Written by widya sawitar

User Rating: 0 / 5

Star InactiveStar InactiveStar InactiveStar InactiveStar Inactive
 

PISCES

SANG IKAN

oleh : 

Widya Sawitar

 

“And here fantastic fishes duskly float,
Using the calm for waters, while their fires
Throb out quick rhythms along the shallow air”
(Kutipan: Mrs. Browning's A Drama of Exile - penelope.uchicago.edu/Thayer/Pisces)

Gambar 1
Lukisan Pisces dalam the Atlas Coelestis karya John Flamsteed (1729).
Seutas tali tampak mengikat masing-masing ke ekor ikan.
Garis putus-putus horisontal yang melewati ikan yang bawah (selatan) adalah ekuator langit,
dan garis putus-putus diagonal adalah ekliptika (lintasan semu tahunan Matahari).
Perpotongan garis tersebut pada lokasi tersebut dikenal sebagai Vernal Equinox.
(https://www.ianridpath.com/startales/Pisces.htm)
(https://lhldigital.lindahall.org/astro_atlas)

Gambar 2
Simbol Pisces.
Rasi bintang Pisces dianggap bersesuaian dengan kondisinya,
yaitu bersamaan dengan posisi Matahari saat musim hujan;
dan simbol di atas merupakan pengejawantahan dua ikan yang bergabung.
Pandangan lainnya bahwa simbol tersebut adalah cerminan pluralitas masyarakat Hittite.

Genitif: Piscium
Singkatan: Psc
Urutan Luas: 14
Sejarah: Salah satu dari 48 rasi bintang dalam daftar karya Ptolemy (Almagest)
Nama Yunani: Ἰχθύες (Ichthyes)

Pisces merupakan salah satu rasi bintang Zodiak dan terletak di belahan langit utara. Namanya berbasis latin adalah (dua) ikan. Wilayahnya terletak di antara Aquarius (barat) dan Aries (timur). Ekliptika dan ekuator langit berpotongan di dalam rasi bintang ini (dan di Virgo, di arah berlawanan). Selain itu, (earthsky.org/astronomy-essentials) Pisces Sang Ikan kadang disebut rasi bintang pertama di Zodiak karena Matahari melewatinya ini saat Titik Balik Maret (March Equinox). Satu tahun tropis didefinisikan sebagai periode waktu antara 2 titik ini. Jadi, di sini, Titik Balik Maret menandai awal tahun baru dan inilah mengapa Pisces dianggap sebagai titik awal Zodiak.

Dari sejarah mitologi bahwa Pisces berasal dari gabungan antara rasi bintang Babylonia Šinunutu (burung layang-layang yang besar yang kini menjadi Pisces) dan Anunitum (ratu langit, ikan bagian utara). Dalam sejarah juga dikenal sebagian dari Pisces termasuk dalam kelompok DU.NU.NU (Rikis-nu.mi, tali/pita ikan).

 

MITOLOGI

Mitologi mengenai rasi bintang ini diduga berawal dari masyarakat sekitar Sungai Eufrat, dan ada petunjuk bahwa mitologi yang berkembang di masyarakat Yunani merupakan warisan mitologi dari era Babylonia. Cerita seputar tokoh Pisces termasuk mitologi era awal dalam sejarah mitologi Yunani, di mana para dewa Olympus telah mengalahkan para Titan dan para raksasa dalam perebutan kekuasaan. Yang disebutkan sebagai Mother of Earth dalam kisah terkait mempunyai nama tersendiri, yaitu Gaia. Uniknya bahwa dewi ini dikisahkan berpasangan dengan Tartarus, tokoh Titan dari “dunia bawah” di mana Zeus konon memenjarakannya. Gaia bersama Tartarus mempunyai keturunan yang terkenal, yaitu Typhon, monster yang dianggap paling mengerikan yang pernah ada di dunia.

Sosok Typhon (Typhoeus, Typhaon, atau Typhos) adalah ular layaknya legenda naga raksasa yang merupakan monster paling mematikan dalam mitologi Yunani. Umumnya memang dia adalah putra Gaia dan Tartarus. Versi lain adalah putra Hera. Lainnya, dia adalah keturunan Cronus. Sementara itu, Typhon dan pasangannya, Echidna dianggap sebagai leluhur para monster. Typhon memiliki kaki, sama dengan Python, naga yang dimusnahkan oleh Apollo.

Menurut Hesiod dalam karyanya, Theogony, dikisahkan bahwa Typhon memiliki seratus kepala naga dengan juluran lidah hitamnya serta kobaran api dari mata dan dengan suara yang bergemuruh, kadang hanya suara-suara halus yang hanya dapat dipahami oleh para dewa. Waktu lainnya, dia mengeluarkan suara lenguhan yang keras layaknya sapi jantan, mengaum seperti singa, melolong bagai anak anjing, hingga mendesis ibarat suara desisan segerombolan ular.

Konon suatu ketika Gaia mengirim anaknya tersebut untuk menyerang para dewa. Ketika dewa Pan melihat kedatangannya, seketika itu pula memperingatkan para dewa lain dengan pekikannya. Pan sendiri melompat ke sungai untuk menyelamatkan diri dan mengubah wujudnya menjadi seekor makhluk campuran antara ikan dan kambing, yang kini terejawantah dengan adanya Capricornus. Kisah ini juga berawal dari mitologi Babylonia. Sementara itu, menghadapi hadirnya sang monster, dewi Aphrodite dan putranya Eros berlindung di antara alang-alang di tepi Sungai Eufrat. Namun, saat angin bertiup dan menyibak alang-alang, Aphrodite menjadi sangat ketakutan. Sambil memegang Eros dipangkuannya, dia meminta bantuan kepada para peri air dan melompat ke sungai. Dalam satu versi cerita, dua ikan berenang dan membawa Aphrodite dan Eros ke punggung mereka dengan aman. Versi lain keduanya yang berubah menjadi ikan. Pakar mitologi mengatakan bahwa karena kisah inilah yang membuat adanya kebiasaan pada sebagian masyarakat Syria bahwa mereka pantang makan ikan, menganggap mereka sebagai dewa atau bahkan pelindung para dewa.

Pada kisah lain bahwa terdapat tokoh Bythos (Sea-depth), salah satu makhluk ikan Centaurus (Ichthyocentaurs, saudara laki-laki dari Aphros). Keduanya diletakkan di langit menjadi Pisces (https://pantheon.org/articles/b/bythos.html).

 

PENELUSURAN KISAH 

Sebuah kisah alternatif, yang diberikan oleh Hyginus dalam karyanya Fabulae, bahwa diceritakan ada sebuah telur yang jatuh ke Sungai Eufrat, terhanyut ke laut, kemudian  didorong ke pantai oleh dua ekor ikan. Burung-burung Merpati lalu mengeraminya, kemudian lahirlah dewi Aphrodite. Sebagai ungkapan rasa terima kasihnya, sang dewi lalu meletakkan keduanya di langit. Eratosthenes dengan versinya mengisahkan bahwa kedua ikan yang dikenal kini sebagi Pisces adalah keturunan dari seekor ikan besar yang kini menjadi rasi bintang Piscis Austrinus. Ketika dewi Derceto terjatuh ke sebuah danau dekat Bambyce (utara Syria), dia diselamatkan oleh ikan besar. Seperti kisah Aphrodite, maka diletakkanlah sang ikan besar dan kedua anaknya di langit.

Pisces juga dikaitkan dengan legenda Jerman, Antenteh (?) yang hanya memiliki bak mandi dan ruang sangat sederhana untuk tempat tinggalnya. Suatu ketika dia bertemu dengan ikan ajaib. Sang ikan menawarinya untuk menyebut sebuah permintaan, tetapi ditolaknya. Mengetahui hal ini, justru istrinya memohon kepadanya agar kembali ke ikan dan meminta rumah lengkap yang indah. Keinginan ini dikabulkan sang ikan, tetapi sang istri tidak puas dan ingin lebih lagi, meminta agar menjadi ratu dengan istananya. Inipun dipenuhi. Namun, ketika sang istri meminta lebih bahkan ingin menjadi dewi, marahlah sang ikan dan mengembalikan suami istri ini ke kondisi semula. Bak mandi dalam kisah ini sering dikaitkan dengan Great Square of Pegasus di mana rasi bintang Pegasus di kubah langit bersanding dengan Pisces.

