Written by widya sawitar

User Rating: 5 / 5

Star ActiveStar ActiveStar ActiveStar ActiveStar Active
 

CANCER
SANG KEPITING

Oleh :

Widya Sawitar

Gambar 1
Atas: Simbol Cancer
Bawah: Cancer, ilustrasi pada karya Johann Bode, Uranographia (1801).
Gugus terbuka Praesepe tampak di tengah cangkang kepiting,
sedikit di utara garis ekliptika,
di antara bintang Asellus Borealis and Asellus Australis (Gamma and Delta Cancri).
(ianridpath - Cancer)

Genitif: Cancri
Singkatan: Cnc
Ranking Luasan: 31
Sejarah: Salah satu dari 48 rasi bintang dalam daftar karya Ptolemy (Almagest)
Nama Yunani: Karkinos

 

Cancer adalah salah satu dari tiga belas rasi bintang Zodiak dan terletak di belahan Bumi utara. Simbolnya seperti yang tertera pada gambar 1 di atas (a). Luasannya di kubah langit kisaran 506 derajat persegi dan bintang-bintangnya relatif redup di mana bintang paling terangnya, Beta Cancri hanya memiliki magnitudo visual 3,7 (limit bawah kasat mata adalah 6). Pada rasi bintang ini diketahui terdapat 2 bintang yang memiliki planet, termasuk 55 Cancri yang memiliki lima planet terdiri dari 1 Super-Bumi (seperti Bumi) dan 4 planet gas raksasa (struktur tubuh seperti Jupiter). Diketahui pula terdapat 1 planet yang berada pada zona layak huni dan karenanya memiliki komposisi kimiawi yang mirip dengan Bumi. Di pusat area terdapat gugus terbuka (open cluster) yang disebut Praesepe, yang dalam katalog Messier bernomor 44 dan populer bagi para astronom amatir.

 

Mitologi

Penokohan hewan kepiting ini merupakan karakter minor pada kisah Heracles (Romawi: Hercules). Kisah populernya saat Heracles harus melawan monster berkepala banyak (Hydra) di rawa dekat Lerna (Lernaeus, Lernean Hydra). Saat itulah diceritakan sang kepiting muncul dari rawa untuk menggigit kaki Heracles. Hal ini membuat Heracles marah dan diinjaklah sang kepiting. Walau singkat ceritanya, konon dewi Hera (Juno), yang sangat membenci Heracles, tetap mengapresiasi usaha sang kepiting yang kemudian sebagai penghormatan ditempatkanlah sang kepiting di lautan bintang di kawasan Zodiak. Di Yunani disebut Karkinos (Latin: Carcinus). Menurut filsafat Kaldea dan Platonis, sosoknya adalah “Gate of Men”, yang melaluinya jiwa turun dari surga ke tubuh manusia.

 

Pada kenyataannya, di wilayah Cancer memang dijumpai bintang-bintang yang relatif redup di mana magnitudo visualnya tidak ada yang lebih terang dari magnitudo 4. Dalam peta Zodiak, wilayah Cancer dapat dikatakan tidak mencolok. Bandingkan semisal Scorpius atau Libra. Bintang yang paling terang adalah Alpha Cancri atau Acubens, yang berasal dari Arab yang berarti capit. Ptolemy menggambarkan bahwa bintang ini terletak di capit kepiting sebelah selatan. Sementara itu, capit utaranya adalah wilayah bintang Iota Cancri. Adapun Beta dan Mu Cancri berturut tanda kaki belakang selatan dan utara.

Bintang Gamma dan Delta Cancri dikenal masyarakat Yunani sebagai Onoi, atau keledai. Nama latin yang dikenal adalah Asellus Borealis dan Asellus Australis, keledai utara dan keledai selatan, dan mereka terdapat pada kisah mitologi juga. Berbasis kisah dari Eratosthenes, selama pertempuran antara para dewa dan para raksasa yang berusaha merebut kekuasaan para Titan, alkisah dewa Dionysus, Hephaestus, dan beberapa sahabatnya ikut serta di kancah sambil mengendarai keledai untuk bergabung dalam peperangan tersebut. Para raksasa belum pernah mendengar dan melihat makhluk keledai sebelumnya dan berpikir bahwa beberapa monster mengerikan akan dilepaskan pada mereka. Para dewa, khususnya Dionysus menempatkan sang keledai ini di langit, di kedua sisi gugusan bintang yang oleh masyarakat Yunani disebut sebagai Phatne, Palungan (tempat makan atau minum kuda atau keledai). Ptolemy menggambarkan Phatne sebagai “the nebulous mass in the chest”. Para astronom sekarang mengetahui bahwa objek ini adalah sebuah gugus bintang terbuka (open cluster) dan menyebutnya sebagai Praesepe atau Beehive yang berarti palungan atau sarang lebah.

Dante menggambarkannya sebagai Dark Sign. Dalam karyanya, Paradiso, (ref.: Allen) melukiskannya sebagai berikut:

             There afterward a light among them brightened,
             So that, if Cancer one such crystal had,
             Winter would have a month of one sole day.

Pada tahun 1563, terjadi fenomena konjungsi di rasi bintang ini, yaitu antara Jupiter dan Saturnus yang dicatat oleh Tycho Brahe dan menggiringnya pada kesimpulan bahwa terdapat penyimpangan pada koordinat (ephemerides) dan mulai saat itu mencoba untuk membuat koreksi ephemerisnya sendiri.

(Ref.: Ian Ridpath) Pada budaya di Tiongkok, empat bintang yang mengelilingi gugus terbuka Praesepe (Delta, Gamma, Eta, dan Theta Cancri) dikenal sebagai Gui, secara harfiah berarti hantu, merujuk pada arwah orang yang meninggal. Adapun lunar station (rumah Bulan) ke-23 bagi masyarakat Tiongkok dikenal sebagai Gui (terkait asterisme). Praesepe disebut Jishi, sekelompok jasad. Praesepe dan 4 bintang sekitarnya kadang-kadang dipandang sebagai hantu yang dibawa di (kursi) tandu. Oleh karenanya, posisi empat bintang ini (persegi empat) juga diberi nama, Yugui, Kereta Hantu.

Di sebelah utara Gui ada formasi segiempat lain dari bintang-bintang yang membentuk sebuah gambaran bernama Guan, api suar di menara pengawas. Namun, sumber berbeda menyatakan bahwa empat bintang tersebut memang populer. Hanya saja yang masih dalam penelitian bahwa mungkin mereka memakai bintang berbeda pada waktu berbeda. Versi populer adalah penempatan Guan di sekitar bintang Chi Cancri, sementara yang lain menyatakan di wilayah Iota Cancri. Rangkaian empat bintang yang menuju Cancer dari arah Canis Minor adalah Shuiwei, Ketinggian Air.

Lain lagi kisah dari ranah Mesir atau Mesopotamia. Menurut Karrie Berglund dari Digitalis Education Solutions, Inc. (berbasis jurnal karya Juan Antonio Belmonte, A Map of the Ancient Egyptian Firmament) bahwa pada era Mesir generasi kemudian, bidang Astronomi dan astrologinya dapat dikatakan menyatu bahkan sama dengan budaya Yunani dan Romawi. Keyakinan bahwa bintang mempengaruhi nasib manusia tampaknya belum menjadi budaya di Mesir hingga era Ptolemeus (bukan penulis Almagest). Kuil Hathor di Denderah berasal dari era Ptolemeus, mungkin abad pertama SM, dan memiliki manuscript ilustrasi yang sangat baik untuk masalah ini (dapat lihat pada Rogers, 1998). Secara bersamaan dengan adanya Zodiak Denderah dari Mesir, maka dari Mesopotamia untuk kisah terkait Cancer bahwa diketahui sebutannya Al.lul (singgasana Anu), kemudian diyakini sebagai Kushu (hewan air, “mungkin” kepiting dengan julukan Nangar yang lalu diketahui sebagai gugus terbuka Praesepe) yang diwakili oleh gambaran “Scarab Beetle”.

