Written by widya sawitar

User Rating: 0 / 5

Star InactiveStar InactiveStar InactiveStar InactiveStar Inactive
 

Kegiatan Penelitian dan Pengamatan Bulan
dalam Penentuan Awal Bulan Dzulhijjah 1441H (2020 M)

Tim Observasi Planetarium dan Observatorium
Unit Pengelola Pusat Kesenian Jakarta Taman Ismail Marzuki
Dinas Kebudayaan Provinsi DKI Jakarta

Disarikan oleh Widya Sawitar


 

Sebagai lembaga satu-satunya di Jakarta yang secara konsisten berupaya mempopulerkan Astronomi sejak didirikan tahun 1964, serta menjembatani antara dunia sains Astronomi dengan masyarakat umum, Planetarium dan Observatorium Jakarta, khususnya dengan adanya observatorium sebagai sarana laboratorium dalam aspek Observational Science, telah memberikan kontribusi nyata dalam kegiatan Hisab Rukyat sejak tahun 1974 dan berkesinambungan hingga kini. Juga kolaborasi yang dibangun bersama dengan ragam instansi seperti Kementerian Agama, Program Studi Astronomi ITB, Observatorium Bosscha ITB, LAPAN, BMKG, dll. Dalam kasus ini termasuk dalam masalah penentuan kalender berbasis Bulan.

Seperti yang telah diketahui oleh sebagian masyarakat bahwa waktu pelaksanaan ibadah keagamaan, khususnya bagi umat Muslim utamanya berlandas acu pada dinamika orbit Bumi terhadap Matahari, dan Bulan terhadap Bumi (sebut sebagai kombinasi ketiganya secara simultan). Banyak hal terkait dengan hasil observasi terhadap dinamika ketiga objek langit tersebut yang dapat dipelajari termasuk ragam fenomenanya. Terlebih alat bantu lihat secara visual atau optik semakin berdaya guna dan membantu kerja masyarakat yang berkecimpung di observatorium atau observasi secara umum; baik para astronom profesional, astronom amatir (berbasis hobbi), hingga yang masih memegang metode pengamatan berbasis tradisi sejak ratusan tahun yang lalu. Secara sederhana sebut semisal penentuan jadwal waktu sholat yang dapat dilihat pada posisi Matahari dikombinasi dengan satu perbandingan antara teori matematis dengan satu cara sederhana, yaitu dengan mengukur rentang panjang bayang-bayang. Hal ini juga berlaku saat mengamati fase Bulan (usia Bulan), maka muncullah ragam teori yang kini semakin mengerucut dalam cara menentukan awal bulan dalam kalender Hijriah, seperti penentuan awal bulan Syaban (yang didalamnya terdapat malam Nisfu Syaban, tanggal 15), awal ibadah puasa (1 Ramadan), Idul Fitri (1 Syawal), awal bulan Dzulhijjah (untuk pedoman Idul Adha, tanggal 10), hingga penentuan Tahun Baru Hijriah (1 Muharram).

Contoh lain yang sejak bermilenia lalu menyemarakkan muatan budaya dalam perkembangan peradaban manusia, yaitu terjadinya fenomena Gerhana Matahari dan Gerhana Bulan yang kemudian muncul teori perhitungannya sehingga kapan terjadinya fenomena ini dapat diperkirakan. Pada sisi lain, muncul anjuran untuk melaksanakan sholat gerhana atau semisal penentuan arah kiblat, dll. Dalam kasus seperti contoh di atas, maka dalam bahasan ini akan ditinjau khususnya dalam kegiatan Penelitian dan Pengamatan Bulan dalam Penentuan Awal Kalender Bulan (baca: Kalender Hijriah), atau lebih spesifik adalah perhitungan (hisab) dan rencana pengamatan (rukyat) posisi Bulan Sabit Awal (hilal atau Anak Bulan) untuk menentukan awal bulan Dzulhijjah 1441H berbasis Astronomi yang terkait dengan Idul Adha 1441H yang jatuh pada tanggal 10 Dzulhijjah 1441H.

Hisab dan Rukyat

Hisab adalah bagian teori hitungan/perhitungan/perkiraan berbasis kaidah Matematika dan Fisika; sementara rukyat adalah perihal melihat/penglihatan/pengamatan yang dalam Astronomi disebut observasi, baik kasat mata atau memakai bantuan ragam peranti observasi, khususnya yang berbasis panjang gelombang visual.

Pada sisi lainnya bahwa dalam ranah ibadah umat Muslim di Indonesia juga terdapat fatwa, yaitu Fatwa MUI No. 2 tahun 2004, di mana awal bulan Dzulhijjah seperti halnya Ramadan dan Syawal ditentukan berbasis metode Hisab dan Rukyat (bukan: Hisab atau Rukyat). Secara hisab sudah jelas tertera dalam Taqwim Standar Indonesia. Selain itu, sebenarnya dalam bidang Astronomi permasalahan posisi Bulan dan Matahari, bahkan objek langit seperti planet, komet, dan banyak lagi juga telah dilakukan perhitungannya; termasuk kapan terjadinya gerhana hingga perhitungan untuk berpuluh tahun ke depan dengan presisi yang tinggi sudah dapat dibuktikan dengan kegiatan observasi sedemikian sebuah teori dapat dikatakan shahih.