Berbeda dengan masyarakat Tiongkok bahwa Pisces dimasukkan ke dalam beberapa rasi bintangnya. Wai-ping (Wilayah/Layar Luar) adalah pagar pengaman peternak babi agar tidak jatuh ke rawa. Dalam peta langit modern, bintang-bintangnya adalah Alpha, Delta, Epsilon, Zeta, Mu, Nu, dan Xi Piscium (lihat bahasan Peta Langit Tiongkok di bawah). Rawa-rawa diwakili oleh empat bintang yang terkait Phi Ceti (rasi bintang Cetus, Ikan Paus). Ikan utara Pisces adalah sebagian Rumah (shio) Sandal, Koui-siou (en.wikipedia.org/Pisces).

Berbasis versi astronom Persia, al-Sufi, dari adaptasi Romawi, bahwa Venus (Yunani: Aphrodite) dan Cupid (Eros) saling mengikat diri mereka dengan tali agar tidak kehilangan satu sama lain di derasnya Sungai Eufrat. Simpul talinya adalah bintang Alpha Piscium yang bernama Al-Rischa (Arab: tali/simpul tali).

Adapun hadirnya tokoh Bythos dapat ditelusur dari munculnya ichthyocentaur, makhluk setengah manusia (badan hingga kepala) setengah ikan (badan hingga ekor). Sementara keunikan lainnya, bahwa tangannya berupa kaki kuda. Bentuk ini mirip dengan ujud Triton. Perbedaannya, tangannya tetap tangan manusia. Dalam kisahnya ada 2 makhluk seperti ini bernama Aphros dan Bythos, putra dari Cronus dan Philyra (pantheon.org/ichthyocentaur).

 

RAGAM NAMA

Nama Yunani untuk rasi bintang ini adalah Icque (Ichthye) dan Icquez (Ichthyes) yang dalam latin disebut Pisces. Di Romawi sering menyebutnya sebagai Imbrifer Duo Pisces, Gemini Pisces (kemungkinan karena sepasang layaknya rasi bintang Gemini), dan Piscis Gemellus. Penulis klasik pada era tersebut juga menyebut Aquilonius, terkadang Aquilonaris; dan terkait julukan Aquilo dari Romawi, mungkin berasal dari sebutan aqua, atau aquilus, sebagai penanda datangnya angin yang membawa hujan dari utara, dan juga mewakili penggambaran terkait air. Ampelius menyatakan bahwa Aquilo sejatinya ditujukan pada Gemini, dan sementara itu penamaan Eurus atau Vulturnus, penanda datangnya angin tenggara yang ditujukan untuk Pisces.

Di langit, 2 ikan Pisces tampak berenang, tetapi terikat satu sama lain dengan seutas tali. Satu ke arah  utara dan yang lainnya ke barat. Tidak ada deskripsi khusus tentang ikatan tali ini. Menurut Paul Kunitzsch, masyarakat Babylonia-lah yang pertama mengilustrasikan keberadaan tali pengikat ini dan terwariskan ke budaya selanjutnya, yaitu pada masyarakat Yunani.

Secara kasat mata diakui bahwa Pisces termasuk Zodiak yang sulit teramati kecuali bagi yang sudah berpengalaman melihat langit. Bintang yang paling terang saja hanya kisaran orde 4 magnitudo (lihat tabel identifikasi bintang terang di bawah). Yang dianggap paling terang pada awalnya adalah Alpha Piscium yang disebut Alrescha, adaptasi nama Arab yang berarti 'tali/simpul tali'. Ptolemeus menggambarkan bintang ini membujur searah masing-masing tali di mana arah tali membentuk sudut dan keduanya terikat dalam satu simpul. Di simpul itulah bintang Alpha Piscium berada.

Masyarakat Jerman menyebut Fische, Italia Pesci, Perancis Poissons, Anglo-Norman Peisun, dan Anglo-Saxon Fixas. Pada Alfonsine Tables (1521) tertulis Pesces, dan dalam Almagest (1515) adalah Echiguen, dalam catalog Bayer ditulis sebagai Ichiguen, yang dianggap merupakan adaptasi dari Ichthues.

Gambar 3
Pisces the Fishes. Ilustrasi pada Urania’s Mirror/Old Book Art Image gallery.
Bintang Al Risha tampak pada simpul tali pada kiri bawah.
https://earthsky.org/astronomy-essentials/Pisces-heres-your-constellation

Miss Clerke berpendapat bahwa bentuk sepasang ikan ini mengingatkan pada bulan tambahan yang setiap enam tahun dimasukkan ke dalam kalender Babylonia yang berbasis siklus 360 hari dalam setahun, dan didukung oleh Sayce, yang menerjemahkan julukan awal untuk kelompok bintang ini sebagai Ikan Hea atau Ikan Ia. Hal yang sama ditemukan pada peninggalan masyarakat sekitar Sungai Eufrat yang menyebutnya sebagai Nuni, Sang Ikan, mirip dengan penamaan Zib, dari astronomi Graeco-Babylonia pada era selanjutnya walau secara harfiah sering diartikan sebagai  "Batas (boundary)" sebagai tanda akhir dari rangkaian jalur Zodiak. Arti lainnya adalah Air, seperti yang dikemukakan oleh Aratos untuk bagian langit ini. Penamaan ikan juga dijumpai pada budaya Aztec, yaitu Atl.

Pada era Babylonia disebut Nūni atau Nūnu (mungkin terkait penamaan Šinunutu dan Anunitum) di mana di Syria adalah Nūno, atau Mahīk di Persia, dan Balīk di Turki, yang kesemuanya berarti ikan. Adapun Kircher mengutip masyarakat Coptic – Mesir, menyebutnya sebagai Pikotwrion (Pikotorion), Piscis Hori, yang diartikan oleh Brown sebagi "Perlindungan," tetapi menyatakan bahwa asterisme bulan Coptic ini adalah wilayah yang tersusun atas bintang Beta dan Gamma Arietis di Aries.

Adapun masyarakat Arab menyebutnya Al Samakah, lainnya Alsemcha (Chilmead), dengan kata jamaknya Al Samakatain; dan Al Hūt, sang ikan yang merujuk pada ikan yang sebelah selatan (Vernal Fish), sebagai penanda lokasi Titik Balik Matahari (Titik Balik Maret). Untuk bagian utaranya kerap disatukan penunjukannya dengan bintang-bintang di rasi bintang Andromeda yang sebenarnya sejak awal pencatatannya tidak terkait dengan zodiak. Dari sini Bayer dalam Uranometria menyebutnya sebagai Sameh, Haut, El Haut, dan Elhautine.

Pada masyarakat India, Varāha Mihira menyebut rasi bintang itu sebagai Ittha, yang berawal dari Yunani. Namun, pada era jauh sebelumnya terdapat julukan untuk Pisces adalah Anta, Jitu, dan Mina (atau Minam di Tamil).

Di India, rasi bintang ini terkait nakshatra (lunar station, atau Shio, Manzil, Rumah Bulan) ke-26, Revatī yang secara harfiah berarti berlimpah atau berkecukupan, yang tersusun atas 32 bintang dari bintang Zeta Piscium ke arah utara. Digambarkan sebagai Drum atau Tabor. Tetapi berbasis manzil, adalah Baṭn al Ḥūt, Perut Ikan, atau Al Rishā᾽ yang artinya (simpul) tali, dan hal ini setara dengan shio Koei, atau Kwei, Rentang Kaki yang dibentuk oleh 16 bintang yang berawal dari bintang Psi Piscium hingga Upsilon Andromedae, walau bintang  Beta dan Zeta Andromedae tampaknya menjadi titik fokusnya. Namun, kesemua “rumah” ini mungkin dapat disandingkan atau diperluas, karena sejatinya terdapat ketidaksepakatan di antara ketiga sistem tersebut. Al Hut dalam masyarakat Arab kadang juga disebutkan sebagai ikan paus, dan ada kemungkinan terjadi kerancuan dengan adanya tokoh Cetus pada era Yunani.