Jauh di Asia, tepatnya di wilayah Davao, terdapat kisah tentang kepiting raksasa, yang diceritakan merupakan putra dari Matahari dan Bulan. Setiap kali kepiting membuka dan menutup matanya, keluarlah kilatan petir. Sang Kepiting konon hidup di lubang besar di dasar laut. Ketika dia berada di dalam lubangnya, maka timbullah pasang laut; dan saat meninggalkan lubang, air bergerak mengalir masuk ke dalam lubang tersebut, maka terjadilah surut. Ketika Sang Kepiting bergerak, maka terjadilah ombak besar. Sesekali ketika sedang merajuk pada ibunya, Sang Rembulan, maka dia mencoba menelannya. Ketika orang-orang melihat kondisi demikian, di mana Sang Kepiting mendekati Bulan, maka mereka serentak berteriak dan memukul gong untuk menakut-nakutinya untuk menyelamatkan Bulan. Apakah cerita ini terkait Sang Kepiting Cancer atau terkait dengan fenomena Gerhana Bulan, penulis belum menelusur lebih jauh (pantheon-tambanokano). Mungkin dapat ditelusuri pada karya Fay-Cooper Cole (1913) dalam The Wild Tribes of Davao District, Mindanao. Chicago: Field Museum of Natural History (p.172) dan Mabel Cook Cole (1916) dalam Philippine Folk Tales. Chicago: A.C. McClurg & Co.

Dapat pula dalam mitologi Mandaya dari daerah yang sama dan masih dibutuhkan penelusurannya (berbasis karya Fay-Cooper Cole (1913) incorporates text from The Wild Tribes of Davao District, Mindanao (1913) by Fay-Cooper Cole, which is in the public domain). Di sini terdapat kisah sebagai berikut. Pada awalnya, Sang Mentari dan Rembulan menikah dan hidup bahagia dengan banyak anak. Suatu ketika terjadilah pertengkaran yang membuat Sang Rembulan melarikan diri. Namun, Sang Mentari terus mengejarnya (di sini, kemungkinan adalah terlihatnya pergeseran Matahari dan Bulan di kubah langit, di jalur ekliptika). Setelah kejadian itu, anak-anaknya pun mati. Sang Rembulan berusaha untuk mengumpulkan semua jasad anaknya, lalu dijadikanlah tubuh anak-anaknya menjadi fragmen-fragmen kecil yang kemudian ditabur ke langit. Fragmen yang kembali jatuh ke air menjadi ikan, yang jatuh di darat menjadi ular dan beraneka hewan lainnya. Sementara itu, yang terus menuju ke langit menjadi bintang gemintang.

Pada versi lainnya, bahwa terjadinya pertengkaran dan proses pengejaran memang seragam ada. Namun, ternyata anak-anaknya tidak mati dan tidak pula dijadikan fragmen kecil yang akhirnya menciptakan ragam hewan. Kehadiran para binatang ini sudah ada sejak kelahiran mereka, di mana salah satunya adalah kepiting laut raksasa, yang dinamakan Tambanokano. Konon dikisahkan, ketika Sang Kepiting bergerak, terjadilah air pasang dan ombak tinggi; saat membuka matanya, maka muncullah kilat. Belum diketahui latar belakangnya, pada karakter tertentu bahwa Sang Kepiting sesekali berusaha untuk melahap induknya, yang tidak lain adalah Sang Bulan. Kisah ini terkait fenomena Gerhana Bulan. Adapun perubahan fase Bulan akibat Bulan sedang memakai dan melepas pakaian. Saat purnama adalah saatnya Sang Rembulan melepaskan semua busananya.

Menurut kisah yang terakhir, bahwa bintang-bintang memiliki asal muasal yang sangat berbeda. Pada alur cerita, konon pada awalnya hanya terdapat sebuah bintang besar, yang hadir layaknya seorang pria dalam penampilannya. Sang bintang ini kemudian berusaha merebut tahta Matahari, dan akhirnya memenangkannya. Sang Matahari akhirnya dihancurkan menjadi potongan kecil dan dihamburkannya ke segenap pelosok langit layaknya sosok perempuan sedang menebar dan menabur padi.

Juga terkait Bumi di mana dikisahkan bahwa Bumi dulunya terhampar layaknya hamparan mulus, yang lalu terbentuklah pegunungan yang diciptakan oleh sosok mitos perempuan., Agusanan. Sosok ini bersinggasana di punggung seekor belut raksasa yang kalau bergerak akan menyebabkan gempa Bumi. Terkadang para kepiting atau hewan kecil lainnya mengganggunya. Apabila sangat terganggu, membuatnya marah sehingga dikejarlah para kepiting dan kawan-kawannya yang mengakibatkan gempa besar bahkan gunung-gunung pun terlempar jatuh ke laut. Juga dalam kisahnya diceritakan adanya danau besar di langit yang apabila airnya terpercik karena debur ombaknya, maka akan sampai ke Bumi sebagai hujan. Saat marah, sang sosok spirit penunggunnya terkadang menjebol tanggul air danau tersebut yang membuat banjir di Bumi.  

               

Astrologi

Dalam astrologi Yunani, bersama dengan Scorpius dan Pisces, biasa disebut sebagai Watery Trigon (House of the Moon), di mana dari kepercayaan awal bahwa bintang-bintang ini ada sejak awal penciptaan dan bermula di wilayah yang kita ketahui sebagai Cancer  sehingga dijuluki sebagai “Horoskop Dunia” di antara seluruh rasi bintang di Zodiak. Namun, dinyatakan bahwa Cancer adalah salah satu pertanda kemalangan, yang mengatur dada dan perut manusia. Pada kisah lain diceritakan bahwa Cancer adalah pengayom wilayah yang kini adalah Skotlandia, Belanda, Selandia Baru, Burgundy, Afrika (terutama Aljazair, Tripoli, dan Tunisia), dan kota-kota Konstantinopel dan New York. Pada zaman Manilius dinyatakan mengayomi wilayah India dan Ethiopia, tetapi ia menyebutnya sebagai tanda yang bermanfaat, bukan kemalangan. Warna yang terkait adalah hijau dan cokelat muda. Pada dongeng awal dihubungkan dengan dewa Merkurius, di mana muncul nama Mercurii Sidus. Ketika Matahari berada dalam wilayah ini, setiap badai petir akan menyebabkan keributan, kelaparan, dan wabah belalang; dan Berosso menegaskan bahwa Bumi akan “tenggelam” ketika semua planet bertemu (konjungsi) di Cancer, dan akan terbakar ketika mereka bertemu di Capricorn. Namun, inipun juga disanggah di antara mereka sendiri seperti yang ditulis oleh Pascal:

They only assign good fortune with rare conjunctions of the stars,
and this is how their predictions rarely fail

Masyarakat Akkadia, menyebutnya sebagai Matahari dari Selatan. Kemungkinan ditilik dari posisinya di Titik Balik Matahari musim dingin pada jaman dahulu kala; tetapi setelah itu dikaitkan dengan Duzu, bulan keempat (kini bulan Juni dan Juli) dan dikenal sebagai Gerbang Utara Matahari, di mana bintang tersebut memulai gerakan mundurnya (?). Nan-garu adalah transliterasi dari Strassmaier. Hasil penelitian lainnya adalah Puluk-ku dan χas, (Division). Brown menyatakan bahwa yang tertulis pada manuscript adalah Nagar-asagga, Pekerja Saluran Air.

