Written by Nadya Hidayatie dan Widya Sawitar

User Rating: 5 / 5

Star ActiveStar ActiveStar ActiveStar ActiveStar Active
 
GERHANA BULAN PENUMBRA
6 JUNI 2020

Nadya Hidayatie dan Widya Sawitar

 

Atas dasar perhitungan astronomi, pada hari Sabtu dinihari, tanggal 6 Juni 2020 akan terjadi Gerhana Bulan Penumbra (GBP). Proses GBP dimulai pada pukul 00:45:50 WIB dan berakhir pada pukul 04:04:03 WIB. Peristiwa GBP ini praktis dapat disaksikan oleh semua pengamat di wilayah Indonesia. Namun demikian, untuk mengamati fenomena ini bagi awam mungkin tidak terlalu menyita perhatian. Hal ini karena tidak terjadi perubahan yang signifikan pada wajah Bulan. Bahkan mungkin bagi sementara masyarakat tidak menyadari bahwa saat itu terjadi gerhana. Berbeda sekali dengan Gerhana Bulan Sebagian (GBS) atau Gerhana Bulan Total (GBT) di mana wajah Bulan tampak gelap sebagian demi sebagian, bahkan yang seharusnya purnama tampak menjadi separuh, sabit, bahkan berubah merah tembaga dan jauh dari kisah cemerlangnya Bulan Purnama. Sebagai catatan bahwa penampakan fenomena langit pada artikel ini berpedoman dengan sekiranya yang dapat disaksikan dari kota Jakarta, termasuk perhitungan waktu kejadiannya (WIB).

Gambar 1
Wilayah yang Dapat Menyaksikan Fenomena GBP (daerah warna putih).

 

Mitologi Gerhana

Bila suatu waktu kita berkesempatan memandang ke kubah langit malam yang penuh bintang gemintang dari dari satu ufuk ke ufuk yang lainnya, tentu saat terbaik justru tanpa kehadiran Sang Dewi Malam Rembulan. Suatu saat lainnya, betapa Bulan sangat perkasa dengan cerlang cahayanya bahkan layaknya lampu bagi kita yang bernaung pada kubah langit malam. Namun, tatkala Bulan sedemikian perkasa dan tiba-tiba meredup, bahkan perlahan wajahnya tertutup hingga nyaris sirna dari pandangan mata, maka tentu akan membangkitkan beragam imajinasi sejak bermilenia lalu. Pada satu sisi lainnya, apapun yang terjadi di kubah langit malam bahwa sejatinya walau hanya sezarah rentang waktu kesempatan kita untuk melihat itu semua, niscaya ada rasa terpesona. Rasa inilah yang telah membangkitkan berbagai inspirasi artistik maupun spiritual sepanjang peradaban manusia. Salah satunya terejawantah dalam ragam kisah atau mitologi seputar Gerhana Bulan.

Dari ranah India dikenal kisah pertarungan antara Dev (Dewa) dan Danav (Danawa/Raksasa) memperebutkan air abadi (Kisah Samudramanthan, seperti yang dituturkan oleh Leena Damle dari tim Stars of Asia dari India). Ketika danawa menang, digunakanlah mantra yang dapat menghidupkan balatentaranya yang mati. Dewa mengadukan ke Brahma lalu disarankan meminta tolong Dewa Wisnu. Agar adil, bahkan Dewa Wisnu harus menjelma sebagai Dewi Mohini untuk membagi air abadi tersebut. Rahu – salah satu Danawa – duduk di antara Suryadev (Dewa Matahari) dan Chandradev (Dewa Bulan) menyamar sebagai dewa.  Ketika dia hendak membawa air tersebut, mereka berdua segera menyadari penyamarannya lalu melapor ke Dewa Wisnu. Tidak menunggu waktu, Dewa Wisnu langsung mengejar Rahu. Karena terjepit, maka segera air abadi diminumnya. Namun, kala itu pula Dewa Wisnu berhasil memenggal kepala Rahu dengan senjatanya Sudarshan Chakra. Kepala Rahu tetap hidup, sementara tubuh lainnya jatuh. Rahu mendendam pada Dewa Surya dan Dewa Bulan dan hal inilah yang membuat Matahari dan Bulan senantiasa diburu oleh Rahu dan terjadilah fenomena gerhana.

