Written by widya sawitar

User Rating: 0 / 5

Star InactiveStar InactiveStar InactiveStar InactiveStar Inactive
 

LIBRA
SKETSA KESETIMBANGAN

Widya Sawitar

 


Gambar 1
Atas: Simbol Libra.
Bawah: Wadah timbangan Libra,
digambarkan dalam Atlas Coelestis karya John Flamsteed (1646 – 1719)
yang diterbitkan di London pada tahun 1729.
Tampak Scorpius di bagian kiri bawah dan kaki Virgo terlihat di kanan atas.
(https://www.ianridpath.com/startales/Libra.htm)
(https://lhldigital.lindahall.org/cdm/compoundobject/collection/astro_atlas/id/1200/show/1172/rec/12)

Genitif: Librae
Singkatan: Lib
Ranking Luasan: 29
Sejarah: Salah satu dari 48 rasi bintang dalam daftar karya Ptolemy (Almagest)
Nama Yunani: Chele/Chelae

Pada era Yunani kuno, wilayah langit yang dikenal sebagai Libra adalah bagian dari capit/cakar Sang Kalajengking Scorpius. Wilayah ini disebut Chelae, yang artinya cakar. Kini luasan Libra (ke 29) bahkan lebih besar dari Scorpius (ke 33).

Identifikasi daerah ini dengan gambaran neraca (simbolisasi keseimbangan) menjadi mapan sejak abad pertama SM di Romawi, meskipun secara tepat kapan dan oleh siapa dibuat hingga kini masih diliputi kabut misteri. Ptolemy dalam Almagest  menyebutnya “Claws”, sesuai tradisi kala itu walaupun gambaran neraca sudah mulai muncul yang tertera pada Farnese Atlas, sebuah patung Romawi yang dibuat secara bersamaan dengan kala waktu penulisan Almagest. Bahkan gambaran ini diduga telah ada sejak 3.200 SM.

Libra adalah satu-satunya rasi bintang Zodiak yang merupakan benda mati; 12 rasi bintang lainnya merupakan gambaran hewan atau manusia. Begitu identifikasi Libra digambarkan sebagai neraca (balok kesetimbangan), maka kala itu sepenuhnya yang awalnya Scorpius dibagi menjadi 2, yaitu Scorpius dan Libra. Bersamaan simbolisasi keseimbangan, muncullah kisah terkait masalah keadilan dengan lahirnya

tokoh Dike (Dice) atau Astraeia (Astraeia sejatinya lebih terkait dengan Virgo) yang merupakan dewi keadilan. Jadi, pada akhirnya dalam kisahnya, Libra diilustrasikan sebagai peranti lambang keadilan yang dijunjung tinggi oleh sang dewi, walau pada kubah langit tampak lokasinya berada di bawah kaki Sang Dewi Keadilan (Virgo)

 

Scorpius dan Libra

Saat ini Scorpius merupakan salah satu dari 88 rasi bintang (IAU - Constellations, lihat artikel Rasi Bintang Dalam Denyut Budaya (Bagian Pertama)), sekaligus salah satu dari 12 simbol Zodiak Klasik, yang dalam kesepakatannya sebagai Zodiak ke 8. Dalam sejarah awalnya, pada era Julius Caesar (100 – 44 SM), daerah yang kala itu disebut Scorpius dibagi menjadi 2 bagian yaitu Scorpius dan Libra (Neraca). Daerah Libra sesungguhnya berawal dari capit kalajengking. Jadi, batas Scorpius pada peta langit masa sekarang di kubah langit perbintangan hanya sampai bagian kepala kalajengking yang berupa 3 bintang cemerlang di mana 2 diantaranya dibayangkan sebagai mata kalajengking (Scorpius Sang Kalajengking).

                                                     The Romans claimed that it was added by them to the original eleven signs, which is
                                                     doubtless correct in so far as they were concerned in its modern revival as a distinct
                                                     constellation, for it first appears as Libra in classical times in the Julian calendar which
                                                     Caesar as pontifex maximus took upon himself to form, 46 B.C., aided by Flavius, the
                                                     Roman scribe, and Sosigenes, the astronomer from Alexandria.

Bagi masyarakat Romawi, Libra merupakan rasi bintang yang termasuk favorit. Bahkan dalam catatan sejarah dinyatakan bahwa kota Roma dibangun tatkala Bulan berada di rasi bintang Libra. “Italy belongs to the Balance, her rightful sign. Beneath it Rome and her sovereignty of the world were founded”, seperti yang dinyatakan oleh penulis Romawi, Manilius (https://www.ianridpath.com/startales/Libra.htm). Digambarkan juga bahwa Libra sebagai tanda di mana musim berada dalam kesetimbangan dan rentang waktu malam dan siang akan sama, segala sesuatunya dalam kesetimbangan.

