Written by widya sawitar

User Rating: 0 / 5

Star InactiveStar InactiveStar InactiveStar InactiveStar Inactive
 

OPHIUCHUS

SANG PENAKLUK ULAR

(Bagian Kedua)

 

Widya Sawitar

 

“ … Recent studies using the latest X-ray and infrared observations reveal
more than 300 young stellar objects within the large central cloud.
Their median age is only 300,000 years, very young compared to some of the universe's oldest stars, which are more than 12 billion years old … ”
nasa.gov/spitzer/multimedia )

 

Gambar 1 Rho Ophiuchi Cloud Complex
Hasil bidikan dari NASA’s Wide-field Infrared Explorer atau WISE.
Lokasinya sedikit di atas jalur putih Bima Sakti, di perbatasan dengan Scorpius
yang merupakan lokasi pembentukan bintang yang terletak relatif dekat dengan kita
sehingga, layaknya Nebula Orion, maka daerah ini menjadi objek yang banyak dipelajari secara detail.

Nebula yang berwarna putih adalah akibat proses pemanasan dari bintang didekatnya,
menghasilkan apa yang disebut sebagai nebula emisi.
Yang berwarna merah terang di kanan bawah adalah cahaya dari bintang ditengahnya, Sigma Scorpii,
sebagai dampak kehadiran debu yang menyelimutinya
dan menghasilkan objek yang biasa disebut sebagai nebula refleksi.
Lokasi yang gelap yang tersebar di seluruh area gambar adalah wilayah yang penuh dengan gas dingin yang kerapatannya besar sehingga menghalangi cahaya latar belakang
dan hal ini menghasilkan apa yang disebut sebagai nebula absorpsi atau dark nebulae.
Dengan panjang gelombang merah yang panjang, daerah ini relatif terkuak walau karena padatnya debu menjadi relatif sulit untuk melihat ke kedalamannya.
Sementara itu, bintik-bintik berwarna merah muda merupakan bintang-bintang yang baru lahir
di mana sebagiannya masih berselimutkan nebula pembentukannya.
Apabila diamati dengan detektor berbasis cahaya kasat mata,
maka bayi bintang ini tersembunyi dalam nebulanya.

Juga tampak adanya bintang-bintang yang tergolong sangat tua yang terdapat di Bima Sakti
yang berlokasi dalam gugus bola,
yaitu M80 (bintik biru tua di kanan atas) dan NGC 6144 (bawah agak di tengah).
Selain itu terdapat galaksi PGC 090239 ( titik merah redup sebelah kanan nebula emisi, arah pukul 3). Adapun bintang Antares (tidak tampak) berada di kiri bawah
yang ditandai dengan adanya efek difraksi optik teleskop angkasa berupa 2 garis biru.
Credit: NASA/JPL-Caltech/WISE Team - WISE
en.wikipedia.org/Rho Ophiuchi Cloud Complex )

 

Seperti yang telah dipaparkan pada Ophiuchus Bagian Pertama bahwa

 “Ophiuchus merupakan salah satu rasi bintang Zodiak dan terbagi dua oleh ekuator langit nyaris sebanding, walau yang berada di belahan selatan sedikit lebih luas. Namanya berbasis Yunani adalah pemegang atau sebut pawang ular. Wilayahnya di antara Aquila, Serpens, Scorpius, Sagittarius, dan Hercules. Membentang dari sebelah timur kepala Sang Perkasa Hercules hingga ke Scorpius; sebagian wilayahnya berada di dalam jalur putih Bima Sakti. Walaupun senantiasa digambarkan bersama ular, tetapi identifikasi bintang anggotanya antara sang tokoh dengan ularnya berbeda. Ophiuchus kini merupakan rasi bintang Zodiak yang ke 9, diapit oleh Scorpius dan Sagittarius. Matahari melewati daerah ini antara tanggal 29 November hingga 18 Desember.    Keunikannya tampak jelas tergambar di atas bahwa Ophiuchus diapit oleh Serpens (ular) yang terbagi 2, yaitu bagian Serpens Caput (kepala) dan Serpens Cauda (ekor). Gambarannya merupakan pengejawantahan seorang pria dengan ular melingkar di pinggangnya. Dia memegang sisi di mana terdapat kepala ular di tangan kiri dan sisi ekornya dengan tangan kanannya. Ular itu sendiri merupakan rasi bintang yang berdiri sendiri. Ophiuchus dulunya juga disebut Serpentarius, yang ditemukan pada beberapa atlas yang lebih tua seperti pada karya Johann Bayer dan Johannes Hevelius. Adapun Flamsteed dan Bode sekedar memasukkan nama alternatif tersebut ke dalam katalognya. Namun, tetap menyebut Ophiuchus untuk wilayah langit tersebut.”

 

Kali ini akan ditelusuri objek-objek yang cukup menyita perhatian para pemerhati langit, baik dari kalangan profesional maupun astronom amatir.

 

OBJEK MENARIK

Pada tahun 123 di dalam rasi bintang ini dijumpai sebuah nova. Penemuan nova ini adalah yang kedua setelah temuan Hipparchos pada tahun 134 SM di rasi bintang Scorpius. Kembali di Ophiuchus terlihat lagi nova pada tahun 1230. Sayangnya, saat itu pengamatan hanya berbasis visual dan data rinci dapat dikatakan sudah hilang.

Pada tahun 1604, salah seorang murid dari Kepler yang bernama Brunowski, pada tanggal 10 Oktober 1604, menemukan “nova” yang lokasinya di kaki sebelah timur dekat bintang Theta Ophiuchi. Terakhir adalah tanggal 28 April 1848, yang dilihat pertama kali oleh Hind yang memiliki puncak kecerlangan magnitudo visualnya adalah 4 (kasat mata). Selain itu ada banyak objek Messier atau objek menarik lainnya (https://en.wikipedia.org/wiki/Messier_object).

MESSIER 9

(https://www.messier.seds.org/m/m009.html)

Ditemukan oleh Charles Messier dan diberi indeks M9 pada katalognya pada tanggal 28 Mei 1764. Nama lainnya NGC 6333. Dijuluki saat itu dengan “nebula tanpa bintang" dengan diameter sudut 3 menit busur. Selang 20 tahun kemudian, William Herschel berhasil melihat bahwa sebenarnya nebula tersebut merupakan objek yang terdiri dari banyak bintang yang jarak satu dengan lainnya sangat berdekatan.

M9 merupakan salah satu gugus bola yang dekat ke pusat Bima Sakti, dengan jarak hanya sekitar 5500 tc. Diameter liniernya mencapai 90 tahun cahaya. Secara visual diameter sudutnya kisaran 3 – 4 menit busur. Namun, dengan perekaman foto dapat mencapai 9,3 menit busur. Di sebelah utara dan barat, cahayanya secara signifikan lebih redup dan hal ini juga karena berbatasan dengan daerah padat materi antar bintang (dark nebula) yang dikenal sebagai Barnard 64. Dengan karakter ini diperkirakan kecerlangan mutlaknya mencapai minus 8,04 atau besaran luminositasnya mencapai 120.000 kali luminositas Matahari. Secara visual tampak lonjong. Layaknya gugus bola pada umumnya bahwa bintang-bintangnya terkonsentrasi dipusatnya.

Tabel 1

Gambar 2
Keunikannya, merupakan gugus bola yang diketahui dekat dengan pusat Bima Sakti.
Foto diambil pada bulan April 1995 dengan menggunakan teleskop berdiameter 90 cm.
Credit: AURA/NOAO/NSF
(https://www.messier.seds.org/more/m009_more.html)

Diketahui bahwa gugus ini sedang bergerak menjauhi kita dengan kecepatan 224 km/s. Juga ditemukan adanya 13 bintang variabel di mana 10 diantaranya ditemukan oleh Walter Baade. Bintang paling terang memiliki magnitudo visual 13,5 sehingga hanya dapat dilihat dengan teleskop. Adapun kelas spektrum gugus dikelompokkan sebagai kelas F2. Gugus ini dengan memakai binokuler (10x50) hanya tampak layaknya nebula berbentuk lingkaran berkabut. Lokasinya dekat bintang Sabik (35 Eta Ophiuchi; spektrum A2 V), arah tenggara pada kisaran jarak 3 derajat. Sementara itu, kisaran 80 menit busur, di timur laut gugus terdapat juga gugus bola yang lebih redup (m = 8,25), lebih kecil, dan ternyata juga lebih jauh 2 kali lipat, yaitu NGC 6356. Sebelah tenggaranya dengan jarak busur yang sama terdapat NGC 6342 yang juga lebih kecil (3’) dan lebih redup lagi (m = 9,7).

MESSIER 10
(https://www.messier.seds.org/m/m010.html)

Ditemukan oleh Messier dan pada tanggal 29 Mei 1764 dikatalogkan dengan indeks nomor 10. Nama lainnya NGC 6254 dan merupakan gugus bola yang cemerlang. Dengan perekaman foto bahwa diameter sudutnya mencapai 20 menit busur (2/3 piringan Bulan). Diameter liniernya kisaran 83 tc. Namun, yang tampak jelas secara visual adalah pusatnya di mana bintang anggotanya terkonsentrasi dan mencapai diameter 35 tc. Gugus bola ini  bergerak menjauh dengan kecepatan sekitar 69 km/s.

Tabel 2

Bentuk pusatnya cenderung tampak lingkaran (seperti buah pir menurut Mallas) dan jarang dijumpai bintang variabel dan baru diketahui terdapat 4 buah (Burnham). Juga disebut oleh Messier sebagai “nebula tanpa bintang” dan kembali dinyatakan sebagai kumpulan bintang oleh William Herschel.