Dari Indonesia seperti yang dituturkan oleh Avivah Yamani, dari masyarakat Dayak Borneo, terdapat kisah Kilip, pemuda sebatang kara yang gemar bersenandung sambil bermain sampe. Pekerjaannya adalah merawat tanah warisan orangtuanya. Kadang berburu bersama teman-temannya. Kilip sangat mengagumi Maharaja Banu, raja yang pertama menghuni Delta Kapuas. Suatu malam, saat Bulan Purnama, selepas bersenandung hendak tidur, Kilip melihat berkas cahaya yang menjelma menjadi putri yang sangat cantik yang ternyata adalah Putri Bulan. Kehadirannya untuk mengucapkan terima kasih kepada Kilip karena senandung dan permainan musik sampe-nya sangat merdu membuat Raksasa Ruha kesakitan dan pergi. Adapun Raksasa Ruha inilah yang sering membuat cahaya Putri Bulan memudar karena ditutupi olehnya. Atau adanya tokoh Jangkarang Matan Andau pada masyarakat Dayak Kaharingan (Palangkaraya).

Berbeda lagi dari ranah Bangladesh (dari F.R. Sarker) di mana terdapat tokoh Rahu yang gemar menjelajahi dunia bawah tanah (Patalpuri) mencari lokasi air abadi yang disimpan Mahadewa. Ketika berhasil menemukannya, diketahui oleh Sang Matahari dan Rembulan yang kemudian mengadukannya ke Dewa Wisnu. Hal ini membuat leher Rahu dipenggal dengan pedangnya. Kepala Rahu dibiarkan melayang di langit sebagai hukumannya, sementara bagian tubuh lainnya yang disebut Ketu diletakkan pada sisi berseberangan (180 derajat). Masyarakat Bangladesh meyakini Rahu pada posisi Ascending Node dan Ketu pada posisi Descending node. Jadi, ketika Matahari atau Bulan melewati titik ini, diyakini Ketu atau Rahu akan menelan Matahari atau Bulan. Terjadilah gerhana.

Sebenarnya masih banyak lagi kisah seperti ini apabila kita berkenan menelusuri jejak budaya mitologi di ragam benua termasuk pada budaya di Nusantara dan inilah bidang kebudayaan yang belum banyak disadari karena lebih pada rasa dan ranah spirit dibanding ranah wujud dunia materi.

 

Gerhana Bulan Penumbra (GBP)

Bagi masyarakat yang tinggal di kawasan Asia, Australia, Eropa, Afrika, serta sebagian wilayah Amerika, dapat bersiap-siap untuk menyaksikan Bulan yang seharusnya dalam fase purnama akan sedikit meredup sebagiannya seperti tertutup kabut, di mulai pukul 00:45:50 WIB, dengan puncak peredupan pukul 02:25:02 WIB, dan kembali ke kecerahan seharusnya pada pukul 04:04:03 WIB. Inilah yang terjadi pada fenomena GBP, yang berbeda dengan penampakan fenomena GBS dan GBT.

Peristiwa GBP pun aman dilihat dengan mata telanjang tanpa alat bantu semisal binokuler (kèkeran) atau teleskop (teropong). Tidak berbahaya bagi kesehatan mata. Namun demikian, tatkala melihat dengan alat bantu optik dan mengamati Bulan dalam fase purnama pasti cukup menyilaukan. Jadi, tidak pula disarankan berlama-lama terlebih cuaca sangat cerah. Bagi sebagian, dampak terlalu silau juga membuat tidak nyaman, kadang pusing.

GBP kali ini dalam fenomena Astronomi termasuk yang dikategorikan dalam seri Saros 111 dan merupakan gerhana ke 67 dari total 71 kali gerhana. Seri ini bermula pada tanggal 10 Juni 830. Sementara itu, untuk gerhana berikutnya, atau yang ke 68, akan terjadi kisaran 18 tahun lagi, yaitu pada tanggal 17 Juni 2038. Seri Saros 111 terdiri dari 71 fenomena gerhana, terdiri dari 17 GBP, 43 GBS, dan 11 GBT.

