Written by Widya dan Nadya

User Rating: 0 / 5

Star InactiveStar InactiveStar InactiveStar InactiveStar Inactive
 

HUJAN METEOR PERSEIDS 

oleh:

Nadya Hidayatie dan Widya Sawitar

 

Walau kubah langit pada malam hari di Jakarta saat ini sudah tidak indah lagi dengan bentang perbintangan karena atmosfernya tercemar oleh polusi udara dan polusi cahaya, namun tetap untuk objek langit tertentu masih dapat ditera dengan baik. Pemetaan langit masih dapat dilakukan, termasuk hadirnya objek dekat seperti planet dan Bulan yang memang relatif terang.

Kondisi di atas tentu berbeda apabila kita pergi agak jauh dari kota Jakarta, ke tempat yang tingkat polusinya rendah. Ribuan bintang di langit dapat disaksikan, yang sudah sejak jaman dahulu dijadikan pedoman waktu dan arah bagi para nelayan di laut dan pengembara, serta dijadikan pedoman musim bagi para petani. Tidak kalah pentingnya adalah jembatan spirit untuk memahami karya ciptaNya.

Apabila melihat dengan cermat, selain bintang gemintang, planet, dan Bulan, kadang masih dapat terlihat meteor dan komet, bahkan sekarang dapat pula terlihat satelit buatan manusia yang berjalan perlahan di samudra perbintangan. Ada yang unik saat kita melakukan pengamatan benda langit, sadar ataupun tidak, menjadikan kita dapat mengenal dimensi waktu, yang selanjutnya menjadi penting dalam pengamatan dan memahami fenomena alam secara umum dalam dimensi ruang alam semesta. Termasuk fenomena yang pada bulan Agustus mendatang dapat kita cermati.

 

Hujan Meteor

Ruang antar planet dan segenap pelosok Tata Surya bukanlah ruang kosong. Di sana banyak sekali materi beraneka jenis, baik berupa debu ataupun batuan beragam ukuran dengan jumlah tidak terhitung. Sebarannya layaknya debu yang beterbangan di sekitar kita. Bila materi ini terkena pengaruh gaya gravitasi Bumi, maka dapat memasuki atmosfer lalu jatuh ke Bumi dengan kecepatan yang tinggi (sejatinya tergantung massa dan komposisinya). Hanya saja, tentu materi ini harus terlebih dahulu bergesekan dengan materi di atmosfer. Gesekan ini akan memanasi materi tersebut, bahkan lambat laun akan berpijar atau terbakar. Saat berpijar itulah yang tampak oleh nenek moyang kita layaknya sebagai bintang jatuh. Julukan ini masih populer hingga kini, yang sekarang disebut sebagai meteor (lebih lengkapnya dapat simak pada Meteor ).

Setelah ragam penelitian, maka diketahui bahwa cikal bakal materi pembentuk meteor (sebut sebagai meteoroid) bukan hanya berasal dari materi antar planet biasa. Ada yang berasal dari batuan Bulan, Mars, asteroid, bahkan komet (dapat simak artikel Komet dan artikel berseri tentang asteroid pada situs ini), dsb.

Pada waktu tertentu/berkala tiap tahun, Bumi berpapasan dengan sekelompok materi sedemikian hal ini menimbulkan peristiwa hujan meteor (meteor shower). Arah datangnya seolah berasal dari satu titik di langit yang disebut Titik Radian (pola sebaran mungkin ibarat letusan kembang api di udara). Sebenarnya hal ini akibat perspektif belaka. Ibarat kita melihat rel kereta api yang seolah bertemu di satu titik di kejauhan. Saat terjadi hujan meteor, dapat puluhan hingga ribuan meteor berjatuhan setiap jam.

Asal muasal kelompok materi cikal bakal hujan meteor ini dapat berasal dari bubusan materi komet dan asteroid yang memenuhi jejak lintasannya. Jadi, dapat diharapkan bahwa setiap Bumi memasuki wilayah jejak ini, maka terjadi hujan meteor.

 

Perseids

Dari sekian banyak hujan meteor yang termasuk dalam daftar dalam Meteor Data Center IAU adalah Hujan Meteor Perseids (singkat: Perseids) dan sebutan ini karena titik radiannya berada pada rasi bintang Perseus. Perseids merupakan salah satu hujan meteor yang sangat tergolong cemerlang, memiliki jumlah per jam yang cukup banyak, kisaran 50 hingga 100 meteor per jam (dapat simak ).