Simbol dari tandanya mungkin adalah "sisa-sisa pengejawantahan dari beberapa makhluk"; tetapi ini juga dikaitkan dengan dua keledai yang mengambil bagian dalam konflik para dewa dengan para raksasa di semenanjung Macedonian Pallene, wilayah Phlegra awal, kemudian diletakkan (oleh dewi Hera) sebagai tempat peristirahatan di langit di kedua sisi palungan (gugus terbuka Praesepe).

 

Ragam Nama

Masyarakat Jerman menyebut der Krebs (Bayer: die Krippe). Di Perancis, le Cancre atau l'Écrevisse. Di Itali, il Cancro atau Granchio. Aratos menyebutnya Karkinos (260 SM) yang diikuti oleh Hipparchos dan Ptolemy; Carcinus pada Tabel Alfonsine, yang akhirnya menjadi bentuk Latin dari kata Yunani. Eratosthenes sendiri beragam penyebutannya: Karkinos, Onoi, Kai Patne, yaitu kepiting, keledai, dan palungan. Sebagian orang Yunani menyebut Opistobamon dan Oktattous (Octipes of Ovid dan Propertius, terkait gurita). Lainnya, Litoreus (penghuni pantai) dari Manilius dan Ovid; Astacus, Cammarus, dan Nepa oleh Cicero yang semuanya menandakan kepiting atau lobster, yang kadang tertukar dengan gambaran Scorpius. Festus, ahli tata bahasa dari abad ke-3, mengatakan bahwa ini adalah kata Afrika yang setara dengan Sidus, konstelasi atau bintang.

Nama Sansekerta awal adalah Karka dan Karkata di mana masyarakat Tamil menyebutnya Karkatan dan di Cingal adalah Kathaca. Namun, masyarakat Hindu yang kemudian mengetahuinya sebagai Kulira, dari Κόλουρος (Kolouros), istilah yang berasal dari Proclus terkait warna kulit kita.

Masyarakat Persia mengenalnya sebagai Cherjengh dan Kalakang; di Turki adalah Lenkutch; orang-orang Suriah, dan mungkin Khaldea akhir menyebutnya Sartono; orang Ibrani, Sartan; dan orang-orang Arab, Al Saraṭan, semua kata setara dengan kepiting. Al Bīrūni menambahkan Al Lihā, tetapi ini dahulu adalah gelar awal masyarakat Arab terkait dengan manzil (lunar station) mereka, Al Nathrah.

Kircher menyatakan bahwa pada budaya Koptik – Mesir, sebutannya Klaria (Kekuatan Kegelapan); La Lande mengidentifikasi penggambaran ini dengan tokoh Anubis, salah satu dewa di masyarakat sekitar Sungai Nil yang dikaitkan dengan bintang Sirius (bintang paling terang di kubah langit malam). Tetapi masyarakat Ibrani mengaitkannya dengan masyarakat Issachar (terkait hadirnya makhluk keledai).

Gambar 2
Cancer pada masyarakat Arab (https://www.icoproject.org/img/ss12.jpg)

Gambar 3
Deskripsi Cancer berbasis budaya Arab (Davis, 1944)

Dari catatan masyarakat Saxon sekitar tahun 1000, penyebutannya adalah Crabba; Cancre bagi masyarakat Anglo-Norman, yang umum juga disebut Canser. Milton menjulukinya sebagai Tropic Crab karena terkait penanda (patokan titik balik Matahari).

Dalam rasi bintang ini, dengan beberapa variasi tentang batas-batas wilayahnya pada waktu yang berbeda dalam masyarakat Hindu, bahwa bintang gamma dan delta selalu berada dalam wilayah Cancer; terkadang bintang eta, theta, dan Praesepe disebutkan termasuk nakshatra (lunar station) ke 6, yaitu Pushya (Bunga), atau Tishiya (Keberuntungan), dengan Brihaspati (pendeta sekaligus guru para dewa) sebagai penggambaran spiritual tertingginya. Kadang digambarkan sebagai sabit, atau lainnya sebagai ujung anak panah. Namun, Amara Sinha, penulis budaya Sansekerta sekitar tahun 56 SM, menyebutnya Sidhaya (Kesejahteraan).

Manzil Al Nathrah, dengan salah satu gambaran yang pernah ada, yaitu celah di bulu di bawah moncong singa yang sangat besar, terutama dibentuk oleh Praesepe; tetapi kemudian bintang gamma dan delta kadang dimasukkan, dan melahirkan penyebutan Al Ḥimārain, dua keledai, nama yang diadopsi dari budaya Yunani. Masyarakat Arab juga mengenalnya sebagai Al Fum al Asad dan sebagai Al Anf al Asad, mulut dan moncong singa, keduanya merujuk pada gambaran awal wilayah Cancer.

Sieu (lunar station) Kwei, Hantu, era kuno Kut, Seperti Awan/Kabut, tersusun atas Praesepe dengan bintang eta dan theta di mana yang terakhir cukup aneh karena sulit dilihat kasat mata (ada kemungkinan berubah kecerlangannya dan kini meredup). Asterisme ini, Tsing (era modern) di rasi bintang Gemini kita, membentuk Shun, salah satu dari dua belas Zodiak Kung, yang diterjemahkan Williams sebagai Kepala Burung Puyuh, yang akhirnya pada era modern dikenal sebagai Keu Hea, Sang Kepiting; Puyuh ini dikenal sebagai Phoenix, Pheasant, atau Red Bird, yang bersama dengan Leo dan Virgo menandai Wilayah Kekaisaran Merah atau Kekaisaran Selatan.

Tabel 1
Gambaran atau simbolisasi Burung Merah meliputi 5 rasi bintang,
yaitu Gemini, Cancer, Hydra, Crater, dan Corvus.
Berarti meliputi 2 rasi bintang Zodiak klasik era awal masehi (karena kini Zodiak ada 13 rasi bintang).
(dapat lihat pula Scorpius Sang Kalajengking dan Sagittarius Sang Pemanah)
(Ref.: Chinese constellations, https://en.wikipedia.org/wiki/Vermilion_Bird)

Tentang budaya pembagian wilayah langit terkait dewa dewi era Mesopotamia,
sebagai perbandingan, dapat dilihat pada Aquarius Bagian 1, juga (Rogers, 1998, p.24-25).

Zodiak

Secara sederhana bahwa Matahari pada rentang tanggal tertentu berada di rasi bintang bersangkutan. Untuk Cancer, anggapan secara tradisional adalah pada tanggal 22 Juni hingga 21 Juli. Namun, kenyataan, akibat adanya gerak presesi, maka kini (epoch 2000) Matahari melewati Cancer pada tanggal 21 Juli hingga 10 Agustus.

Dikenal pula istilah Tropic of Cancer, di mana Tropic of Cancer adalah garis lintang di Bumi di mana Matahari berada di atas kepala (zenith) pada siang hari di Titik Balik Matahari musim panas (Summer Soltice) pada tanggal 21 Juni. Pada era Yunani kuno, pada tanggal tersebut, Matahari memang berada pada kawasan yang disebut sebagai rasi bintang Cancer. Namun, akibat presesi Bumi itulah, maka Titik Balik Matahari musim panas telah bergeser ke wilayah Gemini (dekat bintang Eta Geminorum), dan saatnya kini ke wilayah Taurus.

