Written by widya sawitar

User Rating: 0 / 5

Star InactiveStar InactiveStar InactiveStar InactiveStar Inactive
 

GEMINI SI KEMBAR

Oleh

Widya Sawitar

 


Gambar 1
Gambaran Gemini pada atlas John Flamsteed
(ianridpath)

Genitif: Geminorum
Singkatan: Gem
Urutan luasan: ke 30
Sejarah: Salah satu dari 48 rasi bintang pada karya Ptolemeus (Almagest)
Nama Yunani: Δίδυμοι (Didymoi)

Gemini adalah salah satu rasi bintang Zodiak dan terletak di belahan Bumi utara. Dalam urutan Zodiak adalah yang ke 3 dan merupakan salah satu rasi bintang dari 48 rasi bintang yang terdapat pada karya Ptolemeus pada abad 2, Almagest, dan bertahan hingga kini di antara 88 rasi bintang modern. Nama ini adalah nama latin untuk "si kembar," dan dikaitkan dengan si kembar Castor dan Pollux dalam mitologi Yunani. Simbolnya seperti pada gambar di atas (♊). Luasannya ke 30 (513,761 derajat persegi).

 both were cleans'd from blood and dust
To make a heavenly sign;
The lads were, like their armour, scour'd,
And then hung up to shine;
Such were the heavenly double-Dicks,
The sons of Jove and Tyndar.

John Grubb, in Percy's Reliques of Ancient English Poetry.
(penelope.uchicago.edu/Gemini)

MITOLOGI

Bagi masyarakat Babylonia, bintang Castor dan Pollux dikenal sebagai the Great Twins. Si Kembar dianggap sebagai dewa dan sebutannya Meshlamtaea dan Lugalirra, yang berarti “Yang bangkit dari Dunia Bawah” dan “Raja Perkasa”. Kedua sebutan tersebut dapat dipahami sebagai simbolisasi Nergal, dewa wabah dan sampar bagi masyarakat Babylonia, yang merupakan Raja Dunia Bawah.

Dalam mitologi Yunani, Gemini (yang secara harfiah berarti kembar atau Castores seperti halnya Tyndaridae atau Tyndarids), dikaitkan dengan mitos Castor (Κάστωρ) dan Pollux (Polydeuces atau Polydeukes (Πολυδεύκης)), anak-anak dari Leda (Ratu Sparta) dan ArgonautsPollux adalah putra Zeus. Pada kisahnya, Zeus mengawali aksinya dengan menggoda Leda dengan menyamar sebagai angsa (kini menjadi rasi bintang Cygnus); sedangkan Castor adalah putra Tyndareus, (raja Sparta) dan suami dari Leda. Sebut mereka berdua sebagai saudara (tiri) kembar dalam mitologi. Pada suatu malam yang sama, Leda tinggal berturutan dengan sang angsa kemudian dengan suaminya. Buah ini semualah yang melahirkan si kembar. Pada kisah lain bahwa Leda ternyata melahirkan empat anak, mereka dikatakan lahir dari satu telur. Dalam versi yang paling umum diterima, Pollux dan Helen (yang terkenal sebagai Helen dari Troy) adalah anak-anak Zeus, dan karenanya abadi, sedangkan Castor dan Clytemnestra adalah anak Tyndareus, dan karenanya fana.

Gambar 2
Ilustrasi lain tentang rasi bintang Gemini
(ianridpath - urania) atau (Urania's Mirror)

Castor dan Pollux juga secara mitologis terkait peran mereka sebagai pelindung pelaut yang muncul sebagai Api St. Elmo. Juga dikaitkan dengan penunggang kuda, sesuai dengan asal usul mereka sebagai kuda kembar, kuda Indo-Eropa. Api St. Elmo (St. Elmo s fire) adalah fenomena cuaca di mana muncul plasma bercahaya dari salah satunya pada benda tajam atau runcing di medan listrik yang kuat di atmosfer. Biasanya muncul pada ujung-ujung layar kapal laut sebagai dampak terjadinya badai petir atau sering tercipta akibat oleh letusan dahsyat gunung berapi.

Para pelaut jaman dahulu percaya bahwa selama terjadi badai di laut, si kembar muncul pada “ship’s rigging”, yaitu sistem tali, kabel, atau rantai yang digunakan untuk mendukung tiang kapal (standing rigging) dan untuk mengontrol atau mengatur yard dan layar (running rigging) berupa fenomena listrik yang dikenal sebagai St. Elmo’s Fire, seperti yang dijelaskan oleh Pliny, penulis Romawi abad pertama Masehi, dalam bukunya Natural History.

Dalam pelayaran, bintang-bintang menjadi alat navigasi di bentang lautan nan luas. Jika ada si kembar, niscaya dianggap pertanda keselamatan dan kesuksesan. Untuk alasan inilah mereka menyebut nama Castor dan Pollux, dan orang-orang memohon kepada sang (dewa) kembar tersebut untuk memberi perlindungan selama berlayar. Bila pendarannya tunggal, para pelaut menyebutnya Helena dan ini merupakan pertanda sebaliknya, bencana akan terjadi.

Juga dalam kisahnya (ianridpath - Gemini), digambarkan bahwa si kembar selalu akur, juga layaknya sahabat sejati, dan setiap tindakan mereka saling bertukar saran. Layaknya kembar identik, hingga pakaiannya pun selalu sama. Castor dikenal pula sebagai penunggang kuda yang handal dan pejuang terkenal yang mengajar Heracles (Hercules) bagaimana bermain pedang, sementara Pollux adalah petinju yang tidak terkalahkan. Kadang Castor digambarkan membawa panah dan alat musik Lyre (seperti harpa kecil atau kecapi, lihat gambar 1), dan Pollux membawa gada.

Alkisah Si kembar yang tak terpisahkan bergabung dengan perjalanan Jason dan para Argonaut untuk mencari bulu emas (lihat artikel Aries Sang Domba). Keterampilan bertinju Pollux terasa berguna tatkala para Argonaut berhasil mendarat di wilayah Asia Minor yang diperintah oleh Amycus, putra Poseidon (Romawi: Neptune). Amycus, yang dilukiskan sebagai pelaku intimidasi terbaik dunia, tidak membiarkan siapapun tamu pergi sampai mereka mau bertarung tinju dengannya yang selalu menang. Dia turun ke pantai tempat para Argonaut beristirahat dan menantangnya untuk memilih satu di antara mereka untuk bertarung. Pollux, yang sangat risih dengan kearoganan Amycus, spontan menerima tantangan tersebut. Nyatanya, Pollux dengan mudah menumbangkan dan menamatkan riwayatnya.

Di perjalanan pulang, para Argonaut walau berhasil membawa bulu emas sang domba, menganggap hadirnya si kembar jauh lebih berharga nilainya. Apollonius Rhodius menggambarkan bahwa selama perjalanan dari Rhone ke Kepulauan Stoechades (yang sekarang bernama Iles d'Hyères selepas wilayah Toulon), Argonaut merasa sangat berutang keselamatan pada Castor dan Pollux. Sejak episode ini, Apollonius menyatakan bahwa si kembar sebagai pelindung dan penyelamat para pelaut. Hyginus mengatakan bahwa si kembar diberi kekuatan oleh dewa Poseidon, dewa laut untuk menyelamatkan para pelaut yang karam akibat amukan badai, yang juga memberi mereka kuda putih yang dalam kisahnya sering mereka tunggangi.

Pada kisah lain, Castor dan Pollux diceritakan berselisih dengan sepasang kembar lain, sepasang dewa, Idas dan Lynceus di mana sebenarnya mereka juga anggota Argonaut yang telah bertunangan dengan Phoebe dan Hilaira. Dalam hal ini, Castor dan Pollux berhasil membawa keduanya pergi. Idas dan Lynceus melakukan pengejaran para pasangan dan akhirnya bertarung. Castor berhasil dilukai oleh pedang Lynceus, di mana Pollux justru akhirnya berhasil membunuhnya. Sementara itu, Idas yang mencoba menyerang Pollux dipukul mundur oleh petir dari ayahnya, Zeus.