Dalam pemetaan langit, ini sebagai petunjuk bahwa masyarakat Romawi mengilustrasikan imajinasi Libra sebagai timbangan karena Matahari saat itu berada di wilayah tersebut, yaitu saat titik balik musim gugur, ketika siang dan malam berlangsung sama panjang. Manilius, bagaimanapun, lebih menekankan aspek astrologi daripada aspek Astronomi. Hal ini tampak bahwa pada era Romawi, senyatanya titik balik musim gugur tidak lagi terletak di rasi bintang Libra, melainkan sudah bergeser ke rasi bintang tetangganya, yaitu Virgo. Melintasi batas konstelasi Libra ke Virgo sekitar tahun 730 SM (era awal pemetaan Romawi memang benar adanya. Namun, Ptolemy dan Manilius sudah berabad kemudian bahkan sudah masuk era masehi. Inilah koreksi yang tidak pernah dilakukan seperti para pendahulunya. Justru karena kebutuhan astrologi, bukan aspek Astronominya).

Dari penelusuran sejarah bahwa gagasan pemecahan rasi bintang Scorpius menjadi Scorpius dan Libra sudah mengemuka jauh sebelumnya. Kisaran tahun 1000 SM, pada masyarakat Babylonia telah menyebut daerah capit kalajengking itu sebagai ZIB.BA.AN.NA, keseimbangan surgawi, ketika Matahari berada pada titik balik musim gugur. Masyarakat Romawi yang berusaha menghidupkan lagi pandangan itu (mungkin karena tidak berkenan memakai karya sebelum mereka berkuasa, yaitu pandangan masyarakat Yunani dengan Scorpiusnya)(Roger, 1998 – JBAA – p.16).

Kategori dalam klasifikasi bintang Mesopotamia adalah bulan ke 7, Zibanitum (atau ZIB.BA.AN.NA di mana AN.Na berawal dari Anu atau langit) dari wilayah Three Stars Each (Kelompok Star of Akkad). Era yang berhasil dijumpai manuscript kunonya adalah kisaran tahun 1350 SM pada masyarakat Babylonia dan budayanya yang merupakan kelanjutan dari masyarakat Sumeria (Budaya Mesopotamia terkait penggambaran langit telah mapan kisaran tahun 3200 SM).

Pada dasarnya, wilayah langit dibagi menjadi 3 bagian besar berbasis 3 dewanya, Anu (Dewa Langit, bagian equator langit dan Zodiac) – Enlil (putra Anu, raja para dewa, meliputi bagian utara langit, penguasa udara, angkasa, dan semua gaya alam) – Ea (bagian selatan langit, dewa penguasa Bumi dan kehidupan yang ada di dasar samudra). Selain itu, ada yang disebut GIR.TAB (kelompok Stars of Elam) yang kini dikenal sebagai Scorpius. Dari sini jelas bahwa mereka sudah memetakan keduanya secara terpisah. Jadi, pada era jauh sebelum Yunani pun sebenarnya sudah terpisah antara Scorpius dan Libra, dan bukan berawal dari budaya Romawi. Menjadi satu hanya saat era kejayaan Yunani.

Gambaran neraca yang terpisah dari Scorpius juga terdapat pada budaya Mesir, pada Dendera Zodiac. Juga hadirnya Scorpius, ternyata telah dipetakan terpisah sejak 3200 – 2600 SM. Mereka nyatakan sebagai penanda Autumn EquinoxEratothenes dan Hipparchus menyatakan bahwa Beta Librae (capit utara) merupakan bintang yang paling terang di mana bintang ini dan Antares bagi Ptolemy dan al-Sufi memiliki magnitudo 2. Artinya Beta Librae berubah kecerlangannya menjadi redup dan sebaliknya Antares semakin terang dan tercatat bertahan pada nilai 2 hingga tahun 1430. Semakin terang bernilai 1 pada awal abad 19 dan sejak tahun 1880 menjadi bintang variabel berperiode 5 tahunan dengan nilai magnitudo antara 0,9 s.d 1,2 (Rogers, 1998, p.24-25 dan Darling, 2004, p.27))(Tentang pembagian 3 wilayah langit terkait dewa dewi era Mesopotamia dapat pula dilihat pada Aquarius Bagian 1).

Dalam sejarah bahwa Alpha Librae, dengan skala magnitudo 2.7, disebut Zubenelgenubi oleh masyarakat Arab yang berarti “cakar selatan”. Hal ini mengingatkan kita pada tradisi Yunani yang menganggap sebagai cakar (capit) dari ScorpiusBeta Librae, yang justru kala itu sedikit lebih terang dari Alpha Librae, skala 2,6, disebut Zubeneschamali, atau 'cakar utara'. Sebagai catatan bahwa penamaan dengan abjad Yunani pada era modern, identifikasi alpha adalah yang paling terang pada rasi bintang terkait.

Bagi masyarakat Tiongkok yang memiliki imajinasinya sendiri, bahwa formasi yang dibentuk 4 bintang, yaitu AlphaIotaGamma, dan Beta Librae disebut sebagai Di, sebuah istana bagi Kaisar untuk bermalam bersama istri dan dua pengawal mudanya. Nama ini juga diberikan ke rumah bulan ketiga (mansion). Dalam konteks ini, nama ini biasanya diterjemahkan sebagai “root”, yang dikatakan berasal dari penampilan rasi bintang saat fajar pada awal Oktober, saat tanah mengering dan akar pepohonan menjadi terlihat. Di juga divisualisasikan sebagai rahang atau dada Sang Naga Biru.