Gambar 1
Terjadinya perubahan fase Bulan yang teramati sebagai akibat perubahan posisinya,
akibat kombinasi edaran Bulan terhadap Bumi dan Bumi mengedari Matahari.

Hari penentu kapan jatuhnya awal bulan dalam kalender Hijriah dilakukan pada setiap tanggal 29 bulan Hijriah (biasa disebut hari hisab dan hari rukyat) dan yang sangat baik juga bertepatan dengan hari ijtima (konjungsi). Pemilihan tanggal ini terkait periode sinodis Bulan. Dari sini akan ditentukan, apakah ada kemungkinan untuk meng-istikmal-kan (menggenapkan) bulan Hijriah menjadi 30 hari atau tidak.

Gambar 2
Terjadinya perubahan fase Bulan dan tahapan ijtima (konjungsi).

Selain itu, keputusan di Indonesia juga berdasarkan pada kondisi apakah posisi hilal pada hari hisab sudah memenuhi Hisab Kriteria MABIMS atau belum (ketinggian Bulan minimal 2 derajat untuk seluruh wilayah negara anggota, jarak sudut Matahari dan Bulan minimal 3 derajat, atau umur Bulan minimal 8 jam setelah saat ijtima). Apabila belum, maka seluruh anggota MABIMS, yakni Brunei Darussalam, Indonesia, Malaysia, dan Singapura akan menggenapkan bulan Hijriah menjadi 30 hari.

Hisab Kriteria MABIMS ini disepakati oleh seluruh anggota MABIMS sejak Muzakarah Rukyat dan Takwim Islam Negara Anggota MABIMS di Jakarta tanggal 21–23 Mei 2014. Dalam penentuan tersebut dilaksanakan terlebih dahulu Temu Kerja Hisab Rukyat. Inipun dimaklumi karena metode hisab ada beragam sehingga secara sains akan saling isi. Pada paparan ini disajikan beberapa hasil metode perhitungan.

 

Gambar 3
Terjadinya perubahan fase dan ketinggian Bulan di Jakarta.

Pertanyaannya adalah apabila pada hasil hisab dijumpai kondisi hilal di bawah ufuk (negatif) tatkala Matahari terbenam untuk seluruh wilayah Indonesia, apakah hilal masih perlu dirukyat? Dari hisab memang jelas bahwa hilal tidak mungkin dilihat. Ada beberapa pemikiran dan pertimbangan dalam menjawab pertanyaan ini, antara lain:

  1. Menurut Keputusan Fatwa Majelis Ulama Indonesia No. 2 tahun 2004, pada Fatwa Pertama dan poin pertama berbunyi: Penetapan awal Ramadan, Syawal, dan Dzulhijjah dilakukan berdasarkan metoda ruk'yah dan hisab oleh Pemerintah RI cq Menteri Agama dan berlaku secara nasional. Oleh karena fatwanya masih digunakan, maka rukyat harus/wajib dilaksanakan sebagai konfirmasi dari hisab. Tanpa menyebut posisi hilalnya, di atas atau di bawah ufuk. Dalam hal ini, lebih jelasnya bahwa apakah posisi hilal berdasar hisab berharga negatif (hilal di bawah ufuk) atau berharga positif (di atas ufuk), kegiatan rukyat tetap harus/wajib dilaksanakan untuk konfirmasi hasil hisab;
  2. Pemerintah harus mengayomi seluruh pengamal metode penentuan awal bulan Hijriah di Indonesia. Diakui atau tidak, pada kenyataannya di kalangan masyarakat terdapat ragam metode penentuan awal bulan, antara lain:
    1. Metode hisab murni tanpa memerlukan konfirmasi hasil rukyat;
    2. Metode rukyat yang dipandu oleh sistem hisab yang akurat; dan
    3. Metode rukyat murni, yang tidak mengaitkannya dengan hasil hisab. Tidak ada panduan hisab yang akurat untuk rukyat. Selain itu, pada metode ini akan dilakukan rukyat tanpa terpengaruh apakah hilal di bawah atau di atas ufuk;
  3. Sekalipun menurut hisab kontemporer atau modern bahwa hilal di bawah ufuk, sering kali menurut beberapa sistem hisab takhribi sudah positif atau di atas ufuk jika ijtima sudah berlangsung sebelum Matahari terbenam pada tanggal 29 Hijriah. Beberapa kota di Indonesia kadang mengalami ijtima qoblal ghurub atau ijtima berlangsung sebelum Matahari terbenam; dan
  4. Indonesia saat ini tidak menganut penggunaan rukyat global. Sekalipun di seluruh wilayah Indonesia pada saat Matahari terbenam ketinggian hilal berada di bawah ufuk (memiliki ketinggian hilal negatif), namun ada wilayah-wilayah tertentu di dunia yang memungkinkan hilal dapat dirukyat. Secara sederhana, andai di Indonesia tidak terlihat dan di Afrika terlihat, maka kita tidak dapat memakai kesaksian hilal dari kesaksian di Afrika sebagai penetapannya.

 

Gambar 4
Peta Ketinggian Bulan Secara Global di Dunia.

Mengacu kepada keputusan fatwa di atas pada poin keempat:

Hasil rukyat dari daerah yang memungkinkan hilal dirukyat walaupun di luar wilayah Indonesia yang matla'nya sama dengan Indonesia dapat dijadikan pedoman oleh Menteri Agama RI. 