Cerita lainnya mengatakan bahwa kedua pasangan kembar saling berselisih tentang para wanita, tetapi kemudian merambat pada masalah pembagian ternak yang telah mereka pelihara bersama. Akhir cerita, Pollux yang berduka atas tewasnya Castor telah memohon kepada ayahnya untuk memberi keabadian untuk keduanya. Zeus meluluskan permintaan tersebut yang kemudian menempatkan mereka berdua di langit di mana kedekatan mereka tergambarkan, tidak terpisahkan dalam keabadian.

 

PENELUSURAN KISAH

Mereka bersama disebut sebagai Dioskouroi (Latin: Dioscuri) yang artinya putra Zeus. Namun, banyak ahli mitologi membantah apakah keduanya benar-benar putra Zeus, karena keadaan kelahiran mereka yang tidak biasa.

Dalam karya MeteorologicaAristoteles menyatakan bahwa dia mengamati Jupiter mengokultasi bintang di wilayah Gemini. Okultasi ini termasuk catatan awal tentang fenomena tersebut. Sebuah penelitian yang diterbitkan tahun 1990 mengindikasikan bahwa bintang tersebut adalah 1-Geminorum dan peristiwanya terjadi pada tanggal 5 Desember 337 SM. Apakah ini juga menjadi latar lahirnya kisah?

Mitologi terkait Castor dan Pollux di Yunani pun dijumpai ada beberapa versi. Pada karya Homer, digambarkan bahwa mereka pada awalnya adalah manusia biasa, dalam gambaran keseharian. Dalam Odyssey mereka diilustrasikan terkait dengan dunia para dewa ketika digambarkan “cornbearing earth holds them”. Juga dinyatakan "having honour equal to gods", di mana tampak mereka bukanlah dewa. Ada pula pernyataan bahwa kehidupannya dibantu dengan “pertolongan” Zeus. Baik di Odyssey dan bagi penulis lainnya, Hesiod, mereka digambarkan sebagai putra Tyndareus dan Leda. Dalam karya PindarPollux adalah putra ZeusCastor putra Tyndareus yang fana. Asal usul kisah terkait dengan kewajarannya sebagai manusia maupun terkait ke-dewa-annya. Identifikasi inipun ada tatkala dibandingkan dengan kisah Hercules dan Theseus. Sebutan Dioscuri juga muncul pada karya Alcaeus dari Mytilene (sama dengan yang disebutkan pada Nyanyian Homer untuk si kembar. Tidak diketahui pasti yang terlebih dahulu memberi julukan tersebut).

Adapun Cicero bercerita tentang bagaimana Simonides dari Ceos ditegur oleh Scopas, pelindungnya, karena mencurahkan terlalu banyak pujian ke Castor dan Pollux dalam ode merayakan kemenangan Scopas dalam perlombaan kereta. Tidak lama setelah itu, Simonides diberi tahu bahwa dua pria muda ingin berbicara dengannya; setelah meninggalkan ruang perjamuan, atap gedungnya runtuh dan menghancurkan Scopas dan kedua tamunya.

Pada era modern, bahwa saat William Herschel menemukan Uranus pada tanggal 13 Maret 1781, lokasi planet berada dekat bintang Eta Geminorum. Sementara itu, pada tahun 1930, Clyde Tombaugh meneliti plat foto yang berpusat pada bintang Delta Geminorum yang akhirnya ditemukanlah Pluto. Mungkin, hal seperti pada jaman dahulu kala juga dikaitkan dengan ragam mitologi.

 

PETA LANGIT TIONGKOK 

Dalam astronomi Tiongkok, bintang-bintang yang bersesuaian dengan Gemini terletak di dua area: Harimau Putih Barat (西方 白虎, Xī Fāng Bái Hǔ) dan Burung Vermillion Selatan (Burung Merah, 南方 朱雀, Nán Fāng Zhū Quèlihat artikel Cancer).

Dalam sejarahnya, bagian terbesar dari wilayah Gemini masa kini termasuk kelompok Jing, yang berarti Sumur (kadang-kadang disebut Sumur Timur), yang terdiri dari delapan bintang di kaki si Kembar: LambdaZeta36EpsilonXiGammaNu, dan Mu Geminorum. Bersama-sama, mereka membentuk gambaran menyerupai wadah / 'kebaikan', merupakan rumah bulan ke-22 dan merupakan yang terluas dari 28 rumah bulan; yang membentang hingga 33 derajat busur. Lebih luas dibandingkan dengan semua zodiak klasik dengan rata-rata 30 derajat busur. Bintang Eta Geminorum di sebelah Sumur dikenal sebagai Yue, kapak perang, yang digunakan untuk memenggal para koruptor dan yang tidak bermoral.

Uniknya, Castor dan Pollux bukan bagian dari Jing. Sebagai gantinya, dengan Rho Geminorum yang berdekatan mereka membentuk Beihe, Sungai Utara. Adapun Sungai Selatan adalah Nanhe, berada di rasi bintang Canis Minor, bersama bintang Procyon dan 2 bintang lainnya. Beihe dan Nanhe terbagi dua di mana masing-masing berada di sisi utara dan selatan ekliptika, sehingga keduanya ditafsirkan sebagai gerbang atau penjaga. Di kedua ujung Beihe adalah Jishui dan Jixin, masing-masing ditandai oleh satu bintang, mewakili persediaan air untuk pembuatan anggur dan tumpukan kayu bakar untuk memasak. Sun dan Kistemaker mengidentifikasi bintang-bintang yang relevan sebagai Omicron dan Phi Geminorum, meskipun Kappa dirasa lebih cocok untuk yang terakhir, Jixin (yang awalnya Phi Geminorum).

Lima bintang dari Theta ke arah Kappa atau Phi Geminorum adalah kelompok Wuzhuhou, lima raja atau pangeran yang bertindak sebagai penasihat dan guru Kaisar. Delta Geminorum adalah salah satu dalam formasi segitiga bintang di ekliptika yang membentuk Tianzun, cangkir anggur atau wadah air dengan tiga kaki.

Adapun yang dikenal sebagai Shuiwei, 'tinggi permukaan air', yang formasi bintangnya seolah membentuk garis lengkung dari empat bintang, biasanya dapat dilihat memanjang dari arah rasi bintang Canis Minor ke arah zodiak Cancer, tetapi beberapa versi yang lebih tua menunjukkannya sebagai bintang 68 hingga 85 Geminorum pada pemetaan modern. Mungkin ini dapat menjadi contoh bagaimana pemetaan dapat berubah dengan berjalannya waktu.

 

RAGAM NAMA DAN JULUKAN 

Konsep pasangan kembar terkait Gemini ternyata bersifat universal sejak bermilenia lalu di ragm budaya dunia. Pada versi Itali dikenal sebagai Gemelli. Masyarakat Anglo-Saxon mengenal mereka sebagai ge Twisan, dan Anglo-Normans sebagai Frère. Di Perancis sebagai Gémeaux, dan di Jerman disebut Zwillinge (Bayer: Zwilling).

Dalam kisah di atas bahwa mereka putra Leda, lalu diletakkan di langit oleh Zeus, yang kemudian juga muncul nama Geminum AstrumLedaei FratresLedaei Juvenes (terkait Jove atau Jupiter di Romawi; atau Zeus di Yunani) dan Ledaeum Sidus. Adapun Dante dalam karyanya Paradiso menyebut lokasinya di langit tersebut sebagai Nido di Leda, tempat peraduan LedaCowley menulis tentang mereka sebagai Bintang Leda, dan era kini, Owen Meredith mengekspresikan:

The lone Ledaean lights from yon enchanted air

Kadang juga diistilahkan sebagai Gemini LaconesKembar Sparta bagi Milton dan Bintang Kembar Laconian bagi William Morris; juga disebut Spartana Suboles atau Cycno generate; lainnya Pueri TyndariiTyndaridesTyndaridae, atau bagi Horace adalah Clarum Tyndaridae Sidus (berawal dari Tyndarus, ayah si kembar); Oebalii dan Oebalidae bagi OvidStatius, dan Valerius Flaccus yang berawal dari nama kakek si kembar, Oebalus, raja Sparta. Manilius menyebutnya Phoebi Sidus karena mereka di bawah perlindungan Apollo.