Pada kasus perdagangan, sesuai budaya yang terkait langit, hal ini ditandai dengan adanya 3 bintang dengan formasi segaris, walau dalam pemetaan belum ada kata sepakat tentang identitasnya, yang disebut kelompok Fa (harfiahnya hukuman) sebagai simbol yang melambangkan kewajiban denda atau kompensasi finansial terhadap pedagang yang tidak jujur (Scorpius Sang Kalajengking). Theta Librae48 LibraeXi Scorpii adalah 3 di antara barisan 4 bintang yang mengarah ke Scorpius bagian utara yang membentuk Xixian, satu batas wilayah yang digunakan sebagai pintu masuk timur ke ruang penyelidikan tentang kasus pelanggaran perdagangan. Batas lainnya, Dongxian (pintu barat) berlokasi di rasi bintang Ophiuchus (Zodiak 13). Sementara itu, di selatan Libra adalah beberapa rasi bintang Tiongkok yang berdasarkan cerita adalah sebuah kamp kavaleri yang tersebar di wilayah yang luas di selatan ekliptika. Zhenche, yang terbentuk dari formasi 3 bintang (penafsirannya adalah Sigma Librae dan dua lagi di bagian selatan Lupus), adalah formasi kereta perang dan kelompok Tianfu (mungkin Upsilon Librae dan Tau Librae) adalah tumpukan jari-jari cadangan untuk memperbaiki roda yang rusak.

 Tabel 1
(Kutipan dari Scorpius Sang Kalajengking))
Tampak pada tabel bahwa gambaran atau simbolisasi naga ini meliputi 4 rasi bintang,
yaitu Virgo (terkait disertakannya bintang paling terangnya Spica), Libra, Scorpius, dan Sagittarius. Berarti meliputi 4 rasi bintang Zodiak klasik era awal masehi (karena kini Zodiak ada 13 rasi bintang).
Di sini, lebih diulas mengenai mitologi dan pemetaan Scorpius.
Tentang Sagittarius silakan baca artikel Sagittarius Sang Pemanah.
(Ref.: Chinese constellations dan https://hua.umf.maine.edu/China)

Sebuah bintang di Libra yang berlokasi dekat ekliptika, dekat perbatasan dengan Scorpius, dikenal sebagai RiBintang Matahari, yang terletak di sisi berlawanan dari Bintang BulanYue, di Taurus, sebagai penanda bahwa Matahari memiliki posisi berlawanan dengan Bulan saat Bulan Purnama. Identifikasi Ri masih belum jelas. Kemungkinan adalah Kappa Librae, meskipun beberapa sumber menduga sebagai 1 Scorpii atau 2 Scorpii.

Yang juga masih dalam penelitian adalah Kangchi, gambaran dari sebuah danau dengan perahu, yang melambangkan pengembara yang datang atau pergi dengan menyusurinya. Ada pendapat bahwa Kangchi awalnya tersusun atas formasi bintang 11 Librae16 Librae, dan Delta Librae ditambah 3 lagi di wilayah Virgo. Namun, pada era berikutnya, ia berada lebih jauh ke utara. Ada yang menggambarkan di perbatasan antara Virgo dan Boötes, atau seluruhnya berada di wilayah rasi bintang Boötes.

Identifikasi berbasis kisah masa lalu masih membutuhkan waktu yang panjang. Masing-masing budaya hingga kini pun masih terus menelusuri kisah-kisah lokalnya. Termasuk pendataan di budaya Nusantara dengan ragam keperluan pada eranya.

 

Mitologi

Yang populer berasal dari ranah Romawi. Dikisahkan terkait dengan Dewi Keadilan Astraeia (diejawantah pada Virgo) dan Dike/Dice (dikaitkan dengan Libra). Personifikasi keadilan, menurut Hesiod dalam Theogony, bahwa Dike atau Dice adalah putri dari Zeus dan Themis, yang bersaudara dengan Eunomia dan Eirene (A Dictionary of Greek and Roman Biography and Mythology). Dia dianggap sebagai salah satu dari Horae (dewi-dewi pengendali musim) yang bertugas sebagai saksi perbuatan manusia, dan menghadap tahta Zeus dengan ungkapan kesedihan mendalam setiap kali menyaksikan para penegak keadilan atau hakim melanggar keadilan. Musuh dari semua kepalsuan, dan pelindung keadilan. Adapun tokoh Hesychia (keterkaitan dengan ketenangan pikiran) adalah putrinya. Dice sering disebut pelayan atau penasihat Zeus. Dalam kisahnya, Dike muncul sebagai dewi penguasa yang bertugas menghukum semua yang bersalah, mengawasi segala proses yang membutuhkan keadilan, dan menembus hati orang yang tidak adil dengan pedang yang dibuat untuknya oleh Aesa. Dalam kapasitas ini, dia sangat dekat dengan Erinyes, meskipun tidak hanya untuk menghukum ketidakadilan, tetapi juga untuk mengapresiasi segala kebajikan. Gagasan Dike sebagai personifikasi keadilan yang konon paling sempurna dikembangkan dalam drama Sophocles dan Euripides (penulis dalam hal ini belum memahami kesetaraannya, masih kurang dalam referensinya).