Yang dimaksud matla' yang sama dengan Indonesia adalah wilayah MABIMS. Mungkin di Indonesia tidak terlihat. Namun, misalnya Timur Tengah, Eropa, dan Afrika hilal dapat dirukyat. Andaipun ada pelaporan dari negara-negara itu, maka hasil rukyat tidak dapat dipakai untuk penentu di Indonesia (matla’ yang berbeda dan berjauhan).

Dalam penelitian dan pengamatan ini, untuk kurun tahun 2020 (1441 H), Planetarium dan Observatorium Jakarta mengadakan kegiatannya terkait penentuan awal bulan Syaban, Ramadan, Syawal, Dzulhijjah, dan Muharram di Kawasan Taman Impian Jaya Ancol, Jakarta. Kegiatan observasi ini merupakan ranah pencarian bukti astronomis dari hasil hisab. Serba sedikit mengapa mengambil penentuan bulan Dzulhijjah, termasuk pengambilan lokasi di Kawasan Taman Impian Jaya Ancol dengan pertimbangan teknis dan astronomis antara lain:

  1. Planetarium dan Observatorium UP PKJ TIM memiliki fasilitas untuk observasi benda langit yang bersifat mobile (portable telescope);
  2. Kondisi geografis titik lokasi yang dipilih relatif memenuhi syarat observasi:
    • bentang ufuk barat relatif luas sehingga tidak ada penghalang hingga batas ufuk;
    • tingkat polusi udara dan polusi cahaya masih relatif memungkinkan;
    • horizon pengamat terkait kedalaman ufuk relatif memadai karena lokasinya memiliki ketinggian beberapa meter dari permukaan laut;
    • instrumen pengamatan relatif cukup aman (kelembaban relatif rendah);
  3. Akses ke lokasi pengamatan mudah dijangkau, termasuk fasilitas yang ada;
  4. Hasil perhitungan ini juga akan digunakan sebagai rujukan pada Sidang Itsbat di Kementerian Agama RI dan sekaligus untuk pedoman kegiatan observasi (rukyat) di tepi pantai Kawasan Taman Impian Jaya Ancol. Kegiatan observasi ini lebih merupakan ranah pencarian bukti astronomis; dan
  5. Kegiatan ini meliputi ranah sains dan keagamaan. Dilakukan banyak pihak; lokal, nasional, dan internasional. Jadi, Planetarium dan Observatorium Jakarta dapat menjadi wakil di lokasi bersangkutan (di antara sekitar 80 titik pengamatan secara nasional); sekaligus dapat menjalin kerjasama sosialisasinya termasuk dengan pemerintah daerah, atau dengan instansi terkait yang juga mengadakan kegiatan serupa, serta dengan komunitas terkait yang senyatanya kerap mempertanyakan masalah penentuan hari besar umat Muslim.

Berikut ini, dapat dilihat perhitungan (hisab) yang dilakukan bersama Bapak Cecep Nurwendaya, MSi, yang merupakan salah satu anggota tim Planetarium dan Observatorium Jakarta sekaligus tenaga ahli dari Kementerian Agama RI, juga perbandingan dengan beberapa perhitungan lainnya.

 

OBSERVASI SELASA, 21 JULI 2020
(Kawasan Taman Impian Jaya Ancol) 

Hari Hisab/Rukyat/Ijtima

Secara nasional, hari Selasa, 21 Juli 2020 dianggap hari rukyat seperti kesepakatan MABIMS. Dengan pertimbangan aspek astronomis, maka Tim Planetarium dan Observatorium Jakarta akan melaksanakan observasi pada hari tersebut yang jatuh pada tanggal 29 Dzulqa’dah 1441H, di mana posisi Bulan sudah melewati tahap ijtima (konjungsi; dalam kasus khusus menimbulkan fenomena Gerhana Matahari semisal yang terjadi di Indonesia, yaitu Gerhana Matahari Cincin tanggal 26 Desember 2019 di mana masyarakat Jakarta hanya dapat menikmati Gerhana Matahari Sebagian saja).

Kali ini, terjadinya ijtima berlangsung jauh sebelum Matahari terbenam. Hasil hisab berbasis Astronomi menunjukkan bahwa Matahari terbenam apabila dilihat dari Kawasan Taman Impian Jaya Ancol adalah pada pukul 17:53:44,77 WIB. Artinya kondisi fase Bulan yang rencananya akan diobservasi saat Matahari terbenam sudah melewati saat ijtima yang terjadi pukul 00:33:39 WIB. Fase Bulan, sebut sebagai hilal, usianya sudah 17 jam 20 menit 06 detik. Jadi, dari analisis hasil perhitungan bahwa hilal kemungkinan dapat diobservasi (analisis MABIMS, minimal usia 8 jam). Selain itu, hilal akan terbenam pukul 18:31:44,33 WIB. Jadi, ada kesempatan selama 37 menit 59,55 detik untuk mengamati hilal sebelum akhirnya terbenam dihitung sejak terbenam Matahari (bagian piringan Matahari paling atas atau upperlimb terbenam).

 

Gambar 5
Posisi terjadinya ijtima/konjungsi. Proses Gerhana Matahari Total tampak jelas
apabila nilai lintang dari Bulan berharga nol dan nilai bujur berharga sama.