Komet Halley yang terkenal pertama kali muncul dan diamati di wilayah ini pada tahun 1531; dan fenomena pada bulan Juni 1895 adalah semua planet, kecuali Neptunus, berada di Cancer. Argelander membuat katalog 47 bintang di rasi bintang Cancer, di samping Praesepe dan Heis.

Gambar 4
Peta Langit Cancer
(https://www.iau.org/public/themes/constellations/)

Zodiak Nusantara

Sejak jaman dahulu kala nenek moyang kita telah berusaha memetakan langit, bahkan membuat sistem kalendernya sendiri termasuk di Solo, Yogyakarta, dan Bali (dan tentu di beberapa daerah lainnya di Nusantara) yang diaplikasikan dengan adanya pranatamangsa hingga konsep petangan atau perhitungan berdasarkan rentang waktu per jam, hari, minggu, bulan, hingga windu atau lebih panjang lagi yang masing-masing berpengaruh dalam pola kehidupan yang menyangkut keseharian.

Tidak dipungkiri (Sawitar, 2009 dan 2015) kalau sejak adanya arus massa yang semakin meluas secara regional bahkan global antar benua, maka terjadilah akulturasi budaya termasuk dalam menera langit dengan segala pernak perniknya. Dalam kasus Zodiak Cancer pun sama saja dan kadang juga terjadi kerancuan atau butuh analisis lebih mendalam. Dapat jadi penggunaan istilah yang sama tetapi penerapan berbeda antar generasi. Di Nusantara pengaruh bahasa Sansekerta pun cukup besar sedemikian antara di Jawa dan Bali banyak yang mirip dengan budaya di India. Contohnya Cancer di mana di India dan Bali penyebutannya Karkadam, Rekata, atau Karkatha (kepiting). Sementara di Jawa Tengah dikenal Lintang Wuluh atau Lintang Puyuh atau Lintang Yuyu (yuyu, sedikit berbeda dengan kepiting tetapi mirip). Namun, apabila merujuk pada Kamus Bausastra Jawa – Indonesia, p.329, julukan setara Cancer adalah Lintang Wuluh. Adapun pengaitannya tentu tidak dapat ditujukan pada sebutan Lintang Kartika (Pleiades, Bintang Tujuh Putri Bersaudara atau Seven Sisters. Untuk Bintang Tujuh terkait asterisme sebutan Gayung Besar pada Ursa Major). Jadi, kemungkinan ada kerancuan antara Kartika dan Karkatha.

Pada Serat Centhini (Buku VIII/p.39), Lintang Wuluh adalah Cancer. Seperti di Yogyakarta, Cancer sebutannya Wuluh, Yuyu, atau Kartika (wuluh kadang diartikan sebagai bentukan silinder atau gulungan, Kartika juga digunakan sebagai nama musim). Adapun di Solo sebutannya Lintang Urang, Lintang Mangkara yang inipun kadang tertukar dengan Capricorn (Lintang Yuyu atau Ungker – Kepompong atau Mekara di Bali). Sementara itu, istilah Puyuh ada yang dikatakan sebagai Gemak atau dalam budaya lainnya dijumpai nama mirip, yaitu Puyuh Tarung (Gemak Tarung), seperti di masyarakat  Aceh, Puyuh Mölôt (Tijdschrift, p.166).

Pada Zodiak klasik tampak bahwa rentang tanggal adalah 22 Juni s.d 21 Juli yang dalam pranatamangsa termasuk Mangsa Kasa (Musim Pertama; 22 Juni – 1 Agustus). Namun, akibat presesi, kini bergeser ke 21 Juli – 10 Agustus, dan sebagiannya masih dalam kurun waktu Mangsa Kasa. Dapat dikatakan setengah waktu Mangsa Kasa, setengah waktu selanjutnya termasuk Mangsa Karo (Musim Kedua). Dengan sifat musim yang ada seperti tampak pada tabel di bawah (kalender-pranata-mangsa).

Tabel 2
Pranatamangsa

Sebagai contoh, awal mangsa, disebut sebagai Kasa (Kartika), yang merupakan Mangsa Utama Ketiga dan Terang, pada rentang waktu sekitar 22 Juni  – 1 Agustus (41 hari), memiliki candra: Sesotya murc ing embanan  (permata berguguran). Biasanya ditandai dengan fenomena alam: daun-daun berguguran, kayu-kayu mengering, belalang membuat liang dan bertelur. Bagi petani merupakan panduan untuk waktunya membakar batang padi/jerami/dami; dan mulai bercocok tanam Palawija. Biasanya pada masa tersebut akan memasuki musim Kemarau, curah hujan 67,2 mm, lengas udara 60,1%, suhu 27,40C, sinar Matahari 76%. Dinaungi oleh Mesa dan Dewa Wisnu, berbintang: Sapigumarah (Ref.: Pranatamangsa, Seri Lawasan), dan secara astronomi: Wuluh / Pleiades pada situasi Heliacal Rising, Matahari terbit ke Utara terjauh.

Identifikasi Bintang Terang
(Ref.: penelope.uchicago.edu - Cancer)

Bintang Alpha Cancri

Merupakan bintang ganda berwarna putih (m=4,4) dan merah (m=11). Penyebutannya adalah Acubens, berawal dari tulisan Chelae Acubenae Chaldai di Tabel Alfonsine, bukan dari budaya masyarakat Kaldean. Lebih berasal dari bahasa Arab Al Zubanāh, Capit, di sebelah selatan tempat bintang ini berada, di dekat kepala dari (rasi bintang) Hydra. Bayer menyebutnya sebagai Acubene dan Azubene, dan Pliny menulisnya Acetabula, pangkal dari kaki kepiting, dan Cirros (Cirrus), yaitu kaki kepiting. Ini setara dengan penyebutan Flagella oleh Ovid, yang oleh Bayer salah diterjemahkan sebagai Scourge; yang lain menamakan Branchiae dan Ungulae. Bayer juga mengutip “the Barbarians Grivenescos”, dan belum jelas apakah yang dimaksud adalah gambaran keseluruhan dari seekor kepiting.

Masyarakat Arab menggambarkan dengan jelas dengan sebutan Sartan dan Sertain untuk bentuk rasi bintang Cancer, yaitu seekor kepiting. Bintang iota menandai cakar yang satunya. Beberapa menyebutnya sebagai Al Hamarein untuk bintang alpha ini; walau secara umum tidaklah tepat karena Al Ḥimārain adalah istilah umum Arab untuk bintang gamma dan bintang delta, yaitu Aselli. Bintang ini berkulminasi kisaran tanggal 18 Maret. Pasangannya berjarak 11,4 detik busur.

 

Bintang Gamma dan Delta Cancri

Nama umum kedua bintang ini adalah Asellus Borealis (Gamma Cnc; kelas spektrumnya A1 V, magnitudo visual 4,7, berjarak 155 tc) dan Asellus Australis (Delta Cnc; K0 III, 3,9, 155 tc), Keledai Jantan Utara dan Selatan. Pada era Ptolemy julukannya Ovoi (Asses, Sepasang Keledai) atau masyarakat Yunani umum menyebutnya Aselli atau Asini. Sementara secara Latin, bahkan sampai hari ini memang umum dikenal sebagai keledai. Pada karya Almagest (latin) oleh Basil tahun 1551 menyatakan bahwa Asinus hanya untuk bintang gamma. Namun, di Tabel Alfonsine dan Almagest tahun 1515 penyebutannya Duo Asini. Setara dengan masyarakat Arab, yaitu Al Ḥimārain, Dua Keledai. Bailey, dalam bukunya “Mystic” (1858), menyebutnya Aselline Starlets.