 

Ragam Nama

Masyarakat di Itali biasa menyebut Libra sebagai Bilancia, di Perancis Balance, Jerman Wage (Catatan Bayer adalah Wag dan dari Bode adalah Waage). Lain lagi penyebutan pada masyarakat di Anglo-Saxon, yaitu Wæge dan Pund, dan masyarakat Anglo-Normans menyebutnya Peise. Namun, kesemuanya sama yang artinya timbangan/neraca.

Pada kitab India disebut sebagai Tulā, di Tamil adalah Tulam atau Tolam. Penggambarannya berupa seorang lelaki yang salah satu kakinya berlutut dan memegang sepasang wadah timbangan. Namun, Varāha Mihira memberi nama Juga atau Juka, yang berakar pada masyarakat Yunani yang kadang menyebutnya sebagai Api/fire).

Masyarakat Tiongkok dalam sejarahnya mengenal sebutan Show SingBintang untuk Umur Panjang. Namun, akhirnya mengambil sosok yang sama, yaitu Tien ChingKesetimbangan Surgawi; dan kala itu dibuatlah undang-undang untuk regulasi tahunan terkait sistem peradilan yang dilekatkan pada Libra. Pada awalnya, ilustrasi Zodiak ini adalah Buaya atau Naga, yang sempat dijadikan lambang nasional.

Ada pendapat (Manetho dan Achilles Tatios) bahwa Libra berawal sejarahnya dari Mesir; tertera pada peta langit Dendera, juga lainnya di Mesir sebagai timbangan sebagai simbol Nilometer.

Masyarakat Ibrani mengenalnya sebagai MoznayimTimbangan (Riccioli menyebut Miznaim). Orang-orang Siria menyebutnya Masa᾽thā, yang dinyatakan oleh Riccioli sebagai Masathre; dan orang-orang Persia, Terāzū atau Tarāzūk, semuanya menunjuk Libra seperti yang kita ketahui; bola langit yang ada di Persia menunjukkan hadirnya sosok manusia yang mengangkat timbangan di satu tangan dan memegang domba di tangan lainnya. Gambaran ini lumrah kala itu sebagai simbolisasi keadilan di ranah timur.

Bagi astronom Arab, yang mengikuti Ptolemy, memberi nama kelompok Libra sebagai Al Zubānā (Claws atau capit), atau Al Zubānatain (ganda) yang perlahan berdegenerasi di Eropa menjadi Azubene (dalam karya Almagest). Namun, yang terakhir di bawah pengaruh Romawi menjadi Al Kiffatān (Baki Timbangan) dan Al Mizan (Timbangan). Bayer menghubungkan yang terakhir dengan penyebutan masyarakat Ibrani. Hal ini tertera pada Tabel Alfonsine dan lainnya sebagai AlmisanAlmizenMizinSchickard menuliskannya MidsanonKircher, bagaimanapun, mengatakan bahwa Wazn (Bobot) adalah kata yang harus digunakan sebagai ganti Zubānā; Riccioli mengadopsinya sebagai Vazneschemali dan Vazneganubi, atau Vaznegenubi, dan masing-masing diterapkan untuk formasi rasi bintang bagian Utara dan bagian Selatan terkait kecemerlangannya.

Pada penamaan bintang dalam budaya Arab pun (Davis, 1944, p.22) ditemukan kasus serupa bahwa yang kini dikelompokkan sebagai Libra, penggambarannya pun tidak berubah dari sebelumnya. Memang penyebutannya adalah Libra dan sudah terpisah dari Scorpius (hal ini dimaklumi karena budaya pemetaannya berbasis buku Almagest-nya Ptolemy) di mana Alpha Librae diberi nama Zubenelgenubi (az-Zuban al-Janubi; capit kalajengking selatan) dan Beta Librae yang namanya Zubeneschamali (az-Zuban ash-Shamali) yang artinya capit kalajengking utara. Keduanya disebut az-Zubaniyani yang diartikan sebagai dua capit.

Gambar 2
Libra pada masyarakat Arab
(https://www.icoproject.org/img/ss49.jpg)

 


Gambar 3
Deskripsi Libra berbasis budaya Arab
(Davis, 1944, p.22)

Zodiak

Penggambaran Libra sempat terlacak dicetak pada uang logam Palmyra, seperti halnya dicetaknya Pythodoris, ratu dari Pontus (dapat lihat lebih lanjut kisah ratu ini pada https://en.wikipedia.org/wiki/Pythodorida_of_Pontus / https://en.wikipedia.org/wiki/Palmyra). Walau sangat sulit mendapat bukti tentang awal mula penggambaran Libra yang kita kenal sekarang, masih mungkin untuk menelusuri hingga ke budaya yang lebih tua lagi, seperti dari Chaldaea (di mana penggambaran Libra diduga tidak hanya satu versi). Ptolemy sendiri mengakui, juga beberapa manuscript lainnya.