Selain itu, sebenarnya masih belum ada kesepakatan kapan intensitas maksimal dari Perseids. Denning tahun 1923 menyatakan setiap 11,72 tahun. Untuk fenomena tahunannya, rata-rata kisaran 80 meteor akan terlihat setiap jam, kecuali tahun 1862, 1863, 1921, dan 1992 mencapai 250 meteor per jam. Sangat sedikit tahun 1911 dan 1912. Ada keunikan pada tahun 1991, yaitu mencapai 350 meteor per jam, namun berlangsung sangat singkat. Juga tahun 1992 yang bahkan kurang dari 1 jam saja. Kedua fenomena terakhir populer dengan sebutan fenomena semburan (outburst).

Adapun komet sebagai sumber Perseids adalah komet 1862 III (22 Agustus 1862) atau nama lainnya adalah 109P/Swift-Tuttle yang ditemukan oleh Lewis Swift dari Marathon – New York tanggal 16 Juli 1862 dan secara terpisah oleh Horace Tuttle dari Observatorium Harvard – Massachusetts. Dari ragam penelitian bahwa komet ini memiliki periode 130-3 tahun, inklinasi orbit 1130 34’, jarak perihelion 0,975 sa dan aphelion 47,6 sa dengan eksentrisitas (kelonjongan bentuk orbit) 0,962 (elips yang sangat lonjong) dan sumbu panjang 24,33 sa. Giovanni Schiaparelli merupakan salah satu orang pertama yang menyadari bahwa komet ini merupakan induk dari Perseids termasuk penyebutannya. Terkait ke-konstan-annya, maka diduga materi yang tertinggal di sepanjang jejak komet ini (meteoroid-nya) tergolong tua dengan posisi lintasan yang stabil, tidak banyak berubah. Terakhir komet mendekati Bumi adalah pada tahun 1992. Lebih lengkap dapat simak pada Hujan Meteor

 

Jadwal Perseids

Fenomena Perseids dapat diamati setiap tahun. Hujan meteor ini akan mulai aktif mulai tanggal 17 Juli hingga 24 Agustus 2020 dan di Jakarta akan mencapai puncaknya pada tanggal 12 Agustus 2020 (20:00 – 23:00 WIB) dengan perkiraan jatuhnya meteor dengan kecepatan 59 km/s danintensitasnya kisaran 110 meteor per jam. Yang perlu diingat bahwa fenomena ini terbaik dilihat dengan kasat mata dan tentu saja sedapat mungkin dengan kondisi langit yang ideal yang antara lain mempertimbangkan faktor polusi udara dan polusi cahaya. Uniknya bahwa kehadiran Bulan pun dapat berpengaruh saat pengamatan fenomena ini. Kondisi Bulan pada tanggal 11 Agustus sudah memasuki fase separuh akhir. Jadi, faktor usia Bulan dan kapan terbit dan terbenamnya juga harus menjadi catatan.

Rasi bintang Perseus pada tanggal 12 Agustus 2020 dinihari (00:16 WIB) baru terbit. Sepenuhnya wilayah Perseus di atas ufuk timur kisaran pukul 01:00 WIB, sedangkan Bulan terbit pada pukul 00:36 WIB dengan iluminasi 39% dan berada pada posisi yang cukup dekat dengan titik radian (RA: 48 derajat; Dekl: 58 derajat). Rasi bintang Perseus akan terbenam pukul 11:00 WIB. Jadi, berbasis kota Jakarta bahwa pada saat puncak fenomena yang diprediksi terjadi mulai pukul 20:00 hingga 23:00 WIB, justru Perseus belum terbit. Namun demikian, arah sebarannya radial dari arah titik radian. Jadi, tetap dapat diharapkan akan terlihat.

Hujan meteor ini sangat baik dilihat setelah tengah malam (pada tanggal 12 Agustus 2020 dinihri selepas pukul 00:16 WIB) hingga fajar mulai menyingsing sekitar pukul 05:40 WIB (Matahari terbit pukul 06:00 WIB); juga pada pukul 20:00 – 23:00 WIB hingga fajar tanggal 13 Agustus 2020.

Tabel 1
Daftar Hujan Meteor Kelompok Perseid.
Merupakan hujan meteor yang titik radiannya berada pada rasi bintang Perseus
( www.ta3.sk/IAUC22DB/MDC2007/Roje ).

                                                                                 Keterangan:

                                                                                

 

Observasi Perseids

Gambar 1
Peta rasi bintang Perseus berbasis kota Jakarta pada tanggal 12 Agustus 2020, pukul 01:00 WIB.
Yang diberi tanda lingkaran adalah bintang paling terang di Perseus, Alpha Persei atau Mirphak.
Planet Mars juga dapat dinikmati wajah merahnya.