Gambar 3
Hidrogen, Helium, dan Bintang Gemintang di M10.
Matahari menggunakan hidrogen sebagai bahan bakar untuk membangkitan energy
melalui fusi nuklir (daur hidrogen atau reaksi proton-proton).
Tatkala bahan bakar menipis, maka bintang akan menjalani evolusinya menjadi raksasa merah-jingga.
Inilah yang dijumpai pada M10 yang tampak pada foto di atas.
Hadirnya bintang-bintang biru terang menampakkan bintang-bintangnya sedang dalam tahap raksasa di cabang horizontal di mana proses “pembakaran”nya dengan kondisi temperatur yang tinggi adalah pembakaran helium menjadi karbon. Sementara itu, yang terlihat samar, redup, seolah di foto berwarna keabu-abuan adalah yang masih dalam kondisi di mana berlangsung daur hidrogen dipusatnya.
Credit: Till Credner, Sven Kohle (Bonn University), Hoher List Observatory
(https://apod.nasa.gov/apod/ap990312.html)

MESSIER 12
(https://www.messier.seds.org/m/m012.html)

Ditemukan dan dikatalogkan Messier tanggal 30 Mei 1764 dan nama lainnya adalah NGC 6218. Bentuk antara gugus bola atau gugus terbuka yang padat bintang. Kasus serupa pada M11 dan sepintas mirip tetangganya, yaitu M10; hanya sedikit lebih besar dan lebih redup di mana keunikannya bahwa anggotanya tidak terlalu terkonsentrasi dipusatnya layaknya gugus bola pada umumnya. Dalam klasifikasinya, Harlow Shapley, memasukkannya dalam kategori tipe IX. Dengan diketahui jarak dan diameter sudutnya, ditaksir diameter liniernya mencapai bentangan 75 tc. Berbeda dengan M9 dan M10, bahwa M12 sedang mendekati kita dengan kecepatan 16 km/s.

Helen Sawyer Hogg menentukan tipe spektrumnya adalah F7 dan kecerlangan rata-rata dari 25 bintang paling terang adalah 13,97. Bintang paling terang sekitar 12,0 dan populasi bintang pada cabang horisontal (tahap evolusi bintang raksasa) sekitar 14,9 (berbasis Deep Sky Field Guide to Uranometria 2000.0). Alan Sandage menemukan 13 bintang variabel di gugus ini. Pada awalnya disebut “nebula tanpa bintang” dan 10 tahun berselang oleh Bode juga menyatakan hal yang sama. Baru pada tahun 1783, sekali lagi William Herschel berhasil membuktikan bahwa nebula tersebut adalah gugus bintang. Lokasi dekat M10, kisaran 2 derajat barat dayanya atau 2 derajat ke utara; atau 8,5 derajat ke timur dari bintang Delta Ophiuchi

Tabel 3

Gambar 4
Merupakan foto dengan warna aslinya (bentang gambar 20,3’)
yang diambil pada bulan Juni 1995 yang dilakukan dengan fasilitas The Burrell Schmidt Telescope of Case Western Reserve University’s Warner and Swasey Observatory
yang berlokasi di Kitt Peak, dekat Tucson, Arizona,
selama program kerja praktek penelitian untuk tingkat sarjana (REU)
yang diselenggarakan oleh Observatorium Nasional Kitt Peak
dan didukung oleh National Science Foundation.
Credit: REU Program/NOAO/AURA/NSF
(https://www.noao.edu/image_gallery/html/im0773.html

 

Gambar 5
Daerah pusat M12 yang difoto dengan the FORS-1 multi-mode instrument
pada ESO's Very Large Telescope yang berlokasi di Cerro Paranal, Chile.
Bentang foto mencakup 3,5 menit busur, setara bentangan 23 tc.
Foto berbasis pengambilan dengan filter warna berbeda (U, B, V, R, dan H-alpha).
Pengolah citra adalah Guido De Marchi (ESA),
serta Kristina Boneva dan Haennes Heyer (ESO).
Credit: ESO (https://www.eso.org/public/images/eso0604a/)

MESSIER 14
(https://www.messier.seds.org/m/m014.html)

Dikatalogkan oleh Messier sebagai M14 pada tanggal 1 Juni 1764, dan memiliki nama lain NGC 6402. Merupakan gugus bola yang sejatinya berbentuk ellipsoidal mirip bola rugby. Dulu Shapley memprediksi jaraknya sekitar 64.000 tc; Mallas dan Kreimer menduga hanya kisaran 23.000 tc, Glyn/Jones/Kinman/Becvar kisaran 24.000 tc, dan berbasis Sky Catalogue 2000.0 sekitar 38.000 tc. Taksiran terakhir adalah 30.000 tc. Gugus ini termasuk kategori tipe elips 9 (Shapley). Bagian pusatnya membentang kisaran 3 menit busur dengan total diameter sudut 11,7 menit busur.

Gugus ini tidak terlalu terkonsentrasi dipusatnya (Burnham). Kecerlangannya sekitar 7,6 dan dan ditaksir kecerlangan mutlaknya mencapai minus 9,12, atau dengan luminositas sekitar 400.000 kali Matahari. Tampak redup karena jaraknya yang relatif jauh (bandingkan dengan M10 dan M12).

Tabel 4

Bintang paling terang magnitudo visualnya 14,0, dan bintang-bintang cabang horisontal 17,2. Helen B. Sawyer Hogg memberi besar rata-rata dari 25 bintang paling terang 15,44 dan tipe spektrum keseluruhan adalah G0 (Penelitian terakhir: F4). Gugus ini termasuk memiliki banyak bintang variabel, yaitu 70 buah dan umumnya tergolong bintang variabel W Virginis (Populasi II Cepheids; Demers dan Wehlau, 1971).

Pada tahun 1938, dijumpai kehadiran objek langit yang dikenal sebagai nova. Diketahui baru pada tahun 1964 tatkala Amelia Wehlau (University of Western Ontario) dengan teleskop 72 inci di David Dunlap Observatory meneliti kembali koleksi plat foto yang dihasilkan Hogg antara tahun 1932 dan 1963 (Hogg dan Wehlau, 1964). Nova ini terdeteksi pada 8 plat foto yang diambil antara tanggal 21 hingga 28 Juni 1938, sebagai bintang bermagnitudo 16. Tingkat kecerlangan inilah yang mungkin menyebabkan terlewatnya perhatian terhadap fenomena nova tersebut. Hogg memperkirakan bahwa ini sesuai dengan magnitudo mutlak minus 1,5 (adapun hasil modern adalah minus 0,7). Analisisnya bahwa seharusnya magnitudo visual 9,2 sehingga terang mutlaknya minus 7,5 (sesuai penelusuran modern), atau hampir 5 magnitudo lebih terang daripada anggota gugus yang paling terang. Inilah yang akhirnya disimpulkan bahwa objek ini adalah nova. Penemuan ini merupakan penemuan nova kedua yang terjadi pada sebuah gugus di mana yang pertama di M80 (T Scorpii, 1860) dan merupakan nova pertama yang berhasil difoto. Nova ini tahun 1990 menjadi target dari teleskop Hubble.

Gambar 6
M14 merupakan gugus bola yang cenderung berbentuk elips yang relatif redup.
Foto diambil dengan bantuan CCD dan fasilitas teleskop berdiameter 0,9 m
di Kitt Peak National Observatory (KPNO) pada bulan April 1998.
Bentang foto adalah 11,6 menit busur (sebanding diameter sudut M14).
Credit: NOAO/AURA/NSF
(https://www.noao.edu/image_gallery/html/im0836.html)

Terkait adanya nova (https://www.messier.seds.org/more/m014_hst.html), bahwa teori yang paling banyak diterima saat ini adalah nyaris semua nova sebenarnya bermula dari adanya interaksi gravitasi antara 2 bintang yang relatif sangat berdekatan. Salah satunya merupakan bintang normal layaknya Matahari, sedangkan pasangannya berupa Katai Putih, yaitu bintang panas berukuran kecil dengan kepadatan dan gravitasi yang sangat besar. Akibatnya, selubung hidrogen bintang normal akan terhisap ke Katai Putih. Lonjakan materi tambahan di permukaan Katai Putih membuat daerah permukaannya terjadi lonjakan kerapatan dan temperatur yang luar biasa besar yang memicu terjadinya ledakan termonuklir layaknya bom hidrogen. Hamburan energi yang luar biasa hebat di permukaan Katai Putih inilah yang membuat kecerlangan melonjak drastis diikuti dengan pelontaran materi berkecepatan ribuan km/s.

Dalam serangkaian penelitian berbasis pengamatan selama beberapa tahun, Michael Shara dari Space Telescope Science Institute dan koleganya justru memperoleh foto berlandas acu Bumi dengan teleskop di Chili dan Hawaii, yang dirilis tanggal 14 Oktober 1990. Diperoleh hasil bahwa di lokasi nova saat ini tampak adanya sistem bintang ganda yang diduga kuat sebagai sumber nova tahun 1938.

Pada tahun 1983, teleskop 4-m (CTIO) dan Teleskop Anglo-Australia (3,9 m) digunakan dalam upaya untuk mencari sisa-sisa nova (Shara et.al., 1986). Pada tahun 1991, para astronom menggunakan teleskop Hubble untuk mengamati wilayah di sekitar nova. Namun, tidak dapat menemukan bintang ataupun remah-remah letupannya (Margon et.al. 1991).