Bagi kalangan tertentu yang berbasis hanya pada hisab, maka New Moon ini sekaligus menjadi New Month dalam arti secara otomatis esoknya menjadi tanggal 1 pada kalender yang berbasis Bulan pada bulan berikutnya. Namun, di Indonesia, tidak hanya berbasis hisab, melainkan hisab dan rukyat. Jadi, New Moon belum niscaya menjadi New Month karena dalam satu sisi lainnya bahwa fase ini belum tentu dapat dilihat (dirukyat) di mana dalam penentuan tanggal 1 pada kalender Hijriah ada ketentuan khusus. Ketentuan ini terkait dengan kondisi apakah hilal dapat diamati atau tidak tatkala Pemerintah RI mengambil keputusan melalui Sidang Itsbat.

Pada kasus lain bahwa walaupun berbasis hisab sudah New Moon, namun memperhitungan hadirnya hilal (sudah wujud atau tidak; wujud apabila hilal di atas ufuk tatkala Matahari terbenam), maka New Moon juga tidaklah otomatis menjadi New Month (bila tidak wujud, maka untuk bulan Dzulqa’dah 1441H digenapkan 30 hari).

Pada kasus lain lagi, dapat saja tahap New Moon sudah terjadi. Namun, ketika Matahari terbenam ternyata posisi hilal terlalu dekat dengan Matahari (sudah wujud tetapi tidak dapat terlihat, sederhananya bahwa cahaya hilal kalah perkasa dibandingkan dengan pendaran Matahari). Lainnya, bahwa hilal terbenam mendahului terbenamnya Matahari (Saat Matahari terbenam, hilal sudah terlebih dahulu terbenam. Tidak wujud saat Matahari terbenam, saat ghurub). Sekali lagi, hal ini terkait kombinasi posisi Bulan, Bumi, dan Matahari. Lebih spesifik lagi tergantung posisi pengamat di landas Bumi. Misal antara Jakarta dan di Medan, tentu akan melihat perbedaannya. Apalagi posisi yang berjauhan seperti di Indonesia dengan di Afrika. Sekaligus dapat menjelaskan mengapa apabila terjadi gerhana, maka tidak semua wilayah dapat menyaksikannya. Contohnya saat Gerhana Matahari Total tanggal 9 Maret 2016 di mana kota Palu mengalami totalitas, siang menjadi laksana malam dengan langit berbintang; sementara di Jakarta, Matahari tampak di langit dengan suasana siang seperti biasa walau sedikit lebih redup karena mengalami gerhana sebagian saja.

Gambar 6
Peta Ketampakan Hilal Awal Dzulhijjah 1441H di Seluruh Dunia Berbasis Kriteria Odeh.

Dalam kasus pengamatan hilal di sini pun sama, belum tentu satu tempat dapat melihatnya walau dapat saja tempat lain dapat mengamatinya. Dalam kasus hilal, makin ke barat, kemungkinan melihat hilal makin besar. Misal di Indonesia belum terlihat (maka digenapkan 30 hari, lusa baru tanggal 1), maka kawasan Timur Tengah atau lebih ke barat kemungkinan besar atau bahkan sudah dapat melihat (mereka 29 hari dan esoknya tanggal 1). Sesuatu yang wajar karena makin ke barat seiring dengan bertambahnya usia Bulan, juga fase, iluminasi, dan tinggi dari garis ufuk yang niscaya makin besar dan makin relatif mudah diamati.

Kembali pada data hisab, maka akan ditelusuri posisi hilal tersebut sebagai acuan tatkala hendak melakukan rukyat terkait penentuan awal bulan Dzulhijjah 1441H. Dalam kasus ini memang tidak terjadi perbedaan kondisi hilal di Indonesia, semua berharga positif. Apakah hilal dapat dirukyat adalah pertimbangan aspek yang lain lagi.

Gambar 7
Tampak tidak terjadi perbedaan kondisi hilal di Indonesia, semua berharga positif


Tabel 1
Data Secara Nasional Hasil Hisab Sistem Ephemeris
sebagai Rujukan Rukyat Nasional.

 

Tabel 2
Data Ragam Metode Hisab

 

Tabel 3
Data Ephemeris berbasis titik Pelabuhan Ratu

Referensi Pelaporan Hilal

Apabila menilik harga ketinggian hilal dan pra-syarat lain, memang kemungkinan besar hilal dapat dirukyat pada hari Selasa tanggal 21 Juli 2020. Sebagai pertimbangan bahwa memang ada referensi pelaporan hilal tatkala terjadi kondisi hilal seperti pada penentuan awal bulan Dzulhijjah 1441H ini (khususnya di seluruh wilayah Indonesia). Dapat dilihat kondisi hilal pada titik lokasi rukyat utama di Pos Observasi Bulan (POB) Pelabuhan Ratu, Sukabumi pada hari Selasa, 21 Juli 2020, yaitu:

  1. Tinggi Hilal                               =  7,82 derajat (di atas ufuk Mar’i);
  2. Jarak Busur Bulan dari Matahari =  08,23 derajat;
  3. Umur  Hilal                               =  17 Jam 20 menit 37 detik; dan

Gambar 8 – 11
Posisi, bentuk, dan orientasi hilal berbasis lokasi POB Pelabuhan Ratu

Di Indonesia dikenal ada kriteria imkanurukyat sebesar 2 derajat berbasis kesaksian pada rukyatul hilal 1 Syawal 1404H (29 Juni 1984) di mana ijtima terjadi pada pukul 10:18 WIB. Selain itu, ada pertimbangan lain, yaitu berbasis Kriteria MABIMS. Juga landas acu empiris pada Limit Danjon (statistik dan batas kemampuan mata manusia secara wajar), bahwa hilal akan tampak apabila jarak sudut antara Bulan dan Matahari sebesar 6,4 derajat (Islamic Crescent Observation ProjectICOP).