Brown menyatakan bahwa simbol Libra (gambar 1 – atas pada awal artikel), ♎, umumnya dianggap sebagai representasi dari bentuk timbangan atau gambaran dari bagian atas altar masyarakat daerah Euphrat Kuno, yang di jalur Zodiak berada dihadapan Scorpius, dan tergambar pada permata ataupun tablet, tunggal atau berpasangan. Clerke mengingatkan bahwa hal ini berasosiasi dengan bulan ke-7, Tashrītu, dan dengan tanda ke-7 ini dan dengan Holy Mound (Tul Ku), menunjuk ke arah Tower of Babel, yang dikelilingi oleh altar, yang berformasi bintang-bintang di konstelasi ini, yaitu bintang alpha, mu, xi, delta, beta, chi, zeta, dan nu, yang mengilustrasikan bentuk altar yang bundar. Kadang penggambaran ini berbeda, ada gambaran altar perdupaan, dan sering untuk lampu (konteks penerang); Strassmaier mengkonfirmasi hal ini dengan karya terjemahannya dari sebuah prasasti sebagai die Lampe als NuruLampu Surya, yang identik dengan Bir (Cahaya) sebagai sosok langit.

Dalam masalah ini, sebenarnya ada nama lain terkait konsepsi altar yang juga merupakan nama rasi bintang, yaitu Ara (altar) yang dapat dikatakan sebagai reduplikasi altar, yaitu Pharus atau Pharos, Lampu Besar atau Mercusuar, yang berawal dari budaya masyarakat Alexandria di mana bangunan sebagai simbol ini dianggap sebagai salah satu dari tujuh keajaiban dunia (lihat https://en.wikipedia.org/wiki/Lighthouse_of_Alexandria). Lampu ini juga telah ditemukan pada batu batas yang digenggam cakar Scorpius, dan kita melihat gagasan yang sama bahkan sampai bola dunia karya Farnese dan Hyginus tahun 1488, di mana gambaran timbangan telah menggantikan gambaran Lampu. Ketika Altar, Perdupaan, dan Lampu dalam perjalanan waktu dilupakan, atau dipindahkan ke Selatan, tersisalah kisah-kisah terkait bagian capit/cakar Sang Kalajengking. Seiring waktu diperluas sedemikian muncullah gambaran Libra seperti yang kita kenal sekarang. Apabila melihat pada budaya Tiongkok, Libra termasuk kelompok Azure Dragon of the East (lihat bahasan sebelumnya atau artikel Scorpius Sang Kalajengking sebelumnya) yang dikaitkan dengan penanda Musim Semi.

 

Zodiak Nusantara

Seperti yang juga pernah penulis paparkan terkait budaya pranatamangsa atau bahwa dalam catatan tradisi di Jawa bahwa Libra termasuk mangsa atau musim ke 4 Kartika atau Kapat atau Sitra, 17 September – 11 Oktober, 25 hari (Tijdschrift, p.116). Dalam mangsa utama (musim yang kini kita kenal adalah Labuh Semplah di mana di Indonesia, biasanya hanya dibagi musim kemarau dan penghujan; yang sebenarnya ada transisi antar musim yang disederhanakan yang hanya disebut musim pancaroba. Urutan sebenarnya adalah Kemarau, Labuh, Hujan, Mareng). Karakter Libra di sini adalah Waspa Kumembeng Jroning Kalbu (air mata tersimpan dalam kalbu, umumnya musim ini persediaan air tanah sudah menipis dan hujan belum banyak. Bagi sementara masyarakat dikaitkan dengan Lintang RekataCancer atau Kepiting dan tentunya dulu kala pun tidaklah sesuai).

Untuk masa sekarang (epoch 2000), bahwa rentang Libra adalah 31 Oktober – 23 November. Artinya masuk era minggu terakhir mangsa Kalima (Margacirsa/Margacira) dan mangsa Kanem (Posya/Pusa) rentang 2 minggu pertama. Sejatinya masa ini umumnya yang ditanam adalah jenis padi gogo. Namun, ada patokan bahwa masa ini termasuk peralihan Kapat ke Kalima dan kurang sesuai karena dulu kala ketika berlangsung rentang tanggal tersebut suasana cuaca sudah mulai hujan walau dengan intensitas rendah.

Dalam salah satu adaptasi catatan tentang pranatamangsa atau kalender musim dapat diambil contoh pada situs sabdadewi.wordpress.com.

 

Tabel 2

Identifikasi Bintang Alpha dan Beta Librae

Pada peta langit, titik pusat rasi bintang Libra berada pada koordinat RA: 15h 08m dan Dec.: – 5 derajat. Dikelilingi oleh rasi bintang HydraLupusOphiuchusScorpiusSerpens, dan Virgo (lihat gambar 4). Libra pada tanggal kisaran 2 Mei, pukul 19:00 WIB (patokan Jakarta) sudah di atas ufuk timur (baru terbit) seperti tampak pada gambar 5.

Menyoal bintang terang dapat kita runut dari indeks nama berabjad Yunani di mana indeks alpha (umumnya) adalah yang paling terang pada suatu rasi bintang, sebagai berikut:

Gambar 4 Peta Langit Libra
Tampak diapit oleh Scorpius (Kiri bawah) dan Virgo (kanan atas).
Berbasis gambar di atas tampak dimaklumi bahwa pada waktu dahulu
daerah Libra dianggap sebagai capit atau cakar dari Scorpius.
(https://www.iau.org/public/themes/constellations/)

 

Alpha Librae (Kiffa Australis / Zubenelgenubi)

Masyarakat Yunani menjulukinya sebagai Cakar Selatan. Namun, secara umum disebut Neraca Selatan. Nama Zubenelgenubi merupakan adaptasi dari ranah Arab, yaitu Al Zubān al Janūbiyyah.