Selain itu, pada tahun 1997, di gugus ini juga dijumpai adanya Bintang Karbon (bintang dengan garis karbon kuat dalam spektrumnya, Cote et.al., 1997). Bintang ini mungkin telah kehilangan lapisan terluarnya akibat interaksi-dekat dengan anggota gugus lainnya sehingga pusatnya yang kaya dengan unsur karbon “terlihat”.

Dalam sejarah pencitraan dengan adanya teknologi CCD, maka M14 merupakan gugus pertama yang berhasil difoto dengan CCD. Keunikan lain bahwa letak gugus ini cenderung terisolasi, penampakannya di kubah langit agak jauh dari bintang terang. Mungkin pedoman yang paling mudah adalah dengan memakai M10 sebagai patokannya, yaitu kisaran 0,8 derajat ke arah utara dan 10 derajat ke arah timurnya.

Kondisi jarak yang cukup jauh dan keredupan bintang-bintangnya, maka tidak mudah melihat separasi antar anggotanya seperti gugus yang telah dibahas sebelumnya. Dengan teleskop kecil hanya tampak seperti galaksi elips, pusatnya berkabut tebal dan meredup ketepiannya. Dengan teleskop berdiameter 8 inci pun separasi tersebut masih sulit dilakukan kecuali dengan kondisi langit yang ideal. Sebenarnya dekat M14 juga terdapat gugus bola dengan nama NGC 6366 (m = 9,2; posisi 2 derajat ke selatan dan 2,5 derajat ke barat dari M14).

MESSIER 19
(https://www.messier.seds.org/m/m019.html)

Ditemukan oleh Messier pada tanggal 5 Juni 1764 dan kembali William Herschel membuktikan bahwa objek ini merupakan sekumpulan bintang yang padat dan pada gilirannya, putra Herschel, yaitu John Herschel menyatakan bahwa objek ini terdiri dari sangat banyak bintang dengan kecerlangan antara 14 hingga 16. Dalam catalog bernomor 19 dan nama lain adalah NGC 6273. Smyth melihat M19 sebagai gugus bola berukuran kecil yang terisolasi dan pusatnya tergolong terang. Lokasinya sekitar 8 derajat arah timur dari Antares (Alpha Scorpii).

Shapley menggolongkan bentuknya sebagai tipe elipsitas 6 (lonjong) di mana jumlah bintang arah sumbu panjang kisaran 2 kali arah sumbu pendeknya. Lokasinya sekitar 8 derajat di atas bidang galaksi dan diketahui sedang menjauh dengan kecepatan 146 km/s. Didekatnya dijumpai gugus bola NGC 6293 dan NGC 6284.

Tabel 5

Gambar 7
M19 layaknya gugus bola pada umumnya, hanya saja bentuknya yang relatif lonjong.
Faktanya, M19 merupakan gugus bola yang paling lonjong (ellipsoid)
di antara 160 gugus bola dengan bentuk seperti ini.
Bentuk anehnya diperkirakan karena lokasinya dekat dengan pusat Bima Sakti,
yaitu dengan jarak antara 5000 – 5200 tc.
Atau kemungkinan karena dampak hadirnya materi antar bintang.
Jarak ke Matahari diperkirakan antara 27.000 – 28.000 tc dengan bentang linier sekitar 60 tc.
Jumlah anggotanya ditaksir 100.000 bintang.
Relatif mudah ditemukan dengan binokuler (kèkeran) karena relatif terang (m = 6,8).
Credit: D. Williams, This email address is being protected from spambots. You need JavaScript enabled to view it.">N. A. Sharp, AURA, NOAO, NSF (https://apod.nasa.gov/apod/ap000719.html)

M19 cukup kaya dan padat bintang dan sangat terkonsentrasi (kelas VIII berbasis penggolongan Shapley). Pada jaraknya dan besar diameter sudut sekitar 17 menit busur, maka hal ini sesuai dengan diameter linear sebesar 140 tc untuk sumbu utama dan kisaran 60 tc untuk sumbu pendeknya. Kecerlangan mutlak minus 9. Secara visual dimameter sudut kisaran 6 menit busur, dan secara fotografis 13,5 menit busur.

Kecerlangan semu bintang paling terang adalah 14, untuk cabang horisontal sekitar 15,3 (Deep Sky Filed Guide to Uranometria 2000.0). Hogg memberi rata-rata magnitudo dari 25 bintang anggota terangnya sebesar 14,8 dengan kelas spektrum F5 (dalam Handbuch der Physik, Kenneth Glyn Jones). Selama ini baru dijumpai 4 bintang variabel dan tipenya adalah RR Lyrae.

MESSIER 62
(https://www.messier.seds.org/m/m062.html)

Messier menemukan objek ini tanggal 7 Juni 1771 dan tentang posisi dikoreksi tanggal 4 Juni 1779 yang lalu dikatalogkan dengan nomor 62 (apabila sesuai penemuan, mungkin akan dikatalogkan dengan nomor antara 49 atau 50). Kini memiliki nama lain, yaitu NGC 6266. Diketahui bentuknya sangat unik dan ini diakui pula oleh William Herschel, yaitu mirip M19 dan menjulukinya sebagai “miniature M3”. Diduga kuat karena posisinya yang dekat dengan pusat Bima Sakti (6.100 tc) bahkan hingga inti gugusnya juga bergeser dan tidak berlokasi tepat dipusatnya.

Tabel 6

Gambar 8
Foto inframerah berbasis teleskop 2MASS dengan ragam filter berbasis panjang gelombang inframerah. 2MASS: The Two Micron All Sky Survey merupakan projek gabungan
antara University of Massachusetts di Amherst (UMASS) dan Infrared Processing and Analysis Center (IPAC) di Caltech. Fasilitasnya berupa 2 teleskop inframerah, yaitu
Northern 2MASS Telescope (Cassegrain berdiameter 1,3 meter) di Mt. Hopkins dekat Tucson, Arizona
dan Southern 2MASS Telescope di Cerro Tololo.
(https://www.messier.seds.org/more/m062_more.html)

 

Gambar 9

(https://chandra.harvard.edu/photo/2003/ngc6266/)

Berdasarkan dimensi ukuran dan kecerlangannya, M62 sangat mirip dengan tetangganya, M19. Secara fisik tampak berbeda karena faktor jarak. Diameter sudutnya (setengah piringan Bulan) setara dengan diameter linier sekitar 100 tc. Terdapat lebih banyak perbedaan intrinsik lainnya antara kedua gugus bola ini. Pada M62 dijumpai 89 bintang variabel yang hampir semuanya tipe RR Lyrae, sementara M19 hanya ditemukan 4 saja. Selain itu, pusat gugus M62 sangat kompak dan diduga mengalami tahapan layaknya keruntuhan pusat bintang, terkompresi pada perjalanan hidupnya. Hal yang hampir serupa dijumpai pada objek Messier lainnya, yaitu M15, M30, M70, dan M79. Kendati demikian, sebenarnya juga berbeda dengan M30 karena M30 justru memiliki lebih banyak bintang ganda sinar-X (bukan RR Lyrae) berbasis observasi dengan fasilitas observatorium angkasa Chandra (berbasis sinar-X) dan dugaan kuat karena interaksi hebat antar bintang anggotanya.

MESSIER 107
(https://www.messier.seds.org/m/m107.html)

Nama lainnya NGC 6171. Sebenarnya pertama kali ditemukan oleh Pierre Méchain (1782). Adapun Hogg (1947) menambahkan pada daftar katalog Messier bersama M105 dan M106 (inipun sebenarnya sudah dilakukan oleh Méchain sebelumnya untuk penerbitan katalog tersebut). Uniknya William Herschel pun secara terpisah menemukan objek yang sama tanggal 12 Mei 1793 dan diberi indeks H VI.40 dan kala itu kembali membuktikan bahwa objek ini adalah kumpulan bintang.

M107 terdeteksi memiliki beberapa daerah gelap yang tidak umum dijumpai pada gugus bola. Pola sebaran bintang anggotanya dapat dikatakan "sangat terbuka" (Kenneth Glyn Jones), yang menunjukkan bahwa gugusan ini memungkinkan kita berkesempatan besar untuk menelusuri karakter ruang antar bintangnya dan sejatinya juga merupakan laboratorium untuk mempelajari proses evolusi galaksi.

Tabel 7

 

Gambar 10
M107 yang berhasil diabadikan menggunakan alat detector CCD.
Credit: AURA/NOAO/NSF (N.A. Sharp, NOAO)
(https://www.messier.seds.org/more/m107_more.html)

Secara visual membentang 3 menit busur dan secara fotografis 13. Dengan jarak 21.000 tc, maka diameter linier kisaran 80 tc. Diketahui gugus ini bergerak mendekat (147 km/s) dan terdapat 25 bintang variabel. Keunikan lain bahwa keseluruhan gugus memiliki kandungan yang dominan unsur berat (lebih berat dari helium).

 

Rho Ophiuchi: Tempat kelahiran bintang gemintang

Bintang-bintang yang baru lahir terdeteksi dari balik selimut gas dan debu di daerah yang dikenal sebagai awan gelap (dark cloud) Rho Ophiuchi. Citra diperoleh dengan teleskop inframerah Spitzer (NASA). Daerah Rho Ophiuchi merupakan wilayah yang banyak dijumpai proses pembentukan bintang dan lokasinya dapat dikatakan terdekat dengan Matahari dengan jarak hanya 400 – 407 tc. Materi awan didominasi molekul hidrogen. Dari detektor sinar-X dan inframerah diketahui adanya tidak kurang dari 300 bintang yang akan (protostar) atau baru lahir dengan usia kisaran 300.000 tahun. Sangat muda bila dibandingkan semisal usia bintang yang sudah 12 milyard tahun.