 

Bagaimana dengan hilal awal Dzulhijjah 1441H di Indonesia?

Apabila murni hanya pada metode hisab dengan segala pertimbangan yang ada di atas, maka akan tampak hasil prediksi hisabnya untuk di Indonesia (dapat diambil salah satu posisi sentral perhitungan di POB Pelabuhan Ratu, pada hari Selasa Pon tanggal 21 Juli 2020 atau 29 Dzulqa’dah 1441H) adalah sebagai berikut:

  1. Hilal posisi positif berarti awal Dzulhijjah 1441H adalah Rabu Wage tanggal 22 Juli 2020; dan
  2. Hilal positif dan sudah wujud (di atas ufuk saat Matahari terbenam) berarti awal Dzulhijjah 1441H adalah Rabu Wage tanggal 22 Juli 2020.

    Apabila dikombinasi dengan syarat rukyat, maka

  3. Berbasis data hisab dan pertimbangan pada pelaporan hilal di atas (7,82 dibanding batasan 2), atau Kriteria MABIMS (7,82 vs 2; 08,23 vs 3; 17j 20m 37d vs 8j), maka kondisi hilal Dzulhijjah 1441H pada hari Selasa Pon, 21 Juli 2020 telah masuk kriteria, termasuk kriteria Limit Danjon (7,82 vs 6,40). Jadi, statusnya kemungkinan besar untuk rukyatul hilal. Dari basis hisab bahwa 1 Dzulhijjah 1441H jatuh pada hari Rabu Wage, 22 Juli 2020.

Bila nanti ada kesaksian pada hari hisab/rukyat/ijtima (Selasa Pon, 21 Juli 2020 / 29 Dzulqa’dah 1441H) saat Matahari terbenam (Maghrib), maka “dapat dipastikan” bahwa 1 Dzulhijjah 1441H jatuh pada Rabu Wage, 22 Juli 2020 dan Idul Adha 1441H jatuh pada Jumat, 31 Juli 2020 (Sekedar catatan: Idul Adha adalah tanggal 10 Dzulhijjah).

 

Bagaimana Penampakan Hilal Dzulhijjah 1441H di Kawasan Ancol?

Sesuai dengan rencana bahwa Planetarium dan Observatorium Jakarta akan mengadakan kegiatan rukyatul hilal awal Dzulhijjah 1441H di Kawasan Taman Impian Jaya Ancol, Jakarta. Berbasis hasil hisab adalah sebagai berikut:

Tabel 4
Data Ephemeris berbasis titik observasi di Kawasan Taman Impian Jaya Ancol
pada hari Selasa, 21 Juli 2020 (29 Dzulqa’dah 1441H).

 

Adapun pembanding perhitungan, dapat dilihat di bawah ini (Kompilasi data: Mila I. Ikhsanti, SSi) untuk Kawasan Taman Impian Jaya Ancol, Jakarta:

                                                  Tabel 5
                                                 Lokasi                  : RM Beach Food – Pantai Taman Impian Jaya Ancol, Jakarta
                                                 Koordinat Lokasi   : 06° 07' 07,4" LS – 106° 50,79' 47,4" BT
                                                 Ketinggian           : 2 Mdpl
                                                 Area Waktu         : GMT +7 / WIB
                                                 Ijtima/Konjungsi : Selasa, 21 Juli 2020. Pukul 00:33 WIB

                                                  Catatan:
                                                Adanya perbedaan karena adanya pembulatan angka, data ijtima, presisi koordinat.
                                                Yang kotak hijau adalah yang hasilnya sama atau mendekati harga perhitungan tim Planetarium dan Observatorium Jakarta.

Gambar 12 Ilustrasi posisi hilal di Kawasan Taman Impian Jaya Ancol.


Gambar 13 Ilustrasi fase hilal di Kawasan Taman Impian Jaya Ancol.

Gambar 14 Ilustrasi orientasi bentuk hilal dilihat dari Kawasan Taman Impian Jaya Ancol.

Gambar 15 Ilustrasi arah pengamat untuk observasi hilal dilihat dari Kawasan Taman Impian Jaya Ancol.

Gambar 16 Pedoman rukyatul hilal dilihat dari Kawasan Taman Impian Jaya Ancol.

 

Contoh Singkat Pelaporan Lapangan:

 

Untuk ilustrasi tambahan dapat dilihat pada tanggal 21 Juli 2020 sebagai berikut:

 

Gambar 17 – 19  Pedoman rukyatul hilal pada peta dunia.

 

OBSERVASI RABU, 22 JULI 2020

Sehari setelahnya, Rabu, 22 Juli 2020 tetap dilakukan rukyatul hilal untuk konfirmasi hisab. Seperti saat penentuan 1 Syaban 1441H, bahwa hilal pada hari hisab / rukyat / ijtima belum terlihat, maka bulan Rajab digenapkan 30 hari (positif, namun tidak dapat dirukyat). Untuk Dzulhijjah kali ini, bahwa hari hisab adalah juga hari rukyat dan hari ijtima serta adanya argumentasi apabila hilal dapat diamati. Jadi, berbasis hisab bahwa penggenapan tidak terjadi. Namun, untuk konfirmasi terhadap hasil perhitungan astronomis guna mendapatkan data empiris di lapangan, maka observasi tetap dilakukan sebanyak dua kali pada hari berturutan berbasis aspek astronomis.