Dari ranah Chilmead, adalah Mizan Aliemin. Namun, masyarakat juga mengenalnya sebagai Al Kiffah al JanūbiyyahNampan Selatan pada Neraca, yang memunculkan pada Arabo-Latin sebagai Kiffa Australis (penamaan yang lebih modern); dan juga sebagai Al Wazn al Janūbiyyahthe Southern Weight, yang pada analisis Riccioli menjadi Vazneganubi.

Bintang alpha dan beta dianggap sebagai manzil ke-14, yaitu Al Zubānā, meskipun Al Bīrūnī mengatakan bahwa nama yang benar adalah Zaban, "untuk mendorong / menjauhkan," seolah-olah salah satu bintang mendorong/menjauhkan yang lain. Sementara alpha menandai nakshatra Viçakha, “Cabang/Ranting”, di bawah naungan Indragni, dewa (gabungan) antara dewa Indra dan Agni. “Nakshatra atau Lunar Station” ini dianggap sebagai Gerbang yang Dihiasi, dan dalam astronomi Hindu kemudian batas wilayah di langit diperluas mencakup hingga bintang gamma dan iota (asterisme; mirip Lintang Waluku dengan standard rasi bintang Orion).

Bintang-bintang yang sama ini menandai sieu (Lunar Station) Ti, “Dasar”, pada catatan kuno sebagai Dsi atau I Shi. Beberapa catatan Cina menyatakan wilayah lebih luas hingga bintang delta, mu, dan nu. Bintang alpha tersebut tercatat sebagai penentu rasi bintang pada jalur ekliptika bagi masyarakat Babylonia (ke-21; Nūru-sha-Shūtu, Cahaya Selatan); dan sempat tercatat meliputi juga bintang beta dan gamma pada ranah Eufrat sebagai Entena-mas-luvStar of the Tail-tip, seolah-olah (belum disimpulkan) bahwa mereka menandai bagian dari rasi bintang Hydra (masyarakat Chaldaea kuno), atau bersamaan sebagai Afr (Arab kuno). Letaknya 100 barat daya bintang beta, dekat ekliptika dan Matahari menutupinya kisaran tanggal 5 November, komponen kembarannya terpisah 230ʺ. Namun, bagi Bayer hanya disebut satu bintang, bukan bintang ganda. Kulminasi kisaran tanggal 17 Juni.

 

Beta Librae (Kiffa Borealis / Zubeneschamali)

Zubeneschamali, kadang disebut Zuben el Chamali, berasal dari Al Zuban al Shamaliyyah, setara di Yunani sebagai Cakar UtaraKiffa Borealis adalah dari Arabo-Latin untuk Nampan Utara dari Neraca; pada pemetaan Bayer adalah Lanx Septentrionalis dan Riccioli menyebutnya Vazneschemalithe Southern Weight. Melihat hal ini, tampak bahwa antara alpha dan beta membagi wilayah Libra menjadi 2 bagian yang sama.

Epping menyatakan bahwa konsep wilayah bintang beta menandai rasi bintang di jalur ekliptika bagi masyarakat Babylonia, yaitu yang ke-22, Nura sha-IltanuCahaya Utara. Sementara itu, Jensen menyatakan bahwa bintang beta dan alpha membentuk asterisme lunar mantion/shiu/nakshatra Zibanitu, yang kemungkinan besar adalah adaptasi dari Zubana (Arab), tetapi hal ini belum diterima secara umum. Brown menganggap bahwa munculnya nama Bintang Sugi dikaitkan dengan Bilat (the Lady) atau Beltis; dan masyarakat Persia menyebutnya sebagai Çrob, Yang Bertanduk; masyarakat Sogdian (?), Ghanwand, Yang Bercakar, setara dengan di masyarakat Khorasmian, yaitu Ighnuna, dan masyarakat Coptic, yaitu Pritithi, Dua Cakar. Semua menandai lunar station yang sama. Berbasis Ptolemy, observasi yang dilakukannya di Babylonia pada tanggal 17 Januari 272 SM, (476 tahun era Nabonassar, atau Nabu-nazir), bahwa bintang beta sangat berdekatan dengan planet Mars (konjungsi), salah satu catatan paling awal dari planet ini.

Young menyatakan pendapat bahwa bintang beta sebelumnya lebih terang dibandingkan dengan kecerlangan Antares. Kini nyaris 1 magnitudo lebih terang. Pembandingnya adalah pernyataan Eratosthenes yang menyebutkan bahwa bintang beta yang paling cemerlang dari semuanya (di sini maksudnya adalah gabungan rasi bintang Scorpius dan Libra) dan Ptolemy, 350 tahun kemudian, menyatakan keduanya sama cemerlang. Pada analisis ini “rasanya” Antares-lah yang semakin cemerlang.

Warnanya sangat tidak biasa, mungkin unik, hijau tua, mungkin sedikit terang dibanding warna biru tua, sulit dilihat secara kasat mata. Dari penelitian diketahui bahwa bintang beta bergerak mendekati kita dengan kecepatan kisaran 9,5 km per detik.