Al Bīrūnī menegaskan bahwa nama rasi bintang ini yang berbasis ragam budaya merujuk pada seekor ikan. Mungkin inilah yang menurut Eratothenes melahirkan personifikasi (dewi) Derke atau Derketo dalam masyarakat Syria yang juga melahirkan ragam nama seperti Dea Syria, Dercis, Dercetis, Dercete, Proles Dercia, dan Phacetis. Orang Yunani menyebutnya Atargatiz (Atargatis) dan diduga berawal dari Adïr dan Dag (Besar dan Ikan) yang dilukiskan sebagai kepala wanita yang bertubuh seekor ikan besar. Pada akhirnya muncul dugaan bahwa hal ini terkait dengan gambaran Dāgōn (Syria atau Dagaïm pada masyarakat Yahudi), yang merujuk pada julukan untuk Dua Ikan. Riccioli menyebutnya Dagiotho, Avienus menyebut Bombycii Hierapolitani; Grotius sendiri sempat melakukan koreksi untuk untuk Bambycii, dalam suatu kisah terkait, yaitu ketika Derke menjadi dewi yang diagungkan di Bambyce (Mabog of Mesopotamia/Hierapolis), yaitu wilayah batas Syria. Juga julukan Dii Syrii.

Gambar 4
Ilustrasi Pisces di ranah Arab (coproject.org)

Dari penelusuran bahwa pada masyarakat Yunani pun dijumpai ragam kerancuan dengan munculnya dewi Astarte, yang identifikasinya untuk Ajrodite (Aphrodite, atau Venus di Romawi), yang menenggelamkan dirinya bersama putranya Eroz (Eros atau Cupid), ke dalam sungai Eufrat ketika melarikan diri dari serangan monster Typhon; inilah yang kemudian menjelma menjadi dua ikan yang kemudian ditempatkan di Zodiak. Penulis klasik latin lainnya, berbasis kisah yang sama, membuat Pisces Sang Ikan yang membawa Venus dan putranya dari bahaya. Sedangkan Manilius sendiri menyatakannya sebagai “menjelma menyerupai mereka” dari penafsiran “Venus ow'd her Safety to their Shape”. Bila disederhanakan, terdapat 2 versi, yaitu pertama adanya tokoh Venus dan putranya yang lalu menjelma menjadi 2 ikan. Versi kedua, adanya Venus dan putranya yang diselamatkan oleh 2 ikan.

Selanjutnya, rasi bintang Pisces akhirnya lebih populer dengan sebutan Venus et Cupido, Venus Syria cum Cupidine, Venus cum Adone, Dione, dan Veneris Mater; dan juga Ourania (Ourania) and Urania, dan Aphrodite (Sarmatian). Semua ini, mungkin, adalah berbasis budaya masyarakat Syria bahwa sosok ikan tersebut terkait ranah keilahiannya sehingga mereka pantang untuk memakannya; Ovid menegaskan dalam karyanya Fasti, bahwa masyarakat Syria membenci memakan ikan semacam itu dan juga tidak akan mempersembahkannya untuk sesaji upacara ritualnya. Namun, Xenophon membatasi pelarangan ini hanya pada ikan yang berada di Sungai Chalos.

Masyarakat Kaldea menjuluki ikan utara sebagai Celidoniaz icquz (Xelidonias Ixthus) yang digambarkan dengan kepala burung layang-layang, sebuah representasi yang dikaitkan Scaliger dengan penampilan burung di musim semi ketika Matahari berada di wilayah langit ini. Dupuis juga menganalisis hadirnya gambaran ini yang kemudian menyebutnya sebagai l'Hirondelle, sesuai juga dengan ilustrasi masyarakat Arab. Namun, hal ini terancukan dengan rasi bintang lainnya, yaitu Apus (Burung Surga). Ikan utara ini kadang dianggap mewakili monster yang dikirim untuk membunuh Andromeda, dan yang terakhir mungkin lebih tepat terkait dengan Cetus; walau Cetus lebih sering diilustrasikan sebagai ikan secara umum, bukan ikan paus.

Dalam perkembangan awal astrologi, Pisces dianggap di bawah lindungan dewa laut Neptunus, dan demikian pula sebutan Neptuni Sidus oleh Manilius. Sementara itu, Sir Thomas Browne, penulis abad ke-17, berkomentar “Venus, born out of the sea, hath her exaltation in Pisces”. Lebih lanjut, kehadiran tokoh ini dianggap mengayomi wilayah perairan Eufrat, Tigris, Laut Merah, dan Parthia. Namun, muncul kisah, bahwa tugas ini beralih ke Jupiter, yang kekuasaannya meliputi ranah Mesir, Normandia, Portugal, dan Spanyol, khususnya bagi para pelaut di mana hadirnya ikan dilukiskan layaknya ikan putih berkilau yang keluar (berlompat-lompatan) dari permukaan air seperti pernyataan Manilius, Pisces fill the Flood.

Ptolemeus membedakan wilayah rasi bintang Pisces sebagai “bagian belakang” (timur, Epomenoz, Epomenos) dan “bagian depan” (barat, Igoumenoz, Igoumenos). Ikan Selatan disebut notioz (selatan). Pembagian ini dilakukan lebih karena agar berbeda dengan penggolongan sebelumnya. Dalam Cosmos karya Humboldt, sang ikan disebut Pisces Boreales (utara).

Keunikan lainnya bahwa profil ikan ini berubah menjadi lumba-lumba pada dinding Merton College, tatkala Fitz James menjadi uskup kota London dan pengawas perguruan tinggi tersebut dari tahun 1482 hingga 1508; lumba-lumba pada era tersebut dianggap sakral di antara orang-orang pagan.

 

PETA LANGIT PADA BUDAYA TIONGKOK

Dalam catatan Tiongkok, bahwa sebagian dari bintang-bintang di Pisces bersama Aquarius, Capricornus, dan sebagian Sagittarius (lainnya non Zodiak, yaitu Pegasus) merupakan kelompok utara dalam pembagian wilayah langitnya disebut the Dark Warrior atau Mysterius Warrior (Kura-kura Hitam – penanda utara, walau ada yang menyebutnya kura-kura dan ular, lihat Scorpius-Sang-Kalajengking). Wilayah Pisces sendiri dianggap sebagai kediaman Sang Kaisar. Ilustrasi kemudian berubah menjadi Tseu Tsze (babi), dan terakhir menjadi Shwang Yu (Shuāngyúzuò, Pisces, dua ikan).

Tentang pembagian wilayah langit utara terdapat pada novel klasik Journey to the West, di mana terdapat tokoh Xuanwu yang dianggap sebagai raja utara yang memiliki dua jenderal yang bertugas dibawahnya, Jenderal Kura-kura dan Jenderal Ular. Konon tokoh ini memiliki sebuah kuil di Pegunungan Wudang – Hubei dan pada saat sekarang dikenal adanya Gunung Kura-kura dan Gunung Ular di seberang sungai di dekat Wuhan, ibukota Hubei. Legenda Taois menyatakan bahwa Xuanwu adalah pangeran penguasa Tiongkok. Namun, dia tidak tertarik untuk naik tahta dan sebagai gantinya memilih untuk meninggalkan orang tuanya pada usia 16 dan belajar Taoisme. Menurut legenda, dia akhirnya mencapai status keilahian dan disembah sebagai dewa langit utara (https://en.wikipedia.org/wiki/Black_Tortoise).

