Written by widya sawitar

User Rating: 0 / 5

Star InactiveStar InactiveStar InactiveStar InactiveStar Inactive
 

Penelitian dan Pengamatan Bulan
dalam Penentuan Awal Bulan Syawal 1441H

 

Planetarium dan Observatorium
Unit Pengelola Pusat Kesenian Jakarta Taman Ismail Marzuki
Dinas Kebudayaan Provinsi DKI Jakarta

 

Kompilasi oleh : Widya Sawitar

 

PERENUNGAN AWAL

       Kembali kita berjumpa dalam topik seputar penentuan awal bulan Hijriah. Kali ini adalah penentuan awal Syawal 1441H (2020M). Dalam kurun lebih dari 3 dekade mungkin terasa bagi semua bahwa sering muncul pertanyaan akan adanya perbedaan dalam sebuah ketetapan awal bulan Hijriah yang dibangun utamanya pada ranah religi. Walau tahun demi tahun sudah banyak penjabaran dan penjelasannya, seolah-olah topik ini senantiasa hadir.
Apabila hendak menyimak dengan seksama perkembangannya di masyarakat luas, nyatanya penuh dinamika dalam ragam penafsiran dan perbedaan. Dapat dikatakan bahwa pada ranah kenyataan, kadang terasa gaduh walau dalam konteks harapan yang positif. Di sini disajikan kembali tinjauan yang sama untuk perhitungan penentuan awal Syawal 1441H. Beberapa aspek disaji-ulangkan kembali dalam hal latar belakang dan yang terkait. Sekedar mengingatkan kembali karena penentuan kapan Idul Fitri terakhir telah setahun berlalu.


       Kali ini, kita coba kaitkan bahasan dengan istilah yang begitu populer di kalangan masyarakat Indonesia, yaitu “Lebaran”. Mungkin kata inilah yang paling populer di masyarakat apabila disangkutkan dengan hadirnya 3 bulan Hijriah yang istimewa (Ramadan, Syawal, dan Dzulhijjah). Hal ini karena kebutuhan apapun yang bersifat kasat mata dan terkait penyambutan hari lebaran (Idul Fitri), pada jaman sekarang seolah menjadi hak mutlak pada ranah tuntutan para insaninya, tatkala terhubung dengan pikiran di ranah sayap-duniawi.


       Siapa yang tidak kenal istilah cuti bersama, mudik, THR, baju baru, dll. yang terkait berlebaran? Namun,

bagaimana sejarah legal formalnya dalam ranah religi? Atau menyoal dampak tuntutan pengeluaran yang lebih dari keseharian? Tidak dapat THR seolah menjadi medan olah pikir yang menyita memori. Namun, bila merunut pada jejak tertentu, pada ujungnya memang didapatinya satu unsur yang mencuat dan sangat menonjol, silaturahmi, baik secara lahiriah kewadagan maupun dalam arena ranah spirit dan ini rasanya di luar wilayah material yang rasanya menjadi kewajiban setiap insan dimanapun dia ditempatkan. Satu dunia spirit yang justru berlandas acu pada jagad religi, dan dengan cara se-kreatif mungkin, hingga merambah media online seperti yang terjadi saat sekarang dengan kondisi yang sangat khusus. Adapun cuti, mudik, dan lainnya tersebut di atas, yang menjadi produk lokal “mungkin” sekedar dampak yang sudah sempat menjadi budaya. Uniknya, justru hitung-hitungan dan tuntutannya kadang sangat “rumit” dan dianggap sesuatu yang mutlak yang harus diraih. Tentu semua ini menjadi medan telaah kajian budaya yang sangat unik.


       Pada sisi lainnya, apapun latar belakang kisah seputar aspek sosial-budaya tentang “berlebaran”, bahwa “penentuan kapan” kita akan berlebaran pada satu sisi dalam aspek sains Astronomi nyatanya juga tidak lebih dari sekedar salah satu terapan dari sekian banyaknya aplikasi pada bidang ilmu ini.
Masalah dalam Astronomi tersebut sebenarnya sekedar konsekuensi logis dari adanya kalender Bulan, yang sejatinya perhitungannya kini sudah semakin mapan. Fenomena paralel dengan fenomena kalender seperti gerhana “tokh” kini sudah dapat dihitung secara teoritis matematis untuk mengetahui bahkan hingga ke 50 tahun yang akan datang. Contoh kasus yang mungkin dipakai anak cucu kelak, bahwa akan terjadi Gerhana Matahari Total nanti tanggal 23 Mei 2096. Ya, masih 76 tahun lagi yang akan melewati Pulau Kalimantan dan Pulau Sumatera bagian selatan. Juga tanggal 15-16 April 2098 di mana akan terjadi Gerhana Bulan Total yang dapat dinikmati seluruh masyarakat Indonesia dan bersabar menanti 78 tahun lagi. Ini sekedar contoh teoritis. Dapat dikatakan bahwa perhitungan yang telah dilakukan tahun 1980 hingga kini dari basis data yang ada nyatanya tidak ada yang meleset (walau tidak dapat dipungkiri adanya koreksi dan biasanya setahun sebelumnya dan faktanya koreksi ini ordenya hanya dalam menit bahkan detik saja, kalaupun ada).