Gugus Bola NGC 5904 (M5) ditemukan oleh Kirch pada tahun 1702, terletak di Libra (kini resmi masuk wilayah Serpens), di atas balok Neraca, tidak jauh dari beta dan menuju 5-Serpentis. Messier tidak dapat melihat detail bentuknya. Sir William Herschel, dengan reflektor 13 meter, mendapati lebih dari 200 bintang bergerombol dengan magnitudo antara 11 s.d 15 (limit kasat mata 6), di luar daerah padat bintang di pusat gugus bola ini. Oleh Bailey, di Arequipa, setidaknya 46 hingga 60 bintang variabel ditemukan. Hal ini menjadi temuan yang sangat menarik, karena hanya disamai oleh gugus NGC 5272 (M3) di rasi bintang Canes Venatici.

 

Gambar 5
Peta langit Libra dilihat dari Jakarta tanggal 2 Mei 2020 pukul 19:00 WIB di ufuk timur
(Stellarium 0.12.4)

Objek yang Menarik

M5 atau NGC5904 adalah tergolong gugus bola (globular cluster). Pada awalnya termasuk di wilayah yang dahulu kala disebut Libra. Kini termasuk di wilayah Serpens. Secara kasat mata layaknya sebuah bintang yang redup, yang tentu dilihatnya di bawah kondisi langit yang sangat ideal. Normalnya hanya dengan bantuan alat optik seperti binokuler besar atau teleskop, akan tampak sebagai objek seolah bercitra kabur. Dengan alat yang lebih baik, baru tampak sebagai sekumpulan bintang.

Penemunya adalah Gottfried Kirch berkebangsaan Jerman pada tahun 1702. Awalnya berburu komet, kemudian menemukan objek ini yang juga awalnya diduga komet. Baru pada tahun 1764 Messier melihatnya yang lalu dikatalogkan sebagai M5 dan masih dinyatakan sebagai nebula. Diketahui detail strukturnya baru pada tahun 1791 oleh Sir William Herschel dari Inggris. Kini diketahui kisaran 105 bintang anggota M5 adalah bintang variabel dan 97 diantaranya tergolong bintang variabel RR Lyrae. Terkait persentase bintang variabelnya yang signifikan, maka M5 sering dijuluki Cluster Variables.

            Kecerlangan total kisaran magnitudo 6,7. Hanya yang memiliki kepekaan khusus yang dapat melihatnya dengan kasat mata. Jarak gugus sekitar 25.000 tc. Anggotanya hampir semua bintang tua, kisaran 12 milyar tahun. Yang kini diteliti, mengapa banyak dijumpai bintang muda (https://www.nasa.gov/feature/goddard/2017/messier-5).

Gambar 6
“Yet astronomers have spotted many young, blue stars amongst the ancient stars in this cluster. Astronomers think that these laggard youngsters, called blue stragglers, were created either by collisions between stars or other stellar interactions. Such events are easy to imagine in densely populated globular clusters, in which up to a few million stars are tightly packed together”
Pada hasil citra Hubble, tidak kurang ada 100 ribu bintang sebagai anggotanya.
Foto ini merupakan komposisi antara bidikan cahaya visual dan inframerah.
Credits: ESA/Hubble & NASA
(info lain: https://www.spacetelescope.org/images/potw1118a/)

Fakta Terkait

  1. Luas wilayah mencakup 538,05 derajat persegi atau 1,304% dari luas kubah langit, dengan ranking ke 29 dari 88 rasi bintang;
  2. Beberapa nama bintang selain alpha dan beta, adalah bintang gamma (Zubenelakrab), bintang delta (Zubenelakribi, bintang nu ( Zuben Hakrabi);
  3. Midnight Culmination Date: 9 Mei;
  4. Solar Conjuction Date: 8 November;
  5. Jumlah bintang kasat mata kisaran 35 buah; dan
  6. Bintang Beta Lib termasuk yang sangat unik dan jarang dijumpai karena warna hijaunya dan dalam ranking kecerlangan adalah ke 100.

 

Hujan Meteor

Seperti yang telah dinyatakan sebelumnya bahwa fenomena hujan meteor terkait dengan komet telah diprediksi secara matematis oleh Whipple (1950), walau sebenarnya praduga ini telah terjadi jauh sebelumnya. Keterkaitan ini dimaklumi karena karakter komet yang membubuskan materi gas dan debu tatkala mendekati Matahari, serta lintasannya banyak yang berpotongan atau tumpang tindih dengan lintasan orbit Bumi, minimal mendekati Bumi sedemikian pada jarak tertentu dapat saja materi bubusan komet masuk wilayah yang terpengaruh oleh gravitasi Bumi.

Beberapa contoh hujan meteor juga telah disajikan sebelumnya (tabel hujan meteor pada artikel Meteor). Misal Orionids Shower yang titik radiannya di rasi bintang Orion (Lintang Waluku) yang berkaitan dengan jejak komet Halley dan Leonids yang titik radiannya di rasi bintang Leo yang terkait dengan adanya jejak tinggalan materi dari komet Tempel–Tuttle.