Manilius menyebutnya sebagai Jugulae, yang mungkin diambil dari istilah Jugum, sebuah kuk (balok penghubung atau pengikat antara 2 keledai), yang menjadi Jugulum, tulang selangka. Namun, Ideler menegaskan bahwa sebenarnya hal ini merupakan penyebutan yang salah yang berawal dari Firmicus [dalam Mathesis, VIII.9.1], dan sebutan itu ditujukan untuk Sabuk Orion.

Nama dari Riccioli cukup unik, Elnatret, yang berasal dari nama rumah bulan (lunar station) Al Nathrah, kaitan antara Aselli dan Praesepe. Dalam astrologi, mereka sebagai pertanda kematian yang kejam seperti yang berada di bawah pengaruh bintang ini; sementara bagi para peramal cuaca terkait awal musim hujan yang berkelanjutan yang juga ditegaskan oleh Pliny. Jika musim kabut dan menutupinya, kemungkinan datangnya angin yang kencang dari arah timur laut ke arah selatan dapat diharapkan. Jika kabut menutup Asellus, angin kencang dari selatan mungkin diharapkan, tetapi jika bintang yang selatan mulai tertutupi, maka angin dari timur laut yang diharapkan.

Sementara itu, kini tampak dari observasi cuaca, secara iklim bahwa apabila salah satu dari bintang-bintang ini tertutup, maka yang satu lagi niscaya juga tertutup. Pliny menggabungkan kedua bintang tersebut bersama Praesepe sebagai rasi bintang sendiri. Dalam kasus tertutupnya pun sama.

Walaupun secara kasat mata tidak terang, masyarakat Babylonia menggunakan bintang delta sebagai tanda rasi bintang (berbasis ekliptika) yang ke-13, Arkū-sha-nangaru-sha-shūtu, Bintang Tenggara di Kepiting; dan Brown menyatakan bahwa Aselli, bersama dengan bintang eta, theta, dan Praesepe, disebut masyarakat Akkadian sebagai Gu-shir-kes-da, Yoke of the Enclosure. Mereka juga menandai persimpangan antara nakshatra Pushya dan Āçleshā.

Ada yang menarik untuk bintang delta. Pengamatan era kuno terhadap Jupiter yang  salah satunya oleh Ptolemy dalam Almagest (Buku ke 10, bab III) dianggap hasilnya sangat akurat. Pada tahun ke-83 setelah kematian Alexander Agung, tanggal 18 bulan Epiphi (Mesir), pagi hari, yaitu saat Jupiter menggerhanai bintang yang kini disebut Delta Cancri (fenomena penggerhanaan ini sekarang lazim disebut fenomena okultasi). Pengamatan ini tercatat dilakukan pada tanggal 3 September 240 SM.

Bintang Epsilon Cancri

Brown menyertakan bintang epsilon dan bersama bintang delta, eta, dan theta terkait dengan rumah bulan masyarakat Persia, yaitu Avra-​​k, Awan, dan masyarakat Koptik menamakan Ermelia, Pemeliharaan.

Tyrtaeus Theophrastus, penulis botani pertama, sekitar 300 SM, dan Aratos, menggambarkan redupnya dan sukar terlihatnya bintang ini sebagai tanda terjadinya kondensasi di atmosfer dan pertanda bahwa (musim) hujan akan datang. Pliny bahkan menyatakan sebagai tanda datangnya badai dan Aratos dalam karyanya, Prognostica, menuliskan:

A murky Manger with both stars
Shining unaltered is a sign of rain.
If while the northern Ass is dimmed
By vaporous shroud, he of the south gleam radiant,
Expect a south wind: the vaporous shroud and radiance
Exchanging stars harbinger Boreas.

 

Sementara itu, Weigel menggunakannya pada abad ke-17, sebagai simbolisasi pemberontakan, sebagai Manger (palungan), lambang para petani dan dalam astrologi, mengancam kerusakan dan kebutaan.

            Pada masyarakat Tiongkok dikenal julukan yang dianggap kurang baik, Tseih She Ke, Menghembuskan Mayat yang Ditumpuk; dan ditemukan catatan tentang keberadaan bintang ini yang berkonjungsi sejarak 1 derajat dengan planet Merkurius pada tanggal 9 Juni 118 M, di mana ini merupakan catatan awal tentang Merkurius di sana.

 

Bintang Zeta Ternary

Bintang ini terletak di tepi belakang cangkang kepiting, dan dikenal sebagai Tegmine, Yang Menutupi; tetapi, jika kata itu disesuaikan, maka lebih tepatnya Tegmen, karena nama ini pertama kali dikemukakan oleh Avienus. Namun, Ideler mengatakan bahwa Avienus merujuk pada cangkang yang menutupi objek laut, dan bukan pada bintang itu.

Bintang ini unik karena merupakan sistem bintang bertiga, bahkan berempat dan memiliki warna yang mirip cenderung kuning-jingga. Selain itu periode revolusi antara pasangan bintang yang relatif berdekatan pun relatif pendek, kisaran 60 tahun saja. Rentang diameter sudutnya lebih unik, maksimalnya mencapai 1ʺ dan minimumnya 0ʺ,2. Secara observasi, bahwa selama ini antara mereka berdua tidak pernah saling menutupi (okultasi). Anggota ketiga berjarak 5ʺ jauhnya, dan periode orbitnya minimal 500 tahun. Karakter fisik ketiganya bermagnitudo 5,6; 6,3; dan 6, dengan warna mirip, yaitu kuning, jingga, putih kekuningan.

Bintang zeta dan theta, menurut Peters, mungkin adalah objek yang dikatakan oleh Watson sebagai dua planet intra-Mercurial, yang diamatinya selama Gerhana Matahari Total pada tanggal 29 Juli 1878.

Bintang lambda dengan magnitudo 6, bersama dengan bintang-bintang yang berdekatan, pada masyarakat Tiongkok disebut Kwan Wei, Api yang Terang. Bintang Mu Cancri dengan magnitudo 5,5 bersama bintang Chi Geminorum disebut Tsih Tsin, Heap of Fuel. Bintang xi bersama bintang kappa dan beberapa bintang di Leo disebut Tsu Ke.

Bintang xi, bermagnitudo 5,5 bersama dengan bintang Lambda Leonis membentuk manzil ketujuh Al Tarf, Akhir, atau kadang diterjemahkan sebagai Glance, layaknya sebutan Mata Singa pada masyarakat Asad Kuno, yang di kubah langit termasuk asterisme yang cukup luas. Wilayah ini di Persia disebut Nahn, Hidung, atau lainnya adalah Piautos (Koptik Mesir), Mata, dan keduanya merupakan asterisme.

Gambar 5. Pemetaan Bintang Terang

 

Tabel 3
Identifikasi 85 Bintang Terang
(dikompilasi oleh Nadya Hidayatie)

Messier 44: Gugus Terbuka Praesepe

Dimasukkan oleh Bayer pada gugus M44 di depan kepala kepiting yang terdiri dari kisaran 150 bintang dengan magnitudo antara 6,5 sampai 10. Gugus ini dikenal juga sebagai gugus Beehive. Namun, dalam sejarah, sempat muncul penyebutan Apiarium. Charles Messier memasukkan objek ini sebagai M44 pada tanggal 4 Maret 1769.