 

Gambar 11
Lokasi Rho Ophiuchi yang berdekatan dengan Bima Sakti.
Tampak awan berwarna warni pada bagian kanan gambar.
( Credit: Guisard / Paranal / https://www.eso.org/gallery )
https://en.wikipedia.org/wiki/File:Guisard_-_Milky_Way.jpg )

Gambar 12
Lokasi Rho Ophiuchi (kanan atas; biru) yang berdekatan dengan bintang Antares (kiri; merah).
Juga tampak gugus M4 (bawah kiri) dan bintang Al Niyat (Sigma Scorpii; bawah tengah)
(Stellarium 0.12.4)

Awan gelap yang utama dikenal sebagai Lynds 1688 (citra pada gambar 13: warna biru terdeteksi dengan menggunakan panjang gelombang 3,6 micron, hijau 8 micron, merah 24 micron). Penelitian ini memberi kesempatan untuk memperoleh informasi tentang tempat dan proses lahirnya bintang-bintang, bahkan protoplanet atau secara umum terbentuknya sistem keplanetan seperti Tata Surya.

Gambar 13
Bintang-bintang yang baru lahir di kedalaman materi gelap Rho Ophiuchi
(Credit: NASA/JPL-Caltech/Harvard-Smithsonian CfA)
(nasa.gov/mission_pages/spitzer)

Warna dalam gambar ini dapat dikatakan sebagai cerminan temperatur relatif dan tahapan atau tingkatan evolusi bintangnya di mana yang termuda masih diselubungi oleh piringan gas dan debu (sisa pembentukan), serta tingkat kemungkinan terbentuknya sistem keplanetan (tergantung juga pada besar massa sisa pembentukan bintang induk). Sistem seperti ini tergambar pada foto sebagai objek berwarna merah muda di mana tampak jelas masih terselubung oleh nebula pembentuknya. Yang lebih tua, telah membubuskan selubung tersebut dan cenderung berwarna biru.

Awan yang berpendar warna putih yang tersebar luas di sisi kanan merupakan daerah debu yang dipanasi oleh bintang-bintang muda yang cemerlang di tepi kanan awan. Warna keseluruhan nebula ini selain tergantung pada temperatur, juga tergantung pada komposisi kimia dan ukuran bulir debunya. Sebagian besar bintang yang terbentuk saat ini, terkonsentrasi di filamen gas padat dan dingin yang tampak sebagai awan gelap di tengah bawah dan sisi kiri foto dengan latar belakang cerah dari debu yang relatif hangat. Meskipun radiasi inframerah pada 24 micron relatif dapat menembus wilayah debu dengan mudah, filamen gelap ini sejatinya tetaplah merupakan daerah yang sangat kedap, tampak gelap bahkan walaupun menggunakan detektor dengan panjang gelombang inframerah terpanjang yang digunakan.

Terkait teleskop Spitzer yang digunakan dalam memperoleh citra di atas, yang bertanggungjawab dalam pengelolaannya adalah Jet Propulsion Laboratory yang beroperasi untuk Science Mission Directorate di Washington. Operasi ilmiahnya dilakukan di Pusat Sains Spitzer di Institut Teknologi California dan di Pasadena. Sementara itu, pengelolaan JPL untuk NASA dilakukan oleh Caltech. Adapun fasilitas Spitzer's Infrared Array Camera dibangun di Goddard Space Flight Center, Greenbelt, Md dengan dipimpin oleh peneliti utamanya, yaitu Giovanni Fazio dari Harvard-Smithsonian Center for Astrophysics. Sementara itu fotometer pencitraan multi-band untuk Spitzer dibuat oleh Ball Aerospace Corporation, Boulder, Colorado; Universitas Arizona; dan Boeing – Amerika Utara, Canoga Park, California. Peneliti utamanya adalah George Rieke dari University of Arizona, Tucson. Di sini tampak jelas betapa kerjasama lintas institusi sangat diperlukan untuk memperoleh data penelitian.

 

Protoplanet di Awan Gelap Rho Ophiuchi.

Pada tahun 2001, sekelompok astronom melakukan pengamatan lanjutan terhadap sumber sinar-X baru yang ditemukan oleh ESA XMM-Newton dan teleskop angkasa Chandra. Mereka menyapu tepi awan atau materi gelap Rho Ophiuchi, salah satu daerah pembentukan bintang terdekat ke Matahari pada jarak sekitar 500 tc (140 pc) dan berhasil memperoleh citra dalam cahaya inframerah-dekat dengan instrument SOFI multi-mode yang dipasang pada New Technology Telescope (NTT; 3,5m) di ESO La Silla Observatory (Chile). Dengan menggunakan fasilitas tersebut dan juga Very Large Telescope (VLT), tim astronom ternyata pada tanggal 7 April 2001 menjumpai hadirnya piringan debu yang tebal yang menyelubungi bintang muda setipe dengan Matahari di tepi materi gelap dan masih termasuk dalam wilayah Bima Sakti. Penemuan ini dapat dikatakan tidak disengaja saat berjalannya program penelitian di atas.

Objek ini diduga sebagai cerminan awal terbentuknya Tata Surya. Ketidak-sengajaan penemuan dan juga sesuatu yang dianggap tidak terduga, maka sempat dijulukilah objek ini sebagai "Flying Saucer." Area-nya relatif terisolasi tanpa terganggu oleh pembentukan bintang tetangganya sehingga diharapkan terbentuknya sistem keplanetan akan berlangsung mapan. Berbeda dengan bintang sejenisnya yang saling berdekatan sehingga dapat jadi sebagian materi debu tersebut terdampak karena saling meradiasikan energinya. Berbasis penelitian awal, diduga massa gas dan debu pada piringan materinya bermassa sedikitnya 2 kali besar massa Jupiter. Jarak ke bintang induk kisaran 45 milyard km atau setara dengan 5 kali jarak Matahari – Neptunus.

Tim ini kemudian menjumpai 7 bintang muda yang menunjukkan nebula refleksi (terang) yang terbelah oleh jalur gelap (mirip burger; gambar 14) yang mengindikasikan adanya cakram debu. Objek ini berada di kedalaman awan gelap Rho Ophiuchi. Taksiran usianya sekitar 100.000 tahun.

Gambar 14
Protoplanet di Awan Gelap Rho Ophiuchi.
Penemuan bintang-bintang muda yang diselubungi materi debu pembentuknya,
yang bentuknya menyerupai piringan yang bergerak bersama bintangnya.
Dugaan kuat bahwa pada bintang-bintang tersebut sedang dalam tahap evolusi
membentuk sistem keplanetan layaknya Tata Surya. Foto ini dirilis tanggal 7 Mei 2002
Anggota Team Peneliti:
Nicolas Grosso (Max-Planck-Institut für extraterrestrische Physik, Garching, Germany), João Alves (ESO, Garching, Germany), Kenneth Wood (School of Physics & Astronomy, University of St Andrews, Scotland, UK), Ralph Neuhäuser (Max-Planck-Institut für extraterrestrische Physik, Garching, Germany), Thierry Montmerle (Service d'Astrophysique, CEA Saclay,Gif-sur-Yvette, France) and Jon E. Bjorkman (Ritter Observatory, Department of Physics & Astronomy, University of Toledo, Ohio, USA).
Credit: ESO (European Southern Observatory)
(https://www.eso.org/public/news/eso0214/)

Di antara para astronom ada yang berpendapat bahwa usia objek pada citra di atas sedikitnya 1 juta tahun dan berada dalam tahap evolusi yang lebih lanjut dibandingkan dengan lainnya yang berdekatan. Karena objek dijumpai pada tepian awan gelap yang relatif kekedapan materinya kecil, maka memberi kesempatan luas untuk penelitian yang mendalam, tidak terganggu materi antar bintang disekitarnya.

 

NGC 6240: Kegaduhan antar Galaksi

Tidak semua galaksi bentuknya beraturan. Contohnya seperti yang ditunjukkan pada hasil bidikan teleskop Hubble (2008; program NASA/ESA) yang merupakan galaksi yang dikenal sebagai NGC 6240. Kemudian, para tim peneliti memfokuskan citra ini lebih dalam lagi dengan bantuan peranti Wide Field Camera 3 dan Advanced Camera for Surveys yang terpasang pada teleskop (gambar 15).

Gambar 15
Galaksi NGC 6240 dengan bentuk tidak beraturan.
Foto yang dirilis tanggal 18 Mei 2015 ini diabadikan dengan fasilitas teleskop Hubble,
yaitu Wide Field Camera 3 dan Advanced Camera for Surveys.
Credit: NASA, ESA, the Hubble Heritage (STScI/AURA)-ESA/Hubble Collaboration,
and A. Evans (University of Virginia, Charlottesville/NRAO/Stony Brook University)
(https://www.spacetelescope.org/images/potw1520a/)

Jarak NGC 6240 diketahui sekitar 400 juta tc. Galaksi ini tampak memiliki bentuk memanjang dengan gumpalan bercabang, bentukan busur, dan tampak pula bentuk seperti ekor. Sepintas mirip bentuk kupu-kupu (ada yang membayangkan lobster). Sejatinya bentuk ini sebagai akibat terjadinya penyatuan antar 2 galaksi (sebut saja tabrakan antar galaksi). Salah satu dampaknya adalah pembentukan banyak bintang baru, bahkan meledaknya bintang gemintang muda dalam ujud supernova. Supernova yang berhasil dideteksi ditemukan pada tahun 2013 dan diberi nama SN 2013dc. Supernova ini termasuk SNIIP di mana saat ditemukan kecerlangannya 18,7.