Secara satu per satu memang dikenal sebagai Castor dan Pollux, yang bagi Dante dan umumnya masyarakat Itali disebut sebagai Castore e Pollucea; Apollo dan HerculesTriptolemus dan IasionTheseus dan Pirithoüs. Bagi Horace, sebagai Castor fraterque magni CastorisPliny menyebut Castores; dan Statius memberi julukan Alter Castor (terkait perubahan kehidupan dari fana ke keabadian).

Dalam hal ini, masyarakat Yunani memang menyebutnya sebagai si kembar di mana Riccioli menjulukinya sebagai Didyni (Dioscuri di Romawi, putra Zeus; juga Amphion dan Zethus, putra Antiope). Homer menulis:

Founders of Thebes, and men of mighty name

Yang tertera pada Istana Spada di Roma dan Farnese Bull yang kini ada di Museum Naples. Plutarch menyebutnya Anakes, Pangeran; Anaces dan Sio (Dua Dewa Sparta) bagi CiceroTheodoretus menjulukinya Dewa yang Dikenal; yang lain, Dii Samothraces, dari altar kuno pemujaan Cabeiri; dan Dii Germani, Dewa Bersaudara.

Adapun pada ranah India disebut Açvini (Ashwin, atau Penunggang Kuda), sebuah nama yang juga ditemukan di bagian lain langit untuk dewa kembar Hindu lainnya; tetapi, yang populer, mereka adalah Mithuna (anak laki-laki dan perempuan). Di Tamil, Midhunam, yang kemudian berubah menjadi Jituma atau Tituma.

Masyarakat Yahudi ada yang menyebutnya sebagai Teomim; orang Tyria sebagai Tome; dan para astronom Arab, Al Tau᾽amān (harfiah si kembar); tetapi pada masyarakat daerah gurun, dua bintang terang tersebut digambarkan sebagai salah satu cakar dari mitologi Singa walau bersamaan disebut Al Burj al Jauzā᾽, kelompok kembar. Berawal dari sini, Bayer menulisnya sebagai AlgeuzeRiccioli menulisnya Elgeuzi dan Gieuz. Berbasis Bayer maupun Riccioli, banyak kalangan menganggap tidak tepat. Hyde mengadopsi bentuk lain dari kata itu, Jauzah (Pusat), sebagai tanda posisi bahwa bintang-bintang ini berada di daerah yang dipandang sebagai pusat kubah langit; baik karena mereka termasuk rasi bintang yang berada di puncak langit, atau dari aspek kecerlangannya di wilayah langit tersebut. Julius Pollux, dari penulis Mesir-Yunani pada abad kedua, mengadaptasi sebutan Jauz (Kenari?), sebagaimana disebutkan dalam karyanya Onomasticon. Tetapi hingga kini pun, masih banyak ketidakpastian mengenai penandaan bintang dan sejarah nama ini.

Sebagian masyarakat Arab menggambarkan mereka sebagai Burung Merak, Duo Pavones; bagi masyarakat Kaldea dan Phoenicians adalah sepasang anak yang mengikuti perjalanan (rasi bintang) Auriga dan Kambing, atau kadang sebagai Two Gazelles; di Mesir lebih populer sebagai Dua Tunas; dan sementara itu, Brown mereproduksi gambaran masyarakat Eufrat akan hadirnya figur pasangan anak laki-laki telanjang. Yang satu berdiri di atas kepalanya dan yang lain berdiri di atas yang pertama, kaki ke kaki; Di sana sebenarnya gambaran asli si kembar adalah pasangan Matahari dan Bulan, hal ini lebih dari analisis terjadinya siklus, di mana bila yang satu di bawah, maka lainnya di atas, mungkin adanya siang dan malam. Namun, dominannya adalah pergiliran semisal hadirnya Matahari di siang hari, dan Bulan di malam hari.

Gambar 3
Deskripsi Cancer berbasis budaya Arab (Davis, 1944)

Pada versi tahun 1515 pada Almagest tersebut Alioure yang masih belum dapat ditelusuri asal mulanya yang, mungkin terkait dengan edisi awal Tabel Alfonsine. Adapun pada masyarakat Persia dikenal sebagai si Kembar Du Paikar, atau Do Patkar, Dua Tokoh; masyarakat Kurasmir menyebutnya Adhupakarik, dari makna yang sama; dan Riccioli menulis bahwa masyarakat Kaldea menyebut Tammech.

Kircher mengatakannya Claustrum Hori, berawal dari orang Mesir; dan lainnya, bahwa mereka mewakili dua dewa yang terkait erat, Horus the Elder dan Horus the Younger, atau HarpechrutiHarpocrates of Greece. Pada Leyden Manuscript dijelaskan tentang dua anak laki-laki yang tidak berpakaian dengan topi Frigia, masing-masing dihiasi oleh bintang dan salib Malta; satu dengan tongkat dan tombak, yang lain dengan alat musik gesek. Namun, Bayer menggambarkan tema yang mirip, tetapi berlaku untuk Pollux, dengan ciri membawa sabit.

Gambar 4
Gemini pada masyarakat Arab (https://icoproject.org/img/ss38.jpg)

Caesius melihat di sini Anak–Anak Kembar Rebecca, yaitu David dan Jonathan; sementara masyarakat awal Kristiani yang sempat tercatat bahwa bintang-bintang bersama-sama mewakili Saint James the Greater; atau sempat muncul pendapat sebagai penggambaran manusia awal, Adam dan Hawa, yang mungkin dimaksudkan oleh gambaran pria dan wanita yang berjalan bergandengan tangan dalam ilustrasi asli pada Tabel Alfonsine. Namun, hal inipun tidak unik, karena ilustrasi serupa sudah ada sejak munculnya pemetaan langit di Mesir 1300 tahun sebelumnya.

Simbol lain adalah Tumpukan Batu Bata, merujuk pada pembangunan kota pertama dan pasangan bersaudara – Romulus dan Remus dari legenda Romawi; meski demikian dengan sifat yang berbeda dari umumnya yang diidentifikasikan sebagai GeminiSayce menyatakan bahwa nama Sumeria untuk bulan Mei–Juni, tatkala Matahari berada di Gemini, ditandai dengan "Batu Bata" (? Masih belum disimpulkan).

Pada zaman klasik, rasi bintang Gemini sering dilambangkan dengan dua bintang di atas kapal; dan telah ditunjuk oleh Jove sebagai penjaga Roma, mereka muncul pada semua koin perak awal republik pada kisaran tahun 269 SM. Umumnya dianggap sebagai dua orang yang menunggang kuda, dengan topi oval, yang diayomi oleh bintang-bintang tersebut, di mana hal ini disimbolkan dengan masing-masing separuh cangkang telur di mana mereka berdua berawal. Adanya kisah perlindungan oleh keduanya kepada para Argonaut tatkala terjadi badai pada budaya Yunani dan Romawi, menunjukan bahwa Gemini dianggap sebagai pelindung para pelaut, seperti yang dinyatakan oleh Ovid dalam karyanya, Fasti:

Utile sollicitare sidus utrumque rati

(kedua “bintang” melindungi) yang dikomentari oleh John Gower,

A welcome couple to a vexed barge

dan Horace, dalam Odes, seperti yang diterjemahkan oleh Gladstone,

So Leda's twins, bright-shining, at their beck
Oft have delivered stricken barks from wreck.

Seperti yang telah diceritakan sebelumnya bahwa kehadiran si kembar dikaitkan dengan “tanda” tertentu yang terkait fenomena cahaya di tiang kapal tatkala terjadi badai. Pliny menggambarkannya sebagai cahaya ganda, yang disebut Castor dan Pollux, yang menolong dan melindungi pelaut. Horace menjuluki hal ini sebagai Fratres Helenaelucida sidera, yang Gladstone sebut "Helen's Brethren, Starry Lights".