Tujuannya adalah mendapatkan data empiris ketampakan atau visibilitas hilal. Juga sangat penting untuk pendidikan, pembelajaran, dan latihan. Selanjutnya, hasil ini dapat dipakai untuk referensi ilmiah dalam penentuan kriteria secara teoritis. Juga dapat dipakai untuk memeriksa hasil perhitungan, apakah sistem yang dipakai punya akurasi tinggi atau tidak dibandingkan dengan hasil rukyat, termasuk uji peranti lunak apakah presisi atau tidak. Pada hari kedua ini, pedomannya adalah sebagai berikut:

Gambar 20 Peta Ketinggian Hilal di Dunia.

Gambar 21 Peta Ketampakan Hilal Berbasis Kriteria Odeh.

Gambar 22 Peta Ketinggian Hilal di Indonesia.

 

Tabel 6 Data Ephemeris berbasis titik observasi Kawasan Taman Impian Jaya Ancol.

Adapun pembanding perhitungannya adalah sebagai berikut:

                                                 Tabel 7
                                                Lokasi                  : Pantai Taman Impian Jaya Ancol, Jakarta
                                                Koordinat Lokasi   : 06° 07' 07,4" LS – 106° 50,79' 47,4" BT
                                                Ketinggian           : 2 Mdpl
                                                Area Waktu         : GMT +7 / WIB
                                                Ijtima/Konjungsi : Selasa, 21 Juli 2020. Pukul 00:33:39 WIB

 

Gambar 23 Ilustrasi posisi hilal di Kawasan Taman Impian Jaya Ancol.

Gambar 24 Ilustrasi fase hilal di Kawasan Taman Impian Jaya Ancol.

 

Gambar 25 Ilustrasi orientasi bentuk hilal dilihat dari Kawasan Taman Impian Jaya Ancol.

Gambar 26 Ilustrasi arah pengamat untuk observasi hilal dilihat dari Kawasan Taman Impian Jaya Ancol.

 

Gambar 27 Pedoman rukyatul hilal dilihat dari Kawasan Taman Impian Jaya Ancol.

 

Sekilas Landas Acu Penetapan

Mungkin ada masyarakat yang masih belum mengetahui tentang bagaimana proses atau tahapan penetapan hari istimewa berbasis kalender Hijriah, maka di sini disaji-ulangkan kembali tentang tata cara atau bagaimana proses penetapan oleh Pemerintah RI melalui Sidang Itsbat-nya, sekali lagi untuk sekedar pengingat kita semua.

Sidang Itsbat adalah sidang penetapan awal bulan Hijriah yang diadakan pertama kali tahun 1950; dan berbasis fatwa ulama, bahwa pemerintah punya hak menentukan awal bulan Ramadan (terkait awal puasa), Syawal (terkait Idul Fitri), dan Dzulhijjah (terkait Idul Adha). Lalu tahun 1972  dibentuklah Badan Hisab dan Rukyat (BHR) yang didalamnya terdapat para ahli, alim ulama, dan pakar Astronomi. Tugas inti adalah memberi informasi kepada Menteri Agama tentang data awal bulan tersebut.

Sidang Itsbat bersifat musyawarah di mana hasilnya merupakan kesepakatan antar ormas Islam yang diwakili oleh utusannya. Jadi, dapat dikatakan bahwa Pemerintah hanya memfasilitasi, mengumpulkan tokoh dan ulama untuk membahas kapan awal bulan itu ditetapkan. Hanya saja, nanti setelah diambil satu kesepakatan, barulah Menteri Agama memutuskan dan memberi pengumuman secara resmi. Hingga kini bahwa Sidang Itsbat di Indonesia utamanya untuk menentukan awal bulan Ramadan, Syawal, dan Dzulhijjah, yaitu berdasarkan pada Fatwa MUI No. 2 tahun 2004. Jadi, Sidang Itsbat selalu dilaksanakan pada hari hisab dan hari rukyat, yaitu:

  1. Tanggal 29 Syaban untuk Itsbat Awal Ramadan;
  2. Tanggal 29 Ramadan untuk Itsbat Awal Syawal; dan
  3. Tanggal 29 Dzulqa’dah untuk Itsbat Awal Dzulhijjah.

Adapun metode hisab seperti yang telah dibahas sebelumnya berarti prediksi/informasi hilal penentu awal bulan. Rukyat bermakna konfirmasi hilal penentu awal bulan. Sidang Itsbat dilaksanakan di Gedung Kementerian Agama RI dan rukyat dilaksanakan di berbagai wilayah di seluruh Indonesia. Perukyat terorganisir (resmi) didampingi oleh Hakim Agama untuk memberikan itsbat kesaksian rukyatul hilal. Hal ini mengacu pada UU RI No.3 Tahun 2006 Pasal 52A.

