Maret adalah tanggal 1 Syaban 1441H. Namun, apabila karena kondisi tidak memungkinkan untuk syarat observasi, maka dilakukan observasi kembali pada tanggal 25 Maret 2020 tersebut saat ghurub, dan seharusnya Sabit Awal ini akan tampak lebih terang dan relatif mudah diamati karena usia Bulan sudah bertambah 1 hari (iluminasi pun lebih besar) dan ketinggian tatkala Matahari terbenam tentu sudah relatif tinggi (kisaran geser ke timur 12 derajat) di mana ini juga bermakna bahwa rentang waktu pengamatan akan juga lebih panjang. Justru di sini menjadi ajang pembuktian secara kasat mata.

            Dalam beberapa kasus dan berbasis hisab, maka sebagian masyarakat yang menganut hisab murni tentu menentukan tanggal 25 Maret 2020 sebagai tanggal 1 Syaban 1441H (hasil hitung dan hasilnya positif, tanpa harus dibuktikan di lapangan). Sebagian lagi membutuhkan bukti melalui rukyat (berarti sebelumnya harus melakukan hisab. Jadi keduanya dilakukan). Sebagian lagi tetap merujuk kesepakatan. Dalam kasus kali ini memang “terasa” kecenderungannya bahwa 1 Syaban 1441 akan jatuh pada tanggal 26 Maret 2020 mengingat batas kesepakatannya adalah “perhitungan hisab yang berpedoman kepada ketinggian Bulan minimal 2 derajat untuk seluruh wilayah negara anggota, jarak sudut Matahari dan Bulan minimal 3 derajat atau umur Bulan minimal 8 jam setelah saat ijtima'. Perbandingan hisab terhadap prasyaratnya: (1,91 < 2)(4,53 > 3)(1,6 << 8).

            Adapun pembanding perhitungan kontemporer dapat dilihat di bawah ini:

 

Tabel 4

Lokasi                     : Pantai Mercusuar Anyer – Serang – Banten, Indonesia

Koordinat Lokasi       : 060 04’ 13” LS - 1050 53’ 05” BT

Ketinggian                : 1 Mdpl

Area Waktu              : GMT +7 / WIB

Ijtima/Konjungsi : Selasa, 24 Maret 2020. Pukul 16:29:14 WIB

Tabel 4

Selain itu, ada pertimbangan lain, bahwa landas acu empiris pada Limit Danjon (statistik dan batas kemampuan wajar mata manusia), bahwa hilal akan tampak apabila jarak sudut antara Bulan dan Matahari lebih besar dari 7 derajat di mana oleh Odeh dari Islamic Crescent Observation Project (ICOP), pada tahun 2004, dan dikoreksi berdasarkan statistik data baru dalam analisis perhitungannya bahwa limit ini 6,4.

 

Untuk hari Rabu, 25 Maret 2020, perhitungan dan pedoman sebagai berikut:

Tabel 5

Gambar 5

Gambar 5

Ilustrasi penampakan hilal yang sudah berharga positif dan sudah tinggi di atas ufuk

saat Matahari terbenam pada Rabu, 25 Maret 2020.

Melihat kondisi ini, pada kondisi ideal bahwa hilal sudah dapat dilihat kasat mata.

 

Adapun pembanding perhitungan, dapat dilihat di bawah ini:

 

Tabel 6

Tabel 6

 

Penelitian dan Pengamatan Bulan dalam Penentuan Awal Kalender Bulan

            Kegiatan yang dilaksanakan oleh Planetarium dan Observatorium UP PKJ TIM ini pada dasarnya lazim atau lebih spesifik dikatakan sebagai kegiatan untuk melakukan perhitungan (hisab) berbasis teori Astronomi dan analisis beberapa program perangkat lunak simulasi langit kontemporer sebagai pembanding; serta rencana kegiatan observasi lapangan sebagai ajang pembuktian yang tidak lain adalah pengamatan (rukyat) posisi Bulan Sabit Awal (hilal atau Anak Bulan) pada lokasi yang ideal berbasis syarat dan kaidah observasi yang baik untuk menentukan awal kalender Bulan, lebih khusus lagi adalah penentuan awal bulan Syaban 1441H, yaitu pada tanggal 24 dan 25 Maret 2020. Direncanakan untuk mengambil lokasi kegiatan rukyat di pelataran Mercusuar Cikoneng – Pantai Anyer – Serang – Provinsi Banten. Namun, mengingat situasi dan kondisi sejak 14 Maret 2020 dengan adanya penyebaran covid-19, dipertimbangan untuk mengalihkan pengamatan ke kawasan pantai Ancol atau dalam situasi mendesak tidak dilakukan observasi. Dengan demikian, semua penentuan berdasarkan hasil hisab dan analisisnya.

            Sistem penanggalan ini berkait erat dengan penentuan waktu pelaksanaan ibadah umat Islam yang berpatokan pada siklus peredaran Bulan. Di Indonesia, hasil pengamatan Bulan Sabit Muda secara resmi dipakai sebagai penentu masuknya awal bulan: Ramadhan, Syawal dan Dzulhijjah. Sekalipun demikian, kegiatan observasi Bulan Sabit Muda sebaiknya dilakukan secara rutin dan sebanyak mungkin, tidak hanya menjelang awal tiga bulan istimewa seperti tersebut di atas. Namun, juga pada bulan-bulan Hijriyah lainnya yang bertujuan untuk memperoleh data empiris ketampakan atau visibilitas Bulan Sabit Muda yang teramati. Selanjutnya visibilitas Bulan Sabit ini dapat dipakai sebagai referensi atau acuan ilmiah untuk menentukan kriteria masuknya awal bulan Hijriyah. Kegiatan observasi ini juga digunakan sebaliknya, yaitu untuk memeriksa hasil perhitungan astronomis posisi Bulan (aspek hisab), apakah sistem hisab yang dipergunakan memiliki akurasi yang tinggi atau berbeda jauh dibandingkan dengan hasil observasi di lapangan. Semoga bermanfaat. Salam Astronomi. –WS