Pada era modern, cahaya ini dikenal sebagai ComposantCorporsant, atau Corpusant dari penamaan Italia, Corpo SantoPigafetta mengakhiri salah satu uraiannya tentang badai di laut tersebut dengan pernyataannya, "God and the Corpi Santi came to our aid"; dan sebagai Fire of Saint HelenSaint Helmes, atau Telmes – San Telmo dari masyarakat Spanyol; atau San AnselmoErmoHermo, dan Eremo, dari Anselmus atau Erasmus, uskup yang mati syahid di masa pemerintahan DiokletianusAriosto menulis tentang itu, la disiata luce di Santo Ermo; dan dalam Golden LegendLongfellow menyatakan:

 

Fenomena ini juga disebut Cahaya Saint Anne; bahkan ada yang menjulukinya sebagai Saint Electricity. Dalam beberapa abad terakhir, khususnya di antara pelaut Latin, konon itu adalah pengejawantahan dari Saint Peter dan Saint Nicholas; yang pertama karena perjalanannya di atas air, dan yang kedua terkait mukjizat-mukjizat yang disematkan kepadanya tatkala menghentikan badai dalam perjalanannya ke Tanah Suci, saat mengembalikan jiwa pelaut yang tenggelam, dan berulang sekali lagi di Laut Aegea. Mukjizat-mukjizat ini telah menjadikan Saint Nicholas dianggap sebagai pelindung semua pelaut saat itu di selatan Eropa, dan terkenal di mana-mana. Di Inggris saja, tidak kurang dari 376 gereja dipersembahkan untuknya.

Para astrolog menganggap Gemini menjadi pelindung dan berpengaruh pada tangan, lengan, dan bahu manusia; sementara Albumasar berpendapat bahwa Si Kembar sebagai penanda pengabdian yang total, kejeniusan, keluasan cakrawala pikiran, kebaikan, dan kebebasan. Bersama dengan (rasi bintang) Virgo dianggap sebagai House of Mercury; suatu keberuntungan bagi (benua) Amerika, Flanders, Lombardy, Sardinia, Armenia, Mesir Hilir, Brabant, dan Marseilles; dan era sebelumnya bahkan mencakup Laut Euxine dan Sungai Gangga. Hal sama terjadi kisaran abad 17 bahwa Gemini juga pelindung Inggris dan kota London. Ketika terjadi wabah dan kebakaran besar tahun 1665 dan 1666, kala itu si kembar berada di atas ufuk. Tetapi dua abad sebelumnya, juga muncul anggapan bahwa siapapun ada dalam naungannya akan menjadi “ryght pore and wayke and lyf in mykul tribulacion” (? mengangkat kesulitan) dan untuk astrolog Tiongkok bahwa jika rasi ini diserang oleh (dewa) Mars (? Mars berada di Gemini), maka perang dan panen yang buruk akan terjadi.

Ampelius menyatakan kehadirannya sebagai penanda angin utara. Layaknya Aries dalam warnanya, juga penanda lahirnya Dante tanggal 14 Mei 1265 di mana dicatat bahwa hari itu merupakan hari pertama Matahari memasuki wilayah Gemini.

Simbolnya, ♊, umumnya dianggap sebagai angka yang berasal dari budaya Etrusco-Romawi, tetapi Seyffert menganggapnya berawal dari lambang Spartan dari Dewa Kembar mereka yang dibawa bersama mereka ke dalam pertempuran. Brown mendapatkannya dari gambaran di cuneiform, ideograf dari nama bulan masyarakat Akkad, Kas, si kembar, atau dari Assyrian, Simānu, yang terkait penanda bulan Mei dan Juni saat Matahari melintas Gemini. Bagi masyarakat Eufrat, penampakan si kembar sangat jelas, di mana 5 bintang terangnya sebagai penanda ekliptika (lintasan semu tahunan Matahari).

Gemini digambarkan sebagai shio Monyet pada budaya Tiongkok Kuno yang disebut Shih ChinEdkins menulisnya sebagai Shi Ch’en, menyatakan bahwa gelar ini awalnya adalah Orion. Namun, pada era selanjutnya disebut sebagai Yin Yang, Dua Prinsip; dan sebagai Jidim, terkait ritualnya.

William Ellis dalam karyanya, Polynesian Researches, bahwa penduduk asli kepulauan ini mengenal kedua bintang itu sebagai si kembar, Castor disebut Pipiri dan Pollux sebagai Rehua; dan seluruh sosok si kembar disebut Na Ainanu, Dua Ainanu, satu di atas, yang lain di bawah. Sementara itu, W. W. Gill menceritakan kisah yang sama, dalam karyanya Myths and Songs of the South Pacific, tetapi kisah ini terkait dengan Scorpius Sang Kalajengking. Masyarakat Aborigin Australia memberi mereka nama yang menandakan Remaja Pria (sedangkan Pleiades adalah Remaja Putri); yang pertama julukannya Turree dan Wanjil, yang sedang mengejar Purra, yang setiap tahun mereka binasakan pada (atau sebagai penanda) awal musim panas yang hebat, memanggangnya dengan api yang ditandai oleh Coonar Turung. Pada versi lain (Leaman dan Hamacher, 2014), bahwa rasi bintang Gemini disebut sebagai Wati Kutjera (Dua Pria, ancestral beings). Adapun Castor disebut Mumba, Si Pemalas dan Pollux sebagai Kuruka’di, Sang Bijak dan Terampil. “The Wati Kudjera story originated from the Warberton Range, Western Australia, but had drifted down to Ooldea through tribal migration”. Sementara itu, pada masyarakat (bushmen) Afrika Selatan mengenal mereka sebagai Perempuan Muda, istri-istri Sang Kijang (masih harus ditelusuri lagi!).

 Pada era Mesopotamia (Babylonia Kuno, 1830 – 1530 SM), disebut Mash (Ref. Rogers, 1998). Dalam naskah Tiga Bintang, dikenal istilah Mash.tab.ba.gal.gal (bahasa Sumeria) yang ditujukan pada Alpha dan Beta Geminorum (the great twins). Di mana kedua bintang ini termasuk kelompok bintang Amurru. Dalam tablet yang disebut MUL.APIN, 1100 – 700 SM, nama si kembar ini adalah Lugargirra dan Meslamta-ea dalam rasi bintang mash.tab.ba.gal.gal.la (si kembar besar). Namun, ada satu lagi, yaitu mash.tab.ba.tur.tur, si kembar kecil, dengan bintangnya Alamush dan Nin-Ezen-Gud (Zeta dan Lambda Geminorum). Mereka tergolong Bintang Utara, termasuk 33 Bintang Enlil (Star of Enlil). Seperti yang telah dipaparkan pada artikel Aquaris bagian pertama, terdapat pembagian kelompok bintang di langit:

 

Dalam pembagian langit, era 1350 – 1000 SM, Ea sebagai dewa Bumi sekaligus dewa kehidupan, menjadi penguasa langit bagian selatan (Enlil di utara, Anu di ekuator langit dan sebenarnya masuk wilayah Zodiak). Namun, Ea sejatinya dalam pandangan mereka dapat berada di mana saja. Simbolisasi wilayah Ea ada pada Capricornus (goat-fish with ram’s-head standard, atau turtle/penyu) dan Aquarius (penguasa langit selatan). Kisaran 1100 SM (era Babylonia), dikenal nama GU.LA, the great one untuk Aquarius sebagai kelompok “Star of Elam”” 

 

Yang masih belum dikonfirmasi adalah keberadaan gabungan Pi Orionis bersama Zeta dan Xi Geminorum membentuk kelompok mash.tab.ba, terdiri dari si kembar Lulal dan Latarak (sang dewa pelindung). Mereka tergolong Bintang Ekuatorial (Star of Anu).

Pada era selanjutnya, peralihan tahun masehi dan lahirnya budaya Yunani dan Romawi kisaran 750 – 60 SM, Gemini pun masih termasuk dalam catatan mereka. Tetap bernama Lugargirra dan Meslamta-ea dengan penggambaran dewa kembar bersenjata penjaga gerbang istana Nergal (Ares/Mars). Pada awalnya terpisah antara rasi bintang si kembar besar dan si kembar kecil. Setelah era Aratus, kemudian penamaan Castor dan Polydeuces (Eratosthenes), atau Apollo dan Heracles (Hyginus dan Ptolemeus), maka keduanya menjadi satu yang kini kita kenal sebagai Gemini.

Pada masyarakat Aztec, Gemini dikenal sebagai Citlaltlachtli, yang berarti permainan bola bintang dengan bola karet alam. Permainan ini dilakukan berbasis ranah ritual religinya di mana pergerakan bola karet tersebut merupakan simbolisasi pergerakan Matahari dan Bulan (di wilayah Gemini?).