Pada pemetaan mereka tampak bahwa Pisces berada di 2 lokasi, yaitu di Black Tortoise of the North (Winter) dan White Tiger of the West (Fall), walaupun bukan merupakan bintang terang utama karena sejatinya di Pisces tidak ada bintang cemerlang. Gambaran harimau juga ada pada mitologi Chang’e. Selain itu ada wilayah tersendiri di mana terdapat identifikasi dari bintang di Pisces, yaitu pada kelompok Three Enclosure (Zǐ Wēi Yuán) di luar 4 kelompok besar, tepatnya pada kelompok Chuánshě (guest house; https://en.wikipedia.org/wiki/Pisces_in_Chinese_astronomy). Pada kedua wilayah utama dapat dilihat pada tabel di bawah.

Tabel 1
Bintang Kelompok Kura-kura Hitam Penjaga Gerbang Langit Utara

Tabel 2
Bintang Kelompok Harimau Putih Penjaga Gerbang Langit Barat

ZODIAK

Pisces terkenal karena merupakan lokasi di mana Matahari melintasi ekuator langit dari belahan langit selatan ke belahan langit utara pada tanggal 20/21 Maret. Adapun yang dikenal sebagai 1 (satu) tahun (tropis) adalah rentang waktu Matahari melintasinya secara berturutan. Titik perlintasan atau perpotongan antara lingkaran ekuator langit dengan lintasan (semu) Matahari atau disebut lingkaran ekliptika ini disebut Vernal Equinox. Ada yang menyebutnya Titik Balik Maret atau Titik Pertama Aries karena titik ini dahulu kala (600 SM) memang berlokasi di rasi bintang Aries. Namun, kini sudah bergeser jauh ke Pisces karena gerak presesi Bumi. Namun demikian, hingga kini masih tetap disebut Titik Pertama Aries. Untuk selanjutnya, nanti kisaran tahun 2597, titik ini akan memasuki rasi bintang Aquarius dan kemungkinan besar akan tetap disebut Titik Pertama Aries.

Dahulu kala, Matahari melintasi wilayah Pisces antara tanggal 19 Februari hingga 20 Maret, dengan rentang kisaran 30 atau 31 hari, maka era sekarang ini (epoch2000), rentang tersebut berubah menjadi antara 12 Maret hingga 18 April dan rentangnya semakin panjang menjadi kisaran 38 hari.

Melihat kondisi ini, dapat dikatakan bahwa Pisces kini menjadi Zodiak pertama apabila dihitung dari Vernal Equinox di mana titik ini sekarang berada di area yang relatif jarang terdapat bintang (yang kasat mata), dengan lokasi sedikit di selatan bintang Omega Piscium, sekitar 20 sebelah barat dari “garis yang ditarik antara bintang Alpha Andromedae dan Gamma Pegasi”. Titik ini juga dikenal sebagai Greenwich of the Sky; dan itulah mengapa Pisces juga dijuluki sebagai The Leaders of the Celestial Host.

Dalam ranah astrologi, penampakan-penampakan fenomena di rasi bintang ini yang salah satunya fenomena konjungsi. Konon fenomena ini menuntun orang Majus dalam kunjungan mereka ke Yudaea. Fenomena konjungsinya sempat menjadi bahan analisis oleh Kepler yang terkenal dengan Hukum Peredaran Planet; dan selanjutnya dikerjakan pada tahun 1826 oleh Ideler, dan pada tahun 1831 oleh Encke. Hal ini sebelumnya juga dicatat oleh Abrabanel pada abad ke-15, bahwa konjungsi yang sama terjadi di Pisces dan dinyatakan terjadi tiga tahun sebelum kelahiran Nabi Musa AS, dan mereka mengantisipasi yang lain pada kedatangan Sang Juru Penyelamat. Konjungsi antara Jupiter-Saturnus-Venus terjadi pada bulan Februari 1881. Selain itu, di Pisces, juga terjadi konjungsi tersebut dan oleh Stoffler dinyatakan bersamaan dengan kejadian banjir besar pada tahun 1524.

 

PRANATAMANGSA

Kalau mitologi Yunani/Romawi mengaitkannya dengan kalender musim, maka demikian pula pada pranatamangsa (pratimasa) di Indonesia.

Dalam Sansekerta diseut Minam (mirip dialek Tamil). Namun, dalam masyarakat Yogyakarta disebut Lintang Likasan (gulungan benang) atau Jiwa. Sementara itu, di Solo lebih dikenal sebagai Lintang Ulam (ikan) dengan karakter musim basah berbasis Soma (Bulan) dan di Bali sebutannya Lintang Mina (ikan, mirip India).

Dalam bulan Jawa kuno (lihat juga tabel di bawah), untuk rasi bintang Pisces tradisional (19 Februari hingga 20/21 Maret, 30/31 hari) masuk pada mangsa 8 (12 Februari – 11 Maret, 27 hari; Ref: Prawiroatmodjo), yaitu mangsa Kawolu / Manggakala / Wisaka / Ruwah atau Palguna (Ref.: Prawiroatmodjo dan Maass) dan mangsa ke 9 (12 Maret – 11 April; Mangsa Kasanga / Naya / Cetra / Jita / Ramelan). Namun, ada patokan lain, (Ref.: Maass) bahwa Pisces tradisional meliputi mangsa ke 8 (3/4 Februari – 28/29 Februari, 25 hari) dan mangsa ke 9 dengan patokan tanggal 1 hingga 25 Maret. Namun, keduanya tetap musim utama Rendheng Pengarep-arep (lihat tabel di bawah).

Tabel 3 Pranatamangsa
(https://sabdadewi.wordpress.com/2014/09/27/kalender-pranata-mangsa/)

Sementara itu, Pisces untuk epoch 2000 saat ini adalah antara tanggal 12 Maret hingga 18 April dengan kurun waktu 38 hari. Jadi, dalam pranatamangsa termasuk mangsa ke 9 (12 Maret – 11 April; Mangsa Kasanga / Naya / Cetra / Jita / Ramelan) dan ke 10 (12 April – 11 Mei; juga disebut mangsa Palguna, yang umum mangsa Kasapuluh, Wechaka, Srawana, Sadasa, atau Kasadasa. Pada penggolongan musim tergolong musim Mareng Pengarep-arep (awal musim utama Mareng). Musim Mareng sendiri meliputi 3 mangsa kisaran akhir Maret hingga Juni, yaitu mangsa 10 (Kasapuluh / Palguna / Wechaka / Sadasa / Kasadasa), mangsa 11 (Dhesta / Wisaka / Jyesta / Djyestha / Hapit Lemah), dan mangsa 12, yaitu Saddha, Asadha, Hapit Kayu, Sada, Asuji, Rayagung (Ref.: Prawiroatmojo dan Harianto).

Uniknya, dalam hal pranatamangsa pun dikaitkan dengan Zodiak Yunani / Romawi. Misal mangsa ke 8 yang biasa dikaitkan dengan Lintang Mraceka (Scorpius; lihat Scorpius-Sang-Kalajengking). Namun, kalau tokh hendak dikaitkan, maka penulis lebih menyimpulkan Pisces, bukan Scorpius (berbasis tradisional) atau Aquarius (berbasis epoch2000; dapat lihat Aquarius 1 dan  Aquarius 2). Terlalu jauh mengaitkan periode ini dengan Scorpius. Apabila, sebut tanggal 15 Maret (epoch2000) termasuk mangsa kasanga, dan Matahari berada di Scorpius, maka hal ini terjadi kisaran 32.000 tahun yang lalu.

 

PETA LANGIT DAN OBSERVASI

 

Gambar 5 Peta Langit Pisces
(https://www.iau.org/public/themes/constellations/)

 

Berbasis kota Jakarta, maka yang terbaik dalam mengamati keseluruhan wilayah Pisces adalah mulai kisaran akhir Oktober di mana Sang Ikan pada pukul 19:30 WIB telah berada di atas garis ufuk timur dengan ketinggian sekitar 30 derajat (permukaan 00, puncak langit 900, patokan ketinggian adalah bintang Alpha Piscium/Alrescha/113 Piscium). Malam demi malam, pada pukul waktu yang sama, bintang ini dapat terlihat akan bergeser semakin ke arah barat. Saatnya jelang akhir bulan Februari, maka rasi bintang ini pada jam yang sama telah berada di atas garis ufuk barat.