Sempat pula disebut Awan Kecil oleh Hipparchos (130 SM) atau Kabut Kecil oleh Aratos; Cloudy One; Whirling Cloud (Nubilum, harfiah Cloudy Sky) dari Bayer. Namun demikian, para Almagests dan astronom pada umumnya antara abad ke-16 dan 17 menyebutnya sebagai nebula atau Nebulosa (di dada kepiting) karena sebelum penemuan teleskop bahwa objek ini adalah satu-satunya nebula yang diakui secara universal, komponen-komponennya tidak dapat dibedakan secara terpisah secara kasat mata.

            Wilayah tersebut di atas memang populer dengan sebutan Palungan atau Boks, atau Patne dari Aratos dan Eratosthenes; Patnes dari Ptolemy; dan nama latinnya Praesaepe, Praesaepes, Praesaepis, Praesaepia, Praesaepium, Presepe pada Tabel Alfonsine dan oleh Bayer adalah Pesebre, yang di Spanyol modern dikatakan diapit oleh Aselli. Atau oleh Bayer sempat diistilahkan Melleff, yang diikuti Chilmead dengan Mellef, dan Riccioli dengan Meeleph yang hal ini berawal dari ranah Arab, yaitu Al Ma᾽laf yang berarti kios; dan ini, pada gilirannya berawal dari astronom Yunani, karena Al Ma᾽laf terkait rasi bintang Crater. Schickard menyebutnya Mallephon. Sebenarnya, hadirnya dua keledai terkait kisah Yunani, di mana dewa Dionysos dan Silenus yang berkendara keledai dalam pertempuran melawan para Titan. Ketakutan melihat bentuk binatang inilah yang turut mendukung kemenangan para dewa.

Gugus ini juga disebut sebagai gugus Beehive (Sarang Lebah). Identifikasi lainnya adalah NGC 2632 atau Cr 189. Merupakan gugus terbuka (open cluster) yang terdekat ke Matahari yang mengandung populasi bintang yang lebih banyak dibandingkan dengan gugus terbuka terang lainnya. Dengan kondisi kubah langit yang ideal, gugus ini secara kasat mata hanya tampak sebagai objek redup berkabut. Namun demikian, karena relatif mudah dilihat, maka telah diketahui dan dicatat sejak bermilenia yang lalu.

Gugus ini termasuk salah satu objek langit yang diamati oleh Galileo dengan teleskopnya. "The nebula called Praesepe, which is not one star only, but a mass of more than 40 small stars." Yang kemudian ikut mengamatinya adalah Peiresc (1611) yang juga dianggap sebagai pengkonfirmasi nebula Orion (M42). Area tersebut diamati sebagai sebuah gugus bintang oleh Simon Marius pada tahun 1612. Dengan teleskop yang relatif lebih besar pada era selanjutnya, diketahui terdapat lebih dari 350 bintang anggota gugus ini (https://www.messier.seds.org/m/m044.html).

Karakter usia dan gerak dirinya (proper motion) mirip dengan gugus sejenis yang berada di wajah Sang Banteng Taurus, yaitu Hyades. Sementara disimpulkan bahwa proses keterjadiannya atau tahap evolusinya juga sama. Keduanya juga mengandung sejumlah bintang raksasa merah dan Katai Putih yang merupakan indikator bahwa populasi tersebut sudah berada pada tahap evolusi lanjut. Namun, banyak pula bintang yang masih berada pada tahap evolusi Deret Utama (mirip Matahari).

Jarak gugus kisaran 520 – 610 tahun cahaya. Namun, dengan data paralaks bintang berbasis wahana antariksa Hipparchos (2009) dan diagram magnitudo warna inframerah terbaru mendukung jarak sekitar 577 – 593 tahun cahaya dan usia kisaran 600 – 730 juta tahun. Usia yang sebanding dengan gugus Hyades, yaitu 625 – 790 juta tahun. Diameter pusat gugus diperoleh sekitar 23 tahun cahaya.

Gugus ini dapat diamati sekitar bulan Februari hingga Mei (bentangannya sekitar 1,5 derajat busur atau kisaran 3 kali diameter sudut Bulan Purnama). Relatif mudah dilihat dengan binokuler besar atau teleskop, dengan letak di tengah-tengah antara bintang delta dan gamma. Pada gugus ini dijumpai beberapa bintang yang cukup unik, sepertiTX Cancri yang merupakan bintang ganda gerhana, Epsilon Cancri yang memiliki garis metal yang dominan, juga bintang-bintang variabel.

Gambar 6. Messier 44
Nama lain adalah gugus terbuka Beehive (Sarang Lebah) atau Praesepe (Palungan).
Relatif mudah dilihat kasat mata sebagai objek berkabut dan letaknya tergolong dekat.

Foto diambil berbasis 15 kali pemotretan (Januari 1997) oleh tim Burrell Schmidt Telescope of Case Western Reserve University's Warner dan Swasey Observatory di Kitt Peak, dekat Tucson, Arizona.
Ukuran bidang foto: 60,9 menit busur
Credit: NOAO/AURA/NSF
https://www.messier.seds.org/more/m044_more.html

Exoplanet Pr0201b dan Pr0211b

Planet yang ditemukan ini diberi indeks Pr0201b dan Pr0211b di mana indeks Pr berasal dari nama gugusnya, yaitu Praesepe dan indeks b sebagai tanda planet (atau bintangnya adalah Pr0201 dan Pr0211). Keduanya merupakan planet yang dijuluki sebagai Hot-Jupiter, karena struktur tubuhnya mirip Jupiter (planet gas raksasa) dan sangat panas. Lintasan orbitnya sangat dekat dengan bintang induknya. Merupakan planet pertama yang diketemukan di gugus tersebut. Gugus Praesepe merupakan gugus yang kini diketahui memiliki anggota sekitar 1000 bintang.

(www.jpl.nasa.gov/news - 2012-289) Seperti yang dikatakan oleh Sam Quinn dari Georgia State University – Atlanta pada the Astrophysical Journal Letters bersama timnya, David Latham dari Harvard-Smithsonian Center for Astrophysics, yang menggunakan Tillinghast Telescope berdiameter 1,5 meter di Smithsonian Astrophysical Observatory's Fred Lawrence Whipple Observatory dekat Amado:

"This has been a big puzzle for planet hunters," Quinn said.
"We know that most stars form in clustered environments like the Orion nebula,
so unless this dense environment inhibits planet formation,
at least some sun-like stars in open clusters should have planets.
Now, we finally know they are indeed there."

 

Gambar 7
Ilustrasi keberadaan Super-Earth yang mengedari bintang 55 Cancri.
Julukan Super-Earth ketika para pakar berhasil menganalisis komposisi kimiawi terhadap atmosfernya
yang ternyata mirip dengan Bumi.
Bintang ini kisaran 40 tahun cahaya yang merupakan bintang yang relatif dingin
dan berukuran lebih kecil dari Matahari.
Jarak planet ke bintang induknya sangat dekat di mana hanya butuh waktu 18 jam untuk sekali edar
dan temperaturnya dapat dikatakan sangat panas, yaitu kisaran 2.000 derajat.
Keistimewaannya bahwa kehadiran planet di kawasan yang padat bintang sangat mengejutkan.
Credit: ESA/Hubble, M. Kornmesser
(https://www.spacetelescope.org/images/heic1603a/)

 

Observasi

Gambar 8. Peta Langit Cancer berbasis Jakarta
Sebagai panduan, dapat lihat 2 bintang terang dikiri atas gambar (Pollux dan Castor, di rasi bintang Gemini),
Procyon (di rasi bintang Canis Minor) di puncak gambar, dan Alphard (di Hydra).