 

ZODIAK DAN ASTROLOGI

Dunia astrologi hanya mengenal 12 “tanda” sesuai dengan peninggalan kuno. Elemen-elemen tersebut mewakili ciri-ciri kepribadian tertentu dan digunakan bersama dengan tanda-tanda bintang, serta dengan posisi Matahari, Bulan dan planet-planet yang dikenal pada saat itu, untuk menentukan horoskop. Konon (livescience) terkait elemen alam yang secara ringkas dikisahkan berupa Api (meliputi AriesSagittariusLeo; dengan karakter spontan dan impulsif), Air (CancerScorpiusPisces; imajinatif dan emosional), Udara (LibraAquariusGemini; cepat, bersemangat, intelektual), Bumi (CapricornTaurusVirgo; tenang dan lambat secara emosional). Jadi, di sini Gemini tergolong berunsur udara. Namun, sebuah fenomena yang disebut presesi telah mengubah posisi rasi bintang yang kini tampak dan telah mengakibatkan pergeseran rasi bintang zodiak.

Sejak dahulu kala, bermilenia lalu, hari pertama musim semi di Belahan Bumi Utara ditandai oleh sebuah Zodiak, sebut sebagai titik awal atau titik nol. Astronom menyebut titik ini sebagai vernal equinox dan itu terjadi ketika lingkaran ekliptika (lintasan semu tahun Matahari) dan ekuator langit (perpotongan bidang ekuator Bumi dengan bola langit) berpotongan sekitar tanggal 21 Maret.

Sekitar tahun 600 SM, titik nol ini berada di rasi bintang Aries dan karenanya sempat dikenal sebagai "titik pertama Aries." Rasi bintang Aries meliputi 30 derajat pertama di lingkaran ekliptika; dan apabila diurut setelahnya dari 30 hingga 60 derajat adalah Taurus; dari 60 hingga 90 derajat adalah Gemini; dan seterusnya untuk semua 12 rasi bintang Zodiak.

Tanpa diketahui oleh para astrolog, Bumi terus melakukan gerak rotasi, revolusi, presesi, dan nutasi. Untuk presesinya memiliki periode kisaran 25.800 tahun. Kalau dibayangkan sebuah kerucut terbalik, maka sumbu rotasi Bumi bergeser di sepanjang dinding kerucut tadi.

Selama dua setengah milenium terakhir, gerak presesi menyebabkan titik potong antara ekuator langit dan ekliptika bergeser ke arah barat sepanjang ekliptika kisaran 36 derajat, atau hampir sepersepuluh total panjang busur lingkaran ke perbatasan Pisces dan Aquarius. Ini berarti patokan tanggal pun bergeser sesuai pergeseran akibat presesi. Misalnya, mereka yang lahir antara 21 Maret dan 19 April menganggap diri mereka Aries. Saat ini, Matahari tidak lagi berada dalam konstelasi Aries selama sebagian besar periode itu. Dari 11 Maret hingga 18 April, Matahari sebenarnya berada di konstelasi Pisces.

Hal ini juga terjadi pada kasus Gemini. Apabila secara klasik, rentangnya adalah 22 Mei s.d 22 Juni. Sementara itu, saat sekarang pada kenyataannya bahwa Matahari melewati rasi bintang Gemini antara tanggal 21 Juni s.d 20/21 Juli.

 

PRANATAMANGSA

Kalau mitologi Yunani/Romawi mengaitkannya dengan kalender musim, maka demikian pula pada pranatamangsa (pratimasa) di Indonesia.
Dalam Sansekerta dikenal nama Mithunam. Namun, pada masyarakat di Yogyakarta, disebut Lintang Lumbung (tempat simpan beras) atau Asuji. Sementara itu, di Solo lebih dikenal sebagai Lintang Mimi Mintuna (Belangkas jantan dan betina, kadang disebut ketam/kepiting ladam – horseshoe crab; karakter: musim basah dan berangin berdasar Respati Jupiter).

Gambar 5 Lintang Mimi-Mintuna
Salah satu gambar Zodiak, yaitu Lintang Mimi-Mintuna (Gemini)
yang terdapat pada langit-langit Pendapa Ageng Pura Mangkunegaran Solo
yang disebut Kumudawati (Kemudowati Teratai Putih).

Dalam bulan Jawa kuno (lihat juga tabel di bawah), untuk rasi bintang Gemini tradisional (22 Mei – 21 Juni, 30 hari) identik dengan mangsa 12 (11/13 Mei – 20/22 Juni, 41 hari), yaitu mangsa Saddha (Apit Hapit Kayu / Asadha / Jita / Rayagung). Jadi, untuk Gemini epoch 2000 (22 Juni – 21 Juli, 29 hari) akhirnya bergeser menjadi mangsa 1 atau mangsa Kasa (Kartika / Srawana / Crawana) (22/23 Juni – 1/2 Agustus; 41 hari)(Ref.: Patokan mangsa: Tijdschrift, Doyodipuro, dan Prawiroatmojo). Pada penggolongan musim tergolong musim Mareng bagian penghabisan. Musim Mareng meliputi 3 mangsa kisaran akhir Maret hingga Juni, yaitu mangsa 10 (Kasapuluh / Palguna / Wechaka / Sadasa / Kasadasa), mangsa 11 (Dhesta / Wisaka / Jyesta / Djyestha / Hapit Lemah), dan mangsa 12 (Ref.: Prawiroatmojo dan Harianto). Dalam patokan lain adalah termasuk mengawali musim kemarau atau mangsa Terang (mangsa 12 dan 1) dengan ciri pancaroba bagian penghabisan.

Uniknya, dalam hal pranatamangsa pun dikaitkan dengan Zodiak Yunani / Romawi. Misal mangsa ke 12 yang biasa dikaitkan dengan Lintang Mina (Pisces). Namun, ada pula pendapat terkait Lintang Mimi-Mintuna atau Gemini. Kalau tokh hendak dikaitkan, maka penulis lebih menyimpulkan Gemini dan bukan Pisces.

Secara tradisional untuk Pisces adalah antara tanggal 22 Februari hingga 21 Maret (rentang waktu ini termasuk mangsa 9: Kasanga / Naya / Cetra / Ramelan). Kalau merujuk pada epoch 2000 yang berlangsung antara 11/13 Maret hingga 18/19 April, maka termasuk mangsa ke 10. Jadi jelas tidak sesuai, atau terlalu jauh. Sedangkan untuk yang mengaitkannya dengan Gemini, untuk yang tradisional adalah antara tanggal 22 Mei hingga 21 Juni (termasuk mangsa 12), dan untuk epoch 2000 adalah antara tanggal 20/22 Juni hingga 20/21 Juli (termasuk mangsa 1: Kasa / Srawana), termasuk Katiga Terang (setelahnya Katiga Paceklik). Jadi dalam mengaitkan dengan Gemini masih dapat diterima secara tradisional, dalam arti bahwa memang pada jaman dahulu kala patokan mangsa Saddha memang terkait dengan Lintang Mimi-mintuna. Namun, akibat pergeseran lokasi Matahari (akibat presesi Bumi) di kubah langit sekitar 1 bulan dalam kalender ke arah Juni atau pergeseran patokan lokasi Matahari dari Gemini ke Taurus, maka dampaknya bahwa pada rentang mangsa Saddha (ke 12), Matahari berada di wilayah rasi bintang Taurus (epoch 2000). Koreksi seperti inilah yang sama sekali tidak dilakukan pada patokan astrologi atau dengan kata lain terdapat kekaburan penentuan acuan Zodiak tradisional dengan posisi benar benda langit yang justru dipakai.

Di primbon (sabdadewi) dapat diambil contoh sebagai berikut:

Tabel 1 Pranatamangsa Gemini


 

PETA LANGIT DAN OBSERVASI

Gambar 6 Peta Langit Cancer
(https://www.iau.org/public/images/detail/gem_new/)

 

Berbasis kota Jakarta, maka yang terbaik dalam mengamati keseluruhan wilayah Gemini adalah mulai kisaran awal Januari di mana Si Kembar pada pukul 20:00 WIB telah berada di atas garis ufuk timur dengan ketinggian sekitar 20 derajat (permukaan 00, puncak langit 900). Malam demi malam pada waktu yang sama dapat terlihat akan semakin ke arah barat hingga pertengahan Mei rasi bintang ini pada jam yang sama telah berada di atas garis ufuk barat.