 

Gambar 6
Peta langit Pisces pada tanggal 29 Oktober 2020, pukul 19:30 WIB dilihat dari Jakarta (arah ufuk timur).
(Stellarium 0.12.4)

 

Gambar 7
Pada tanggal 29 Oktober 2020, pukul 19:30 WIB
terjadi konjungsi antara Bulan dan planet Mars di dalam wilayah Pisces,
tampak membentuk formasi segitiga dengan bintang Alrescha (tanda lingkaran di tengah-bawah).
Dapat disaksikan dari Jakarta (arah ufuk timur),
di mana posisi planet Mars saat itu sebut saja cenderung berada di antara Bulan dan bintang Alrescha. Maka, apabila kita lihat lagi pada pukul 03:30 WIB, tanggal 30 Oktober 2020,
konfigurasi ini niscaya akan berubah.
Giliran Bulan yang cenderung berada di antara planet Mars dan bintang Alrescha.
Lebih jelas lagi pergeseran ini pada tanggal 30 Oktober 2020 pukul 19:30 WIB.
(Stellarium 0.12.4)

IDENTIFIKASI BINTANG TERANG

Pada tabel hanya diambil dengan batas magnitudo visual m = 4,75, kecuali pasangan bintang Alpha Piscium A dan Alpha Piscium B (m=5,23).

 

Tabel 4 Bintang Terang di Pisces

Catatan:

HD = Henry Draper Catalogue
HIP = Hipparcos Catalogue
RA = Right Ascension (J2000.0)
Dekl = Declination (J2000.0)
m = magnitudo visual
M = magnitudo mutlak

Jarak dalam tahun cahaya

α² CVn (variabel) = merupakan bintang variabel dengan kelas luminositas Deret Utama dan kelas spektrum B8p sampai A7p (p: peculiar). Komposisi kimiawinya tidak biasa (peculiar) dengan hadirnya garis spektrum silikon, strontium, atau krom yang kuat. Medan magnetnya pun lebih besar dan kecerlangannya berubah-ubah dengan variasi antara 0,01 hingga 0,1 magnitudo dengan periode antara 12 jam hingga 160 hari.

Gambar 8
Peta Lokasi Bintang Terang
(Stellarium 0.20.1)

Alpha Piscium

Merupakan bintang ganda berwarna hijau (m=4,0) dan biru (m=5). Posisinya sekitar 200 arah selatan kepala rasi bintang Aries, 2,70 di utara ekuator langit dan merupakan simpul tali dari kedua ikan Pisces. Nama lainnya berasal dari ranah Arab, Al Risha walau berbasis penelusuran bahwa nama inipun berasal dari budaya Babylonia awal, Riksu yang berarti (simpul/ikatan) tali (nama lain lihat tabel 4 di atas).
Hipparchos dan Ptolemy menyebutnya antara lain dengan Σύνδεσμος τῶν Ἰχθύων, atau τῶν Λίνων, “the Knot of the Fishes”, atau “of the Threads”, (Sundesmos dan Desmos). Oleh Cicero juga beberapa lainnya sebagai Nodus, Nodus Coelestis, atau Nodus Piscium. Sementara itu Pliny menyebutnya Commissura Piscium; dan di Almagest juga disebut Nodus Duorum Filorum (penelope.uchicago.edu).

Gambar 9
Deskripsi Pisces berbasis budaya Arab (Davis, 1944)

Masyarakat Arab ada yang menyebutnya Uḳd al Ḣaiṭain, di mana kata yang berawal dari Okda dan Kaitain ini pada saat sekarang tidak digunakan lagi. Atau penyebutan lainnya adalah Al Ḣaiṭ al Kattāniyy, the Flaxen Thread – benang kuning muda, dan Al Aṣmaʽī kisaran pada tahun 800. Namun, dikelompokkan sebagai rasi bintang yang terpisah, yaitu Antarah.

Bintang ini walaupun berindeks alpha, tetapi ada beberapa bintang yang lebih cemerlang dilihat secara kasat mata dibanding bintang ini (lihat tabel 4 di atas).

 

Eta Piscium

Eta Piscium (η Piscium, Eta Psc, η Psc) merupakan sistem bintang ganda dan bintang paling terang di Pisces (walau biasanya yang berindeks alpha yang paling terang dalam penamaan Bayer, atau yang selama ini menjadi pedoman). Bintang utama dari sistem bintang ganda diberi nama Eta Piscium A yang dikenal dengan sebutan Alpherg dan pasangannya adalah Eta Piscium B. Sistem ini ditemukan pertama kali oleh astronom amatir, S. W. Burnham. Periode edarnya kisaran 851 tahun dengan setengah sumbu panjang sekitar 1,23” dan eksentrisitas 0,47. Alpherg adalah bintang raksasa kuning, dengan kelas spektrum G8III. Komponen B redup (tidak kasat mata, m= 7,5).

Nama awal yang populer adalah Al Pherg atau Kullat Nunu. Dahulu kala ketika Vernal Equinox memasuki wilayah Kullat Nunu (tali ikan), yaitu saat era Babylonia Baru, maka setelah ditelusuri bahwa daerah ini berada di wilayah Pisces. Baru tahun 2018 oleh IAU diberi nama formal Alpherg untuk Eta Psc A, tepatnya tanggal 1 Juni 2018.

Oleh masyarakat Tiongkok dikelompokkan dalam Yòu Gèng (Official in Charge of the Pasturing) merujuk asterisme yang terdiri dari Eta, Rho, Pi, Omicron, dan 104 Psc. Alpherg sendiri dikenal sebagai Yòu Gèng èr (Bintang Kedua Yòu Gèng).

 

OBJEK MENARIK

Messier 74

Messier 74 merupakan galaksi spiral yang secara fisik tidaklah tergolong kompak (tipe Sc) di Pisces. Jaraknya sekitar 30 – 32 juta tc dengan parameter pergeseran merah kisaran 0,0022. Banyak dijumpai kelompok bintang muda dan nebula sehingga diduga merupakan daerah aktif pembentukan bintang. Pertama ditemukan oleh Pierre Méchain, astronom Perancis (1780). Juga pernah diketahui fenomena ledakan bintang, SNIIP, di daerah luar M74 oleh Robert Evans pada bulan Juni 2003 di mana bintang awalnya (progenitor) adalah maharaksasa merah bermassa 8 kali massa Matahari.

Gambar 10
Gambar dari teleskop Hubble ini merupakan komposisi foto bidikan Advanced Camera for Survey
(diambil tahun 2003 dan 2005) di mana sebagian hasil foto ini juga dikomposisikan dengan
hasil foto yang diperoleh Canada-France-Hawaii Telescope and the Gemini Observatory.
Credits: NASA, ESA, and the Hubble Heritage (STScI/AURA) – ESA / Hubble Heritage; Acknowledgment: R. Chandar (University of Toledo) and J. Miller (University of Michigan)
https://hubblesite.org/contents/media/images/2007/41/2210-Image.html

Bentuk galaksinya layaknya kembang api putar. Daerah cemerlang dipusatnya yang dominan gas berpendar seolah menjadi sumber penerang kesekitarnya, yang berupa bentukan spiral sekaligus indikator terjadinya pembentukan bintang-bintang baru yang masih terus berlangsung.

Messier 74 juga disebut sebagai NGC 628, merupakan contoh yang sangat baik ketika kita mencoba mempelajari struktur galaksi spiral. Utamanya bahwa garis pandang kita praktis tegak lurus bidang galaksinya (face-on). Bentuk pusat dan lengan spiral tampak sangat jelas, termasuk wilayah pembentukan bintangnya (analisis radiasi UV). Lokasi kelompok bintang muda berwarna biru, dan daerah hidrogen terionisasi berwarna merah muda. Termasuk penelusuran struktur lengan spiral dengan aliran massa debu dan banyak lagi kesempatan untuk melakukan penelitian bidang lainnya.