 

KALENDER BULAN

Pada kasus kali ini, sekali lagi, mengapa perbedaan berulang-ulang terjadi di luar ranah sains? Mungkin ini yang menarik bagi masyarakat luas. “Rasanya” memang akan “tenang” beberapa tahun ke depan berbasis perhitungan (hisab murni) yang justru karena “kebaikan Bulan” pada posisinya. Relatif tenang hingga tahun 2025, kecuali mulai penentuan Idul Adha 1443H dan waktu selanjutnya yang akan penuh pernak pernik. Tergantung kesepakatan bersama secara nasional (lihat table 1).

Tabel 1
Peringatan hari raya berbasis kalender Bulan
yang berdasarkan perhitungan dari tahun 2015 s.d 2025.
Perhitungan berlandas acu hari ijtima jelang awal bulan.

Jadi, karena “kebaikan Bulan” pada posisinya, dari tahun 2015 hingga 2025
dapat diharapkan perayaan berlangsung bersamaan,
kecuali kotak yang diberi warna merah. Misal Idul Adha 1443H (2022) yang “mungkin” akan berbeda.
Ini pun masih dapat terjadi sama, tergantung lokasi observasi (ke arah barat semakin besar),
di mana apabila ada kesaksian, “kemungkinan besar” akan bersamaan.

Namun, semisal Ramadan 1445H (2024M) “kemungkinan besar” akan berbeda.
Atau saat hari rukyat pada tanggal 29 Ramadan 1444H (2023M), harga tinggi hilal hanya 1,7 derajat.
Dengan adanya prasyarat tertentu, maka sangat mungkin terjadi perbedaan Hari Raya (Idul Fitri).


        Menyinggung masalah kalender, tentu yang paling populer diketahui masyarakat di dunia adalah yang berbasis Matahari yang umum disebut kalender Masehi atau kalender Matahari (Solar Calendar, Syamsiah). Bahkan sangat unik karena masyarakat yang dikatakan menggunakan kalender berbasis Bulan (Lunar Calendar) hingga ke penentuan ritual keagamaannya pun tetap saja masih menggantungkan ritme hidup dan penjadwalannya berbasis kalender Matahari. Seolah kalender Bulan yang digunakan hanya sekedar untuk pemenuhan acara ritual saja, tidak lebih. Hal ini dapat dibandingkan dengan pemakaian kalender lainnya termasuk yang dalam beberapa kasus merupakan kombinasi antara posisi Matahari dan Bulan (Luni-solar Calendar) seperti masyarakat Tiongkok.
Secara faktual di Indonesia yang tampak pada masyarakat adalah pada umat Muslim yang terkenal dengan kalender Hijriahnya. Tentu masalah seperti ini dibutuhkan kehati-hatian apabila kita memang tidak terbiasa menggunakannya. Sering pertanyaan muncul, “Lebaran kapan?” dan tentu jawaban yang paling tepat adalah “tanggal 1 Syawal.” Namun, pada masyarakat menjadi unik. Tetap saja bertanya, “Iya, kapan?” Selalu, siapapun, dimanapun dipaksa untuk menyebut tanggal Masehi. Akhirnya yang terjawab, misalnya “secara hitung-hitungan tanggal 24 Mei.” Lega sudah rasanya, baik yang menjawab maupun yang bertanya, terlebih apabila semuanya sepakat.
        Serta “lagi-lagi”, yang terpikir adalah kapan usai ibadah Ramadan dan secara simultan, kapan cuti bersama? Kapan libur? kapan “mudik”? kapan dapat THR? Apa menu dan kapan mulai menyiapkan “hidangan lebaran”? dan sekian banyak lagi sekedar kebutuhan atau pemenuhan kepuasan pada ranah inderawi lainnya. Lebih unik lagi, pembicaraan seputar “kebutuhan pemenuhan” berlebaran sudah ramai, bahkan sering mencuat justru saat ibadah Ramadan pun belum dimulai. Inilah pernak pernik budaya dalam ranah ujud yang sangat akrab dan nyata di masyarakat.
Terlepas dari ranah budaya di atas, berikut ini dipaparkan masalah teknis astronomi dalam penentuan awal bulan Syawal 1441H.

 

DATA HISAB PENENTUAN AWAL BULAN SYAWAL 1441H

      Guna memenuhi hasrat untuk mengetahui “kapan lebaran tiba”, maka pada paparan ini dapat dilihat serba sedikit bagaimana hasil teoritis matematis atau perhitungan yang dilakukan oleh Cecep Nurwendaya, yang merupakan salah satu anggota tim Planetarium dan Observatorium UP PKJ TIM sekaligus anggota Tim Hisab Rukyat Kementerian Agama RI, juga kompilasi hasil perhitungan, analisis data, dan uji banding oleh Widya Sawitar dan Mila Izzatul Ikhsanti, serta persiapan untuk observasi Bulan Sabit Awal atau rukyatul hilal bersama anggota lainnya untuk perbandingan dalam mencari landasan teori dalam Kegiatan Penelitian dan Pengamatan Bulan dalam Penentuan Awal Kalender Bulan, khususnya penentuan awal bulan Syawal 1441H.