Gambar 7
Peta langit Gemini tanggal 15 Mei 2020, pukul 20:00 WIB dilihat dari Jakarta (arah ufuk barat).
(Stellarium 0.12.4)

 

IDENTIFIKASI BINTANG TERANG

Dua bintang paling terang di Gemini menandai kepala si kembar, yaitu Castor dan Pollux. Telah diketahui bahwa Castor adalah sistem kompleks dari enam bintang yang tersusun atas 3 bintang ganda yang ketiganya saling mengedari titik pusat massanya. Namun, secara kasat mata hanya tampak sebuah bintang saja. Sementara itu, Pollux adalah bintang raksasa jingga. Uniknya, walau Castor diberi label Alpha Geminorum, sebenarnya kecerlangannya lebih redup dibandingkan dengan Pollux, yang diberi indeks Beta Geminorum. Berbeda dengan pengertian kembar sebagaimana julukannya, ternyata keduanya tidak saling berhubungan dan berjauhan. Jaraknya berturutan adalah sebesar 52 dan 34 tahun cahaya. Bintang lainnya yang terang, yaitu Eta Geminorum disebut Propus (Yunani: πρόπουϛ propous) yang berarti 'kaki depan', nama yang pertama kali disebutkan oleh Eratosthenes; posisi tepatnya adalah di kaki kiri bagian depan dari Castor.

Beberapa ilustrasi pada peta bintang melambangkan si kembar sebagai Apollo dan Heracles. Pada ilustrasi dari atlas John Flamsteed yang ditunjukkan di atas (gambar 1), misalnya, satu kembar digambarkan memegang kecapi dan panah, atribut populer untuk Apollo, sementara kembarannya membawa gada layaknya karakter HeraclesBode dalam karyanya Uranographia pun menggambarkan mereka dengan karakter yang sama. Gambaran ini bermula dari Aratus yang menyebut rasi bintang ini sebagai si kembar (Δίδυμοι, yaitu Didymoi), tanpa identifikasi siapa saja sang kembar ini. Namun, kisaran seabad kemudian, Eratosthenes menamainya Dioskouroi, yang tegas merujuk pada Castor dan Pollux. Alternatif lain oleh Hyginus bahwa mereka pengejawantahan Apollo dan Heracles, para putra Zeus, tetapi tidak merupakan pasangan kembar. Ptolemeus menyebutnya Si Kembar pada Almagest, tetapi kemudian, pada karyanya tentang astrologi (Tetrabiblos), disebutlah Castor sebagai Bintang Apollo dan Pollux Bintang Heracles, mendukung identifikasinya Hyginus.

Gambar 8 Pemetaan Bintang Terang
(Stellarium 0.20.1)

 

Tabel 2 Bintang Terang di Gemini
(dikompilasi oleh Nadya Hidayatie)

 

OBJEK MENARIK 

Nebula Medusa

Para astronom yang menggunakan ESO’s Very Large Telescope di Chili telah menangkap gambar paling detail yang pernah diambil dari Nebula Medusa. Saat bintang di jantung nebula ini melakukan transisi menuju tahap akhir evolusinya, secara simultan melepaskan lapisan terluarnya ke angkasa, membentuk awan berwarna-warni. Gambar tersebut juga sebagai gambaran akan tahapan terakhir Matahari, yang berbasis teori akhirnya juga akan menjadi objek semacam ini.

Namanya berdasarkan sosok makhluk mengerikan dari mitologi Yunani – Medusa (Gorgon). Nama lainnya Sharpless 2-274. Diameternya kisaran 4 tc dengan jarak sekitar 1500 tc. Selain ukuran yang relative kecil, juga factor jarak yang membuatnya menjadi sangat redup dan sulit diamati bahkan dengan teleskop sekalipun.

Gambar 9 Nebula Medusa
Pusat Nebula Medusa bukan bintang biru terang di tengah gambar ini
(bintang latar depan yang disebut TYC 776-1339-1).
Pusatnya adalah bintang biru yang tidak jauh dari bentuk bulan sabit dan di bagian kanan gambar ini.
Jenis radiasi pada nebula ini jarang terjadi karena tercipta oleh “mekanisme terlarang”,
“transitions that are forbidden by quantum selection rules, but can still occur with a low probability”
yaitu radiasi terlarang dari oksigen, [OIII].
(https://www.eso.org/public/news/eso1520/ - 20 Mei 2015)

Medusa adalah makhluk dewi mengerikan yang rambutnya berupa jalinan ular. Ular-ular ini diwakili oleh filamen gas bercahaya di nebula. Cahaya merah dari hidrogen dan emisi hijau yang lebih redup dari gas oksigen menjangkau hingga jauh melampaui medan foto ini, membentuk bentuk layaknya bulan sabit di langit. Proses pelontaran massa dari bintang pada tahap evolusi seperti ini seringkali terjadi secara diskontinu, terputus-putus, yang justru yang tampak oleh kita dapat menghasilkan struktur menarik beragam bentukan filamen-filamen gas dan debu beraneka warna.

Sebutan lainnya Abell 21 (lebih formal PN A66 21), setelah astronom Amerika, George O. Abell, yang menemukan pertama kali objek ini tahun 1955. Selama beberapa waktu para ilmuwan memperdebatkan apakah nebula ini merupakan sisa dari ledakan supernova. Namun, pada tahun 1970-an, para peneliti berhasil menyimpulkan bahwa objek ini termasuk Planetary Nebula di mana pusatnya adalah Katai Putih.

 

Gugus Terbuka M35 dan NGC 2158

Gambar 10 Gugus Terbuka M35 dan NGC 2158
Dalam foto tampak dua gugus bintang terbuka. Lokasi dekat bidang galaksi. Sisi kiri atas adalah M35 dan sisi kanan bawah adalah NGC 2158. Gugus bintang terbuka dapat memiliki 100 hingga 10 ribu anggota dengan karakter usia yang sama. Dua gugus di atas memiliki usia yang berbeda yang terlihat dari warnanya (biru lebih muda).

https://apod.nasa.gov/apod/ap031215.html

Credit & CopyrightCanada-France-Hawaii TelescopeJ.-C. Cuillandre (CFHT), Coelum

 

Nebula Eskimo

Gambar 11
Pada tahun 1787, astronom amatir William Herschel menemukan Nebula Eskimo (NGC 2392)
di mana penamaannya mengingatkan kita akan prototipe wajah masyarakat Eskimo yang memakai tudung bulu karena bentuknya yang mirip.
Pada tahun 2000, Teleskop Hubble berhasil mencitrakannya lebih detail.
Terlihat struktur nebulanya sangat kompleks dan hingga kini belum dipahami.
Nebula Eskimo termasuk objek Kabut Planet (Planetary Nebula).
Komposisi terluar mirip komposisi Matahari berbasis usia kisaran 10.000 tahun yang lalu.
Filamen-filamen bagian dalam disemburkan oleh angin partikel (mirip solar-wind) dari bintang dipusatnya.
Bentangannya sekitar 1/3 tahun cahaya dan berjarak sekitar 3.000 tahun cahaya.

 

(https://apod.nasa.gov/apod/ap090503.html)
The Eskimo Nebula from Hubble
Credit: Andrew Fruchter (STScIet al., WFPC2HST, NASA
(https://hubblesite.org/contents/media/images/2000/07/3906-Image.html)
Credits: NASA, Andrew Fruchter and the ERO Team [Sylvia Baggett (STScI),
Richard Hook (ST-ECF), Zoltan Levay (STScI)]

 

METEOR SHOWER

Pada bulan April hingga awal Juni tahun ini, di kubah langit sedang “diramaikan” dengan berita datangnya asteroid dan komet. Memang menjadi sangat unik tatkala kedua benda langit ini menyeruak dari sudut-sudut Tata Surya dari kejauhan untuk mendekati Matahari. Mengapa unik, tentu apabila mereka dari jauh mendekati bahkan menuju Matahari akan juga mendekati atau menuju tempat tinggal kita, Bumi. Silakan simak artikel sebelumnya yang terkait meteor dan asteroid pada situs ini.