Berbasis kota Jakarta, maka yang terbaik dalam mengamati keseluruhan wilayah Cancer adalah mulai kisaran minggu pertama bulan Februari di mana Cancer pada pukul 20:00 WIB telah terbit di ufuk timur dengan ketinggian sekitar 25 derajat (permukaan 00, puncak langit 900) hingga kisaran minggu kedua bulan Juni.

 

Fakta Terkait

  1. Luas wilayah mencakup 505,9 derajat persegi atau 1,23% dari luas kubah langit;
  2. Urutan ke 31 dari 88 rasi bintang;
  3. Lokasi wilayah: RA (07h55m8s s.d  09h 22m 35.0s) dan Dekl. (33,10 s.d 6.50);
  4. Titik sentral: RA (8h 36m), Dekl. (+ 200);
  5. Midnight Culmination Date: 30 Januari;
  6. Solar Conjuction Date: 1 Agustus;
  7. Jumlah bintang kasat mata kisaran 35 buah;
  8. Objek Messier: M44 dan M67 (galactic/open cluster);
  9. Bintang dengan gerak diri besar: Ross 619 (5,40”/tahun, ranking ke 6);
  10. Bintang terang praktis tidak ada (di luar urutan 200 bintang terang di kubah langit);
  11. Bintang dengan hadirnya planet: 10 bintang.

 

Hujan Meteor

Delta Cancrids adalah hujan meteor skala kecil dan berdurasi panjang yang umumnya terjadi antara tanggal 14 Desember hingga 14 Februari, utamanya antara 1 Januari hingga 24 Januari dengan maksimum terjadi sekitar tanggal 17 Januari (λ = 297,30) dari titik radian (1280, + 200) dekat bintang Delta Cancri dengan hanya empat meteor per jam.

Pertama diketahui tahun 1872. Pada tanggal 1 hingga 15 januari 1872, the Italian Meteoric Association berhasil mendeteksi 7 meteor yang berasal dari titik radian (1300, +240). Disusul 12 Januari 1879, meteor besar (bolide meteor) diketahui dari titik yang berdekatan (1330, +190). Namun, bahwa benar ini merupakan hujan meteor yang terjadi secara tahunan baru ditegaskan pada tahun 1971. Titik radian kedua berada pada lokasi sekitar 50 ke selatan dengan maksimum lemah terjadi sekitar 19 Januari (λ = 300,10) dari titik radian (1330, + 140). Sumber dari hujan meteor masih belum diketahui pasti, ada yang menyatakan bahwa ada kaitannya dengan asteroid 2001YB5 berbasis data orbitnya.

Indikasi bahwa hujan meteor ini tergolong skala kecil bukan sekedar dari rata-rata jumlah per jam, melainkan penampakannya dianggap belum konsisten layaknya hujan meteor tahunan yang selama ini sudah dianggap mapan. Dari jurnal penelitian pun dapat ditelusuri semisal pada karya Cuno Hoffmeister (1948), Meteorstrome, yang menyatakan bahwa pada wilayah tersebut masih tercatat tiga kemungkinan lokasi titik radian. Yang pertama, terdeteksi pada tahun 1915. Adapun dua lainnya diamati pada tahun 1937. Meskipun beberapa jejak rekaman kejadian telah diterbitkan untuk kurun tahun 1920 hingga 1930-an, nyatanya tidak ditemukan konsistensi titik radiannya.

Mungkin bukti kuat pertama yang mendukung keberadaan hujan meteor ini datang pada tahun 1971 ketika Bertil-Anders Lindblad menelusuri hasil rekam foto yang terkait prediksi jejak kejadiannya saat menjalankan program Projek Meteor Harvard kurun tahun 1952-1954. Tujuh meteor dideteksi dan terjadi pada kurun 13 hingga 21 Januari dan mengindikasikan titik radiannya pada (1260, + 200).

Dukungan untuk Lindblad muncul tahun 1973 dan 1976, saat Zdenek Sekanina menerbitkan hasil penelitiannya yang bermula dari 2 sesi Proyek Meteor Radio di Havana, Illinois, selama tahun 1960-an. Sesi pertama mencakup periode 1961 – 1965 dan mendeteksi 27 meteor dalam kurun 28 Desember hingga 30 Januari dengan titik radian (123,70, + 20,90). Sesi kedua mencakup periode 1968 – 1969 dan mendeteksi 37 meteor selama 14 Desember hingga 14 Februari, dengan titik radian (129,80, + 19,80).

Setelah rincian survei foto dan radar dipublikasikan, para pengamat berbasis visual mulai berburu hujan meteor ini. Yang pertama terjadi pada tanggal 19 Januari 1974 saat Bill Gates (Albuquerque, New Mexico) mendeteksi dua meteor dalam 3 jam 46 menit pengamatan dengan menggunakan binokuler (7x50) dengan titik radian (128,250, + 18,60). Selama Januari 1976, N. W. McLeod III (Florida) menunjukkan kejutan bahwa hujan meteor yang diburunya ternyata terjadi. Digambarkan masing-masing meteor layaknya “Seperti hujan meteor Geminid, lambat dan cemerlang”. Dalam kurun 7 jam pada 16 – 17 dan 17 – 18 Januari berhasil mendeteksi 12 meteor dari titik radian tersebut.

Selama tahun 1977, beberapa pengamatan tentang hujan meteor ini diterbitkan dalam Meteor News. Pada 15/16 Januari, J. West dan G. Shearer mengamati di Bryan, Texas, dan melihat 7 meteor dalam kurun 2 jam 17 menit. Sementara itu, P. Jones (St. Augustine, Florida) melihat 2 dalam 2 jam. Pada 21/22 Januari, McLeod melaporkan adanya 6 meteor dalam 4 jam, sementara F. Martinez (Florida, AS) melihat 4 meteor juga dalam 4 jam. McLeod dan Martinez juga mengamati pada tanggal 22/23 Januari masing-masing 1 dalam 3 jam dan nihil dalam 3 jam dan 38 menit. Analisis terhadap data  yang tersedia (1974, 1975 dan 1977) oleh Gates mengungkapkan bahwa kemungkinan tingkat aktivitas hujan meteor ini kisaran 2 – 3 meteor per jam pada puncak penampakannya.

Laju hujan meteor ini tercatat rendah pada kurun 1980-an. Selama 3 jam pada tanggal 16 januari 1983, Rick Hil (North Carolina) hanya mendeteksi 2 meteor. Selama tahun 1984, R. Lunsford (San Diego, California, AS) bahkan hanya melihat 1 meteor selama lima jam pada 4 Januari dan M. Zalcik (Edmonton, Alberta, Kanada) hanya 1 meteor dalam satu jam tanggal 13/14 Januari. Adapun tahun 1986, D. Swann (Dallas, Texas, USA) mendeteksi 4 meteor selama tiga jam pada tanggal 11/12 Januari dan 2 meteor selama satu jam pada tanggal 14/15 Januari. Terakhir, pada rentang tanggal 15/16 hingga 24/25 Januari 1988, McLeod mengamati 9 meteor dalam 12 jam 55 menit.

Hujan meteor lainnya adalah Kappa Cancrids (KCA). Namun, biasanya tidak disebutkan sebagai target untuk pengamatan visual, tetapi selama kurun waktu tahun 2015 dan 2016, kegiatan perburuan ini telah mulai diperhatikan dengan peranti video yang dapat dilihat oleh pengamat visual. Kisaran puncaknya terjadi pada tanggal 10 Januari sekitar pukul 09:49 UT. Titik radiannya sekitar 5 derajat timur laut dari bagian kepala rasi bintang Hydra. Memang tidak spektakuler, namun tetap bernilai ilmiah dalam jejak evolusi Tata Surya. Meteor ini rata-rata memiliki kecepatan hingga 50 km/detik. Namun, ada beberapa kasus memiliki kecepatn yang lebih tinggi.