Bagaimana cara menikmati hujan meteor ini? Tentu saat liburan atau malam Minggu adalah saat yang dapat dipertimbangkan. Namun, sayangnya fenomena dapat terjadi kapan saja. Bagi yang sekolah atau bekerja, menikmati fenomena ini semalaman di mana esok paginya sekolah atau bekerja akan jelas menyita energi dan dapat membuat kita terkantuk-kantuk. Ini dapat terjadi pada waktu normal tentunya. Mengingat situasi kini, tentu yang menjadi prioritas adalah masalah protokol kesehatan terkait masa pandemik. Tentu harus diperhatikan dan dipertimbangkan jauh lebih masak lagi.

Setelah ragam pertimbangan ini, maka kita dapat tentukan untuk melakukan langkah sebagai berikut ( Fenomena Langit ):

  • Cari lokasi observasi yang asri, aman, dan nyaman;
  • Tetap secara maksimal menjalankan protokol kesehatan apabila berkelompok;
  • Tetaplah duduk atau tiduran dengan posisi yang Anda sukai di lokasi;
  • Jangan lupa memakai baju hangat atau jaket karena kita mengamat di udara terbuka sambil bergadang semalaman;
  • Menyiapkan cemilan dan minuman hangat sangat dianjurkan;
  • Tidak ada salahnya mencari informasi, sekiranya benda langit apa saja yang dapat disimak kala itu khususnya terkait peta langit.

Langkah berikutnya adalah:

  • Adaptasi mata dengan pekatnya malam. Hanya melihat nyala handphone sekali dan sedetik dua detik saja sudah menghilangkan kesempatan melihat meteor hingga 1 - 2 menit berikutnya, itupun bagi yang sudah terbiasa atau berpengalaman mengamati langit. Sebaiknya pakai fasilitas night mode. Adapun senter (flashlight) darurat, utamakan dengan filter warna merah;
  • Apabila itu semua sudah, mulailah melihat sekitar dua-pertiga langit di hadapan kita dihitung dari ufuk (cakrawala, horizon, atau kaki langit) ke arah puncak (zenith). Kalau terlatih, kita masih dapat melihat secara menyapu pandang kiri kanan secara runut. Apabila belum terbiasa, lihatlah satu lokasi langit tersebut secara tetap (layaknya untuk pengambilan foto, yang berminat menjadi astrofotografer dapat mencobanya);
  • Setelah itu, biarkan mata mengembara sehingga penglihatan periferal kita yang melihatnya, seperti mata orang sedang menerawang atau melamun. Tidak difokuskan seperti kita melihat sesuatu laksana memasukkan benang ke lubang jarum (dengan melihat terlalu fokus seperti ini biasanya gagal untuk melihat meteor yang lemah cahayanya di medan penglihatan yang luas). Selebihnya, silakan hitung berapa meteor yang sanggup Anda lihat.

 

Silakan menikmati dan menyibak cadar langit malam. Semoga kita dapat semakin arif menyikapi berbagai isu sains, khususnya mengenai fenomena astronomi. Hal ini karena justru ujungnya pada suatu ranah tertentu adalah ”feel amazement” – rasa syukur dengan segala kerendahan hati karena mendapat kesempatan untuk merasakan dan menikmati fenomena itu sebagai salah satu karunia-Nya. Salam Astronomi. –WS–

 

 

Situs

https://planetarium.jakarta.go.id/index.php/artikel-astronomi/33-komet-sang-pengelana-dari-tepian-tata-surya

https://planetarium.jakarta.go.id/index.php/artikel-astronomi/52-fenomena-langit-2016-september-desember

https://planetarium.jakarta.go.id/index.php/artikel-astronomi/69-hujan-batu-api-dari-langit

https://planetarium.jakarta.go.id/index.php/artikel-astronomi/75-badai-garis-cahaya-dari-langit

 

https://solarsystem.nasa.gov/asteroids-comets-and-meteors/meteors-and-meteorites/perseids/in-depth/ (diakses: 11 Juli 2020, 23:21 WIB.)

https://www.amsmeteors.org/meteor-showers/meteor-shower-calendar/ (diakses: 11 Juli 2020, 23:52 WIB.)

https://www.ta3.sk/IAUC22DB/MDC2007/Roje/roje_lista.php?corobic_roje=0&sort_roje=0 (diakses: 11 Juli 2020, 19:45 WIB.)

https://www.timeanddate.com/astronomy/meteor-shower/perseid.html (diakses: 11 Juli 2020, 18:57 WIB.)

International Meteor Organization, 2020 Meteor Shower Calendar, Jurgen Rendtel (ed.); (https://www.imo.net/files/meteor-shower/cal2020.pdf)

 

Peranti Lunak

Stellarium 0.12.4 dan 0.20.02