Kenyataannya bahwa lintasan orbit keduanya ada yang memotong garis edar Bumi dengan meninggalkan jejak berupa materi aneka rupa. Saat Bumi masuk jejak ini, maka terjadilah hujan meteor. Tampak seolah berasal dari satu titik di langit (titik radian). Sebenarnya meteor datang sejajar, namun karena dari jauh, maka tampak dari satu titik. Mirip rel kereta api yang seolah bertemu pada satu titik di kejauhan. Titik ini dikaitkan dengan rasi bintang. Misal Orionid Shower, titik radiannya di rasi bintang Orion (jejak komet Halley, ±20 Oktober). Seperti kejadian di L’Aigle, peristiwa hujan batu akibat meledaknya meteor di angkasa yang spektakuler terjadi tahun 1868 di Pultusk – Polandia. Total ±180 ribu sisa meteor mampir di Bumi (meteorit), ditemukan dengan berat total tidak kurang dari 200 kg.

Hujan meteor yang terkait Gemini yang populer dan unik adalah Geminids Shower atau hujan meteor Geminid. Keunikannya adalah selain sifatnya yang mapan, terjadi secara periodik, yaitu setiap akhir tahun, ternyata sumber batuan calon meteornya, atau meteoroid-nya berasal dari sebuah asteroid. Hal ini karena yang sangat umum bahwa materi atau meteroid hujan meteor berasal dari jejak komet.

Yang menjadi sumber Geminids adalah asteroid yang bernama 1983TB atau 3200 Phaethon, yang tergolong asteroid palladian yang memiliki karakter lintasan orbit mirip dengan komet. Sebenarnya ada lagi hujan meteor sejenis ini, yaitu Quadrantids. Karakter Geminids antara lain geraknya yang relatif lambat (35 km/s) dan berlangsung cukup lama antara 4 hingga 17 Desember setiap tahun, dan puncak penampakannya kisaran 13 – 14 Desember. Meteoroidnya terpecah umumnya pada ketinggian 39 km di atas muka laut. Dapat mencapai hingga 160 meteor berjatuhan setiap jam dan biasanya frekuensi tertinggi lewat dinihari. Geminids relatif baru disadari penampilannya, yaitu tahun 1862. Bandingkan dengan Perseids (awal Agustus) yang tercatat sejak tahun 36 dan Leonids (minggu ketiga November) yang sejak tahun 902.

 

Phaethon dan Asteroid Keluarga Pallas.

Tanggal 1 Januari 1801, astronom Itali, Giuseppe Piazzi (1746 – 1826) secara kebetulan berhasil menemukan objek langit mengembara di rasi bintang Taurus. Awalnya diduga komet, namun melihat karakternya cenderung seperti planet (tidak berkabut). Jaraknya ternyata sesuai dengan yang diduga oleh Titius-Bode, sekitar 2,67 s.a, dan dinamai Ceres Ferdinandea (Dewi Sisilia) yang berdiameter 933 km. Selang setahun berselang, giliran Olber menemukan satu objek sejenis, yang lalu diberi nama Pallas. Penemuan terus berlanjut. Tahun 1804 Harding menemukan Juno (190 km), dan tahun 1807 Olber kembali menemukan Vesta (540 km). Semua di antara Mars – Jupiter. Karena ukurannya kecil, Herschell menyebutnya sebagai asteroid (benda langit seperti bintang). Baru abad ke 20 disebut planetoid atau planet minor (diindonesiakan: planet kecil) sebagai pembanding planet major, yaitu istilah planet yang biasa kita kenal. Namun uniknya, julukan asteroid hingga kini masih terus dipakai.

Keluarga Pallas (Palladian) adalah keluarga asteroid yang anggotanya umumnya relatif kecil dan tergolong tipe B dengan kecenderungan lintasan orbit dengan inklinasi besar terhadap bidang ekliptika dan lokasinya termasuk area tengah Sabuk Asteroid. Seperti diketahui bahwa asteroid terdiri dari ragam tipe.

Salah satu tipe asteroid adalah tipe C di mana hampir semua asteroid di Sabuk Asteroid adalah termasuk tipe ini. Unsur utamanya karbon (carbonaceous chondrites), sangat gelap dan mengandung materi yang mudah menguap (layaknya arang atau batu bara). Perkembangan klasifikasi dalam kelompok ini adalah tipe yang mirip C (C-like material), yaitu tipe B, G, dan F. Ragam jenis ini lebih disebabkan oleh pertimbangan banyak sedikitnya kadar air. Yang mirip adalah tipe P dan D dengan warna lebih merah dan lokasinya di Sabuk Asteroid terjauh dari Matahari. Lainnya adalah tipe S di mana albedonya >10% yang tersusun atas unsur silikat: silicaceous/stony-iron, campuran batuan – besi. Banyak dijumpai di bagian tengah Sabuk Asteroid. Albedo yang dimaksud adalah seberapa banyak cahaya yang datang kemudian dipantulkan kembali.

Penamaan Palladian terkait asteroid 2-Pallas. Asteroid ini sendiri tergolong berukuran besar, kisaran 512 km. Namun, yang termasuk anggota keluarga Pallas ukurannya kecil, dan yang terbesar adalah 5222-Ioffe dengan diameter kisaran 22 km saja. Kemungkinan bahwa para anggotanya ini merupakan pecahan 2-Pallas akibat tabrakan dengan objek lain, atau memang terpecah akibat dinamika dalam struktur tubuhnya, atau akibat gangguan graviatsi objek lainnya. Salah satu anggotanya adalah 3200-Phaethon yang merupakan sumber dari hujan meteor Geminids. Penggolongan keluarga Pallas pertama kali diusulkan oleh Kiyotsugu Hirayama tahun 1928.

Tentang pengelompokan ini, yang dikenal sebagi keluarga asteroid merupakan kelompok asteroid yang memilik kecenderungan jarak yang sama terhadap Matahari. Selain itu juga beberapa elemen orbit yang mirip seperti periode orbit, inklinasi, dan eksentrisitasnya. Jika diibaratkan daerah distribusi asteroid ini seperti ban sepeda. Maka asteroid ini seperti kerikil-kerikil kecil yang menempel di kulit ban sepeda tadi. Bila ban sepeda berputar, otomatis kerikil tadi ikut berputar dan kecepatan-sudut putarnya sama antara satu dengan lainnya. Bidang orbit asteroid adalah bidang yang dibuat atau disapu oleh jejari sepeda yang berpusat di poros ban tersebut. Poros ban sepeda sebagai Matahari. Maka kelompok Hirayama ini memiliki inklinasi bidang orbit yang mirip.

Bila kita melihat sepeda berjalan dari samping, maka ada sisi ban sepeda yang kita lihat dan ada yang tidak. Anggap kerikil sebagai asteroid tadi berada di satu sisi yang dapat kita lihat. Jadi dapat dianggap kerikil tersebut punya inklinasi sama (sebidang). Sementara mengenai eksentrisitas, ibarat ban sepeda dengan bentuk ideal pastilah berbentuk lingkaran. Dalam hal ini harga eksentrisitas-nya berharga 0. Berarti semua kerikil tadi punya eksentrisitas berharga sama yaitu nol. Nyatanya, tiap kelompok ini biasa ditemukan berdekatan layaknya kerikil-kerikil yang bergerombol atau berdekatan di ban sepeda tadi.

Asteroid dengan sifat-sifat ini pertama kali diamati oleh astronom Jepang Kiyotsugo Hirayama pada tahun 1918 (berlanjut sampai 1933). Awalnya ditemukan ada 9 kelompok dengan ciri sama dalam hal jarak, periode orbit, inklinasi, dan eksentrisitasnya. Kelompok ini yang lalu biasa disebut (asteroid) keluarga Hirayama. Sekarang ini telah ada sekitar 100 keluarga Hirayama yang masing-masing keluarga ini terdiri dari sekitar 70 asteroid. Setelah diteliti sifat fisiknya, ternyata ada pula kemiripan antar anggotanya yang berlaku untuk masing-masing keluarga.

Dalam jurnalnya, Jewiit dan Li (2010) menyimpulkan bahwa “Phaethon is essentially a rock comet, in which the small perihelion distance leads both to the production of dust (through thermal fracture and decomposition-cracking of hydrated minerals) and to its ejection into interplanetary space (through radiation pressure sweeping and other effects)”. Untuk kisah seputar asteroid dapat simak artikel terkait asteroid pada situs ini.