Selain itu bahwa Sidang Itsbat dipimpin oleh Menteri Agama, didampingi oleh Ketua MUI, Ketua Komisi VIII DPR RI, Dirjen Bimas Islam, dan Sekjen Kementerian Agama. Peserta sidang terdiri dari Perwakilan ormas–ormas Islam, ulama, tokoh masyarakat, Anggota Badan Hisab Rukyat (sekarang Tim Hisab Rukyat), Duta Besar Perwakilan Negara Sahabat, Pejabat Kementerian Agama, dan instansi terkait.

 

  1. Sidang Itsbat diawali Pra Sidang dengan acara Presentasi Penjelasan Posisi Hilal Penentu Awal Bulan Hijriah oleh Tim Hisab Rukyat Kementerian Agama dilanjutkan dengan tanya jawab dan diskusi mulai pukul 16:30 WIB sampai menjelang masuk waktu Maghrib;
  2. Sidang Itsbat dimulai ba’da shalat Maghrib berjamaah. Setelah dibuka oleh Menteri Agama dilanjutkan dengan pelaporan hasil rukyat dari seluruh wilayah Indonesia ke panitia penerima hasil rukyat oleh Direktur Urais Kemenag;
  3. Tahap pembahasan hasil rukyat. Menteri Agama, sebagai pimpinan sidang, memberikan kesempatan kepada seluruh peserta sidang untuk menanggapi dan memberikan berbagai pertimbangan syariah dan ilmiah hasil rukyat yang telah dilaporkan tadi, untuk bahan pertimbangan;
  4. Menteri Agama meminta pandangan dan pertimbangan keagamaan pada Ketua MUI terutama dalam hal yang krusial jika ada perbedaan pendapat di antara peserta sidang;
  5. Berpedoman pada kesepakatan bersama peserta sidang, Menteri Agama secara resmi mengitsbatkan atau menetapkan awal bulan Hijriah; dan
  6. Press Release hasil Sidang Itsbat disampaikan oleh Menteri Agama didampingi Ketua MUI, Ketua Komisi VIII DPR RI, dan Pejabat Kementerian Agama RI.

 

Catatan Akhir

Pada penentuan awal bulan Dzulhijjah 1441H kali ini dapat diringkas sebagai berikut:

  • Berdasarkan hasil murni perhitungan (hisab) bahwa hilal sudah wujud atau berharga positif pada hari hisab dan hari rukyat dan hari ijtima (29 Dzulqa’dah 1441H atau Selasa Pon, 21 Juli 2020). Jadi, kecenderungannya bulan Dzulqa’dah 1441H tidak akan digenapkan 30 hari sedemikian tanggal 1 Dzulhijjah 1441H jatuh pada hari Rabu Wage, 22 Juli 2020;
  • Berdasarkan observasi (rukyat), maka penentuannya berbasis rukyat secara nasional pada lebih dari 80 titik lokasi pengamatan yang akan dilakukan pada hari hisab/rukyat/ijtima, yaitu pada hari Selasa Pon, 29 Dzulqa’dah 1441H atau 21 Juli 2020, saat ghurub (saat Matahari terbenam). Apabila ada kesaksian dari pengamat hilal, maka kesaksian tersebut kecenderungannya akan diterima karena berbasis kriteria yang ada praktis dapat dikatakan memenuhi kriteria;
  • Apabila diputuskan bahwa benar tanggal 1 Dzulhijjah 1441H adalah hari Rabu Wage, 22 Juli 2020, maka Idul Adha 1441H jatuh pada hari Jumat Pon, 31 Juli 2020;
  • Dari aspek astronomis, bahwa pelaksanaan rukyatul hilal dilakukan mulai Selasa Pon, 21 Juli 2020 karena berbasis hisab bahwa tahap ijtima sudah terjadi dan hilal sudah wujud. Adapun konfirmasi hasil hisab akan dilakukan pada hari Rabu Wage tanggal 22 Juli 2020 (observasi hari kedua) untuk penguat data empiris yang tentunya kondisi ketinggian Bulan Sabit Awal atau Bulan Sabit Muda semakin besar, demikian pula dengan iluminasinya seiring bertambahnya usia Bulan sebanyak 1 hari;
  • Seperti yang sebelumnya pernah dipaparkan bahwa kadang terjadi, hasil hisab berbeda dengan hasil rukyat. Jadi, dalam kasus ini kadang terjadi perbedaan dalam penentuan awal bulan Hijriahnya (tidak dari segi perhitungan astronomisnya). Sebagai contoh: berdasar perhitungan bahwa hilal sudah berharga positif karena sudah lewat tahap ijtima dan lokasinya di atas ufuk (wujud) ketika Matahari terbenam di hari hisab/rukyat/ijtima. Namun, tidak ada kesaksian pada pelaksanaan rukyat. Walhasil, yang menggunakan hasil murni perhitungan biasanya lebih awal melaksanakan semisal ibadah puasa/Idul Fitri dibandingkan dengan yang menggunakan hasil hisab dan rukyat. Sebenarnya masalah ini juga sudah ditentukan garis kebijakannya oleh Kementerian Agama RI. Mungkin hal inilah yang sering dipertanyakan oleh masyarakat luas. Bidang Astronomi sebagai ilmu (pure science atau MIPA) memang kini dapat menentukan “New Moon” dengan ketepatan yang semakin dapat diandalkan. Namun, tidak untuk menentukan “New Month” yang lebih ke ranah religi. Kalau pada jaman dahulu kala memang menjadi lumrah apabila seorang astronom juga sekaligus ulama besar sebagai penentu kebijakan ibadah umat;
  • Selain itu, dan sehubungan dengan kondisi darurat kesehatan saat ini terkait kondisi pandemic Covid-19 dan situasi PSBB Transisi, maka ada perubahan tata cara kegiatan rukyat dan proses Sidang Itsbat untuk penentuan awal bulan Dzulhijjah Dalam kasus ini Kementerian Agama RI sudah mengeluarkan Surat Edaran (Nomor B.1014/Dt.III.1/HK.03.2 /04/2020) yang sekiranya dapat diikuti dengan serius dan seksama oleh semua pihak. Edaran yang sama juga telah dilakukan oleh ormas terkait; dan Planetarium dan Observatorium Jakarta pun melaksanakan rukyatul hilal secara tertutup, hanya melibatkan para staf terkait penugasan; dan
  • Seperti yang telah dipaparkan saat penentuan 1 Syawal 1441H, bahwa “rasanya” memang akan “tenang” beberapa tahun ke depan apabila berbasis perhitungan atau hisab murni (memang kemungkinan akan terjadi perbedaan mulai Idul Adha 1443H (2022M) dan waktu selanjutnya akan penuh pernak pernik). Hal ini justru karena “kebaikan Bulan menempatkan posisinya”.