Fenomena gerhana adalah peristiwa yang sangat wajar dan biasa terjadi. Pada budaya di Jawa-Kawi dikenal istilah Growah untuk Gerhana Bulan Sebagian atau secara umum Lêntrèh untuk Gerhana Bulan. Prasasti tentang fenomena ini di Nusantara pun sudah ada sejak abad 8.

 

Gambar 3
Skema Lintas Orbit

 

Gambar 3
Posisi Bulan tatkala mengalami Gerhana Bulan Penumbra

 

Mengapa fenomena ini menjadi lumrah dan banyak tercatat pada budaya dunia sebenarnya hal ini dapat ditinjau dari sifat Bulan yang bergerak mengedari Bumi, sementara Bumi pun secara bersamaan mengedari Matahari (tentang Bulan, dapat disimak pada Bulan, Satelit Bumi dan Gerhana Matahari dan Gerhana Bulan). Baik Bumi dan Bulan sama-sama tidak memancarkan cahaya sendiri, hanya mendapat cahaya utamanya dari Matahari. Dengan demikian, akan dimengerti kalau baik Bumi dan Bulan memiliki bayang-bayang, baik bayang-bayang utama yang disebut umbra maupun bayang-bayang samar atau penumbra. Jadi, dapat dimaklumi juga apabila permukaan Bumi terkena bayang-bayang Bulan, maka akan terjadi gerhana Matahari. Atau berlaku sebaliknya, Bulan memasuki bayang-bayang Bumi sehingga terjadi gerhana Bulan. Untuk kali ini adalah fenomena GBP di mana hanya sebagian piringan Bulan saja yang memasuki penumbra Bumi.

 

Gambar 4
Tahapan Proses GBP Tanggal 6 Juni 2020.
Tampak bahwa hanya sebagian piringan Bulan yang memasuki wilayah penumbra Bumi. Peredupannya pun tidak terjadi pada keseluruhan piringan Bulan.

 

Proses Gerhana Bulan Penumbra

1 Bulan terbit : Jum’at, 5 Juni 2020 pukul 17.29 WIB (iluminasi 99%)
2 Bulan transit : Jum’at, 5 Juni 2020 pukul 23.36 WIB.
     
3 Kontak Penumbra Pertama (P1) : Sabtu, 6 Juni 2020 pukul 00.45:50 WIB.
4 Puncak Gerhana Penumbra : Sabtu, 6 Juni 2020 pukul 02.25:02 WIB.
5 Kontak Penumbra Akhir (P4) : Sabtu, 6 Juni 2020 pukul 04.04:03 WIB.
     
6 Matahari terbit : Sabtu, 6 Juni 2020 pukul 06.01 WIB.
7 Bulan terbenam : Sabtu, 6 Juni 2020 pukul 06.04 WIB.


Berbasis data di atas bahwa keseluruhan proses gerhana terjadi dalam kurun waktu 3 jam 18 menit 13 detik. Pada puncak GBP, Bulan berada pada jarak sekitar 364.000 km dari Bumi, dengan iluminasi mencapai 100% (purnama).

 

Astrofotografi

Walaupun kejadian biasa, namun tetap menarik untuk disimak. Banyak yang dapat dilakukan dan salah satunya adalah mengabadikannya dengan kamera foto. Bagi peminat fotografi, khususnya dalam merekam peristiwa astronomis dapat disebut sebagai bidang astrofotografi, termasuk dalam memotret GBP.