Keunikan Phaethon adalah bentuknya yang tidak seperti bola, yaitu dengan radius 275 x 258 x 238 km (Carry, dkk; 2009). Secara rata-rata diameternya kisaran 512 km. Kerapatannya kisaran 3,5 gr/cm3.

 

 Tabel 3 Aktifitas Geminids Kurun Waktu 2006 – 2019 (https://en.wikipedia.org/wiki/Geminids)

Tabel 4. Hujan Meteor Tahunan
Untuk informasi detail hujan meteor dapat dilihat kolom references-nya (jurnal).
Kadang dalam references diperoleh data RA dan deklinasi titik radian, dan kadang tidak diberi nama, maka harus ditelusuri satu per satu dan disinkronkan dengan data observasi.

MDC2007/Roje/00004

MDC2007/Roje/00004

 

Fakta Terkait

i.    Luas wilayah mencakup 513,761 derajat persegi (1,245% luas kubah langit);
ii.   Urutan ke 30 dari 88 rasi bintang;
iii.  Titik sentral: RA (7h 01m), Dekl. (+ 220 30’);
iv.  Midnight Culmination Date: 5 Januari;
v.   Solar Conjuction Date: 8 Juli;
vi.  Jumlah bintang kasat mata kisaran 47 buah (dengan m > 5,5);
vii. Objek Messier: M35 (galactic/open cluster);
viii.Bintang dengan gerak diri besar: BD +3101684 (1,97”/tahun, ranking ke 56); Wolf 1421 (1,60”/tahun, ranking 95);
ix.  Jumlah bintang terang: 5 (diantara 200 bintang terang di kubah langit), yaitu bintang beta (17), alpha (23), gamma (43), mu (143), dan epsilon (161);
x.   Jumlah bintang dengan hadirnya planet: 3 bintang;
xi.  Urutan kecerlangan keseluruhan rasi bintang: 26 dengan kecerlangan 9,148;
xii. Bintang terdekat diantara 100 bintang terdekat: Wolf 294 (m=9,9; 19,40 tc);
xiii.William Herschell menemukan Uranus tahun 1781 saat planet tersebut dekat dengan Eta GeminorumClyde Tombaugh tahun 1930 bekerja dengan plat foto           yang titik sentralnya adalah bintang Delta Geminorum, dan kala itulah berhasil menemukan Pluto;

 

Pengantar 

Pada saatnya ketika kita berkesempatan memandang ke kubah langit malam yang penuh bintang gemintang dari satu ufuk ke ufuk yang lainnya, maka sejatinya – sezarah rentang waktu sekalipun kesempatan itu – niscaya ada rasa terpesona. Rasa ini telah membangkitkan ragam inspirasi artistik maupun spiritual sepanjang peradaban.

Pada satu sisi dalam era kekinian, astronomi mempelajari itu semua berlandas pengamatannya dalam ranah ujud lalu diolah dalam bahasa matematika (observational science), namun diujungnya mendapati kembalinya-sesuatu yang membuatnya merambah ke tataran lain dalam ranah spirit.

Beragam usaha dilakukan untuk memberi aneka penafsiran akan hadirnya jagad semesta dengan segala isi dan fenomenanya, termasuk yang terkait rasi bintang. Harus diakui bahwa setiap wilayah atau bangsa punya imajinasinya, baik berujud kosa kata maupun cerita rakyat. Terlepas dari sisi astrologi, mitos, takhayul, maupun Astronomi. Inilah pemicu langkah menuju taraf pengetahuan zaman ke-kini-an. Berharap, penulis masih berkesempatan untuk mendongeng kisah lainnya, dan walau yang di sini hanya sezarah sekalipun, semoga bacaan ini bermanfaat. Salam Astronomi. –WS–

 

Daftar Pustaka 

Bakich, M., 1995,The Cambridge Guide to the Constellations, Cambridge University Press, Cambridge, p.158-9

Carry, B., et al, 2009, Physical Properties of (2) Pallas, preprint Icarus

Cornelius, G., 2005, The Complete Guide to the Constellations, Duncan Baird Publishers, London, p.40-43

Davis Jr., G. A., 1944, The Pronunciations, Derivations, and Meaning of a Selected List of Star Names, Popular Astronomy 52

Doyodipuro, K. H., 1995, Horoskop Jawa, Dahara Prize, Semarang

Hadikoesoemo, R.M.S., 1988, Filsafat Ke-Jawan, Yudhagama Corporation, Jakarta, p.41-59, 74:23-41

Jewitt, D. and Jing Li, 2010, Activity in Geminid Parent (3200) Phaethon, preprint AAS

Leaman, T. M. and D. W. Hamacher, 2014, Aboriginal Astronomical Traditions from Ooldea, South Australia, Part 1: Nyeeruna and “The Orion Story”, Journal of Astronomical History and Heritage, 17(2), 180 –194

Maass, A., 1924, Tijdschrift voor Indische Taal, Land en Volkenkunde, Albrecht & Co., Batavia, Deel LXIV, Appendix C (Identifizierte Sterne)

Mc Carter, N., Constellation Legends, Naturalist and Astronomy Intern SCICON, p.32, 33

Nilsson, C. S., 1964, A Southern Hemisphere Radio Survey of Meteor Streams, Aust. J. Phys 17

Paku Buwana V, 1989, Serat Centhini (Suluk Tambangraras) 8, Yayasan Centhini, Yogyakarta, p.33-53 (translated from old Javanese script by Kamajaya)

Rogers, J. H., 1998, Origins of the Ancient Constellations: I. The Mesopotamian Traditions, Journal of the British Astronomical Association (JBAA) 108

Sawitar, W., 2009, Star and the Universe: The Ancient Cultures of Indonesia, “Stars of Asia Workshop” at National Astronomical Observatory of Japan – Mitaka – Tokyo, 11-14 Mei 2009

Sawitar, W., 2015, Astronomi dalam Cerita Rakyat Nusantara, Makalah pada Seminar Astronomi dalam Budaya Nusantara (SINDARA) di Universitas Ahmad Dahlan Yogyakarta (30/05/2015)

Sindhunata, 2011, Pranata Mangsa – Seri Lawasan, Gramedia (KPG), Jakarta

 

Kamus 

Prawiroatmodjo, S., 1991, Bausastra Jawa – Indonesia, Gunung Agung, Jakarta

Suparlan, Y. B., 1988, Kamus Kawi – Indonesia, Penerbit Kanisius, Yogyakarta

 

Situs

https://arxiv.org/pdf/0912.3626.pdf

https://blog.nationalgeographic.org/2010/10/12/exploding-clays-drive-Geminids-sky-show/

https://en.wikipedia.org/wiki/Castor_and_Pollux

https://en.wikipedia.org/wiki/Gemini_(constellation)

https://en.wikipedia.org/wiki/Geminids

https://en.wikipedia.org/wiki/List_of_meteor_showers

https://en.wikipedia.org/wiki/Pallas_family

https://en.wikipedia.org/wiki/St._Elmo%27s_fire

https://hotcakencyclopedia.com/#anchor08311867

https://in-the-sky.org/data/constellation.php?id=39

https://pantheon.org/articles/g/geminus.html

https://penelope.uchicago.edu/Thayer/E/Gazetteer/Topics/astronomy/_Texts/secondary/ALLSTA/Gemini*.html

https://sabdadewi.wordpress.com/2014/09/27/kalender-pranata-mangsa/   

https://ui.adsabs.harvard.edu/abs/2010AJ....140.1519J/abstract

https://www.livescience.com/4667-astrological-sign.html

https://www.ta3.sk/IAUC22DB/MDC2007/Roje/roje_lista.php?corobic_roje=1&sort_roje=0

https://www.ta3.sk/IAUC22DB/MDC2007/Roje/pojedynczy_obiekt.php?kodstrumienia=00004&colecimy=1&kodmin=00001&kodmax=00569&sortowanie=0

https://www.ianridpath.com/startales/Gemini.htm

https://www.ianridpath.com/atlases/urania.htm

https://www.southastrodel.com/Page20502.htm

dan situs yang tertulis pada artikel. Untuk pembanding kisah Zodiak, silakan lihat artikel terkait pada situs ini, seperti Aquarius, Scorpius, dll.

 

Peranti Lunak

Software Stellarium 0.12.4 dan Stellarium 0.20.1