 

Tabel 8
Peringatan hari raya berbasis kalender Bulan
yang berdasarkan perhitungan dari tahun 2015 s.d 2025.
Perhitungan berlandas acu tanggal 29 pada bulan sebelumnya.
.
Jadi, karena “kebaikan Bulan” pada posisinya, dari tahun 2015 hingga 2025
dapat diharapkan perayaan berlangsung bersamaan,
kecuali kotak yang diberi warna merah. Misal Idul Adha 1443H (2022) yang “mungkin” akan berbeda.
Ini pun masih dapat terjadi sama, tergantung lokasi observasi (ke arah barat semakin besar),
di mana apabila ada kesaksian, “kemungkinan besar” akan bersamaan.

Namun, semisal Ramadan 1445H (2024M) “kemungkinan besar” akan berbeda.
Atau saat hari rukyat pada tanggal 29 Ramadan 1444H (2023M), harga tinggi hilal hanya 1,7 derajat,
maka dengan adanya prasyarat tertentu akan sangat mungkin terjadi perbedaan Hari Raya (Idul Fitri).
Adanya kemungkinan perbedaan, tampak pada tabel yang diberi warna merah.

  • Semoga kita dapat semakin arif menyikapinya, termasuk pada isu sains yang terkait. Berharap apabila masyarakat semakin memahami fenomena ini secara ilmiah, di ujung akhirnya, dapat menimbulkan rasa syukur dengan segala kerendahan hati karena mendapat kesempatan justru untuk menikmati perbedaan tersebut sebagai salah satu karunia-Nya yang tidak terukur besarnya. Selamat Idul Adha 1441H. Mohon Maaf Lahir dan Batin, serta doa keselamatan bagi khususnya untuk saudara-saudara kita dari manca negara yang sedianya akan menjalankan ibadah haji, semoga menjadi haji yang mabrur. Salam Astronomi.–WS–

 

 

DAFTAR PUSTAKA

 

Abell, G.O.,    1975, Exploration of the Universe, Holt, Rinehart and Winston, New York

Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika, 2018, Peta Ketinggian Hilal pada Setiap Awal Bulan Qomariah Tahun 1440/1441 H (2019 M)

Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika, 2018, Almanak 2019

Departemen Agama RI, 1996, Winhisab Version 2.0, Badan Hisab Rukyat Departemen Agama RI

Departemen Agama RI, 2008, Panduan Hisab Rukyat, Direktorat Jenderal Bimbingan Masyarakat Islam

Kementerian Agama RI, 2017, Temu Kerja Hisab Rukyat Tahun 2016 (3 – 5 Mei 2017 di Hotel Millennium Kebon Sirih Jakarta), Ditjen Bimas Islam, Direktorat Urusan Agama Islam dan Pembinaan Syariah

Kementerian Agama RI., 2019, Taqwim Standar Indonesia 2019 Masehi / 1440 Hijriyah, Direktorat Jenderal Bimas Islam Kementerian Agama RI

Kementerian Agama RI., 2019, Ephemeris Hisab Rukyat 2019, Direktorat Urusan Agama Islam dan Pembinaan Syariah, Direktorat Jenderal Bimas Islam, Kementerian Agama RI

Khafid, 1996, Mawaaqit 2001

Mahkamah Agung RI., 2019, Data Ephemeris Matahari dan Bulan tahun 2019, Direktorat Jenderal Badan Peradilan Agama.

MUI  2004, Keputusan Fatwa MUI Nomor 2 Tahun 2004 tentang Penetapan Awal Ramadan, Syawal, dan Dzulhijjah, Komisi Fatwa MUI

Smart, W.M., 1961, Spherical Astronomy, Cambridge Univ. Press, London

---------------., 1989, Sofware Astronomi Astro Info, Tumasoftware, Zephyr Services 1900 Murray Ave. Pittsburgh, PA. 15217

---------------., Red Shift 3 Multi Media Astronomy, Maris Multimedia Production

---------------., 2004, Software Astronomi Starry Night Pro Plus 6.0, Imaginova Canada Lmt