Sekedar catatan, bahwa pada umumnya kamera tidak dilengkapi motor penggerak untuk menyesuaikan gerak harian benda langit dari timur ke barat (terbit terbenamnya benda langit akibat gerak rotasi Bumi dari barat ke timur). Jadi tempo pengambilan gambar (kala pemotretan) harus diperhatikan guna menghindari citra menjadi kabur. Kala pemotretan (shutter speed) dapat dihitung berdasarkan panjang fokus dan ukuran sensor. Secara sederhana, kala pemotretan dapat dihitung dengan rumus:

 

 

dimana F adalah panjang fokus kamera dalam milimeter dan crop factor adalah perbandingan ukuran sensor terhadap sensor full frame. Misal pengambilan gambar menggunakan kamera dengan sensor full-frame (crop factor 1), maka rentang pemotretan terpanjang (toleransi agar citra Bulan tidak bergeser pada hasil bidikan kamera) adalah sebesar 500/200 detik atau 2,5 detik. Lewat rentang waktu ini, citra Bulan akan kabur. Selain kamera dengan sensor full-frame, saat ini banyak juga digunakan kamera dengan sensor APS-C (Advance Photo System-Classic) di mana jenis sensor ini memiliki crop factor lebih dari 1 (umumnya 1,5x). Sehingga dengan lensa yang sama dengan sebelumnya, panjang fokus 200mm, perhitungan rentang terpanjang kala pemotretan menjadi 500/(1,5x200) detik atau 1,6 detik.

 

Sementara itu, seberapa besar citra Bulan yang terekam dirumuskan dengan d (diameter Bulan dalam film) = F/110. Dalam kasus kamera 200 mm artinya diameter Bulan yang terekam di film adalah sebesar 200/110 mm atau 1,8mm.

Andai untuk fenomena Gerhana Bulan Sebagian, buka seperti kali ini yang GBP, dapat dicoba menggunakan filter untuk mendapatkan kontras. Dapat dengan filter hijau-kuning dengan ND 0,1 atau 0,2. Namun demikian, terkait bahwa yang terjadi adalah GBP dan sebagian saja, maka kala pemotretan umumnya aman tanpa motor penggerak (dalam rentang speed tertentu).

Secara umum, kamera yang digunakan adalah jenis Single Lens Reflector (SLR). Perlu diperhatikan adalah ukuran kecepatan film antara ASA/ISO 25 sampai 400, tergantung tahap fase wajah Bulan atau gerhana. Jangan lupa memakai tripod untuk mencegah getaran saat pemotretan. Untuk eksperimen lain, saat ingin merekam citra kawah Bulan – jangan pada saat Bulan besar atau purnama. Yang tidak kalah pentingnya dalam pemotretan seperti ini adalah masalah kesehatan. Pertama, bahwa peristiwa ini berlangsung malam kadang hingga menjelang waktu Subuh bahkan terbitnya Matahari. Kedua, berada di tempat terbuka. Dapat saja cuaca cerah sepanjang malam, namun angin dapat saja cukup kencang, dsb. Juga, kesabaran dalam pemotretan. Jangan kecewa kalau ternyata cuaca tidak memungkinkan untuk memotret ataupun sekedar pengamatan.

 

Peta Langit Malam

Bila kita sudah siap sejak awal malam hari Jumat, 5 Juni, maka pada pukul 19:30 WIB, apabila kita arahkan pandangan kita ke ufuk timur yang cukup lapang akan tampak Sang Dewi Malam Rembulan yang sudah menampilkan rona wajah bulat purnamanya pada kisaran ketinggian 30 derajat. Tepat di sebelah baratnya akan tampak bintang berwarna merah yang merupakan jantung dari Sang Kalajengking Scorpius, yaitu bintang Antares yang tergolong bintang maharaksasa dengan radius sekitar 360 kali jejari Matahari, dan kecerlangannya mencapai lebih dari 6000 kali Matahari. Nama Antares berasal dari kata Anti Ares (Ares adalah nama dewa perang bangsa Yunani yang lalu diadaptasi bangsa Romawi menjadi Mars yang lalu dijadikan nama planet yang terkenal dengan warna merahnya yaitu Mars). Namun demikian, Antares tergolong bintang dingin dengan temperatur permukaan yang hanya berkisar 2800 oC saja (bandingkan: Matahari sekitar 6000 oC). Scorpius adalah salah satu Zodiak. Dalam budaya Nusantara dikenal sebagai Lintang Klopo Doyong (pohon kelapa yang miring; sebutan bila posisi ke seluruhan rasi ini baru saja terbit). Dapat disimak pada artikel situs, scorpius-sang-kalajengking.