        Hasil perhitungan (hisab) ini digunakan sebagai pedoman kegiatan observasi (rukyat) yang pada kesempatan kali ini Planetarium dan Observatorium UP PKJ TIM akan melaksanakan kegiatan rukyatul hilal pada hari hisab atau hari rukyat (29 Ramadan 1441H atau 22 Mei 2020). Juga konfirmasi hisab melalui rukyat pada tanggal 23 Mei 2020. Secara teknis bahwa Bulan tidak akan dapat dilihat pada hari hisab atau hari rukyat. Kegiatan observasi ini sebenarnya merupakan ranah ilmiah dalam mencari bukti astronomis dari perhitungan yang dilakukan, bahkan pada ranah spirit pun, pada sebagian besar masyarakat, terdapat “kewajiban” untuk melakukannya. Setiap tahun, sebelum diputuskan kapan jatuhnya awal Syawal, maka niscaya pada Sidang Itsbat Kementerian Agama RI, akan mendengar terlebih dahulu paparan ilmiah dan laporan hasil rukyat dari seluruh wilayah Indonesia (rukyatul hilal penentuan 1 Ramadan 1441H bulan lalu dilakukan di 82 titik pengamatan secara nasional). Sejatinya, kelompok mana pun boleh turut sumbang saran hasil observasinya dengan prosedur tertentu, karena bagaimanapun menyangkut kebersamaan dan kemudahan pengambilan keputusan dengan masukan data kesaksian yang jelas dan akurat.

        Kembali pada metode hisab yang akan dibahas bahwa seperti pada kasus-kasus  sebelumnya di mana hari penentu atau hari untuk menentukan kapan jatuhnya awal bulan Hijriah dilakukan pada setiap tanggal 29 bulan Hijriah (disebut hari hisab dan hari rukyat). Apakah ini bertepatan juga dengan hari ijtima, belum menjadi keniscayaan. Peninjauannya adalah kasus per kasus. Artinya, penentuannya adalah dilakukan setiap bulan, sepanjang tahun, sepanjang kita gunakan kalender Bulan, atau bahkan sepanjang Bulan masih hadir sebagai satelit Bumi (Info: Bulan setiap tahun bergeser menjauhi Bumi kisaran 3 cm).

        Satu fenomena dalam kasus di atas adalah ijtima yang di dalam bidang Astronomi biasa disebut konjungsi. Dalam fenomena ini adalah konjungsi antara Bulan dan Matahari di mana salah satu contoh konjungsi istimewa adalah terjadinya peristiwa Gerhana Matahari Total. Adapun yang terkait dengan tanggal 29 untuk setiap bulannya, hal ini karena sejatinya 1 (satu) periode sinodis Bulan (misal Purnama ke Purnama berikutnya, atau dari satu fase ke fase yang sama) tidaklah ber-angka bulat, yaitu sekitar 29,5 hari. Jadi, penentuan tanggal ini dimaklumi kalau dilakukan tanggal 29. Berbasis ini pula, maka di sini akan ditentukan, apakah harus di-istikmal-kan atau digenapkan bulan Hijriah menjadi 30 hari? Kalau tidak digenapkan, artinya apabila sekarang tanggal 29, maka esok adalah tanggal 1. Apabila digenapkan, artinya apabila sekarang tanggal 29, maka esok tanggal 30 dan baru lusa tanggal 1 (paling panjang rentangnya adalah 30 hari).

        Selain itu, seperti yang pernah terjadi pada penentuan awal bulan Ramadan 1441H yang baru lalu bahwa keputusan dalam ibadah umat Muslim di Indonesia juga berdasar kesepakatan dan aturan tertentu. Salah satunya adalah, apakah posisi hilal  pada hari hisab sudah memenuhi kriteria masuknya awal bulan Hijriah di Indonesia berbasis Hisab Kriteria MABIMS, yaitu perhitungan hisab yang berpedoman kepada ketinggian Bulan minimal 2 derajat untuk seluruh wilayah negara anggota, jarak sudut Matahari dan Bulan minimal 3 derajat, atau umur Bulan minimal 8 jam setelah saat ijtima. Apabila ternyata belum memenuhi kriteria awal bulan tersebut, maka di seluruh anggota MABIMS, yakni Brunei Darussalam, Indonesia, Malaysia, dan Singapura secara hisab meng-istikmal-kan menjadi 30 hari, walau ketentuannya tetap di koridor musyawarah yang disepakati dan yang kemudian di Negara Kesatuan Republik Indonesia dibakukan sebagai keputusan Pemerintah Republik Indonesia bagi Warga Negara  Indonesia secara sah.

      Untuk penentuan 1 Syawal 1441H kali ini, bahwa tanggal 29 Ramadan 1441H bertepatan dengan tanggal 22 Mei 2020. Jadi, jatuhnya hari hisab dan hari rukyat adalah pada hari Jumat Pon tanggal 22 Mei 2020 di mana rukyatnya sendiri akan dilakukan saat Matahari terbenam. Data hisab dapat dilihat pada uraian berikut ini dan diambil basis perhitungannya dengan mengambil acuan Pos Observatorium Bulan (POB) Pelabuhan Ratu – Sukabumi sebagai Markaz Hisab Kementerian Agama RI.

 

Gambar 1 Peta Ketinggian Hilal

 

 

Gambar 2 Posisi terjadinya ijtima/konjungsi.

 

 Gambar 3 Peta Ketampakan Hilal Berbasis Kriteria Odeh (Ref.: Icoproject)

 

Gambar 4 Peta Ketinggian Hilal Awal Syawal 1441H di Indonesia.

 

Tabel 2 Hasil Hisab Sistem Ephemeris di Pelabuhan Ratu sebagai pusat data rukyat nasional.


 

Tabel 3 Hasil Hisab Sistem Ephemeris di 34 provinsi

 

Tabel 4
Hasil Hisab Sistem Ephemeris Hisab Rukyat di Pelabuhan Ratu dan prediksi posisi Matahari - Bulan.

 

Gambar 5 Simulasi Hilal Diamati dari POB Pelabuhan Ratu Berbasis Software Starry Night Pro 6

 

Gambar 6 Sebagai Pembanding Simulasi Berbasis Software Red Shift 3.

 

Adapun rencana rukyatul hilal oleh Tim Planetarium dan Observatorium Jakarta mengambil lokasi di Kawasan Taman Impian Jaya Ancol dengan pertimbangan ufuk yang relatif masih terbuka, maka dapat diperoleh hasil hisab sebagai berikut.

Tabel 5 Lokasi Ancol

 

Gambar 7 Simulasi Hilal Diamati dari Ancol Berbasis Software Starry Night Pro 6

 

Gambar 8
Penampakan yang mirip yang kebetulan saat rukyatul hilal juga memiliki wajah fase yang sama 

 

Gambar 9 Sebagai Pembanding Simulasi Berbasis Software Red Shift 3

 

Gambar 10 Orientasi dan pedoman pelaksanaan rukyatul hilal Syawal 1441H.

 

PERBANDINGAN HISAB TANGGAL 22 MEI 2020

Pada Tabel 2 terdapat lebih dari 25 metode hisab dengan hasil akhir yang akan digunakan untuk pedoman melakukan rukyat. Di sini akan diberikan sedikit lagi data sekedar pembanding yang dikompilasi oleh Mila Izzatul Ikhsanti, S.Si., khususnya untuk hari Jumat Pon tanggal 22 Mei 2020 berbasis posisi di Kawasan Taman Impian Jaya Ancol – Jakarta sebagai berikut:

 

 

 

Usaha Mencari Pembuktian Astronomis Berbasis Hisab

       Menilik hasil di atas bahwa perbedaan data hilal antara Jakarta dengan POB Pelabuhan Ratu “rasanya” tidak signifikan. Perbedaan lokasi antara Jakarta dengan POB Pelabuhan Ratu tampak dari waktu terbenam Matahari, yaitu dengan perbedaan proses kisaran ½ menit saja. Jakarta terlebih dahulu.

      Selain itu, perbedaan ketinggian antara POB Pelabuhan Ratu dan Kawasan Ancol pun tidak membuat perbedaan signifikan antar keduanya. Dalam masalah ketinggian, hal ini terkait kedalaman ufuk (lihat gambar 9 di bawah). Pada waktu dan lokasi yang sama, semisal diambil lokasi di Pelataran Cawan Monas, tentu yang di cawan akan lebih dahulu mengalami waktu Shalat Maghrib dibandingkan dengan yang berdiri di Ruang Puncak Tugu Monas. Hal ini karena yang di bawah tentu akan melihat Matahari terbenam terlebih dahulu. Namun, sangat singkat sekali rentang waktunya.

apabila kita bayangkan di wilayah Arab Saudi, Matahari terbenam tentu pada kisaran pukul 22:00 WIB di mana usia Bulan otomatis juga sudah bertambah tua kisaran 4 jam. Ini juga setara dengan ketinggian hilal yang makin besar.

       Jadi, terkadang di seluruh zona Indonesia belum dapat “melihat” hilal, nyatanya mereka yang di Arab Saudi sudah dapat melihatnya. Baik secara hisab maupun rukyat. Dengan lain perkataan, permasalahan akan muncul dan terasa apabila berbasis hisab dihasilkan harga yang “rentan”. Sebut semisal di Indonesia usia Bulan 5 jam, maka di Arab Saudi tentu sudah sekitar 9 jam. Di Indonesia tidak masuk kriteria (esok baru tanggal 30), maka di Arab Saudi sudah masuk kriteria (esok lumrah kalau sudah tanggal 1 dan dalam penetapan Idul Fitri, maka esok pagi sudah berlebaran). Walhasil, secara hisab, di Indonesia kemungkinan besar digenapkan 30 hari; sementara di Arab Saudi keesokan harinya sudah masuk tanggal 1 (artinya Kalender Bulan berjalan di Indonesia digenapkan menjadi 30 hari, sementara di Arab Saudi hanya 29 hari). Hal ini sangat lumrah dan pada satu sisi tidak fenomenal.

       Adapun terkait kombinasi posisi Matahari, Bulan, Bumi, dan kita sebagai pengamat, maka walaupun sudah terjadi ijtima, hilal belum tentu dapat diamati. Hal ini dapat saja diakibatkan hilal yang terlalu dekat dengan Matahari (dapat dianalisis berbasis kombinasi antara selisih azimuth dan jarak busur). Atau seperti pada kasus tanggal 11 Agustus 2018 tahun lalu, yaitu kendati telah melewati tahap ijtima, ternyata terbenamnya hilal kisaran 16 detik mendahului terbenamnya Matahari. Dari sisi geometris dapat dikatakan bahwa ketinggian hilal (bukan ketinggian Bulan) saat Matahari terbenam (diambil saat upper limb atau tepi piringan Matahari yang paling atas berada di batas horizon/ufuk) memiliki harga negatif (dapat dianalisis dari kemiringan lintasan semu tahunan Matahari dan posisi hilal itu sendiri serta posisi pengamat di muka Bumi). Atau bila diambil titik tengah piringan Matahari, maka tatkala titik ini terbenam, upper limb dari Bulan (Qomar) baru 16 detik kemudian terbenam. Sebaliknya, hilal pada posisi kisaran lower limb sebagiannya sudah terbenam. Saat upper limb Matahari di batas ufuk, maka hilal sepenuhnya sudah terbenam. Sebut hilal belum wujud (karena disebut ketinggian positif apabila saat Matahari terbenam, hilal berada di atas ufuk walau belum niscaya dapat dirukyat).

       Pertimbangan lain bahwa hilal yang dekat Matahari (kisaran 2 kali besar piringannya apabila diambil titik tengah, atau 1 piringan apabila merujuk tepi piringan keduanya) tentu cahaya Matahari terlalu perkasa dibandingkan dengan cahaya hilal (iluminasi hilal amat sangat kecil untuk dilihat kasat mata bahkan dengan alat bantu “visual” lainnya). Jadi, hilal seperti ini praktis tidak dapat diamati.

       Pada kasus sekarang, pada hari Jumat, 22 Mei 2020 saat Matahari terbenam, nyatanya ijtima belum terjadi. Jadi, tahap New Moon pun belum berlangsung. Kasus unik lainnya adalah penentuan Ramadan 1439H tahun 2018 yang lalu, di mana kala itu pada tanggal 15 Mei 2018 (29 Syaban 1439H) merupakan hari hisab dan hari rukyat dan hari ijtima. Namun, saat itu terjadinya ijtima berlangsung setelah Matahari terbenam (terbenam pukul 17:44:55,15 WIB). Ijtima baru terjadi pada pukul 18:50:28,12 WIB. Jadi, andaipun ada yang melihat Bulan, maka yang disaksikan adalah sabit tua (muhak) atau usianya minus 1 jam 5 menit 33 detik. Jadi, dari analisis perhitungan astronomis bahwa hilal tidak dapat diobservasi. Selain itu, Bulan pun terbenam pukul 17:45:14,93 WIB (ketika terbenam pun belum ijtima).

 

RUKYATUL HILAL

     Sehubungan dengan rutinitas kegiatan rukyat, maka “pengalaman” masa lalu akan adanya kesaksian tentang hilal dan posisinya di kubah langit tentu dapat dijadikan pedoman tatkala membuat keputusan. Terlebih ini menyangkut masyarakat di satu negara kesatuan yang meliputi ribuan pulau, Indonesia, demi persatuan dan kesatuan. Rukyat pun tentu tidak dilakukan sembarang tanpa patokan.

      Perhitungan/hisab dilakukan berbasis rencana lokasi rukyatul hilal, yaitu di Kawasan Taman Impian Jaya Ancol Jakarta, dengan mengacu perbandingannya pada lokasi POB Pelabuhan Ratu – Sukabumi sebagai Markaz Hisab Kementerian Agama RI; serta dukungan beberapa metode hisab kontemporer, ataupun berbagi hasil hisab dengan lokasi yang melaksanakan baik hisab maupun rukyat.

Pertimbangan 1.

Di Indonesia terdapat kriteria imkanurukyat sebesar 2 derajat berdasarkan kesaksian yang pernah terjadi untuk 1 Syawal 1404H (29 Juni 1984).

Pertimbangan 2.

Kriteria MABIMS (tinggi hilal minimal 2 derajat, jarak busur 3 derajat, atau umur hilal minimum 8 jam).

Pertimbangan 3.

Landas acu empiris Limit Danjon (statistik dan batas kemampuan mata manusia secara wajar), sekitar 6,4 derajat.

Pertimbangan 4.

Konferensi Penyatuan Awal Bulan Hijriah International di Istambul pada tahun 1978.

Pertimbangan 5.

Rekor pengamatan Bulan Sabit Awal dalam catatan Astronomi modern saat ini adalah tatkala observasi hilal Ramadan 1427H (usia Bulan kisaran 13 jam 15 menit yang dipotret dengan teleskop dengan kombinasi kamera CCD di Jerman).

Pertimbangan 6.

Jarak hilal terdekat yang pernah terlihat adalah sekitar 8 derajat, dengan usia 13 jam 28 menit oleh Robert Victor di Amerika Serikat tanggal 5 Mei 1989 dengan menggunakan alat bantu binokuler (kèkeran)(Ref.: Di  Cicco, 1989, Sky & Telescope, 78; p.322).

Namun,

Terdapat Keputusan Fatwa Majelis Ulama Indonesia Nomor 2 Tahun 2004 Tentang Penetapan awal Ramadan, Syawal, dan Dzulhijjah yang ditandatangani oleh K. H. Ma’ruf Amin (Ketua MUI Komisi Fatwa) dan Hasanudin (Sekretaris MUI Komisi Fatwa) tanggal 24 Januari 2004 M di mana:

 Fatwa pertama:

  1. Penetapan awal Ramadan, Syawal, dan Dzulhijjah dilakukan berdasarkan metode rukyat dan hisab oleh Pemerintah RI cq Menteri Agama dan berlaku secara nasional;
  2. Seluruh umat Islam di Indonesia wajib menaati ketetapan Pemerintah RI tentang penetapan awal Ramadan, Syawal, dan Dzulhijjah;
  3. Dalam menetapkan awal Ramadan, Syawal, dan Dzulhijjah, Menteri Agama wajib berkonsultasi dengan Majelis Ulama Indonesia, ormas-ormas Islam, dan Instansi terkait; dan
  4. Hasil rukyat dari daerah yang memungkinkan hilal dirukyat walaupun di luar wilayah Indonesia yang mathla’nya sama dengan Indonesia dapat dijadikan pedoman oleh Menteri Agama RI.

Rekomendasi

 Agar Majelis Ulama Indonesia mengusahakan adanya kriteria penentuan awal Ramadan, Syawal, Dzulhijjah untuk dijadikan Pedoman oleh Menteri Agama dengan membahasnya bersama ormas-ormas Islam dan para ahli terkait.

 

SERBA SERBI LANDAS ACU PENETAPAN

Penetapan oleh Pemerintah melalui Sidang Itsbat melalui Badan Hisab dan Rukyat di mana terdapat para ahli, ulama, dan pakar astronomi, yang bersifat musyawarah di mana hasil dalam sidang merupakan kesepakatan antar ormas Islam. Jadi, Pemerintah hanya memfasilitasi, mengumpulkan para tokoh dan ulama untuk membahas kapan awal bulan itu ditetapkan berbasis hisab dan rukyat. Terakhir, barulah Menteri Agama memutuskan dan memberi pengumuman secara resmi. Masalah ini telah dipaparkan pada artikel pada situs ini tatkala penentuan awal bulan Ramadan 1441H yang lalu.

 

SELANGKAH MENUJU LEBARAN 2020

Bagaimana dengan hilal awal Syawal 1441H di Indonesia?

Apabila murni hanya pada metode hisab dengan segala pertimbangan yang ada di atas, maka akan tampak untuk di Indonesia (dapat diambil salah satu posisi sentral perhitungan di POB Pelabuhan Ratu, Jumat, 22 Mei 2020 atau 29 Ramadan 1441H) hasilnya adalah sebagai berikut:

  1. Semua pertimbangan di atas tidak masuk;
  2. Hari hisab merupakan hari rukyat, dan kali ini tidak berbarengan dengan hari ijtima,

maka hilal Syawal 1441H, pada hari hisab atau hari rukyat, yaitu pada hari Jumat tanggal 22 Mei 2020 (29 Ramadan 1441H) saat Matahari terbenam (Maghrib) – akan mustahil diamati dari seluruh wilayah Indonesia. Artinya, bulan Ramadan akan digenapkan menjadi 30 hari dan jatuhnya tanggal 1 Syawal 1441H, atau saatnya “kita berlebaran” adalah pada hari Minggu Kliwon tanggal 24 Mei 2020.

       iii. Penentuan kapan mengakhiri ibadah Ramadan tahun ini, untuk menyongsong tanggal 1 Syawal 1441H di mana “kita berlebaran”, dan sebagai Warga Negara                 Indonesia yang baik, tetap wajib merujuk kepada keputusan Pemerintah RI melalui Sidang Itsbat-nya pada tanggal 29 Ramadan 1441H atau 22 Mei 2020                     (selepas Matahari terbenam/Maghrib), termasuk men-taat-i fatwa yang ada.

       Adapun kegiatan rukyat pada hari kedua, yaitu Sabtu tanggal 23 Mei 2020 (berbasis pertimbangan hisab murni adalah tanggal 30 Ramadan 1441H), adalah usaha untuk fokus pada pembuktian dalam ranah astronomis berbasis perhitungan yang telah dilakukan. Selain itu, sebuah kesempatan mempertimbangkan hadirnya parameter berlandas acu empiris pada Limit Danjon (statistik dan batas kemampuan mata manusia secara wajar/awam), bahwa hilal akan tampak apabila jarak sudut antara Bulan dan Matahari lebih besar dari 6,4 derajat dari Islamic Crescent Observation Project (ICOP) di mana pada hari kedua berbasis hisab adalah sebesar 6,7 derajat.

       Selain itu bahwa tujuan hari kedua adalah untuk mendapat data empiris ketampakan atau visibilitas hilal. Juga sangat penting untuk pendidikan, pembelajaran, dan latihan. Selanjutnya visibilitas Bulan Sabit ini dapat dipakai sebagai referensi ilmiah untuk menentukan kriteria masuknya awal bulan Hijriah secara teoritis. Observasi hilal ini dapat pula dipakai untuk memeriksa hasil perhitungan astronomis posisi Bulan (hisab), apakah sistem hisab yang dipergunakan memiliki akurasi tinggi atau berbeda jauh dibandingkan dengan hasil observasi lapangan, bahkan termasuk pengujian peranti lunak apakah presisi hasilnya atau tidak.

       Dari kasus di atas, oleh karenanya, andai akan dilaksanakan pembuktian astronomis berbasis hisab dan rukyat untuk memperoleh data empiris yang lengkap, pelaksanaan rukyat hanya dapat dilakukan keesokan harinya, yaitu pada hari Sabtu (lebih jelas lagi Minggu) tanggal 23 Mei 2020 di mana hilal sudah wujud dan seperti yang rencananya akan dilaksanakan oleh tim observasi Planetarium dan Observatorium Jakarta yang mengambil lokasi di Kawasan Taman Impian Jaya Ancol.

 

Observasi Astronomis pada Hari Sabtu, 23 Mei 2020

       Berikutnya, akan dipaparkan data untuk kondisi hisab dan rukyat pada hari Sabtu, 23 Mei 2020 di mana rukyat ini lebih fokus pada pembuktian dalam ranah astronomis berbasis perhitungan yang telah dilakukan. Berdasarkan sifat edar Bulan, bahwa setiap harinya Bulan bergeser di lautan bintang ke arah timur kisaran 12 derajat pada lintasannya (ketinggian dari ufuk tergantung lokasi pengamat) dan bergeser di kawasan Zodiak. Dengan demikian, seharusnya dapat diperkirakan bahwa keesokan hari, tatkala Matahari terbenam, niscaya Bulan berada di atas ufuk dengan ketinggian kisaran 6,7 derajat. Tentu saja ini berlaku hanya di kawasan Jakarta dan sekitarnya (sebut di wilayah dekat lingkaran ekuator di mana lingkaran ekliptika tidak terlalu miring atau rebah terhadap ufuk dan pertimbangan parameter lintang dan bujur pengamat).

 

Gambar 12 Peta Ketinggian Hilal

 

Gambar 13 Peta Ketampakan Hilal Berbasis Kriteria Odeh (Ref.: Icoproject)

 

 

Gambar 14 Peta Ketinggian Hilal Awal Syawal 1441H di Indonesia.

 

Tabel 7 Lokasi Ancol

Gambar 15 Simulasi Hilal Diamati dari Ancol Berbasis Software Starry Night Pro 6

 

Gambar 16 Sebagai Pembanding Simulasi Berbasis Software Red Shift 3.

 

Gambar 17 Orientasi dan pedoman pelaksanaan rukyatul hilal Syawal 1441H.

 

PERBANDINGAN HISAB TANGGAL 23 MEI 2020

Berbasis hisab kontemporer diperoleh perbandingan sebagai berikut:

Catatan Akhir

Pada penentuan kalender Hijriah khususnya penentuan awal bulan Syawal 1441H kali ini dapat disarikan sebagai berikut:

  • Berdasarkan hasil murni perhitungan (hisab) bahwa hilal belum wujud atau berharga negatif pada hari hisab dan hari rukyat (Jumat, 29 Ramadan 1441H atau 22 Mei 2020), karena saat itu belum terjadi ijtima. Jadi, secara hisab bahwa bulan Ramadan 1441H akan digenapkan menjadi 30 hari sedemikian tanggal 1 Syawal 1441H akan jatuh pada hari Minggu tanggal 24 Mei 2020;
  • Berdasarkan hasil observasi (rukyat), maka penentuannya berbasis hasil rukyat secara nasional pada kisaran 82 titik lokasi pengamatan yang akan dilakukan pada hari hisab/rukyat, yaitu saat Matahari terbenam pada hari Jumat tanggal 29 Ramadan 1441H atau 22 Mei 2020, saat ghurub. Apabila ada kesaksian, maka kecenderungannya tidak akan diterima karena berbasis kriteria yang ada praktis dapat dikatakan tidak memenuhi syarat; atau kemungkinan besar yang disaksikan adalah Bulan Sabit Tua atau muhaq;
  • Dari aspek astronomis, bahwa pelaksanaan rukyatul hilal dilakukan mulai Jumat tanggal 22 Mei 2020 berbasis fatwa tentang cara penentuan awal bulan Hijriah. Adapun konfirmasi hasil hisab pun dilakukan pada tanggal 23 Mei 2020 atau secara hisab adalah tanggal 30 Ramadan 1441H (observasi hari kedua) karena hilal sudah wujud;
  • Ilustrasi tambahan:

  • Sehubungan dengan kondisi darurat kesehatan saat ini yang terkait pandemi Covid-19 (kondisi PSBB), maka ada perubahan tata cara kegiatan rukyat dan proses Sidang Itsbat untuk penentuan awal bulan Syawal 1441H (tertutup atau terbatas). Dalam kasus ini Kementerian Agama RI sudah mengeluarkan Surat Edaran (Nomor B.1014/Dt.III.1/HK.03.2 /04/2020) yang sekiranya dapat diikuti dengan serius dan seksama oleh semua pihak. Edaran yang sama juga telah dilakukan oleh ormas terkait; demikian pula kegiatan observasi yang rencananya akan dilakukan oleh tim Planetarium Jakarta. Namun, akan diusahakan untuk tetap memberikan pelayanan informasi ke publik dengan cara live-streaming melalui kanal youtube;
  • Seperti yang telah diungkapkan pada topik yang serupa sebelumnya bahwa apabila tetap ada perbedaan seperti yang terjadi selama ini sebenarnya sama sekali tidak menjadi masalah sepanjang masyarakat mengetahui alasan penetapannya dalam ranah religi maupun secara ilmiah. Namun, dan yang jelas dalam hal ini, Pemerintah RI melalui Kementerian Agama sudah memiliki standard penentuan yang lengkap, baik yang berbasis hisab tradisional hingga metode perhitungan modern, maupun metode rukyat pun dari yang konvensional yang berlaku sejak bergenerasi yang lalu hingga pengamatan berteknologi canggih; juga disertai data yang dihimpun dari beragam sumber dan narasumber; termasuk yang tidak kalah pentingnya demi kesatuan umat di wilayah RI, yaitu menghimpun semua hasil di atas dengan satu langkah upaya nan apik sebagai ajang kesepakatan secara nasional melalui Sidang Itsbat-nya di mana dengan suatu pagar tertentu, ormas apapun dapat hadir untuk urun-rembug dalam musyawarahnya. Sekali lagi, bahwa keputusan akhir tentu dapat tampak dari kesepakatan para ulama yang mumpuni dan memiliki kompetensi dalam hal seperti ini untuk menjadi pedoman tauladan umatnya, sesuai ke-taat-azas-an yang secara ikhlas “berkenan” dipagari secara arif bijaksana oleh Pemerintah RI yang tentu penuh pengayoman dan permakluman demi persatuan dan kesatuan umat di Tanah Air. Silaturahmi dan kekerabatan dalam segala bentukdan caranya adalah sebagai kata kunci; dan
  • Terlepas dari itu semua, segenap jajaran UP Planetarium dan Observatorium Pusat Kesenian Jakarta Taman Ismail Marzuki – Dinas Kebudayaan Provinsi DKI Jakarta mengucapkan “Selamat Idul Fitri 1 Syawal 1441H, Mohon Maaf Lahir dan Batin” Salam Astronomi. –WS

 

DAFTAR PUSTAKA

Abell, G.O.,    1975, Exploration of the Universe, Holt, Rinehart and Winston, New York

Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika

Departemen Agama RI, 1996, Winhisab Version 2.0, Badan Hisab Rukyat Departemen Agama RI

Departemen Agama RI, 2008, Panduan Hisab Rukyat, Direktorat Jenderal Bimbingan Masyarakat Islam

Kementerian Agama RI, 2018, Temu Kerja Hisab Rukyat Tahun 2018 (23 – 25 April 2016 di Hotel Sylvia Labuan Bajo NTT), Ditjen Bimas Islam, Direktorat Urusan Agama Islam dan Pembinaan Syariah

Kementerian Agama RI., 2020, Taqwim Standar Indonesia 2020 Masehi / 1441 – 1442H, Direktorat Jenderal Bimas Islam Kementerian Agama RI

Kementerian Agama RI., 2020, Ephemeris Hisab Rukyat 2020, Direktorat Urusan Agama Islam dan Pembinaan Syariah, Direktorat Jenderal Bimas Islam Kementerian Agama RI

Khafid, 1996, Mawaaqit 2001

Mahkamah Agung RI., 2020, Data Ephemeris Matahari dan Bulan tahun 2020, Direktorat Jenderal Badan Peradilan Agama.

MUI  2004, Keputusan Fatwa MUI Nomor 2 Tahun 2004 tentang Penetapan Awal Ramadhan, Syawal, dan Dzulhijjah, Komisi Fatwa MUI

Smart, W.M., 1961, Spherical Astronomy, Cambridge Univ. Press, London

---------------., 1989, Sofware Astronomi Astro Info, Tumasoftware, Zephyr Services 1900 Murray Ave. Pittsburgh, PA. 15217

---------------.,Red Shift 3 Multi Media Astronomy, Maris Multimedia Production

---------------., 2004, Software Astronomi Starry Night Pro Plus 6.0, Imaginova Canada Lmt

Serta artikel-artikel seputar hisab rukyat pada situs ini.