            M74 juga merupakan salah satu anggota grup yang terdiri dari kisaran 12 galaksi yang lokasinya berdekatan (layaknya Bima Sakti dengan 30 kawan segrupnya, yang disebut Grup Lokal). Galaksi ini anggotanya diperkirakan mencapai 100 milyar bintang, lebih sedikit dibandingkan dengan Bima Sakti yang mencapai jumlah anggota kisaran 400 milyar. Pertama memang ditemukan oleh Méchain, dan seminggu kemudian baru ditambahkan oleh Charles Messier ke dalam katalognya.

 

NGC 488

NGC 488 merupakan galaksi spiral dengan jarak sekitar 90 juta tc yang diameternya diperkirakan 52,6 Kpc (171.000 tc). Pertama kali ditemukan ditemukan oleh William Herschel pada tanggal 13 Desember 1784. Struktur pusatnya padat dan cukup besar. Strukturnya spiral cukup rapat, namun masih jelas terlihat karena garis pandang kita terhadapnya (mirip M74, dengan jarak nyaris 3 kali lebih jauh) dan lokasi pembentukan bintang baru masih dapat dijejak. Komposisi dipusatnya didominasi oleh unsure kelompok logam. Galaksi ini memiliki beberapa satelit dan membentuk system yang terisolasi, tidak menjadi anggota grup galaksi (?). Pernah dijumpai fenomena ledakan bintang, yaitu SN 2010eb (dugaan adalah SNIa dengan puncak kecerlangan 14,7 dan SN 1976G dengan magnitudo 15.

 

Gambar 11
Piringan galaksi diketahui memiliki kecepatan edar terhadap pusatnya sekitar 360 km/s.
(Matahari kecepatannya kisaran 220 km/s)
Credit: Johan Knapen and Nik Szymanek
https://www.ing.iac.es/PR/science/galaxies.html#ngc488

 

Gambar 12
Foto bidikan teleskop Habble ini merupakan komposisi dari 59 buah gambar
yang dirilis pada ulang tahunnya ke 18 tanggal 24 April 2008.
(hubblesite.org/images/2008/16/2342)
Credit: NASA, ESA, the Hubble Heritage (STScI/AURA)-ESA/Hubble Collaboration,
and B. Whitmore (STScI)

NGC 520 merupakan gabungan atau interaksi antara 2 galaksi. Penggabungan diduga terjadi sekitar 300 juta tahun yang lalu. Jadi, termasuk relatif baru. Dari analisisnya diketahui bahwa bagian cakram keduanya telah bergabung, tetapi inti keduanya belum menyatu. Struktur unik dari adanya “ekor” disekitarnya dan lokasi debu (daerah gelap) yang menyilang masih dalam penelitian. Adanya debu ini juga menghalangi kita untuk lebih dalam meneliti bagian dipusatnya.

            Sampai sekarang, pasangan galaksi ini termasuk pasangan yang sangat cemerlang, bahkan dapat diamati walau hanya dengan teleskop kecil sekalipun dengan penampakan yang seperti komet (citranya kabur seolah berkabut). Jaraknya sekitar 100 juta tc dengan diameter 100.000 tc. Identifikasi lainnya adalah Arp 157. Termasuk catalog Arp karena dianggap memiliki karakter yang unik (peculiar galaxy).

 

CL 0024+1654

Objek ini merupakan gugus galaksi yang kompak sehingga menimbulkan fenomena lensa gravitasi. Tampak ada bentukan cincin (warna biru) dan tampak melengkung pada foto di bawah, yang ternyata adalah galaksi yang lokasinya di balik gugus galaksi ini. Anggota utamanya dominan galaksi dengan struktur ellips berwarna kuning terang dan galaksi spiral. Jaraknya diperkirakan 3,6 milyar tc dengan parameter pergeseran merah sekitar 0,4. Adapun galaksi latar belakang yang tampak dalam foto berjarak 5,7 milyar tc memiliki parameter pergeseran merah 1,67 (kecepatan menjauhnya jauh lebih besar, dan ini salah satu pandangan adanya fenomena alam semesta mengembang).

Gambar 13
Foto berbasis landas Bumi terhadap CL0024+1654 yang berhasil dibidik kamera CFHT12k
milik Canada France Hawaii Telescope yang berlokasi di Mauna Kea (Hawaii).
Gugus galaksi terlihat layaknya sekumpulan bintang berwarna kuning di tengah foto
walau sesungguhnya bentangan gugus ini hingga ke tepi gambar (Medan foto 21 x 21 menit busur).
Credit: European Space Agency, NASA,
Jean-Paul Kneib (Observatoire Midi-Pyrénées, France/Caltech, USA)
and the Canada France Hawaii Telescope
(https://www.spacetelescope.org/images/heic0309c/)

Gambar 14
Fenomena Lensa Gravitasi pada gugus galaksi CL0024+1654
yang berhasil diabadikan bulan November 2004 oleh teleskop Hubble
(https://apod.nasa.gov/apod/ap090823.html)
Credit: NASA, ESA, H. Lee & H. Ford (Johns Hopkins U.)

Yang tertarik mempelajari objek ini dapat menyimak jurnal ilmiahnya pada situs iopscience.iop.org/article/10.1086/311314

 

3C 31 (B0104+321 / NGC 383)

Gambar 15
Radiasi Sinar-X dari galaksi radio 3C31 (biru) yang berjarak 240 juta tc,
Memberi kesempatan astronom untuk meneliti kerapatan, temperatur, tekanan, dan karakter lainnya.
Teleskop Chandra sempat mengabadikan adanya semburan partikel/plasma energy tinggi.
Objek ini juga diberi nama NGC 383.
Bagian berwarna kuning merupakan komposisi dengan bidikan teleskop Hubble.
Credit: X-ray: NASA/CXC/Univ. of Bristol/M.Hardcastle et al; Optical: NASA/STScI
(https://www.nasa.gov/mission_pages/chandra/3c31.html)

METEOR SHOWER

Yang menjadi sumber hujan meteor kelompok Piscids hingga kini masih dalam penelusuran. Hanya 2 hujan meteor yang sifatnya mapan, yaitu Daytime April Piscids dan Phi Piscids. Inipun belum diketahui asal muasalnya. Karakternya antara lain geraknya yang relatif bervariasi (28 – 67 km/s) dan durasi penampakannya berlangsung cukup lama (April – Juli), tetapi tidak banyak jumlahnya per jam, paling banyak 8.

Tabel 5
Yang dilakukan oleh Kashcheyev dkk berbasis telaah radar, digabung dengan data foto, direct-rocket, dan pengukuran berbasis satellite-borne. Dalam telaahnya memang belum disebutkan tentang hujan meteor Daytime April Piscids. Sumbernya diduga 2005 NZ6.
(Kashcheyev and Lebedinets, 1967) (ta3.sk/IAUC22DB/MDC2007/Roje/144)

 

Tabel 6
Koordinat titik radian dari hujan meteor Phi Piscids (PPS) pertama kali dimasukkan
dalam daftar IAU (IAU Working List of Meteor Showers)
berbasis penelitian menggunakan deteksi radar dari tahun 2001 hingga 2008
oleh Brown dkk, yang diperoleh dengan The Canadian Meteor Orbit Radar (CMOR)..
Aktivitas Phi Piscids memiliki rentang proses yang panjang dan tidak simetris dalam fenomenanya.
Puncaknya sendiri kisaran tanggal 26 Juni.
Untuk tahun 2020 berlangsung tanggal antara 8 Juni – 2 Agustus dengan puncak 4 Juli.