 

Gambar 5 Peta Langit Scorpius
Dalam gambar dapat dilihat keberadaan M7 dan NGC 6231. Juga Libra yang dulu termasuk Scorpius.
Apabila lingkaran hitam penanda bintang semakin besar,
artinya bintang tersebut semakin cemerlang apabila dilihat kasat mata.
Magnitudo semu yang tertera adalah antara 1 hingga 6
di mana besaran 6 merupakan batas kemampuan kasat mata. (Ref.: SCO - IAU)

 

Gambar 6 Milky Way – Crux – Centaurus
Nikon D5100, Lensa AT-X Pro Tokina 11-16 mm, 30 Detik, ISO 800, f/2.8, Fl. 11mm
Kupang, Nusa Tenggara Timur. 14 April 2015, 01.10 WITA.
M. Rayhan – Planetarium dan Observatorium Jakarta

 

Sementara itu, dengan ketinggian kisaran 40 derajat dihitung dari ufuk Selatan, akan tampak Lintang Gubug Penceng (Lintang Pari atau Bintang Layang-layang) yang secara internasional disebut kelompok bintang atau rasi bintang Crux di mana para anggota Pramuka sudah sangat fasih menggunakannya sebagai kompas atau pedoman arah, tentu juga para leluhur kita pada masa yang lampau untuk alat navigasinya. Tepat sebelah timur Crux terdapat 2 bintang terang yang dikenal nenek moyang kita sebagai Lintang Wulanjar Ngirim (Alpha dan Beta Centauri).

Pada gilirannya pukul 23:00 WIB tampak jelas persandingan antara Sang Raksasa Jupiter dan Si Cantik Saturnus seolah berbaris di belakang Sang Dewi Malam mengiringin pergerakannya ke arah barat. Pada saat puncak gerhana pukul 02:25 WIB, Lintang Joko Belek, rival dari Antares tampak dengan ketinggian 35 derajat dari ufuk timur. Inilah planet Mars.

Benda langit di atas memang akan terus bergerak akibat rotasi Bumi. Bergeser ke arah barat. Pada saat akhir gerhana, posisi Bulan jauh ke arah barat. Rasi bintang Crux sudah terbenam di ufuk Barat. Mars, Jupiter, dan Saturnus masih di puncak langit. Adapun rasi bintang Scorpius bagian kepalanya sudah mendekat ufuk barat dengan bagian ekor ke arah puncak langit (posisi kalajengking terbalik – Lintang Kala Sungsang sebutannya).

Berharap cuaca cerah, sedemikian peristiwa Gerhana Bulan Penumbra ini dapat kita saksikan, termasuk dalam mencermati wajah kubah langit malam dengan segala pernak pernik yang bertabur menghiasinya. Fenomena astronomis ini semata hadiah sekaligus tantangan dari Yang Maha Cendekia untuk ditelaah secara ilmiah. Juga merupakan saat yang paling unik dan khas dari rentang hidup manusia untuk sejenak menggugah kembali nuraninya. Merenungkan ke-Maha Besar-an Sang Pencipta Langit dan Bumi dalam segala ragam ciptaan di jagad semesta berikut segala peristiwa yang menyertainya. Bagi umat Muslim biasanya melaksanakan shalat gerhana sekaligus memohon ampunan-Nya. Salam Astronomi. –WS–

 

Peranti Lunak
Stellarium 0.20.1


Situs
https://eclipse.gsfc.nasa.gov/5MCLE/5MKLEcatalog.txt
https://eclipse.gsfc.nasa.gov/LEsaros/LEsaros111.html
https://www.timeanddate.com/eclipse/total-lunar-eclipse.html
https://eclipse.gsfc.nasa.gov/5MCLEmap/2001-2100/LE2020-06-05N.gif
https://planetarium.jakarta.go.id/index.php/artikel-astronomi/151-fenomena-gerhana-bulan-sebagian-17-juli-2019