Penelitian yang dilakukan oleh Sirko Molau dan Juergen Rendtel dari database video dari International Meteor Organization (IMO) telah mendeteksi adanya titik radian baru pada tahun 2011 di rasi bintang Cancer bagian selatan, 3 derajat barat daya bintang Acubens (Alpha Cancri). Hujan meteor ini selanjutnya disebut Southern Delta Cancrids yang aktif antara tanggal 15 Januari hingga 18 Januari. Kecepatannya termasuk level rendah hingga sedang, hanya kisaran 29 km/detik.

 

Tabel 4. Hujan Meteor Tahunan
Untuk informasi detail hujan meteor dapat dilihat kolom references-nya (jurnal).
Kadang dalam references diperoleh data RA dan deklinasi titik radian,
dan kadang tidak diberi nama, maka harus ditelusuri satu per satu dan disinkronkan dengan data observasi.

pallas.astro.amu.edu.pl/MDC2007/00096

pallas.astro.amu.edu.pl/MDC2007/00097

pallas.astro.amu.edu.pl/MDC2007/00202

Tiga hujan meteor yang tertera pada tabel di atas dianggap telah memiliki data yang mapan sebagai hujan meteor tahunan. Adapun hujan meteor yang juga terekam dengan titik radian di Cancer adalah:

 

Tabel 5. Data Hujan Meteor


 

Pengantar

Berdasar sezarah kisah di atas jelas bahwa masyarakat telah berusaha menafsirkan hadirnya jagad semesta dengan segala isi dan fenomenanya, termasuk yang terkait rasi bintang. Tiap daerah atau bangsa punya imajinasinya, baik dalam ujud kosa kata maupun cerita rakyat, terlepas dari sisi astrologi, mitos, takhayul, maupun Astronomi. Inilah pemicu langkah menuju taraf pengetahuan zaman ke-kini-an. Berharap, penulis masih mendapat kesempatan untuk mendongeng kisah Zodiak lainnya, dan walau yang di sini hanya sezarah sekalipun, semoga bacaan ini bermanfaat. Salam Astronomi. –WS

 

Daftar Pustaka

Bakich, M., 1995,The Cambridge Guide to the Constellations, Cambridge University Press, Cambridge, p.158-9

Cornelius, G., 2005, The Complete Guide to the Constellations, Duncan Baird Publishers, London, p.40-43

Davis Jr., G. A., 1944, The Pronunciations, Derivations, and Meaning of a Selected List of Star Names, Popular Astronomy 52

Maass, A., 1924, Tijdschrift voor Indische Taal, Land en Volkenkunde, Albrecht & Co., Batavia, Deel LXIV, Appendix C (Identifizierte Sterne)

Mc Carter, N., Constellation Legends, Naturalist and Astronomy Intern SCICON, p.32, 33

Nilsson, C. S., 1964, A Southern Hemisphere Radio Survey of Meteor Streams, Aust. J. Phys 17

Paku Buwana V, 1989, Serat Centhini (Suluk Tambangraras) 8, Yayasan Centhini, Yogyakarta, p.33-53 (translated from old Javanese script by Kamajaya)

Rogers, J. H., 1998, Origins of the Ancient Constellations: I. The Mesopotamian Traditions, Journal of the British Astronomical Association (JBAA) 108:1

Sawitar, W., 2009, Star and the Universe: The Ancient Cultures of Indonesia, “Stars of Asia Workshop” at National Astronomical Observatory of Japan – Mitaka – Tokyo, 11-14 Mei 2009

Sawitar, W., 2015, Astronomi dalam Cerita Rakyat Nusantara, Makalah pada Seminar Astronomi dalam Budaya Nusantara (SINDARA) di Universitas Ahmad Dahlan Yogyakarta (30/05/2015)

Sindhunata, 2011, Pranata Mangsa – Seri Lawasan, Gramedia (KPG), Jakarta

 

Kamus

Prawiroatmodjo, S., 1991, Bausastra Jawa – Indonesia, Gunung Agung, Jakarta

Suparlan, Y. B., 1988, Kamus Kawi – Indonesia, Penerbit Kanisius, Yogyakarta

 

Situs

Astronomy - Star Atlases, Charts, and Maps.

Ian Ridpath - IAU List

Ian Ridpath's Star Tales

Islamic Crescents' Observation Project (ICOP)

Galileo

 

Official IMO website

Star Names Their Lore and Meaning by Richard Hinckley Allen

https://articles.adsabs.harvard.edu/pdf/1964AuJPh..17..205N

https://ecuip.lib.uchicago.edu/diglib/science/cultural_astronomy/cultures_egypt-2.html

https://www.ianridpath.com/startales/Cancer.htm

 

https://www.icoproject.org/cons.html

https://www.messier.seds.org/m/m044.html

https://pallas.astro.amu.edu.pl/~jopek/MDC2007/Roje/pojedynczy_obiekt.php?kodstrumienia=00096&colecimy=1&kodmin=00001&kodmax=00569&sortowanie=0

https://pallas.astro.amu.edu.pl/~jopek/MDC2007/Roje/pojedynczy_obiekt.php?kodstrumienia=00097&colecimy=1&kodmin=00001&kodmax=00569&sortowanie=0

https://pallas.astro.amu.edu.pl/~jopek/MDC2007/Roje/pojedynczy_obiekt.php?kodstrumienia=00202&colecimy=1&kodmin=00001&kodmax=00569&sortowanie=0

 

https://books.google.co.id/books?hl=id&id=qB9dKo_i-QIC&q=dike#v=snippet&q=dike&f=false; Smith, William (1880). A Dictionary of Greek and Roman Biography and Mythology; London: John Murray. p. 1002. Retrieved 2 April 2018

https://en.wikipedia.org/wiki/Cancer_(constellation)

https://en.wikipedia.org/wiki/Delta_Cancrids

https://en.wikipedia.org/wiki/Beehive_Cluster

https://hos.ou.edu/exhibits/exhibit.php?exbgrp=3&exbid=20&exbpg=16

 

https://pantheon.org/articles/c/carcinus.html

https://pantheon.org/articles/m/mandaya_mythology.html

https://pantheon.org/articles/t/tambanokano.html

https://penelope.uchicago.edu/Thayer/E/Gazetteer/Topics/astronomy/_Texts/secondary/ALLSTA/Cancer*.html

https://planetarium.jakarta.go.id/index.php/artikel-astronomi/79-rasi-bintang-dalam-denyut-budaya-bag-1

 

https://planetarium.jakarta.go.id/index.php/artikel-astronomi/120-aquarius-bagian-1

https://sabdadewi.wordpress.com/2014/09/27/kalender-pranata-mangsa/

https://web.archive.org/web/20150113075023/https://meteorshowersonline.com/showers/delta_cancrids.html

https://www.iau.org/public/themes/constellations/

https://www.imo.net/meteor-activity-outlook-for-04-10-january-2020/

 

https://www.imo.net/meteor-activity-outlook-for-january-15-21-2011/

https://www.imo.net/resources/calendar/

https://www.jpl.nasa.gov/news/news.php?release=2012-289

https://www.nasa.gov/feature/goddard/2017/messier-5

 

dan situs yang tertulis pada artikel. Untuk pembanding kisah Zodiak, silakan lihat artikel terkait pada situs ini, seperti Aquarius, Scorpius, dll.

 

Peranti Lunak

Software Stellarium 0.12.4