Written by widya sawitar

User Rating: 0 / 5

Star InactiveStar InactiveStar InactiveStar InactiveStar Inactive
 

FENOMENA LANGIT APRIL – JUNI 2020

Pedoman Observasi Berbasis Kota Jakarta

Widya Sawitar

Simbol Rasi Bintang Leo, Virgo, Libra, dan Scorpius.
Rasi bintang Zodiak yang dapat disaksikan sejak awal April selepas waktu Maghrib di ufuk timur.

      Kendatipun wajah kubah langit pada malam hari di Jakarta saat ini sudah tidak indah lagi dengan bentang taburan bintang gemintang karena atmosfernya tercemar berat oleh polusi udara dan polusi cahaya, namun tetap untuk objek langit tertentu masih dapat ditera dengan baik, bahkan bintang cemerlang pun masih mudah dilihat. Pemetaan langit masih “cukup lumayan” untuk dilakukan, termasuk hadirnya objek dekat seperti planet dan Bulan yang memang relatif terang bagi pengamat di Bumi.

      Kondisi di atas tentu berbeda apabila kita pergi agak jauh dari kota Jakarta, ke tempat yang masih asri serta tidak padat penduduknya. Hamparan pemandangan yang sangat indah di langit terasa membangkitkan kedekatan terhadap kita yang mau memahami alam semesta dan kesejatian diri. Dapat terlihat ribuan bintang di langit yang sudah sejak jaman dahulu dijadikan pedoman waktu dan arah bagi para nelayan serta para pengembara. Juga dijadikan pedoman bagi para petani untuk

menentukan musim. Tidak kalah penting adalah jembatan spirit untuk memahami karya ciptaNya.

      Apabila melihat dengan cermat, selain bintang gemintang, planet, dan Bulan, kadang masih dapat terlihat meteor, komet, hingga satelit buatan manusia yang berjalan perlahan di samudra perbintangan. Bahkan kini, dengan bantuan alat sederhana pun dapat dinikmati wajah Matahari yang kerap dihiasi bintik hitam tanda keaktifan yang tinggi, kawah Bulan beragam ukuran, nebula, gugus bintang, dsb. Ada yang unik saat kita melakukan pengamatan benda langit, yakni sadar ataupun tidak, menjadikan kita dapat mengenal dimensi waktu, yang selanjutnya menjadi penting dalam pengamatan dan memahami fenomena alam secara umum dalam dimensi ruang alam semesta.

      Pertanyaan awal mungkin sangat sederhana, mengapa ketika terjadi Gerhana Matahari hanya si A di kota X yang dapat menyaksikan? Mengapa kita tidak? Kadang kita melihat Bulan Sabit mirip kapal atau seolah posisi telentang, sementara rekan kita di lokasi yang lain melihatnya cenderung tegak. “Tokh” kita melihat benda yang sama pada waktu yang bersamaan.

      Adapun planet sebagai benda langit akan tampak berpindah bergeser di lautan bintang. Perubahan letak planet yang menunjukkan gerak balik atau retrograde yang lalu diteliti oleh Kepler dan turut mendukung berlakunya kebenaran teori heliosentris Copernicus yang akhirnya dianut setelah pembuktian paralaks oleh Bessel.         
      Semua planet termasuk Bumi beredar mengelilingi Matahari pada lintasan orbitnya masing-masing. Praktis semua planet bergerak dalam satu bidang (sebut bidang orbit planet). Ibarat keping uang logam, maka keping itulah tempat planet bergerak mengedari Sang Surya. Dulu dianggap bahwa lintasan edar atau orbit planet berbentuk lingkaran, namun dibuktikan bahwa orbit itu berbentuk ellips dan Matahari berada di salah satu titik apinya. Bumi dan tujuh planet lainnya bersama Matahari membentuk satu tatanan yang selanjutnya dikenal sebagai keluarga Matahari atau Tata Surya. Kecepatan gerak orbit dari planet berbeda, semakin dekat ke Matahari semakin cepat. Adapun arah edar atau revolusi planet semua sama, yaitu apabila dilihat dari atas arahnya berlawanan dengan arah gerak jarum jam.

Konjungsi

      Dari sifat edar di atas, maka pergeseran planet di kubah langit terlihat saling susul menyusul atau kadang antar mereka posisinya saling berdekatan. Uniknya bahwa bidang orbit Bulan pun hampir sebidang dengan bidang orbit planet. Walhasil, baik planet maupun Bulan terkadang dapat berkumpul di suatu lokasi yang relatif sangat berdekatan. Secara sederhana, berkumpulnya mereka di kubah langit itulah yang disebut fenomena konjungsi.

Gerhana

      Seperti yang pernah ditulis sebelumnya terkait fenomena gerhana, bahwa peristiwa ini akan terjadi lagi pada tanggal 6 Juni 2020, yaitu Gerhana Bulan Penumbra. Kontak pertama terjadi pada pukul 00:45 WIB, puncak gerhana pukul 02:25 WIB, berakhir pukul 04:04 WIB. Total durasi Gerhana Bulan Penumbra 3 jam 18 menit 13 detik. Sayangnya secara awam, gerhana ini tidak terasa, bahkan lebih banyak yang tidak menyadari bahwa saat itu terjadi gerhana. Namun, untuk ranah penelitian (profesional) menjadikannya tetap sangat berarti. Selain itu, apabila kita sedikit meluangkan waktu mencermati kisah gerhana, tentu banyak hal yang dapat kita petik pelajarannya.