Gambar 16
Adam Block, seorang astrophotographer dan astronomy educator di Mt. Lemmon SkyCenter – Universitas Arizona, pada bulan April 2013 melakukan pemotretan
dengan menggunakan Schulmann Telescope
dan berhasil menemukan sebuah bintik cerah pada NGC 6240 (pada gambar diberi tanda panah)
yang pada pemotretan sebelumnya tidak ditemukan. Dengan perbandingan kedua foto itulah
akhirnya disimpulkan bahwa yang dijumpai Adam Block adalah sebuah supernova.
(Credit: Sloan Digital Sky Survey/Adam Block)
(cdn.uanews.arizona.edu/s3fs-public0)
(uanews.arizona.edu/story/supernova-discovered-at-ua-skycenter)

Seperti diketahui bahwa pada pusat galaksi umumnya diduga terbentuk dari Lubang Hitam Supermasif. Nyatanya hal ini dijumpai pula di pusat NGC 6240. Uniknya karena berawal dari 2 galaksi yang kemudian bersatu, maka hal penyatuan yang sama seharusnya juga terjadi pada pusatnya. Kedua Lubang Hitam ini saling terikat gravitasi dan sambil saling mengedari dan mendekati satu sama lain. Jarak antar keduanya kini hanya sekitar 3.000 tc saja. Kategorinya sangat berdekatan karena mengingat diameter NGC 6240 mencapai 300.000 tc (bandingkan dengan Bima Sakti: 100.000 tc). Dianalisis bahwa kedua Lubang Hitam Supermasif ini tidak akan dapat lagi saling menjauh, bahkan diduga akan menyatu membentuk Lubang Hitam Supermasif Raksasa (Data teknis NGC 6240, dapat dilihat pada ned.ipac.caltech.edu/NGC6240).

Gambar 17
Foto ini mengungkapkan tahap terakhir dari penyatuan antara sepasang pusat galaksi yang bertabrakan.
Foto kiri adalah citra yang dihasilkan oleh teleskop Hubble.
Foto kanan adalah foto 2 pusat galaksi yang terus saling mendekat
yang diduga kuat terdiri dari 2 Lubang Hitam Supermasif.
Foto diambil dengan berbasis panjang gelombang inframerah agar dapat menembus ke kedalaman, menembus materi gas dan debu padat yang menyelubunginya.
Ditaksir pembentukan keduanya terjadi kisaran 10 hingga 20 juta tahun setelah mulai bertabrakan.
(Credits: NASA, ESA, and M. Koss (Eureka Scientific, Inc.))
(nasa.gov/feature/unveil-growing-black-holes-in-colliding-galaxies)

SN1604 Oph

Happy is the man who devotes himself to the study of the heavens;
their study will furnish him with the pursuit of enjoyments.
(Kepler)
https://hubblesite.org/contents/news-releases/2004/news-2004-29.html )

Supernova ini diidentifikasi juga sebagai Kepler’s Star, Kepler’s Supernova, atau SN Oph 1604 (Nama lainnya adalah V 843 Ophiuchi, lainnya G292.0+01.8 sebagai pemancar radio) karena ditemukan sebagai “a new star” oleh Johannes Kepler di arah rasi bintang Ophiuchus pada tanggal 17 Oktober 1604 (saat itu sebenarnya sudah terlihat oleh beberapa pengamat langit sejak tanggal 9 Oktober dan ini ditetapkan sebagai tanggal kejadian). Kala itu memiliki kecerlangan semu minus 2,2; bersaing dengan kecerlangan Venus atau Jupiter. Penelitiannya dituangkan pada bukunya, De Stella Nova in pede Serpentarii tahun 1606 yang diterbitkan di Praha. Istilah nova (new/baru) inilah yang seterusnya digunakan.

Gambar 18
Merupakan rangkaian pemotretan simultan dengan teleskop angkasa Hubble (panjang gelombang visual/optik - a), Spitzer (inframerah - b), dan Chandra (sinar-X - c), dan gabungan ketiganya (d).
Tim ini dipimpin oleh Ravi Sankrit dari Center for Astrophysical Sciences
dan William Blair dari Physics and Astronomy Department.
Keduanya di Johns Hopkins University – Baltimore, Md

Hubble/HST (18.a):
Tanggal pemotretan 28 – 29 Agustus 2003 dan 26 Mei 2004.
Dengan waktu pencahayaan 23.509 detik (6,5 jam)
Credit: NASA, ESA, R. Sankrit and W. Blair (Johns Hopkins University)
https://hubblesite.org/contents/media/images/2004/29/1584-Image.html

Spitzer/SST (18.b)
Tanggal pemotretan 25 Agustus 2004 dan 3 September 2004
dengan waktu pencahayaan 5.218 detik (1,5 jam)
Credit: NASA, R. Sankrit and W. Blair (Johns Hopkins University)
https://hubblesite.org/contents/media/images/2004/29/1589-Image.html

Chandra/CXO (18.c)
Tanggal pemotretan 30 Juni 2000
Credit: NASA, CXC and S. Holt (F.W. Olin College of Engineering)
https://hubblesite.org/contents/media/images/2004/29/1587-Image.html

Data Gabungan (18.d)
Chandra Data: S. Holt (F.W. Olin College of Engineering),
U. Hwang, R. Petre, and M. Corcoran (GSFC), E. Gotthelf (Columbia Astrophysics Lab),
G. Allen (Massachusetts Inst. of Tech.), J. Keohane (North Carolina).
The science team using this data: R. Sankrit and W. Blair (Johns Hopkins Univ.),
T. DeLaney (U. Minnesota and Harvard-Smithsonian/Center for Astrophysics),
L. Rudnick and J. A. Ennis (U. Minnesota), I. Harrus (Goddard Space Flight Center).
Hubble Data: R. Sankrit and W. Blair (Johns Hopkins Univ.), L. Rudnick (U. Minnesota),
T. DeLaney (U. Minnesota and Harvard-Smithsonian/Center for Astrophysics),
I. Harrus (Goddard Space Flight Center).
Spitzer Data: W. Blair, R. Sankrit, and P. Ghavamian (Johns Hopkins Univ.),
K. Borkowski and S. Reynolds (North Carolina State Univ.),
and K. Long (Space Telescope Science Inst.).
Credit: NASA, ESA, R. Sankrit and W. Blair (Johns Hopkins University)
https://hubblesite.org/contents/media/images/2004/29/1594-Image.html

 

SN 1604 Oph kini dikelompokkan sebagai supernova tipe Ia atau SNIa (Darling, p.274). Setelah era ini, maka terjadinya ledakan bintang yang kasat mata baru terjadi lagi pada tahun 1987 (terjadi di Awan Magelan Besar, arah Nebula Tarantula). Jarak SN 1604 Oph kisaran 13.000 tc dengan diameter linier sekitar 19 tc. Dugaan saat ledakan bahwa dorongan gelombang kejutnya memiliki kecepatan tidak kurang dari 10.000 km/s (efek ini kadang disebut interstellar tsunami) dan kini sisa materialnya dalam ujud nebula sedang bergerak mengembang dengan kecepatan 2.000 km/s. Tampak dari deteksi inframerah (Gambar 18.b) bahwa nebula didominasi oleh partikel debu mikroskopik dan sementara itu dari deteksi optik (Gambar 18.a) adalah daerah yang sangat padat dengan materi gas. Kecerlangannya yang luar biasa tinggi diperkirakan karena adanya materi selubung di sekitar bintang progenitor (praSN) yang berasal dari angin bintang yang berkesinambungan sebelum terjadinya ledakan. Ibarat kabut pada malam hari kita sinari, maka kabut tersebut akan berpendar.

Johann(es) Kepler (Graz – Jerman; 1571-1630)

Gambar 19
Posisi SN1604 Oph yang digambar pada buku De Stella Nova (1606. Berada di kaki Ophiuchus yang diidentifikasi sebagai N atau nova).
Credit: Kepler ( https://galileo.ou.edu/exhibits/new-star-foot-serpent-handler )

Sejak kecil, Kepler (Joannis Keppleri) dapat dikatakan sangat berbakat dalam bidang Matematika dan pengamatan langit. Saat usianya 6 tahun, sang ibu mengajaknya mengamati sebuah komet yang kala itu terlihat di kubh langit malam. Ketika Kepler menginjak usia 9 tahun, giliran ayahnya membawanya keluar pada suatu malam untuk mengamati bintang gemintang dan fenomena Gerhana Bulan. Dua rangkaian kejadian ini ternyata berkesan mendalam bagi Kepler yang membuatnya menekuni bidang Astronomi berbasis bakatnya dalam bidang Matematika dan Fisika.

Sebelum munculnya prediksi matematis oleh Titius-Bode tentang planet yang hilang (1772), bahwa hal inipun sudah sempat menjadi pemikirannya. Dari catatannya bahwa dinyatakan pada tahun 1596: “Inter Jovern et Martem interposui planetam“ atau “di antara Jupiter dan Mars“. Nyatanya di kemudian hari benar adanya ketika Piazzi berhasil menemukan Ceres (1801), walau bukan planet melainkan planetoid atau planet minor yang populer dengan sebutan asteroid.

Pada tahun 1601, Kepler bekerja pada Tycho Brahe (Denmark; 1546 – 1601) yang memiliki observatorium di pulau Hven di Denmark. Kepler banyak belajar dari pekerjaannya bersama Tycho. Sayangnya terhenti ketika Tycho mendadak sakit dan wafat pada tanggal 24 Oktober 1601. Namun, tugas dari Tycho tetap dia lanjutkan, yaitu menghitung gerak planet Mars. Pada gilirannya, pada tahun 1609, Kepler menggunakan perumusan Matematika untuk menjelaskan bagaimana kecenderungan revolusi planet Mars terhadap Matahari (yang kemudian diberlakukan untuk semua planet). Dinyatakan bahwa:

  • Planet memiliki orbit berbentuk ellips di mana Matahari terletak pada salah satu titik apinya; dan
  • Garis hubung Matahari – planet (vektor radius) menyapu luas daerah yang sama pada selang waktu yang sama.

dan pada tahun 1618, lahirlah kesimpulannya yang ke tiga, yaitu:

  • Kuadrat dari periode orbit planet mengedari Matahari sebanding dengan pangkat tiga jarak Matahari – planet.

Kini ketiga kesimpulan perhitungan mekanika benda langit di atas dikenal sebagai Hukum Kepler I, Hukum Kepler II (atau Hukum Luas), dan Hukum Kepler III (Hukum Harmoni), yang selanjutnya diperlakukan kecenderungan dinamika planet ini terhadap seluruh benda langit yang bergerak mengedari pusatnya (Bulan terhadap Bumi, planet terhadap bintang, pada bintang ganda yang saling mengedari satu sama lain, atau dinamika gerak bintang terhadap pusat gugus atau pusat galaksi).

Salah satu penghargaan bahwa salah satu teleskop angkasa pencari planet di luar Tata Surya diberi nama Kepler yang diluncurkan tahun 2009.

Gambar 20
Ilustrasi artis tentang teleskop angkasa Kepler yang diluncurkan tanggal 6 Maret 2009.
Berhenti beroperasi pada tanggal 30 Oktober 2018
dan sekitar 2600 exoplanet telah dideteksi melalui teleskop ini.
Credit: NASA ( nasa.gov/press-release/kepler-space-telescope )

RS Ophiuchi

Ledakan spektakuler terus terjadi dalam sistem bintang ganda RS Ophiuchi. Setiap 20 tahun sekali, bintang raksasa merah itu mengalirkan berlimpah gas hidrogen ke pasangannya yang berupa Katai Putih. Ini memicu reaksi termonuklir yang sangat eksplosif di permukaannya di mana fenomena ini dikenal sebagai fenomena nova. Kendati demikian, fenomena ledakan ini tidak melenyapkan bintang asalnya. Setelah ledakan, bintang akan kembali ke kondisi semula (beberapa parameter memang berubah seperti massa dan pancaran energinya; namun, tetap tidak jauh dari karakter semula di mana pada saatnya nanti dapat saja terjadi ledakan berulang, atau secara periodik). Berbeda dengan yang lebih dahsyat lagi yang dikenal sebagai supernova.

Karena hanya berjarak relatif dekat, yaitu kisaran 2.000 tc, ledakan nova yang tergolong cemerlang membuatnya dapat disaksikan secara kasat mata (m=4,5; Schaefer, 2010) yang pada saat normalnya kisaran 12 – 15. Para astronom berspekulasi bahwa pada suatu waktu dalam rentang waktu 100.000 tahun ke depan, materi Katai Putih ini akan memiliki massa tambahan yang cukup sehingga melewati suatu batas massa yang dikenal sebagai Limit Massa Chandrasekhar. Saat ini terjadi, maka dapat membuatnya meledak dengan sangat dahsyat yang fenomenanya dikenal sebagai supernova. Berbasis teori yang ada, supernova ini akan melahirkan SNIa dan diduga kuat tidak akan menyisakan apap-apa selain materi gas debu yang terhambur membentuk nebula layaknya SN1604 Oph.

Tentang penentuan jarak ini, dalam sejarah yang cukup panjang (1957 s.d 2008) ternyata bervariasi antara 0,4 – 5,8 kpc (1 pc = 3,26 tc)(Barry et al, 2008) dan penelitian terakhir menunjukkan kisaran 1,4 (+06/-0,2) kpc atau antara 3.912 hingga 6.520 tc. Objek ini terletak pada rasi bintang Ophiuchus dengan koordinat (170 50’ 13,14”, 060 42’ 28,6”) dan sedang bergerak mendekat dengan kecepatan 39 km/s. Kelas spektrumnya termasuk tipe OB+M2III (atau M2ep; raksasa merah; Katai Putih tipe OB). Berbasis catatan bahwa fenomena nova tercatat tahun 1898, disusul pada tahun 1907, 1933, 1945, 1958, 1967, 1985, 2006 (Schaefer, 2010; p.130). Perkiraan akan menjadi nova kembali pada kisaran tahun 2021 (Schaefer, 2010; p.185)(Sejarah singkat awal penemuan lihat bahasan Fakta Terkait, setelah bahasan Meteor Shower).

Pada saat terjadi nova tanggal 12 Februari 2006, kecepatan pengembangan selubung dideteksi terdiri dari 2 komponen. Yang pertama dengan kecepatan relatif rendah, kisaran 1.800 km/s, dan yang terluar 2.500 – 3.000 km/s dan kecerlangan puncak mencapai 4,5 (Chesneau, et al, 2006; p.125). Perolehan jaraknya dalam rentang di atas, yaitu 1,6 kpc (5.216 tc).

 “B. E. Schaefer, Louisiana State University,
writes on the discovery of a nova eruption of RS Oph in early 1907,
as evidenced by the presence of a post-eruption dip in the light curve on archival photographic plates
at the Harvard College Observatory.
From 1907 May 3 to Sept. 4, the magnitude was at 12.6 < B < 13.0 on eight plates,
while RS Oph was at 11.2 < B < 12.2 before 1906 Oct. 20
(the seasonal gap due to proximity to the sun is from 1906 Oct. 21 to 1907 May 2)
and after 1907 Sept. 18 (with three plates from Sept. 18-28, just before the start of the seasonal gap).
Such dips (with durations of 0.4-0.8 year) are seen only after all eruptions of this recurrent nova,
so RS Oph must have had an eruption in early 1907 when it was hidden by the sun.”

Gambar 21
Merupakan ilustrasi artis yang menunjukkan interaksi pasangan bintang.
Bintang raksasa merah di sebelah kanan, sedangkan Katai Putih di tengah cakram akresi (kiri).
Saat saling mengorbit, diikuti pengaliran massa dari bintang raksasa ke Katai Putih.
Tumpukan massa di Katai Putih inilah yang akhirnya menyebabkan terjadinya nova.
Credit: David A. Hardy & PPARC
https://apod.nasa.gov/apod/ap060726.html )

Pada arah rasi bintang Ophiuchus sebenarnya dijumpai beberapa nova, antara lain ( https://cbat.eps.harvard.edu/nova_list.html ) V841 Oph, 07542 Oph, BB Oph, V840 Oph, V849 Oph, V794 Oph, V553 Oph, V2110 Oph, V906 Oph, V908 Oph, V972 Oph, V1195 Oph, V1548 Oph, V1235 Oph, V1012 Oph, dll.

Gambar 22
Merupakan peta lokasi RS Oph (diberi lingkaran.
Formasi segitiga bintang Nu Oph, Mu Oph, dan Gamma Ophiuchi dapat dijadikan patokan
Di mana lokasi RS Oph dekat ke Gamma Oph seperempat jarak busur antara Mu Oph ke Gamma Oph.
(Stellarium 0.12.4)

 

 

FAKTA TERKAIT

  1. Luas wilayah mencakup 948,34 derajat persegi (2,3% luas kubah langit);
  2. Urutan ke 11 dari 88 rasi bintang;
  3. Titik sentral: RA (17h 20m), Dekl. (– 80);
  4. Midnight Culmination Date: 11 Juni;
  5. Solar Conjuction Date: 12 Desember;
  6. Jumlah bintang kasat mata kisaran 55 buah (dengan batas m = 5,5);
  7. Objek Messier: M9, M10, M12, M14, M19, M62, M107;
  8. Bintang dengan gerak diri yang besar di antara 100 bintang: Barnard’s Star (ke 1; 10,29”/tahun; m=9,5); BD+003593 (ke 86; 1,67”/tahun; m=7,7);
  9. Bintang terang dari 100 urutan teratas bintang terang di kubah langit: Alpha Ophiuchi (ke 56; m=2,08; 49 tc); Eta Ophiuchi (ke 83; m=2,43; 63 tc); Zeta Ophiuchi (ke 95; m=2,56; 1087 tc);
  10. Jumlah bintang dengan hadirnya planet: 3 (+12) bintang;
  11. Urutan kecerlangan keseluruhan rasi bintang: ke 62 dengan kecerlangan 5,800;
  12. Bintang terdekat di antara 100 bintang terdekat: Barnard’s Star (ke 3; m=9,5; 5,95 tc); Wolf 1061 (ke 25; m=10,1; 13,09 tc); 70 Oph A dan 70 Oph B (ke 42; m=4 dan 6; 16,72 tc); 36 Oph A dan 36 Oph B (ke 45; m=4,4 dan 5,1; 17,25 tc); LFT 1332 (ke 47; m=6,3; 18,31 tc); Wolf 629 (ke 62; m=11,7; 19,29 tc); V1054 Oph A – B – C (ke 72; m= 9 – 9,8 – 16,7; 20,90 tc); Wolf 922 (ke 99; m=7,5; 24,70 tc);
  13. Rasi bintang ini dapat dilihat secara utuh oleh para pengamat dari lintang +60 (LU) s.d –76 (LS);
  14. Bintang Barnard dengan gerak diri (proper motion) yang sedemikian cepat, maka akan tampak bergeser di kubah langit setara dengan rentang diameter piringan Bulan hanya dalam tempo 175 tahun saja. Selain itu, merupakan bintang terdekat ke 3 setelah Proxima dan Alpha Centauri. Bintang ini merupakan bintang Katai Merah. Dugaan keunikan dari pergerakannya bahwa terdapat planet yang mengedarinya;
  15. Kecerlangan mendadak dari RS Oph dapat dikatakan tidak tercatat sampai awal tahun 1900-an. Penelusuran hasil foto-foto dalam Henry Draper Memorial oleh Williamina Fleming mengungkapkan spektrum yang sangat mirip dengan Nova Sagittarii dan Nova Geminorum (terdeteksinya garis hidrogen H-zeta, H-epsilon, H-delta, H-gamma, H-beta, dan juga dua garis yang sesuai dengan pita terang 4656Å dan 4691Å dalam Gamma Velorum). Dalam Harvard College Observatory Circular No. 76 (21 Maret 1904), tercatat bahwa tidak ada bintang variabel lain yang memiliki jenis spektrum yang sama seperti yang telah diketahui. Lebih lanjut, setelah kembali memeriksa foto-foto tersebut, Fleming mendokumentasikan bintang itu (RS Oph) dengan tanda tanya, sebagai "Nova?" dalam Harvard College Observatory Circular No. 99 (15 Mei 1905). Setelah publikasi ini, Edward Pickering menegaskan bahwa bintang tersebut berbasis spektrum dan kurva cahayanya adalah sebuah nova dan bukan bintang variabel biasa dan diberi identifikasi Nova Ophiuchi, No. 3 (tergolong bintang varibel katalismik). Penelitian lanjutan terhadap kurva cahayanya oleh Annie Jump Cannon diperoleh kesimpulan bahwa nova tersebut mengalami lonjakan kecerlangan pada tahun 1898 hingga mencapai kecerlangan semu 5. Nova inilah yang kini dikenal sebagai RS Ophiuchi;
  16. Pada tahun 1604, diamati terjadinya ledakan bintang yang terkenal dengan nama Kepler’s Nova, bersamaan di rasi bintang ini terdapat planet Mars, Jupiter, dan Saturnus yang sedang berkonjungsi. Kecerlangan maksimumnya mencapai minus 3. Setelah ragam penelitian bahwa ledakan ini bukan sekedar nova, melainkan supernova; dan
  17. Pada tahun 2013, Adam Block, seorang astrofotografer dan astronomy educator di Lemmon SkyCenter, Universitas Arizona menemukan supernova di galaksi NGC 6240 yang kemudian diberi nama SN2013dc.

 

EXTRA SOLAR PLANET (ESP)

Harapan akan kemungkinan dijumpainya kehidupan di dunia lain telah muncul dan menjadi imajinasi manusia sejak bermilenia yang lalu dan gilirannya pada 2 dekade terakhir, penemuan demi penemuan hadirnya planet di bintang-bintang nun jauh di sana telah memicu pencarian bumi-bumi yang lain, yang dapat menopang kehidupan. Ragam peranti penelitian diberdayakan oleh beragam tim astronom hingga bidang keilmuan lainnya, termasuk peluncuran observatorium ruang angkasa Kepler milik NASA. Sebelumnya (bahkan hingga kini) teleskop Hubble, Spitzer, dan banyak lagi pun sudah banyak berkiprah dalam perburuan ini, bahkan dalam usaha pendeteksian dan penelitian tentang komposisi atmosfer ESP.

Jumlah ESP yang berhasil diketemukan di Ophiuchus sebenarnya tidak banyak dibanding jumlah ESP yang berjumlah 4281 planet (dalam 3163 sistem keplanetan dan 701 sistem multiplanet karena ada bintang induk yang memiliki lebih dari 1 planet). Yang telah dikonfirmasi ditemukan di Ophiuchus dapat dilihat pada tabel di bawah ini:

 Disarikan dari:
https://exoplanet.eu/catalog/v2051_oph_(ab)_b/ ; https://exoplanet.eu/catalog/nu_oph_b/
https://exoplanet.eu/catalog/nu_oph_c/ ; https://exoplanet.eu/catalog/11_oph_b/
https://exoplanetarchive.ipac.caltech.edu/cgi-bin/TblView/nph-tblView?app=ExoTbls&config=planets
Referensi Tambahan:
Wojcikiewicz, E., et al (2018)
Qian, S. B., et al (2015)

Tabel 8
Planet di Bintang V2051 Oph


Tabel 9
Planet di Bintang Nu Oph

 

Tabel 10
Planet di Bintang 11 Oph

SEZARAH PERTIMBANGAN

Sejak awal mula peradaban, kisah yang terkait rasi bintang termasuk Zodiak tentu di antara identifikasi yang akhirnya bermunculan mungkin sudah tidak asing lagi, minimal nama-namanya bagi kita semua. Bentang cakrawala budaya menera langit di segala penjuru Bumi terus dijumpai, termasuk di ranah Nusantara. Penelusuran terhadap itu semua tentu menjadi khazanah ilmu pengetahuan bagi kita penghuni Bumi dalam usaha menyibak cadar langit. Memang kini kita dapat mengetahui adanya 88 rasi bintang yang dibakukan oleh International Astronomical Union (IAU) pada tahun 1922-1930. Nyatanya, hal ini membutuhkan waktu puluhan dekade dalam penentuannya.

Rangkaian artikel 12 rasi bintang Zodiak klasik pada situs ini sudah dipaparkan walau ulasannya dapat dikatakan sangat singkat dengan topic ataupun bahasan  yang sangat sempit. Dalam sejarahnya dahulu kala, Ophiuchus tidak terlalu dikedepankan sebagai lokasi yang dilewati oleh Matahari dalam lintasan semu tahunannya sehingga dalam zonasi Zodiak tidak dimasukkan. Namun, dengan rentang waktu signifikan, maka mau tidak mau bahwa rasi bintang ini hadir secara jelas dalam jalur Zodiak sesuai dengan apa yang dapat disaksikan oleh semua orang secara langsung di kubah langit perbintangan. Bahkan, kini giliran rasi bintang Scorpius yang dalam rentang pergeseran Matahari di wilayahnya yang termasuk sangat singkat, hanya 6 hari saja yang pada jaman dahulu kala mencapai 30 hari. Terlepas dari masalah ini bahwa dalam percaturan kisah klasik tentang mitologi terkait rasi bintang bahwa sejatinya justru menggugah keinginan untuk memberi lebih banyak lagi kisah langit.

Seperti yang telah dipaparkan pada artikel sebelumnya bahwa “ … budaya menera langit seperti ini, sadar ataupun tidak telah merambah ke kedalaman ranah sains hingga religi, sebagai sebuah naluri sejak dahulu kala dan nyatanya sangat banyak tinggalan terkait dengannya. Penemuan demi penemuan yang berhasil diraih tentu dalam satu sisi, yaitu bidang Astronomi, menjadi sebuah Astronomical Heritage dalam perjalanan budaya manusia, yang lagi-lagi sadar ataupun tidak menjadi sebuah Cultural Heritage, yang faktanya sudah menjadi Living Heritage karena budaya menera bintang gemintang hingga ke kedalaman jagad semesta masih terus berkelanjutan hingga sekarang, yang tidak “melulu” terjebak kemapanan dalam visi budaya di ranah lokal dan terkungkung dalam pengertian kebudayaan yang sempit yang kasat mata dan gegap gempita dengan keramaian duniawi. Budaya ini telah berkelindan dengan kehidupan manusia sejak pertama menyadari sepenuhnya hadirnya kubah langit, yang “mengadanya” tentu bukan tanpa makna dan maksud, dan yang jelas tidaklah sia-sia. Hadirnya bintang gemintang bukan sekedar hiasan belaka ataupun sekedar memenuhi rasa romantis tentang keindahan saat memandangnya.

Berharap artikel Zodiak termasuk Ophiuchus ini masih dapat berdaya guna bagi para muda. Sebuah dunia dalam medan imajinasi rasa dan ladang nalar pemikiran yang bersifat universal tanpa batas ranah wujud yang bersanding dengan ragam perbedaan tuturan dan karya insan di Bumi dalam jejak peradabannya dan harus diakui dengan rendah hati bahwa budaya menera langit telah mengajak semuanya untuk “mencoba belajar” memahami gejolak seputar pertanyaan posisi dirinya diluasnya jagad semesta. Semua ini tidaklah lekang oleh waktu. Masih terlalu banyak celah lebar yang masih dapat ditelusuri. Bagaimana tinggalan ini berandil besar dalam melahirkan olah pikir dan olah rasa pada generasi setelahnya termasuk kita semua didalamnya. Sebuah perkelindanan dan persahabatan antara dulu, kini, dan nanti; wawargita ing widya. Sekali lagi, semoga bermanfaat. Salam Astronomi.–WS–

 

DAFTAR PUSTAKA 

Allen, R.H., 1963, Star Name, Dover Pub., New York

Bakich, M., 1995, The Cambridge Guide to the Constellations, Cambridge University Press, Cambridge

Barry, R. K., et al, 2008, On the Distance of RS Ophiuchi dalam A. Evans, M. F. Bode, T. J. O’Brien, and M. J. Darnley (eds.), S Ophiuchi (2006) and the Recurrent Nova Phenomenon, ASP Conference Series, Vol. 401

Chesneau, O., et al, 2007, AMBER/VLTI Interferometric Observations of the Recurrent Nova RS Oph 5.5 Days after Outburst, Astronomy & Astrophysics 464 (1): 119–126

Cornelius, G., 2005, The Complete Guide to the Constellations, Duncan Baird Publishers, London

Davis Jr., G. A., 1944, The Pronunciations, Derivations, and Meaning of a Selected List of Star Names, Popular Astronomy 52

Luhman, K.L., et al, 2007, Discovery of Two T Dwarf Companion with the Spitzer Space Telescope, The Astrophysical Journal, 654:570–579

Molau, S. and Rendtel, J., 2009, Ongoing Meteor Work: A Comprehensive List of Meteor Showers Obtained from 10 Years of Observations with the IMO Video Meteor Network, the Journal of the IMO 37:4, p.98–121

Qian, S. B., et al, 2015, Long-term Decrease and Cyclic Variation in the Orbital Period of the Eclipsing Dwarf Nova V2051 Oph, The Astrophysical Journal Supp. Series 221;117

Rogers, J. H., 1998, Origins of the Ancient Constellations: I. The Mesopotamian Traditions, Journal of the British Astronomical Association (JBAA) 108

Schaefer, B. E., 2010, Comprehensive Photometric Histories of All Known Galactic Recurrent Novae, Astrophysical Journal 187 (2)

Wojcikiewicz, E., et al, 2018, Infrared Photometry of the Dwarf Nova V2051 Ophiuchi: I – The Mass Donor Star and the Distance, MNRAS preprint 1 Oktober 2018

 

SITUS 

https://aeea.nmns.edu.tw/2006/0605/ap060509.html (in Chinese)

https://aeea.nmns.edu.tw/2006/0606/ap060624.html (in Chinese)

https://aeea.nmns.edu.tw/2006/0606/ap060625.html (in Chinese)

https://cbat.eps.harvard.edu/nova_list.html

https://cbat.eps.harvard.edu/lists/Supernovae.html

https://exoplanet.eu/catalog/11_oph_b/

https://exoplanet.eu/catalog/nu_oph_b/

https://exoplanet.eu/catalog/nu_oph_c/

https://exoplanet.eu/catalog/v2051_oph_(ab)_b/

https://lhldigital.lindahall.org/cdm/compoundobject/collection/astro_atlas/id/1200/show/1186/rec/14

 

https://lhldigital.lindahall.org/cdm/singleitem/collection/astro_images/id/1652/rec/1

https://ned.ipac.caltech.edu/byname?objname=NGC6240&hconst=67.8&omegam=0.308&omegav=0.692&wmap=4&corr_z=1

https://simbad.u-strasbg.fr/simbad/sim-id?Ident=RS+Oph

https://www.aavso.org/vsots_rsoph

https://www.ianridpath.com/atlases/urania.htm

https://www.ianridpath.com/startales/ophiuchus.htm

https://www.cbat.eps.harvard.edu/iauc/08300/08396.html#Item2

https://www.icoproject.org/img/ss59.jpg

https://www.perseus.tufts.edu/hopper/searchresults?q=ophiuchus

https://www.perseus.tufts.edu/hopper/text?doc=Perseus:text:1999.02.0051:book=10:commline=275&highlight=ophiuchus

 

https://www.ta3.sk/IAUC22DB/MDC2007/Roje/pojedynczy_obiekt.php?kodstrumienia=00149&colecimy=0&kodmin=00001&kodmax=01036&sortowanie=0

https://www.ta3.sk/IAUC22DB/MDC2007/Roje/pojedynczy_obiekt.php?kodstrumienia=00150&colecimy=0&kodmin=00001&kodmax=01036&sortowanie=0

https://www.ta3.sk/IAUC22DB/MDC2007/Roje/pojedynczy_obiekt.php?kodstrumienia=00292&colecimy=0&kodmin=00001&kodmax=01036&sortowanie=0

https://www.ta3.sk/IAUC22DB/MDC2007/Roje/pojedynczy_obiekt.php?kodstrumienia=00352&colecimy=0&kodmin=00001&kodmax=01036&sortowanie=0

https://www.ta3.sk/IAUC22DB/MDC2007/Roje/pojedynczy_obiekt.php?kodstrumienia=00459&colecimy=0&kodmin=00001&kodmax=01036&sortowanie=0

https://www.ta3.sk/IAUC22DB/MDC2007/Roje/pojedynczy_obiekt.php?kodstrumienia=00460&colecimy=0&kodmin=00001&kodmax=01036&sortowanie=0

https://www.ta3.sk/IAUC22DB/MDC2007/Roje/pojedynczy_obiekt.php?kodstrumienia=00517&colecimy=0&kodmin=00001&kodmax=01036&sortowanie=0

https://www.ta3.sk/IAUC22DB/MDC2007/Roje/pojedynczy_obiekt.php?kodstrumienia=00536&colecimy=0&kodmin=00001&kodmax=01036&sortowanie=0

https://www.ta3.sk/IAUC22DB/MDC2007/Roje/pojedynczy_obiekt.php?kodstrumienia=00599&colecimy=0&kodmin=00001&kodmax=01036&sortowanie=0

https://www.ta3.sk/IAUC22DB/MDC2007/Roje/pojedynczy_obiekt.php?kodstrumienia=00684&colecimy=0&kodmin=00001&kodmax=01036&sortowanie=0

 

https://www.ta3.sk/IAUC22DB/MDC2007/Roje/pojedynczy_obiekt.php?kodstrumienia=00893&colecimy=0&kodmin=00001&kodmax=01036&sortowanie=0

https://www.ta3.sk/IAUC22DB/MDC2007/Roje/pojedynczy_obiekt.php?kodstrumienia=00889&colecimy=0&kodmin=00001&kodmax=01036&sortowanie=0

https://apod.nasa.gov/apod/ap060726.html

https://arxiv.org/abs/0912.4426

https://arxiv.org/abs/astro-ph/0611602

https://astronomy-mall.com/Adventures.In.Deep.Space/Deep-Sky%20Objects%20for%20Binoculars%20and%20the%20Naked-Eye.pdf

https://cdn.uanews.arizona.edu/s3fs-public/story-images/n6240sn_compare.jpg

https://earthsky.org/constellations/born-between-november-29-and-december-18-heres-your-constellation

https://en.wikipedia.org/wiki/List_of_stars_in_Ophiuchus

https://en.wikipedia.org/wiki/Messier_object

 

https://en.wikipedia.org/wiki/Miscellaneous_Symbols

https://en.wikipedia.org/wiki/NGC_6240

https://en.wikipedia.org/wiki/Ophiuchus

https://en.wikipedia.org/wiki/Ophiuchus_in_Chinese_astronomy

https://en.wikipedia.org/wiki/Rho_Ophiuchi_cloud_complex#/media/File:Rho_Ophiuchi.jpg

https://exoplanetarchive.ipac.caltech.edu/cgi-bin/TblView/nph-tblView?app=ExoTbls&config=planets

https://galileo.ou.edu/exhibits/new-star-foot-serpent-handler

https://hubblesite.org/contents/media/images/2004/29/1584-Image.html

https://hubblesite.org/contents/media/images/2004/29/1587-Image.html

https://hubblesite.org/contents/media/images/2004/29/1589-Image.html

 

https://hubblesite.org/contents/media/images/2004/29/1594-Image.html

https://hubblesite.org/resource-gallery/images

https://id.wikipedia.org/wiki/Daftar_objek_NGC

https://in-the-sky.org/data/constellation.php?id=60

https://pantheon.org/articles/p/phorbas.html

https://penelope.uchicago.edu/Thayer/E/Gazetteer/Topics/astronomy/_Texts/secondary/ALLSTA/Ophiuchus*.html

https://planetarium.jakarta.go.id/index.php/artikel-astronomi/108-scorpius-sang-kalajengking

https://planetarium.jakarta.go.id/index.php/artikel-astronomi/37-chiron-komandan-para-centaur

https://spaceplace.nasa.gov/starfinder2/en/

https://uanews.arizona.edu/story/supernova-discovered-at-ua-skycenter

 

https://ui.adsabs.harvard.edu/abs/2008ASPC..401...52B/abstract

https://web.archive.org/web/20120811051903/https://heasarc.gsfc.nasa.gov/docs/outreach.html

https://www.eso.org/public/news/eso0214/

https://www.iau.org/public/themes/constellations/

https://www.nasa.gov/feature/goddard/2018/astronomers-unveil-growing-black-holes-in-colliding-galaxies

https://www.nasa.gov/mission_pages/spitzer/multimedia/20080211.html

https://www.nasa.gov/press-release/nasa-retires-kepler-space-telescope-passes-planet-hunting-torch

https://www.nasa.gov/press-release/nasa-to-hold-media-call-on-status-of-kepler-space-telescope-today

https://www.spacetelescope.org/images/potw1520a/

https://www.spacetelescope.org/images/opo1828a/

 

https://www.theoi.com/greek-mythology/star-myths.html

https://www.theoi.com/Ouranios/Asklepios.html

 

 

PERANTI LUNAK

Stellarium 0.12.4 dan Stellarium 0.20.1