Pada kasus keterkaitannya dengan rasi bintang juga unik. Melihat materi antar planet yang sedemikian berlimpahnya, namun nyatanya belum ditemukan hujan meteor yang mapan berulang yang titik radiannya di rasi bintang ini. Adapun sifatnya sesekali atau sporadic. Beberapa contohnya dapat dilihat pada tabel berikut ini (https://pallas.astro.amu.edu.pl/~jopek/MDC2007/Roje/roje_lista.php?corobic_roje=0&sort_roje=0)

Tabel 3 Hujan Meteor

https://ui.adsabs.harvard.edu/abs/1964AuJPh..17..205N/abstract
Silakan untuk informasi detail untuk hujan meteor lainnya yang dicantumkan di bawah
dapat dilihat kolom references-nya (jurnal).
Contoh untuk Daytime Kappa Librids dalam References diperoleh data RA dan Delta titik radian,
maka akan kita peroleh data pada kolom Activity (Annual, 8 – 12 Juni, Group: 60.12.6).
Mohon maaf, harus dicari dan ditelusuri satu per satu
Berbasis koordinat (RA; DE) pada tabel terkait.
Pada Nilsson, tidak semua disebut, jadi harus dicari koordinat yang sesuai.

 

Pengantar

Berdasar sezarah kisah di atas jelas bahwa masyarakat telah berusaha menafsirkan hadirnya jagad semesta dengan segala isi dan fenomenanya, termasuk yang terkait rasi bintang. Tiap daerah atau bangsa punya imajinasinya, baik dalam ujud kosa kata maupun cerita rakyat, terlepas dari sisi astrologi, mitos, takhayul, maupun Astronomi. Inilah pemicu langkah menuju taraf pengetahuan zaman ke-kini-an. Berharap, penulis masih mendapat kesempatan untuk mendongeng kisah rasi bintang Zodiak lainnya, dan walau yang di sini hanya sezarah sekalipun, semoga bacaan ini bermanfaat. Salam Astronomi. –WS

 

Daftar Pustaka

Bakich, M., 1995, The Cambridge Guide to the Constellations, Cambridge University Press, Cambridge, p.232-3

Connolly, K., 2016, Kisah Konstelasi, Mitos dan Legenda Langit Malam, PT. Elex Media Komputindo Kelompok Gramedia, Jakarta

Cornelius, G., 2005, The Complete Guide to the Constellations, Duncan Baird Publishers, London, p.40-43

Davis Jr., G. A., 1944, The Pronunciations, Derivations, and Meaning of a Selected List of Star Names, Popular Astronomy 52: p.22

Johnson, R. dan Van Berkel, G., The Zodiac: Stellar Stories, Rhodes University, Astronomy Society

Jones, B., 2007, Discovering the Solar System, Wiley, The Open University, Milton Keynes, UK, p.112

Maass, A., 1924, Tijdschrift voor Indische Taal, Land en Volkenkunde, Albrecht & Co., Batavia, Deel LXIV, Appendix C (Identifizierte Sterne)

Mc Carter, N., Constellation Legends, Naturalist and Astronomy Intern SCICON, p.32, 33

Moore, P., Philip’s Atlas of the Universe, p.146

Nilsson, C. S., 1964, A Southern Hemisphere Radio Survey of Meteor Streams, Aust. J. Phys 17, p.205-256

Sindhunata, 2011, Pranata Mangsa – Seri Lawasan, Gramedia (KPG), Jakarta, p.2-9

 

Kamus

 

Prawiroatmodjo, S., 1991, Bausastra Jawa – Indonesia, Gunung Agung, Jakarta

Suparlan, Y. B., 1988, Kamus Kawi – Indonesia, Penerbit Kanisius, Yogyakarta

  

Situs

  1. https://penelope.uchicago.edu/Thayer/E/Gazetteer/Topics/astronomy/_Texts/secondary/ALLSTA/Libra*.html
  2. https://planetarium.jakarta.go.id/index.php/artikel-astronomi/79-rasi-bintang-dalam-denyut-budaya-bag-1
  3. https://planetarium.jakarta.go.id/index.php/artikel-astronomi/120-aquarius-bagian-1
  4. https://www.icoproject.org/cons.html
  5. Ian Ridpath - IAU List
  6. Ian Ridpath's Star Tales
  7. https://www.ianridpath.com/startales/Libra.htm
  8. Islamic Crescents' Observation Project (ICOP)
  9. Official IMO website
  10. Star Names Their Lore and Meaning by Richard Hinckley Allen
  11. https://en.wikipedia.org/wiki/Astraea
  12. https://en.wikipedia.org/wiki/Dike_(mythology)
  13. https://www.iau.org/public/themes/constellations/
  14. https://books.google.co.id/books?hl=id&id=qB9dKo_i-QIC&q=dike#v=snippet&q=dike&f=false ; Smith, William (1880). A Dictionary of Greek and Roman Biography and Mythology ;London: John Murray. p. 1002. Retrieved 2 April 2018
  15. Astronomy - Star Atlases, Charts, and Maps.
  16. Hyginuset al.1485Poeticon Astonomicon (https://www.lindahall.org/imagerepro/)
  17. https://www.nasa.gov/feature/goddard/2017/messier-5

dan situs yang tertulis pada artikel. Untuk pembanding kisah Zodiak, silakan lihat artikel terkait rasi bintang pada situs ini.

 

Peranti Lunak

Software Stellarium 0.12.4