Wilayah yang terdampak Gerhana Bulan Penumbra

 

Hujan Meteor

      Ruang antar planet dan segenap pelosok Tata Surya bukan ruang kosong. Di sana banyak materi aneka jenis, baik debu atau batuan beragam ukuran dengan jumlah tidak terhitung. Sebarannya layaknya debu yang beterbangan di sekitar kita. Bila materi ini kena pengaruh gravitasi Bumi, maka masuk ke atmosfer lalu jatuh ke Bumi dengan kecepatan tinggi. Hanya saja materi ini harus terlebih dahulu bergesekan dengan materi di atmosfer, kemudian panas dan berpijar atau terbakar. Saat inilah nenek moyang kita menyebutnya sebagai bintang jatuh.

Setelah diteliti ternyata cikal bakal meteor atau meteoroid bukan hanya dari materi antar planet biasa. Ada batuan Bulan, Mars, komet, hingga asteroid (dapat lihat artikel terkait pada situs ini).

      Pada waktu tertentu/berkala tiap tahun, Bumi berpapasan dengan sekelompok materi sedemikian hal ini menimbulkan peristiwa hujan meteor (meteor shower). Arah datangnya seolah berasal dari satu titik di langit disebut Titik Radian (pola sebaran mungkin ibarat letusan kembang api di udara). Sebenarnya hal ini akibat perspektif belaka. Ibarat kita melihat rel kereta api yang seolah bertemu di satu titik di kejauhan.

      Saat hujan meteor bisa puluhan sampai ratusan meteor berjatuhan setiap jam. Peristiwa ini berkenaan dengan penjelajah kecil lain, yaitu komet dan asteroid. Yang menarik darinya adalah saat melihatnya. Ideal di daerah yang bebas polusi udara dan polusi cahaya. Yang tidak kalah penting, fenomena ini paling baik diamati kasat mata. Sebuah fenomena alam yang sebenarnya tiap tahun dapat diamati, bahkan dalam setahun dapat terjadi 12 kali hujan meteor.

      Bagaimana cara menikmati hujan meteor? Tentu saat liburan atau malam Minggu adalah saat yang dapat dipertimbangkan. Namun, sayangnya fenomena dapat terjadi kapan saja. Bagi yang sekolah atau bekerja, menikmati fenomena ini semalaman di mana esok paginya sekolah atau bekerja akan jelas menyita energi dan dapat membuat kita terkantuk-kantuk. Setelah pertimbangan ini, maka:

  • Cari lokasi observasi yang asri, aman, dan nyaman;
  • Tetaplah duduk atau tiduran dengan posisi yang Anda sukai di lokasi;
  • Jangan lupa memakai baju hangat atau jaket karena kita mengamat di udara terbuka sambil bergadang semalaman;
  • Menyiapkan cemilan dan minuman hangat tidak ada salahnya;
  • Tidak ada salahnya mencari informasi, sekiranya benda langit apa saja yang dapat disimak kala itu khususnya terkait peta langit.

Langkah berikutnya adalah:

  • Adaptasi mata dengan pekatnya malam. Hanya melihat nyala handphone sekali dan sedetik dua detik saja sudah menghilangkan kesempatan melihat meteor hingga 2 menit berikutnya, itupun bagi yang sudah terbiasa atau berpengalaman mengamat langit. Sebaiknya pakai fasilitas night mode. Adapun senter (flashlight) darurat, utamakan dengan filter warna merah;
  • Apabila itu semua sudah, mulailah melihat sekitar dua-pertiga langit di hadapan kita dihitung dari ufuk (cakrawala, horizon, atau kaki langit) ke arah puncak (zenith). Kalau terlatih, kita masih dapat melihat secara menyapu pandang kiri kanan secara runut. Bila belum terbiasa, lihatlah satu lokasi langit tersebut secara tetap (layaknya untuk pengambilan foto, yang berminat menjadi astrofotografer dapat mencobanya).

   Setelah itu, biarkan mata mengembara sehingga penglihatan peripheral kita yang melihatnya, seperti mata orang sedang menerawang atau melamun. Tidak difokuskan seperti kita melihat sesuatu laksana memasukkan benang ke lubang jarum (dengan melihat terlalu fokus seperti ini biasanya gagal untuk melihat meteor yang lemah cahayanya di medan penglihatan yang luas). Selebihnya, silakan hitung berapa meteor yang sanggup Anda lihat.

      Silakan menikmati dan menyibak cadar langit malam. Semoga kita dapat semakin arif menyikapi bentang langit dan menikmati fenomena itu sebagai salah satu karunia-Nya. Salam Astronomi. –WS

 

Daftar Pustaka

Bakich, M., 1995, The Cambridge Guide to the Constellations, Cambridge Univ. Press, Cambridge

Darling, D., 2004, The Universal Book of Astronomy, John Wiley & Son, New Jersey

 

Situs 

IAU Meteor Data Center

In-The-Sky.org

Timeanddate.com

Wikipedia the free Encyclopedia

Category: