Written by widya sawitar

User Rating: 0 / 5

Star InactiveStar InactiveStar InactiveStar InactiveStar Inactive
 

Kegiatan Penelitian dan Pengamatan Bulan
dalam Penentuan Awal Bulan Ramadan 1441H (2020 M)
di Kawasan Taman Impian Jaya Ancol, Jakarta
  

Oleh Tim Planetarium dan Observatorium
UP Pusat Kesenian Jakarta TIM – Dinas Kebudayaan Provinsi DKI Jakarta
 

Disarikan oleh Widya Sawitar


       Topik penentuan awal bulan Hijriah terasa berulang muncul ke permukaan, minimal menyangkut Ramadan, Syawal, dan Dzulhijjah. Hal ini terasa sejak tahun 1984 dan sangat terasa pada 2 dekade terakhir di mana masyarakat senantiasa bertanya akan adanya perbedaan dalam sebuah ketetapan yang dibangun utamanya pada ranah religi. Walau selalu ada penjabaran dan penjelasannya, topik seperti ini tidak lekang oleh waktu. Perkembangannya di masyarakat luas penuh dinamika dan juga perbedaan. Kadang terasa gaduh walau dalam konteks harapan yang positif. Di sini disajikan kembali tinjauan yang sama untuk perhitungan kalender Hijriah tahun 1441H (2020M), khususnya penentuan awal Ramadan. Banyak topik disaji-ulangkan kembali dalam

hal latar belakang dan yang terkait. Materi ini sudah dipaparkan pada penentuan Ramadan 1440H tahun 2019. Sekedar mengingatkan kita kembali.


       Seperti yang terjadi sebelumnya bahwa salah satu dari sekian banyak aplikasi langsung dari bidang ilmu Astronomi di kalangan masyarakat terwujud dalam bentuk penentuan waktu yang terkait erat dengan waktu ibadah keagamaan. Bagaimanapun, ibadah seperti ini banyak yang berpedoman pada kalender berbasis Bulan (atau kombinasi antara Matahari dan Bulan, yaitu sistem luni-solar). Memang secara faktual yang tampak adalah pada umat Muslim yang berpedoman pada kalender Hijriah.


       Di bawah ini, dapat dilihat perhitungan (hisab) yang dilakukan bersama Cecep Nurwendaya, yang merupakan salah satu anggota tim Planetarium dan Observatorium UP PKJ TIM sekaligus tenaga ahli dari Kementerian Agama RI, juga perbandingan dengan beberapa perhitungan lainnya dalam kegiatan Penelitian Hisab Rukyat di mana hal ini dilakukan dalam rangka penentuan awal bulan Ramadan 1441H. Hasil perhitungan ini nantinya akan digunakan sebagai rujukan pada Sidang Itsbat di Kementerian Agama juga untuk pedoman kegiatan observasi (rukyat) yang rencananya akan dilaksanakan di Kawasan Taman Impian Jaya Ancol, Jakarta. Kegiatan observasi ini merupakan ranah pencarian bukti astronomis dari hasil hisab.

OBSERVASI KAMIS, 23 APRIL 2020

DI KAWASAN TAMAN IMPIAN JAYA ANCOL, JAKARTA

Hari Hisab/Rukyat/Ijtimak

       Secara nasional, hari Kamis, 23 April 2020 (29 Syaban 1441H) dianggap hari rukyat (musyawarah dari MABIMS). Dalam kasus ini, mempertimbangkan aspek astronomisnya, maka Tim Planetarium Jakarta akan melaksanakan rukyat pada hari tersebut di mana posisi Bulan sudah melewati tahap konjungsi atau ijtimak (dalam kasus lain, konjungsi  dapat berupa fenomena Gerhana Matahari semisal yang terjadi di Indonesia tahun lalu, yaitu Gerhana Matahari Cincin tanggal 26 Desember 2019).

       Kali ini, terjadinya ijtimak berlangsung sebelum Matahari terbenam. Perhitungan astronomis menunjukkan bahwa Matahari terbenam apabila dilihat dari Kawasan Taman Impian Jaya Ancol adalah pada pukul 17:48:55,28 WIB. Artinya kondisi fase Bulan yang rencananya akan diobservasi saat Matahari terbenam sudah melewati saat ijtimak yang terjadi pukul 09:26:53 WIB. Sebut sebagai Anak Bulan yang usianya 8 jam 22 menit 3 detik. Jadi, dari analisis perhitungan astronomis bahwa Anak Bulan “kemungkinan” dapat diobservasi (analisis MABIMS, minimal usia 8 jam). Selain itu, Anak Bulan atau hilal akan terbenam pukul 18:06:47,97 WIB. Jadi, ada kesempatan selama 17 menit 52,69 detik untuk mengamati hilal sebelum akhirnya terbenam di ufuk dihitung sejak terbenamnya Matahari (bagian piringan Matahari paling atas atau upperlimb terbenam).

Gambar 1
Posisi terjadinya ijtimak/konjungsi. Proses Gerhana Matahari Total tampak jelas
apabila nilai lintang dari Bulan berharga nol dan nilai bujur berharga sama.

       Bagi kalangan tertentu yang berbasis hanya pada hisab, maka New Moon ini sekaligus menjadi New Month dalam arti secara otomatis esoknya menjadi tanggal 1 pada kalender yang berbasis Bulan pada bulan berikutnya. Namun, di Indonesia, tidak hanya berbasis hisab, melainkan hisab dan rukyat (bukan hisab atau rukyat). Jadi, yang menjadi permasalahannya bahwa New Moon belum niscaya menjadi New Month, karena dalam satu sisi lainnya bahwa fase ini belum tentu dapat dilihat (dirukyat) di mana dalam penentuan tanggal 1 kalender Hijriah ada ketentuan khusus. Ketentuan ini terkait dengan kondisi apakah hilal dapat diamati atau tidak tatkala Pemerintah RI mengambil keputusan melalui Sidang Itsbat untuk penentuan awal bulannya.

       Pada kasus lainnya, kendati berbasis hisab sudah New Moon, namun memperhitungan hadirnya hilal (sudah wujud atau tidak; wujud apabila hilal di atas ufuk tatkala Matahari terbenam), maka New Moon juga tidaklah otomatis menjadi New Month (bila tidak wujud, maka untuk bulan Syaban 1441H akan digenapkan 30 hari). Pada kasus lain, dapat terjadi ijtimak memang sudah berlangsung (New Moon), namun, saat Matahari terbenam ternyata posisi hilal terlalu dekat dengan Matahari (sudah wujud tetapi tidak dapat terlihat mata, sederhananya bahwa cahaya hilal kalah perkasa dibandingkan dengan pendaran cahaya Matahari). Atau lainnya, bahwa terbenamnya hilal mendahului terbenamnya Matahari (sederhananya bahwa saat Matahari terbenam, hilal sudah terlebih dahulu terbenam. Atau, tidak wujud saat Matahari terbenam, saat ghurub).

       Kasus di atas terkait kombinasi posisi Bulan, Bumi, dan Matahari, serta posisi sang pengamat. Misal kita di Jakarta dan di Medan, tentu akan melihat perbedaannya. Apalagi antara pengamat di Indonesia dengan di Timur Tengah. Sekaligus dapat menjelaskan mengapa apabila terjadi gerhana, maka tidak semua wilayah dapat menyaksikannya. Contohnya saat Gerhana Matahari Total pada tanggal 9 Maret 2016 di mana kota Palu mengalami totalitas, siang menjadi laksana malam dengan langit berbintang; sementara di Jakarta tetap saja Matahari tampak di langit dengan suasana siang seperti biasanya walau agak redup karena hanya gerhana sebagian saja.

       Dalam kasus pengamatan hilal di sini pun sama, belum tentu satu tempat dapat melihatnya walau dapat saja tempat lain dapat mengamatinya (dalam kasus hilal, semakin ke barat, kemungkinan melihat hilal makin besar. Misal di Indonesia belum terlihat (maka kita menggenapkan 30 hari, lusa baru tanggal 1), maka kawasan Timur Tengah atau lebih ke arah barat kemungkinan besar atau bahkan sudah dapat melihatnya (mereka 29 hari dan esoknya tanggal 1). Sesuatu yang sangat wajar karena makin ke barat seiring dengan bertambahnya usia Bulan, juga fase, iluminasi, dan tinggi dari garis ufuk yang niscaya semakin besar dan semakin relatif mudah diamati.

Gambar 2 Peta Ketinggian Hilal di Dunia Saat Matahari Terbenam Tanggal 23 April 2020.

 

Kembali pada data hisab, maka akan ditelusuri posisi hilal tersebut sebagai acuan tatkala hendak melakukan rukyat terkait penentuan awal bulan Ramadan 1441H. Dalam kasus ini memang tidak terjadi perbedaan kondisi hilal di Indonesia, semua berharga positif (lihat gambar 3 dan 4). Apakah hilal dapat dirukyat atau dilihat adalah pertimbangan pada aspek yang lainnya lagi.

Gambar 3 Peta Ketampakan Hilal di Seluruh Dunia Berbasis Kriteria Odeh.

 

Gambar 4 Peta Ketinggian Hilal Awal Ramadan 1441H (23 April 2020) di Indonesia.

 

 

Tabel 1
Berbasis Hisab, maka 1 Ramadan 1441H Jatuh pada Tanggal 24 April 2020

 

 

Tabel 2
Data Ephemeris berbasis titik Pelabuhan Ratu sebagai standard pos observasi secara nasional

 

Referensi Pelaporan Hilal

       Apabila menilik harga ketinggian hilal dan pra-syarat lain, memang ada kemungkinan hilal dapat dirukyat pada hari Kamis tanggal 23 April 2020. Sebagai pertimbangan bahwa memang ada referensi pelaporan hilal tatkala terjadi kondisi hilal seperti pada penentuan awal bulan Ramadan 1441H ini (khususnya di seluruh wilayah Indonesia). Berbasis pada titik rukyat utama di Pos Observasi Bulan (POB) Pelabuhan Ratu, Sukabumi pada hari Kamis, 23 April 2020, yaitu:

  1. Tinggi hilal =  3,88 derajat;
  2. Jarak busur Bulan dari Matahari            =  4,56 derajat;
  3. Umur  hilal                                          =  8 Jam 23 menit 5 detik; dan
  4. Fraksi illuminasi hilal                            =  0,24 %

Di Indonesia dikenal adanya kriteria imkanurukyat sebesar 2 derajat berdasarkan kesaksian yang terjadi pada rukyatul hilal penentuan 1 Syawal 1404H (atau pada tanggal 29 Juni 1984) di mana ijtimak terjadi pada pukul 10:18 WIB oleh:

  1. Muhammad Arief, 33 tahun. Panitera Pengadilan Agama Pare-pare;
  2. Muhadir, 30 tahun. Bendahara Pengadilan Pare-pare;
  3. Abdul Hamid, 56 tahun. Guru Agama Jakarta;
  4. Abdullah, 61 tahun. Guru Agama Jakarta;
  5. Ma’mur, 55 tahun. Guru Agama Sukabumi; dan
  6. Endang Effendi, 45 tahun. Hakim Agama Sukabumi.

Selain itu, ada pertimbangan lain:

  1. Kriteria MABIMS di mana:
    1. ketinggian hilal minimal 2 derajat;
    2. jarak busur 3 derajat; atau
    3. umur hilal minimum 8 jam.
  1. Landas acu empiris pada Limit Danjon (statistik dan batas kemampuan mata manusia secara wajar), bahwa hilal akan tampak apabila jarak sudut antara Bulan dan Matahari lebih besar dari 7 derajat di mana oleh Odeh dari Islamic Crescent Observation Project (ICOP), pada tahun 2004, dan dikoreksi berdasarkan statistik data baru dalam analisis perhitungannya bahwa limit ini adalah 6,4 derajat.

 

Bagaimana dengan hilal awal Ramadan 1441H di Indonesia?

Apabila murni hanya pada metode hisab dengan segala pertimbangan yang ada di atas, maka akan tampak untuk di Indonesia (dapat diambil salah satu posisi sentral perhitungan, yaitu di POB Pelabuhan Ratu, Kamis, 23 April 2020 atau 29 Syaban 1441H) hasilnya adalah sebagai berikut:

  1. Hilal posisi positif berarti awal Ramadan 1441H akan jatuh pada hari Jumat, 24 April 2020 (tidak digenapkan 30 hari); dan
  2. Hilal positif dan sudah ujud (di atas ufuk saat Matahari terbenam) berarti awal Ramadan 1441H adalah juga jatuh pada hari Jumat, 24 April 2020.

Apabila dikombinasi dengan syarat rukyat, maka

      3. Berbasis pertimbangan pada referensi pelaporan hilal di atas, kondisi hilal Ramadan 1441H pada hari Kamis, 23 April 2020 telah masuk kriteria, kecuali kriteria Limit Danjon (3,88 dibanding batasan 6,40). Jadi, statusnya “tetap besar harapan” untuk dapat melihat hilal walau bagi sebagiannya tentu akan merasa sangat kesulitan. Dari sini, “kemungkinan besar” bahwa awal Ramadan 1441H adalah Jumat, 24 April 2020.

Apabila ada kesaksian pelaporan dalam hal rukyat di atas, maka hilal Ramadan 1441H, pada hari hisab, hari rukyat, hari ijtimak, – yaitu pada hari Kamis Wage, 29 Syaban 1441H atau pada tanggal 23 April 2020 saat Matahari terbenam (Maghrib) – akan dapat diamati dari seluruh wilayah Indonesia. Artinya, “kita mulai berpuasa Ramadan” tahun ini dimulai pada hari Jumat tanggal 24 April 2020 (Sekedar catatan: Ibadah Ramadan sejatinya sejak Maghrib selepas teramatinya hilal pada hari Kamis tanggal 23 April 2020 seperti mengawalinya dengan Shalat Tarawih selepas Shalat Isya. Hal ini karena sebenarnya pergantian hari pada kalender Hijriah adalah saat Maghrib, bukan pukul 24:00 pada pergantian waktu dalam kalender masehi).

 

Tabel 3 Data Ephemeris berbasis titik observasi pantai Ancol.

Adapun pembanding perhitungan, dapat dilihat di bawah ini (dikompilasi oleh Mila Izzatul Ikhsanti) untuk lokasi di Kawasan Taman Impian Jaya Ancol dengan:

 

 

Gambar 5 Ilustrasi posisi hilal di Kawasan Taman Impian Jaya Ancol.

 

Gambar 6 Ilustrasi fase hilal di Kawasan Taman Impian Jaya Ancol.

 


Gambar 7
Ilustrasi orientasi bentuk hilal dilihat dari Kawasan Taman Impian Jaya Ancol.

 

Gambar 8 Ilustrasi arah pengamat untuk observasi hilal dilihat dari Kawasan Taman Impian Jaya Ancol

 

Gambar 9 Pedoman rukyat hilal dilihat dari Kawasan Taman Impian Jaya Ancol.

 

Contoh singkat pelaporan lapangan:

LAPORAN OBSERVASI HILAL RAMADAN 1441 H

Hari/tanggal      : Kamis, 23 April 2020 (29 Syaban 1441H)

Lokasi              : Kawasan Taman Impian Jaya Ancol

 

Data GPS

Jumlah satelit    : ……… 

 

Koordinat Pengamat

Lintang             : ….…o ........’ ……..” LS

Bujur                 : …….o … …’ ……..” BT

Tinggi dari muka laut     : ……….. meter

 

Kondisi Langit Saat Pengamatan Pukul 17:48:55 s.d. 18:06:48 WIB (durasi: 17 menit  53 detik)

  1. Cerah sekali / Cerah / Awan tipis / Awan sedang / Awan tebal (mendung) / hujan kecil / hujan Besar.
  2. Saat Matahari terbenam : Matahari tampak penuh / tampak sebagian / terhalang awan
  3. Hilal tidak terlihat / terlihat oleh mata / terlihat lewat binokuler / terlihat lewat teleskop.
  4. Yang berhasil melihat hilal: …….. orang / tidak ada, pada pukul …………….WIB.
  5. Hilal dapat dipotret / tidak dapat dipotret / hanya awan sekitar hilal yang dapat dipotret.

 

Keterangan data Bulan Sabit:

Tinggi Hilal                                =      30 40’ 36,61”

Beda Azimuth Bulan – Matahari  =  –  10 58’ 49” (Hilal di selatan Matahari)

Umur Bulan Sabit                      =      8 jam 22 menit 03 detik

Illuminasi Bulan Sabit                =      0,24 %

 

OBSERVASI JUMAT, 24 APRIL 2020
DI KAWASAN TAMAN IMPIAN JAYA ANCOL

       Sehari setelahnya, yakni Jumat, 24 April 2020 tetap dilakukan rukyatul hilal untuk konfirmasi hisab. Seperti hisab rukyat penentuan awal Syaban 1441H bulan lalu, bahwa ketika hilal pada hari hisab/rukyat/ijtimak belum terlihat, maka bulan Rajab digenapkan 30 hari (positif, namun tidak dapat dirukyat). Untuk Ramadan kali ini, dari hisab tanggal 29 Syaban 1441H (hari hisab/rukyat) nyatanya juga merupakan hari ijtimak dan ada alasan ataupun argumentasi apabila hilal dapat diamati. Jadi, berdasarkan hasil hisab bahwa penggenapan mungkin tidak terjadi. Namun, untuk konfirmasi terhadap hasil perhitungan astronomis guna mendapatkan data empiris di lapangan, maka tetap dilakukan observasi sebanyak dua kali pada hari berturutan berbasis aspek astronomis.

       Tujuan hari kedua adalah untuk mendapat data empiris ketampakan atau visibilitas hilal. Juga sangat penting untuk pendidikan, pembelajaran, dan latihan. Selanjutnya visibilitas Bulan Sabit ini dapat dipakai sebagai referensi ilmiah untuk menentukan kriteria masuknya awal bulan Hijriah secara teoritis. Observasi hilal ini dapat pula dipakai untuk memeriksa hasil perhitungan astronomis posisi Bulan (hisab), apakah sistem hisab yang dipergunakan memiliki akurasi tinggi atau berbeda jauh dibandingkan dengan hasil observasi lapangan, bahkan termasuk pengujian peranti lunak apakah presisi hasilnya atau tidak. Pada hari kedua ini, maka pedomannya adalah sebagai berikut:

Gambar 10 Peta Ketinggian Hilal di Dunia.

 

Gambar 11 Peta Ketampakan Hilal Berbasis Kriteria Odeh

 

Gambar 12 Peta Ketinggian Hilal di Indonesia.

 

Tabel 5 Data Ephemeris berbasis titik observasi Kawasan Taman Impian Jaya Ancol.

 

Adapun pembanding perhitungan, dapat dilihat di bawah ini (dikompilasi oleh Mila Izzatul Ikhsanti) untuk lokasi di Kawasan Taman Impian Jaya Ancol dengan:

Gambar 13 Ilustrasi posisi hilal dari Kawasan Taman Impian Jaya Ancol

Gambar 14 Ilustrasi fase hilal dari Kawasan Taman Impian Jaya Ancol

 

Gambar 15
Ilustrasi orientasi bentuk hilal dilihat dari Kawasan Taman Impian Jaya Ancol.

 

Gambar 16
Ilustrasi arah pengamat untuk observasi hilal dilihat dari Kawasan Taman Impian Jaya Ancol.

 

 

Gambar 17
Pedoman rukyat hilal dilihat dari Kawasan Taman Impian Jaya Ancol.

 

Sekilas Landas Acu Penetapan

       Mungkin sebagian masyarakat masih belum mengetahui tentang bagaimana proses atau tahapan penetapan hari istimewa berbasis kalender Hijriah. Di sini disaji-ulangkan kembali tentang tata cara atau bagaimana proses penetapan oleh Pemerintah RI melalui Sidang Itsbat-nya, sekali lagi untuk sekedar pengingat kita semua.

       Sidang Itsbat adalah sidang penetapan awal bulan Hijriah yang diadakan pertama kali tahun 1950; dan secara sederhana berbasis fatwa ulama, bahwa pemerintah punya hak menentukan awal bulan Ramadan (terkait awal puasa), Syawal (terkait Idul Fitri), dan Dzulhijjah (terkait Idul Adha). Lalu tahun  1972  dibentuklah Badan Hisab dan Rukyat (BHR) yang didalamnya terdapat para ahli, ulama, dan pakar astronomi. Tugas intinya adalah memberi informasi kepada Menteri Agama tentang data awal bulan tersebut.

     Sidang Itsbat bersifat musyawarah di mana hasilnya merupakan kesepakatan antar ormas Islam yang diwakili oleh utusannya. Jadi, dapat dikatakan bahwa Pemerintah hanya memfasilitasi, mengumpulkan para tokoh dan ulama untuk membahas kapan awal bulan itu ditetapkan. Hanya saja, nanti setelah diambil satu kesepakatan, barulah Menteri Agama memutuskan dan memberi pengumuman secara resmi. Hingga kini bahwa Sidang Itsbat di Indonesia utamanya untuk menentukan awal bulan Ramadan, Syawal, dan Dzulhijjah, yaitu berdasarkan pada fatwa MUI No. 2 tahun 2004. Jadi, Sidang Itsbat selalu dilaksanakan pada hari hisab dan hari rukyat, yaitu:

  1. Tanggal 29 Syaban untuk Itsbat Awal Ramadan;
  2. Tanggal 29 Ramadan untuk Itsbat Awal Syawal; dan
  3. Tanggal 29 Dzulkaidah untuk Itsbat Awal Dzulhijjah.

       Adapun metode hisab seperti yang telah dibahas sebelumnya berarti prediksi/informasi hilal penentu awal bulan. Rukyat bermakna konfirmasi hilal penentu awal bulan.

      Sidang Itsbat dilaksanakan di Gedung Kementerian Agama RI dan rukyat dilaksanakan di berbagai wilayah di seluruh Indonesia. Perukyat terorganisir (resmi) didampingi oleh Hakim Agama untuk memberikan itsbat kesaksian rukyat hilal. Hal ini mengacu pada UU RI No.3 Tahun 2006 Pasal 52A.

       Selain itu bahwa Sidang Itsbat dipimpin oleh Menteri Agama, didampingi oleh Ketua MUI, Ketua Komisi VIII DPR RI, Dirjen Bimas Islam, dan Sekjen Kementerian Agama. Peserta sidang terdiri dari Perwakilan ormas–ormas Islam, ulama, tokoh masyarakat, Anggota Badan Hisab Rukyat (sekarang Tim Hisab Rukyat), Duta Besar Perwakilan Negara Sahabat, Pejabat Kementerian Agama, dan instansi terkait.

  1. Sidang Itsbat diawali Pra Sidang dengan acara Presentasi Penjelasan Posisi Hilal Penentu Awal Bulan Hijriah oleh Tim Hisab Rukyat Kementerian Agama dilanjutkan dengan tanya jawab dan diskusi mulai pukul 16:30 WIB sampai menjelang masuk waktu Maghrib;
  2. Sidang Itsbat dimulai ba’da shalat Maghrib berjamaah. Setelah dibuka oleh Menteri Agama dilanjutkan dengan pelaporan hasil rukyat dari seluruh wilayah Indonesia ke panitia penerima hasil rukyat oleh Direktur Urais Kemenag;
  3. Tahap pembahasan hasil rukyat. Menteri Agama, sebagai pimpinan sidang, memberikan kesempatan kepada seluruh peserta sidang untuk menanggapi dan memberikan berbagai pertimbangan syariah dan ilmiah hasil rukyat yang telah dilaporkan tadi, untuk bahan pertimbangan;
  4. Menteri Agama meminta pandangan dan pertimbangan keagamaan pada Ketua MUI terutama dalam hal yang krusial jika ada perbedaan pendapat di antara peserta sidang;
  5. Berpedoman pada kesepakatan bersama peserta sidang, Menteri Agama secara resmi mengitsbatkan atau menetapkan awal bulan Hijriah; dan
  6. Press Release hasil Sidang Itsbat disampaikan oleh Menteri Agama didampingi oleh Ketua MUI, Ketua Komisi VIII DPR RI, dan Pejabat Kementerian Agama RI.

 

Catatan Akhir

Pada pada penentuan kalender Hijriah pada penentuan awal bulan Ramadan 1441H kali ini dapat dikatakan sebagai berikut:

  • Berdasarkan hasil murni perhitungan (hisab) bahwa hilal sudah wujud atau berharga positif pada hari hisab dan hari rukyat dan hari ijtimak (29 Syaban 1441H / 23 April 2020). Jadi, kecenderungannya bahwa bulan Syaban 1441H tidak akan digenapkan menjadi 30 hari sedemikian tanggal 1 Ramadan 1441H akan jatuh pada hari Jumat tanggal 24 April 2020;
  • Berdasarkan hasil observasi (rukyat), maka penentuannya berbasis hasil rukyat secara nasional pada kisaran 82 titik lokasi pengamatan yang akan dilakukan pada hari hisab/rukyat/ijtimak, yaitu saat Matahari terbenam pada hari Kamis tanggal 29 Syaban 1441H atau 23 April 2020, saat ghurub. Apabila ada kesaksian, maka kecenderungannya akan diterima karena berbasis kriteria yang ada praktis dapat dikatakan memenuhi syarat;
  • Dari aspek astronomis, bahwa pelaksanaan rukyatul hilal dilakukan mulai Kamis, tanggal 23 April 2020 karena berbasis hisab bahwa tahap ijtimak sudah terjadi. Adapun konfirmasi hasil hisab pun dilakukan pada tanggal 24 April 2020 atau dari hisab sudah masuk tanggal 1 Ramadan 1441H (observasi hari kedua);
  • Seperti yang pernah dipaparkan bahwa kadang hasil perhitungan berbeda dengan hasil rukyat. Jadi, kadang ada perbedaan penentuan awal bulan Hijriah (tidak dari segi perhitungan astronomisnya). Sebagai contoh: berdasar perhitungan bahwa hilal sudah positif karena sudah lewat ijtimak dan lokasinya di atas ufuk saat Matahari terbenam di hari hisab/rukyat/ijtimak. Namun, tidak ada kesaksian pada rukyat. Walhasil, yang memakai hasil murni perhitungan biasanya lebih awal melaksanakan ibadah Ramadan/Idul Fitri/Idul Adha dibandingkan dengan yang memakai hasil hisab dan rukyat. Masalah ini juga sudah ditentukan garis kebijakannya oleh Kementerian Agama RI. Mungkin inilah yang sering ditanyakan oleh masyarakat. Astronomi sebagai ilmu (pure science atau MIPA) memang kini dapat menentukan “New Moon” dengan ketepatan yang semakin dapat diandalkan, namun tidak untuk menentukan “New Month” yang lebih ke ranah religi. Kalau pada jaman dahulu kala memang menjadi lumrah apabila seorang astronom juga sekaligus ulama besar sebagai penentu kebijakan ibadah umat, bahkan banyak juga yang kepakarannya berkombinasi semisal dengan ahli Kimia, Fisika, dan Matematika;
  • Ilustrasi tambahan:

  • Sehubungan dengan kondisi darurat kesehatan saat ini terkait Covid-19, maka ada perubahan tata cara kegiatan rukyat dan proses Sidang Itsbat untuk penentuan awal bulan Ramadan 1441H. Dalam kasus ini Kementerian Agama RI sudah mengeluarkan Surat Edaran (Nomor B.1014/Dt.III.1/HK.03.2 /04/2020) yang sekiranya dapat diikuti dengan serius dan seksama oleh semua pihak. Edaran yang sama juga telah dilakukan oleh ormas terkait; dan
  • Terlepas dari itu semua, “Selamat menunaikan ibadah Ramadan 1441H dan bersiap menyambut datangnya masa kemenangan”. –WS

 

DAFTAR PUSTAKA

 

Abell, G.O.,    1975, Exploration of the Universe, Holt, Rinehart and Winston, New York

Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika

Departemen Agama RI, 1996, Winhisab Version 2.0, Badan Hisab Rukyat Departemen Agama RI

Departemen Agama RI, 2008, Panduan Hisab Rukyat, Direktorat Jenderal Bimbingan Masyarakat Islam

Kementerian Agama RI, 2018, Temu Kerja Hisab Rukyat Tahun 2018 (23 – 25 April 2016 di Hotel Sylvia Labuan Bajo NTT), Ditjen Bimas Islam, Direktorat Urusan Agama Islam dan Pembinaan Syariah

Kementerian Agama RI., 2020, Taqwim Standar Indonesia 2020 Masehi / 1441 – 1442H, Direktorat Jenderal Bimas Islam Kementerian Agama RI

Kementerian Agama RI., 2020, Ephemeris Hisab Rukyat 2020, Direktorat Urusan Agama Islam dan Pembinaan Syariah, Direktorat Jenderal Bimas Islam Kementerian Agama RI

Khafid, 1996, Mawaaqit 2001

Mahkamah Agung RI., 2020, Data Ephemeris Matahari dan Bulan tahun 2020, Direktorat Jenderal Badan Peradilan Agama.

MUI  2004, Keputusan Fatwa MUI Nomor 2 Tahun 2004 tentang Penetapan Awal Ramadhan, Syawal, dan Dzulhijjah, Komisi Fatwa MUI

Smart, W.M., 1961, Spherical Astronomy, Cambridge Univ. Press, London

---------------., 1989, Sofware Astronomi Astro Info, Tumasoftware, Zephyr Services 1900 Murray Ave. Pittsburgh, PA. 15217

---------------.,Red Shift 3 Multi Media Astronomy, Maris Multimedia Production

---------------., 2004, Software Astronomi Starry Night Pro Plus 6.0, Imaginova Canada Lmt