Karakter jalurnya mirip dengan Perseids, di mana sebaran torus materinya
menjangkau hingga lintasan Jupiter dengan periode puncak sekitar 49,0 ± 5,6 tahun,
sinkronisasinya dengan periode Jupiter sekitar 4,1 (resonansi 1:4).
Diduga terkait komet setipe Halley layaknya fenomena antara Orionids dengan komet 1P/Halley.
Hingga kini belum diketahui komet induknya.
(Holman/harvard.edu/abs/2013JIMO) (ta3.sk/IAUC22DB/MDC2007/Roje/372)

 

Untuk lainnya yang terus ditelusuri, antara lain:

 Tabel 7

Atau dapat dilihat pada (ta3.sk/IAUC22DB/MDC2007/) untuk yang lainnya:

Tabel 8
Hujan Meteor dari rasi bintang Pisces yang dianggap belum mapan

FAKTA TERKAIT

  1. Luas wilayah mencakup 889,42 derajat persegi (2,156% luas kubah langit);
  2. Urutan ke 14 dari 88 rasi bintang;
  3. Titik sentral: RA (0h 26m), Dekl. (+ 130: antara –7 hingga +34);
  4. Midnight Culmination Date: 27 September;
  5. Solar Conjuction Date: 29 Maret;
  6. Jumlah bintang kasat mata kisaran 50 buah (dengan batas m = 5,5);
  7. Objek Messier: M74 (galaksi spiral);
  8. Bintang dengan gerak diri yang besar di antara 100 bintang: van Maanen’s Star (ke 26; 2,98”/tahun); Wolf 110 (ke 37; 2,43”/tahun);
  9. Tidak ada bintang terang dari 200 urutan teratas bintang terang di kubah langit;
  10. Jumlah bintang dengan hadirnya planet: 13 bintang;
  11. Urutan kecerlangan keseluruhan rasi bintang ke 68 dengan kecerlangan 5,622;
  12. Bintang terdekat di antara 100 bintang terdekat: van Maanen’s Star (ke 26; m=12,4; 13,64 tc), BD+104774 (ke 52; m=9,0; 18,74 tc), BD+40123 (ke 84; m=5,8; 22,64 tc), 107 Psc (ke 95; m=5,2; 24,33 tc);
  13. Rasi bintang ini dapat dilihat secara utuh oleh para pengamat dari lintang +83 (LU) s.d –57 (LS);
  14. Pada rasi bintang inilah terdapat patokan yang dulu disebut Titik Pertama Aries (Vernal Equinox) di mana penamaan titik ini memang terjadi di Aries 2000-an tahun yang lalu yang masih digunakan oleh astrologi dan dipakai untuk meramal nasib atau peruntungan. Titik ini sekitar 577 tahun yang akan datang akan bergeser ke Aquarius, walau kemungkinan akan tetap digunakan sebutan Titik Pertama Aries yang lebih ke arah alasan sejarah dimulainya pengetahuan tentang adanya pergeseran tersebut di kubah langit, yang kini diketahui akibat pergerakan presesi Bumi dengan periode sekitar 25.800 tahun; dan
  15. Pada tanggal 2 September 1804, Harding dari Lilienthal – Hanover menemukan planet minor (asteroid) yang kemudian diberi nama Juno.

 

Extra Solar Planet (ESP) 

Harapan akan kemungkinan dijumpainya kehidupan di dunia lain telah muncul dan menjadi imajinasi manusia sejak bermilenia yang lalu dan gilirannya pada 2 dekade terakhir, penemuan demi penemuan hadirnya planet di bintang-bintang nun jauh di sana telah memicu pencarian bumi-bumi yang lain yang dapat menopang kehidupan. Ragam peranti penelitian diberdayakan oleh beragam tim astronom hingga bidang keilmuan lainnya, termasuk peluncuran observatorium ruang angkasa Kepler milik NASA. Sebelumnya (bahkan hingga kini) teleskop Hubble, Spitzer, dan banyak lagi pun sudah banyak berkiprah dalam perburuan ini, bahkan dalam usaha pendeteksian dan penelitian tentang komposisi atmosfer ESP.

Sejak tahun 2000, jumlah ESP yang berhasil diketemukan di Pisces sebenarnya tidak banyak dibanding jumlah ESP yang telah dikonfirmasi eksistensinya, yaitu berjumlah 4271 planet dalam 3156 sistem keplanetan (karena ada bintang induk yang memiliki lebih dari 1 planet). Yang telah dikonfirmasi ditemukan di wilayah Pisces dapat dilihat pada tabel di bawah ini:

Tabel 9
Nama Exoplanet (ESP) di Pisces

Keterangan:

M         Massa dalam massa Jupiter

R         Radius dalam radius Jupiter

P         Periode edar dalam hari

a          Setengah sumbu panjang dalam satuan astronomi

i           Inklinasi dalam derajat

e          Eksentrisitas

Jarak sudut dalam detik busur

Tabel 10
Karakter bintang induk dari ESP di Pisces

Disarikan dari:

https://exoplanet.eu/catalog/

https://exoplanetarchive.ipac.caltech.edu/docs/counts_detail.html

https://exoplanetarchive.ipac.caltech.edu/cgi-bin/TblView/nph-tblView?app=ExoTbls&config=PS

https://iopscience.iop.org/article/10.1086/509073

Luhman, 2007

Gambar 16
Hikayat Lengsernya Sang Domba sebagai “Titik Pertama” ke Sang Ikan.
Gilirannya nanti tahun 2597 Sang Ikan pun memberi singgasananya ke Si Pembawa Air.
(Digambar kembali: Sawitar, 2012)
(Ide gambar: Pasachoff, 1975, Astronomy, W.B. Saunders Co., Philadelphia, p.78)

 

SEJENAK PERMENUNGAN

“ … bab Lampahing lintang,
Wuluh lawan Waluku-ne,
kang parêng mangsanipun,

anauri lampahing lintang kêkalih,
Wuluh Waluku-nira ... “
(Paku Buwana V: Serat Centhini VIII; 427 Dhandhanggula 52)

“Lumaksana sekar sarkara ‘mrih, pininta maya-maya ‘nggeng ulah, kang minangka pituture,
duk masih awang uwung, ru-rung ana bumi langit, nanging Sang Hyang Wisesa,
kang kocap rumuhun, meneng samadyaning jagad, datan arsa mosik jroning tyas maladi,
ening aneges karsa,”
(Mulyono, S., 1989, Wayang: Asal-usul, Filsafat, dan Masa Depannya,
CV Haji Masagung, Jakarta, p.181)

 

Sejak era mitologi bermillenia lalu yang terkait rasi bintang termasuk Zodiak tentu di antara identifikasi yang muncul mungkin sudah tidak asing lagi, minimal nama-namanya bagi kita semua. Bentang cakrawala budaya menera langit di segala penjuru Bumi terus dijumpai, termasuk di ranah Nusantara. Pencarian jawaban terhadap itu semua tentu menjadi khazanah ilmu pengetahuan kita semua dalam usaha menyibak cadar langit perbintangan. Memang pada akhirnya pada era kini bahwa kita dapat mengenal adanya 88 rasi bintang yang dibakukan oleh IAU pada tahun 1922-1930. Inipun melewati rentang waktu yang tidak sebentar.

Rangkaian artikel seputar Zodiak pada situs ini serba sedikit sudah dipaparkan, utamanya runutan berbasis Zodiak tradisional yang berjumlah 12 rasi bintang. Penulis pun harus mengakui bahwa topik dan bahasannya sedemikian sempit dan rasanya masih miskin dalam pengetahuan. Antara kombinasi berburu pustaka, baik buku, jurnal ilmiah, kamus, ataupun beragam situs terkait dalam ranah internet; tidak tertinggal materi yang terkait ranah situs purbakala candi hingga peranti keantariksaan, serta mencoba menggali langsung dari narasumber yang menjadi pelaku budaya menera langit. Digabung dengan penerjemahan bebas, maupun mencoba menganalisis berbasis bidang Astronomi. Baik teoritis berbasis fisika, matematika, kimia, biologi, hingga ranah sosial. Seperti ketika mencoba menelusuri beragam kamus, yang menggiring penemuan nama terkait Matahari di ranah Jawa, khususnya Yogyakarta dan Solo yang berjumlah 90 buah nama, demikian pula Bulan yang mencapai 40 buah nama. Belum lagi cerita rakyat, walau terkadang bertemu dinding yang sulit ditembus seperti pengetahuan bahasa yang sangat minim. Sejatinya justru hal ini menggugah keinginan untuk memberi lebih banyak lagi kisah langit. Adapun ke 11 rasi bintang Zodiak tradisional yang umum dikenal, penulis sudah paparkan serba sedikit dan dapat kembali dilihat pada situs:

  1. ARIES
  2. TAURUS 1 dan TAURUS 2
  3. GEMINI
  4. CANCER  
  5. LEO
  6. VIRGO  
  7. LIBRA
  8. SCORPIUS  
  9. OPHIUCUS (Matahari melewati Zodiak ini pada tanggal 29 November s.d 18 Desember.)
  10. SAGITTARIUS
  11. CAPRICORNUS  
  12. AQUARIUS 1 ; AQUARIUS 2

Lebih dari hal di atas bahwa budaya menera langit seperti ini, sadar ataupun tidak telah merambah ke kedalaman ranah sains hingga religi, sebagai sebuah naluri sejak dahulu kala dan nyatanya sangat banyak tinggalan terkait dengannya. Penemuan demi penemuan yang berhasil diraih tentu dalam satu sisi, yaitu bidang Astronomi, menjadi sebuah Astronomical Heritage dalam perjalanan budaya manusia, yang lagi-lagi sadar ataupun tidak menjadi sebuah Cultural Heritage, yang faktanya sudah menjadi Living Heritage karena budaya menera bintang gemintang hingga ke kedalaman jagad semesta masih terus berkelanjutan hingga sekarang, yang tidak “melulu” terjebak kemapanan dalam visi budaya di ranah lokal dan terkungkung dalam pengertian kebudayaan yang sempit yang kasat mata dan gegap gempita dengan keramaian duniawi. Budaya ini telah berkelindan dengan kehidupan manusia sejak pertama menyadari sepenuhnya hadirnya kubah langit, yang “mengadanya” tentu bukan tanpa makna dan maksud, dan yang jelas tidaklah sia-sia. Hadirnya bintang gemintang bukan sekedar hiasan belaka ataupun sekedar memenuhi rasa romantis tentang keindahan saat memandangnya.

Terlepas dari itu semua, semoga rangkaian artikel Zodiak ini (menyusul adalah tentang Ophiuchus) masih dapat berdaya guna bagi para muda, khususnya untuk membantu mencermati tinggalan seperti ini. Pemikiran yang bersifat universal tanpa batas wilayah geografi dan aneka perbedaan insan di Bumi dalam jejak sejarah dan harus diakui dengan rendah hati bahwa budaya menera langit telah mengajak semua “mencoba belajar” memahami gejolak seputar pertanyaan posisi dirinya diluasnya jagad semesta. Masih terlalu banyak celah yang masih dapat ditelusuri. Bagaimana pun produk budaya seperti ini membentuk generasi setelahnya termasuk kita semua didalamnya. Sekali lagi, semoga bermanfaat. Wartya Wiyata Wicitra Withing Wintang Widik Widik. Salam Astronomi.–WS–

 

DAFTAR PUSTAKA

Bakich, M., 1995,The Cambridge Guide to the Constellations, Cambridge University Press, Cambridge

Cornelius, G., 2005, The Complete Guide to the Constellations, Duncan Baird Publishers, London, p.40-43

Davis Jr., G. A., 1944, The Pronunciations, Derivations, and Meaning of a Selected List of Star Names, Popular Astronomy 52

Doyodipuro, K. H., 1995, Horoskop Jawa, Dahara Prize, Semarang

Luhman, K.L., et al, 2007, Discovery of Two T Dwarf Companion with the Spitzer Space Telescope, The Astrophysical Journal, 654:570 - 579

Maass, A., 1924, Tijdschrift voor Indische Taal, Land en Volkenkunde, Albrecht & Co., Batavia, Deel LXIV, Appendix C (Identifizierte Sterne)

Prawiroatmodjo, S., 1991, Bausastra Jawa – Indonesia, Gunung Agung, Jakarta

Rogers, J. H., 1998, Origins of the Ancient Constellations: I. The Mesopotamian Traditions, Journal of the British Astronomical Association (JBAA) 108

Sawitar, W., 2009, Star and the Universe: The Ancient Cultures of Indonesia, “Stars of Asia Workshop” at National Astronomical Observatory of Japan – Mitaka – Tokyo, 11-14 Mei 2009

Sawitar, W., 2015, Astronomi dalam Cerita Rakyat Nusantara, Makalah pada Seminar Astronomi dalam Budaya Nusantara (SINDARA) di Universitas Ahmad Dahlan Yogyakarta (30/05/2015)

Sindhunata, 2011, Pranata Mangsa – Seri Lawasan, Gramedia (KPG), Jakarta

 

KAMUS

Prawiroatmodjo, S., 1991, Bausastra Jawa – Indonesia, Gunung Agung, Jakarta

Suparlan, Y. B., 1988, Kamus Kawi – Indonesia, Penerbit Kanisius, Yogyakarta

 

 

SITUS

https://lhldigital.lindahall.org/cdm/compoundobject/collection/astro_atlas/id/1200/show/1174/rec/33

https://www.allthesky.com/constellations/pisces/

https://www.ianridpath.com/atlases/urania/urania27.jpg

https://www.ianridpath.com/startales/Pisces.htm

https://articles.adsabs.harvard.edu/pdf/2013JIMO...41...43H

 

https://www.ta3.sk/IAUC22DB/MDC2007/Roje/pojedynczy_obiekt.php?kodstrumienia=00030&colecimy=0&kodmin=00001&kodmax=01035&sortowanie=0

https://www.ta3.sk/IAUC22DB/MDC2007/Roje/pojedynczy_obiekt.php?kodstrumienia=00144&colecimy=1&kodmin=00001&kodmax=00569&sortowanie=0

https://www.ta3.sk/IAUC22DB/MDC2007/Roje/pojedynczy_obiekt.php?kodstrumienia=00372&colecimy=1&kodmin=00001&kodmax=00569&sortowanie=0

https://www.ta3.sk/IAUC22DB/MDC2007/Roje/roje_lista.php?corobic_roje=0&sort_roje=0

https://earthsky.org/astronomy-essentials/Pisces-heres-your-constellation

 

https://en.wikipedia.org/wiki/Chinese_constellations

https://en.wikipedia.org/wiki/Black_Tortoise

https://en.wikipedia.org/wiki/List_of_meteor_showers

https://en.wikipedia.org/wiki/Pisces_(constellation)

https://en.wikipedia.org/wiki/Pisces_in_Chinese_astronomy

 

https://exoplanet.eu/catalog/

https://exoplanetarchive.ipac.caltech.edu/cgi-bin/TblView/nph-tblView?app=ExoTbls&config=PS

https://exoplanetarchive.ipac.caltech.edu/docs/counts_detail.html

https://hubblesite.org/contents/media/images/2008/16/2342-Image.html?Topic=105-galaxies&keyword=NGC%20520

https://id.wikipedia.org/wiki/Alpha_Piscium

 

https://id.wikipedia.org/wiki/Omicron_Piscium

https://id.wikipedia.org/wiki/Eta_Piscium

https://id.wikipedia.org/wiki/Zeta_Piscium

https://iopscience.iop.org/article/10.1086/311314/fulltext/975702.text.html

https://iopscience.iop.org/article/10.1086/509073

 

https://pantheon.org/articles/b/bythos.html

https://pantheon.org/articles/i/ichthyocentaur.html

https://penelope.uchicago.edu/Thayer/E/Gazetteer/Topics/astronomy/_Texts/secondary/ALLSTA/Pisces*.html

https://sabdadewi.wordpress.com/2014/09/27/kalender-pranata-mangsa/

https://ssd.jpl.nasa.gov/?meteor_streams

 

https://ui.adsabs.harvard.edu/abs/1967SCoA...11..183K/abstract

https://ui.adsabs.harvard.edu/abs/2013JIMO...41...43H/abstract

https://www.amsmeteors.org/meteor-showers/2017-meteor-shower-list/

dan situs yang tertulis pada artikel.

 

 

PERANTI LUNAK

Stellarium 0.12.4 dan Stellarium 0.20.1